이밤

Seorang gadis berambut sebahu dengan tudung hoodie pink yang menutupi sedikit rambutnya berdiri dipinggir jalan. Kedua telinganya terpasang earphone putih,pandangannya lurus ke seberang jalan. Tidak tampak terusik dengan banyaknya orang yang berlalu lalang Dihadapannya karena kebetulan dia berdiri didepan tempat penyebrangan. Sudah 30 menit dia berdiri disini menunggu seseorang yang sudah berjanji akan bertemu dengannya. Malam semakin larut dan orang-orang yang berlalu-lalang sudah semakin sepi namun gadis itu belum juga beranjak dari tempatnya.
Dia mengambil ponsel hitam di saku hoodienya. Menatap layar ponselnya yang tidak ada pemberitahuan apapun. Gadis bermata besar itu mendesah pelan. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodienya.
Tiba-tiba seorang pria langsung menarik tangan gadis ini dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu langsung menoleh dan tampak kaget namun sejurus kemudian mendengus kesal begitu tahu siapa yang sedang menggenggam tangannya. Seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya dengan topi hitam dan masker berwarna senada topinya,jaket ungu tua dan celana jeans hitam. Alis tebalnya tampak paling menonjol dari wajahnya yang setengahnya tertutup masker.
“Mianhae,”ujar pria itu yang merasa bersalah karena dia datang sangat terlambat dari waktu yang dia janjikan. Selain hanya malam hari mereka bisa bertemu terkadang dia juga harus sembunyi-sembunyi dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan gadis yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya memaklumi meski sebenarnya dia kesal. Dia tahu sesibuk apa pria Disampingnya ini. Bahkan rasanya sudah lama sekali sejak mereka terakhir bertemu. Mereka hanya bisa bertukar kabar melalui telepon,SMS atau social media. Posisi pria ini yang terkadang berada diluar negeri juga membuatnya susah untuk menghubunginya.
“Kau sudah makan?”tanya pria bersuara berat itu.
“Sudah,kau?”tanya gadis itu.
Pria itu mengangguk dan menurunkan maskernya.
Gadis itu menaikkan tangannya yang membawa sebuah plastik hitam.
“Aku membeli odeng tadi,mari kita makan bersama,”ujarnya.
Pria tinggi itu mengangguk dan tersenyum senang.
“Jiwon-ah ayo,”ujar pria itu lagi sambil menarik tangan kekasihnya untuk menyebrang jalan.
Mereka berjalan melewati underpass yang sudah sepi. Tidak banyak orang lagi yang berlalu-lalang di jam seperti ini dan itu sangat bagus bagi mereka. Keduanya masih bergandengan tangan menyusuri underpass yang sedikit menurun ini. Ketika mereka kembali ke atas, terlihatlah sebuah taman dan lurus semakin ke depan, jembatan yang membelah sungai Han. Mereka memang berencana bertemu di Banpo malam ini.
Ketika sampai di dekat sungai mereka duduk dipinggirnya.
“Bagaimana harimu?”tanya gadis yang bernama Jiwon ini membuka percakapan.
“Seperti biasa,maaf aku tidak sempat mengabarimu ketika aku akan pergi ke Guam,”ujar pria itu yang kini sudah melepas maskernya.
Jiwon yang duduk menghadapnya hanya tersenyum. Dia menepuk lengan pria itu.
“Gwenchana Mino-ya, aku tahu kau sangat sibuk sekarang ini.”ujar Jiwon.
Dia memandang pria yang begitu dia sayangi ini,yang bisa membuatnya tertawa meski di hari terburuknya. Seseorang yang selalu tersenyum lebar setiap kali bertemu dengannya yang membuat hati Jiwon menghangat. Dia sangat merindukan senyuman itu.
“Aku merindukanmu,”ucap Mino langsung.
Jiwon tersenyum.”Aku juga sangat merindukanmu Mino-ku yang bodoh,”ujarnya sambil menggenggam tangan Mino.
“Mwo? Kenapa kau selalu Memanggilku bodoh? Aku tidak bodoh,”ujar Mino yang selalu tidak terima jika Jiwon mulai menyebutnya bodoh.
“Aku menyukaimu karena kebodohanmu,”lanjut Jiwon memasang wajah polos.
“Apa?”Mino mengernyitkan dahinya dan memasang wajah yang menurut Jiwon campuran antara bodoh dan polos.
Jiwon langsung tertawa terbahak-bahak.”Akhirnya aku melihat wajah bodohmu lagi,”
Mino berdecak sebal,dia menarik tangannya yang dipegang Jiwon dan berbalik badan,berpura-pura marah pada Jiwon. Hal itu malah membuat Jiwon tertawa semakin kencang.
Dia mendekati Mino dan memiringkan kepalanya,memunculkan kepalanya dari balik badan Mino.
“Kau lucu sekali saat marah,”ujar Jiwon sambil menusuk-nusuk pipi Mino dengan jarinya.
“Pipimu semakin tirus,ayo kita makan,”lanjut Jiwon dia kembali ke posisi duduknya lalu mulai membuka bungkusan yang dia bawa tadi.
Mino masih pada posisinya yang tadi. Dia ingin berbalik tapi dia harus membuat Jiwon tahu kalau dia tidak suka dipanggil bodoh, apalagi oleh kekasihnya sendiri.
“Mino-ya kau tidak mau hm?”tanya Jiwon sambil menyodorkan setusuk odeng dihadapan Mino. Pria itu masih memasang wajah kesal.
“Baiklah akan kuhabiskan sendiri lalu aku pulang,”ujar Jiwon hendak memakan odeng tersebut namun tangan Mino langsung menahannya. Dia mengambil odeng itu membuat Jiwon tergelak. Inilah kekasihnya yang bodoh.
“Mino-ya kemarin aku makan siang dengan Dana, aku bertemu dengannya tidak sengaja saat akan istirahat makan siang,”ucap Jiwon.
“Hmm dia tidak cerita apapun,”ujar Mino sambil melahap odeng ditangannya.
“Kau sudah lama tidak pulang ke rumah?”tanya Jiwon.
Mino mengangguk dengan mulut penuh odeng.
“Tapi tadi pagi aku menelepon eomma,”ujarnya setelah menelan odeng dimulutnya.
Jiwon mengeluarkan tissue dari saling bag yang dipakainya lalu membersihkan sudut mulut pria dihadapannya ini. Mino hanya tersenyum.
Keduanya menghabiskan odeng yang dibeli Jiwon dalam waktu singkat. Jiwon sangat tahu kalau kekasihnya ini sangat suka sekali makan,mirip dengannya. Jika mereka berkesempatan bertemu yang mereka lakukan biasanya makan entah di restoran,kedai pinggir jalan ataupun di apartemen Jiwon.
“Ah aku kenyang,”ujar Mino sambil menepuk perutnya.
Jiwon memberikan cola pada Mino yang langsung diambil oleh pria itu.
“Jiwon-ah,”panggil Mino.
Jiwon menoleh pada Mino. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lalu menyalakan lampu senter di ponselnya dan menyorot wajah Jiwon. Banpo dimalam hari memang sangat gelap.
“Ya! Mino-ya apa yang kau lakukan?”tanya Jiwon kesal karena bagaimana kalau ada orang yang melihat walaupun tempat ini sudah sepi tapi tetap saja Jiwon takut ada yang melihat mereka.
“Kita sudah lebih dari 3 bulan tidak bertemu dan aku tidak bisa melihat wajahmu karena gelap dan bagaimana aku bisa menciummu kalau gelap begini,”
“Song Mino bodoh!!”
Jiwon mendorong tubuh Mino, pria itu langsung menahan tangannya agar tidak jatuh.
“Choi Jiwon kau mau membuatku jatuh ke sungai Hah? Aku tidak bisa berenang,”ujar Mino yang tampak takut akan jatuh ke sungai karena Jiwon mendorong tubuhnya.
“Kau ini kenapa bodoh sekali!”Jiwon memukul lengan Mino,dia kesal dengan pria tinggi ini selalu saja melalukan hal-hal yang menurutnya bodoh.

**

“Bagaimana ayahmu?”tanya Mino pada Jiwon.
Mereka masih duduk dipinggir sungai.
“Seperti itu,”jawab Jiwon singkat sambil menolehkan kepalanya pada pria Disampingnya ini.
Jiwon mengeluarkan ponselnya dan melirik angka yang tertera besar disana. 11.45.
“Ayo pulang ini sudah hampir tengah malam,”ujar Jiwon.
“Apa? Kita baru satu jam bertemu,”ucap Mino.
“Itu salahmu yang datang terlambat,”lanjut Jiwon sambil berdiri dari duduknya.
Mino hanya bisa mendesah pelan dan ikut berdiri.
“Aku harus bekerja besok Mino-ya,”ucap Jiwon begitu melihat wajah kekasihnya ini kecewa.
“Aku akan mengantarmu pulang,”ujar Mino sambil berjalan,tangannya menggenggam erat tangan Jiwon.
“Tidak perlu,aku akan naik taksi saja dipinggir jalan tadi,kau akan kembali ke dorm?”tanya Jiwon.
“Sepertinya tidak,aku ada janji dengan Seungyoon di YG,”jawab Mino.
Jiwon menganggukkan kepalanya.”Jangan bekerja terlalu keras,lagu kalian ada dimana-mana sekarang.”
“Hebat kan aku!”seru Mino tersenyum lebar. Senyum favorit Jiwon. Senyum yang bisa membuatnya ikut senang. Jiwon hanya mengangguk mengiyakan.
“Jiwon-ah maaf aku tidak bisa selalu bertemu denganmu, maaf kalau aku terkadang mengabaikanmu, maaf aku tidak bisa selalu mendengar ceritamu,maaf…”
“Tidak Mino-ya,”Jiwon menghentikan langkahnya,dia berdiri menghadap Mino.
“Terima kasih untuk tetap bersamaku,terima kasih untuk menjadi seseorang yang selalu bisa membuatku tersenyum, terima kasih untuk bisa menjadi seseorang yang bisa kusayangi lagi,”
Jiwon menarik tangan Mino untuk berjalan lagi.
“Bagaimana kabar Jhonny?”tanya Jiwon memecah kesunyian mereka yang kembali berjalan melewati underpass.
“Baik kurasa dia merindukanmu,begitu aku menunjukkan fotomu di ponselku dia langsung mengeong,”jawab Mino antusias.
“Kurasa dia bukan merindukanku tapi merindukan suga, karena jika aku datang aku pasti membawa suga,Jhonny itu sainganku untuk mendapat perhatianmu,”
Mino tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Jiwon.
“Perhatianku hanya untukmu,”ujarnya.
“Wow Song Mino belajar dari siapa kata-kata itu? Seungyoon? Seunghoon? Atau Jinwoo oppa?,”ujar Jiwon sambil tertawa.
Ketika sampai dipinggir jalan tempat mereka bertemu Jiwon melepaskan genggaman tangan mereka.
“Pulanglah,”perintah Jiwon.
“Tidak aku harus memastikan kau naik taksi, aku kekasih yang baik,”ujar Mino.
Jiwon tertawa pelan.”Baiklah baiklah,”
“Kau harus bertemu ayahmu Jiwon-ah,”ujar Mino.
Jiwon yang terlihat ceria dan bersemangat sebenarnya memiliki masalah. Sejak kematian ibunya di umurnya yang ketujuh tahun,Jiwon memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya yang dia anggap penyebab kematian ibunya. Begitu lulus kuliah dan bekerja Jiwon memutuskan keluar dari rumahnya dan menyewa apartemen sendiri. Sudah dia tahun pula Jiwon tidak pernah lagi bertemu ayahnya. Mino sudah seringkali membujuk Jiwon untuk berbaikan dengan ayahnya namun sia-sia. Jiwon memang keras kepala.
Jiwon masuk ke dalam taksi. Dia melambaikan tangannya pada Mino sebelum taksi itu berjalan.

**

Song Mino, kurasa semua orang mengenalnya sekarang. Ya dia adalah salah satu anggota Boy group yang cukup terkenal. Winner. Dia juga sering muncul dibeberapa acara TV sekarang. Aku mengenalnya mungkin sudah 4 tahun. Pertemuanku dengannya sungguh lucu jika diingat kembali tapi hal itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Dia yang mampu mengisi kesepianku,dia yang mampu membuatku percaya lagi pada pria. Senyumnya,tingkah bodohnya,cara berpikirnya,cara bicaranya semua hal pada dirinya, aku menyukainya. Dibalik sifat kekanak-Kanakan dan bodohnya sesungguhnya dia sangat dewasa, dia selalu menasihatiku untuk berbaikan dengan ayah meski aku selalu menolaknya. Dia sumber kebahagianku saat ini,mungkin terdengar berlebihan tapi memang benar siapa lagi yang bisa membuatku tertawa terbahak-bahak di tengah malam mendengar ceritanya seharian. Aku hanya punya ayah yang hubungannya tidak baik,aku tidak punya ibu. Teman,ada tapi bukan seseorang yang bisa kuajak bercerita mengenai masalahku dengan ayah. Mino,ya hanya Mino dimana aku bisa bercerita apapun.

 

**

Choi Jiwon, gadis cerewet yang senang sekali menyebutku bodoh. Salah satu dari tiga wanita yang kukagumi, ibu, adikku dan Jiwon. Dia gadis tangguh,dewasa,dan penyayang. Dia begitu sabar menghadapiku. Aku selalu merasa bersalah padanya setiap memintanya bertemu malam hari seperti ini atau aku yang tidak bisa selalu menghubunginya setiap hari. Aku tahu aku egois ketika aku meminta Jiwon menjadi milikku, aku tidak pernah bisa selalu bersamanya tapi aku juga tidak bisa tanpa dia. Lucu memang,disaat kami bertemu karena hal yang aneh dan menjadi dekat dan aku merasa nyaman dengannya. Setiap kali aku bersama Jiwon,aku hanya ingin membuatnya tersenyum,melupakan hal-hal yang membuatnya sedih atau kesal. Senyum Jiwon-lah yang ingin aku lihat setiap kali bertemu dengannya.

**
Mino memandangi taksi yang ditumpangi Jiwon semakin menghilang. Ponsel disaku jaketnya bergetar.

Semangat!! Aku menyukaimu ❤️

Mino tersenyum membaca sederet tulisan pesan singkat itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s