This FF made by Yayang the one who made Yeon Ji character

 

 

“Eoh oppa? Nde. I am on my way. Tak usah, biar aku naik subway saja” ujarku pada seseorang diseberang sana melalui saluran telpon.
Aku memencet tombol lift turun. Baru seminggu lalu aku kembali ke Seoul, belakangan ini aku sering berpergian ke Indonesia. Ya, kakek nenekku dari pihak ibuku adalah orang Indonesia, ditambah lagi sejak 2 tahun lalu aku rutin memproduksi video untuk di upload di youtube, bisa dibilang salah satu pekerjaanku adalah Travel Vlogger. Kadang-kadang aku membantu Choi Yoon Yang – salah satu sepupu kesayanganku – di bisnis butiknya, aku menjadi model katalognya. Beberapa tahun lalu Yoon Yang magang menjadi stylist DBSK, dan itu membuat karirnya dibidang fashion cukup diperhitungkan. Walaupun judulnya adalah ‘membantu sepupuku’ tapi Yoon Yang tetap membayarku secara professional.
Sejak lulus kuliah aku memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen milikku sendiri (atas nama diriku), tidak mewah memang seperti apartemen milik orang tuaku yang sering aku tempati, namun aku bangga bisa membelinya dengan hasil kerja kerasku sendiri. Apartemenku berada di daerah Donggyo-ro, Mapo-gu.
Oh iya, yang menelponku barusan adalah Jong Jin oppa, adik Jong Woon oppa – kalian lebih familiar dengan nama Yesung oppa. Hari ini aku sudah janji pada Yesung oppa kalau aku akan menemuinya di Mouse Rabbit. Seperti biasa, setiap kali kami bertemu Yesung oppa selalu saja merepotkan Jong Jin oppa untuk mengantar ataupun menjemputku di apartemen. Kalau sampai ada paparazzi yang menangkap fotoku, mereka pasti mengira aku ini adalah kekasih Jong Jin oppa, dan tentu saja itu bukan berita yang menarik berhubung Jong Jin oppa bukanlah selebriti.
Malam ini cuaca agak hangat – tidak berangin, aku mengenakan floral dress diatas lutut dengan denim jacket, dilengkapi ankle boot berwarna dark brown dan mini sling bag berwarna senada. Aku sengaja memilih untuk menggerai rambut sebahuku, karena Yesung oppa lebih suka melihatnya begitu.
Butuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari apartemenku ke pintu subway terdekat, dan butuh 15 menit lagi hingga aku sampai di Stasiun subway KonKook University, aku berjalan ke exit 2. Sudah jam 10 malam, aku janji bertemu denganya jam 11. Aku sengaja datang lebih cepat karena ingin melepas rindu dengan eomoni terlebih dahulu.
aku melewati gang sebelum sampai ke Mouse Rabbit, belum lagi dekorasi salon di depan mouse rabbit sukses membuatku terkejut, mereka meletakkan boneka hantu di depan pintu mereka, padahal ini bukan pertama kalinya aku kesini. Kalau di Indonesia, caffe dengan lokasi di dalam gang yang cukup kecil tidak akan didatangi orang, mereka butuh tampat parkir yang luas karena setiap yang datang pasti membawa kendaraan. Salah satu yang aku suka, dan membuatku rindu dengan Korea setiap kali aku berada di Indonesia adalah aku bebas berjalan kaki kemanapun sesukaku karena fasilitas yang memang mendukung.
Pintu Mouse Rabbit masih sama, berwarna merah. Aku tersenyum antusias, entah mengapa jantungku berdegup kencang.
“Yeon Ji-ya” ujar eomeoni antusias dan memelukku. Dia membelai rambutku dengan lembut, “Eomeoni rindu sekali denganmu” wanita separuh baya itu tersenyum tulus.
Aku balas tersenyum, “Aku juga sangaaaaatt merindukan eomeoni” kucium pipi eommoni, dia tertawa. “Bagaimana kabar eomeoni?” aku mengawasi pura-pura menyelidik.
Wanita itu tertawa lagi, eomeoni memang mudah sekali bahagia. “Baik-baik saja, kemana kau saat ulang tahun aboenim?” ujarnya pura-pura kecewa.
Aku memasang tampang bersalah, “Aku sedang ada pekerjaan di Indonesia saat itu, jongmal mianhamnida” ujarku membungkuk. Lebih tepatnya saat itu aku sedang membuat projek video travel vlogging ku di Jawa Timur.
Eomeoni terkekeh, “iya tidak apa-apa” katanya.
Aku mengobrol banyak hal dengan eomeoni, aku memberikan beberapa oleh-oleh berupa barang dan juga makanan pada Eomeoni dan juga Jong Jin oppa. Tepat jam 11 malam, Jong Jin oppa menutup Mouse Rabbit dan saat itu pula laki-laki yang aku cintai selama kurang lebih 7 tahun itu menampakkan batang hidungnya. Dia memakai topi hitam, masker yang menutupi wajahnya, t-shirt hitam dan juga jeans belel. aku tidak bisa menutupi rasa senangku. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? 2 bulan? 3 bulan? Ani, 4 bulan, sejak oppa disibukkan dengan dramanya itu.
“Akhirnya dia datang juga, eomeoni dan Jong Jin beres-beres dulu. Kalian nikmati waktu kalian” ujar eomeoni sambil mengerling padaku dan kubalas dengan senyuman.
Mendadak aku gugup sekali, kenapa rasanya seperti saat baru saja berpacaran dengannya?.
Yesung oppa sudah berada di depanku, “Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu, atau menyambutku” ujarnya.
Aku salah tingkah. “eeeehhh” akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku.
Dia tersenyum singkat, mencium bibirku sekilas lalu masuk ke counter. “mau pesan apa nona?” katanya sambil tersenyum tulus kali ini.
Aku sudah merasa agak rileks sekarang, “apapun yang oppa siapkan dengan cinta” jawabku sambil tertawa lepas. Merasa geli sendiri dengan apa yang aku ucapkan.
Dia mengangguk, tampak berpikir sejenak kemudian mulai bergerak.
“eeehh oppa, kurasa jangan kopi” sahutku kemudian
Dia mengamatiku mencoba menemukan sesuatu, “tidak biasanya?”
“besok aku harus bangun pagi, sudah ada janji dengan Yong Soon. Jadi malam ini, aku tidak ingin bergadang. Sudah jam 11, ingat?”
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Beberapa menit kemudian dia memberikan secangkir ice tea kepadaku dengan gelas bertuliskan Mouse Rabbit dengan logo khasnya. Dia bertanya padaku aku ingin duduk dimana, yang kujawab aku ingin duduk di underground. Tempat itu selalu menjadi spot favoritku setiap kali aku kesini.
Ada yang salah dengan underground favoritku, sudah tidak ada lagi kelopak-kelopak bunga mawar merah yang dilapisi akrilik di lantainya, tidak ada lagi music klasik yang mampu membawaku ke dunia lain, dan lampu yang sekarang sangat ramai, maksudnya jenis lampu yang akan kau temui di klab-klab malam. Otakku berpikir keras hingga aku teringat beberapa waktu lalu Mouse Rabbit memang mengalami reparasi, ini berarti baru pertama kalinya aku kesini setelah perubahan konsep ini. Dan sejujurnya aku jauh lebih menyukai konsep yang lama.
“Siapa ini? Benarkah Choi Yeon Ji?” ujar Yesung oppa ditengah-tengah pertemuan kami.
Aku mengerutkan kening. “Eooh??”
Dia membenahi rambutku dan menyelipkannya diantara telingaku. “Kau ada masalah Choi Yeon Ji?” tanyanya kemudian.
“Ani” jawabku. “Aku hanya merasa tidak familiar” aku tersenyum nyengir.
Yesung oppa mengerti. “ooh, pergantian konsep Mouse Rabbit?”
Aku mengangguk. “Aku suka, hanya saja aku lebih menyukai yang kemarin” gumamku.
“Kalau kau tidak nyaman, kita bisa pindah ke atas” katanya.
Aku menggeleng. “TIdak perlu, disini saja.”
Dia meneguk ice tea miliknya, begitu pula denganku. Rasanya masih sama dengan favoritku. Aah, aku merindukan kopi buatan oppa yang biasa-biasa saja itu. Hehehe tapi tidak bisa malam ini.
“Bagaimana konsernya?” tanyaku
Oppa menghela napas, “Berjalan lancar, kenapa kau tidak hadir?” dia memberungutkan wajahnya, aku tahu dia pura-pura.
Aku terkekeh, “Sudah tidak pantas merajuk seperti itu” aku mencubit pipinya.
Aku bukan Choi Yeon Ji yang dulu lagi. Dulu, aku selalu ingin berada di dekatnya, pergi kemanapun dia pergi, datang diacara apa pun yang ada dia disana, cemburu setiap kali dia terlalu dekat dengan idol lain. Kalau kupikir-pikir sekarang, aku ini siapa? Pacarnya atau saseng fan-nya?. Aku ingat pertengahan 2012 lalu aku putus dengannya karena tiba-tiba ada kabar berhembus kalau dia dekat dengan salah satu member Girlband yang sedang naik daun. Aku memutuskan segala komunikasi dengannya, tidak membalas setiap direct massage yang dia kirimkan melalui twitter (saat itu twitter sangat digandrungi). Aku tidak berpikir panjang tentang perasaanya atas kepergianku yang tiba-tiba ke Indonesia, aku tidak memikirkan bagaimana nasib karirnya kalau dia ketahuan paparazzi memfollow akun twitterku dan mereka akhirnya menemukan identitasku. Aku sangat egois. Sewaktu dia ke Indonesia untuk terakhir kalinya sebelum dia harus wamil, sebenarnya saat itu aku datang ke konser itu, aku sangat merindukannya.
Choi Yoon Yang, Changmin oppa, Yong Soon dan Super Junior oppadeul sangat berperan dalam membaiknya hubunganku dengan Yesung oppa. Pertengahan tahun 2013 Yoon Yang magang sebagai stylist DBSK (karena dia direkomendasikan oleh Changmin oppa, tentu saja karena mereka sepasang kekasih), entah bagaimana ceritanya Donghae oppa tahu kalau Yoon Yang adalah sepupuku dan mengorek-ngorek informasi keberadaanku melalui dia. Sekembalinya aku ke Seoul, Siwon oppa (kami memang dekat karena orang tahu kami adalah teman) datang dan memberitahuku kalau Yesung oppa mengalami sedikit masalah dengan makanan yang diberikan selama wamil, Siwon oppa bilang kalau Yesung oppa merindukan kimbab (asal-asalan) buatanku.
Aku pergi menemui Yesung oppa dengan kimbab yang aku buat sebaik mungkin. “Ini aku bawakan kimbab, kata Siwon oppa, oppa punya masalah dengan makanan” ujarku sambil menjaga nada suara agar terkesan tidak luluh.
Dia mengerutkan keningnya, “Masalah makanan?” dia heran.
Aku tahu, saat itu pula aku sadar kalau Siwon oppa berbohong, aku tidak tahu kapan cairan bening hangat itu mengalir. Aku malu, aku merasa kalah karena menemui Yesung oppa lebih dulu. Aku bangkit dari tampat duduk, bermaksud untuk pulang tapi Yesung oppa menahan tanganku. “Aku senang kau datang, tidak peduli alasannya” ujarnya, pandangannya dalam ke mataku.
Setelah kejadian itu kami sama-sama sadar kalau kami membutuhkan satu sama lain, bukan pertemuan yang intens. Hanya saja perasaan tenang, bahwa kami ada untuk satu sama lain, dia adalah tujuanku begitu pula aku adalah tujuannya. Aku mulai memupuk kepercayaan padanya, dia juga sudah tidak terlalu khawatir setiap kali aku bertemu dengan mantan-mantanku. Hubungan seperti inilah sebenarnya yang kami harapkan. Aku sesekali bertemu dengannya di Mouse Rabbit ketika dia masih dalam masa wajib militer, ketika dia selesai dengan tugas negaranya aku mulai disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bisnisku.
Saat ini dia sedang menyanyikan lagu-lagu yang dia tampilkan di konsernya. Aku menopang dagu sambil memperhatikan setiap gerakan dan ekspresinya. Aku tepuk tangan setiap kali lagunya selesai.
“Jadi, setelah ini kau mau kemana lagi?” tanyanya, atmosfer disekitar kami menjadi serius.
Aku berpikir, pura-pura berpikir. “eeeehhh sepertinya aku mau ke…”
Dia menunggu dengan penasaran, dari ekspresinya aku tahu kalau sebenernya dia mengharapkan aku berada di Seoul lebih lama. “Aku memutuskan untuk di Seoul saja” jawabku sambil tersenyum.
Matanya berbinar, “Jinja?” tanyanya memastikan, aku mengangguk dan dia tersenyum bahagia.
“Apa bedanya aku pergi atau tidak? Toh oppa juga sibuk” aku memain-mainkan sedotan di gelas ice tea yang hampir habis.
Dia memegang tangan kiriku yang menganggur, “Aku tidak masalah kalau harus menemuimu disini setiap tengah malam”
“Tidak mau”
Dia membelalakkan mata, matanya kecil jauh berbeda dengan ketika dia tampil yang dihiasi dengan eyeliner tebal. Aku mewarisi mata ibuku yang berdarah Indonesia, dan dia iri akan hal itu, hahahaha. “Tidak mau?”
Aku tertawa melihat ekspresinya. Entah mengapa sekarang ini posisi kami terbalik, sekarang Yesung oppa lah yang sering bertingkah manja dan ingin selalu bertemu denganku. “Kyuhyun oppa seminggu lagi akan masuk wajib militer. Kupikir Yong Soon pasti akan kesepian, jadi aku ingin punya lebih banyak waktu untuk menjadi teman bercerita dan sesekali pergi jalan-jalan dengannya”
Yesung oppa menopang dagunya dengan kedua tangannya, “Jadi semua ini demi Yong Soon yang akan ditinggalkan wajib militer oleh Kyuhyun?” Dia memasang tampang kecewa tapi aku tahu itu hanya pura-pura.
“Dulu, waktu kita putus dan oppa wajib militer Yong Soon selalu ada untukku walaupun hanya sekedar menemaniku berbelanja padahal aku tahu persis Yong Soon tidak terlalu suka belanja” Jelasku.
Dia tersenyum, sisi dewasanya kembali “Ara, aigoo uri Yeon Ji sudah dewasa sekarang, padahal dulu aku pikir aku pacaran dengan anak SD” dia tertawa sambil mengusap-usap kepalaku.
“Mwo?!!” aku berkacak pinggang. Dia tertawa puas sekali, dia senang sekali menjahiliku seperti itu. Aku tahu dulu aku memang sangat kekanak-kanakkan tapi masa iya disamakan dengan anak SD?. “Berarti oppa pedofilia” balasku.
Dia masih tertawa, aku menghampirinya dan mencubit lengannya, dia membalas dengan menggelitiki hingga aku terpingkal-pingkal dan keluar airmata.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya setelah menghentikan serangan terhadapku sambil memainkan kepalaku yang sedang bersandar dibahunya.
AKu menekankan telujukku di pipinya, “Rahasia” gumamku, dia menyentil keningku lalu menggosok-gosoknya saat aku mengaduh kesakitan.
“Aku akan membuat konten di Seoul, berkolaborasi dengan Joan Kim, mengexplore tempat-tempat wisata di Korea, sesekali membuat video challenge atau skin care rekomendasi, melakukan pemotretan untuk beberapa katalog fashion” jelasku.
Dia mengangguk, “Lega mendengarnya”
“OOhh iya oppa” aku menegakkan dudukku karena ingat sesuatu, seolah-olah ini sangat penting untuk didiskusikan dengannya.
“Mwoya?” dia memasang tampang serius untuk mendengarkan.
Aku tersenyum penuh arti. “Aku ingin operasi boobs”
Dia membelalakkan matanya yang sipit itu. “Mwo!!!” katanya terkejut.
“Operasi” sahutku, aku mengerlingkan mataku menunjuk kearah bagian yang aku maksud.
“TIDAK!!!” katanya tegas, wajahnya sudah memerah sekarang.
Aku mengalungkan tanganku ke lengannya, “Kenapa tidak??? Bukannya oppa suka kalau aku jadi lebih seksi” ujarku manja. Ya ampun ini bukan diriku, sempai segininya aku ingin mengerjainya.
Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. “Kau boleh melakukan hal lain, jalan-jalan dan membuat video travel vlogging keluar negeri, atau apa pun tapi tolong jangan pernah minta izin untuk melakukan operasi apapun itu!!!” Dia memalingkan wajahnya dariku. Becandaku sudah keterlaluan kali ini.
Aku merengkuh wajahnya agar menoleh kepadaku, “Aku hanya bercanda” kataku kemudian sambil tersenyum jahil. “Lagipula aku bisa dipenggal ibuku kalau sampai melakukan operasi”.
Dia memandangku was-was, masih curiga kalau maksudku itu serius. Aku mencium bibirnya sekilas,”Janji tidak akan” kataku meyakinkan.
Dia menghembuskan napas lega dan mengacak-acak rambutku, “dasar kau ini!”
“Aku ingat punya sesuatu untuk oppa” aku merogoh tas mengambil botol kecil berisi pasir berwarna-warni.
Kuberikan benda itu padanya, “Ini untuk oppa”
Dia menerimanya sambil menganalisa bentukku, “Bagus” ujarnya kemudian sambil tersenyum puas yang kubalas dengan senyuman pula.
Detik berikutnya dia memelukku erat, menghirup aroma fragrance strawberry di rambutku. Dari caranya memelukku aku tahu kalau dia sangat merindukanku selama 4 bulan ini. Tubuhku sepenuhnya terbenam dalam rengkuhannya, bisa kurasakan sentuhan kulit wajahnya dipipiku. Bibir hangatnya tenggelam di leherku, dia menghembuskan nafas yang menggelitik di tengkuk leherku. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi dengan setiap pergerakan yang dia lakukan. Perlahan bibirnya bergerak ke rahangku, pipiku, kemudian bibirku, menyentuhkan bibirnya dengan lembut disana. Tubuhku menjadi satu dengan tubuhnya, entah bagaimana caranya dia berhasil membuatku tersudut ke dinding, atau aku saja yang tidak sadar kapan dia melakukannya. Aku membuka mata begitu mendapati tanganku sudah mengalung erat dilehernya. Dia tersenyum, mencium mataku agar mereka menutup kembali. Bibirnya kembali beralih ke bibirku, kali dia sedikit menekannya, mendorong bibirku agar membuka dengan lidahnya, dia menggodaku dengan menggigit lembut bibir bawahku. Aku mengerang, kujambak rambutnya, kupeluk tubuhnya makin erat dengan napas yang mulai menggebu. Dia berhasil membawaku ke dalam permainannya, aku memainkan lidahku disekitar bibirnya yang manis dan seketika itu pula aku tahu kalau tea yang dia minum adalah ice lychee tea.​
“Jadi Ice lychee tea” gumamku di tengah ciuman kami, dia terkekeh tanpa menjauhkan bibirnya dari bibirku. “Dan kau sesegar lemon tea” balasnya, kali ini aku yang terkekeh. Dia merengkuh wajahku dengan kedua tangannya mengecup sisa lemon tea di bibirku. Napasku tersengal-sengal, aku lupa bagaimana caranya bernapas, mendadak seluruh ruangan terasa panas. Dia membuka denim jacket yang kukenakan, menyentukan jarinya di tanganku, bergerak lembut keatas hingga ke tulang selangka, aku miliknya malam ini, besok dan seterusnya. Setiap sentuhannya mengalirkan aliran listrik yang memabukkan untukku.
“Jong Woon-ah, Yeonji-ya… eomma bawakan camilan untuk kalian” suara eomeoni terdengar keras di pangkal tangga, aku mendorong tubuh Yesung oppa menjauh.
Aku menunggu eomeoni masuk, namun yang kudengar suara lain sambil berbisik-bisik, “Eomma, mereka tidak butuh camilan, ayoo ke atas!” ujar suara itu menghentikan agar eomeoni tidak masuk.
Aku mengenali suara bisikan itu sebagai suara Jong Jin oppa, seketika aku membelalakkan mata dan menutup mulut. Besar kemungkinan Jong Jin oppa datang sebelum eomeonim dan melihat kami lalu menahan eomeonim agar tidak masuk. “Oppa, Jong Jin oppa melihat kita” gumamku lemah ke Yesung oppa.
Dia malah tertawa sambil mencubit gemas pipiku. “Maksudmu dia melihat kita melakukan ini?” dia mencium bibirku sekilas yang kubalas cubitan di lengannya. “Aigoo… uri Yeon Ji berantakan sekali” ujarnya kemudian sambil membenahi rambutku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s