FF: Milagro del Amor Part 19

19th Chapter

Tidak ada suara yang terdengar saat ini selain hembusan angin, tubuh sewarna porselen itu terpaku ditempatnya seperti patung sementara beberapa anjing besar menatap awas seakan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah perkataan Casey yang penuh amarah itu, Jeremy maju ke depan dengan tubuh manusianya. Dia sudah tahu akan seperti ini jadinya, ia memang bersalah telah membuat Aletha ada dalam situasi seperti ini dan sudah sepantasnya memang dialah yang harus menggantikannya. Ingat, Jeremy akan melakukan apa saja agar Aletha selamat, termasuk dengan menggantikan dirinya untuk Aletha. Casey menyeringai melihat keberanian pria setengah serigala ini yang sepertinya sudah siap untuk menghadapi kematiannya.

“Kau harus memikirkan baik-baik setiap langkah yang akan kau ambil, Casey.”suara seorang gadis memecah kesunyian. Gadis berkulit persolen dan bermata merah ini berjalan dengan mantap dari samping seorang pria berambut kecoklatan, yang kini tengah membulatkan matanya sempurna. Siratan kekhawatiran jelas tergambar pada wajah rupawannya. Dia tidak mengerti apa jalan pikiran gadis yang sangat dia cintai ini. Dia takut gadis yang tidak lain adalah Anita akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya sendiri.

Ya, Anita, dengan mantapnya berjalan ke depan dan berdiri tepat disamping Jeremy. Rambutnya bergerak-gerak tertiup angin, sementara mata merah terangnya terlihat santai menatap Casey. “Membunuh Jeremy sama saja dengan menyulut perang dengan kawanan mereka. Aku bukan meragukan kemampuanmu juga pengikutmu tapi kawanan mereka bahkan ada lebih dari dua kali lipat pengikutmu. Apa kau sanggup menghadapi mereka dan kehilangan pengikut-pengikut yang kau sayangi.”

Anita terlihat begitu santai, tidak ada rasa ketakutan di wajahnya. Dennis yang berada di pinggir lapangan batu alam dengan sebuah jam besar ditengahnya menatap putrinya seksama, berusaha mencari tahu apa yang ingin dilakukan Anita. Serigala-serigala itu menggeram pelan membuat perhatian Casey teralih. Sebuah seringaian muncul diwajahnya. Dia kembali menatap Anita.

“Kau sungguh pintar gadis manis,”ujar Casey dan berjalan menghampiri Anita. Marcus ditempatnya bergerak ingin maju, bagaimanapun juga dia harus melindungi Anita. Namun Alishia menahannya lebih dahulu begitupun dengan Spencer.

Kedua mata merah itu saling menatap, sampai Casey menepukkan kedua tangannya. “Baiklah, jadi siapa yang akan mengajukan diri lagi untuk menggantikan Aletha, hm?”mata merahnya memperhatikan satu persatu tamunya yang datang dengan senyuman yang mengerikan.

Tidak ada suara yang terdengar, Jeremy pun masih ditempatnya disamping Anita. Dia melirik gadis ini, entah apa yang Anita rencanakan dengan mengatakan hal tadi. Bukankah jika seperti ini maka Aletha-lah yang benar-benar akan dibunuh. Alishia berusaha berbicara lewat pikiran namun Anita menutup pikirannya sehingga Alishia hanya bisa memberikan tatapan cemas pada Dennis, U-Know, Vincent dan Max sehingga membuat keempatnya menjadi tegang. Mereka juga tidak mengerti apa yang sedang Anita rencanakan saat ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain menunggu langkah apa yang akan Anita ambil selanjutnya.

“Tidak ada juga.”ucap Casey dengan nada yang mulai meninggi, mata merahnya dibuat seolah sedang terkejut. Dia berjalan menghampiri Aletha yang tengah dalam penjagaan Jordan. “Lihat manis, saudarimu ingin kau mati. Mereka tidak berniat datang untuk menolongmu.”

Max bergerak ditempatnya, namun U-Know mencegahnya. Dia menyuruh Max agar tetap tenang dan melihat situasinya. Dia tahu Anita sedang merencanakan sesuatu.

“Peraturan sudah jelas menerangkan, bahwa seorang vampir tidak boleh berhubungan dengan manusia maupun werewolf, ini karena tidak boleh ada yang mengetahui eksistensi mereka dan agar keberadaan kita masih terjaga. Aku, Cheryl, Aletha dan Alishia telah melanggar peraturan itu, mungkin sekarang terkecuali untuk Alishia. Spencer sudah menjadi golongan kita. Kami bertiga telah melanggar peraturan yang telah dibuat berabad-abad yang lalu, kami bertiga bukan hanya Aletha. Lalu kenapa kau hanya menangkap Aletha?”terang Anita panjang lebar,matanya kini juga menatap Jordan dan Joshua yang menunjukkan wajah terkejutnya. Pernyataan Anita sungguh diluar dugaan mereka.

“Kalian adalah penegak hukum, seharusnya hal remeh seperti ini sudah kalian pikirkan sebelumnya. Sungguh janggal rasanya jika hanya Aletha yang ditangkap. Tujuan kalian memberikan hukuman agar akar dari kesalahan yang dibuat hilang, tidak akan ada lagi yang mengulanginya. Namun, dengan menangkap Aletha, apa kalian pikir aku akan berhenti berhubungan dengan Marcus atau Cheryl akan meninggalkan Nathan. Ku rasa tidak, karena kami menganggap penebusan kesalahan sudah selesai dengan kalian menangkap Aletha. Itukah hukuman menurut kalian, kurasa Vladimir dan Rasputin lebih bisa menunjukkan mana hukuman yang sebenarnya.”

“Jaga bicaramu!”seru Joshua menginterupsi celotehan panjang Anita yang hingga kini tetap menunjukkan wajah santai tanpa ada ketakutan sedikitpun. Joshua menatap tajam Anita, tangannya terkepal kuat.

Wajah-wajah serupa porselen juga tampak terkesiap sementara yang lain tampak bingung mengapa wajah orang-orang yang dikenalnya ini berubah menjadi semakin tegang. Max dan Vincent terlihat menatap U-Know bersamaan sementara pemimpin mereka itu hanya bisa bergumam pelan. Anita sungguh vampir yang berani, mengangkat masalah Vladimir dan Rasputin dihadapan Casey adalah hal yang tabu. Sementara itu Alishia menatap Dennis dengan tatapan memohon, dia sungguh semakin takut dengan kelanjutan suasana yang seperti ini. Dia ingin Dennis menghentikan apapun yang direncanakan Anita karena dia tidak bisa menembus pikiran gadis itu saat ini. Anita menutup rapat-rapat pikirannya.

“Kau hanya membuang-buang sisa kekuatanmu dengan menyerangku. Aku tidak akan bisa merasakan apapun. Apa yang aku katakan sebuah kebenaran bukan, Casey?”tanya Anita yang kembali berbicara pada Casey yang wajahnya kini tidak bisa dijabarkan bagaimana rupanya.

“Vladimir dan Rasputin telah berkuasa hampir seabad lamanya sebelum kalian menggulingkannya karena suatu masalah yang sama pelanggaran peraturan,bayi immortal. Vampir begitu menyukai bayi immortal meski mereka tahu bahwa makhluk yang mereka ciptakan tidak dapat dikendalikan. Setelah terjadi peningkatan bayi-bayi bertaring itu membuat manusia mulai menyadari keberadaan kita sehingga Vladimir harus bertindak, membunuh semua bayi-bayi itu beserta penciptanya. Namun berita sudah menyebar, manusia mulai memburu vampir dan membunuh mereka. Kau menjadikan kesempatan ini untuk menggulingkan Vladimir dari posisinya dengan mengatakan bahwa Vladimir tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Kau berhasil, kini kau yang dihadapkan pada masalah yang sama, membunuh Aletha dan menyisakkan kami akan membuat Vladimir memiliki kesempatan mengambil posisinya kembali. Jangan kau pikir, dua vampir itu tidak ingin kembali mendapatkan posisinya. Ketika dia tahu kami masih melakukan pelanggaran kalian akan dianggap sama seperti saat itu. Kau telah lalai menjalankan tugasmu.”seringaian tercetak jelas di wajah manis Anita membuat Casey hanya bisa terdiam. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Anita mampu berpikir sejauh ini. Dia memang tidak boleh meremehkan vampir yang satu ini.

Joshua melesat cepat kehadapan Anita kemudian mencekik lehernya namun tidak butuh waktu lama, Vincent sudah lebih dahulu melepaskan tangan itu. Bahkan sebelum Marcus meronta dari pegangan Spencer dan Alishia.

“Tidak ada yang menyuruhmu menyerang, Joshua.”ucap Vincent cepat, Joshua kembali ke tempatnya, tatapan tajamnya masih terarah pada Anita. Gadis itu tersenyum sekilas pada Vincent sementara ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya.

“Jika kau berpikiran untuk menjadikan Dennis pengganti, merupakan kesalahan yang lebih besar. Rasputin sangat dekat dengan Dennis bahkan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Bisa kau bayangkan jika kau membunuh Dennis yang notabene tidak bersalah. Kau harus lebih bijak dan hati-hati dalam mengambil keputusan, Casey atau posisimu yang akan menjadi taruhannya.”

Casey bertepuk tangan dan tersenyum yang lebih disebut seringaian. Tawa pelan juga dia perdengarkan. “Kau memang sungguh sangat pintar Anita. Luar biasa, putri-putri Dennis selain cantik juga pintar ternyata. Alishia, Cheryl, Aletha dan Anita. Kau sungguh beruntung Dennis mendapatkan putri-putri seperti mereka.”tawa Casey kembali menggema.

Dengan perlahan dia berjalan mendekati Anita. Dia kembali tersenyum, mata merah terangnya semakin membuat wajahnya terlihat jahat. “Jadi, ayo segera selesaikan semua ini. Kalian meminta bertiga, maka aku akan mengabulkannya.”

“Cheryl!”suara Nathan terdengar ketika Cheryl yang sejak tadi berada disampingnya untuk melindunginya sudah menghilang. Tubuh mungil itu ditarik oleh salah satu pengikut Casey dan dibawanya berdiri tepat disamping Aletha.

“Kau akan menyerahkan diri secara sukarela bukan?”ujar Casey dihadapan Anita. Gadis itu tersenyum dan kemudian Casey mempersilahkan Anita untuk berjalan bagaikan seorang pangeran yang menyuruh putrinya untuk berjalan lebih dahulu.

Apa yang dilakukan Anita, sontak membuat semuanya langsung bergerak dari tempatnya dan begitu pula pengikut Casey. Marcus berdiri melindungi Nathan dengan belati ditangannya, Vincent juga ada dihadapan Marcus. Sementara Jeremy bersama kawanannya sudah saling berhadapan dengan vampir-vampir pengikut Casey. Sepertinya pertempuran akan terjadi sebentar lagi, Casey terlihat senang begitupun dengan Joshua. Senyuman jahat tercetak jelas di wajah pucat mereka. Sejujurnya mereka memang berharap ada sedikit pertempuran.

“Tunggu, aku tidak berharap ada pertempuran disini.”suara Dennis menggema.”Putriku memang bersalah dan sudah seharusnya mereka dihukum.”

“Ayah!”

“Dennis!”

Semua mata tertuju pada Dennis saat ini, pria berlesung pipi itu memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya perlahan. “Mereka memang bersalah, peraturan tetaplah peraturan.”

“Lihat, bahkan Dennis sendiri menyetujuinya. Aku masih baik hanya meminta Aletha, lihat dia. Bukankah dia begitu tega.”ujar Casey kemudian tertawa.

“Aku memang tega tidak seperti kau. Kau lebih takut kehilangan anak-anakku karena bagimu mereka aset yang berharga untuk menyokong posisimu seterusnya. Jika kau tega seharusnya kau sudah membunuh Aletha saat pertama kali kau tahu dia melanggar peraturan atau saat kau melihat Cheryl dan Anita bertemu dengan manusia, namun itu semua tidak kau lakukan karena kau takut karena Vladimir juga menyukai mereka dan kau tahu itu.”

Wajah Casey berubah seketika mendengar perkataan Dennis yang tepat sasaran. Mungkin jika dia masih manusia wajahnya sudah pucat pasi. Dia tidak percaya bahwa Dennis akan tahu apa yang dia mau. Keempat putri Dennis memang dikenal memiliki keahlian yang beragam belum ditambah dengan kepintaran mereka. Casey sangat mengharapkan paling tidak salah satu dari mereka mau bergabung dengannya karena dia juga tahu Vladimir berharap memiliki mereka juga. Jika Vladimir memiliki mereka maka bisa dipastikan posisi Casey tidak aman lagi. Oleh sebab itu selama ini dia menjalin hubungan yang baik dengan Dennis dan putri-putrinya.

“Jika Vladimir tahu kau membunuh mereka, aku tidak bisa menolongmu, sahabatku.”ujar Dennis tenang.

Casey tersenyum pada Dennis lalu beralih pada ketiga gadis yang seakan sudah bersiap untuk dieksekusi. Pria itu menunjukkan senyum setengahnya”Baiklah kalau begitu, tidak ada pertempuran hari ini.”

**

Jeremy-Aletha

Bulu-bulu halus Jeremy menyentuh pipi Aletha, gadis itu memejamkan matanya merasakan kehangat bulu Jeremy. Dia begitu lega saat ini, tidak pernah dia rasakan kelegaan seperti ini. Dia dan Jeremy masih hidup dan masih bersama. Tidak ada yang paling Aletha inginkan di dunia saat ini kecuali dia ingin terus bersama Jeremy. Bahkan dibanding untuk bisa mengulang kehidupannya agar tidak menjadi immortal, dia lebih memilih untuk mati saja ditangan Casey. Karena jika dia bukanlah seorang immortal belum tentu dia akan bisa bertemu Jeremy. Kini dia tahu tujuan eksistensinya adalah untuk bertemu manusia setengah serigala ini.

“Aku mencintaimu, Aletha.”lirih Jeremy yang sudah kembali ke tubuh manusinya. Dikecupnya kening gadis itu. Aletha tersenyum dan memejamkan matanya.

Tangan hangat Jeremy menyentuh pipi sedingin es milik Aletha, mata coklatnya menatap lekat mata merah Aletha. Keduanya tersenyum, tangan mereka saling bertaut.

“Kau yakin memberikan gelang ini padaku?”tanya Aletha sambil menyentuh gelang pemberian Jeremy beberapa waktu lalu sebelum kejadian menyeramkan itu mereka alami. Kejadian yang hampir membuat keduanya berpisah selamanya. Bayang-bayang kejadian itu masih menghantui Aletha dan dia sungguh takut jika mereka benar-benar akan terpisah apalagi dengan kondisi mereka yang benar-benar berbeda.Hubungan manusia dengan vampir mungkin akan lebih mudah dibandingkan hubungan mereka. Seperti yang sudah diketahui mereka adalah musuh abadi.

Jeremy ikut menyentuh gelang dari rotan yang dia buat sendiri. Semua sukunya selalu membuat gelang seperti ini untuk diberikan pada seseorang yang menjadi belahan jiwa mereka dan ia memilih Aletha.

“Ya Aletha, kau belahan jiwaku.”ujar Jeremy dengan yakin. Tatapan mata coklatnya terlihat begitu hangat sama seperti suhu tubuhnya.

“Kau juga belahan jiwaku, Jeremy.”gadis ini tersenyum di akhir kalimatnya. Keduanya kembali tersenyum menunjukkan betapa bahagianya mereka masih bisa bersama hingga saat ini.

“Kita akan selalu bersama melewati apapun yang akan menghalangi cinta kita. Aku berjanji akan hal itu.”Aletha mengangguk sebagai jawabannya. Ya dia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi mereka untuk bersama. Dia akan selalu melindungi Jeremy dan begitu sebaliknya.

Rerumputan disekitar mereka menimbulkan suara gemirisk ketika angin menyentuhnya. Jeremy mendekatkan tubuhnya pada Aletha, tangan besarnya menangkup wajah mungil gadis yang begitu ia cintai ini. Kedua bibir itu hampir bersentuhan ketika terdengar suara gemirisik yang lebih kencang.

“Ah, maaf menganggu kalian.”suara lantang pria betubuh tegap membuat pasangan ini menoleh, wajah Jeremy mendadak memerah memlihat sahabatnya memergokinya saat hendak mencium Aletha.

“Andrew,”sapa Aletha pada pria bertubuh tegap itu yang tampaknya juga gugup. Andrew memang masih belum terbiasa dengan keberadaan Aletha yang kini sering ada disekitar mereka meski suku mereka sudah bisa menerima Aletha. Dia masih merasa vampir tetaplah musuh mereka yang harus diwaspadai namun Aletha tidak bisa dibenci begitu saja, mungkin itu juga yang membuat suku mereka begitu menyukai Aletha. Ceria, ramah dan lucu.

Aletha berdiri dari duduknya disamping Jeremy. “Ah, aku hampir lupa apa tujuanku kesini. Ayah ingin bertemu kalian.”ujar Aletha seraya menatap bergantian Jeremy dan Andrew lengkap dengan senyuman di bibir tipisnya itu. Andrew mengangguk kikuk sementara Jeremy langsung bangkit dari duduknya dan merangkul tubuh Aletha.

“Ayo ke rumahmu.”

**

Spencer-Alishia-Uknow

“Kau tidak bisa melakukan itu, mereka akan tahu keberadaanmu.”seru Alsihia, wajah yang biasanya tenang ini kini terlihat menunjukkan kekesalan. Bagaimana tidak, pria berambut pirang dihadapannya ini berkali-kali gagal untuk menangkap buruan. Padahal sudah sepanjang pagi mereka berlatih.  Rusa yang menjadi bahan latihan mereka sudah menghilang entah kemana, padahal mencari rusa di pagi ini cukup sulit.

Alishia menggeram pelan dan menatap tajam pria yang hanya bisa menyentuh belakang lehernya seraya menunduk. Dia merasa tidak enak pada Alsihia yang telah mau mengajarinya namun ia tidak kunjung bisa juga untuk berburu.

“Maafkan aku Alishia,”lirih pria yang tidak lain bernama Spencer. Vampir baru ciptaan Alishia. Dia sebenarnya merasa kagum pada Spencer yang bisa menahan hasrtanya untuk tidak meminum darah manusia saat dia mulai membuka matanya sebagai vampir sampai saat ini namun apa hebatnya hal itu jika Spencer bahkan tidak bisa menangkap seekor kelinci sekalipun.

Spencer menghampiri Alishia yang tengah duduk di pohon yang tumbang, jaket biru yang dia kenakan tampak sedikit kotor akibat berlari menembus hutan menunjukkan cara berburu pada Spencer. Keduanya terdiam satu sama lain. Sepncer tahu Alishia sedang kesal karenanya, dengan sengaja dia menyentuh tangan Alsihia yang berada di sisi tubuhnya. Alishia langsung menoleh pada Spencer yang kini tengah menunjukkan gummy smile-nya.

Alishia langsung berdiri membuat genggaman tangan Spencer terlepas. “Baiklah, ayo latihan lagi. Kali ini kau harus benar-benar memperhatikan apa yang aku lakukan. Berburu itu kemampuan mutlak yang harus dimiliki oleh vampir. Kalau kau tidak bisa berburu bagaimana bisa kau bertahan hidup.”terang Alishia panjang lebar, kalau bukan dia-lah pencipta Spencer, dia tidak akan mau mengajari pria ini. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang pencipta vampir baru untuk mengajari vampir ciptaannya berburu. Mendadak dia merasa menyesal telah menjadikan Spencer vampir. Mungkin Spencer memang lebih cocok menjadi manusia.

“Kau sepertinya lebih pantas menjadi manusia lemah. Bahkan berburu saja kau tidak bisa, cih.”suara lain terdengar dari atas pohon, dengan sekali gerakan pria berambut kecoklatan dengan wajah angkuh itu turun ke bawah tepat ditengah-tenga Spencer dan Alishia.

Mata setajam elangnya itu menatap Spencer dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan. Sementara Spencer tampak tidak terlalu terganggu dengan kenyataan bahwa pria dihadapannya ini begitu membencinya bahkan hampir membunuhnya, sebelum Alishia menyelamatkannya. Dia sudah memenangkan Alishia lalu apa pedulinya dengan celotehan omong kosong U-Know.

“Bahkan jika aku tetap manusia lemah pun Alishia akan tetap memilihku dibanding dirimu.”ucap Spencer mantap membuat U-Know menggeram pelan.

Alishia hanya bisa memutar bola matanya, sebentar lagi akan dimulai adu mulut lagi diantara mereka. Gadis berambut panjang itu segera berbalik kemudian pergi. Tidak ingin mendnegarkan pertengkaran yang tidak akan pernah habisnya, memperebutkan dirinya, menurutnya itu adalah hal yang paling bodoh.

“Alishia.”keduanya berseru bersamaan ketika tidak mendapti sosok yang sama-sama mereka cintai dihadapan mereka.

“Ini semua gara-gara kau dia pergi.”tuduh U-Know.

“Wow, tuan vampir hati-hati kalau bicara. Alishia sedang bersamaku tadi dan kedatanganmulah yang membuatnya pergi.”

“Apa kau bilang, jangan membuatku marah vampir baru.”

“Lalu, kau mau apa hah? Membunuhku lagi? Silahkan,kupastikan Alishia akan langsung mematahkan kepalamu jika itu terjadi.”

“Sombong sekali dirimu. Jangan berpikir kalau Alishia yang telah menciptakanmu, dia akan melindungimu.”

“Tentu saja, dia mencintaiku Tuan.”

**

Nathan-Cheryl

“Lihat Nathan,cake­-ku begitu cantik-kan?”Cheryl berseru senang ketika dia memperlihatkan cake yang telah dia hias begitu cantik. Krim putih dan merah mudah mendominasi kue berbentuk bulat itu. Ada buah ceri tepat ditengahnya.

Nathan tersenyum dan mengangguk. Cheryl ikut tersenyum lebar kemudian menaruhnya kue buatannya diatas meja dan beranjak mengambil pisau. Gadis ini berniat untuk mencobanya bersama Nathan yang kini tengah memaskan adonan rotinya ke dalam oven.

Semenjak kejadian itu, hubungan Cheryl dan Nathan kembali seperti biasa. Cheryl kembali sering mengunjungi toko Nathan, menghabiskan seharian penuh bersama pria itu membantunya membuat roti dan terkadang ikut membantu menjadi pelayan disana yang tentu saja menaikkan angka penjualan. Siapa yang tidak mau dilayani oleh seorang dengan kecantikan yang luar biasa ini.

Hari ini masih begitu pagi dan toko pun bahkan belum buka namun Cheryl sudah datang, dia bilang ingin membuat kue yang akan dia berikan pada Dennis. Pria berlesung pipi itu menyukai kue. Dennis memang lebih tampak seperti manusia, dia mampu memakan-makanan manusia tanpa merasa aneh berbeda dengan Cheryl, meski beberapa kali kerap mencoba roti buatan Nathan tetap saja dia merasa rasa roti itu janggal dan dia tidak suka.

“Bukankah kau ingin memberikannya pada Dennis?”tanya Nathan ketika Cheryl telah kembali dari mengambil pisau dan kini tengah memotong cake buatannya.

“Aku ingin tau pendapatmu, ini enak atau tidak. Aku kan tidak bisa merasakannya.”celoteh Cheryl, Nathan mengacak-acak rambut Cheryl , merasa gemas melihat wajah kekanak-kanakan gadis yang dia cintai ini.

“Buka mulutmu,”Cheryl meminta untuk menyuapi Nathan dan mau tidak mau pria berambut hitam itu menerimanya.

Nathan mencoba merasakan rasa kue buatan Cheryl sementara gadis itu menunggu dengan tidak sabaran. Wajahnya penuh harap dan menurut Nathan itu sangat lucu. Pria dengan pakaian putih koki itu sengaja memperlama dengan pura-pura masih merasakan rasa kue ini.

“Bagaimana?”tanya Cheryl tidak sabaran pada akhirnya. Nathan masih diam.

“Oh, ayolah Nathan, apa begitu tidak enak.”ujar Cheryl lagi.

Nathan tertawa karena melihat ekspresi kecewa Cheryl. Betapa gadis ini sungguh mampu memberikan beragam ekspresi yang lucu yang mampu membuatnya semakin menyukai gadis lincah ini.

“Harus berapa kali aku bilang, kau selalu sempurna dalam mengerjakan apapun Cheryl.”ujar Nathan seraya mencubiy hidung mancung Cheryl gemas. Gadis berambut ikal itu tersenyum senang, wajahnya berbinar-binar.

“Terima kasih Nathan.”Cheryl langsung memeluk tubuh Nathan sekilas.

“Cheryl,”panggil Nathan.

“Hm,”gumam Cheryl dengan kepala yang sedikit dimiringkan.

“Aku mencintaimu.” Cheryl hanya tersenyum sebagai jawaban. “Aku mengerti, kau tidak akan pernah menjawab pernyataanku.”

“Kau sudah tahu jika aku tidak akan menjawabnya, kenapa kau masih memintanya.”

“Aku hanya berharap. Tidak bisakah kau menjawabnya sekali saja. Aku tahu kau melakukan ini untuk menjaga keselamatnku ta-“

“Keselamatanmu lebih penting bagiku dibanding sebuah pernyataan cinta, Nathan.”

“Baiklah, jadi hubungan kita akan terus seperti ini,tanpa kepastian.”lirih Nathan, mata hitamnya menatap lekat mata Cheryl yang ditutupi lensa kontak.

Kalau boleh Cheryl ingin menjawab pernyataan Nathan, dia juga begitu mencintai Nathan namun dia tidak mungkin melakukannya. Dia tidak baik untuk Nathan. Nathan berhak mendapatkan gadis yang sesungguhnya. Dia melakukan ini karena dia tidak bisa meniggalkan Nathan namun dia juga tidak bisa bersama Nathan. Cheryl merasa hubungan seperti ini lebih baik untuk mereka berdua meski dia tahu Nathan tersakiti karenanya. Namun apa yang bisa dia lakukan? Menjadikan Nathan sepertinya? Tidak, dia tidak akan pernah melakukannya. Dia tidak seberani Alishia. Dia sama penakutnya seperti Anita untuk masalah seperti ini.

**

Marcus-Anita

Langkah yang nyaris tidak terdengar mendekati dua orang pria yang tengah berdiri menghadap taman yang ditumbuhi bunga berwarna-warni. Musim semi membuat taman yang begitu luas ini tampak sangat cantik bak negeri dongeng. Gadis berambut lurus itu berhenti tepat dibelakang keduanya. Salah satu dari dua orang pria itu berbalik. Rambut kecoklatan dan lesung pipi yang menghiasi wajahnya ketika tersenyum menyambut kedatangan gadis yang merupakan putrinya itu.

“Anita,”sapanya. Hal ini membuat pria yang berdiri disampingnya ikut berbalik. Kedua mata itu bertemu. Ada suatu perasaan yang coba mereka salurkan lewat tatapan dengan warna yang berbeda itu.

“Sebaiknya aku memberikan kalian waktu untuk berbicara berdua,”ujar Dennis sambil menepuk bahu pria berambut keemasan dan beranjak pergi meninggalkan pasangan yang memiliki hubungan yang rumit akhir-akhir ini.

Disaat semuanya memiliki kebahagiannya masing-masing setelah kejadian itu namun berbeda dengan pasangan ini. Keduanya terlihat begitu kaku setelahnya seperti ada sesuatu diantara mereka. Bukankah seharusnya mereka sudah bisa merasa bebas dalam menjalani hubungan mereka namun sepertinya mereka tidak merasakan hal itu.

“Pulanglah,”ujar Anita, setelah lama terdiam pada Marcus dihadapannya.

“Kau lebih senang melihatku mati rupanya.”nada Marcus terdengar sangat datar dan dingin.

Anita tidak tahu lagi bagaimana membujuk pria ini untuk kembali ke tempatnya. Disini bukanlah tempatnya.”Mereka tidak akan membunuhmu, kau bagian dari mereka.”

“Kau berniat mencampakanku untuk bersama vampir bernama Vincent itu,”

“Marcus,”

“Lebih baik kau katakan kalau kau tidak mencintaiku lagi dibanding kau harus melakukan ini padaku. Kau bilang kau mencintaiku tapi apa yang kau lakukan. Kau tidak mau menjadikanku sepertimu. Jika kau memang mencintaiku kau pasti ingin kita bersama dan menjadikanku sama sepertimu.”suara Marcus sedikit meninggi. Dia sungguh tidak mengerti jalan pikiran gadis yang sudah ratusan tahun dia cintai ini.

Tidak bisakah Anita merasakan bagaimana tersiksanya dia saat tahu gadis itu meninggalkannya selamanya beratus tahun yang lalu. Saat itu rasanya dia ingin mati saja, karena baginya hidupnya adalah Anita. Namun saat malam dimana Anita datang menghampirinya,hidupnya seakan kembali. Meski saat itu Anita sudah berbeda. Dia dingin dan pucat namun itu tidak akan merubah rasa cintanya pada gadis itu. Ketika Anita memintanya melupakannya karena mereka sudah tidak akan bersama, Marcus kembali ke titik terendah hidupnya. Dia bersumpah akan terus mencari Anita dan tidak akan melepaskannya. Marcus terus berenkairnasi untuk dapat menemukan Anita dan kini setelah dia menemukan Anita , gadis itu kembali mencampakkannya.

“Jadi menurutmu hanya dengan menjadikanmu sama sepertiku, kita akan bisa bersama?”mata merah Anita menatap lekat ke bola mata hitam Marcus.

“Ya,tentu saja.”

“Tidak bisakah, kita seperti Nathan dan Cheryl. Mereka masih tetap bersama meski mereka berbeda.”

“Aku tidak bisa. Kita saling mencintai Anita. Aku ingin bersamamu tanpa ada apapun yang bisa menghalangi kita bersama. Ini adalah reinkaransiku yang terkahir dan setelah aku mati, kita tidak akan bisa bertemu-“

“Jikau kau mati maka aku pun akan ikut mati bersamamu, tidakkah itu cukup. Memanfaatkan waktu kita bersama saat ini tanpa harus menjadikanmu sepertiku. Kau tahu betapa tersiksanya aku saat aku tahu kau mati dibunuh oleh vampir yang saat ini berkeliaran disekitarku. Dennis sengaja membuatnya disekitarku selama ini untuk bisa melupakan dendamku. Rasanya aku ingin mati saja saat itu bersamamu, sehingga semuanya selesai. Aku tidak perlu berusaha melupakan dendamku selama ini.”terang Anita, tangan putih pucat itu menyentuh tangan Marcus dan menautkannya. Ditatapnya kembali bola mata kelam milik Marcus.”Kau datang kembali, hidup. Saat itu aku bersumpah pada diriku sendiri, aku akan melindungimu karena hidupmu bahkan lebih berharga dari hidupku. Mendengar detak jantungmu masih sama seperti waktu itu membuatku begitu bahagia, tatapan lembut dari mata kelammu mengingatkanku saat kita bersama. Tidak ada hal yang paling kuinginkan dihidupku sepanjang eksistensiku selain melihatmu dihadapanku hidup.Aku sungguh mencintaimu, Marcus. Sepanjang eksistensiku hanya kaulah pria yang aku cintai dan biarkan aku menjaga sosokmu yang hidup ini.”

Marcus mendekatkan tubuhnya pada Anita dan mencium kening gadis itu lalu menempelkan kedua kening mereka setelahnya. “Aku juga sangat mencintaimu, Anita. Maafkan aku. Aku tidak tahu kau begitu tersiksa selama ini. Kali ini tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Kita akan selalu bersama.”

“Dan saat waktumu tiba, aku akan ikut pergi bersamamu.”lirih Anita. Kedua bibir itu bersentuhan, menyalurkan rasa cinta yang selama ini mereka jaga juga menyalurkan rasa kelegaan karena pada akhirnya mereka bisa kembali bersama.

**

Bibir penuh Dennis melengkung membentuk senyuman, wajah porselennya seakan memancarkan cahaya yang dibiaskan dari matahari senja. Tubuhnya didudukkan di sebuah tempat duduk di taman rumahnya yang begitu luas. Hatinya begitu tenang saat ini, setelah kejadian mencekam beberapa waktu yang lalu. Tidak pernah dia merasakan ketenangan seperti ini. Meski dia tahu Casey sewaktu-waktu dapat kembali mempermasalahkannya namun setidaknya dia bisa melihat keempat putrinya bahagia dengan cinta mereka. Dia tahu cinta mereka akan mampu melawan Casey sekalipun. Mata merahnya menatap satu persatu putrinya.

Aletha yang sedang beramin-main dengan tubuh serigala Jeremy, keduanya tampak sangat bahagia. Dennis merasa bersyukur masih bisa melihat anak bungsunya itu. Dia ikut bahagia melihatnya. Tidak pernah dilihatnya Aletha begitu hidup setelah dia menjadi vampir. Bersama Jeremy, dia melihat Aletha seakan sudah melupakan kenangan pahitnya.

Matanya beralih pada sosok lain yang kini tengah berdiri di tengah-tengah taman tepat disebuah batu besar menyakiskan beberapa orang yang berkumpul disana. Anita berdiri dengan Marcus yang merangkul pinganggnya, terkadang keduanya saling menatap dan tersenyum. Senyum mereka ikut membuat Dennis tersenyum juga. Anita sudah berubah, gadis yang begitu diam dan seakan menanggung beban itu tampak lebih hidup, cinta lamanya telah kembali. Dennis sungguh bersyukur akan hal itu dan berharap Anita akan terus seperti ini. Dia tidak tega melihat ratusan tahun putrinya itu tersiksa dengan cintanya.

“Ayah,”suara melengking milik Cheryl menggema begitu dia masuk ke dalam taman bersama Nathan di belakangnya. Gadis itu membawa sebuh kotak yang berisi cake.

Dennis tersenyum menyambut kedua orang ini. Cheryl segera mencium pipi Dennis dan duduk disampingnya lalu menyerahkan kotak putih itu pada Cheryl.

“Terima kasih sayang. Terima kasih Nathan.”ujar Dennis juga pada Nathan.

Nathan mampu membuat Cheryl menjadi lebih manusia. Pria itu mengingatkan kembali kenangan manusia Cheryl yang sempat ia lupakan dan Dennis senang akan hal itu. Cheryl bukan gadis yang bingung lagi, meski ia tahu Cheryl tampak hati-hati berhubungan dengan Nathan. Dennis hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka.

“Kita lihat, siapa yang lebih kuat. Aku atau kau!”kedua mata merah itu saling menatap satu sama lain. Kedua pria yang tidak akan pernah akur.

Alishia menggeram pelan. Selalu saja seperti ini. Tidak bisakah mereka akur sehari saja.

“Siapa yang bisa menghancurkan batu ini, dialah yang terkuat.”ujar pria berambut pirang.

“Baiklah, aku hidup jauh lebih lama dibanding dirimu. Aku sudah pasti lebih kuat darimu.”ujar U-Know dengan penuh percaya diri.

“Wow, U-Know, kau pasti bisa!”seru Max yang kini tengah berdiri disamping Alishia.

“Aku pegang Spencer.”Vincent muncul dan langsung mendapat delikan tajam dari Max.

“Aku, Spencer.”Anita ikut berbicara.

“Aku juga Spencer.”Aletha sudah berdiri disamping Anita.

“U-Know,”ujar Jeremy membuat Aletha menoleh padanya. “Kurasa U-Know lebih kuat.”jawab Jeremu dengan ekspresi datar yang membuat semua orang disana tertawa tak terkecuali Alishia yang pada akhirnya merasa pertengkaran mereka lucu.

“Aku setuju denganmu Jeremy, kurasa U-Know yang akan menang.”ujar Marcus, Anita segera menoleh padanya dengan tatapan tidak percaya. Bukankah seharusnya Marcus membenci U-Know setelah apa yang dilakukan pria itu padanya. Marcus hanya tersenyum penuh arti dan mengelus kepala Anita perlahan dan melepaskan rangkulan di pinggang gadis itu.

“Nathan, Cheryl, siapa yang kalian pilih?”Marcus berteriak pada kedua orang yang berada cukup jauh dari kerumunan ini.

“Spencer.”Cheryl dan Nathan berbicara bersamaan.

“Bagaimana denganmu, Dennis?”tanya Max.

“Spencer.”

“Woohoo, banyak yang mendukung Spencer, baiklah kita lihat siapa yang terkuat.”ujar Max yang kini sudah beralih menjadi pembawa acara. Mereka kembali tertawa bersama.

Setelah kejadian menyeramkan beberapa waktu yang lalu. Tertawa menjadi obat yang paling ampuh untuk melupakannya. Meski mereka tetap harus berhati-hati, Casey masih mengawasi mereka. Namun lebih baik menikmati masa-masa menyenangkan ini tanpa kekhawatiran bukan?

EPILOG

Lihat kisah mereka begitu panjang bukan? Namun berakhir dengan kebahagian. Keajaiban cinta itu ada, bahkan untuk mereka-mereka. Keajaiban cinta juga lah yang membuat mereka bisa bersama-sama dan seperti semua dongeng semuanya berakhir Happily evey after.

Advertisements

13 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 19

  1. First ??!!!
    Kyaaaaaaa …
    Happy ending. Dan ini bener” terinspirasi dari twilight sagakah ?
    Bagus !
    Marcus sama anita semoga long last forever !

  2. WAW….
    Alu cuma bisa bilang itu
    Krn gak nyangka rasputin n vladmir bklan mengincar yoeja2 ituu..
    Dan yahh..cinta itu tak kenal perbedaan malah perbedaan yang menyatukan mereka
    Daebakk 🙂
    Keep writing yaa

  3. 19 part dalam waktu satu hari..hehe terima kasih eoni ffnya seru,tegang,dan campur aduk pokoknya,juga keren.^^
    oh iya maaf eoni dari part awal-akhir komenku sll aneh..hehe

  4. Aigoooo akhir yg sangat mengaggumkan ..

    Itu cerityanya Yunho ma Hyukjae reval’an nih .. ??!!
    Wkwkwkw lucu ajah ngebayanginnya ..

    Ahahahahahaha daebak eonnie ceritanya !! Keren lhooooo .. Waw bgt dah (y)

    Aku suka karakter semua yg ada di sini .. Terlihat natural .. Walopun kadang mengerikan 😀 hhehehehe

    Dan yg paling berkesan yaaaah KyuSoon nya ..
    Wkwkwkwkwkw … Selalu manis yah scene mereka *.*

    Daebak deh eonnie .. Keep writing oke (y) !! ^^

  5. ini ceritanya bikin terharu?aku gak baca pertengahanya jaringanya susah bgt makanya bru comen di part akhir?hehehe keren thorr 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s