Circle 1 (No String Attached)

3faaff3ff4999fec8ba18ba36aac6e40.jpg

 

Circle 1

Seorang pria tinggi dan tegap berdiri dihadapan sebuah cermin yang memantulkan tubuh tinggi sempurnanya dengan rambut hitam kecoklatan yang ditata rapih. Tangannya dengan perlahan mengancingkan kancing di lengan kemeja putihnya lalu mengambil jas hitam yang dia taruh diatas ranjangnya. Dengan langkah pasti dia keluar kamarnya. Dia berhenti sesaat di depan pintu kamarnya menatap lurus kedepan,ke sebuah pintu kamar yang masih tertutup. Dia berjalan mendekati pintu itu tangannya tergerak untuk mengetuk pintu untuk membangunkan seseorang di dalam namun dia urungkan . Dia pun berlalu begitu saja dari hadapan kamar itu dan berjalan menuju dapur.
Rumahnya begitu besar dengan banyak jendela. Tampak sekali kalau pria ini bukanlah orang sembarangan. Perabotan yang dia miliki pun tidak bisa dibilang murah. Seluruh rumah ini tampak tertata sangat rapi dan sempurna seperti kebanyakan rumah di cerita drama yang sering diputar di televisi.
Kaki panjang itu sampai di dapur di meja makan sudah ada sepiring roti panggang,telur dan bacon. Dia mengambil secarik post-it yang ditempel disebelah piring tersebut.

Aku akan berangkat ke kantor pukul 10,jadi jangan bangunkan aku dan habiskan sarapanmu.

Dia menarik kursi dan duduk dihadapan piring tersebut. Melirik coffee maker di dekat kulkas yang juga sudah berisi kopi. Sepagi apa gadis itu bangun sehingga sudah menyiapkan semua ini. Pikirnya. Dia sedikit terlonjak kaget ketika sesuatu menyentuh kakinya. Makhluk dengan ekor yang terus bergerak-gerak dengan sorot mata antusias. Seekor anjing.
“Haute-ya,tidurmu nyenyak?”tanya pria ini sambil menepuk pelan kepala anjing berwarna abu-abu gelap. Anjing itu tidak menjawab hanya kibasan ekornya semakin cepat.
Pria itu mengambil kopi sementara anjing itu terus mengikutinya,menikmati sarapannya dalam diam hanya dalam waktu 15 menit. Setelahnya dia sudah berjalan keluar rumah mengeluarkan mobil mewah berwarna hitam miliknya dan dia pun pergi.

**

Seorang gadis dengan kaus berwarna kuning dan jeans hitam serta sling bag hitam memasuki dapur,seekor anjing langsung menyapanya begitu mendapati piring kotor di wastafel. Pria itu sudah pergi rupanya.
“Haute-ya ayahmu sudah pergi Eoh?”tanya gadis berambut ikal panjang yang hari ini mengikatnya bentuk pony tail. Dia menggaruk kepala anjing yang terus saja mengelilingi kakinya. Senang melihat satu lagi majikannya sudah bangun.
Gadis itu mengambil jus jeruk di dalam kulkas menuangnya ke dalam gelas dan menghabiskan isi gelas tersebut dalam sekali teguk. Dia menaruh gelas kotornya ke wastafel,dia akan mencucinya setelah pulang nanti. Dengan bergegas dia mengenakan boots hitamnya mengelus kepala anjing hitamnya yang mengekorinya terus sampai akhirnya di pergi.

**

“Hai Jiwon,”sapa gadis itu sambil menepuk kepala seorang gadis yang tengah sibuk menatap layar komputernya.
“Ya!Hae Rin Eonni kau tahu ini sudah jam berapa Eoh?”seru gadis yang dipanggil Jiwon tadi.
Gadis yang bernama Hae Rin itu tampak tidak peduli,dia duduk di kursinya menyalakan komputer Dihadapannya. Kim Hae Rin seorang gadis berusia 27 tahun sudah menjadi leader sebuah tim di sebuah perusahaan majalah yang cukup terkenal di Korea Selatan. Wajahnya kecil dengan mata yang juga kecil namun tajam,dia lebih suka menggunakan kaus dan jeans setiap ke kantor. Bersifat sangat bebas dan tidak suka dikekang,meski begitu dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ini sudah tahun kelimanya bekerja ditempat ini namun pencapaiannya luar biasa hingga dipercaya untuk memimpin sebuah tim.
“Aku sudah mengirimkan file-nya ke e-mail Eonni,”ujar gadis bernama Jiwon yang duduk dihadapan Hae Rin.
Hae Rin hanya menggumam pelan sembari membuka e-mail dari Jiwon. Dia menatap file yg diberikan Jiwon beberapa saat.
“Kurasa kita memang butuh seseorang untuk menggambar, Gyu Won sama sekali tidak bisa menggambar tsk aku akan bicara dengan manajer Kim kalah begitu,”ujar Hae Rin.”Ah,Jiwon-ah kau ikut acara makan malam tim nanti?”tanyanya.
“Tentu saja,”jawab Jiwon dengan tangan yang bergerak diatas keyboard.
“Baguslah kalau begitu,”
Ting
Ponsel Hae Rin berbunyi sebuah pesan muncul dilayarnya.

Seunghoon
Kau tahu dimana aku menaruh buku hijau yang didalamnya ada beberapa kertas yang kulipat?

Hae Rin berdecak pelan. Kebiasaan. Pria bernama Seunghoon selalu mengirimkannya pesan untuk menanyakan dimana keberadaan barangnya yang ini atau yang itu. Padahal Hae Rin tidak pernah menyentuh barang-barang miliki pria itu bagaimana dia bisa tahu lokasi barang yang pria ini cari. Hae Rin mengambil ponselnya mengetikkan balasan.

Kau sudah mengeceknya di laci meja kerjamu di rumah?

Ini aku sedang di rumah dan aku tidak menemukannya

Baru saja hendak membalas pesan dari pria itu,sebuah pesan masuk lebih dulu.

Ah kau benar,ada di laci di meja kerjaku. Terima kasih.

Hae Rin tersenyum simpul. Tidak pernah berubah. Dia meletakkan ponselnya kembali dan matanya kembali fokus ke layar komputer menyelesaikan pekerjaannya.

**

“Aku akan mencoba mengeceknya besok paman,”tangan seorang pria terulur mengambil map hitam di meja seorang pria tua. Pria tua itu mengangguk lalu berdiri dari duduk nya. Dia tersenyum pada pria muda dihadapannya. Jika dilihat sepintas ada setitik kemiripan diantara mereka.
“Kau sudah bekerja keras Seunghoon-ah,”ujar pria tua yang dipanggilnya paman.
Lee Seunghoon anak laki-laki satu-satunya keluarga Lee, calon penerus perusahaan milik keluarga Lee yang bergerak di bidang perhotelan. Pria tua Dihadapannya ini adalah pamannya,adik ayahnya. Pamannya menggantikan posisi ayahnya ketika tiga tahun yang lalu ayah Seunghoon meninggal. Saat itu seunghoon belum siap untuk menggantikan posisi ayahnya. Dia memilih untuk melihat bagaimana pamannya bekerja sampai dia siap untuk memimpin perusahaan.
Seunghoon berpamitan pada pamannya sebelum keluar ruangan. Dia kembali berjalan ke ruangannya. Seperti sebuah cerita drama dimana ada CEO tampan yang selalu menjadi perhatian pegawainya. Seunghoon pun begitu meski dia bukan CEO untuk sekarang tapi dia sudah menjadi pusat perhatian pegawainya. Tubuhnya yang tinggi seperti model,wajah yang tampan dan senyum yang memikat. Ya Seunghoon sangat ramah pada siapapun di kantornya,dia tidak pernah membeda-bedakan semua pegawainya.
Ketika dia kembali ke ruangannya. Ponsel hitamnya berbunyi sebuah pesan masuk.

Kim Jinwoo
Kau akan datang malam ini?

Dengan cepat Seunghoon membalas dengan jawaban iya pesan dari teman sekolah menengahnya dulu. Hari ini mereka berjanji untuk makan malam bersama.

**

“Jiwon-ah kau yakin akan pulang sendiri?”tanya Hae Rin ketika mereka baru saja selesai makan malam bersama timnya. Beberapa orang sudah pergi lebih dahulu dan tersisalah Hae Rin dan Jiwon.
Karena Jiwon usianya paling muda diantara yang lain Hae Rin khawatir karena gadis itu akan pulang sendiri selarut ini.
“Tenang saja Eonni aku baik-baik saja,aku duluan ya,”Jiwon pun beranjak pergi sambil tersenyum.
Hae Rin memperhatikan gadis itu sampai menghilang dibalik tikungan sebelum dia berjalan ke arah sebaliknya menuju stasiun Subway.
Di stasiun dia berhenti sejenak di mini market dan membeli dua kotak susu pisang. Karena hari sudah larut tidak banyak orang yang menggunakan Subway. Hae Rin masih bisa duduk dari stasiun Hongdae hingga stasiun tujuannya. Dia menatap jendela kereta yang gelap. Banyak hal yang dia pikirkan akhir-akhir ini. Sudah berapa lama dia melakukan ini? Lima tahun semenjak ayahnya pergi dari rumah dan ibunya meninggal. Jika saja ibunya masih ada mungkin dia sudah dimaki-maki karena melalukan hidup seperti ini tapi dia tidak punya pilihan dan dia menikmatinya,tidak ada gunanya baginya hidup dengan benar saat ini setelah semua yang terjadi. Apa yang dia lakukan hanya untuk mengobati rasa sakit yang dia rasakan.
Pintu kereta terbuka Hae Rin berjalan keluar kereta mengambil exit menuju rumah megah yang dia tinggali bersama seorang pria bernama seunghoon. Sampai di depan rumah dia melihat semuanya masih gelap hanya lampu tengah yang sudah hidup. Pria itu pasti belum pulang. Dia tidak tahu pria itu kemana, Hae Rin bukan seorang gadis yang penasaran terlebih lagi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Haute menggonggong pelan begitu Hae Rin masuk rumah dan semua lampu menyala.
“Ayahmu belum pulang?”tanya Hae Rin sambil melewati tubuh haute anjing kesayangan Seunghoon.
Anjing itu mengekorinya hingga masuk ke dalam kamar. Hae Rin membersihkan mukanya,menyikat gigi dan mengganti bajunya dengan celana pendek dan kaus kebesaran. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini dan dia ingin segera tidur.
Begitu selesai membersihkan dirinya. Hae Rin kembali keluar kamar,haute yang tadi mengikutinya kini sudah berjalan ke sofa dan menyamankan tubuhnya untuk bersiap tidur. Hae Rin membuka isi kulkas mengeluarkan susu di kotak dan menuangkannya ke gelas sampai sepasang tangan melingkari pinggangnya dan sebuah kepala bersandar di punggungnya.
“Seunghoon-ah,”ujarnya seakan sudah tahu siapa yang sedang memeluknya dari belakang seperti ini.
Pria bernama Seunghoon ini hanya menggumam pelan.
“Kau minum?”tanya Hae Rin mencium bau alkohol dari tubuh Seunghoon.
Lagi-lagi Seunghoon hanya menggumam mengiyakan.
“Kau..,”
“Hanya sedikit,”potong Seunghoon.
Hae Rin mendesah pelan.”Akan aku ambilkan obat alergimu,”
Hae Rin tau Seunghoon tidak bisa minum alkohol. Dia punya alergi terhadap alkohol,minum sedikit tidak masalah sebenarnya tapi tetap saja terkadang alergi itu muncul meski hanya minum sedikit. Lima tahun tinggal bersama Seunghoon tentu membuatnya sangat mengerti dengan hal ini.
Hae Rin berbalik hendak melepaskan diri dari pelukan Seunghoon namun pria itu menahannya. Dia menatap Hae Rin lembut. Sebelum bibirnya menyentuh bibir Hae Rin perlahan sebelum Seunghoon mulai melumat bibir Hae Rin. Gadis berambut panjang itu seakan sudah mengerti tangannya otomatis melingkar ke leher Seunghoon menarik pria itu semakin dalam menciumnya. Hae Rin mulai membalas ciuman Seunghoon. Hingga Seunghoon mengangkat tubuh Hae Rin dan membawanya kamarnya.

**

Seunghoon dengan kemeja birunya sudah berada di dapur sepagi ini. Matanya menangkap sosok Hae Rin yang tengah sibuk memanggang roti. Hae Rin menoleh sebentar pada Seunghoon.
“Sebentar lagi sarapanmu jadi,”ucapnya.
Seunghoon hanya mengangguk dan duduk di meja makan. Setelahnya Hae Rin menaruh sepiring roti dihadapan Seunghoon.
“Aku akan ke Jepang dua hari besok,”ucap Hae Rin yang duduk dihadapan Seunghoon.
Mata kecil pria itu menyipit.
“Untuk pekerjaan,”jawab Hae Rin seakan tahu maksud tatapan Seunghoon.
“Makanlah dengan benar selama aku pergi,”lanjut Hae Rin.
“Tentu saja, kau mau kuantar?”tawar Seunghoon sambil meminum jus jeruknya.
“Tidak usah,sejak kapan ada kata mengantar di kamus hubungan kau dan aku,”Hae Rin beranjak dari duduknya karena roti panggang miliknya sudah jadi.
Seunghoon menatap Hae Rin yang sekarang memunggunginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hubungan apa yang mereka jalani sekarang? Tidak ada namanya atau namanya terlalu asing didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Aku pergi,”ujar Seunghoon beranjak dari duduknya.
“Eoh,”Hae Rin berbalik dan menatap punggung Seunghoon yang berjalan menjauh.

**

“Seunghoon-ah malam ini kau ada acara?”tanya paman Seunghoon ketika mereka keluar ruangan selesai rapat.
“Tidak ada,ada apa paman?”tanyanya.
“Aku ingin mengajakmu makan malam dan mengenalkanmu dengan seseorang,”jawab paman Seunghoon.
“Oh,siapa?”tanya Seunghoon lagi.
“Tuan Cho, dia ingin mengenalkan putrinya juga Padamu,”jawabnya lagi.
Seunghoon tertawa pelan,”Apa paman sedang berusaha menjodohkanku lagi?”
Paman seunghoon menggeleng,”Tidak hanya mengenalkanmu saja tapi jika kau cocok tidak masalah bukan,”
“Lagipula kau sudah waktunya untuk memiliki seorang kekasih,”ujar paman seunghoon lagi sambil menepuk bahu pria tampan itu.
Seunghoon hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Benar apa kata pamannya. Tidak ada masalah bertemu dengan seorang gadis,dia juga tidak mempunyai pacar hanya seseorang yang entah bisa dia sebut apa. Seseorang yang sudah dikenalnya sejak dia kecil yang kini menjalani hubungan yang rumit dengannya,tidak bisa dibilang rumit juga. Keduanya sama-sama tidak peduli dengan kehidupan pribadi masing-masing,tidak pernah ikut campur. Semuanya jelas untuk hal ini namun semuanya tidak jelas untuk perasaannya.
Seunghoon kembali ke ruangannya. Ditatapnya layar ponsel miliknya tidak ada tanda-tanda pesan dari seseorang. Jari panjang Seunghoon bergerak mencari sebuah nama. Apa gadis itu sudah sampai Jepang?pikirnya. Dia pun memberanikan diri menghubungi nomor yang sebenarnya dia ingat luar kepala.
“Halo,”
“Eoh seunghoon-ah ada apa?”
“Kau sudah sampai?”
“Iya dua jam yang lalu,ada apa?”
“Baguslah,tidak ada,”
“Kau yakin?”
“Hmm paman menyuruhku ikut kencan buta,”
“Ah bagus, lalu?”
“Menurutmu?”
“Apa sekarang kau meminta pendapatku? Aigoo kau lucu sekali seunghoon-ah. Lakukanlah, tidak lucu kan kau masih saja belum punya pacar di usiamu sekarang,pergilah,semoga beruntung, oh ya aku akan sangat sibuk dua hari kedepan jadi sampai ketemu lusa ya,”
Seunghoon meletakkan kembali ponselnya. Dia mendesah pelan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s