FF: Love Fool

*Its not KyuSoon tapi cuma memakai mereka sebagai karakter di cerita ini. just some odd idea come from my mind hehe. Untuk FF series selanjutnya sedang dalam pengerjaan. Gidarilke ^^ dan untuk KyuSoon yang mau jalan-jalan ke Amerika Selatan,mungkin ada yang pengen ngasih ide atau permintaan mereka ngapain aja disana? hehe*

Cinta itu adalah suatu kebodohan, itulah definisiku selama ini. Karena orang yang jatuh cinta akan melakukan hal-hal bodoh yang baru akan mereka sadari kalau apa yang telah mereka lakukan adalah suatu kebodohan setelah beberapa waktu. Saat itu mereka akan menyesal telah jatuh cinta sama sepertiku.

Mereka masih sibuk berbicara dihadapanku tentang hal-hal bodoh yang mereka lakukan dengan kekasih mereka sementar aku asyik menghabiskan makan siangku. Bahkan setelah aku selesai makan siang mereka masih belum berhenti berbicara. Ugh, sungguh menyebalkan. Jika bukan karena kelasku baru ada sore nanti aku tidak akan mau duduk disini mendengar celotehan mereka. Kuperbaiki topi rajutanku untuk menutupi telingaku. Cuaca beberapa minggu ini begitu buruk. Salju selalu turun setiap hari di Seoul. Bahkan sejak kemarin aku sudah mulai bersin.

Asap mengepul ketika aku menghela nafas menandakan betapa dinginnya cuaca hari ini. Mataku bergerak mengamati seluruf coffee shop bernuansa hijau. Aku heran apa hubungannya kopi yang berwarna coklat cenderung ke hitam dengan warna hijau? Bukankah akan lebih senada jika berwarna coklat juga?.

Mataku berhenti pada meja yang hanya beberapa langkah dari pintu keluar tepat di depan konter barista. Sepasang kekasih sedang duduk disana, dilihat dari pakaian mereka sepertinya mereka masih sekolah menengah. Aku berdecak pelan, membolos untuk pacaran, eoh? Aku menggelengkan kepalaku. Mereka terlihat tengah bercengkrama satu sama lain, si pria menggengam tangan si wanita. Lagi-lagi aku tersenyum. Ah, sungguh betapa bodohnya mereka. Setelah usia mereka mulai bertambah maka mereka akan tahu apa yang sudah mereka lakukan selama ini adalah suatu kebodohan.

Cinta selalu membuat orang seperti orang bodoh, benar kan?. Aku mengambil notes ku di dalam tas dan sebuah pensil membukanya tepat setelah halaman kedua. Kugoreskan pensilku disana, aku suka menggambar sesuatu yang berkaitan dengan memoriku. Kutilaskan besar-besar di atas kertas ‘Love Fool

                Kurasa memperhatikan pasangan remaja itu membuatku mengingat kembali masa-masa sekolah menengahku.  Tanganku menggambar beberapa tempat yang memberikan kenangan saat masa-masa itu

 

**

Year 1

Aku tidak tahu apa itu cinta, aku wanita yang polos. Aku hanya tahu kata sayang. Begitu aku masuk sekolah menengah aku baru tahu apa itu cinta dan kebodohan yang akan kau lakukan jika jatuh cinta.

                Aku bisa dibilang adalah murid pindahan di tempat ini, aku menamatkan jenjang sebelumnya di kota lain lalu pindah kesini. Tidak ada yang aku kenal, aku benar-benar sendiri saat itu. Wanita pintar dan pendiam, itulah yang mereka pikirkan tentangku. Aku memang tidak buruk dalam bidang akademik tapi aku pendiam. Apalagi jika harus dihadapkan dengan orang baru.

                Seorang pria mengusikkku, aku adalah wanita yang mudah sekali penasaran terhadap sesuatu dan dia mengusik rasa pensaranku. Pria itu pendiam dan juga pintar tapi kurasa dia lebih pendiam dariku. Kulitnya putih pucat seperti orang yang sedang sakit, sorot matanya tajam dengan onyx kelam. Dia punya senyum yang khas, wajahnya tidak tampan, masih ada yang lebih tampan darinya. Tetapi dia memiliki sesuatu yang bisa membuatnya disukai berbeda denganku.

                Dia begitu diam meski beberapa teman berusaha mendekatinya. Hal itulah yang membuatku penasaran. Entah ada dorongan dari mana aku ingin bisa mengenalnya.

                Aku menulis ‘music’ dan ‘Cho Kyuhyun’ besar-besar di notesku dan melingkarinya memberikannya sedikit aksen gradasi. Ya namanya adalah Cho Kyuhyun dan apa hubungannya dengan musik? Dia menyukai musik yang sama denganku. Dia begitu senang duduk di pojok kelas dengan earphone ditelinganya dan tidur. Aku sempat memperhatikannya beberapa kali.

 

Year 2

                Ketika aku berharap bisa mengenalnya, apa yang aku harapkan terjadi. Di tahun keduaku, aku bisa mengenalnya. Bukan hanya sekedar namanya saja tapi lebih dari itu. Dia tidak sependiam yang aku pikirkan sebelumnya. Dia lebih hidup ketika berbicara denganku. Mungkin karena kami memiliki banyak kesamaan, aku nyaman dekat dengannya tapi aku belum tahu apa maksud dari rasa nyaman yang aku rasakan ketika aku bersamanya.

                Kutulis kata ‘Gutten Nacht’ besar besar di sudut kertas kuberikan efek seperti matahari disana. Aku tersenyum kecil. Sebuah percakapan lewat pesan singkat dengannya bertahun-tahun yang lalu seakan berputar ulang di kepalaku. Dan sebuah ucapan ‘selamat malam’ menjadi penutupnya.

                Kami bisa tertawa dan bercerita apapun lewat pesan singkat tapi tidak saat kami bertemu. Kami hanya diam. Sejujurnya aku ingin bica bicara dengannya jika di kelas atau saat kami satu kelompok tapi dia selalu memasang tampang dinginnya membuatku takut dan urung untuk berbicara dengannya. Sungguh dia lebih hangat ketika berkirim pesan denganku.

                Dia mirip denganku dari mulai cara bicara, pemikiran, prinsip hidup. Semuanya sama, hal itu semakin membuatku senang berbicara dengannya. Bahkan beberapa teman kami sering menyebut kami kembar atau soulmate.

                Kedekatan kami tidak berlangsung lama,perlahan-lahan dia mulai bersikap lebih dingin padaku di kelas dan pesannya tidak pernah lagi menghiasi hariku. Aku tidak mengerti apa yang salah denganku, apakah aku pernah salah berkata atau aku pernah membuatnya marah? Kurasa aku tidak pernah melakukannya. Dan saat dia mulai menjauh aku mengerti apa itu cinta. Aku jatuh cinta padanya.

 

Year 3

                Semakin kaku dan dingin, dia memperlakukanku. Membuat teman-temanku bertanya apakah kami sedang bertengkar. Aku bilang tidak dan jawaban yang sama pun dia katakan ketika teman-teman lelakinya bertanya hal yang sama. Aku ingin bicara dengannya, menanyakannya tapi setiap melihat tatapn tajam dan wajah dingin itu, aku mundur.

                Kubiarkan tahun ketigaku dengan perasaan bingung, aku takut jika aku sudah melakukan kesalahan padanya. Jika memang begitu aku ingin meminta maaf dan memperbaiki hubunganku dengannya lagi. Rasa cintaku padanya semakin besar dan seharusnya aku melupakannya tapi entah apa yang terjadi padaku, aku tetap mencintainya.

 

**

 

“Yong Soon-ah,”aku menutup notesku ketika tangan Hyo Min menyentuh menggerakan lenganku. Dia menatapku cemas, Hyo Min salah satu sahabat dekatku di universitas. “Kau baik-baik saja? Kulihat sejak tadi kau hanya melamun?”tanyanya.

Memangnya apa yang bisa kulakukan lagi? Kalian sibuk membicarakan kekasih kalian. Aku menggeleng cepat.

“Yong Soon-ah, kenapa kau tidak mencari seorang kekasih?”tanya seorang wanita berambut hitam panjang disamping Hyo Min.

Damn, that stupid question!. Aku meringis pelan, memiliki kekasih. Aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya, entahlah aku merasa tidak tertarik. Aku menggeleng pelan.”Aku tidak ingin pacaran, aku ingin langsung menikah.”jawabku asal.

Mwo?! Yong Soon-ah, k-kau akan langsung menikah?”

Jinjjayo?”

“Yong Soon-ah, nugu?”

Semua mata tertuju padaku saat ini. Aisshh, sial, aku tidak bisa mengerem mulutku untuk tidak berbicara asal. Kini mereka pasti berpikir aku akan segera menikah dengan seseorang yang orang tuaku jodohkan.

“Ah, aniya, aku tidak akan segera menikah, maksudku..aku tidak ingin menjalani hubungan pria dan perempuan. Jika ada seorang pria yang serius  denganku maka aku akan memintanya untuk langsung menikahiku.”’

“Wow, jinjja? Itu romantis sekali, langsung mengajak menikah.”ujar salah satu yang berambut pendek. Aku hanya bisa tersenyum, untunglah tidak ada pertanyaan aneh lagi.

Cinta, kekasih, menikah. Tiga hal yang sangat aku hindari untuk bicarakan dengan siapapun termasuk kedua orang tuaku. Menurutku ketika aku membicarakan ketiga kata itu, akan membuatku menjadi bodoh.

Aku terpaksa harus menerobos hujan salju ini untuk sampai ke kelasku. Topi rajutanku sudah basah begitupun dengan coatku untung tidak dengan sepatuku.

“Ya!Choi Yong Soon.”

Aku berbalik ketika mendengar namaku di panggil oleh seorang pria. Dia memakai payung abu-abu yang senada dengan sweater yang tengah dia pakai. Dia sedikit berlari untuk menghampiriku. Begitu sampai dihadapanku dia memayungiku.

“Aku mencarimu ke toko tapi Hyo Min bilang kau ada kelas.”ujar pria tinggi dengan senyum lebar. Tubuhnya seperti tiang listrik, aku sering mengatainya seperti itu ketika kami masih sekolah menengah. Ya aku sudah mengenalnya sejak sekolah menengah.

“Ada apa?”tanyaku cuek.

“Isshh, aku oppamu, eoh?”dia mengusak-usak topi rajutanku membuat beberapa salju turun mengenai wajahku.

“Ya!Shim Changmin!”aku menghentakkan tangannya dari kepalaku. Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya. Aku menatapnya sebal.

Shim Changmin, nama pria tinggi ini. Aku memiliki hubungan ‘adik dan kakak’ sejak kami sekolah menengah. Kami bukan saudara kandung tentu saja. Kami dekat karena, aku nyaman dengannya, dia pendengar yang baik dan dia kakak yang baik. Kakak yang tidak aku miliki. Usiaku hanya berbeda sembilan bulan darinya. Dia lebih tua sembilan bulan dariku. Karena itu aku memanggilnya ‘oppa’.

“Datanglah ke pesta reuni itu.”ujarnya.

Aku mendongakkan kepalaku menatapnya.”Aku ada kelas, permisi.”ujarku lalu berbalik dari hadapannya.

Sudah seminggu ini dia selalu membujukku untuk datang ke acara reuni sekolah menengah kami yang akan diadakan akhir minggu ini. Sejak awal aku sudah bilang tidak, aku tidak tertarik bertemu teman-teman sekolah menengahku. Dengan bertemu pria ini hampir setiap hari cukup membuatku bosan untuk bertemu dengan teman-teman lamaku.

Aku berhenti berjalan ketika dia mengikutiku dan kembali memayungiku. Aku menghadapnya dan berdecak kesal.”Jika aku berkata tidak maka jangan harap aku akan datang meski kau membujukku dengan memohon sekalipun!”

Wae? Kau takut bertemu pria itu, pria yang membuatmu bahkan tidak bisa melirik pria lain selama ini, iya kan?”

Geumanhe, bukan karena dia aku tidak mau jatuh cinta lagi. Aku tetap tidak akan datang.”

Dia selalu mengungkitnya. Changmin tahu ceritaku dengan pria itu. Dia selalu beranggapan aku masih mencintainya. Pikiran bodoh, darimana dia bisa menyimpulkan seperti itu hanya karena aku tidak memiliki seorang kekasih selama ini. Aku mempercepat langkahku agar tidak dikejarnya lagi.

Aku tidak konsentrasi selama kuliah berlangsung. Kata-kata Changmin terus terngiang. Dasar pria bodoh!. Aku memang tidak memiliki kekasih selama ini, setelah aku berpikir aku jatuh cinta pada pria itu tapi bukan karena pria itu. Aku hanya malas untuk memiliki hubungan dengan pria, seperti yang aku katakan tadi, aku tampak bodoh ketika jatuh cinta.

Beberapa pria pernah mendekatiku sebelumnya dan entahlah tidak ada yang membuatku tertarik. Ketika itu teman pria ku di Busan menghubungiku. Kami cukup dekat setelahnya, aku jadi tahu bagaimana kabar teman-temanku di Busan dan cukup mengobatik rasa rinduku. Bagaimanapun juga aku lahir dan besar disana tapi lama kelamaan aku merasa bosan. Namanya Kim Ryeowook, dia pria yang baik, sangat baik malah tapi aku seperti membeku dengan seseorang dan menganggapnya biasa. Aku tidak memiliki rasa apapun padanya, pernah pada suatu malam dia meneleponku dan aku hanya menjawab bahkan tidak bertanya.

“Kau sudah mengantuk?”

Eoh,”

“Baiklah, segeralah tidur.”

“Eoh,”

Dan setelahnya dia tidak pernah menghubungiku lagi. Maaf Ryeowook-ah, aku tidak bisa, aku merasa begitu dingin pada pria-pria yang berusaha dekat denganku kecuali Changmin. mungkin aku memang tidak menganggapnya pria tapi benar-benar seperti kakak.

 

**

 

“Ya!Shim Changmin, neo!!”aku menunjuk pria tinggi yang tengah terkekeh pelan, wajahnya begitu bahagia melihatku turun dari tangga rumahku, diseret ibuku. Dia berhasil membujuk ibuku untuk menyeretku datang ke pesat reuni bodoh itu.

Dia berdiri dari duduknya di sofa rumahku.”Cantik, ternyata kau itu cantik dibalik gayamu yang seperti laki-laki itu.”ujarnya.

Aku berkacak pinggang dihadapannya. Dengan dress yang dia belikan untukku dan sedikit bujukan pada ibuku yang memang dengan mudahnya bisa luluh oleh Changmin, dia bisa membuatku datang ke pesta reuni.

Ibu memang sudah menganggap Changmin seperti putranya sendiri, apalagi Changmin sering menghabiskan isi kulkas rumahku. Ibu menepuk pundakku.”Selamat bersenang-senang. Jaga dia Changmin-ah.”

Ne eomma, ayo dongsaengku sayang.”Changmin mengulurkan tangannya padaku.

Aku memutar bola mataku.”Yoon Yang akan membunuhku kalau dia tahu, kekasihnya malah menjemputku.”kataku.

“Dia sudah tahu dan dia yang menyuruhku untuk menjemputmu.”

“Kalian pasangan menyebalkan!”gerutuku.

Changmin tertawa dan langsung menarik tanganku. Dia berpamitan pada ibuku lalu membawaku keluar rumah, masuk ke mobilnya. Aku terus berdecak kesal sepanjang perjalanan ke tempat reuni itu yang diadakan di sebuah hotel. Berlebihan menurutku, kenapa tidak disekolah saja.

“Kau boleh marah setelah ini padaku tapi aku yakin kau akan menikmati pesta ini.”

“Aku sudah marah padamu mulai sejak tadi aku melihatmu duduk di rumahku dengan wajah menyebalkan. Aku ingin memukulmu sekarang, kau tahu?!”

Changmin kembali tertawa, kini lebih lepas. Aku mengurut pelipisku. Aku menyerah berbicara dengan pria ini juga pasangannya. Ya Changmin sudah berpacaran dengan seorang wanita yang sekelas denganku yang berarti juga temanku. Mereka sudah pacaran sejak sekolah menengah.

Mobil merah Changmin tepat berhenti di depan lobi hotel. Dia membuka pintu mobil untukku lalu mengulurkan tangannya, aku menampiknya namun dia langsung menarik tanganku. Dia menggamit lenganku di lengannya. Aku menatapnya penuh rasa kebencian. Kenapa ada pria semenyebalkan Changmin!

Suasana ruangan pesta ini sudah ramai tentu saja, acara sudah dimulai setengah jam yang lalu. Mataku mengitari seluruh ruangan ini dan sedikit tersentak ketika melihat pria itu tengah berdiri bersama beberapa teman sekelas kami.

“Changmin-ah,”seorang wanita dari jauh memanggil Changmin. Wanita dengan rambut panjang yang malam ini digelung, mengenakan dress berwarna merah selutuh dengan lengan transparan.

Changmin meletakkan tangannya di pundakku. Dia berdiri di belakangku saat ini. Perlahan dia berbisik di telingaku.”Bersikaplah biasa padanya meski kau begitu merindukannya.”

“Ya!”aku berbalik dan hendak memukulnya namun pria itu sudah melesat pergi menuju kekasihnya.

Beberapa orang menatapku karena aku berteriak pada Changmin, aku membungkuk meminta maaf. Sial, Shim Changmin. Aku akan membunuhmu setelah ini.

Aku berjalan sendiri dan merasa canggung, meski beberapa kali ada yang menegurku. Aku merasa asing disini.

“Yong Soon-ah,”wanita berambut ikal sebahu dengan jepitan bunga di rambutnya berdiri tepat di hadapanku. Aku menypitikan mataku, berusaha mengingat siapa wanita ini. Aku adalah tipe orang yang mudah sekali melupakan wajah orang lain.

“Choi Je Ri, kau ingat?”tanyanya.

“Ah, aku ingat. Apa kabarmu?”tanyaku.

“Baik,bagaimana denganmu?”

“Aku baik,”

“Ayo kita ke tempat teman sekelas kita, mereka pasti kaget melihatmu begitu cantik malam ini.”

Je Ri langsung menarik tanganku ke sudut lain ruangan ini. Aku melewati Changmin dan Yoon Yang yang tengah berbicara dengan seseorang yang jelas sudah aku lupa. Aku memasang tatapan memohon untuk menyelamtkanku untuk keharusan bertemu teman sekelasku tapi mereka sama sekali tidak melihat atau pura-pura tidak melihat.

“Hai, ini Yong Soon sudah datang.”Je Ri memperkenalkanku pada teman-teman sekelasku yang setengahnya sudah aku lupa.

“Yong Soon-ah.”

“Wah kau terlihat cantik.”

“Sudah lama sekali tidak melihatmu.”

Beberapa sapaan terus saja terdengar, mereka menyalamiku satu persatu. Aku memperhatikan pria itu yang berdiri di ujung bersama sahabat baiknya Lee Sungmin. Mereka seakan tidak menyadari kehadiranku. Ketika aku terus memperhatikannya, dia berbalik dari hadapan Sungmin. Mata kami bertatapan beberapa saat. Tetap sama, tajam dan dingin. Aku menunduk dan dan ketika aku mendongak kembali dia sudah berjalan pergi. Bersikap biasa padanya? Bagaimana bisa aku bersikap biasa padanya, jika dia tidak bersikap biasa padaku. Aku menggigit bibir bawahku. Sial, aku melakukan hal bodoh lagi karenanya.

Aku segera berpamitan dengan yang lain. Aku mencari Changmin, yang kubuthkan saat ini kembali ke rumah. Sial, mataku panas, aku tidak boleh menangis hanya karena perlakuannya yang begitu dingin padaku.

Kucari Changmin dikerumunan orang ini namun aku tidak menemukannya. Saat aku melihatnya tengah ada di depan pintu keluar, aku mempercepat langkahku untuk menghampirinya. Namun aku yang tidak memperhatikan jalanku langsung berhenti mendadak ketika pria itu hendak melintas di hadapanku. Aku kaget dna berhenti bersamaan dengannya. Aku menunduk, dia berlalu begitu saja. Cukup,aku tidak tahan. Aku ingin pulang.

Kuurungkan niatku untuk berpamitan pada Changmin,aku sudah begitu kesal dan hanya ingin langsung pulang. Benar, ternyata datang ke pesta ini hanya adalah sebuah kesalahan. Lihat bagaimana dia memperlakukanku setelah sekian lama tidak bertemu. Itu yang membuatku begitu membenci jatuh cinta. Karena dia, ya karena dia.

“Yong Soon-ah,”Changmin memanggilku aku tidak peduli dan terus berjalan,

Bodoh, aku sungguh bodoh,mencintai pria seperti itu. Apa yang aku harapkan dari pria itu?! dia lebih menyebalkan dari Changmin.

Aku tidak mempedulikan pertanyaan ibuku ketika sampai di rumah begitu cepat. Aku masuk ke dalam kamar dan langsung mengganti bajuku. Merebahkan tubuhku di tempat tidur dan memejamkan mataku. Berharap malam ini hanyalah mimpi.

 

**

 

Aku menghempaskan lengan Changmin yang menahanku untuk berjalan. Dia selalu menyebalkan bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Aku mempercepat langkahku dan lagi-lagi dia berhasil menahanku. Aku menatapnya garang. Dia sama seperti ayah dan ibu, terlalu ikut campur dengan urusanku.

“Kau bukan oppaku.”kataku.

“Ya memang. Lalu kenapa kau masih memanggilku oppa ketika kau membutuhkanku.”

“Aku tidak butuh bantuan siapapun.”

Sebuah pukulan mendarat di kepalaku.

“Choi Yong Soon, kau sudah 28 tahun, ayah dan ibumu terus bertanya kapan kau akan mulai memikirkan seorang pria, hah! Kau tidak bisa selamanya sendiri, harus ada yang menjagamu.”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Sudah cukup semua sikap angkuhmu selama ini. Kau akan tetap mengikuti acara perjodohan itu.”

Shireo! Kau bukan oppaku. Kau tidak bisa mencampuri kehidupanku.”

“Ya aku memang bukan oppamu dan tidak seharusnya aku mencampuri kehidupanmu tapi kau lah yang membuatku mencampuri kehidupanmu dengan selalu menganggapku kakak, aku sayang padamu Yong Soon-ah.”

“Aku tidak.”

Aku berbalik dan kembali berjalan.

“Ya! Cho Kyuhyun, Kyuhyun yang membuatmu seperti ini kan? Bagaimana bisa kau terus mencintainya bahkan dia tidak pernah melihatmu sedetik pun. Sadarlah Choi Yong Soon, lupakan dia.”

Changmin benar, dia selalu benar. Aku menggigit bibir bawahku. Meski benar tapi aku tidak bisa melakukan seperti apa yang Changmin katakan. Aku sudah berusaha, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya di pesat itu aku berniat untuk melupakannya tapi saat beberapa kali kami dipertemukan secara tidak sengaja, aku selalu berharap dia akan menyapaku dan merubah sikap dinginnya. Tetapi itu hanyalah harapan kosong. Dia masih sama, dingin padaku. Changmin memelukku, aku tidak pernah cerita padanya jika aku masih mencintainya tapi dia tahu, dia mengerti.

 

**

 

Pria itu membuatku kosong, dia membuatku tidak bisa melihat pria lain. Sungguh aneh, aku seakan merasa kosong. Aku sudah membuat kesalahan ketika aku memutuskan untuk mencintainya, aku seakan memberikannya seluruh hatiku dan dia membawanya pergi membuatku tidak bisa memberikan hatiku pada pria lain. Bertahun-tahun aku membiarkannya berharap bahwa hatiku akan kembali tapi ternyata hatiku tidak pernah kembali. Kenapa aku begitu terikat kuat padanya padahal dia bahkan mungkin sudah lupa denganku atau paling tidak, sudah tidak menganggapku ada lagi. Mungkin karena alasan apakah yang menjadikannya begitu dingin membuatku terus memikirkannya. Ya, mungkin karena itu.

Cho Kyuhyun duduk disana dengan earphone ditelinganya sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Figur yang mampu menghipnotisku, mampu membuat hatiku beku dan hanya hangat bila dengannya.  Suatu saat nanti ketika kami bertemu lagi, mungkin dua tahun lagi atau lima tahun lagi. Aku akan melihatnya sudah menikah dan aku berharap hatiku akan kembali sehingga aku bisa melanjutkan hidupku.

Untuk saat ini kurasa biarkan aku menitipkan hatiku padanya meski dia tidak sadar, aku sudah memberikan seluruh hatiku padanya. Aku berbalik dan sebuah lagu lama terdengar dari earphone yang aku gunakan.

How can i move on, when i’m still in love with you.

Advertisements

15 thoughts on “FF: Love Fool

  1. Cinta itu adalah suatu kebodohan. Sesuju!! *pernah merasakan*
    simpel tp dalem banget.
    Hal yg pernah aku rasakan. Huaaa. Gk beda jauhlah sm kisahku. T_T
    ada typo dikit. 3 kata mungkin. Overall. DAEBAK!!

  2. huaa!!!
    authornya ngajak ribut bikin saya nangis dan galau. ini gk adil! gk adil! pokoknya harus ada cerita selanjutnya yang memperjelas ini! harus harus harus#maksa

  3. Ya ampun, knapa Mr.Cho bgitu dingin?? Atau sebener ny, yong soon yg ga sdar kalo c Mr.Cho juga punya perasaan yg sama??
    Dan knapa ini akhir ny ngegangtung??? 😥

  4. Sedih bgt 😦
    Dan endingnya ngegantung, kyu ga jelas kenapa tiba-tiba berubah dingin kaya gitu … Heh …
    Nyesek kalau jadi yong soon. Apa karena kyu suka juga terus malu jadi dia bersikap dingin ? Atau karena yang lain ? Cemburukah sama changmin yg deket sama yong soon karena ade kaka ?
    Lanjutin yaaaaa kalau bisa.
    Berharap sih happy ending, dan ngejelasin kenapa kyu kaya gitu.
    Ini ceritanya mirip-mirip crazy little thing called love, yong soon jadi namnya 😛
    Oke sekiaaaan semoga ada kelanjutannya yaaaaaa
    Semangat author !!!
    Oh iya mau nanya, story of us udah end ? Bener-bener end ??
    Kyusoon couple kapan dilanjutin ?? ㅋㅋㅋ. Semoga tiap hari bisa ngepost ff ya 🙂 ketagihaan terus *smirk

  5. Telat comment`a tapi masi boleh kan? 🙂
    Yah konfliknya sama, ya ampun apa harus Selama itu baru sadar. Jadi ngeri sndri, eon. Tapi kok gak dijelaskan kenapa begitu kyunya eon ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s