FF: Your White Day (JeWook Couple)

Hari ini mereka pulang setelah mengadakan konser di Indonesia,aku sudah menunggu mereka pagi-pagi seperti ini didorm. Sebenarnya hanya satu orang yang ingin aku temui, sudah dua hari ini dia tidak pernah membalasa pesan singkatku bahkan dia sama sekali tidak mengabariku tentang keadaannya. Aku tahu dia pasti masih marah karena kejadian beberapa hari yang lalu sebelum dia berangkat ke Indonesia dan aku tahu itu semua salahku.

“Ada apa denganmu?”tanya Yong Soon yang duduk disampingku. Dia mengamati wajahku dengan seksama. Aku menggeleng dengan kuat.

“Kenapa sepertinya kau ketakutan?”

“Takut? Tidak.”

“Aneh.”

Dia berhenti bicara dan kembali sibuk membaca novel ditangannya. Kadang menjadi Yong Soon lebih mudah. Kyuhyun oppa sama-sama pencemburu tapi cara mereka cemburu sungguh berbeda. Jika Kyuhyun oppa akan marah-marah pada Yong Soon sementara Ryeowook oppa lebih memilih mendiamkanku dan itu lebih menyakitkan. Ya Ryeowook oppa marah padaku karena sehari sebelum dia berangkat ke Indonesia aku bertemu Junhyung. Ryeowook oppa memintaku bertemu dengannya tapi tepat sebelum aku berangkat menemuinya, Junhyung menghubungiku. Dia memintaku untuk bertemu dengannya. Seharusnya aku memberitahu Ryeowook oppa saat itu tapi aku takut dia marah karena membatalkan acara kami karena jarang sekali kami bisa pergi berdua. Junhyung sahabatku dan aku juga tidak bisa mengabaikannya. Apalagi setelah banyak hal buruk yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.

Suara berisik mulai terdengar diluar pintu dorm, sepertinya mereka sudah datang. Yong Soon berjalan cepat untuk membukakakn pintu. Aku mengikutinya dibelakang. Aku sedikit takut bertemu dengannya, bagaimana kalau dia mengabaikanku?

Oppa, dimana Kyuhyun?”tanya Yong Soon ketika matanya tidak menangkap sosok suaminya tersebut.

“Dia langsung ke apartemen kalian.”jawab Kangin oppa. Gadis itu segera pergi begitu saja dan meninggalkan aku sendiri.

“Hi Je Ri-ya.”Siwon oppa menyapaku dan menepuk kepalaku perlahan. Sungmin oppa juga melakukan hal yang sama ketika melewati tubuhku untuk masuk.

Aku tetap berdiri di depan pintu sampai aku melihat sosoknya. Aku memasang senyum di wajahku. Namun benar dugaanku, dia mengabaikanku. Dia bahkan sama sekali tidak melirikku, padahal aku yakin dia tahu aku ada disini.

“Ada apa denganmu?”tanya Donghae oppa yang masuk paling belakangan.

“Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan makanan untuk oppadeul.”

“Wah benarkah. Kau memang baik Je Ri-ya.”

Aku tersenyum melihat tingkah Donghae oppa yang seperti anak kecil karena dia langsung berjalan cepat ke dalam atau mungkin juga dia sangat kelaparan. Aku masih berdiri di depan pintu dorm. Apa sebaiknya aku ikut ke dalam?

 

**

 

Kutatap layar ponsel hitamku, menunggu balasan pesan dari seseorang yang rasanya hanya sebuah harapan kosong. Dia pasti tidak akan mau membalas pesanku. Aku mendesah pelan, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?. Menemuiku saja dia tidak mau, bagaimana bisa aku menjelaskan padanya. Kutaruh kembali ponsel hitamku di dalam tas dan kuminum teh hangat yang aku pesan. Aku sedang menunggu seseorang, bukan dia. Junhyung kembali memintaku bertemu, aku tahu mungkin aku salah tapi alasan Junhyung adalah sahabatku, lagi-lagi menjadi pembenaran atas apa yang aku lakukan.

“Je Ri-ya.”sapa sosok tinggi dengan mata besar. Dia tersenyum padaku begitu sampai dihadapanku.

“Sudah lama menunggu?”tanyanya.

“Tidak juga, aku baru selesai kuliah.”jawabku. Dia melirik buku-buku yang aku letakkan di meja. Dia pun duduk dihadapanku.

“Maaf memintamu bertemu tiba-tiba seperti ini.”katanya lagi.

“Tidak apa-apa. Bagaimana kabar ibumu?”tanyaku.

“Sudah lebih baik hari ini.”

Ibu Junhyung mengalami serangan jantung seminggu yang lalu yang membuat ibunya harus masuk rumah sakit. Untuk mendapat pengobatan yang lebih baik, dia membawa ibunya ke Seoul. Hal inilah yang membuatku tidak tega mengabaikan Junhyung. Dia seperti tidak lepas dari hal-hal buruk yang menimpanya, setelah adiknya meninggal kini ibunya yang sakit.

“Syukurlah kalau begitu. Maaf aku belum sempat menjenguk.”ucapku.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sangat sibuk.”

Aku mengangguk perlahan.”Ada apa?”tanyaku.

“Je Ri-ya kau adalah sahabat terbaikku, kau selalu bisa memberikanku solusi saat aku sedang ada masalah. Aku ingin meminta pendapatmu.”

“Tentang?”

“Tuan Lee menawarkan aku pekerjaan. Saat ini aku butuh banyak uang untuk pengobatan ibuku apalagi setelah ayah pergi begitu saja. Hanya saja pekerjaan itu tidak ada disini.”

“Lalu dimana?”

“Cina. Apa menurutmu aku harus mengambilnya?”

“Cina? Lalu bagiaman dengan ibumu? Dia sedang sakit dan kau akan meninggalkannya begitu saja.

“Bibiku mau untuk menjaga ibu selama aku bekerja disana.”

“Memangnya berapa lama kau akan disana? Tapi ibumu akan sendirian, apa kau tega?”

“Satu tahun paling cepat. Iya aku tahu tapi aku tidak punya pilihan lain Je Ri-ya, bagaimana menurutmu?”tanyanya.

Aku mendesah pelan. Aku begitu sedih melihat sahabatku seperti ini. Ya ayahnya juag pergi begitu saja meninggalkannya. Aku berharap bisa membantunya tapi aku tidak tahu harus bagaimana.

“Kalau kau yakin ibumu akan baik-baik saja, kau bisa pergi tapi kuharap kau akan terus memantau keadaan ibumu. Aku juga akan berusaha menjaga ibumu.”

“Terima kasih Je Ri-ya, kau sungguh sahabat terbaikku.”

Aku memeluk tubuh Junhyung ketika kami sudah ada di keluar dari cafe. Aku akan sangat merindukan pria baik ini.

“Jaga dirimu baik-baik disana.”pesanku. dia tersenyum dan mengangguk.

“Aku punya sesuatu untukmu. Lusa kau akan ulang tahun dan mungkin aku sudah pergi. Jadi..”dia menggantungkan kalimatnya lalu membuka tas gendongnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia memberikannya padaku.

Keningku berkerut. Dia hanya tersenyum.”Hadiahmu.”ujarnya.

“Kau tidak perlu memebrikannya, aku bukan lagi anak kecil yang butuh hadiah. Kau harus mengumpulkan uang untuk pengobatan ibumu kan.”

“Tidak apa-apa, ini untuk sahabat yang aku sayangi.”

Aku kembali memeluk tubuhnya.”Aku akan sangat merindukanmu.”

“Choi Je Ri!”

Aku tersentak kaget begitu mendengar namaku dipanggil dengan lantang. Kulepaskan pelukanku pada Junhyung dan menoleh ke asal suara. Pria itu ada disana, menatapku dengan ekspresi marah jelas saja. Aku hanya bisa terdiam, apa yang kau lakukan Choi Je Ri? Dia akan semakin marah padaku.

 

**

 

Oppa dengarkan penjelasanku dulu.”pintaku ketika mengejar langkahnya menuju dormnya. Aku terus mengikutinya begitu melihatnya pergi begitu saja setelah melihatku dan Junhyung.

Pria ini tidak menggubrisku dan terus berjalan. Setiap kali aku menahan tanganya dia pasti akan melepaskannya begitu saja.

Oppa.”panggilku namun dia seakan tidak peduli dna terus saja berjalan untuk meninggalkanku dengan cepat. Aku bahkan sampai setengah berlari mengejarnya.

“Kumohon oppa.”pintaku dengan sangat.

Dia berhenti di tengah-tengah tangga. Ryeowook oppa memilih untuk menggunakan tangga untuk sampai ke dorm. Dia kembali turun mendekatiku yang berada beberapa tangga dibawah posisinya tadi. Aku menunduk. Entah apa yang akan dia katakan.

“Kau tahu aku tidak fokus beberapa hari ini karena terus memikirkanmu. Kenapa kau melakukan ini? Kalau kau memang sudah tidak memiliki perasaan padaku, kenapa tidak kau katakan saja. Kita akhiri hubungan ini.”

Oppa, apa yang kau katakan? Kumohon dengarkan dulu penjelasanku. Aku sudah pernah bilang padamu aku hanya menggap Junhyung sahabat dan saat itu oppa bilang oppa mengerti tapi kenapa oppa malah seperti ini sekarang.”

“Kau yang membuatku seperti ini. Kau lebih memilih dia dibanding aku.”

“Aku bukan lebih memilih dia tapi saat ini dia memang lebih membutuhkan aku.”

“Oh begitu baiklah. Temanilah dia dan jangan pernah temui aku lagi.”Dia berbalik dan kembali menaiki tangga.

“Kau sungguh egois oppa. Junhyung sedang dalam kesulitan saat ini, ibunya sakit dan ayahnya pergi begitu saja. Dia memintaku bertemu saat itu karena dia membutuhkanku, apa sebagai sahabatnya tega mengabaikannya. Harusnya oppa bisa memahami hal itu.

Dia kembali mendekatiku.”Pikirkanlah baik-baik akan bagaimana hubungan kita kedepannya.”

Ryeowook oppa memberikan cincin pertunangan kami ke tanganku, aku terkejut. Kutatap dia tidak percaya, kenapa dia sampai harus melakukan hal ini? Apa sebegitu marahnya dia padaku. Dia hanya melirikku sekilas sebelum benar-benar pergi.

Op..pa.”lirihku. kusandarkan tubuhku ke dinding. Sungguh aku tidak percaya dia akan melakukan hal ini. Lalu apa yang bisa kulakukan saat ini. Aku menatap cincin yang serupa dengan milikku. Dia bahkan sampai melepaskan cincin ini.

 

**

 

Saengil chukka hamnida…saengil chukka hamnida..saranghaneun uri Je Ri, saengil chukka hamnida.”lagu ulang tahun membuatku terbangun di tengah malam.

Lampu kamarku sudha dihidupkan dan tiga orang sahabat terbaikku sudah ada disini. Yong Soon membawa sebuah kue coklat di tangannay lengkap dengan lilin. Aku yang masih setengah tersadar hanya bisa tersenyum tipis. Mataku rasanay masih berat, aku baru bisa tidur hampir tengah malam ini karena aku menangis. Hal bodoh yang pernah aku lakukan hanya untuk seorang pria, menangisnya tapi sayangnya aku tidak menyesali perbuatan bodohku. Aku begitu mencintainya dan saat dia mengembalikan apa yang seharusnya kami jaga rasanya begitu menyakitkan dan sanggup membuatku meneteskan air mata.

“Selamat ulang tahun sayang.”Rae Bin onnie mencium sekilas pipiku. Merek sudah duduk diatas tempat tidurku.

“Ucapkan permintaan dan tiup lilinya.”ujar Yong Soon yang mendekatkan kue itu padaku.

Aku memejamkan matakau. Apa yang paling aku inginkan di hari ulang tahunku adalah hubunganku akan kembali baik, aku berharap kejadian buruk ini hanyalah mimpi dan akan segera berlalu dan aku juga berharap Junhyung akan baik-baik serta segera bisa melewati semua kesulitannya. Setelah itu kutiup lilin dihadapaku. Mereke bertepuk tangan senang.

“Je Ri-ya kenapa matamu seperti panda?”tanya Yeon Ji. Aku kaget dan segera mengusap mataku. Selama aku sedang bermasalah dengan Ryeowook oppa, aku memang tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Aku tidak bercerita bahkan pada Rae Bin onnie sekalipun.

“Benarkah? Kau habis menangis?”tanya Yong Soon penasaran.

“Aisshh, sudahlah, dengan alasan apa dia menangis di hari ulang tahunnya. Ayo kita potong kuenya dan makan.”ujar Rae Bin onnie.

“Aku tidak makan, makan kue di tengah malam itu akan menambah berat badan.”sahut Yeon Ji.

“Terserah, kalau begitu jatahmu untukku.”ujar Yong Soon yang membuat Yeon Ji mengerucutkan bibirnya sebal. Aku tertawa kecil karenanya. Mereka memang selalu bisa membuatku tertawa dan sedikit melupakan kesedihanku.

Kami menghabiskan kue itu bersama, hingga akhirnya Yeon Ji dan Yong Soon tertidur di tempat tidurku. Rae Bin onnie kembali ke kamar setelah menaruh piring-piring. Dia duduk dihadapanku.

“Ada apa?”tanyanya begitu saja. Dia menatapku serius.

“Tidak ada apa-apa.”

“Jangan membohongiku. Ada apa? Ceritakan padaku.”ujarnya lagi.

Dia memang terlalu peka dengan segala hal-hal yang berbeda disekitarnya. Aku mengambil sesuatu dari laci disamping tempat tidurku. Cincin pertunanganku dengan Ryeowook oppa yang tadi dia kembalikan padaku. Aku menunjukkannya pada Rae onnie.

“Ryeowook oppa mengembalikannya padaku.”

“Apa?bagaimana bisa? Kalian bertengkar?”tanyanya berturut-turut. Matanya membulat tidak percaya. Aku hanya mengangguk perlahan.

“Sampai seperti ini? Karena apa?”

“Junhyung.”

Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Rae onnie dari awal dan lagi-lagi aku kembali menangis. Oh sungguh rasanya jika seperti ini, lebih baik memang hubungan kami berakhir saja.

 

**

 

Ini hari ulang tahunku seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku namun tahun ini berbeda. Meski banyak ucapan selamat yang masuk ke ponselku tidak membuat perasaanku lebih baik hari ini. Kutatap kembali cincin itu yang aku letakkan dihadapanku,kumainkan cincin itu dan hanya bisa mendesah pelan. Rae Bin onnie menyarankan untukku berbicara baik-baik dulu dengannya tapi apa bisa jika situasinya sedang panas seperti ini? Dia sepertinya sangat marah padaku dan mungkin membenciku.

Ponselku bergetar disamping cincin itu. Aku membuka pesan singkat dari seseorang.

                Dia ada di dorm. Ada apa?

Tidak kubalas lagi pesan dari Siwon oppa. Aku tidak ingin oppadeul tahu meski mungkin sudah ada beberapa yang tahu jika dia mengatakan pada yang lain. Aku menimbang-nimbang apa sebaiknya aku pergi ke dorm dan menemuinya. Bagaiamana kalau dia tidak mau membukakan pintu.

Ponselku kembali bergetar, sebuah pesan kembali masuk.

Ya hari ini ada jadwal Sukira. Kenapa?

Balasan dari Sungmin oppa membuatku kembali berpikir, apa sebaiknya aku menunggunya selesai siaran Sukira lalu bicara dengannya? Tapi kalau dia juga tidak mau menemuiku bagaimana?. Aku mendesah pelan dan menaruh kepalaku diatas meja. Apa yang harus aku lakukan kalau begini?

Ponselku berbunyi, sebuah telepon masuk. Siwon oppa. Seharusnya aku tidak bertanya padanya. Dia pasti butuh jawaban kenapa aku malah bertanya padanya tentang keberadaan pria itu. Aku mengangkatnya dengan malas.

“Ada sesuatu yang terjadi padamu?”

“Tidak ada oppa, aku baik-baik saja.”

“Ah, selamat ulang tahun sayang.”

“Terim kasih oppa, aku pikir kau lupa.”

“Mana mungkin aku lupa ulang tahun dongsaeng kesayanganku. Bagaimana kalau kau ke dorm dan merayakan bersama kami.”

                “Kurasa tidak, aku sibuk.”

Kau akan pergi dengan Ryeowook?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

“Tidak apa-apa oppa.”

                “Baiklah, bagaimana dengan makan siang bersamaku. Yang ini tidak boleh di tolak. Aku tunggu ditempat biasa, ne?”

“Ya, aku akan datang.”

 

**

 

Aku duduk menunggu di depan gedung KBS, bertemu dengannya di tempat ini rasanya lebih baik dibanding harus di dorm. Meski dengan resiko yang sama, kemungkinan dia tidak mau bertemu denganku. Aku datang sangat awal ini baru jam sebelas malam dan itu artinya aku harus menunggu satu jam.

Aku terus memikirkan apa yang akan aku katakan padanya. Tidak ada keinginan untukku mengakhiri hubungan kami, aku mencintainya tapi apakah akan baik jika hubungan kami diteruskan sementara terlalu banyk hal-hal kecil yang membuat kami bertengkar. Dulu dia sudah berjanji akan mengerti kondisiku dan Junhyung tapi sepertinya dia lupa akan hal itu atau sebenarnya dia belum bsia menerima hubunganku dengan Junhyung. Kumainkan kedua kakiku, sesekali menatap pintu masuk gedung ini yang seperti biasanya cukup ramai dengan para ELF.

“Kau juga ELF?”tanya seseorang membuatku langsung menoleh, seorang gadis berdiri dihadapanku, dilihat dari wajahnya sepertinya lebih muda dariku.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Kau menunggu siapa?”tanyanya.

“Ryeowook oppa.”

“Oh, aku Sungmin oppa. Ah, Ryeowook oppa sangat ramah pada kami, dia sering menyapa kami.”

Aku hanya menanggipnya dengan senyuma ketika dia bercerita tentang Ryeowook oppa. Betapa dia selalu tersenyum dan melambaikan tangannya pada mereka. Senyum, sudah lama rasanay tidak melihatnya tersenyum padaku. Aku merindukan senyumnya. Choi Je Ri, kau benar-benar tidak bisa melepasnya kalau begini ceritanya.

Gadis itu kembali ke teman-temannya setelah itu, aku tetap ditempatku. Kukeluarkan ponsel hitamku menatap layarnya. Kubuka pesan terakhir dari dia, hampir seminggu yang lalu. Dia mengucapkan selamat malam. Aku tersenyum miris, sudah seminggu kami tidak bicara. Pantasa saja aku merindukannya. Tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk makan tepat waktu, tidak ada lagi yang mengucapkan selamat tidur dan tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun yang begitu panjang untuk tahun ini. Mataku terasa panas saat ini. Kuusap mataku, aku tidak boleh menangis disini.

Pesan dari Sungmin oppa membuatku berjalan ke belakang gedung. Dia bilang akan keluar dari sana karena di depan cukup ramai. Aku yang memang pernah ke tempat ini beberapa kali tidak menemui kesulitan untuk mencapai belakang gedung. Aku berdiri di dekat pohon menunggu mereka keluar. Tidak lama kulihat dua pria itu keluar.

Ryeowook oppa berhenti berjalan ketika melihatku, Sungmin oppa berjalan dibelakangnya. Dia juga ikut berhenti. Ryeowook oppai menatapku dengan ekspresi datar dan itu membuatku sedikit takut.

“Dia sudah menunggumu sejak tadi. Aku akan bilang kau pulang belakangan.”Sungmin oppa berjalan melewati tubuh Ryeowook oppa yang masih terpaku ditempatnya. Dia juga melewatiku dan menepuk kepalaku perlahan, aku tersenyum padanya.

Tiba-tiba Ryeowook oppa berjalan melewatiku.

Oppa tunggu, aku ingin bicara denganmu.”kataku.

Dia berhenti dan berbalik.”Kau sudah memikirkannya?”tanyanya, belum sempat aku menjawab dia sudah menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya.

 

**

 

Kami terdiam satu sama lain menatap danau buatan dihadapan kami. Dia membawaku ke tempat ini tapi hampir setengah jam dia tidak juga berbicara, begitupun aku. Aku takut kalau pada akhirnya perpisahanlah yang terucap dari bibir kami masing-masing. Aku juga tidak berani menoleh padanya yang duduk disampingku.

Aku merinding ketika angin dingin menyentuh kulitku. Aku lupa memakai jaket yang lebih tebal malam ini. ‘

“Jadi, bagaimana?”suaranya mengangetkanku apalagi setelah sekian lama tidak bicara. Dengan cepat aku menoleh padanya.

“Apa yang oppa inginkan? Aku akan mengikuti apa yang oppa inginkan.”

“Termasuk jika aku berkata lebih baik kita berpisah.”

“Ya.”

“Kau tidak mencintaiku lagi?”

“Aku selalu mencintai oppa tapi bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang bahkan tidak percaya padaku.”

Aku mengamati ekspresi pria disampingku ini. Mata teduhnya menatapku dengan intens, aku rindu dia menatapku seperti ini. Wajah tirusnya tidak memberikan ekspresi apa-apa. Biasanya dia akan tersenyum ketika menatap wajahku tapi kini. Aku melihat dirinya yang berbeda.

Dia menghela nafas perlahan.”Baiklah, mungkin sebaiknya kita memang berpisah.”

Aku mengangguk perlahan dengan berat tentu saja. Sudah berakhir Choi Je Ri. Aku memang tidak punya alasan yang kuat dengan semua argumentasiku mengenai Junhyung. Dia tidak akan bisa memahaminya. Meski ribuan kali aku katakan kalau aku hanya menganggap Junhyung sahabat dia tidak akan pernah mengerti, apalagi jika melihat bagaimana kami berhubungan.

Kulepas cincin pertunangan kami dari jari manisku, kukeluarkan juga cincin miliknya. Meski dia sudah mengembalikan cincin itu tapi aku tetap memakainya hingga saat ini. Aku berdiri dari dudukku, kugenggam erat kedua cincin itu sebelum aku bersiap untuk melemparnya ke danau.

“Ya!apa yang aku lakukan!”Ryeowook oppa menahan tubuhku yang hendak melempar cincin itu hingga membuat keseimbanganku goyah.

Oppa!”teriakku ketika tubuh kami terjatuh dna berguling turun ke bawah.

Oppa.”panggilku dan menyingkir dari atas tubuhnya. Dia meringis kesakitan, bagaimana ini?.

Oppa, gwenchana?”tanyaku. Dia masih meringis pelan. Kubantu dia untuk mendudukan tubuhnya. Kulihat tangannya berdarang tepat disikunya. Bagaimana ini? Aku menyakitinya.

Mianhe oppa

“Iya tidak apa-apa, kau tidak apa-apa?”tanyanya.

Aku mengangguk.Dia kembali meringis pelan ketika lukanya tersentuh. Kurasakan tanganku kosong, cincinnya hilang! Oh, apalagi sekarang.

“Cincinnya hilang.”lirihku. Aku panik dan segera kucari cincin itu disekitar tempat kami jatuh. Kususuri dengan tanganku rerumputan ini untuk mencari cincin itu.

Tidak kusadari Ryeowook oppa juga ikut mencari.

 

**

 

Sudah sampai dini hari dan cincin itu belum juga ditemukan. Aku sudah berhenti mencari dan terduduk di tanah,bajuku sudah kotor bukan hanya karena jatuh tapi juga karena kegiatan mencariku tadi. Dia juga masih mencari.

“Sudahlah tidak usah dicari lagi.”ujarnya. Dia menatapku, aku menunduk kemudian.

“Aku akan menggantinya dengan cincin yang baru, cincin pernikahan kita.”

“Apa?”aku terkejut mendengar kata-katanya. Dia tersenyum, senyum yang aku rindukan.

Aigoo ternyata mengerjaimu itu cukup melelahkan, eoh. Bahkan aku sampai harus terjatuh.”

“Maksud oppa?”aku semakin tidak mengerti dengan perkatannya.

Dia mendekatiku dan duduk di tanah tepat dihadapanku. “Selamat ulang tahun Je Ri sayang.”ujarnya kemudian bibirnya menyentuh keningku. Aku hanya bisa terdiam berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Bukankah tadi dia bilang hubungan kami sudah berakhir.

“Ok, maaf mungkin ini sudah terlambat, sekarang sudah lewat hari ulang tahunmu.”

Aku sungguh tidak mengerti apa yang dikatakannya. Kemudian dia memelukku.

“Apa kepalamu terbentur? Kenapa kau diam saja, hm. Aku hanya mengerjaimu sayang. Aku memang marah padamu tapi setelah aku kembali dari Indonesia, aku menyesal telah mendiamkanmu dan aku baru ingat sebentar lagi kau ulang tahun. Jadi, aku ingin sedikit mengerjaimu tapi rasanya butuh waktu lama untuk membuatmu mau menemuiku dna ketika kau menemuiki kau malah meminta putus, bagaimana ini?”

Jadi dia hanya mengerjaiku, selama ini? Oh, dia sungguh menyebalkan. Aku mendorong tubuhnya. Dia sudah membuatku menangis malam itu, tidak merasakan bahagianya di hari ulang tahun hanya karena memikirkan dia yang ternyata hanya mengerjaiku.

Oppa, kau menyebalkan,”seruku kemudian berdiri dari dudukku dan berjalan meninggalkannya. Sungguh dia terlalu. Mataku memanas dan tanpa sadar aku menangis, menangis karena kesal. Ryeowook oppa sungguh menyebalkan.

“Je Ri-ya, kau marah.”kudengar dia memanggilku. Aku tidak peduli. Ah sungguh aku kesal padanya.

“Je Ri-ya,”dia menarik tanganku hingga berbalik kehadapannya dan dalam hitungan sepersekian detik bibirnya menyentuh bibirku. Mataku membulat sempurna.

“Selamat ulang tahun. Aku mencintaimu.”

Advertisements

3 thoughts on “FF: Your White Day (JeWook Couple)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s