Fallen Feather (Prolog)

Pria tinggi dengan mata tajam itu menatap nanar seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat menandakan bahwa dia sama sekali tidak suka dengan percakapan yang berlangsung diantara mereka.

“Maafkan aku Gabriel,”lirih wanita berambut hitam bergelombang dengan wajah yang rupawan.

Gabriel hanya diam. Dia bisa saja menumpahkan amarahnya saat ini juga tapi dia tidak bisa melakukannya di depan wanita ini.

“Aku mencintainya Gabriel dan ak-”

“Kau tahu hukuman yang akan kau dapatkan,Mary,”

Mary mengangguk,”Aku tahu dan Aku tidak peduli meski mereka akan menyeretku dan memusnahkanku, aku tidak peduli.”

“Kau bodoh Mary,”

Mary memberanikan diri menatap bola mata hitam sempurna Gabriel yang diliputi kemarahan dan kesedihan. Wanita itu tersenyum lemah.

“Iya, aku memang bodoh tapi kau tidak akan tahu seberapa bodohnya dirimu saat kau jatuh cinta Gabriel.”

Gabriel berdecak pelan,”Aku sudah merasakannya Mary.”

Mary tampak terkejut mendengar penuturan Gabriel,pria rupawan nan tinggi ini adalah sahabatnya sejak kecil. Tidak satupun hal kecil mengenai pria ini yang luput dari pengetahuannya. Gabriel tidak pernah menceritakan apapun mengenai wanita padanya.

“Dan bodohnya aku, sekarang wanita itu berdiri dihadapanku memohon persetejuanku tentang ide gilanya padahal ancamannya sudah jelas dia akan dimusnahkan. Lakukan sesukamu Mary.”

Gabriel melebarkan sayap putih bersihnya dan meninggalkan Padang rumput nan hijau ini sekejap mata. Mary terpaku ditempatnya mencerna apa yang dimaksud Gabriel.

“Maafkan aku Gabriel,”

**

Seorang pria muda berlari memasuki kawasan gedung kosong yang begitu gelap. Pria yang sepertinya berada di pertengahan 20 itu tampak terengah-engah dengan peluh yang terus membanjiri tubuhnya. Dia terus saja menengokkan kepalanya ke belakang meski yang dilihatnya hanya kegelapan. Tidak ada siapapun yang mengikutinya kalaupun ada orang itu sudah pasti tertinggal sangat jauh. Pria ini tidak lantas memelankan larinya dia malah mempercepatnya. Nafasnya pendek-pendek dan pandangannya mulai kabur akibat terus berlari. Dia berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini namun yang ada dia malah semakin tersesat. Ketakutan membuat dia tidak bisa berpikir jernih. Hingga dia terpojok di ujung gang. Pinggulnya menyentuh dinginnya tembok gudang kosong ini. Matanya awas mengamati apa yang akan datang meski tidak terdengar sedikitpun langkah kaki. Hari baru saja hujan seharusnya langkah kaki yang menyentuh genangan air akan terdengar namun sebaliknya suasana begitu hening.
Apa yang begitu pria ini takutkan? Dia seolah-olah sendiri saat ini. Nafasnya masih memburu sementara tangannya bergerak mencari sesuatu yang bisa melindungi dirinya yang seharusnya dia bawa. Sial, benda itu terjatuh tepat ketika dia memutuskan langsung berlari meninggalkan mobil mewahnya. Matanya menyipit menunggu sesuatu muncul dari balik gelap dan dinginnya malam.
Hingga tiba-tiba seorang pria yang jauh lebih tingga dari pria yang terpojok ini sudah berdiri tepat di hadapannya. Entah datang darimana. Dia langsung ketakutan.
“Ak..aku akan bicara dengannya..akan ak..aku jelaskan semua,”pria itu terbata-bata.
Tatapan tajam dari mata yang sehitam malam itu jelas membuat pria bersetelan mewah itu ketakutan.
“Aku ke sini bukan untuk berbincang denganmu,”suaranya berkesan dingin dan tajam.
Tanpa basa-basi lagi. Pria tinggi dengan setelah hitam dari atas sampai bawah langsung menondongkan senjatanya. Dan suara desingan peluru memecah kesunyian malam itu.

**

“J,ada yang ingin bertemu denganmu.”seorang pria bertumbuh gempal menghampiri seorang pria yang berambut gelap dengan tubuh tegap. Dia tengah menyodok bola untuk memastikan uang yang terkumpul di meja kembali menjadi miliknya. Beberapa pria yang berada disekitarnya memasang wajah harap-harap cemas. Uang mereka akan kembali raib.
Siapa yang tidak tahu mengenai reputasi pria yang dipanggil J. Semua orang di bar ini hanya tau itulah namanya. Dia merupakan raja taruhan disini. Permainan apapun yang dia ikuti yang melibatkan taruhan dia selalu menang. Entah billyard seperti yang sedang mereka mainkan atau poker.
J menaruh sticknya di samping meja billyard dan berbalik. Pria tinggi itu hanya mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan area permainan. Semuanya bernafas lega.
Dia keluar melalui pintu belakang bar seakan tahu orang yang ingin menemuinya ada disana. Orang itu memang selalu ada disana dan memberikan perintah. J melihat pria muda dengan pakaian jas serta kacamata hitam sudah menunggunya.
“Apa kabar?”sapa pria yang beberapa senti lebih pendek dari J.
“Kali ini siapa targetnya?”tanpa basa-basi J langsung bicara ke inti. Pekerjaannya.
Pria itu mengerti sifat J, dia langsung menyodorkan sebuah foto pada J.
“Mudah,”gumam J setelah mengamati foto itu.
“Tapi kau tidak bisa langsung membunuhnya seperti biasa. Bos ingin kau mengontaknya selama dua minggu.”
“Aku tidak dibayar untuk mengintai.”
“Dia akan membayarnya.”
J memasukkan foto itu ke saku hoodienya dan kembali masuk ke dalam bar.

;

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s