FF: Milagro del Amor Part 18

18th Chapter

 

Hembusan angin malam dengan cahaya bulan yang menyorot terang menambah suasana tegang di pegununngan Apenine. Malam ini adalah malam terakhir mereka sebelum menghadapi klan Boainero. Sejujurnya Dennis tidak ingin berakhir dengan pertempuran, tapi mereka harus menyiapkan diri, tidak ada satu pun yang tahu klan pengusa vampir itu inginkan, yang Dennis inginkan hanya putri tersayangnya selamat, walaupun harus berganti dengan dirinya.

Adegan saling lempar, saling adu kekuatan kini menjadi hal yang bisa dibilang biasa dalam seminngu terakhir. Dennis menatap semuanya dengan saksama. Tatapannya kosong, pikirannya bercabang, hatinya kacau. Satu sisi dia sangat senang segala perbedaan hilang saat ini, disisi lain rasa gagal masih mengahntuinya. Dalam diam dia terus mengutuk dirinya yang tidak behasil menjadi seorang ayah bagi putri-putrinya. Dia merasa telah ingkar dengan janji yang diikrakrkannya saat memutuskan untuk membuat gadis-gadis itu menjadi utrinya sebagai makhluk immortal, akan selalu mejaga mereka. Dennis menganggap bahwa kelalaiannya lah yang membuat Alehta seperti ini.

“Dennis.” Sapa salah seorang putrinya yang selalu mampu membuatnya tenang.

“Kau ingat kan, Aletha selain menjadi putri kesayanganmu dia juga menjadi anak kesayangan Casey dan Joshua. Aku yakin mereka tidak akan tega menyiksa Aletha” Ujar Alishia mencoba menenagkan.

Dennis menatap mata putrinya itu. “Kalian semua putri kesayangaku tidak hanya Aletha.” “Tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang mereka inginkan, semua bisa berubah dalam hitungan detik.” Lanjut Dennis. Alishia menatap lirih ayahnya, walaupun ia tidak dapat merasakan sakit yang dirasakannya tapi ia tahu bagaimana sakitnya.

“Sebaiknya kita sudahi malam ini.” usul Alishia, “Besok kita akan menghadapi Casey, kau harus istirahat.” Lanjutnya. Tanpa banyak bicara Dennis mengikuti saran Alishia menyudahi latihan hari ini dan bersiap untuk hari yang lebih berat, menghadapi Casey dan pengikutnya.

  • §§§

Hari ini berlalu dengan cepat, itulah yang dirasakan Marcus. Seminggu ini ia menghabiskan waktu dengan wanita yang dicintainya serta keluarganya, tapi dia tidak benar-benar merasa bersama Anita, kekasihnya. Sejak ia memutuskan untuk turut serta, Anita sulit didekati dan tidak mau berbicara dengannya. Hari ini pun praktis ia tidak berbicara apapun dengannya. Marcus sadar keputusan yang diambilnya salah, dia juga tahu kekhawatiran Anita akan dirinya yang terlampau besar, tidak ingin dirinya terluka. Tetapi Marcus tidak bisa diam begitu saja, disaat klan Agneli berusaha untuk membebaskan Aletha yang sejujurnya dialah penyebab dari semua kejadian ini, anggapnya. Marcus memahami sikap Anita yang menjauhi dirinya.

Anita bejalan tepat didepannya bersama dengan Cheryl dan Vincent. Marcus yakin Anita tahu bahwa dia berada dibelakangnya, tapi tidak sedikit pun Anita berniat menoleh untuk melihat dirinya.

“Jadi kau klan Cacciatore itu?” tanya seorang laki-laki berambut blonde, kurus, berkulit putih sambil merangkul bahu Marcus. Marcus menatap laki-laki itu heran.

“ada apa?” tanya Marcus malas. Mendapat tanggapan, ia semakin bersemangat untuk lebih dekat dengan Marcus, berlaku seolah-olah ia adalah teman dekatnya. Beribu pertanyaan terlontar dari mulutnya layaknya penyelidik.

“apa kau bawa belati itu?” tanya Spencer tiba-tiba.Marcus mendelik. “apa besok kau akan membawanya?” tanyanya lagi. tanpa menjawabnya, Marcus mengelurkan kotak berwarna coklat yang didalamnya berisi belati yang biasa ia gunakan untuk memburu Vampir yang menjadi musuhnya, tekecuali Antia dan Klannya.

Melihat Marcus mengeluarkan sebuah kotak sontak Spencer menjauh darinya. “Tunggu. Jauhkan benda itu dariku.” Seru Spencer setengah berteriak. “Jauhkan benda itu dariku, aku baru menjadi makhluk immortal.”ujarnya lagi. Marcus hanya terdiam melihat ekspresi Spencer yang begitu ketakutan. “ingat jauhkan benda itu dariku, besok.” Spencer mempercepat langkahnya meninggalkan Marcus. Kata-kata Spencer terus terngianga ditelinganya, “…. Aku baru menjadi makhluk immortal.” Andai Anita mengijinkan dirinya menjadi bagian dari keluarganya, pikirnya.

  • §§§

“Maafkan aku, aku seperti ini untuk kebaikanmu. Aku hanya ingin semua kembali seperti semula. Tidakkah kau tahu seberapa besar rasa takutku saat kau katakan ingin turut serta menyelamatkan Aletha?? Badanku bergetar mendengarnya. Aku tak bisa membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpamu. Kau tetaplah seorang manusia, bagaimanapun sejarah hidupmu dahulu. Seharusnya kita tak bertemu jika seperti ini akhirnya, aku sangat mencintaimu tapi tak pernah membayangkan kau akan seperti ini.”

Batin Anita menjerit, seandainya ia manusia mungkin saat ini air matanya telah mengalir deras membasahi kulit putih mulus wajahnya. Bayangan yang tidak diinginkannya menari-nari dikepalanya. Semua kekhawatirannya membuat imajinasinya meningkat tajam. Anita menenggelamkan kepalanya diatas lipatan kedua tanggannya.

“Sedang ada pertunjukan drama diotakmu.” Sahut Cheryl yang sudah berada di kamar Anita, duduk dipinggir kasur Anita. Cheryl tahu yang sedang ada dipikiran Anita saat ini, mereka memang memiliki keahlian membaca pikiran satu sama lain, itu juga sebagai salah satu media untuk mengirim pesan.

“jangan buat semua yang ada dipikiranmu itu menjadi kenyataan.”Anita dia mendengarkan. “Aku tahu, tapi yang harus kalian lakukan saat ini saling melindungi. Marcus telah membuat keputusan yang sudah pasti dipikirkannya akan resiko yang akan dihadapi. Manfaatkan waktu yang ada sebelum mentari datang, temui dia.” Anita mencerna semua ucapan Cheryl. Dia menyadari semua perkataan itu benar. Anita bangkit dari duduknya, pergi meniggalkan Cheryl yang masih terduduk dikasurnya, mencari Marcus. Anita yakin laki-laki itu pasti berada di tempat yang sering mereka kunjungi.

Cheryl tersenyum melihat Anita yang kembali tersenyum, mendapat pencerahan dari dirinya, walau sebenarnya dirinya pun diliputi rasa sedih, Nathan. sudah lama sekali Cheryl tidak mendengan kabar  tentang Nathan setelah kejadian saat diaman dia memukul Nathan yang hendak mencarinya dihutan. Penyesalan memang selalu berada diakhir, itu yang kini dirasakan Cheryl. Semua itu ia lakukan untuk kebaikannya. Nathan dan Marcus memang sama-sama manusia,  marcus punya sedikit keahlian dan senjata untuk melindungi dirinya beda hal dengan Nathan. Dia tidak memiliki apapun untuk melindungi dirinya. Mengenal klan Vampir saja baru ketika dia bertemu dengan Cheryl. Cheryl tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Nathan, dia tidak bisa menjamin keselamaan Nathan bisa terus teta disampingnya.

  • §§§

Pagi mejelang, semua keluarga Agnelli bersiap untuk pergi ke kastil dimana Aletha berada, tak terkecuali. Klan Calabria telah datang sebelum matahari menampakkan wujudnya. Bagi Dennis, Klan Calabria telah menjadi bagian dari keluarganya karena merekalah yang selama ini membantu Dennis untuk menjaga keampat putrinya. Kemudian disusul kedatangan kelompok Mannaro, setelah itu Marcus dengan mantap menegakkan kakinya dipintu kastil Klan Agnelli. Mereka semua berkumpul diruang tengah.

“Dimana Dennis?” tanya U-Know. Sejak mereka tiba, ia belum melihat Dennis.

“Sedang bersama dengan Casey di kastilnya.” Ujar Alishia.

“Kenapa dia berangkat duluan?” tanya Vincent.

“Dennis tidak ingin pertempuran ini terjadi. Ia mencoba untuk melobi Casey dengan segala konsekuensi yang akan dia terima.” Anita menambahkan.

“Aku juga tidak melihat Max.” Seru Spencer, menyadari Max tidak ada diantara mereka.

“Dia akan menyusul.” Sahut Vincent.

“Dennis berpesan agar kita tidak ceroboh, amukan Casey akan berdampak fatal bagi kita semua. Terutama Aletha.” Ucap Cheryl. “Dennis mempercayakannya padamu U-Know.”tambahnya.

“Baiklah.” U-Know menyanggupi tanggung jawab yang dialihkan Dennis padanya.

Perundingan mengenai bagaimana seharusnya menghadapi Casey berlangsung selama beberapa menit di kastil Agnelli sebelum mereka menuju kastil Klan Boianero.

  • §§§

“Kau tahu Aletha? Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu. Mungkin akan jadi hari yang paling membahagiakan bagiku. Semua keluargamu akan datang mengunjungiku. Mereka akan bertamu kesini, rasanya tidak hanya Klan Agnelli dan Klan Calabria, diluar bangsa kita juga akan mampir kerumahku.” Ujar Casey ramah sambil tersenyum sinis kepada Aletha yang ada dihadapannya. Kata-kata yang terucap ramah namun ada makna tajam didalamnya. Seakan-akan hari ini adalah hari dimana Casey akan menunjukan semua kekuatan yang dimilikinya.

Aletha tetap mematung dihadapan Casey dibawah penjagaan Joshuan dan Jordan. Yang dia inginkan saat ini adalah Casey cepat membunuhnya dan semua permasalahan selesai.

“Tidak semudah yang kau pikirkan, Anakku sayang.” Ujar Jordan, usai membaca apa yang dipikirkan Aletha.

“kami tidak akan membunuhmu, jika kau memilih untuk kembali kejalanku, meninggalkan kelompok anjing besar itu.” Joshua kembali memberikan pilihan yang kesekian kalinya pada Aletha dengan jawaban yang sama.

“Tidak.” jawabnya.

“Keras kepala. Kita tunggu saja apa yang dapat mereka lakukan untukmu.” Ucap Casey yang mulai murka terhadap sikap Aletha. Dahulu Aletha merupakan boneka barbie baginya, dia selalu menuruti semua keinginan Casey, karena itulah Aletha menjadi anak emas Casey, tapi tidak untuk saat ini.

“Apa Kabar Casey?” seru seseorang yang tengah berjalan menujunya. Semua menoleh kearah sumber suara termasuk Aletha.

“Dennis.” Gumam Aletha. Matanya berbinar melihat Dennis datang. Begitu pun dengan Dennis. Gurat kebahagian terpancar diwajahnya ketika melihat putri yang sangat dirindukannya.

“Boleh aku memeluk Dennis?” ijin Aletha pada Joshua dan Jordan yang sedari tadi mengawasinya.

“tetap dalam pengawasanku.” Jawab Jordan. Sigap Aletha menghambur kedalam pelukan Dennis. Ia memeluk tubuh jenjang ayahnhya itu. Tubuh yang sangat dirindukannya beberapa hari ini. Aletha puas menghirup aroma tubuh ayahnya, yang dipikirnya takkan bisa ia lakukan lagi. Dennis juga memluk erat tubuh anaknya. Rasanya ia ingin menangis, jika ia mampu.

“Maafkan aku ayah.” Gumamnnya dibalik pelukan.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, semua ini telah terjadi. Kita hadapi bersama. Aku akan selalu melindungimu.” Ujar Dennis bijak. Dennis melepas pelukannya dan menciium kening putrinya.

“Dimana yang lain? Mengapa kau seorang diri?” tanya Casey heran. Dia tidak melihat anggota Agnelli yang lain.

“Mereka akan menyusul.” Jawab Dennis. Dennis sedikit menjauh dari Aletha dan mendekati Casey.

“Casey, bisakah kita bicara?” pinta Dennis

“Kau perlu ruangan Khusus?”

“Ya.” Casey menuruti permintaan Dennis untuk sedikit berbincang ditempat lain meninggalkan Aletha yang terus dijaga ketat oleh Jordan dan Joshua,walaupun mereka tahu anak itu tidak akan kabur.

Aletha menagkap pertanda buruk ketika ayahnya meminta Casey untuk berbincang di tempat yang lain. Aletha yakin, Dennis telah merencanakan sesuatu untuk melobi Casey aagar ia terlepas dari hukuman digantikan dengan dirinya. Aletha cemas, ia mulai gusar. Ketakutan sangat mendominasai dirinya saat ini.

Kumohon, cepatlah datang. Aletha mencoba mengirimkan pesan kepada saudaranya. Dia tidak perduli apakah Jordan dan Joshua mengetahuinya. Yang ada dibenaknya saat ini adalah keselamatan Dennis, terkutuklah ia, jika terjadi sesuatu pada Dennis karenanya.

  • §§§

Kumohon, cepatlah datang.

Alishia, Anita dan Cheryl terhenya begitu mendengar suara Aletha yang parau meminta mereka segera datang. Spencer yang menangkap gelagat aneh Alishia langsung menghampirinya.

“Ada apa?” tanyanya khawatir.

“Aletha meminta kita untuk segera datang.” Jawabnya.

“Sepertinya Dennis tengah berbicara dengan Casey dan dia dapat menebak apa yang akan dilakukan Dennis.” Tambah Anita

“Kita harus segera kesana.” Ucap U-Know memimpin.

  • §§§

“Baiklah akan kupertimbangkan.” Kata Casey di akhir pembicaraannya dengan Dennis. “Kau sungguh berani dan keras kepala.” Lanjutnya.

“Demi putriku.”

Dennis dan Casey keluar dari salah saru ruangan di kastil itu. Casey terlihat sangat senang, semua itu terpancar dari raut wajahnya. Aletha memberikan tatapan tajam yang penuh dengan tanya kepada ayahnya, Dennis hanya membalasnya dengan senyum manis yang selalu ia tunjukan.

“Sepertinya sebentar lagi mereka sampai. Lebih baik kita menunggunya diluar.” Casey bejalan menuju luar kastilnya, “Bawa Aletha keluar.” Perintahnya. Joshua dan Jordan siap membawanya. “Biar dia denganku.” pinta Dennis.

“baiklah.” Dennis merangkul putrinya dan membawanya keluar kastil mengikuti Casey.

“Apa yang kau lakukan? Rencana apa yang sedang kau susun?” Dennis tidak menjawa, ia tetap menuntun anaknya melangkah. Aletha kesal, Dennis tidak menggubrisnya. “kumohon Dennis jangan lakukan hal bodoh.” Mohon Aletha. Lagi-lagi Dennis hanya tersenyum menatap wajah putrinya itu.

  • §§§

Tidak memerlukan waktu lama bagi mereka untuk sampai di kastil Boianero. Satibanya mereka, Casey, Joshua, dan jordan serta pengikutnya sudah menunggu diluar. Ada juga Dennis yang sedang memeluk Aletha.

“Aletha.” Gumam Alishia ketika melihat Aletha.

“Sepertinya hari ini akan ada pesta besar dirumahku. Banyak sekali tamu yang datang tidak hanya kelompok anjing besar itu, melainkan manusia juga.” ucap Casey dengan menekan nadanya saat menyebutkan manusia, menyambut kedatangan mereka. Mereka heran dengan Casey yang aneh melihat kedatangan Marcus. Sesungguhnya klan Boianero telah mengetahui adanya klan Cacciatore, bukan seutuhnya manusia.

“Nathan.” seru Cheryl kaget ketika melihat Nathan sudah berada dibarisan belakang. begitupun yang lain, mereka tidak mengira akan ada manusia tambahan disini. Tidak tahu bagaimana caranya manusia itu bisa sampai disini.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Cheryl begitu menghampiri Nathan.

“Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin membantumu.” Katanya disela nafasnya yang menderu.

“Kau gila. Ini bukan saat yang tepat. Cepat kembali, disini sangat berbahaya untukmu.”

“Biarkan dia tetap disni Cheryl Agnelli.” Seru Joshua. Cheryl dengan cepat membawa Nathan dibalik punggunya.

“Kau lihat Dennis, apa yang telah dilakukan anak-anakmu? Mereka menyembunyikan itu semua darimu.” Ucap Casey sambil memainkan jarinya dan memberikan tatapan membuanuh kepada klan Agnelli.

“Ahhh,, kenapa manusia itu menambah beban saja.” Celetuk Max, entah kapan sampainya.

“tolong lepaskan Aletha, aku yang bertanggung jawab atas semuanya.” Ucap Jeremy.

“Aku tidak tahu kau mempunyai keberanian sebesar itu. Baiklah, akan kubebaskan dia tapi gantikan dengan nyawamu.” Casey benar-benar murka, amarahnya mencapai titik akhir.

Advertisements

3 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 18

  1. First ?!
    Ga ngerti jalan ceritanya, soalnya langsung loncat ke 17.
    Tapi ceritanya rame, dan ngingetin sama cerita twilight (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s