Circle 1 (No String Attached)

3faaff3ff4999fec8ba18ba36aac6e40.jpg

 

Circle 1

Seorang pria tinggi dan tegap berdiri dihadapan sebuah cermin yang memantulkan tubuh tinggi sempurnanya dengan rambut hitam kecoklatan yang ditata rapih. Tangannya dengan perlahan mengancingkan kancing di lengan kemeja putihnya lalu mengambil jas hitam yang dia taruh diatas ranjangnya. Dengan langkah pasti dia keluar kamarnya. Dia berhenti sesaat di depan pintu kamarnya menatap lurus kedepan,ke sebuah pintu kamar yang masih tertutup. Dia berjalan mendekati pintu itu tangannya tergerak untuk mengetuk pintu untuk membangunkan seseorang di dalam namun dia urungkan . Dia pun berlalu begitu saja dari hadapan kamar itu dan berjalan menuju dapur.
Rumahnya begitu besar dengan banyak jendela. Tampak sekali kalau pria ini bukanlah orang sembarangan. Perabotan yang dia miliki pun tidak bisa dibilang murah. Seluruh rumah ini tampak tertata sangat rapi dan sempurna seperti kebanyakan rumah di cerita drama yang sering diputar di televisi.
Kaki panjang itu sampai di dapur di meja makan sudah ada sepiring roti panggang,telur dan bacon. Dia mengambil secarik post-it yang ditempel disebelah piring tersebut.

Aku akan berangkat ke kantor pukul 10,jadi jangan bangunkan aku dan habiskan sarapanmu.

Dia menarik kursi dan duduk dihadapan piring tersebut. Melirik coffee maker di dekat kulkas yang juga sudah berisi kopi. Sepagi apa gadis itu bangun sehingga sudah menyiapkan semua ini. Pikirnya. Dia sedikit terlonjak kaget ketika sesuatu menyentuh kakinya. Makhluk dengan ekor yang terus bergerak-gerak dengan sorot mata antusias. Seekor anjing.
“Haute-ya,tidurmu nyenyak?”tanya pria ini sambil menepuk pelan kepala anjing berwarna abu-abu gelap. Anjing itu tidak menjawab hanya kibasan ekornya semakin cepat.
Pria itu mengambil kopi sementara anjing itu terus mengikutinya,menikmati sarapannya dalam diam hanya dalam waktu 15 menit. Setelahnya dia sudah berjalan keluar rumah mengeluarkan mobil mewah berwarna hitam miliknya dan dia pun pergi.

**

Seorang gadis dengan kaus berwarna kuning dan jeans hitam serta sling bag hitam memasuki dapur,seekor anjing langsung menyapanya begitu mendapati piring kotor di wastafel. Pria itu sudah pergi rupanya.
“Haute-ya ayahmu sudah pergi Eoh?”tanya gadis berambut ikal panjang yang hari ini mengikatnya bentuk pony tail. Dia menggaruk kepala anjing yang terus saja mengelilingi kakinya. Senang melihat satu lagi majikannya sudah bangun.
Gadis itu mengambil jus jeruk di dalam kulkas menuangnya ke dalam gelas dan menghabiskan isi gelas tersebut dalam sekali teguk. Dia menaruh gelas kotornya ke wastafel,dia akan mencucinya setelah pulang nanti. Dengan bergegas dia mengenakan boots hitamnya mengelus kepala anjing hitamnya yang mengekorinya terus sampai akhirnya di pergi.

**

“Hai Jiwon,”sapa gadis itu sambil menepuk kepala seorang gadis yang tengah sibuk menatap layar komputernya.
“Ya!Hae Rin Eonni kau tahu ini sudah jam berapa Eoh?”seru gadis yang dipanggil Jiwon tadi.
Gadis yang bernama Hae Rin itu tampak tidak peduli,dia duduk di kursinya menyalakan komputer Dihadapannya. Kim Hae Rin seorang gadis berusia 27 tahun sudah menjadi leader sebuah tim di sebuah perusahaan majalah yang cukup terkenal di Korea Selatan. Wajahnya kecil dengan mata yang juga kecil namun tajam,dia lebih suka menggunakan kaus dan jeans setiap ke kantor. Bersifat sangat bebas dan tidak suka dikekang,meski begitu dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ini sudah tahun kelimanya bekerja ditempat ini namun pencapaiannya luar biasa hingga dipercaya untuk memimpin sebuah tim.
“Aku sudah mengirimkan file-nya ke e-mail Eonni,”ujar gadis bernama Jiwon yang duduk dihadapan Hae Rin.
Hae Rin hanya menggumam pelan sembari membuka e-mail dari Jiwon. Dia menatap file yg diberikan Jiwon beberapa saat.
“Kurasa kita memang butuh seseorang untuk menggambar, Gyu Won sama sekali tidak bisa menggambar tsk aku akan bicara dengan manajer Kim kalah begitu,”ujar Hae Rin.”Ah,Jiwon-ah kau ikut acara makan malam tim nanti?”tanyanya.
“Tentu saja,”jawab Jiwon dengan tangan yang bergerak diatas keyboard.
“Baguslah kalau begitu,”
Ting
Ponsel Hae Rin berbunyi sebuah pesan muncul dilayarnya.

Seunghoon
Kau tahu dimana aku menaruh buku hijau yang didalamnya ada beberapa kertas yang kulipat?

Hae Rin berdecak pelan. Kebiasaan. Pria bernama Seunghoon selalu mengirimkannya pesan untuk menanyakan dimana keberadaan barangnya yang ini atau yang itu. Padahal Hae Rin tidak pernah menyentuh barang-barang miliki pria itu bagaimana dia bisa tahu lokasi barang yang pria ini cari. Hae Rin mengambil ponselnya mengetikkan balasan.

Kau sudah mengeceknya di laci meja kerjamu di rumah?

Ini aku sedang di rumah dan aku tidak menemukannya

Baru saja hendak membalas pesan dari pria itu,sebuah pesan masuk lebih dulu.

Ah kau benar,ada di laci di meja kerjaku. Terima kasih.

Hae Rin tersenyum simpul. Tidak pernah berubah. Dia meletakkan ponselnya kembali dan matanya kembali fokus ke layar komputer menyelesaikan pekerjaannya.

**

“Aku akan mencoba mengeceknya besok paman,”tangan seorang pria terulur mengambil map hitam di meja seorang pria tua. Pria tua itu mengangguk lalu berdiri dari duduk nya. Dia tersenyum pada pria muda dihadapannya. Jika dilihat sepintas ada setitik kemiripan diantara mereka.
“Kau sudah bekerja keras Seunghoon-ah,”ujar pria tua yang dipanggilnya paman.
Lee Seunghoon anak laki-laki satu-satunya keluarga Lee, calon penerus perusahaan milik keluarga Lee yang bergerak di bidang perhotelan. Pria tua Dihadapannya ini adalah pamannya,adik ayahnya. Pamannya menggantikan posisi ayahnya ketika tiga tahun yang lalu ayah Seunghoon meninggal. Saat itu seunghoon belum siap untuk menggantikan posisi ayahnya. Dia memilih untuk melihat bagaimana pamannya bekerja sampai dia siap untuk memimpin perusahaan.
Seunghoon berpamitan pada pamannya sebelum keluar ruangan. Dia kembali berjalan ke ruangannya. Seperti sebuah cerita drama dimana ada CEO tampan yang selalu menjadi perhatian pegawainya. Seunghoon pun begitu meski dia bukan CEO untuk sekarang tapi dia sudah menjadi pusat perhatian pegawainya. Tubuhnya yang tinggi seperti model,wajah yang tampan dan senyum yang memikat. Ya Seunghoon sangat ramah pada siapapun di kantornya,dia tidak pernah membeda-bedakan semua pegawainya.
Ketika dia kembali ke ruangannya. Ponsel hitamnya berbunyi sebuah pesan masuk.

Kim Jinwoo
Kau akan datang malam ini?

Dengan cepat Seunghoon membalas dengan jawaban iya pesan dari teman sekolah menengahnya dulu. Hari ini mereka berjanji untuk makan malam bersama.

**

“Jiwon-ah kau yakin akan pulang sendiri?”tanya Hae Rin ketika mereka baru saja selesai makan malam bersama timnya. Beberapa orang sudah pergi lebih dahulu dan tersisalah Hae Rin dan Jiwon.
Karena Jiwon usianya paling muda diantara yang lain Hae Rin khawatir karena gadis itu akan pulang sendiri selarut ini.
“Tenang saja Eonni aku baik-baik saja,aku duluan ya,”Jiwon pun beranjak pergi sambil tersenyum.
Hae Rin memperhatikan gadis itu sampai menghilang dibalik tikungan sebelum dia berjalan ke arah sebaliknya menuju stasiun Subway.
Di stasiun dia berhenti sejenak di mini market dan membeli dua kotak susu pisang. Karena hari sudah larut tidak banyak orang yang menggunakan Subway. Hae Rin masih bisa duduk dari stasiun Hongdae hingga stasiun tujuannya. Dia menatap jendela kereta yang gelap. Banyak hal yang dia pikirkan akhir-akhir ini. Sudah berapa lama dia melakukan ini? Lima tahun semenjak ayahnya pergi dari rumah dan ibunya meninggal. Jika saja ibunya masih ada mungkin dia sudah dimaki-maki karena melalukan hidup seperti ini tapi dia tidak punya pilihan dan dia menikmatinya,tidak ada gunanya baginya hidup dengan benar saat ini setelah semua yang terjadi. Apa yang dia lakukan hanya untuk mengobati rasa sakit yang dia rasakan.
Pintu kereta terbuka Hae Rin berjalan keluar kereta mengambil exit menuju rumah megah yang dia tinggali bersama seorang pria bernama seunghoon. Sampai di depan rumah dia melihat semuanya masih gelap hanya lampu tengah yang sudah hidup. Pria itu pasti belum pulang. Dia tidak tahu pria itu kemana, Hae Rin bukan seorang gadis yang penasaran terlebih lagi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Haute menggonggong pelan begitu Hae Rin masuk rumah dan semua lampu menyala.
“Ayahmu belum pulang?”tanya Hae Rin sambil melewati tubuh haute anjing kesayangan Seunghoon.
Anjing itu mengekorinya hingga masuk ke dalam kamar. Hae Rin membersihkan mukanya,menyikat gigi dan mengganti bajunya dengan celana pendek dan kaus kebesaran. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini dan dia ingin segera tidur.
Begitu selesai membersihkan dirinya. Hae Rin kembali keluar kamar,haute yang tadi mengikutinya kini sudah berjalan ke sofa dan menyamankan tubuhnya untuk bersiap tidur. Hae Rin membuka isi kulkas mengeluarkan susu di kotak dan menuangkannya ke gelas sampai sepasang tangan melingkari pinggangnya dan sebuah kepala bersandar di punggungnya.
“Seunghoon-ah,”ujarnya seakan sudah tahu siapa yang sedang memeluknya dari belakang seperti ini.
Pria bernama Seunghoon ini hanya menggumam pelan.
“Kau minum?”tanya Hae Rin mencium bau alkohol dari tubuh Seunghoon.
Lagi-lagi Seunghoon hanya menggumam mengiyakan.
“Kau..,”
“Hanya sedikit,”potong Seunghoon.
Hae Rin mendesah pelan.”Akan aku ambilkan obat alergimu,”
Hae Rin tau Seunghoon tidak bisa minum alkohol. Dia punya alergi terhadap alkohol,minum sedikit tidak masalah sebenarnya tapi tetap saja terkadang alergi itu muncul meski hanya minum sedikit. Lima tahun tinggal bersama Seunghoon tentu membuatnya sangat mengerti dengan hal ini.
Hae Rin berbalik hendak melepaskan diri dari pelukan Seunghoon namun pria itu menahannya. Dia menatap Hae Rin lembut. Sebelum bibirnya menyentuh bibir Hae Rin perlahan sebelum Seunghoon mulai melumat bibir Hae Rin. Gadis berambut panjang itu seakan sudah mengerti tangannya otomatis melingkar ke leher Seunghoon menarik pria itu semakin dalam menciumnya. Hae Rin mulai membalas ciuman Seunghoon. Hingga Seunghoon mengangkat tubuh Hae Rin dan membawanya kamarnya.

**

Seunghoon dengan kemeja birunya sudah berada di dapur sepagi ini. Matanya menangkap sosok Hae Rin yang tengah sibuk memanggang roti. Hae Rin menoleh sebentar pada Seunghoon.
“Sebentar lagi sarapanmu jadi,”ucapnya.
Seunghoon hanya mengangguk dan duduk di meja makan. Setelahnya Hae Rin menaruh sepiring roti dihadapan Seunghoon.
“Aku akan ke Jepang dua hari besok,”ucap Hae Rin yang duduk dihadapan Seunghoon.
Mata kecil pria itu menyipit.
“Untuk pekerjaan,”jawab Hae Rin seakan tahu maksud tatapan Seunghoon.
“Makanlah dengan benar selama aku pergi,”lanjut Hae Rin.
“Tentu saja, kau mau kuantar?”tawar Seunghoon sambil meminum jus jeruknya.
“Tidak usah,sejak kapan ada kata mengantar di kamus hubungan kau dan aku,”Hae Rin beranjak dari duduknya karena roti panggang miliknya sudah jadi.
Seunghoon menatap Hae Rin yang sekarang memunggunginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hubungan apa yang mereka jalani sekarang? Tidak ada namanya atau namanya terlalu asing didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Aku pergi,”ujar Seunghoon beranjak dari duduknya.
“Eoh,”Hae Rin berbalik dan menatap punggung Seunghoon yang berjalan menjauh.

**

“Seunghoon-ah malam ini kau ada acara?”tanya paman Seunghoon ketika mereka keluar ruangan selesai rapat.
“Tidak ada,ada apa paman?”tanyanya.
“Aku ingin mengajakmu makan malam dan mengenalkanmu dengan seseorang,”jawab paman Seunghoon.
“Oh,siapa?”tanya Seunghoon lagi.
“Tuan Cho, dia ingin mengenalkan putrinya juga Padamu,”jawabnya lagi.
Seunghoon tertawa pelan,”Apa paman sedang berusaha menjodohkanku lagi?”
Paman seunghoon menggeleng,”Tidak hanya mengenalkanmu saja tapi jika kau cocok tidak masalah bukan,”
“Lagipula kau sudah waktunya untuk memiliki seorang kekasih,”ujar paman seunghoon lagi sambil menepuk bahu pria tampan itu.
Seunghoon hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Benar apa kata pamannya. Tidak ada masalah bertemu dengan seorang gadis,dia juga tidak mempunyai pacar hanya seseorang yang entah bisa dia sebut apa. Seseorang yang sudah dikenalnya sejak dia kecil yang kini menjalani hubungan yang rumit dengannya,tidak bisa dibilang rumit juga. Keduanya sama-sama tidak peduli dengan kehidupan pribadi masing-masing,tidak pernah ikut campur. Semuanya jelas untuk hal ini namun semuanya tidak jelas untuk perasaannya.
Seunghoon kembali ke ruangannya. Ditatapnya layar ponsel miliknya tidak ada tanda-tanda pesan dari seseorang. Jari panjang Seunghoon bergerak mencari sebuah nama. Apa gadis itu sudah sampai Jepang?pikirnya. Dia pun memberanikan diri menghubungi nomor yang sebenarnya dia ingat luar kepala.
“Halo,”
“Eoh seunghoon-ah ada apa?”
“Kau sudah sampai?”
“Iya dua jam yang lalu,ada apa?”
“Baguslah,tidak ada,”
“Kau yakin?”
“Hmm paman menyuruhku ikut kencan buta,”
“Ah bagus, lalu?”
“Menurutmu?”
“Apa sekarang kau meminta pendapatku? Aigoo kau lucu sekali seunghoon-ah. Lakukanlah, tidak lucu kan kau masih saja belum punya pacar di usiamu sekarang,pergilah,semoga beruntung, oh ya aku akan sangat sibuk dua hari kedepan jadi sampai ketemu lusa ya,”
Seunghoon meletakkan kembali ponselnya. Dia mendesah pelan.

 

Circle

 

IMG_3936.JPG

Ruangan yang temaram hanya disinari lampu tidur dan sayup-sayup suara nafas teratur dari kedua orang yang menutupi tubuh mereka dengan selimut diatas ranjang. Seorang gadis terduduk diatas ranjang menurunkan kaki telanjangnya menyentuh karpet dibawahnya. Dia menunduk membiarkan rambut ikalnya yang berantakan terjatuh disamping wajahnya,tangannya bergerak mengambil pakaian miliknya yang tergeletak dibawah. Mengenakan pakaian itu satu persatu dan bersuara. Dia berbalik setelah semua pakaian dia kenakan,menatap sesosok tubuh setengah telanjang yang masih berbaring memunggunginya. Sebuah tato berbentuk huruf W tercetak jelas dikulit seputih susu itu tepat di punggung di bawah leher. Gadis itu berbalik berjalan perlahan seakan tidak ingin membangunkan seseorang tersebut. Dibukanya pintu kamar ini perlahan sebelum menutupnya. Langkahnya gontai memasuki ruangan yang tepat berseberangan dengan kamar ini. Pintu tertutup dan langkah kakinya membawanya berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar. Tangannya bergerak membuka keran air dan membasuh mukanya,menatap pantulan wajahnya di cermin sejenak sebelum dia kembali ke kamar. Suara petir membuat dia menoleh kearah jendela besar di kamar yang tirainya belum tertutup. Hujan pun mulai turun dengan derasnya. Seakan tidak peduli gadis itu naik ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.

“Suatu saat ini semua akan berakhir,saat itu bisa tiba besok,lusa,atau tahun depan tapi aku tidak akan pernah menyesali apa yang aku jalani sekarang”
Kim Hae Rin

“Ketika semuanya berakhir suatu saat nanti,aku akan mengatakan yang sebenarnya padanya”
Lee Seung Hoon

IMG_3927.JPG

**

IMG_3928.JPG

Seorang gadis kecil berlari di lorong sebuah sekolah dasar menuju sebuah kelas. Wajahnya ketakutan dia membuka pintu kelas dengan terburu-buru berlari ke salah satu meja,wajah ketakutannya berubah senang begitu melihat sebuah benda yang dicarinya. Boneka beruang coklat dengan dasi kupu-Kupu berwarna merah. Dengan cepat dia memasukkan boneka tersebut kedalam tas dan berlari keluar kelas. Rambut sebahu nya bergerak-gerak mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat untuk segera keluar sekolah. Hingga langkah kakinya terhenti sebelum dia berjalan melintasi lapangan. Kepalanya bergerak-gerak kekiri dan kekanan seakan mencari-cari sesuatu. Dia berbelok ke arah kiri karena dirasanya dari situlah suara yang membuatnya berhenti tadi. Tangan mungilnya menggenggam erat rok birunya. Dia berjalan perlahan hingga sampailah dia didekat tempat bermain. Seorang anak laki-laki berjongkok di dekat perosotan menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk dan suara sesenggukan terdengar. Gadis kecil itu mendekat perlahan.
“Apa kau baik-baik saja?”tanyanya sambil berjongkok.
Anak laki-laki itu mendongakkan kepalanya,gadis kecil itu langsung terkejut melihat anak laki-laki ini mengeluarkan darah dari hidungnya,matanya basah oleh air mata.
“Kau berdarah?”tanya gadis kecil itu lagi. Dia berdiri dari jongkoknya.”Tunggu disini akan aku panggilkan orang dewasa,”
Setelahnya gadis kecil itu segera berlari meninggalkan tas mungilnya di hadapan anak laki-laki itu.

Aku akan membantunya terus hidup
Kang Hye Jin

Aku hanya tidak ingin melihatnya menangis ketika aku sudah tidak ada
Kim Jin Woo

IMG_3930

 

**

IMG_3929.JPG

“Namamu siapa?”
“Jangan menggunakan rok pendek jika akan keluar malam hari”
“Kau tahu, kita menghabiskan makanan lebih banyak dari orang disamping kita”
“Yang menang harus mentraktir makan”
“Maaf,aku mencintaimu,”
“Aku menyerah,”

Senyumnya membuatku tersenyum,tawanya membuatku ikut tertawa. Aku tidak peduli siapa dia,aku mencintainya.
Choi Ji Won

Karena aku mencintainya tanpa tahu siapa dia. Aku bodoh.
Song Min Ho

**

 

IMG_3934

Mata gadis itu tidak pernah lepas dari menatap seseorang yang hanya berdiri beberapa meter Dihadapannya yang dengan percaya dirinya berbicara dihadapan banyak orang. Kagum,tentu saja. Tanpa dia sadari senyuman kecil terbentuk di wajah gadis itu. Kacamata bulatnya yang menutupi mata indah yang juga seakan ikut tersenyum. Sudah berapa lama dia mengagumi sosok tinggi itu. 10 tahun? Tidak,lebih dari itu. Ketika semua orang sudah keluar ruang rapat dia berdiri di dekat pintu menunggu sosok laki-laki itu.
“Kalian sudah bekerja keras,”
Satu kalimat yang langsung membuat gadis itu tersenyum senang meski kalimat itu bukan hanya ditunjukkan padanya. Dia memandangi punggung laki-laki itu yang semakin menjauh.

Jika sampai nanti pun dia tidak melihatku, aku tidak apa-apa. Berada didekatnya sudah cukup.
Park Se Ri

Gadis bodoh yang selalu ada disekitarku.
Kang Seung Yoon

IMG_3933

 

이밤

Seorang gadis berambut sebahu dengan tudung hoodie pink yang menutupi sedikit rambutnya berdiri dipinggir jalan. Kedua telinganya terpasang earphone putih,pandangannya lurus ke seberang jalan. Tidak tampak terusik dengan banyaknya orang yang berlalu lalang Dihadapannya karena kebetulan dia berdiri didepan tempat penyebrangan. Sudah 30 menit dia berdiri disini menunggu seseorang yang sudah berjanji akan bertemu dengannya. Malam semakin larut dan orang-orang yang berlalu-lalang sudah semakin sepi namun gadis itu belum juga beranjak dari tempatnya.
Dia mengambil ponsel hitam di saku hoodienya. Menatap layar ponselnya yang tidak ada pemberitahuan apapun. Gadis bermata besar itu mendesah pelan. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodienya.
Tiba-tiba seorang pria langsung menarik tangan gadis ini dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu langsung menoleh dan tampak kaget namun sejurus kemudian mendengus kesal begitu tahu siapa yang sedang menggenggam tangannya. Seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya dengan topi hitam dan masker berwarna senada topinya,jaket ungu tua dan celana jeans hitam. Alis tebalnya tampak paling menonjol dari wajahnya yang setengahnya tertutup masker.
“Mianhae,”ujar pria itu yang merasa bersalah karena dia datang sangat terlambat dari waktu yang dia janjikan. Selain hanya malam hari mereka bisa bertemu terkadang dia juga harus sembunyi-sembunyi dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan gadis yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya memaklumi meski sebenarnya dia kesal. Dia tahu sesibuk apa pria Disampingnya ini. Bahkan rasanya sudah lama sekali sejak mereka terakhir bertemu. Mereka hanya bisa bertukar kabar melalui telepon,SMS atau social media. Posisi pria ini yang terkadang berada diluar negeri juga membuatnya susah untuk menghubunginya.
“Kau sudah makan?”tanya pria bersuara berat itu.
“Sudah,kau?”tanya gadis itu.
Pria itu mengangguk dan menurunkan maskernya.
Gadis itu menaikkan tangannya yang membawa sebuah plastik hitam.
“Aku membeli odeng tadi,mari kita makan bersama,”ujarnya.
Pria tinggi itu mengangguk dan tersenyum senang.
“Jiwon-ah ayo,”ujar pria itu lagi sambil menarik tangan kekasihnya untuk menyebrang jalan.
Mereka berjalan melewati underpass yang sudah sepi. Tidak banyak orang lagi yang berlalu-lalang di jam seperti ini dan itu sangat bagus bagi mereka. Keduanya masih bergandengan tangan menyusuri underpass yang sedikit menurun ini. Ketika mereka kembali ke atas, terlihatlah sebuah taman dan lurus semakin ke depan, jembatan yang membelah sungai Han. Mereka memang berencana bertemu di Banpo malam ini.
Ketika sampai di dekat sungai mereka duduk dipinggirnya.
“Bagaimana harimu?”tanya gadis yang bernama Jiwon ini membuka percakapan.
“Seperti biasa,maaf aku tidak sempat mengabarimu ketika aku akan pergi ke Guam,”ujar pria itu yang kini sudah melepas maskernya.
Jiwon yang duduk menghadapnya hanya tersenyum. Dia menepuk lengan pria itu.
“Gwenchana Mino-ya, aku tahu kau sangat sibuk sekarang ini.”ujar Jiwon.
Dia memandang pria yang begitu dia sayangi ini,yang bisa membuatnya tertawa meski di hari terburuknya. Seseorang yang selalu tersenyum lebar setiap kali bertemu dengannya yang membuat hati Jiwon menghangat. Dia sangat merindukan senyuman itu.
“Aku merindukanmu,”ucap Mino langsung.
Jiwon tersenyum.”Aku juga sangat merindukanmu Mino-ku yang bodoh,”ujarnya sambil menggenggam tangan Mino.
“Mwo? Kenapa kau selalu Memanggilku bodoh? Aku tidak bodoh,”ujar Mino yang selalu tidak terima jika Jiwon mulai menyebutnya bodoh.
“Aku menyukaimu karena kebodohanmu,”lanjut Jiwon memasang wajah polos.
“Apa?”Mino mengernyitkan dahinya dan memasang wajah yang menurut Jiwon campuran antara bodoh dan polos.
Jiwon langsung tertawa terbahak-bahak.”Akhirnya aku melihat wajah bodohmu lagi,”
Mino berdecak sebal,dia menarik tangannya yang dipegang Jiwon dan berbalik badan,berpura-pura marah pada Jiwon. Hal itu malah membuat Jiwon tertawa semakin kencang.
Dia mendekati Mino dan memiringkan kepalanya,memunculkan kepalanya dari balik badan Mino.
“Kau lucu sekali saat marah,”ujar Jiwon sambil menusuk-nusuk pipi Mino dengan jarinya.
“Pipimu semakin tirus,ayo kita makan,”lanjut Jiwon dia kembali ke posisi duduknya lalu mulai membuka bungkusan yang dia bawa tadi.
Mino masih pada posisinya yang tadi. Dia ingin berbalik tapi dia harus membuat Jiwon tahu kalau dia tidak suka dipanggil bodoh, apalagi oleh kekasihnya sendiri.
“Mino-ya kau tidak mau hm?”tanya Jiwon sambil menyodorkan setusuk odeng dihadapan Mino. Pria itu masih memasang wajah kesal.
“Baiklah akan kuhabiskan sendiri lalu aku pulang,”ujar Jiwon hendak memakan odeng tersebut namun tangan Mino langsung menahannya. Dia mengambil odeng itu membuat Jiwon tergelak. Inilah kekasihnya yang bodoh.
“Mino-ya kemarin aku makan siang dengan Dana, aku bertemu dengannya tidak sengaja saat akan istirahat makan siang,”ucap Jiwon.
“Hmm dia tidak cerita apapun,”ujar Mino sambil melahap odeng ditangannya.
“Kau sudah lama tidak pulang ke rumah?”tanya Jiwon.
Mino mengangguk dengan mulut penuh odeng.
“Tapi tadi pagi aku menelepon eomma,”ujarnya setelah menelan odeng dimulutnya.
Jiwon mengeluarkan tissue dari saling bag yang dipakainya lalu membersihkan sudut mulut pria dihadapannya ini. Mino hanya tersenyum.
Keduanya menghabiskan odeng yang dibeli Jiwon dalam waktu singkat. Jiwon sangat tahu kalau kekasihnya ini sangat suka sekali makan,mirip dengannya. Jika mereka berkesempatan bertemu yang mereka lakukan biasanya makan entah di restoran,kedai pinggir jalan ataupun di apartemen Jiwon.
“Ah aku kenyang,”ujar Mino sambil menepuk perutnya.
Jiwon memberikan cola pada Mino yang langsung diambil oleh pria itu.
“Jiwon-ah,”panggil Mino.
Jiwon menoleh pada Mino. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lalu menyalakan lampu senter di ponselnya dan menyorot wajah Jiwon. Banpo dimalam hari memang sangat gelap.
“Ya! Mino-ya apa yang kau lakukan?”tanya Jiwon kesal karena bagaimana kalau ada orang yang melihat walaupun tempat ini sudah sepi tapi tetap saja Jiwon takut ada yang melihat mereka.
“Kita sudah lebih dari 3 bulan tidak bertemu dan aku tidak bisa melihat wajahmu karena gelap dan bagaimana aku bisa menciummu kalau gelap begini,”
“Song Mino bodoh!!”
Jiwon mendorong tubuh Mino, pria itu langsung menahan tangannya agar tidak jatuh.
“Choi Jiwon kau mau membuatku jatuh ke sungai Hah? Aku tidak bisa berenang,”ujar Mino yang tampak takut akan jatuh ke sungai karena Jiwon mendorong tubuhnya.
“Kau ini kenapa bodoh sekali!”Jiwon memukul lengan Mino,dia kesal dengan pria tinggi ini selalu saja melalukan hal-hal yang menurutnya bodoh.

**

“Bagaimana ayahmu?”tanya Mino pada Jiwon.
Mereka masih duduk dipinggir sungai.
“Seperti itu,”jawab Jiwon singkat sambil menolehkan kepalanya pada pria Disampingnya ini.
Jiwon mengeluarkan ponselnya dan melirik angka yang tertera besar disana. 11.45.
“Ayo pulang ini sudah hampir tengah malam,”ujar Jiwon.
“Apa? Kita baru satu jam bertemu,”ucap Mino.
“Itu salahmu yang datang terlambat,”lanjut Jiwon sambil berdiri dari duduknya.
Mino hanya bisa mendesah pelan dan ikut berdiri.
“Aku harus bekerja besok Mino-ya,”ucap Jiwon begitu melihat wajah kekasihnya ini kecewa.
“Aku akan mengantarmu pulang,”ujar Mino sambil berjalan,tangannya menggenggam erat tangan Jiwon.
“Tidak perlu,aku akan naik taksi saja dipinggir jalan tadi,kau akan kembali ke dorm?”tanya Jiwon.
“Sepertinya tidak,aku ada janji dengan Seungyoon di YG,”jawab Mino.
Jiwon menganggukkan kepalanya.”Jangan bekerja terlalu keras,lagu kalian ada dimana-mana sekarang.”
“Hebat kan aku!”seru Mino tersenyum lebar. Senyum favorit Jiwon. Senyum yang bisa membuatnya ikut senang. Jiwon hanya mengangguk mengiyakan.
“Jiwon-ah maaf aku tidak bisa selalu bertemu denganmu, maaf kalau aku terkadang mengabaikanmu, maaf aku tidak bisa selalu mendengar ceritamu,maaf…”
“Tidak Mino-ya,”Jiwon menghentikan langkahnya,dia berdiri menghadap Mino.
“Terima kasih untuk tetap bersamaku,terima kasih untuk menjadi seseorang yang selalu bisa membuatku tersenyum, terima kasih untuk bisa menjadi seseorang yang bisa kusayangi lagi,”
Jiwon menarik tangan Mino untuk berjalan lagi.
“Bagaimana kabar Jhonny?”tanya Jiwon memecah kesunyian mereka yang kembali berjalan melewati underpass.
“Baik kurasa dia merindukanmu,begitu aku menunjukkan fotomu di ponselku dia langsung mengeong,”jawab Mino antusias.
“Kurasa dia bukan merindukanku tapi merindukan suga, karena jika aku datang aku pasti membawa suga,Jhonny itu sainganku untuk mendapat perhatianmu,”
Mino tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Jiwon.
“Perhatianku hanya untukmu,”ujarnya.
“Wow Song Mino belajar dari siapa kata-kata itu? Seungyoon? Seunghoon? Atau Jinwoo oppa?,”ujar Jiwon sambil tertawa.
Ketika sampai dipinggir jalan tempat mereka bertemu Jiwon melepaskan genggaman tangan mereka.
“Pulanglah,”perintah Jiwon.
“Tidak aku harus memastikan kau naik taksi, aku kekasih yang baik,”ujar Mino.
Jiwon tertawa pelan.”Baiklah baiklah,”
“Kau harus bertemu ayahmu Jiwon-ah,”ujar Mino.
Jiwon yang terlihat ceria dan bersemangat sebenarnya memiliki masalah. Sejak kematian ibunya di umurnya yang ketujuh tahun,Jiwon memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya yang dia anggap penyebab kematian ibunya. Begitu lulus kuliah dan bekerja Jiwon memutuskan keluar dari rumahnya dan menyewa apartemen sendiri. Sudah dia tahun pula Jiwon tidak pernah lagi bertemu ayahnya. Mino sudah seringkali membujuk Jiwon untuk berbaikan dengan ayahnya namun sia-sia. Jiwon memang keras kepala.
Jiwon masuk ke dalam taksi. Dia melambaikan tangannya pada Mino sebelum taksi itu berjalan.

**

Song Mino, kurasa semua orang mengenalnya sekarang. Ya dia adalah salah satu anggota Boy group yang cukup terkenal. Winner. Dia juga sering muncul dibeberapa acara TV sekarang. Aku mengenalnya mungkin sudah 4 tahun. Pertemuanku dengannya sungguh lucu jika diingat kembali tapi hal itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Dia yang mampu mengisi kesepianku,dia yang mampu membuatku percaya lagi pada pria. Senyumnya,tingkah bodohnya,cara berpikirnya,cara bicaranya semua hal pada dirinya, aku menyukainya. Dibalik sifat kekanak-Kanakan dan bodohnya sesungguhnya dia sangat dewasa, dia selalu menasihatiku untuk berbaikan dengan ayah meski aku selalu menolaknya. Dia sumber kebahagianku saat ini,mungkin terdengar berlebihan tapi memang benar siapa lagi yang bisa membuatku tertawa terbahak-bahak di tengah malam mendengar ceritanya seharian. Aku hanya punya ayah yang hubungannya tidak baik,aku tidak punya ibu. Teman,ada tapi bukan seseorang yang bisa kuajak bercerita mengenai masalahku dengan ayah. Mino,ya hanya Mino dimana aku bisa bercerita apapun.

 

**

Choi Jiwon, gadis cerewet yang senang sekali menyebutku bodoh. Salah satu dari tiga wanita yang kukagumi, ibu, adikku dan Jiwon. Dia gadis tangguh,dewasa,dan penyayang. Dia begitu sabar menghadapiku. Aku selalu merasa bersalah padanya setiap memintanya bertemu malam hari seperti ini atau aku yang tidak bisa selalu menghubunginya setiap hari. Aku tahu aku egois ketika aku meminta Jiwon menjadi milikku, aku tidak pernah bisa selalu bersamanya tapi aku juga tidak bisa tanpa dia. Lucu memang,disaat kami bertemu karena hal yang aneh dan menjadi dekat dan aku merasa nyaman dengannya. Setiap kali aku bersama Jiwon,aku hanya ingin membuatnya tersenyum,melupakan hal-hal yang membuatnya sedih atau kesal. Senyum Jiwon-lah yang ingin aku lihat setiap kali bertemu dengannya.

**
Mino memandangi taksi yang ditumpangi Jiwon semakin menghilang. Ponsel disaku jaketnya bergetar.

Semangat!! Aku menyukaimu ❤️

Mino tersenyum membaca sederet tulisan pesan singkat itu.

보고싶다~

Yong Soon menekan tombol lift berdiri menunggu pintu lift terbuka. Seseorang menepuk bahunya membuatnya terlonjak kaget.
“Joo Hyun oppa,”ujarnya ketika menyadari siapa yang menepuk bahunya. Dia menoleh ke Joo Hyun yang berdiri tepat Disampingnya.
Joo Hyun tersenyum.
“Oppa tidak biasanya kau sudah pulang?”tanya Yong Soon.
“Iya,aku akan ke Busan hari ini,”jawab Joo Hyun.
Yong Soon mengangguk-anggukan kepalanya. Pintu lift terbuka dan mereka pun masuk ke dalamnya.
“Yong Soon-ah,”panggil Joo Hyun.
Yong Soon menoleh.
“Kyuhyun sudah pulang?”tanya Joo Hyun.
“Hmmm seharusnya hari ini dia pulang,”jawab Yong Soon.
“Pantas wajahmu sejak pagi berseri-seri sekali,”ujar Joo Hyun sambil tertawa pelan. “Sudah sebulan ini wajahmu murung,”lanjutnya.
Yong Soon menyentuh kedua pipinya dengan tangannya.”Benarkah?”dia pun tertawa setelahnya.
Benar dia sangat merindukan Kyuhyun. Walaupun sebulan entah kenapa rasanya lama sekali. Dia tidak sadar kalo wajahnya berubah murung selama sebulan ini,Kyuhyun benar-benar sangat memberikan efek padanya. Hari ini Kyuhyun akan menyelesaikan pendidikan dasaranya,5dia sangat menanti hari ini. Dimana Kyuhyun akan pulang dan selanjutnya Kyuhyun akan menjalankan tugas pelayanan publik. Itu artinya dia akan lebih sering bersama Kyuhyun.

**

Yong Soon keluar dari sebuah minimarket dengan tas plastik ditangannya. Dengan hoodie hitam,sneaker putih dia kembali ke apartemennya yang memang tidak jauh dari minimarket tersebut. Dia berniat membuat Kimchi jigae untuk makan malamnya. Ketika dia tengah sibuk melihat resep di ponselnya dan memasukkan bahan-bahan ke panci,sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
“Yoboseyo Ahra Eonni,”ujarnya langsung.
“Yong Soon-ah kau dimana?”tanya suara diseberang sana yang tidak lain adalah Ahra Eonni.
“Di rumah, waeyo?”tanya Yong Soon.
“Kyuhyun sudah di rumah,”ujar kakak Kyuhyun ini.
“Benarkah?”tanya Yong Soon lagi sangat antusias.
Karena Kyuhyun tidak bisa bebas menggunakan ponselnya selama pelatihan dasar. Yong Soon jarang sekali mendengar kabar Kyuhyun,meski dia pernah mengunjunginya sekali. Yong Soon hanya tahu hari ini pria favoritnya itu akan pulang.
“Iya kemarilah,”pinta Ahra.
“Eoh,”
Yong Soon memutuskan sambungan telepon. Dia akan membawa masakannya ke rumah mertuanya. Dia tidak sabar bertemu Kyuhyun. Dia memandangi ponselnya, tapi kenapa Kyuhyun tidak menghubunginya?gumam Yong Soon dalam pikirannya. Seharusnya jika Kyuhyun sudah dirumah orang tuanya,pria itu bisa menghubunginya kenapa malah Ahra yang memintanya ke rumah orang tua Kyuhyun.
Yong Soon berjalan ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih layak. Sebuah floral dress selutut dengan t-shirt putih. Dia memindahkan Kimchi jigae yang sudah dibuatnya ke wadah untuk dia bawa.
Gadis berambut pendek itu mengambil kunci mobil di meja dekat pintu lalu mengenakan sneakers putihnya.
“Kau mau kemana?”
Tepat ketika Yong Soon membuka pintu. Seseorang berdiri diluar pintunya. Yong Soon terkejut melihat sosok tinggi dengan pakaian loreng-loreng khas militer.
“Kyu..hy..”
Belum selesai berbicara. Pria yang tidak lain adalah Kyuhyun itu langsung memeluk tubuh Yong Soon.
“Aku Merindukanmu,”ujarnya sambil membenamkan wajahnya dilekukan leher istrinya itu. Betapa Kyuhyun merindukan memeluk tubuh mungil ini setiap malam. Sebulan yang berat bukan hanya karena latihan yang dia jalani tapi juga karena tidak ada Yong Soon Disampingnya.
“Kyuhyun-ah,bukannya kau di rumah eomonim…kenapa kau?”Yong Soon tampak bingung kenapa Kyuhyun tiba-tiba sudah Dihadapannya. Bukannya dia tidak senang hanya saja bukanka tadi Ahra menyuruhnya ke tempat eomonim.
Kyuhyun melepaskan pelukannya meski enggan.”Dia hanya mengerjaimu,aku memang dari tempat eomma tadi,mana mungkin aku menyuruhmu ke tempat eomma lebih baik aku pulang dan langsung bertemu denganmu,”ujar Kyuhyun sambil mencubit gemas pipi Yong Soon.
Yong Soon hanya memandanginya bingung.
“Aku lapar…aku belum makan ditempat eomma karena aku ingin makan masakanmu,”Kyuhyun mengerucutkan bibirnya persis seperti anak kecil.
Yong Soon hanya bisa mendesah pelan. Bayi besarnya kembali.

 

**

“Yong Soon-ah,”panggil Kyuhyun pada Yong Soon yang kini tengah memunggunginya,dia tengah menyiapkan makan malam lengkap untuk pria itu.
Yong Soon hanya menggumam sebagai jawaban.
“Kau tidak merindukanku?”tanya Kyuhyun karena sejak tadi Yong Soon terlihat biasa saja dengan kedatangannya.
Kyuhyun sudah mengganti bajunya dengan t-shirt biru langit dan celana piyamanya. Dia sudah duduk manis di meja makan menunggu Yong Soon menghidangkan makanan.
“Tentu saja aku Merindukanmu,”jawab Yong Soon.
“Tapi kenapa kau tidak menciumku?”tanya Kyuhyun lagi.
Yong Soon membalikkan badannya lalu menaruh semangkuk nasi dihadapan Kyuhyun.
“Memangnya aku harus menciummu untuk menunjukkan aku Merindukanmu,makanlah,”perintahnya.
“Suapi aku,”cetus Kyuhyun dengan wajah polos.
“Ya Cho Kyuhyun, apa maksudmu? Makanlah,”ujar Yong Soon.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang disuruh makan tapi tidak mau. Yong Soon memutar bola matanya. Seingatnya Kyuhyun tidak semanja ini terlahir dia tinggalkan.
Yong Soon mendekat pada Kyuhyun dan menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Dia memandang wajah itu cukup lama. Ah,dia sangat merindukan wajah Kyuhyun yang sedang merajuk seperti ini. Kyuhyun tampak lebih sehat dan sedikit lebih kurus sejak terakhir dia bertemu. Ditatapnya bola mata kelam milik Kyuhyun.
“Aku merindukanmu,”lirih Yong Soon sesaat sebelum gadis manis itu menyentuhkan bibirnya ke bibir Kyuhyun.
Kyuhyun yang awalnya kaget dengan tindakan tiba-tiba Yong Soon,mulai membalas ciuman gadis itu. Tangannya bahkan menarik Yong Soon untuk duduk dipangkuannya. Keduanya semakin memperdalam ciuman mereka. Yong Soon mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun sementara tangan Kyuhyun di punggung Yong Soon menarik gadis itu untuk semakin mendekat. Kyuhyun begitu merindukan bibir manis Yong Soon sebulan ini.
Yong Soon melepaskan dirinya sebelum kehabisan nafas. Tangannya masih menangkup wajah Kyuhyun. Dikecupnya bibir Kyuhyun berkali-kali. Kyuhyun tampak tersenyum senang. Ini yang ditunggunya sejak tadi. Yong Soon menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun dan hendak berdiri namun tangan pria itu menahannya.
“Aku akan makan dulu setelah itu kita lanjutkan yang tadi,”ujar Kyuhyun sambil tersenyum penuh kemenangan.
Yong Soon langsung menyentil dahi Kyuhyun.
“Dasar bodoh!”

This FF made by Yayang the one who made Yeon Ji character

 

 

“Eoh oppa? Nde. I am on my way. Tak usah, biar aku naik subway saja” ujarku pada seseorang diseberang sana melalui saluran telpon.
Aku memencet tombol lift turun. Baru seminggu lalu aku kembali ke Seoul, belakangan ini aku sering berpergian ke Indonesia. Ya, kakek nenekku dari pihak ibuku adalah orang Indonesia, ditambah lagi sejak 2 tahun lalu aku rutin memproduksi video untuk di upload di youtube, bisa dibilang salah satu pekerjaanku adalah Travel Vlogger. Kadang-kadang aku membantu Choi Yoon Yang – salah satu sepupu kesayanganku – di bisnis butiknya, aku menjadi model katalognya. Beberapa tahun lalu Yoon Yang magang menjadi stylist DBSK, dan itu membuat karirnya dibidang fashion cukup diperhitungkan. Walaupun judulnya adalah ‘membantu sepupuku’ tapi Yoon Yang tetap membayarku secara professional.
Sejak lulus kuliah aku memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen milikku sendiri (atas nama diriku), tidak mewah memang seperti apartemen milik orang tuaku yang sering aku tempati, namun aku bangga bisa membelinya dengan hasil kerja kerasku sendiri. Apartemenku berada di daerah Donggyo-ro, Mapo-gu.
Oh iya, yang menelponku barusan adalah Jong Jin oppa, adik Jong Woon oppa – kalian lebih familiar dengan nama Yesung oppa. Hari ini aku sudah janji pada Yesung oppa kalau aku akan menemuinya di Mouse Rabbit. Seperti biasa, setiap kali kami bertemu Yesung oppa selalu saja merepotkan Jong Jin oppa untuk mengantar ataupun menjemputku di apartemen. Kalau sampai ada paparazzi yang menangkap fotoku, mereka pasti mengira aku ini adalah kekasih Jong Jin oppa, dan tentu saja itu bukan berita yang menarik berhubung Jong Jin oppa bukanlah selebriti.
Malam ini cuaca agak hangat – tidak berangin, aku mengenakan floral dress diatas lutut dengan denim jacket, dilengkapi ankle boot berwarna dark brown dan mini sling bag berwarna senada. Aku sengaja memilih untuk menggerai rambut sebahuku, karena Yesung oppa lebih suka melihatnya begitu.
Butuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari apartemenku ke pintu subway terdekat, dan butuh 15 menit lagi hingga aku sampai di Stasiun subway KonKook University, aku berjalan ke exit 2. Sudah jam 10 malam, aku janji bertemu denganya jam 11. Aku sengaja datang lebih cepat karena ingin melepas rindu dengan eomoni terlebih dahulu.
aku melewati gang sebelum sampai ke Mouse Rabbit, belum lagi dekorasi salon di depan mouse rabbit sukses membuatku terkejut, mereka meletakkan boneka hantu di depan pintu mereka, padahal ini bukan pertama kalinya aku kesini. Kalau di Indonesia, caffe dengan lokasi di dalam gang yang cukup kecil tidak akan didatangi orang, mereka butuh tampat parkir yang luas karena setiap yang datang pasti membawa kendaraan. Salah satu yang aku suka, dan membuatku rindu dengan Korea setiap kali aku berada di Indonesia adalah aku bebas berjalan kaki kemanapun sesukaku karena fasilitas yang memang mendukung.
Pintu Mouse Rabbit masih sama, berwarna merah. Aku tersenyum antusias, entah mengapa jantungku berdegup kencang.
“Yeon Ji-ya” ujar eomeoni antusias dan memelukku. Dia membelai rambutku dengan lembut, “Eomeoni rindu sekali denganmu” wanita separuh baya itu tersenyum tulus.
Aku balas tersenyum, “Aku juga sangaaaaatt merindukan eomeoni” kucium pipi eommoni, dia tertawa. “Bagaimana kabar eomeoni?” aku mengawasi pura-pura menyelidik.
Wanita itu tertawa lagi, eomeoni memang mudah sekali bahagia. “Baik-baik saja, kemana kau saat ulang tahun aboenim?” ujarnya pura-pura kecewa.
Aku memasang tampang bersalah, “Aku sedang ada pekerjaan di Indonesia saat itu, jongmal mianhamnida” ujarku membungkuk. Lebih tepatnya saat itu aku sedang membuat projek video travel vlogging ku di Jawa Timur.
Eomeoni terkekeh, “iya tidak apa-apa” katanya.
Aku mengobrol banyak hal dengan eomeoni, aku memberikan beberapa oleh-oleh berupa barang dan juga makanan pada Eomeoni dan juga Jong Jin oppa. Tepat jam 11 malam, Jong Jin oppa menutup Mouse Rabbit dan saat itu pula laki-laki yang aku cintai selama kurang lebih 7 tahun itu menampakkan batang hidungnya. Dia memakai topi hitam, masker yang menutupi wajahnya, t-shirt hitam dan juga jeans belel. aku tidak bisa menutupi rasa senangku. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? 2 bulan? 3 bulan? Ani, 4 bulan, sejak oppa disibukkan dengan dramanya itu.
“Akhirnya dia datang juga, eomeoni dan Jong Jin beres-beres dulu. Kalian nikmati waktu kalian” ujar eomeoni sambil mengerling padaku dan kubalas dengan senyuman.
Mendadak aku gugup sekali, kenapa rasanya seperti saat baru saja berpacaran dengannya?.
Yesung oppa sudah berada di depanku, “Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu, atau menyambutku” ujarnya.
Aku salah tingkah. “eeeehhh” akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku.
Dia tersenyum singkat, mencium bibirku sekilas lalu masuk ke counter. “mau pesan apa nona?” katanya sambil tersenyum tulus kali ini.
Aku sudah merasa agak rileks sekarang, “apapun yang oppa siapkan dengan cinta” jawabku sambil tertawa lepas. Merasa geli sendiri dengan apa yang aku ucapkan.
Dia mengangguk, tampak berpikir sejenak kemudian mulai bergerak.
“eeehh oppa, kurasa jangan kopi” sahutku kemudian
Dia mengamatiku mencoba menemukan sesuatu, “tidak biasanya?”
“besok aku harus bangun pagi, sudah ada janji dengan Yong Soon. Jadi malam ini, aku tidak ingin bergadang. Sudah jam 11, ingat?”
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Beberapa menit kemudian dia memberikan secangkir ice tea kepadaku dengan gelas bertuliskan Mouse Rabbit dengan logo khasnya. Dia bertanya padaku aku ingin duduk dimana, yang kujawab aku ingin duduk di underground. Tempat itu selalu menjadi spot favoritku setiap kali aku kesini.
Ada yang salah dengan underground favoritku, sudah tidak ada lagi kelopak-kelopak bunga mawar merah yang dilapisi akrilik di lantainya, tidak ada lagi music klasik yang mampu membawaku ke dunia lain, dan lampu yang sekarang sangat ramai, maksudnya jenis lampu yang akan kau temui di klab-klab malam. Otakku berpikir keras hingga aku teringat beberapa waktu lalu Mouse Rabbit memang mengalami reparasi, ini berarti baru pertama kalinya aku kesini setelah perubahan konsep ini. Dan sejujurnya aku jauh lebih menyukai konsep yang lama.
“Siapa ini? Benarkah Choi Yeon Ji?” ujar Yesung oppa ditengah-tengah pertemuan kami.
Aku mengerutkan kening. “Eooh??”
Dia membenahi rambutku dan menyelipkannya diantara telingaku. “Kau ada masalah Choi Yeon Ji?” tanyanya kemudian.
“Ani” jawabku. “Aku hanya merasa tidak familiar” aku tersenyum nyengir.
Yesung oppa mengerti. “ooh, pergantian konsep Mouse Rabbit?”
Aku mengangguk. “Aku suka, hanya saja aku lebih menyukai yang kemarin” gumamku.
“Kalau kau tidak nyaman, kita bisa pindah ke atas” katanya.
Aku menggeleng. “TIdak perlu, disini saja.”
Dia meneguk ice tea miliknya, begitu pula denganku. Rasanya masih sama dengan favoritku. Aah, aku merindukan kopi buatan oppa yang biasa-biasa saja itu. Hehehe tapi tidak bisa malam ini.
“Bagaimana konsernya?” tanyaku
Oppa menghela napas, “Berjalan lancar, kenapa kau tidak hadir?” dia memberungutkan wajahnya, aku tahu dia pura-pura.
Aku terkekeh, “Sudah tidak pantas merajuk seperti itu” aku mencubit pipinya.
Aku bukan Choi Yeon Ji yang dulu lagi. Dulu, aku selalu ingin berada di dekatnya, pergi kemanapun dia pergi, datang diacara apa pun yang ada dia disana, cemburu setiap kali dia terlalu dekat dengan idol lain. Kalau kupikir-pikir sekarang, aku ini siapa? Pacarnya atau saseng fan-nya?. Aku ingat pertengahan 2012 lalu aku putus dengannya karena tiba-tiba ada kabar berhembus kalau dia dekat dengan salah satu member Girlband yang sedang naik daun. Aku memutuskan segala komunikasi dengannya, tidak membalas setiap direct massage yang dia kirimkan melalui twitter (saat itu twitter sangat digandrungi). Aku tidak berpikir panjang tentang perasaanya atas kepergianku yang tiba-tiba ke Indonesia, aku tidak memikirkan bagaimana nasib karirnya kalau dia ketahuan paparazzi memfollow akun twitterku dan mereka akhirnya menemukan identitasku. Aku sangat egois. Sewaktu dia ke Indonesia untuk terakhir kalinya sebelum dia harus wamil, sebenarnya saat itu aku datang ke konser itu, aku sangat merindukannya.
Choi Yoon Yang, Changmin oppa, Yong Soon dan Super Junior oppadeul sangat berperan dalam membaiknya hubunganku dengan Yesung oppa. Pertengahan tahun 2013 Yoon Yang magang sebagai stylist DBSK (karena dia direkomendasikan oleh Changmin oppa, tentu saja karena mereka sepasang kekasih), entah bagaimana ceritanya Donghae oppa tahu kalau Yoon Yang adalah sepupuku dan mengorek-ngorek informasi keberadaanku melalui dia. Sekembalinya aku ke Seoul, Siwon oppa (kami memang dekat karena orang tahu kami adalah teman) datang dan memberitahuku kalau Yesung oppa mengalami sedikit masalah dengan makanan yang diberikan selama wamil, Siwon oppa bilang kalau Yesung oppa merindukan kimbab (asal-asalan) buatanku.
Aku pergi menemui Yesung oppa dengan kimbab yang aku buat sebaik mungkin. “Ini aku bawakan kimbab, kata Siwon oppa, oppa punya masalah dengan makanan” ujarku sambil menjaga nada suara agar terkesan tidak luluh.
Dia mengerutkan keningnya, “Masalah makanan?” dia heran.
Aku tahu, saat itu pula aku sadar kalau Siwon oppa berbohong, aku tidak tahu kapan cairan bening hangat itu mengalir. Aku malu, aku merasa kalah karena menemui Yesung oppa lebih dulu. Aku bangkit dari tampat duduk, bermaksud untuk pulang tapi Yesung oppa menahan tanganku. “Aku senang kau datang, tidak peduli alasannya” ujarnya, pandangannya dalam ke mataku.
Setelah kejadian itu kami sama-sama sadar kalau kami membutuhkan satu sama lain, bukan pertemuan yang intens. Hanya saja perasaan tenang, bahwa kami ada untuk satu sama lain, dia adalah tujuanku begitu pula aku adalah tujuannya. Aku mulai memupuk kepercayaan padanya, dia juga sudah tidak terlalu khawatir setiap kali aku bertemu dengan mantan-mantanku. Hubungan seperti inilah sebenarnya yang kami harapkan. Aku sesekali bertemu dengannya di Mouse Rabbit ketika dia masih dalam masa wajib militer, ketika dia selesai dengan tugas negaranya aku mulai disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bisnisku.
Saat ini dia sedang menyanyikan lagu-lagu yang dia tampilkan di konsernya. Aku menopang dagu sambil memperhatikan setiap gerakan dan ekspresinya. Aku tepuk tangan setiap kali lagunya selesai.
“Jadi, setelah ini kau mau kemana lagi?” tanyanya, atmosfer disekitar kami menjadi serius.
Aku berpikir, pura-pura berpikir. “eeeehhh sepertinya aku mau ke…”
Dia menunggu dengan penasaran, dari ekspresinya aku tahu kalau sebenernya dia mengharapkan aku berada di Seoul lebih lama. “Aku memutuskan untuk di Seoul saja” jawabku sambil tersenyum.
Matanya berbinar, “Jinja?” tanyanya memastikan, aku mengangguk dan dia tersenyum bahagia.
“Apa bedanya aku pergi atau tidak? Toh oppa juga sibuk” aku memain-mainkan sedotan di gelas ice tea yang hampir habis.
Dia memegang tangan kiriku yang menganggur, “Aku tidak masalah kalau harus menemuimu disini setiap tengah malam”
“Tidak mau”
Dia membelalakkan mata, matanya kecil jauh berbeda dengan ketika dia tampil yang dihiasi dengan eyeliner tebal. Aku mewarisi mata ibuku yang berdarah Indonesia, dan dia iri akan hal itu, hahahaha. “Tidak mau?”
Aku tertawa melihat ekspresinya. Entah mengapa sekarang ini posisi kami terbalik, sekarang Yesung oppa lah yang sering bertingkah manja dan ingin selalu bertemu denganku. “Kyuhyun oppa seminggu lagi akan masuk wajib militer. Kupikir Yong Soon pasti akan kesepian, jadi aku ingin punya lebih banyak waktu untuk menjadi teman bercerita dan sesekali pergi jalan-jalan dengannya”
Yesung oppa menopang dagunya dengan kedua tangannya, “Jadi semua ini demi Yong Soon yang akan ditinggalkan wajib militer oleh Kyuhyun?” Dia memasang tampang kecewa tapi aku tahu itu hanya pura-pura.
“Dulu, waktu kita putus dan oppa wajib militer Yong Soon selalu ada untukku walaupun hanya sekedar menemaniku berbelanja padahal aku tahu persis Yong Soon tidak terlalu suka belanja” Jelasku.
Dia tersenyum, sisi dewasanya kembali “Ara, aigoo uri Yeon Ji sudah dewasa sekarang, padahal dulu aku pikir aku pacaran dengan anak SD” dia tertawa sambil mengusap-usap kepalaku.
“Mwo?!!” aku berkacak pinggang. Dia tertawa puas sekali, dia senang sekali menjahiliku seperti itu. Aku tahu dulu aku memang sangat kekanak-kanakkan tapi masa iya disamakan dengan anak SD?. “Berarti oppa pedofilia” balasku.
Dia masih tertawa, aku menghampirinya dan mencubit lengannya, dia membalas dengan menggelitiki hingga aku terpingkal-pingkal dan keluar airmata.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya setelah menghentikan serangan terhadapku sambil memainkan kepalaku yang sedang bersandar dibahunya.
AKu menekankan telujukku di pipinya, “Rahasia” gumamku, dia menyentil keningku lalu menggosok-gosoknya saat aku mengaduh kesakitan.
“Aku akan membuat konten di Seoul, berkolaborasi dengan Joan Kim, mengexplore tempat-tempat wisata di Korea, sesekali membuat video challenge atau skin care rekomendasi, melakukan pemotretan untuk beberapa katalog fashion” jelasku.
Dia mengangguk, “Lega mendengarnya”
“OOhh iya oppa” aku menegakkan dudukku karena ingat sesuatu, seolah-olah ini sangat penting untuk didiskusikan dengannya.
“Mwoya?” dia memasang tampang serius untuk mendengarkan.
Aku tersenyum penuh arti. “Aku ingin operasi boobs”
Dia membelalakkan matanya yang sipit itu. “Mwo!!!” katanya terkejut.
“Operasi” sahutku, aku mengerlingkan mataku menunjuk kearah bagian yang aku maksud.
“TIDAK!!!” katanya tegas, wajahnya sudah memerah sekarang.
Aku mengalungkan tanganku ke lengannya, “Kenapa tidak??? Bukannya oppa suka kalau aku jadi lebih seksi” ujarku manja. Ya ampun ini bukan diriku, sempai segininya aku ingin mengerjainya.
Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. “Kau boleh melakukan hal lain, jalan-jalan dan membuat video travel vlogging keluar negeri, atau apa pun tapi tolong jangan pernah minta izin untuk melakukan operasi apapun itu!!!” Dia memalingkan wajahnya dariku. Becandaku sudah keterlaluan kali ini.
Aku merengkuh wajahnya agar menoleh kepadaku, “Aku hanya bercanda” kataku kemudian sambil tersenyum jahil. “Lagipula aku bisa dipenggal ibuku kalau sampai melakukan operasi”.
Dia memandangku was-was, masih curiga kalau maksudku itu serius. Aku mencium bibirnya sekilas,”Janji tidak akan” kataku meyakinkan.
Dia menghembuskan napas lega dan mengacak-acak rambutku, “dasar kau ini!”
“Aku ingat punya sesuatu untuk oppa” aku merogoh tas mengambil botol kecil berisi pasir berwarna-warni.
Kuberikan benda itu padanya, “Ini untuk oppa”
Dia menerimanya sambil menganalisa bentukku, “Bagus” ujarnya kemudian sambil tersenyum puas yang kubalas dengan senyuman pula.
Detik berikutnya dia memelukku erat, menghirup aroma fragrance strawberry di rambutku. Dari caranya memelukku aku tahu kalau dia sangat merindukanku selama 4 bulan ini. Tubuhku sepenuhnya terbenam dalam rengkuhannya, bisa kurasakan sentuhan kulit wajahnya dipipiku. Bibir hangatnya tenggelam di leherku, dia menghembuskan nafas yang menggelitik di tengkuk leherku. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi dengan setiap pergerakan yang dia lakukan. Perlahan bibirnya bergerak ke rahangku, pipiku, kemudian bibirku, menyentuhkan bibirnya dengan lembut disana. Tubuhku menjadi satu dengan tubuhnya, entah bagaimana caranya dia berhasil membuatku tersudut ke dinding, atau aku saja yang tidak sadar kapan dia melakukannya. Aku membuka mata begitu mendapati tanganku sudah mengalung erat dilehernya. Dia tersenyum, mencium mataku agar mereka menutup kembali. Bibirnya kembali beralih ke bibirku, kali dia sedikit menekannya, mendorong bibirku agar membuka dengan lidahnya, dia menggodaku dengan menggigit lembut bibir bawahku. Aku mengerang, kujambak rambutnya, kupeluk tubuhnya makin erat dengan napas yang mulai menggebu. Dia berhasil membawaku ke dalam permainannya, aku memainkan lidahku disekitar bibirnya yang manis dan seketika itu pula aku tahu kalau tea yang dia minum adalah ice lychee tea.​
“Jadi Ice lychee tea” gumamku di tengah ciuman kami, dia terkekeh tanpa menjauhkan bibirnya dari bibirku. “Dan kau sesegar lemon tea” balasnya, kali ini aku yang terkekeh. Dia merengkuh wajahku dengan kedua tangannya mengecup sisa lemon tea di bibirku. Napasku tersengal-sengal, aku lupa bagaimana caranya bernapas, mendadak seluruh ruangan terasa panas. Dia membuka denim jacket yang kukenakan, menyentukan jarinya di tanganku, bergerak lembut keatas hingga ke tulang selangka, aku miliknya malam ini, besok dan seterusnya. Setiap sentuhannya mengalirkan aliran listrik yang memabukkan untukku.
“Jong Woon-ah, Yeonji-ya… eomma bawakan camilan untuk kalian” suara eomeoni terdengar keras di pangkal tangga, aku mendorong tubuh Yesung oppa menjauh.
Aku menunggu eomeoni masuk, namun yang kudengar suara lain sambil berbisik-bisik, “Eomma, mereka tidak butuh camilan, ayoo ke atas!” ujar suara itu menghentikan agar eomeoni tidak masuk.
Aku mengenali suara bisikan itu sebagai suara Jong Jin oppa, seketika aku membelalakkan mata dan menutup mulut. Besar kemungkinan Jong Jin oppa datang sebelum eomeonim dan melihat kami lalu menahan eomeonim agar tidak masuk. “Oppa, Jong Jin oppa melihat kita” gumamku lemah ke Yesung oppa.
Dia malah tertawa sambil mencubit gemas pipiku. “Maksudmu dia melihat kita melakukan ini?” dia mencium bibirku sekilas yang kubalas cubitan di lengannya. “Aigoo… uri Yeon Ji berantakan sekali” ujarnya kemudian sambil membenahi rambutku.

Goodbye For Now

IMG_3366

“Eonni aku pulang ya,”sapa Yong Soon pada seniornya sambil menundukkan kepala begitu melintasi mejanya.
“Ah ne,”jawab wanita itu singkat.
Yong Soon berjalan cepat keluar ruangan menuju lift. Dia mengambil ponsel di saku cardigannnya dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.

Aku di lift

Yong Soon bergegas masuk ke lift yang pintunya terbuka lalu menekan tombol 1. Sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya.

Aku tunggu di depan.

Begitu sampai di lantai 1, Yong Soon dengan setengah berlari segera keluar gedung. Dia takut seseorang yang menunggunya terlihat oleh orang lain. Sebuah mobil hitam tepat berhenti di depan pintu masuk gedung. Seakan sudah tau siapa yang ada di dalam mobil itu, Yong Soon segera menghampirinya. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
Yong Soon menoleh pada seorang pria disampingnya, dia tersenyum.
“Aku baru saja potong rambut. Bagaimana? Apakah aku terlihat sangat buruk dengan rambut sependek ini?”tanya Pria yang tidak lain adalah Kyuhyun.
Yong Soon menatapnya seksama. Kenapa dia kembali sedih melihat Kyuhyun sudah memangkas habis rambutnya karena besok dia akan segera masuk camp di Nonsan.
Gadis manis itu mengulurkan tangannya ke arah kepala Kyuhyun dan mengelusnya. “Tidak buruk tapi aku akan merindukan rambut sarang lebahmu,”ujar Yong Soon yang membuat Kyuhyun langsung tertawa.
“Jadi mau kemana kita?”tanya Kyuhyun.
“Keluar Seoul….nowon bagaimana?”Yong Soon balik bertanya.
Tadi pagi tiba-tiba Yong Soon ingin pergi berdua saja dengan Kyuhyun semacam kencan. Karena tahu besok Kyuhyun sudah harus berangkat wajib militer dan satu tempat yang dia pikirkan tadi saat di lift adalah tempat Kyuhyun dulu tinggal.
“Call, kau tidak mau makan dulu?”tanya Kyuhyun sambil melihat ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam ini.
“Kita beli makanan ringan saja di GS25 di dekat pertigaan di depan.”jawab Yong Soon.
Kyuhyun melajukan mobilnya dan mengikuti permintaan Yong Soon. Mobil hitam itu berhenti di depan mini market. Yong Soon turun dan membeli beberapa makanan ringan dan juga minuman. Tidak lama dia sudah kembali lagi.
“Apa kita akan menginap?”tanya Kyuhyun ketika Yong Soon memasukkan barang belanjaan ya yang cukup banyak ke belakang mobil.
“Ini untuk besok pagi, aku lupa kalau isi kulkas kita sudah habis karena kau makan sangat banyak akhir-akhir ini,”jawab Yong Soon.
“Kapan lagi aku bisa menghabiskan makanan di rumah? Setelah ini bahkan aku tidak bisa makan masakanmu lagi,”ujar pria itu dengan bibir mengerucut.
Yong Soon mendesah pelan sambil memasang sabuk pengamannya.
“Ya kau benar,”lirih Yong Soon.
Tangan panjang Kyuhyun menjangkau kepala Yong Soon dan mengacak-acak rambutnya.
“Jangan sedih sayang,”ujarnya.
Yong Soon berusaha untuk tidak sedih seminggu ini tapi rasanya dia gagal. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan berharap dia akan lupa ternyata tidak,dia malah semakin menghitung hari-hari Kyuhyun yang tersisa bersama dirinya.

**

2 jam kemudian mereka sudah sampai di Nowon.
“Ah aku lapar,”ujar Kyuhyun begitu dia memberhentikan mobil dipinggir jalan. Disamping mereka sebuah ada kedai makanan kecil. Kyuhyun terus merengek sepanjang perjalanan bahwa dia lapar meski Yong Soon sudah menyuapinya makanan yang dia beli tadi.
Yong Soon turun dari mobil lebih dahulu dan berjalan namun langkahnya terhenti ketika tangan Kyuhyun menggenggam tangannya dan menariknya untuk berjalan bersama. Hari sudah larut dan jalanan pun sepi apalagi ini diluar kota. Yong Soon menoleh dan tersenyum pada Kyuhyun dan membalas genggaman tangan Kyuhyun. Hanya waktu-waktu tertentu dia bisa menggandeng tangan Kyuhyun seperti ini.
“Ahjumma aku mau ramyeon dan daging,”ujar Kyuhyun.
“Juga 2 soju ahjumma,”
Kyuhyun langsung menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Yong Soon.
“Cola saja ahjumma tidak jadi soju,”
Pemilik kedai itu pun mengangguk dan berlalu.
“Ya!kenapa tidak boleh soju?”tanya Yong Soon kesal.
“Sejak kapan kau jadi menyukai soju Hah? Aku harus menyetir pulang dan aku tidak mau menggendongmu yang mabuk.”terang Kyuhyun.
Yong Soon hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
Begitu makanan dihidangkan dihadapan mereka,keduanya larut dengan makanan mereka. Yong Soon dan ramyeon dan Kyuhyun dengan daging. Beberapa kali Yong Soon mengambil daging yang dipanggang menaruhnya diatas selada menambahnya dengan gochujang dan menyuapi Kyuhyun. Keduanya juga tertawa bersama ketika saling menceritakan hal lucu. Ini benar-benar terasa seperti kencan yang sebenarnya bagi Yong Soon meski hanya bisa mereka lakukan di malam hari.
Setelah mengisi perut mereka. Kyuhyun mengajak Yong Soon ke rumah Kyuhyun yang dulu. Kyuhyun lahir dan besar di Nowon sebelum pindah ke Seoul. Keduanya masih bergandengan tangan ketika memasuki jalanan ke rumah Kyuhyun. Hari sudah tengah malam,tidak ada orang lagi dijalan ini. Keduanya berjalan dalam diam.
“Jangan menangis besok,”ujar Kyuhyun.
“Bukannya harusnya kau senang aku menangis besok,itu artinya aku sangat mencintaimu bukan?”
“Kau tidak perlu menangis aku sudah tahu kau sangat mencintaiku.”
“Percaya diri sekali kau,”
“Yong Soon-ah menurutmu kita harus kemana saja tahun ini?”tanya Kyuhyun lagi.
“Aku akan ikut kemanapun kau mengajakku,”
Kyuhyun tertawa. Yong Soon menghentikan langkahnya. Dia berdiri menghadap Kyuhyun.
“Kyuhyun-ah,cium aku,”pinta Yong Soon tiba-tiba. Kyuhyun membulatkan bola matanya sempurna.
Yong Soon tertawa kecil melihat ekspresi Kyuhyun.
“Kenapa kau diam? Bukannya kau duluan yang selalu minta kucium harusnya senang aku minta kau menciumku sekarang,”
“Tidak…ini aneh,”ujar Kyuhyun yang bingung.
“Aigoo Kyuhyun-ah,aku hanya ingin mencoba bagaimana rasanya berciuman di tengah jalan,lagipula disini sepi dan sudah malam,tidak akan ada yang…”
Ucapan Yong Soon terhenti ketika bibir lembut Kyuhyun menekan bibirnya. Tangan besar Kyuhyun menangkup wajah mungil Yong Soon dan gadis itu tersenyum disela ciuman mereka.

**

Yong Soon tidak mau melepaskan Kyuhyun yang sudah bersiap pergi ke Nonsan pagi ini. Dia merasa tidak rela melepaskan Kyuhyun walaupun hanya untuk satu bulan saja.
“Aigoo Yong Soon-ah,”ibu Kyuhyun tersenyum geli melihat kelakuan menantunya ini.
“Eomoni bisakah aku ikut ke Nonsan dengan Kyuhyun,”pinta Yong Soon dengan muka memelas membuat ayah,ibu,kakak perempuan Kyuhyun dan suaminya tertawa.
“Eomma bisa aku tunda satu tahun lagi,”kali ini Kyuhyun yang berbicara.
“Aigoo kalian ini,sudah-sudah cepatlah berangkat,”ujar kakak Kyuhyun. Ahra.
“Kau benar tidak mau ikut Yong Soon-ah? Kau bisa menunggu di mobil,”ujar ayah Kyuhyun begitu pasangan ini melepas pelukan mereka.
Yong Soon menggeleng. Ayah dan ibu Kyuhyun akan ikut mengantar Kyuhyun ke Nonsan.
“Kabari aku begitu kau sempat,”ujar Yong Soon terakhir kalinya di depan pintu. Kyuhyun mengangguk dan mengecup bibir Yong Soon singkat.
Yong Soon memandangi tubuh Kyuhyun yang sudah menghilang ke dalam mobil. Ahra menepuk bahunya.
“Kau mau menginap di tempatku? Kau pasti kesepian di apartemen kan hm?”
Yong Soon tersenyum kecil.
“Eonni kau meledekku,”
“Kyuhyun akan baik-baik saja Yong Soon-ah jangan dipikirkan mengerti?”
Yong Soon mengangguk dan tersenyum pada Kakak Kyuhyun yang merangkul bahunya. Iya Kyuhyun akan baik-baik saja. Lagipula ini hanya sebulan saja kan.

Sad

Kyuhyun baru saja menyelesaikan fanmeeting terakhirnya dua jam yang lalu. Kini pria itu bersama keluarganya tengah makan malam di Mom house,penginapan milik keluarga Kyuhyun. Yong Soon yang juga datang ke acara fanmeeting Kyuhyun juga ikut makan malam bersama. Gadis manis itu duduk disamping Kyuhyun, Ahra, kakak Kyuhyun mengajaknya berbicara sepanjang acara makan malam membuat Kyuhyun tampak sedikit sebal karena kakaknya itu memonopoli istrinya. Padahal dia baru pulang beberapa hari yang lalu dari Vietnam setelah 10 hari disana,menyelesaikan beberapa shooting terakhir untuk singlenya lalu lanjut dengan fanmeeting tadi. Dia bahkan belum berbicara banyak dengan Yong Soon,padahal beberapa hari lagi dia akan segera pergi wajib militer dan sekarang sepanjang acara makan malam kakaknya lah yang berbicara dengan Yong Soon.
“Hati-hati sayang,menginaplah disini sesekali Yong Soon-ah kalau kau kesepian di apartemen,”ujar ibu Kyuhyun sambil memeluk Yong Soon ketika mengantar kedua anaknya ini yang hendak pulang.
“Nde eomonim,kami pulang dulu,”pamit Yong Soon setelahnya berjalan ke arah mobil mereka.
Saat Kyuhyun hendak membuka pintu mobil, Yong Soon menengadahkan tangannya dihadapan Kyuhyun.
“Aku saja yang menyetir,”ujarnya meminta kunci mobil.”Kau tadi minum kan,”lanjut Yong Soon ketika Kyuhyun belum juga menyerahkan kuncinya.
“Baiklah,”ucap Kyuhyun seraya menyerahkan kunci mobil hitam ini.
Kyuhyun kini duduk disamping Yong Soon yang tengah menyetir. Sesekali dia melirik istrinya ini. Dia ingin mengajak berbicara gadis ini tapi sepertinya Yong Soon sangat fokus dengan jalanan di depannya.
“Yong Soon-ah,”panggil Kyuhyun pada akhirnya.
Yong Soon menggumam pelan dengan mata yang masih menatap jalan.
“Aku pernah cerita kan kalau aku pernah mengantar temanku masuk camp,”
Yong Soon menggumam sebagai tanggapan.
“Kau tahu dia putus dengan pacaranya,”lanjut Kyuhyun.
“Lalu?”tanya Yong Soon yang akhirnya bersuara meski dia masih menatap jalan.
“Aku takut akan seperti itu juga,”ujar Kyuhyun.
“Kau tidak punya pacara Kyu,”Yong Soon menoleh pada Kyuhyun sedetik sebelum kembali memandang lurus.
“Eoh tapi aku punya kau,”
“Dan aku tidak akan segila itu untuk meninggalkanmu,”Yong Soon kembali menoleh pada Kyuhyun.
“Benarkah?”tanya Kyuhyun menuntut. Dia bahkan memiringkan kepalanya kearah Yong Soon.
“Cho Kyuhyun,kau pikir hubungan kita semudah sepasang kekasih,aku istrimu,mana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena kau pergi wajib militer.”kini Yong Soon berbicara namun tanpa menoleh.
Kyuhyun tersenyum lebar mendengar jawaban Yong Soon.
“Baru kali ini aku mendengar kau menyebut dirimu istriku,”ujar Kyuhyun lalu tertawa pelan sementara Yong Soon hanya tersenyum.

**

Yong Soon tiba-tiba memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Kyuhyun terlihat bingung.
“Aku ingin membeli tteokboki dulu,”ujar Yong Soon seraya keluar mobil.
Kyuhyun berdecak pelan. Gadis itu belum kenyang rupanya,padahal dia sudah makan banyak sekali tadi. Pikir Kyuhyun.
Yong Soon kembali ke mobil tidak lama kemudian. Dia menyerahkan bungkusan tteokboki itu pada Kyuhyun.
“Jangan dimakan!”ujar Yong Soon.
Yong Soon yang dulu biasa saja dengan tteokboki kini sangat menggemarinya,apalagi kalau bukan karena Kyuhyun. Tteokboki makanan favorit Kyuhyun yang kini juga menjadi makanan favorit Yong Soon.
Kyuhyun tersenyum jahil dan malah membuka tempat tteokboki itu.
“Ya!Cho Kyuhyun kau mau mati Hah!”seru Yong Soon.
Kyuhyun tertawa sambil menyandarkan tubuhnya ke jok mobil.
“Kau benar-benar sangat menyukaiku bahkan kau menyukai tteokboki sekarang,”
Yong Soon hanya mendesah pelan. Terserah pria itu mau berkata apa dia tidak peduli.
Begitu sampai di parkiran apartemen mereka. Yong Soon berjalan lebih dahulu menuju lift meninggalkan Kyuhyun. Pria chubby itu segera mengejar Yong Soon.
“Ya berjalanlah bersamaku,”ujarnya ketika sudah bisa menyamakan langkah kakinya dengan istrinya.
“Kalau ada yang melihat bagaimana?”ujar Yong Soon seraya masuk ke dalam lift yang untungnya sudah kosong karena sudah lewat tengah malam.
Kyuhyun mengikutinya kemudian.
“Yong Soon-ah,besok aku akan bertemu hyungdeul di SUM, kau mau ikut?”tawar Kyuhyun.
“Seperti aku bisa ikut saja, tidak,aku ada janji dengan Yeon Ji,”jawab Yong Soon.
“Baiklah, aku akan menjemputmu setelahnya,”
Yong Soon hanya menggumam sebagai jawaban. Gadis itu keluar lift lebih dulu diikuti Kyuhyun dibelakangnya.
Kyuhyun dan Yong Soon kini tengah menghabiskan tteokboki yang dibeli mereka tadi namun tidak ada percakapan di antara mereka. Kyuhyun merasa aneh dengan istrinya yang tampak tidak seperti biasanya sejak tadi lebih tepatnya setelah pulang makan malam. Meski Yong Soon berbicara biasa padanya dan menjawab semua pertanyaannya dan juga menanggapi candaannya tapi ada sesuatu yang berbeda dari Yong Soon.

**

Kyuhyun mengamati wajah istrinya yang tengah tertidur Dihadapannya. Dia tersenyum mengamati wajah gadis yang sangat dicintainya,gadis yang selama tiga tahun ini selalu menjadi yang pertama dia lihat di pagi hari meski tidak setiap hari. Hari-hari dimana paginya tidak melihat wajah Yong Soon adalah hari yang paling tidak disukainya. Dia sangat bersyukur bisa bertemu gadis seperti Yong Soon. Gadis yang mandiri,kuat,berani namun terkadang kerasa kepala. Kyuhyun merasa dirinya belum bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Yong Soon, dia belum bisa menjaganya dengan baik, berada disisinha setiap saat,tidak seperti suami yang lain. Tapi gadis ini tidak pernah mengeluh, saat dia harus selalu sendiri di apartemennya dia tidak akan pernah bilang pada Kyuhyun jika dia kesepian. Saat harinya buruk pun dia akan tetap bertanya lebih dulu bagaimana hari Kyuhyun hari itu. Dia juga tidak pernah sekalipun mengeluh bahwa dia tidak akan pernah bisa menggenggam tangan Kyuhyun di tempat umum.
Kyuhyun mengelus kepala Yong Soon penuh sayang. Dan bahkan disaat beberapa hari lagi Kyuhyun akan pergi, Yong Soon tidak memintanya untuk selalu berada disampingnya,dia berperilaku seakan Kyuhyun hanya akan pergi shooting seperti biasanya. Walaupun setelah sebulan mereka akan lebih sering bertemu tapi tetap saja bagi Kyuhyun berat. Setelah mereka pernah dua bulan lebih tidak bertemu,berpisah beberapa hari pun terasa sangat berat. Kyuhyun ingin segera sebulan ini segera berlalu, ketika dia mulai menjalani pelayan publiknya dia bisa setiap hari bertemu Yong Soon. Saat pagi hari membuka mata, mungkin makan siang bersama, mereka akan sampai di rumah bersama dan akan tidur di waktu yang sama. Dua tahun ini dia akan menghabiskan banyak waktu dengan Yong Soon. Dia akan menjadi suami yang baik untuk gadis ini. Kyuhyun mencium kening Yong Soon perlahan agar tidak membangunkannya.
“Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu,tapi aku janji dua tahun ke depan aku akan selalu bersamamu,disampingmu,lirih Kyuhyun.
Pria itu beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamar.
Yong Soon membuka matanya perlahan. Dia tidak tidur sejak Kyuhyun mulai menatapnya. Gadis berambut pendek itu mendesah pelan.
“Kenapa jadi sedih ya?”lirih Yong Soon.

**

Kyuhyun mengambil ponselnya diatas meja dan tersenyum begitu membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Saat ini dia baru saja makan bersama member Super Junior yang lain.
“Hyung aku pulang duluan ya,”ujarnya seketika.
Heechul yang duduk Disampingnya langsung menoleh. Semua juga langsung menatap Kyuhyun.
“Aku harus menjemput Yong Soon,”ujar Kyuhyun menjadi jawaban atas muka-muka penuh pertanyaan Dihadapannya.
“Oh baiklah, kenapa kau tidak mengajaknya makan bersama kami tadi?”tanya Leeteuk yang duduk dihadapan Kyuhyun.
“Dia ada janji dengan Yeon Ji,”jawab Kyuhyun sambil melirik Yesung yang tampak acuh.
Kyuhyun berdiri dari duduknya.
“Kyuhyun-ah katakan pada Yong Soon untuk membalas pesan-pesanku kalau tidak aku akan mencekiknya saat bertemu dengannya,”ujar Heechul menahan tangan Kyuhyun sebelum pergi.
Kyuhyun tertawa,”Nde Hyung, dia sangat sibuk sekarang ini,”
“Aku tidak peduli,katakan padanya.”
Kyuhyun mengangguk terakhir kalinya sebelum berpamitan pada yang lain.
“Sampaikan salamku pada Yong Soon,”ujar Leeteuk.
“Aku juga,”Donghae pun ikut berkata.
Dan pada akhirnya semuanya mengatakan hal yang sama.
“Ya ya aku akan sampaikan padanya, ck,”

**

“Jadi bagaimana perasaanmu sebentar lagi Kyuhyun akan pergi?”tanya Yeon Ji sambil menyeruput jus grapefruitnya.
Setelah mengantar Yeon Ji berbelanja,keduanya duduk di sebuah cafe di daerah garosugil.
“Kau orang kesekian yang bertanya seperti itu padaku Yeon Ji-ya, apa yang harus aku rasakan toh selama dua tahun dia tetap akan ada bersamaku.”jawab Yong Soon sambil menghabiskan jus mangganya.
“Iya aku tahu tapi tetap saja kan selama sebulan dia akan pergi, memangnya kau tidak sedih?”tanya Yeon Ji lagi.
“Untuk apa sedih, aku tidak mengerti kenapa aku harus merasa sedih lagipula itu hanya sebulan bahkan aku pernah tidak bertemu dengannya berbulan-bulan,”
Yeon Ji menaikkan alisnya,”Aku mengerti tapi kan saat itu kau sedang kesal dengannya tidak melihat wajahnya mungkin malah menyenangkan tapi sekarang kan lain kau tidak sedang kesal dengannya,”
Yong Soon malah tertawa pelan,”Yeon Ji-ya apa sebenarnya kau sedang mengatakan bahwa kau lah yang sedih saat Yesung oppa pergi wajib militer saat itu.”
Yeon Ji langsung menggeleng cepat.”Tidak mana mungkin aku sedih,saat itu kami sudah putus,”
Yong Soon hanya tertawa menanggapinya.
“Kalau kau merasa kesepian saat Kyuhyun pergi menginaplah ditempatku,”ujar Yeon Ji sambil tersenyum.

**
“Kau sendirian gadis manis?”Kyuhyun duduk disamping seorang gadis berambut pendek dengan bomber merah dan jeans serta sepatu sneakers. Tidak akan ada yang mengira gadis ini sudah berusia 25 tahun dari wajahnya yang kecil dan tubuhnya yang mungil.
Yong Soon menoleh pada Kyuhyun. “Kau sudah seperti ahjussi mesum Kyu,”ucap Yong Soon yang membuat Kyuhyun memasang wajah kesal.
Yong Soon tadi meminta Kyuhyun untuk menjemputnya di Banpo Bridge. Setelah bertemu Yeon Ji dia malah meminta Kyuhyun untuk menjemputnya disini. Untunglah hari ini tidak begitu ramai dan karena dipinggir sungai ini sedikit gelap, kemungkinan Kyuhyun untuk dikenali sangatlah minim.
“Hmm bagaimana kalau kita makan di tempat nenek, sepertinya sudah lama kita tidak makan berdua disana,”ujar Yong Soon.
Kyuhyun mengangguk,”Ide bagus,ayo!”ucap Kyuhyun sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Yong Soon berdiri namun gadis itu tidak mengambil tangan Kyuhyun dan langsung berdiri. Meski tidak ada yang mengenali Kyuhyun yang kini memakai topi yang menutupi setengah wajahnya dan juga jaket tapi tetap saja mereka harus hati-hatikan.
Kyuhyun berjalan dibelakang Yong Soon menuju mobilnya.
“Halmoni kami datang,”ujar Yong Soon begitu masuk kedai makan yang hanya ada beberapa pengunjung yang kesemuanya orang tua.
Kyuhyun melepas topinya. Di tempat ini dia bisa lebih leluasa karena tidak banyak yang tahu kedai makan ini dan kalaupun ada pengunjung yang datang,mereka tidak ada yang mengenali Kyuhyun bahkan saat pertama datang Halmoni pemilik kedai ini pun tidak mengenali Kyuhyun.
“Aigoo,kalian datang berdua kali ini,duduklah,”ujar Halmoni pemilik kedai ini dan menyuruh mereka berdua duduk di salah satu meja disana.
“Aku mau Udon dan 2 soju Halmoni,”ucap Yong Soon.
Kyuhyun mendelik tajam pada Yong Soon ketika gadis itu mengatakan soju.
“Karena aku bersamamu aku boleh mabuk kan Kyu,”Yong Soon memamerkan senyum termanisnya.
Kyuhyun mendesah pelan,”Aku sama dengan Yong Soon Halmoni,”
Nenek itu tersenyum dan mengangguk sebelum berlalu menyiapkan pesanan mereka.
“Saat kau tidak bersamaku kenapa kau pernah mabuk hm?”tanya Kyuhyun sambil menuangkan air putih ke gelas dan menyerahkannya pada Yong Soon.
“Aku kan sudah minta maaf untuk yang itu,”jawab Yong Soon.
“Si Joo Hyun itu masih sering mendekatimu?”tanya Kyuhyun lagi dengan nada tidak suka.
“Tentu saja dia kan rekan kerjaku, jangan pernah cemburu padanya,kau seperti anak kecil saja,”ucap Kyuhyun.
Pesanan mereka datang. Yong Soon membuka botol soju dan menuangkannya ke gelas lalu menyerahkannya pada Kyuhyun. Lalu dia menuang lagi pada gelas yang lain. Dia mengangkat gelas miliknya yang sudah berisi soju lalu menempelkannya pada gelas Kyuhyun.
“Chan,bersulang.”seru Yong Soon lalu meneguk habis soju digelasnya. Dia meringis pelan merasakan rasa pahit yang menyentuh tenggorokannya.
“Kau ingin agar aku menggendongmu saat pulang hm?”
Yong Soon menuang lagi soju digelasnya dan mengangguk mantap,”Kapan lagi aku bisa merepotkanmu,”gadis itu menjulurkan lidahnya sebelum kembali meneguk habis gelas keduanya.

**

“Dia mabuk?”tanya nenek pemilik kedai menghampiri mereka berdua.
Yong Soon sudah menaruh wajahnya dia meja, matanya terpejam. Dia mabuk.
“Eoh bahkan setengah botol saja belum,”ujar Kyuhyun menunjukkan botol dihadapan Yong Soon.
“Gadis ini benar-benar ingin mendapat perhatianmu rupanya,selama dia datang sendiri kesini dia selalu bilang kau terlalu sibuk,tidak memperhatikannya dan dia akan terus mengoceh padaku sampai dia akan meminta tambahan Udon,”terang nenek pemilik kedai ini.
“Benarkah?”tanya Kyuhyun tidak percaya seraya berusaha menegakkan tubuh Yong Soon.
“Iya, tapi dia mengatakannya dengan muka bercanda bukan kesal. Dia selalu bilang dia adalah gadis paling kesepian meski sudah memiliki suami. Dasar gadis ini,”nenek itu tertawa pelan. Kyuhyun jadi tersenyum,dia pikir Yong Soon kesal karena selalu ditinggal olehnya.
“Aku akan mulai wajib militer Halmoni minggu depan,”ucap Kyuhyun.
“Oh ya? Bagus sekali,”
“Iya tapi bukan sebagai tentara aktif hanya sebagai pelayan publik,kesehatanku tidak memungkinkan aku menjadi tentara aktif,”terang Kyuhyun.
“Yah tidak apa-apa yang jelas kau sudah berbakti pada negaramu,”ujar nenek sambil menepuk bahu Kyuhyun.
Kyuhyun lalu menggendong Yong Soon yang sudah tidak sadar itu.
“Sering-seringlah datang kemari,setiap akhir pekan bersama Yong Soon, dia pasti akan sangat senang.”
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk sebelum berpamitan pada nenek. Dia menggendong Yong Soon sampai ke mobil mengenakan sabuk pengaman pada gadis itu.
Bahkan ketika sudah sampai di apartemen Kyuhyun tidak membangunkan Yong Soon dan kembali menggendong gadis itu. Ada beberapa orang yang memperhatikan tapi Kyuhyun tampak tidak terganggu. Orang-orang ini sudah tau mereka tinggal disini seharusnya mereka tidak akan berbicara pada orang luar.
Kyuhyun meletakkan tubuh Yong Soon perlahan di tempat tidur.
“Eung Kyu,”gumam Yong Soon sambil membuka matanya perlahan. Dia menyentuh keningnya.
“Ini akibatnya sudah tau tidak bisa minum,”ujar Kyuhyun.
Yong Soon malah tersenyum.”Kapan terakhir kali aku mabuk saat bersamamu?rasanya sudah lama sekali kan,”
“Aku ambilkan minum dulu,”ujar Kyuhyun beranjak keluar kamar.
Kyuhyun kembali kamar tidak lama kemudian,memberikan segelas air pada Yong Soon yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Gadis itu meminumnya dalam sekali teguk.
“Yong Soon-ah kalau kau kesepian menginaplah di tempat eomma,”ujar Kyuhyun tiba-tiba. Yong Soon menatapnya aneh.
“Kenapa hari ini orang-orang selalu berkata aku kesepian? Tidak Kyu aku baik-baik saja jangan mencemaskan aku seperti yang lain, mengerti? Seperti aku tidak pernah ditinggal olehmu saja,”jawab Yong Soon.
“Tapi aku..”ucapan Kyuhyun terpotong begitu Yong Soon memeluk tubuh tinggi itu. Dia menyandarkan kepalanya di dada Kyuhyun.
“Biarkan aku tidur kepalaku sangat pusing,”ujar Yong Soon.
Kyuhyun menyentil dahi Yong Soon.”Ini karena kau sok ingin minum soju,”
Yong Soon tersenyum.”Aku akan kehilangan bantalku selama sebulan,”
Kyuhyun hanya tertawa pelan.”Aku akan Merindukanmu,”
“Harus,”
“Yong Soon-ah kau masih ingat aku pernah marah padamu karena kau tidak pernah bilang padaku saat kau sakit atau apapun,jika aku sudah masuk camp setiap kali aku meneleponmu kau harus bercerita apapun mengerti?”
Yong Soon hanya mengangguk dalam pelukan Kyuhyun.
Tiba-tiba Kyuhyun merasakan tubuh Yong Soon bergetar. Kyuhyun menepuk bahu istrinya.
“Yong Soon-ah kau menangis?”tanya Kyuhyun.
Yong Soon menggeleng. Kyuhyun lalu melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuh gadis itu.
Kyuhyun kaget begitu melihat wajah Yong Soon dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dia tidak menyangka Yong Soon akan menangis. Kyuhyun tidak pernah melihat gadis ini menangis sekalipun selama ini,gadis yang selalu kuat begitu Yong Soon bagi Kyuhyun. Namun kali ini dia melihat istrinya itu menangis. Yong Soon mengusap matanya.
“Jangan melihatku,”ujarnya.
Kyuhyun langsung menarik Yong Soon kedalam pelukannya lagi. Dia mengusap punggung istrinya itu perlahan.
“Jangan menangis Yong Soon-ah bukankah kau bilang ini hanya sebulan bahkan kita pernah berpisah lebih lama dari itu,apakah kau menangis seperti ini juga?”
“Saat itu kita sedang bertengkar tentu saja aku tidak menangis sekarang kan kita tidak sedang bertengkar,”jawab Yong Soon.
“Aku akan menghubungimu setiap hari,kau pun akan mengunjungiku setiap minggu dan setelah sebulan kita akan selalu bersama. Ingat kan rencana yg sudah kita buat setiap harinya. Kita akan menghabiskan waktu lebih banyak berdua dan aku akan menjadi suami yang baik untukmu yang selalu ada untukmu dan selalu disampingmu, terdengar sangat menyenangkan bukan. Jadi jangan terlalu dipikirkan apa yang akan kita lewati sebulan kedepan nanti pikirkanlah apa yang bisa kita lakukan setelah sebulan nanti,”
Kyuhyun mengakhiri ucapannya dengan mengecup kening Yong Soon. Lalu mengusap pipi Yong Soon yang basah karena air matanya dan terakhir mengecup singkat bibir Yong Soon.

센치해

“Semuanya sudah kau bawa kan?”tanya Yong Soon pada Kyuhyun ketika mengantarnya sampa di depan pintu apartemen mereka. Hari ini Kyuhyun akan pergi selama 10 hari untuk shooting variety show New Journey To The West 4.
Kyuhyun mengangguk mantap dengan kaus putih yang dipadukan dengan kemeja biru serta tas punggung hitam. Pria tinggi itu lebih tampak seperti anak kecil yang akan pergi karya wisata.
“Kau bilang akan ke India tapi ternyata ke Vietnam, kau membohongiku,”Yong Soon mencubit pipi Kyuhyun gemas. Sebelumnya Kyuhyun bilang dia akan ke India selama 10 hari tapi tadi ketika sarapan pria itu mengaku kalau sebenarnya dia akan pergi ke Vietnam bukan India.
Kyuhyun mengaduh dan mengusap pipi chubby nya. Dia tersenyum bersalah.
“Na PD menyuruhku untuk tidak boleh bilang siapa-siapa kalau kami akan ke Vietnam,”ujar Kyuhyun.
“Bahkan pada seorang istri yang tidak diketahui ini,”
Kyuhyun langsung memeluk tubuh mungil Yong Soon.”Maaf…aku tidak bermaksud seperti itu,”
Yong Soon mendesah pelan.
“Aku merindukanmu,”ucapnya sambil membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun. Menghirup aroma tubuh Kyuhyun yang sangat disukainya. Kyuhyun memakai parfum favorit Yong Soon hari ini. Campuran Aquatic-Citrus dengan hint musk. Dia akan sangat merindukan aroma Kyuhyun sampai 10 hari ke depan.
“Aku belum pergi dari hadapanmu dan kau sudah Merindukanku..apakah kau sakit Yong Soon-ah?”tanya Kyuhyun sambil terkekeh pelan. Dia merasa lucu dengan tingkah Yong Soon sejak kemarin. Dia seperti tidak rela Kyuhyun pergi dan hal ini sangat tidak biasa. Gadis yang biasanya cuek ini tiba-tiba berubah menjadi sangat sensitif.
Yong Soon menegakkan tubuhnya dan memukul dada Kyuhyun.”Isshh kau menyebalkan Cho!”
Kyuhyun kini malah tertawa,dia kembali membawa Yong Soon kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.
“Aku juga akan sangat Merindukanmu Yong Soon-ah. Bagaimana kalau aku bilang aku sakit dan tidak bisa ikut mereka ke Vietnam?”ujar Kyuhyun.
Yong Soon tertawa pelan.”Eoh, coba saja katakan itu pada mereka.”
Tiba-tiba ponsel Kyuhyun bergetar disakunya. Yong Soon melepas pelukan Kyuhyun seakan mengerti ponsel Kyuhyun yang berbunyi menandakan bahwa pria itu harus segera pergi.
“Selamat tinggal, hati-hati. Kabari aku jika kau sudah mau berangkat dan jika sudah sampai. Oiya jangan lupa mengabari aku juga selama disana. Jaga kesehatanmu dan juga jangan memaksakan dirimu dan…”
Ucapan Yong Soon terhenti ketika bibir Kyuhyun menyentuh bibirnya. Yong Soon menarik leher Kyuhyun dan mengalungkan tangannya disana sebelum membalas ciuman Kyuhyun.
“Pergilah,”ujar Yong Soon setelah melepaskan ciuman mereka. Tangan Yong Soon bergerak merapikan rambut Kyuhyun.
“Eoh, hati-hati di apartemen sendirian. Kalau kau kesepian menginaplah di tempat eomma,”ucap Kyuhyun.
“Seperti aku tidak pernah sendirian saja di apartemen, aku tidak mau merepotkan eomonim dengan menginap ditempatnya. Sudah sana pergi sebelum aku berubah pikiran dan menyekapmu,”ujar Yong Soon sambil menyuruh Kyuhyun berbalik dan mendorong tubuh tinggi itu.
“Ya! Kau mengusirku eoh,”ujar Kyuhyun tidak suka. Sambil berbalik.
“Bye Bye bayi besarku,”Yong Soon kembali menyuruh Kyuhyun berbalik dan menepuk pantat pria itu.
“Cho Yong-…”baru Kyuhyun akan berbalik tapi Yong Soon sudah masuk ke dalam apartemen dan hanya melongokkan kepalanya saja dibalik pintu.
Yong Soon melambaikan tangannya.”Jangan lupa sampaikan salamku pada Mino ya, katakan padanya terima kasih sudah memberikanku album winner dengan tanda tangan mereka dan jaga baik-baik Mino-ku,”
Wajah mungil itu sudah lenyap dibalik pintu bahkan sebelum Kyuhyun mengucapkan sesuatu. Akhirnya pria itu hanya bisa menggerutu.
“Mino-ku? Huh apa maksudnya itu. Tsk. Gadis itu belum berubah masih saja mencari pria-pria lain untuk membuatku cemburu, harusnya aku tidak mau ketika diminta mengenalkannya pada Mino. Apa-apaan itu menyuruhku untuk menjaga Mino,”
Kyuhyun terus menggerutu bahkan sampai masuk ke dalam lift.

Ponsel Yong Soon berbunyi diatas meja disamping tempat tidur. Gadis manis yang tengah memindahkan buku-bukunya ke rak bergegas mengambil ponselnya itu dan menempelkan ke telinganya.

“Ya,ada apa?”tanyanya tanpa basa-basi karena dia sudah tahu siapa yang dengan menghubunginya saat ini. Tidak lain adalah Kyuhyun.

“Kau belum tidur?”tanya suara bass diseberang telepon.

“Belum,kau belum tidur?”tanya Yong Soon balik seraya menghampiri rak bukunya dengan dua buah buku ditangannya,menaruhnya ditempat kosong di rak buku tersebut.

“Aku baru saja minum dengan teman-temanku,”jawab Kyuhyun.

“Liburanmu menyenangkan?”tanya Yong Soon lagi.

“Eung..tapi aku Merindukanmu,”

Yong Soon hanya tersenyum.

“Kenapa kau tidak ikut saja denganku? Jadi aku tidak kesepian dan Merindukanmu seperti ini,”

Yong soon berdecak pelan,”Aku tidak bisa Kyu,kau tahu Pekerjaanku sedang banyak-banyaknya sekarang dan aku sudah terlalu banyak ijin kemarin ketika menemanimu konser.”

Kyuhyun hanya menggumam pelan.

“Nikmati liburanmu bersama teman-temanmu. Jarang-jarang kau bisa melakukan ini kan,”

Lagi-lagi Kyuhyun hanya menggumam.

“Kita hanya punya waktu 25 hari bersama dan 10 hari malah akan aku habiskan berpisah denganmu lagi,”ujar Kyuhyun dengan nada sedih.

Yong Soon memutar bola matanya. Kyuhyun kembali mengatakan seperti ini semenjak dia tahu tanggal masuk camp-nya mendadak dia semakin melankolis membuat Yong Soon sebal.

“Kau tidak bermaksud memintaku menemanimu ke India kan? Aku bisa dipecat pergi sepuluh hari seperti itu,”

“Bagus kalau begitu,”

“YA Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun terdiam.

“Kita makan siang bersama ketika kau pulang dari Jeju OK?”

Tidak ada jawaban dari Kyuhyun.

“Oh Ayolah Kyu apa lagi yang kau inginkan,aku sudah berjanji akan mengunjungi mu setiap minggu saat kau di camp,lagipula hanya sebulan Kyu.”

Yong Soon tahu Kyuhyun menjadi semakin murung akhir-akhir ini karena waktu masuk camp-nya sebentar lagi. Pasti berat baginya yang sudah puluhan tahun selalu di depan kamera mendadak selama dua tahun tidak akan terlihat lagi.

“Kyuhyun-ah semuanya juga harus melewati kondisi ini. Tidak apa mungkin sekarang kau takut tapi tenang aku akan selalu ada Disampingmu menyemangatimu dan semuanya akan terasa cepat berlalu. Jadi tidurlah ini sudah malam,”

Kyuhyun hanya menjawab dengan gumaman. Yong Soon mendesah pelan.

“Nikmati liburanmu Kyuhyun-ah, aku mencintaimu,”

Yong Soon memutuskan sambungan telepon dan mendesah pelan. Kyuhyun yang kekanak-kan akan sedang muncul sepertinya.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk.

 

‘Kau lupa ciumannya,’

 

“Dasar bayi besar,”

 

 

When?

Kyuhyun baru saja menyelesaikan rangkaian konser solonya di Seoul. Keluarga Kyuhyun mengadakan acara makan malam. Ayah dan ibu Yong Soon datang dari Inggris untuk menonton konser menantunya dan kini mereka juga sudah berkumpul di rumah Kyuhyun. Ada Ahra juga suaminya yang ikut datang. Kini mereka berkumpul di depan sebuah meja ,tampak Kyuhyun berbicara santai dengan ayah Yong Soon Disampingnya sementara Yong Soon dan Ahra mulai meletakkan makanan ke meja dan menyusunnya.
Bel rumah Kyuhyun berbunyi. Ayah Kyuhyun tampak berdiri untuk melihat siapa yang datang.
“Haraboji..,”terdengar suara cempreng khas anak-anak begitu ayah Kyuhyun sampai di depan pintu. Seorang anak laki-laki bermata cokelat bening dengan rambut ikal cokelat berlari menghambur ke arahnya. Usianya mungkin sekitar 3 tahun. Tuan Cho langsung mengangkat tubuh anak laki-laki itu.
“Aigoo Danny-ya kau sudah semakin besar,”ujarnya pada anak laki-laki yang bernama Danny itu.
Seorang wanita berambut merah yang masuk belakangan langsung membungkuk.”Annyeonghaseyo ahjussi,apa kabar?”tanyanya.
Tuan Cho menurunkan tubuh Danny dan tersenyum pada wanita itu.”Baik Jenny-ya bagaimana kabarmu? Ayo masuk.”
“Mom aku masuk duluan,”Danny langsung berlari masuk ke dalam rumah.
“Jangan lupa memberi salam,”ujar Jenny ibu dari anak laki-laki tadi.
“Aku sangat baik ahjussi,ini aku membelikan buah tadi,”ujar Jenny lagi seraya memberikan tas kertas yang berisi buah pada Tuan Cho dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Annyeonghaseyo!”sampai dihadapan orang-orang Danny membungkukkan kepalanya. Kelima orang yang berada di ruangan itu tampak terkejut melihat kedatangan Danny.
“Haraboji..” laki-laki kecil itu menghampiri ayah Yong Soon dan mencium pipinya sekilas.
“Halmoni..,”kali ini da menghampiri ibu Yong Soon.
“Halmoni..”lanjut menghampiri ibu Kyuhyun.
“Samchon..”ujarnya kini pada kakak ipar Kyuhyun.”
“Uncle….”anak laki-laki itu lalu menghampiri Kyuhyun dengan wajah sangat senang dan langsung memeluk leher pria tinggi itu. Paman kesukaan Danny. Begitulah Kyuhyun bagi Danny.
“Apa kabar pangeran kecil,”ujar Kyuhyun sambil mengacak-acak rambut Danny yang kini sudah duduk dipangkuannya. Danny mengangguk kencang sebagai jawaban. Kyuhyun tersenyum sambil mencubit pipi Danny yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
“Dimana aunty?”tanya Danny mencari sosok favoritnya satu lagi. Yong Soon.
Tidak lama Yong Soon keluar dari dapur membawa semangkuk sup ditangannya. Dia terlihat senang melihat Danny juga datang.
“Aunty..,”ujar Danny begitu menangkap sosok Yong Soon.
Gadis itu menaruh sup diatas meja lalu menggapai lengan Danny yang meminta untuk dipeluk.
“You look so tall since the Last time i met you,”ucap Yong Soon yang selalu menggunakan bahasa Inggris jika berbicara pada Danny.
“I will grow tall just like Kyuhyun uncle,”jawabnya sambil kembali meminta untuk duduk dipangkuan Kyuhyun.
“Imo,”Danny melambaikan tangannya pada Ahra yang meletakkan sepiring seafood diatas meja.
“Aigoo Danny,kau datang hm?”Ahra mengusap kepala anak kecil yang manis itu.
Kehadiran Danny di tengah-tengah mereka membuat suasana semakin ramai karena laki-laki kecil itu tidak berhenti berbicara membuat yang lain tertawa.

**

“Lihatlah istrimu Kyuhyun-ah, dia sudah tertidur pulas,”ujar Ibu Yong Soon sambil melirik putri semata wayangnya yang tertidur pulas di dalam mobil.
Setelah acara makan malam, ayah dan ibu Yong Soon ikut pulang bersama Kyuhyun karena mereka akan menginap di apartemennya.
Kyuhyun hanya terkekeh pelan lalu melirik ke kaca spion, melirik Yong Soon yang memang sudah tertidur.
“Akhir-akhir ini kerjaannya sangat banyak,dia menjadi sangat lelah sepertinya,”lanjut Kyuhyun.
“Setelah ini kau tidak ada jadwal lagi?”tanya Ayah Yong Soon yang duduk disamping Kyuhyun yang meyerir mobil.
“Masih ada abonim, ada beberapa taping yang harus aku lakukan,”jawab Kyuhyun sambil tersenyum pada ayah mertuanya itu.
“Jaga kesehatanmu Kyuhyun-ah,kau membuat eomonim khawatir dengan begitu padatnya jadwal konsermu dua bulan kemarin.”kali ini ibu Yong Soon yang berbicara.
“Nde eomonim tentu saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,”balas Kyuhyun.
“Mintalah Yong Soon untuk memasak yang banyak,”lanjut ibu Yong Soon.
Kyuhyun tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya,”Nde eommonim,”

**
Ibu Yong Soon mengguncang bahu putrinya begitu mereka sudah sampai di parkiran apartemen Yong Soon. Gadis berambut pendek itu membuka matanya malas.
Dia pun turun dari mobil dengan mata setengah terbuka. Dia akui minggu ini rasanya dia lelah sekali,pekerjaannya seakan tidak berhenti datang. Sebenarnya akhir pekan ini dia hanya ingin istirahat di apartemennya tapi Kyuhyun akan konser dan tidak mungkin dia tidak datang ke konser solo terakhir suaminya itu. Ditambah orang tuanya datang dan ada makan malam dengan orang tua Kyuhyun juga.
“Berhentilah bekerja kalau kau jadi kelelahan seperti ini,”ucap ibu Yong Soon pada anaknya ketika mereka di dalam lift.
Yong Soon yang menyenderkan kepalanya di dinding lift hanya menatap malas ibunya.
“Lagipula Kyuhyun sudah memintamu berhenti bekerja kan?”lanjut ibu Yong Soon.
“Nde eomonim Yong Soon sangat keras kepala,tolong nasehati dia eomonim,”ucap Kyuhyun yang sukses mendapat tatapan tajam dari Yong Soon. Pengadu. Pikir Yong Soon.
“Benar kau ini keras kepala sekali sama seperti ayahmu, sudahlah berhenti bekerja dan rencanakan kehamilanmu,”
“Eomma!”Yong Soon langsung memotong ucapan ibunya. Topik itu lagi.
“Wae? Ibu benar kan? Kapan kalian akan memberikanku cucu? Memangnya kau tidak mau memiliki anak Yong Soon-ah,”
Yong Soon mendesah pelan. Kyuhyun yang berdiri di depan ibu Yong Soon tidak berani melirik kebelakang lagi. Tidak mau ikut campur.Sementara ayah Yong Soon yang berdiri disamping Kyuhyun hanya tertawa pelan.
“Tentu saja aku ingin memiliki anak tapi tidak sekarang eomma,”jawab Yong Soon.
“Kenapa? Kyuhyun-ah kau tidak ingin memiliki anak?”kali ini ibu Yong Soon bertanya pada Kyuhyun. Pria itu tidak bisa menghindar,inilah yang daritadi dia takutkan.
“Tentu saja ingin eomonim tapi…”
“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tidak ingin segera memiliki anak Hah?”ujar ibu Yong Soon memotong perkataan Kyuhyun. Dia tampak sedikit kesal. Dia sungguh tidak mengerti apa yang dipikirkan kedua anaknya ini. Setelah 3 tahun menikah mereka belum berpikir untuk segera memiliki anak.
“Sudahlah sayang itu urusan Kyuhyun dan Yong Soon,”ayah Yong Soon coba menengahi. Namun sepertinya ibu Yong Soon benar-benar kesal dan terus saja berbicara bahkan sampai di depan pintu apartemen Kyuhyun dan Yong Soon.

**

Kyuhyun melirik istrinya yang tengah bersandar di bahunya sambil membaca buku diatas tempat tidur. Sementara Kyuhyun baru saja selesai bermain game di ponselnya. Dia meletakkan ponsel hitamnya ke nakas. Dia berdehem pelan.
“Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah.”ujar Yong Soon yang seakan tahu apa yang Kyuhyun inginkan. Matanya masih fokus pada halaman yang sedang dia baca.
Kyuhyun kembali berdehem pelan. Dia ragu-ragu untuk bertanya tapi dia penasaran apakah Yong Soon memikirkan hal yang sama dengannya.
“Yong Soon-ah apakah kau memikirkan apa yang eomonim katakan?”tanya Kyuhyun.
Yong Soon langsung menutup bukunya dan menegakkan tubuhnya dia menghadap Kyuhyun dan menatapnya. Perasaan bersalah terlihat dari wajahnya. Dia tahu dialah yang meminta Kyuhyun untuk menunda memiliki anak karena banyak hal yang Yong Soon pikirkan saat itu.
“Apa kau ingin segera memiliki anak?”Yong Soon balik bertanya.
“Tidak bukan begitu..aku hanya..apa yang kau pikirkan tentang perkataan eomonim itu?”tanya Kyuhyun lagi.
Yong Soon mendesah pelan.”Mianhe Kyuhyun-ah, aku yang memintamu untuk tidak segera memiliki anak. Aku hanya merasa waktunya tidak tepat dengan kondisi kita saat itu dan sekarang….yah kupikir mungkin ini memang saatnya tapi tidak bisakah dua tahun ini aku menikmatimu sendiri saja?”terang Yong Soon.
Kyuhyun tersenyum dan mengacak-acak rambut Yong Soon.
“Kita hampir berpisah dan aku ingin dua tahun ini kita benar-benar memperbaiki hubungan kita, benar-benar menghabiskan waktu bersama, aku juga sudah tidak meminum obat pencegah kehamilan sejak dua tahun yang lalu. Berarti aku tidak ada keinginan menunda lagi kan? Biarkan Tuhan menentukan kapan waktu yang tepat mungkin Tuhan tahu aku masih belum mau membagimu dengan yang lain,”Yong Soon tersenyum di akhir kalimatnya.
“Aku mengerti,”Kyuhyun langsung menarik Yong Soon kedalam pelukannya.”Sepertinya aku juga belum mau membagimu dengan yang lain,”
Yong Soon mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun.”Bukannya kau tidak pernah mau membagiku dengan yang lain termasuk dengan Danny tadi,”ujar Yong Soon mendongakkan kepalanya mengingat kejadian makan malam tadi dimana Danny yang selalu mengikutinya kemanapun,minta disuapi olehnya,minta dipangku olehnya membuat Kyuhyun kesal dan mengambil Danny menyuruhnya duduk disamping Kyuhyun.
“Benar,kau hanya milikku tidak ada yang boleh mengambil perhatianmu dariku,”ucap Kyuhyun.
“Egois,”
“Memang,kau baru tahu suamimu ini egois?”
Yong Soon menegakkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun.
“Tidak dari dulu kau sudah egois dan semakin sangat egois,”
Kyuhyun terkekeh pelan. Yong Soon memiringkan kepalanya dan menggapai bibir Kyuhyun. Pria itu memyambutnya dan melumat perlahan bibir Yong Soon. Gadis manis itu pun mulai membalas ciuman Kyuhyun. Ditariknya tengkuk Kyuhyun untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan Kyuhyun bergerak untuk menaikkan kaus Yong Soon namun gadis itu langsung menghentikannya dan melepas ciuman mereka.
“Kyu,kau harus mengantar eomma dan appa besok pagi,”ujar Yong Soon.
Kyuhyun mendesah pelan, dia baru ingat harus bangun pagi besok untuk mengantar mertuanya ke bandara karena mereka akan pulang besok.
“Baiklah,”ujar Kyuhyun kecewa.
“Lagipula aku sedang datang bulan,”lanjut Yong Soon nyengir.
Kyuhyun tampak kaget.”Kau tidak bilang kalau kau sedang datang bulan? Biasanya kau akan bilang,”
“Iya aku lupa memberitahumu,ayo tidur,”ucap Yong Soon lalu merebahkan tubuhnya.
Kyuhyun merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
“Sudah berapa hari?”tanya Kyuhyun.
“Hah masih lima hari lagi,”
“Dasar mesum,”
“Siapa yang kau sebut mesum, aku suamimu,itu wajar,”
“Ya ya ya…ayo tidur,”Ujar Yong Soon Tidak mau memperpanjang perdebatan.
“Beritahu aku kalau kau sudah selesai datang bulan,”
“Kyu!!”