FF: Dilema (JiSung Couple)

*written by Choi Yeon Ji*

 

“Yoboseyo”ujarku pada seseorang diseberang sana yang tak lain adalah Yoon Yang sepupuku.

“Yaa!! Kau dimana?? Aku di depan apartemenmu” nadanya sedikit meninggi. Aku bisa menebak dia telah menunggu lama, apalagi sebelumnya aku mendapati puluhan panggilan tak terjawab diponselku.

“Chinca? Kenapa tidakmemberitahu kalau mau berkunjung?”

“Tidak penting. Aku mendengar   sesuatu dan aku harus mengkonfirmasinya sekarang juga” kata Yoon Yang, kali ini nada bicaranya penuh selidik.

Ini merupakan salah satu situasi yang berbahaya. Sejak pulang dari Jepang, kembali ke Korea, bekerja sebagai salah satu staff desainer di SMent, dan memiliki intensitas bertemu yang lebih sering dengan Changmin oppa, Yoon Yang menjadi seseorang yang lebih cerewet.Yang benar saja!

Sekitar dua bulan yang lalu aku kembali ke Korea dari perjalanan panjangku di Indonesia. Kulitku menjadi lebih coklat dari sebelumnya. Kepulanganku pada musim dingin membuat kulitku sensitive. Bagaimana tidak, di Indonesia aku harus menghadapi hari-hari dengan suhu kurang lebih 30oC sedangkan sepulangnya aku, aku harus menghadapi hari-hari dengan suhu bahkan mencapai minus. Perubahan kondisi yang ekstreme untuk tubuhku.

Yoon Yang bersandar di depan pintu apartemenku sambil menyilangkan kedua tangannya. Dia tidak berbicara saataku mengeluarkan kunci dari dalam tasku, dia hanya mengawasiku. Aku masuk terlebih dahulu, Yoon Yang mengikuti di belakangku sambil menutup pintunya. Dia segera menghempaskan tubuhnya diatas sofa merah di ruang tengah. Aku melangkah mendekati kulkas dan menyusun barang belanjaanku disana.

“Kau mau apa?” tawarku pada YoonYang.

“Orange juice saja” jawabnya.

“Aku tidak punya. Aku hanya punya Cola” ujarku, sambil membawa dua buah kaleng cola dan duduk tepat disampingnya.

“Untuk apa kau menawariku kalaukau hanya punya Cola” gumamnya sambil membuka tutup kaleng dan meminum beberapa teguk cola.

Aku tidak haus, jadi aku menaruh kaleng cola-ku di atas meja. Aku memperhatikan Yoon Yang selagi dia minum. Tasyang dibawanya lumayan besar, tidak seperti biasa. Biasanya dia hanya membawatas jinjing kecil yang hanya memuat beberapa barang pribadinya.

“Kau akan menginap?” aku memastikan tebakanku.

Dia memutar bola matanya. “Benar sekali. Kurasa aku tidak akan mendapatkan jawaban dalam beberapa menit. Jadi aku memutuskan untuk menginap saja” jelasnya.

Yang benar saja, dia menginap dirumahku – tidak maksudku apartemenku hanya untuk mendapatkan jawaban. Aku tahu kalau ini pasti pertanyaan yang cukup penting. Apa yang bisa membuat sepupuku ini merasa sangat penasaran selain masalah penyerangan ibunya dirumahku?

“Apa yang mengganggu pikiranmu?”tanyaku santai.

Dia menghela nafas. “Katakan padaku yang sejujurnya! Kenapa kau pindah ke apartemen? Bukannya kau tidak suka sendiri, tidak suka sepi?. Kau belum menjawab pertanyaanku ini dengan serius”

Kali ini aku yang menghela nafas. “Aku hanyaa….” Belum selesai aku bicara, dia sudah memotongnya.

“AKu bosan dengan jawabanmu yang mengatakan ‘aku hanya ingin mandiri’” dia menirukan gayaku saat mengatakannya.Tiba-tiba saja matanya melotot menatapku. “Kau takut ibuku akan memberontak di rumahmu lagi? Atau jangan-jangan dia telah melakukannya lagi?” katanya waswas.

Kelakuan ibunya terhadapku ternyata menimbulkan sebuah traumatis tertentu padanya, dia selalu mengkhawatirkanku. “Bukan. Tentu saja bukan. Aku bukan anak kecil lagi.”Sejujurnya ini pertanyaan yang sulit. Sudah hampir dua bulan aku pindah keapatemen, tetapi dia tetap saja penasaran dengan alasan kepindahanku.

Bagaimana mungkin akumenjelaskan padanya kalau aku menghindari kehidupanku dulu. Mungkin menghindariibunya menjadi salah satu alasan, tapi itu bukan prioritas. Pada minggu pertama kepulanganku, aku menghabiskan waktuku di dalam rumah – dikamarku, karena aku harus beradaptasi terhadap suhu lingkunganku. Hari itu, hari ketiga sejak kepulanganku. Aku melihatnya menatap rumahku, tepat ke kamarku. Bahkan aku merasa kalau dia sedang menatap lekat di mataku. Begitu aku sadar kalau aku berdiri di jendela bagian kaca gelap, aku tahu dia tidak dapat melihatku dan hanya memandang kosong kesana.

Waktu itu, sudah 7 bulan aku tidak melihatnya, hatiku sakit – jantungku berdegup sangat kencang. Aku ingin memeluknya, tapi harapan kosong itu hanya menyisakan isak tangis. Hanya beberapa menit dia memandang kosong ke kamarku. Begitu dia memunggungiku – memunggungi kamarku, aku ingin sekali berteriak padanya ‘JANGAN PERGI!! AKU DISINI!! AKU SUDAH PULANG DAN AKU SANGAT MERINDUKANMU!!!’ tapi nyatanya aku hanya mengatakan itu tak lebih seperti sebuah bisikan yang ditujukan untuk diriku sendiri. Dari situ aku bisa tahu kalau dia sering melakukan hal seperti ini selama 7 bulan terakhir. Hal yang semakin menyiksaku karena aku tahu dia juga sangat merindukanku.

Kejadian itu membuatku memilih untuk tinggal di sebuah apartemen. Agar dia tidak menemukanku, agar yang lain tidak bisa menemukanku walaupun nantinya mereka telah mendengar kabar kepulanganku.

“YEON JI-YA!!!” Yoon Yang berteriak padaku. Entah sejak kapan aku melamun.

“Mwo?” satu kata yang keluar begitu aku tersadar.

“Kau melamun! Kau selalu melamun kalau aku menanyakan hal ini. Itu yang membuatku yakin kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku” katanya terdengar putus asa.

“Tidak seperti itu..”

“Sudahlah, lupakan saja.Harusnya aku mengerti kenapa kau tidak bisa menceritakannya padaku, aku tidakakan mendesakmu lagi”

Aku tersenyum dengan keputusannya yang sangat aku harapkan itu. “Gomawo”

“Beberapa hari yang lalu oppadeul merayakan sesuatu dan mereka mengundangku bersama Changmin. Untuk waktu yang cukup lama ini aku beranggapan kalau mereka hanya menghargaiku sebagai kekasih dari Changmin yang merupakan sahabat Kyuhyun, apalagi aku juga tahu bahwa beberapa dari kekasih mereka adalah sahabatmu. Kau tahu? Itulah yang kupikirkan selama ini setiap kali mereka melibatkanku” Yoon Yang menatapku tepat dimataku.

“Yoon Yang-ah” ujarku, aku bisa mendapati suaraku bergetar.

“Dengarkan aku dulu” kata YoonYang sambil menatapku lembut. “Mereka bilang, mereka sedang merayakan kembalinya hati dan jiwa Yesung oppa meskipun gadis itu belum mau datang.Kurasa gadis itu sangat special dimata mereka, mereka semua menyayanginya.Siwon oppaa… anii.. Wookie oppaa.. ani. Entahlah siapa, aku lupa. Tapi salah satu dari mereka tidak sengaja menyebutkan namamu ‘Choi Yeon Ji’ dengan ceria.Seolah namamu itu adalah sesuatu yang telah hilang dan kembali lagi.” Yoon Yang menatapku lagi, menunggu hingga aku bicara sesuatu.

“Maafkan aku” kataku lirih.

Yoon Yang langsung merangkuhku dengan hangat. “Maaf untuk apa? Karena tidak jujur padaku? Kau memang harus dihukum untuk itu” dia tertawa renyah, membuatku sedikit bisa bernapas lega.

“Sekarang aku mengerti”pikirannya entah kemana. “Sekarang aku mengerti kenapa kau pergi, maksudku kau benar-benar pergi. Kenapa kau pindah ke apartemen, dan kenapa mereka selalu melibatkanku.”

Kali ini aku yang dibuat penasaran dengan apa yang dipikirkan Yoon Yang.

“Sebelum kau pergi, kau danYesung oppa punya hubungan yang special. Kau pergi bukan hanya untuk menghindari ibuku, tapi menghindari kehidupanmu yang menyangkut tentangnya entah masalah apa yang terjadi diantara kalian. Disisi lain mereka tahu kalau aku adalah sepupumu, mereka melibatkanku untuk mendapatkan informasi tentangmu.Aku bodoh sekali baru menyadari yang satu ini sekarang, padahal mereka sering sekali menanyai tentang sepupuku walaupun mereka tidak menyebutkan namamu.Padahal kalau dipikir-pikir aku bukan staff yang menangani mereka, aku ingat saat hari kedua aku magang di SMent. Saat itu kau baru sampai di Indonesia aku menelponmu, setelah itu Donghae oppa menanyaiku ‘Nama sepupumu Choi Yeon Ji?’aku mengangguk, bahkan aku yakin dia belum mengingat namaku saat itu, lalu dia hanya bilang ‘namanya bagus’. Mulai saat itu mereka selalu bertingkah akrab dan selalu melibatkanku.”

“Dari cerita yang selalu aku ceritakan padamu di telpon saat kau masih d Indonesia. Sebenarnya kau tau kalau mereka tahu aku sepupumu. Sampai akhirnya saat kau kembali, kau membeli sebuah apartemen dan memilih pindah dari rumahmu. Agar mereka tidak bisa menemuimusetelah mereka mendapatkan informasi bahwa sepupuku dari Indonesia telah kembali ke Korea. Intinya kau pindah kesini untuk menghindar. Benar kan tebakanku?” Tanya Yoon Yang setelah penjelasan panjang lebarnya.

“……………………………” tidak seharusnya aku melupakan kecerdasan Yoon Yang. Bidikannya sangat tepat sasaran.

“Kau diam, berarti aku benar”ujarnya.

Aku mengangguk. “Kau memangbenar. Waktu itu hubungan kami sudah 2 tahun. Kedatangan ibumu tidak membuatku ingin pergi. Aku berpikir, aku masih memilikinya disampingku. Tapi kesibukannya membuatnya tidak punya waktu untukku, mereka baru saja mengeluarkan album baru.Dia tidak punya waktu untukku saat aku sangat membutuhkannya, selain itu berita kedekatannya dengan gadis lain membuatku benar-benar tidak kuat lagi. Saat itu juga aku memutuskan untuk pergi tanpa kabar. Selama beberapa minggu setiap hari dia mengirim DM melalui twitter-ku, aku tahu dia pasti telah beribu-ribu kali menghubungi ponselku yang tidak aktif. Persis sebulan setelah kepergianku, aku membalasnya ‘Kita putus! Jangan cari aku lagi!’ mudah sekali membuatnya berhenti, dia benar-benar melakukannya. Aku tidak sanggup jika dia harus pergi meninggalkanku.Itu sangat menyakitkan, aku pikir lebih baik aku yang mundur. Dari ceritamu,kau tidak pernah mengatakan kalau dialah yang menanyaiku, tetapi selalu saja oppadeul yang lain. Hal itu membuatku berpikir kalau dia sudah sangat membenciku” Jelasku

Mata Yoon Yang membelalak lebar menyimak ceritaku. “Astaga Yeon Ji-ya!!! Ini benar-benar rumit”

Aku tersenyum miris. “Aku malu menampakkan diriku dihadapan mereka. Itulah kenyataannya”

Yoon Yang memelukku. “Kau tidak bisa seperti ini. Kau memang gadis yang buruk. Selalu saja seperti ini, berapakali kau seperti ini dengan mantan-mantanmu. Tidak. Tapi ini kasusnya berbeda,aku bisa melihat kau masih sangat mencintainya” Kalimatnya terakhirnya bukanlah suatu pernyataan yang dapat aku sangkal.

Benar. Apa yang dikatakan YoonYang benar. Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini. Sebelumnya aku pernah melakukan hal ini pada yang lain. Tapi alasannya berbeda, aku meninggalkan yang lain karena aku memang tidak ingin bersama mereka, karena aku memang sengaja ingin pergi dari kehidupan mereka. Tapi dengannya, hal ini membuatku benar-benar tersiksa. Kurasa aku sudah mendapatkan hukuman dari kelakuanku dimasa lalu terhadap yang lain, Gikwang, Nickhun, dan JongHyun.

“Aku memang jahat” lirihku.

Yoon Yang melepaskan pelukannya.“AKu tidak akan memaafkanmu sebelum kau mendapatkan hukuman” dia menyipitkan matanya yang tidak terlalu besar itu.

Yoon Yang benar. “Kurasa aku memang pantas mendapatkan hukuman”

“Kau harus menemuinya!” ujarYoon Yang tegas.

Aku membelalakkan mataku. Menemuinya?. Itu bukan hal yang mudah.“Ottokhe??” gumamku.

Yoon Yang melihat keraguan dimata dan nada bicaraku. “Aku tidak akan memaafkanmu karena tidak jujur padaku kalau kau tidak melaksanakannya. Anggap saja itu hukuman dariku”

“TIdak bisa” kataku lirih.Membayangkan untuk menemuinya saja membuat tubuhku gemetar tak terkendali.

“Ayolaaahh” bujuk Yoon Yang.

“Tapi sebelumnya aku harusmenemui seseorang” jawabku pada akhirnya setelah beberapa saat menenangkan diri. Aku memang harus menemui seseorang itu, dialah yang bisa membuatku tenang sebelum akhirnya aku harus menemui Yesung oppa – Kim Jong Woon oppa.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Dilema (JiSung Couple)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s