FF: White Wings Chapter 4

Four

 

Rasanya minggu ini begitu cepat berlalu, tiba-tiba saja hari ini sudah akhir pekan dan itu berarti hari ini adalah hari dimana prom dilaksanakan. Aku sungguh malas hanya untuk turun dari tempat tidurku sore ini. Begitu selesai mengerjakan tugas-tugas aku hanya berbaring ditempat tidur. Beberapa kali terdengar ketukan pintu namun tidak ada niatku untuk membukanya. Biarkan mereka bertanya-tanya apa yang aku lakukan di dalam kamar, aku sedang tidak ingin bercengkrama dengan mereka.

Jika ditanya apa aku ingin datang ke prom, sudah pasti jawabannya tidak. Sungguh tidak ada sedikitpun keinginan untuk pergi tapi bagaimana kalau Cheryl datang ke rumah dan menarikku pergi. Itu yang aku takutkan sejak tadi. Jumat kemarin selepas jam terakhir yang kebetulan sekali kami sekelas. Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak mau datang namun dia hanya berkata akan menjemputku, awalnya aku tenang-tenang saja karena dia tidak tahu rumahku. Namun tadi siang aku baru ingat, aku pernah bilang dimana rumahku dan kebetulan sekali dekat dengan toko ibunya. Sungguh sial. Makanya sejak tadi aku hanya berdiam di kamar.

Aku mendudukan tubuhku dan memandangi gaun berwarna peach selutut yang tergeletak begitu saja di tepi tempat tidur. Seseorang telah mengeluarkannya dari dalam tas belanjaku dan aku yakin siapa dia. Nathan. Sejak pagi pria itu membujukku untuk datang ke prom dengan berbagai alasan yang dia keluarkan juga tatapan memohon namun aku tidak goyah dengan keputusanku untuk tidak datang. Aku turun dari tempat tidurku berjalan menuju jendela kamar, ingin melihat kegiatan pria bersayapku saat ini. Hanya ada Henry dan Aiden yang tengah menyiram kebun bunga milik Nathan yang kini mulai bermekaran. Entah bagaimana mereka melakukannya, menanam di musim dingin dan tepat bermekaran di awal musim semi, hanya mereka yang bisa melakukannya. Sebenarnya aku ingin turun dan bergabung bersama mereka namun aku yakin mereka akan kembali membicarakan mengenai prom.Uh, rasanya aku alergi dengan kata yang satu itu.

Tiba-tiba sebuah mobil tua berwarna hitam tepat berhenti di depan rumahku. Muncullah seorang gadis berambut ikal hitam yang dia gulung ke atas, tidak butuh lama untukku mengenali kalau itu adalah Cheryl. Dia menemukan rumahku. Aku bergegas turun dari kamarku.

 

 

 

**

 

“Kau sangat cantik, sayang.”Nathan mematutkan tubuhku di depan cermin yang menampilkan pantulan tubuhku yang sudah berbalut gaun berwarna peach yang akan aku kutuk mulai saat ini. Aku hanya diam dan menunjukan wajah malas. “Senyumlah,”pintanya sambil menarik sudut-sudut bibirku untuk tersenyum, mau tidak mau membuatku tertawa pelan.

“Begitu lebih cantik,”ujar Nathan. Aku berbalik menghadapnya, dia tersenyum kemudian merapihkan sedikit rambutku yang hanya aku gerai begitu saja.

“Kau tahu aku sangat tidak ingin pergi, kenapa kalian memaksaku? Bukankah kalian tidak pernah memaksaku sebelumnya,”kutatap wajah sempurna Nathan dengan seksama. Mata birunya menatapku dengan lembut dan begitu menenangkan seperti melihat langit atau laut.

Mereka hampir tidak pernah memaksaku, mereka membiarkan aku melakukan apa yang aku inginkan. Jika aku tidak ingin pergi mereka tidak pernah memaksaku. Namun kali ini berbeda dan rasanya semenjak ulang tahunku yang ke tujuh belas kemarin mereka semakin pemaksa dan terlalu perhatian padaku. Terutama dalam kehidupan sosialku. Apa mungkin mereka semua sudah tahu bagaimana kehidupan sosialku selama ini?

“Banyak hal manusia yang belum kau rasakan. Cepatlah, Cheryl sudah menunggu di bawah.”aku menggeram pelan menyadari fakta bahwa aku akan pergi ke prom karena gadis kecil itu datang ke rumah.

Nathan keluar kamarku lebih dulu aku pun mengekorinya dibelakang dengan memasang wajah malas. Dengan cepat dia mencium keningku sekilas. “Selamat bersenang-senang,”katanya seraya memamerkan sederetan barisan gigi putihnya. Aku mendesah pelan, lalu turun ke bawah.

“Anita,”Cheryl menyapaku ketika sampai dibawah. Kulihat dia tengah dikelilingi oleh mereka. Malaikat-malaikatku terpaku melihatku yang baru saja datang. Wajah rupawan semakin rupawan karena eskpresi yang mereka buat sama persis dengan patung-patung Dewa Yunani. Apa aku tampak sangat aneh. Aku berdehem pelan.

“Anita, kau sangat cantik.”Bryan melangkah lebih dahulu kehadapanku dengan merentangkan tangannya hendak memelukku namun aku langsung mundur. Ada Cheryl disini dan aku malu.

Dia beralih pada bahuku dan menepuknya pelan seraya tersenyum hangat. “Selamat bersenang-senang,”ujarnya sama persis seperti ucapan Nathan dan tanggapanku juga sama persis seperti ketika Nathan mengucapkannya. Mendesah pelan.

“Ayo,”kataku pada Cheryl yang mengenakan gaun yang dibelinya itu.

Rasanya aku ingin waktu di putar sangat cepat saat ini, agar tiba-tiba acara prom sudah selesai dan aku bisa kembali ke rumah. Namun jelas itu adalah suatu hal yang mustahil. Kami baru saja akan berangkat dan prom baru akan dimulai 30 menit lagi. Cukup tepat waktu untuk sampai disina jika kami berangkat saat ini juga.

“Mereka kakakmu?”Cheryl bertanya ketika kami sudah di mobil.

“Iya, kenapa?”aku bertanya balik.

“Semuanya?”Kutolehkan kepalaku ke arahnya. Mata hitamnya menatapku lekat-lekat. Aku mengangguk mantap sebagai jawaban.

“Mereka tidak menganggumukan?”tanyaku, bisa saja keisengan mereka muncul.

“Tidak, mereka malah sangat baik dan ramah. Berbeda sekali denganmu,”Cheryl tertawa pelan dan melirikku sekilas sebelum menjalankan mobilnya. Aku tidak ramah? Bahkan Cheryl saja merasa begitu.

“Oh ya, dimana diantara mereka yang selalu membuatkanmu bekal?”tanyanya lagi.

“Yang ikut memohon agar aku pergi ke prom bersamamu tadi,”

“Benarkah? Sesuai dengan kata-kata ibuku. Kakakmu itu sangat tampan.”

Dimata manusia mereka memang sangat tampan, terlalu tampan malah tapi bagi mereka sendiri, mereka merasa biasa saja. Mereka menganggap diri mereka sama seperti manusia yang membedakannya hanya mereka memiliki sayap dan manusia tidak. Jadi, jangan pernah mengatakan pada mereka kalau mereka tampan karena tidak akan pernah digubris oleh mereka. Kata-kata seperti ‘Kami sama seperti kalian Anita’ atau ‘Kami tidak mempesona’ selalu menjadi pembelaan mereka ketika aku bilang mereka telah membuat orang-orang disekeliling mereka terpesona dan bagai melihat ciptaan Tuhan yang sempurna. Kurasa mereka memang berusaha merendah, malaikat-malaikatku terlalu baik.

 

**

 

Sekolah bergaya Eropa kuno ini telah disulap menjadi lebih cantik dan pastinya lebih terang. Untunglah ini malam mungkin jika siang tetap saja lampu-lampu terang benderang ini tidak akan mampu menutupi betapa suramnya bangunan ini. Lahan parkir sudah terisi penuh oleh mobil-mobil siswa yang datang membuat kami cukup lama mencari tempat berhenti.

“Ah, ada yang kurang.”Cheryl bergerak mencari sesuatu dibelakang mobilnya lalu tiba-tiba dia menyerahkan kotak coklat padaku. “Sneakers bukan untuk dipakai di prom”matanya melirik ke bawah ke arah kedua kakiku yang terbungkus dengan sneakers favoritku. Penuh aturan. Kubuka kotak coklat itu dan mataku membulat sempurna ketika mengetahui isinya. Uh, aku tidak akan pernah memakianya.

“Tidak.”kataku dan kututup kembali kotak itu.

“Anita, kau tidak bisa memakai sneakers,”diambilnya sepatu berhak tinggi itu dari dalam kotak dan menyodorkannya padaku.

“Tidak Cheryl,”

“Aku sudah memilihkan yang senada dengan gaunmu, pakailah.”

Baru kali ini aku bertemu seseorang yang sangat gigih. Aku menghela nafas perlahan lalu mencopot sepatu abu-abuku dan memakai sepatu yang masuk ke dalam list sesuatu yang tidak akan pernah kupakai. Hari ini aku merusak list ku sendiri dengan membiarkan diriku memakai gaun juga ini. High heels.

Cheryl kemudian turun dari mobil, kubuka pintu penumpang. Aku ngeri melihat aspla hitam yang terbentang dihadapanku. Aku merasa seperti anak kecil yang pertama kali belajar berjalan,bagaimana kalau aku jatuh?.

“Ayo,”Cheryl memperhatikanku lalu menarikku untuk berjalan. Aku berusaha menyeimbangkan tubuhku yang rasanya hampir jatuh karena diseret oleh gadis mungil ini. ini pertama kalinya aku memakai high heels dan Cheryl sudah menarikku berjalan. Rasanya aku seperti seorang nenek-nenek yang harus dibantu berjalan karena sudah terlalu tua.

Seluruh sekolah benar-benar didekorasi untuk pesta. Sepanjang koridor sekolah yang biasanya suram, kini tampak lebih ceria dengan berbagai hiasan warna-wanri, kertas mengkilap dan lampu-lampu lucu. Dari jauh saja sudah terdengar suara musik dari gedung olahraga yang digunakan sebagai tempat diadakannya prom tahun ini.

Gedung olahraga ini pun sudah disulap sedemikian rupa menjadi lebih hidup dan pastinya suasana pesta. Beberapa orang yang mungkin malas di dalam berdiri di sekitar pintu masuk berbicara dan tertawa dengan lawan bicaranya. Aku berjalan perlahan mengekori langkah Cheryl, berjalan menunduk untuk memastikan aku berjalan dengan langkah yang benar. Terjatuh dengan gaun di acara ini akan lebih memalukan lagi.

Suara dentuman musik semakin terdengar ketika kami sudah masuk ke dalam gedung olahraga. Ramai dan aku tidak terlalu suka hal itu. Lapangan basket diubah menjadi lantai dansa dengan beberapa pasangan yang tengah menari disana, sementara sisi-sisi lapangan berjejer meja-meja yang menghidangkan makanan juga minuman.

Cheryl berbisik padaku ditengah suara musik dan juga percakapan orang-orang yang membuatmu sulit mendengar“Aku kesana sebentar.”aku mengangguk dan gadis itu telah berjalan pergi meninggalkanku masuk diantara kerumunan orang-orang yang hadir.

Aku melirik ke kanan dan kiri seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Aku benar-benar merasa tidak nyaman ada disini. Sedikit kugeser tubuhku ke pinggir mencari pojokan.

“Maaf,”seseorang menyenggol bahuku membuatku sedikit terhuyung,ditambah dengan high heels membuatku semakin sulit menyeimbangkan tubuhku. Seorang gadis dengan gaun merah panjang tanpa lengan itu langsung pergi begitu saja. Kugenggam erat ujung gaunku dan mulai berjalan perlahan keluar dari gedung lewat pintu samping. Tidak berniat pulang hanya ingin mencari ruang terbuka yang lebih sepi dan hening. Di dalam membuatku pusing.

Samping gedung olahraga langsung terhubung pada lapangan sepak bola dan juga sebuah taman kecil yang jika ditelusuri lagi ke dalam akan sampai pada hutan disamping sekolah. Aku bernafas lega ketika sudah sampai diluar, ah rasanya lebih nyaman disini. Kuputuskan untuk duduk di dekat lapangan yang diterangi lampu pesta berwarna kekuningan. Namun langkahku terhenti ketika hampir sampai karena kulihat seseorang berdiri menghadap lapangan dan aku tahu siapa orang itu. Seperti sebuah kesalahan saat aku memutuskan untuk keluar. Lagi-lagi aku harus bertemu dengannya.

“Jangan pergi, tetaplah disini.”suara lembutnya menghentikan langkahku yang hendak kembali ke dalam. Aku sungguh kaget mendengarnya berbicara, dia merasakan kehadiranku bahkan tanpa berbalik.

Dia kemudian berbalik, tubuh tegap dan jangkungnya itu terbalut sempurna dengan jas hitam yang dia kenakan. Rambut kecoklatannya itu terlihat menjadi hitam dibawah sinar lampu yang temaram matanya pun terlihat lebih kelam. Kedua onyxnya itu menatapku dengan seksama membuatku merasa risih. Aku tidak pernah ditatap seperti itu terlebih lagi oleh seorang pria. Dia berjalan mendekat padaku membuat tubuhku terasa sangat aneh. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya dan genggaman tanganku pada ujung gaunku semakin menguat.

“Kau mau pergi dari sini?”dahiku mengkerut mendengar pertanyaannya. Kedua mata itu masih setia menatapku dengan sekasama.

“Anita, kau mau jalan-jalan denganku?”

 

 

 

**

 

Aku adalah gadis yang cepat memutuskan lalu meurutki keputusanku selang beberapa menit setelahnya dan kali ini kembali terjadi. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menerima ajakan pria yang sekelas denganku ini, semuanya berjalan begitu cepat. Saat ini aku sudah ada di dalam mobil pria bernama Marcus dengan segala penyesalan yang menggelayutiku. Menerima ajakan pria yang tidak kau kenal begitu saja, tidakkah aku tampak seperti gadis murahan. Sedikit kubenturkan kepalaku ke kaca mobilnya.

Pemandangan di luar sungguh sangat berbeda dengan suasana hatiku. Lebih gemerlap. Dia mengajakku bahkan sampai keluar kota kecil ini. Ya Tuhan, aku benar-benar bodoh, kalau dia berniat jahat padaku bagaimana?. Saint Cove benar-benar tampak seperti sebuah desa kecil dibanding tempat ini, lebih ramai dan lebih gemerlap. Ada perasaan takjub juga saat melihatnya. Sudah lama sekali saat terkahir kali aku tinggal di kota besar dan selama disini aku belum pernah mengunjungi tempat ini. Aku terkungkung di Saint Cove.

“Kau telalu lama tinggal di kota kecil,”setelah sekian lama dia terdiam kini dia berbicara dan dengan nada menyindir. Benar apa kata Cheryl, mereka sedikti sombong.

“Aku juga baru pindah ke Saint Cove,”belaku. Kudengar dia terkekeh pelan. Tawanya begitu merdu.

“Pantas mereka merendahkanmu.”dia kembali tertawa pelan. Aku mendengus kesal dan kembali asyik menatap keluar jendela.

“Kau suka makanan Italia?”tanyanya lagi, kutolehkan wajahku kesamping tepat ke hadapannya yang tengah menatap lurus ke depan jalan. Dalam jarak sedekat ini dia bahan tampak lebih rupawan. Kudengar dia berdeham membuatku sadar dari lamunanaku.

“Lumayan,”kataku seraya kembali memilih untuk menatap keluar jendela.

Tida terdengar lagi pertanyaan darinya dan terciptalah keheningan diantara kami. Lebih baik seperti ini, setidaknya aku bisa merutuki keputusan bodohku yang dengan santainya menerima ajakan Marcus pergi bersamanya. Dimana harga dirimu Anita?

Jalanannya begitu ramai, mungkin karena ini akhir pekan. Disini tidak begitu banyak pohon karena pohon-pohon itu sepertinya sudah terganti dengan gedung-gedung pencakar langit yang bertumpuk dipinggir-pinggir jalan. Beruntunglah Saint Cove masih memiliki pohon yang banyak.

Mobil putih ini berhenti di depan sebuah restoran dengan dinding batu bata merah yang dibiarkan ditumbuhi tumbuhan merambat yang baru tumbuh. Ada sebuah kaca besar yang membuat kita dapat melihat ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu berwarna kuning. Sebuah papan bertuliskan menu hari ini digambar dengan kapur warna-warni membuat restoran ini terkesan lama namun terlihat tampak hangat dan nyaman. Dari menunya sudah terlihat kalau ini adalah restoran Italia. Marcus keluar lebih dahulu, aku pun mengikutinya turun. Aku sungguh sangat hati-hati ketika keluar dari mobil, sepatu ini sungguh sangat mengangguku dalam berjalan dan benar saja baru beberapa langkah aku sudah terjatuh.

“Anita, kau baik-baik saja?”tanya Marcus yang kini tengah membantuku berdiri, aku tersenyum dan mengangguk. Hal yang sudah biasa bagiku, tanpa sepatu dengan hak tinggi itu saja aku sering kehilangan keseimbanganku apalagi dengan sepatu milik Cheryl.

Ah, itu sepatu milik Cheryl dan aku sukses membuat sepatu itu rusak. Bagaimana ini? Cheryl akan marah berkali-kali lipat padaku. Meninggalkannya di prom dan merusak sepatunya. Kenapa aku begitu ceroboh. Kutatap sepatu itu dan mendesah pelan, aku harus menggantinya secepatnya.

“Tunggulah disini,”ujar Marcus. Aku sempat melupakaannya yang berdiri tepat disampingku. Dia pergi begitu saja setelahnya tanpa berkata apa-apa lagi. Mau kemana dia? Aku kembali membuka pintu mobil putih itu dan duduk di dalamnya sambil menatap sepatu yang haknya sudah patah . Pasti Cheryl sedang mencariku saat ini dan aku merusak sepatunya, kombinasi yang sangat bagus untuk membuatnya tidak mau berteman denganmu lagi.

Kalau aku tidak menerima ajakan pria ini mungkin akhirnya tidak akan seperti ini. Benarkan, aku akan menyesali keputusanku ini.

“Ini,”dia kembali begitu cepat dan sudah ada disampingku yang tengah duduk di mobilnya dengan membuka pintu mobil. Aku mendongak menatapnya yang tengah memberikanku sebuah kotak sepatu.

“Pakai sepatu ini,”katanya lagi. Dia membelikanku sepatu?

“Ti-“belum sempat aku membantah, pria itu lebih dahulu berjongkok dihadapanku lalu membuka kotak sepatu yang dia bawa, mengeluarkan sneakers putih lalu menarik kakiku dan memakaikannya sepatu. Lagi-lagi aku seperti orang bodoh yang hanya menurut. Wajahku memanas ketika dia memakaikanku sepatu lalu jemari lentiknya mengikat tali sepatunya.

“Ayo makan”dia berdiri dan berkata sekilas sebelum meninggalkanku berjalan menuju restoran Italia itu. Aku menghembuskan nafas lega. Rasanya seperti menahan nafas ada didekatnya.

 

**

 

Makan dalam keheningan, bahkan aku merasa seperti tida sedang makan melainkan diawasi. Aku tidak tahu kenapa pria ini selalu memperhatikanku selama makan tadi. Apa ada yang salah padaku? Kurasa tidak. Aku makan dengan benar, aku memegang pisau dan garpu juga dengan benar. Dia tidak bertanya atau mengajak bicara. Dia hanya diam. Diam yang membuatku bingung. Bahkan sampai kami selesai pria itu langsung saja berdiri dari duduknya setelah membayar. Kau semakin tampak seperti gadis murahan dengan membiarkan pria itu membayarimu, Anita.

Ketika kami keluar dia tidak berjalan kembali ke mobilnya dan malah terus berjalan entah kemana. Aku terpaksa mengekorinya, kalaupun aku memilih pulang, aku tidak tahu jalan pulang. Harapanku kembali ke rumah adalah dengan pria yang semakin terlihat aneh ini.

Aku berhasil menyusul langkah panjanganya meski dengan susah payah dan berjalan berdampingan bersamanya.”Kenapa kau diam saja? Katakanlah sesuatu.”aku terkejut mendengar suaranya. Setelah sekian lama terdiam, dia mau bicara juga. Jalannya mulai pelan.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan,”kataku. Aku memang tidak tahu apa yang harus aku katakan pada pria yang tida kukenal ini.

“Dasar gadis aneh,”

Apa? Dia bilang aku gadis aneh? Aku berhenti berjalan dan menatap pungunggunya kesal, dia sudah kembali mendahuluiku. “Aku bukan gadis aneh,”desisku kemudian kembali menyusulnya. Benar-benar sebuah kesalahan aku menerima ajakannya.

Dia mengantarku sampai ke depan rumah. “Terima kasih,”dia berkata tepat sebelum aku keluar mobilnya. Aku tersenyum sekilas sebelum keluar dari mobil dan setelahnya aku tidak menoleh lagi sampai aku masuk ke dalam rumah. Aku akan berusaha melupakan kejadian malam ini, beranggapan bahwa aku tidak pernah pergi bersamanya.

“Bagaimana acaranya?”Nathan sudah ada di depan pintu ketika aku membukanya. Wajahnya berseri-seri dna ternyata bukan hanya dia yang tengah menungguku di depan pintu. Aiden dan Henry juga.

“Bagus,”hanya kata-kata itu yang bisa kujadikan jawaban karena tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak ada disana menikmati pesta melainkan terjebak bersama pria berwajah sempurna yang pendiam dan aneh bernama Marcus.

Aku berjalan melewati mereka begitu saja hendak ke kamar namun baru sampai di depan tangga. Aku melihat Dennis tengah berbicara bersama Andrew, kudekati mereka dan dengan sengaja menyenderkan kepalaku pada bahu Dennis. Pria itu sedikit terkejut namun tangannya malah membelai kepalaku perlahan.Andrew tersenyum kecil melihat tingkahku yang seperti anak kecil ini. Biarlah sudah lama tidak seperti ini bersama Dennis. Mereka kembali berbicara dan tentu dengan bahasa mereka. Diam-diam aku mendnegarkan mereka. Seperti yang sudah kubilang aku bisa bahasa mereka meski hanya sedikit.

 

Sayap hitam.Dunia kegelapan. Menculik manusia.

 

Apa yang mereka bicarakan,kenapa terdengar sangat menyeramkan. Tanpa sadar kukepal kedua tanganku dengan kuat. Ingatanku membawaku pada mimpi-mimpi sayap hitam tersebut.Mimpiku apa sama dengan yang dimaksud pada cerita mereka. Apa mimpi itu seperti tanda? Tidak boleh terjadi sesuatu pada mereka.

Aku berdiri dan berjalan dengan cepat menaiki tangga. Aku merasa tubuhku gemetar, entah karena apa. Apa karena cerita tadi?

“Anita,”kudengar namaku diapnggil ketika aku tepat memasuki kamarku.

Aku berjalan mondar-mandir dengan tangan yang bergetar. Kilasan mimpi itu kembali memenuhi pikiranku. Tidak akan terjadi apapun pada mereka kan? Mereka akan baik-baik saja. Mereka tidak lemah. Namun seiring aku merapalkan kata-kata itu dipikiranku, aku semakin ketakutan.

“Anita,”

“Dennis,”aku terkesiap ketika merasakan tubuh hangat Dennis melingkupiku, tangannya mengelus punggungku perlahan. Di ciumnya pipiku. “Semua akan baik-baik saja, sayang.”lirih Dennis.

Kutatap kedua bola mata biru miliknya yang selalu meneduhkan dan membuat aku tenang tapi tidak untuk kali ini. Aku takut tidak bisa melihat tatapan teduh ini lagi. “Kalian tidak akan meninggalkanku, kan? Mimpi it-“

Dennis menaruh telunjuknya di bibirku dan menggeleng pelan. “Tidak ada hubungannya dengan mimpimu. Itu hanya bunga tidur saja. Kami tidak akan pernah menginggalkanmu, hm?”

“Kalian baik-baik saja.”

“Kami lebih dari baik-baik saja, sayang.”

 

**

 

Mimpi itu menghampiriku lagi tadi malam dan kali ini semakin menyeramkan. Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Belum pernah aku merasakan kegugupan dan ketakutan seperti ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang akan terjadi?.

Lokerku begitu berantakan ketika keesokan paginya aku buka, ini sudah yang kedua kalinya terjadi. Tidak bisakah mereka membiarkan hidupku tenang. Kututup dengan kencang pintu loker berwarna abu-abu itu.

“Anita,”Cheryl tepat ada dihadapaku ketika aku berbalik. Kedua alisnya bertaut dan wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. Oh Tuhan, aku lupa memberitahunya semalam kalau aku pulang lebih dahulu. Ketakutanku semalam membuatku melupakan kehidupanku yang lain. Sudah jelas dia sedang marah padaku.

Dia menyodorkan sebuah kotak berwarna coklat kehadapanku. Aku mengerenyit.

“Kau ingin membujukku dengan memberikan sepatu ini?”tanyanya.

“Sepatu?”aku tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Aku butuh penjelasanmu kenapa kau tiba-tiba menghilang semalam. Kau tahu aku mencarimu dan dengan seenaknya kau menaruh kotak ini di lokerku,permintaan maaf,eh? Aku tidak butuh ini. Aku butuh penjelasanmu.”

Wajahnya berkerut dibeberapa tempat menandakan dia sedang marah. Namun aku tidak tahu apapun dengan kotak dihadapanku ini.

“Kau bilang kau merusak sepatuku dan membelikannya yang baru. Sebenarnya apa maksudmu?”Cheryl memberikanku secari kertas, aku mengambilnya dengan cepat dan membacanya. Aku tercengang melihat kertas yang bertuliskan tulisan tanganku tapi sungguh aku sama sekali tidak pernah menulisnya. Lagipula bagaimana aku bisa membelikan sepatu baru untuk Cheryl sementara aku tidak ke toko sepatu kemarin. Lalu siapa yang melakukan ini?

Marcus. Aku berjalan melewati tubuh Cheryl. Aku harus mencari pria itu. Mungkinkah dia yang melakukannya? Aku tidak yakin, hanya saja siapa lagi yang tahu kalau sepatu itu rusak. Malaikatku? Tidak mungkin, aku sudah bilang untuk tidak mencampuri urusanku lagi. Lagipula sepertinya semalam mereka tidak mengawasiku, buktinya mereka tidak tahu kalau aku kabur dari pesta.

Ada dikelas mana dia sekarang?. Aku mengecek setiap kelas yang aku lewati. Keberadaanya tidak juga kutemui, saudara-saudaranya pun juga tidak aku temukan.

“Anita,”Nikki menghentikan langkahku yang tengah berjalan. Aku tidak menyadari keberadaannya. Aku tersenyum padanya.

“Mencari seseorang?”tanyanya. Aku mengangguk pelan,ingin aku kembali mencari namun Nikki malah mengajakku bicara. Bagaimana ini? Aku harus menemukannya dan memintanya menjelaskan semuanya. Aku tidak bisa menerima apa yang dia lakukan? Dia pikir aku gadis yang dia sewa untuk menemaninya malam itu dan dia menganggap apa yang dia lakukan sebaai bayarannya. Benar kata Cheryl, pria-pria yang sombong.

Tepat ketika aku harus meladeni pembicaraan Nikki mengenai lukisannya. Pria –pria itu melintas dengan langkah anggun milik mereka. Tertawa satu sama lain dan memajang senyum menawan pada siapa saja yang menatap mereka. Sungguh aku membencinya sekarang. Apa mereka pikir karena mereka memiliki segalanya maka mereka bisa melakukan apapaun yang mereka sukai. Apa semuanya akan senang dengan apa yang mereka lakukan?. Pria itu kembali berjalan dibelakang yang lain, tidak ikut berada ditengah-tengah kebahagian menjijikan mereka. Seperti sebuah adegan di dalam film ketika mereka melintas tepat disampingku dan kusadari Marcus melirikku sekilas.

 

**

 

Bel baru saja berbunyi dan aku bergegas keluar kelasku. Aku harus menemui Marcus sebelum pria itu pulang dan mengembalikan apa yang sudah dia gantikan. Bukan dia yang harus menggantinya. Seenaknya saja dia melakukan itu. Aku bukan Alishia yang selalu terlihat memuja Spencer dan mau diberikan apa saja olehnya.

Ketika aku kelura gedung tua ini, kulihat mereka tengah berkumpul di depan mobil mewah mereka itu. Alishia juga ada disana, di dalam rangkulah Spencer. Jika dilihat dari jauh mereka benar-benar tampak seperti sedang memerankan adegan dalam sebuah film, begitu sempurna. Marcus agak menyingkir dari kerumunan mereka seperti kebiasaannya dan itu bagus. Aku tidak mau masuk ke dalam lingkaran adegan film itu. Kupercepat langkah kakiku menuju tempat pria berwajah stoic dan berhenti dihadapannya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan ketika melihatku ada dihadapannya. Mata sewarna madunya menatapku penasaran dan hati-hati.

Kuambil dompet di dalam tasku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. “Kau tidak perlu membayariku sepatu untuk Cheryl. Aku bisa membelinya sendiri dan jangan pikir aku sama seperti gadis-gadis lain yang dengan mudahnya jatuh pada pesona kalian. Aku menerima ajakanmu kemarin karena aku memang tidak ingin ada disana bukan karena aku ingin mendekatimu.”

Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi yang sama namun kedua tangannya terkepal kuat. Onyxnya masih menatap mataku yang lagi-lagi membuatku risih. Aku mundur sedikit lalu berbalik.

Rasanya baru berjalan beberapa langkah tanganku sudah ditarik, membuatku harus kembali berbalik. Kini aku bisa melihat wajah Marcus yang sedang menahan marah. Dia menarikku dengan kasar, aku tidak kuasa menahan kekuatannya yang besar. Tangan besarnya itu menarikku menuju mobilnya. Kulihat saudara-saudaranya menatap kami dengan tatapan bertanya-tanya. Dia memasukkan tubuhku ke dalam mobil.

“Marcus,”ujarku ketika dia juga ikut masuk dan kemudian menjalankan mobilnya. Kejadian yang begitu cepat membuatku bingung. Kemana dia akan membawaku?

Ketika aku sadar dia sudah membawaku jauh dari sekolah aku mulai takut, apa yang akan dia lakukan padaku? Apakah kata-kataku tadi telah membuatnya marah?. Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan, aku tidak mau dianggap seperti gadis-gadis lain yang berusaha mendekati  mereka. “Marcus, turunkan aku.”kataku seraya menoleh padanya.

Pria itu tidak menggubrisku dan hanya menatap lurus ke jalan, rahangnya mengeras dan jelas terlihat dia sedang marah atau lebih tepatnya berusaha menahan emosinya. “Marcus, turunkan aku sekarang!”seruku dan dengan tiba-tiba dia memberhentikan mobilnya membuat kepalaku terantuk dasboard mobil karena ternyata aku tidak memakai seatbelt. Dia mengahdapaku. Mata sewarna madunya seakan menyala-nyala menatapku dan nafasnya memburu. Ada rasa takut yang muncul dalam benakku. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu padaku karena perkataanku tadi?

“Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu, kupikir kau senang aku mengganti sepatu itu,”ujarnya tepat ada dihadapanku dan dia memajukan tubuhnya ke arahku. Aku terjebak. Rasa takut itu semakin menjad-jadi dan bisa kurasakan tanganku gemetar disamping tubuhku. Apa yang akan dia lakukan.

“Kenapa sulit sekali membaca pikiranmu”sebuah pernyataan dengan nada frustasi terdengar. Dia mengucapkanya tepat di depan wajahku. Kini matanya lebih lembut menatapku. Gemetar itu kini berubah menjadi sebuah debaran jantung yang tidak beraturan dan bisa kurasakan aku menahan nafas lagi seperti kemarin saat dia memakaikanku sepatu.

Hening. Hanya terdengar tarikan nafasnya saja di dalam mobil ini. Wajahnya masih begitu dekat di depan wajahku. Matanya meneliti wajahku dengan seksama dan berhenti pada leherku. Pada sebuah kalung perak yang tergantung disana. “Kau dilindungi,”dia menjauhkan wajahnya dan akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Jika dia tidak menjauhkan wajahnya mungkin aku bisa mati karena kehabisan nafas. Selain jantung sepertinya paru-paruku juga berjalan tidak normal saat didekatnya.

Marcus menjalankan mobilnya, memutar balik. Aku tidak berani menoleh padanya sepanjang perlajanan entah kemana kali ini dia membawaku namun aku yakin dia sedang membawaku pulang. Dua kata-katanya tadi terus terngiang dipikiranku. Tidak bisa membaca pikiranku, aku dilindungi. Apa maksud ucapannya?

“Sudah sampai,”Marcus memberhentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Aku keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun. Mobil putih itu pun pergi begitu saja. Aku mendesah pelan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini. Marcus. Ah, aku bingung! Kutatap jalanan yang begitu lengang dihadapanku. Lalu tiba-tiba sesuatu turun dari langit, aku mendongak dan sesuatu itu turun lagi menyentuh tanganku dan menghilang begitu saja. Sayap hitam.

Advertisements

12 thoughts on “FF: White Wings Chapter 4

  1. speechless thor, akhir ny anita ketemu juga sma marcus 🙂
    Jadi kngen leeteuk oppa TT

    Uuh jngn lama2 dong thor part brikut ny,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s