FF: White Wings Chapter 3

Three

 

Gambarku selalu berkutat diantara ketujuh sosok bersayap itu, tidak pernah yang lain. Aku selalu ingin menuangkan kesempurnaan mereka di dalam kertas putih yang kumiliki ini, apapun yang sedang mereka kerjakan aku akan dengan senang hati melukis mereka. Waktuku banyak disita untuk menyempurnakan gambaran mereka dan setiap malam menjelang tidur aku akan mengamati semua gambaran mereka memperhatikan mana yang kurang sehingga aku bisa menyempurnakannya lagi esok. Namun sepertinya kebiasaanku itu berganti hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menggambarkan sosok yang lain dari malaikat-malaikatku. Manusia. Aku sendiri tidak mengerti kenapa pensilku malah menggoreskan wajahnya tepat di buku gambarku sepanjang pelajaran. Seorang pria dengan wajah penuh kesempurnaan yang baru datang tadi pagi. Bahkan aku sama sekali tidak mengetahui namanya. Sungguh aneh.

Kususuri perlahan lukisan wajahnya dan memperhatikannya dengan seksama, mataku berhenti pada matanya. Kuambil pensil warna milikku yang biasa aku taruh di laci meja belajarku dan mulai mencari-cari warna apa yang cocok untuk mata sewarna madu yang sanggup menghipnotisku. Kuakui dia rupawan, sangat malah tapi yang membuatku benar-benar terpesona padanya adalah matanya. Sorot mata tajam dan tegas sewarna madu. Kugoreskan perlahan pensil warna itu ke matanya, hati-hati, aku ingin gambarku benar-benar merefleksikan mata indahnya. Kuhela nafas perlahan begitu selesai, kupandangi lekat-lekat matanya.

“Bagaimana bisa aku menggambar seseorang yang bahkan tidak kuketahui namanya,”aku bermonolog sendiri di dalam kamarku yang temaram ini karena aku hanya menyalakan lampu belajarku saja. Kutulis tanpa nama pada sudut gambarku karena aku tidak mengetahui siapa nama sosok yang aku lukis. Biasanya nama yang kutulis selalu berkutat diantara ke tujuh pria rupawan kesayanganku itu.

Pintu kamarku diketuk perlahan membuat fokusku beralih dari lukisanku ke pintu kamar. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan perlahan menuju pintu kamar dan membukanya.

“Andrew,”kataku pada pria yang kini tengah tersenyum di balik pintu kamar.

“Kau tidak turun lagi sejak makan malam, apa kau baik-baik saja?”tanyanya, khas Andrew sekali, terlalu perhatian.

Aku sendiri baru sadar bahwa sejak makan malam aku terus berada di kamarku, lagi-lagi suatu keganjilan. Tidak biasanya aku melakukan hal ini dan semua alasannya hanya karena pria baru itu.

“Aku sedang mengerjakan tugas,”aku memberi alasan kenapa aku tidak keluar dari kamar. Pria itu menganggukan kepalanya.

“Mau menonton TV bersama?”tawarnya, aku mengangguk dengan cepat, lalu keluar dari kamar. Rasanya tidak benar jika aku terus di dalam kamar dan memandangi lukisan itu.

“Siapa yang hadir malam ini?”tanyaku ketika kami menuruni tangga bersama, tangan besarnya menyentuh kepalaku dan mengusapnya perlahan.

“Hanya Dennis dan Matthew yang sedang pergi,”

Benar katanya, dua orang itu tidak bisa kutemukan diantara wajah pria-pria yang kini tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka menoleh ke arahku ketika aku berjalan mendekat pada mereka.

“Akhirnya kau keluar juga dari kamarmu,”Henry berujar seraya menyuruhku duduk di sofa sementara yang lain duduk di bawah.

“Memang hanya Andrew atau Dennis yang bisa membujukmu keluar,”kini Bryan yang berkomentar, menurunkan buku yang sedang dia baca dan melirikku. Aku mengulum senyum.

Aku memang paling dekat dengan Dennis dan Andrew tapi aku juga sangat dekat dengan Nathan namun aku selalu merasa nyaman diantara kedua orang ini. Meski jika hari itu adalah hari terburukku, ketika ada disekitar mereka rasanya hari buruk itu sirna.

Kunyamankan tubuhku duduk di atas sofa dengan kaki yang ikut kunaikan. Televisi menyala dihadapanku entah sedang menampilkan acara apa, aku tidak tahu. Tidak ada yang memperhatikan televisi, semuanya tengah serius menbicarakan sesuatu di bawahku. Kembali dengan bahasa mereka. Mereka berbicara terlalu cepat sehingga aku tidak mengerti. Aku menopang wajahku dengan sebelah tangan memperhatikan layar televisi yang kini tengah menampilkan acara berita.

“Coklat panas, sayang,”mug putih tepat ada dihadapanku, aku mendongak dan Nathan lah yang membawa mug itu.

Dia duduk tepat disampingku, kuambil mugnya dan mulai menyesep cairan coklat manis ini.

“Ada sesuatu yang terjadi hari ini? wajahmu terlihat aneh,”aku tersenyum mendengar kata-kata Nathana,kuletakkan mug putih itu ke meja samping sofa. Nathan selalu tahu ada yang aneh dengan diriku. Dia terlalu perasa.

Kusurukkan tubuhku pada tubuh Nathan dan pria itu melingkarkan tangannya untuk memelukku sehingga aku bersandar di dadanya. Aku suka dipeluk oleh meraka karena rasanya selalu hangat.

“Tidak ada, aku baik-baik saja,”jawabku.

Nathan memainkan rambutku, “Benarkah? Tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?”tanyanya masih belum menyerah.

Aku menggeleng perlahan.

“Bagaimana dengan Nikki? Dia sepertinya sangat baik padamu,”kutegakkan tubuhku begitu mendengar dia menyebut Nikki. Oh, ini pasti ulah Aiden, siapa lagi yang memata-mataiku di sekolah kalau bukan dia dan parahnya dia sampai mengetahui soal Nikki. Aku menggeram pelan dan menatap tajam pria yang membelakangiku, sementara dia tidak terusik dengan geramanku tadi.

Nathan tertawa pelan. “Bukan Aiden, aku yang penasaran.”

Well, jadi sekarang semua malaikatku sangat penasaran dengan kehidupan sosialku sehingga harus memata-mataiku. Semakin aku bertambah dewasa kurasa mereka semakin protektif.

Aku mendesah pelan dan Nathan kembali menarikku ke dalam pelukannya, dia mengusap kepalaku perlahan. “Kurasa sudah sewajarnya kau memiliki hubungan dengan seorang pria. Bukankah di usiamu biasanya sudah memiliki kekasih, hm?” lagi-lagi efek buku itu membuat Nathan menjadi seperti psikiater.

“Aku tidak tertarik untuk saat ini.”

Nathan mendesah pelan, “Tapi nanti kau akan menikah, manis. Ah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan suatu saat kau akan menikah dengan seorang pria yang kau cintai dan kami ada menyaksikan pernikahamu. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, dulu kau masih begitu kecil, menangis dalam gendonganku dan sekarang kau sudah menjelma menjadi gadis yang luar biasa cantik. Setelah lulus, kau akan kuliah lalu kau akan menikah,”

Nathan terus berceloteh, aku hanya bisa menanggapi dengan senyuman. Waktu berlalu memang begitu cepat. Akankah aku masih bisa memiliki mereka ketika aku sudah menikah ataukah mereka akan pergi begitu saja ketika aku sudah memiliki seorang pria yang akan melindungiku? Kalau mereka akan pergi karena hal itu, aku lebih baik memilih untuk tidak menikah. Seperti yang selalu kubilang, kehadiran mereka sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh yang lainnya.

 

 

**

 

Musim semi segera datang, pagi ini matahari sudah tidak malu-malu lagi menampakan dirinya di langit. Awan kelabu pun perlahan-lahan mulai menghilang pergi digantikan awan-awan putih berbentuk lucu yang menghiasi angkasa. Aku begitu bersemangat ke sekolah pagi ini. Cuaca yang baik mampu membuat moodku juga baik. Aku kembali ke rutinitasku berangkat sekolah lebih awal. Trauma masih menggelayutiku tentu saja, meski sekarang sudah ada yang di cap sebagai anak baru lagi tapi sepertinya kehadiran anak-anak baru itu tidak membuat mereka ingin mengerjai ke lima pria-pria itu. Mereka terlalu rupawan dan tidak aneh, meski dimataku mereka malah terlihat aneh.

Mobil convartible merah itu sudah ada di parkiran sekolah dan terlihat beberapa orang keluar dari mobil tersebut. Aku melihat Alishia diantara mereka, wow bahkan salah satu dari mereka sudah bisa mendaptkan gadis paling populer disini. Aku berdecak pelan. Mereka saling berangkulan berjalan menuju gedung sekolah. Mataku terhenti pada sosok yang baru turun dari Audi putih yang baru datang karena dia tepat menatapku. Rambutnya hitam sehitam kayu eboni dan matanya sedikit kecoklatan. Kedua mata kami saling bertatapan, ada siratan penasaran diwajahnya padaku. Tak lama kemudian seseorang menepuk bahunya, pria yang sekelas denganku di kelas biologi. Pria dengan warna mata seperti madu. Kedunya kemudian melangkah masuk ke dalam gedung. Mereka sungguh aneh.

Pagi hari ini aku harus masuk kelas fisika Mr. Connors sudah ada di depan mejanya ketika aku masuk ke dalam kelas. Dia adalah guru yang selalu datang lebih awal. Dia tengah membaca buku ketika aku melewatinya untuk mengambil tempat duduk di pojok belakang, kesukaanku. Satu per satu murid mulai masuk dan tepat ketika bel berbunyi mereka berlarian untuk masuk ke dalam.

Aku tengah disibukkan dengan membaca materi hari ini ketika suara kursi ditarik mengusikku. Setahuku kursi disampingki kosong. Kudongakkan kepalaku dan menoleh kesamping. Aku terkesiap kaget ketika mendapati pria yang kutatap di parkiran tadi duduk tepat disampingku. Aku sungguh akan mati, bagaimana kalau dia bertanya-tanya kenapa aku menatapnya tadi. Kurasa orang tidak suka ditatap seperti tadi sama sepertiku tapi aku sendiri tidak tahu kenapa aku malah menatapnya tadi.

“Selamat pagi,”Mr. Connors memulai pelajarannya di pagi yang cerah ini, bahkan sinar matahari mampu menembus jendela kaca sehingga membuat ruang kelas ini lebih bercahaya dari sebelumnya.

Hari ini aku berniat fokus memperhatikan, takut kalau-kalau pria-pria bersayap itu kembali memata-mataiku. Sebuah soal dituliskan Mr. Connors di depan dan meminta untuk salah satu dari kami maju untuk menjawabnya.

“Siapa yang bisa menyelesaikannya?”tanya Mr. Connors. “Ya, Vincent.”Mr. Connors menujuk tepat kesampingku, pria itu menaikkan tangannya dan kemudian keluar dari tempat duduknya lalu berjalan ke depan kelas. Lagi-lagi semua mata tertuju padanya. Soal Mr. Connors itu berada antara level sedang sampai sulit dan dia masih anak baru untuk mengenal tipe soal Mr. Connors. Namun dia begitu berani sudah mengajukan diri.

Dia mulai menuliskan jawabannya di papan tulis begitu percaya diri. “Kau masuk kelas khusus dulu?”sebuah pujian dalam bentuk tanya terlontar dari Mr. Connors pada pria bernama Vincent itu sementara dia hanya tersenyum dan mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya. Aku meliriknya sekilas dan tepat ketika aku meliriknya dia tersenyuum. Aku buru-buru mengalihkan tatapanku lagi.

 

**

 

Kantin menjadi lebih riuh hari ini, siapa lagi kalau bukan karena kelima pangeran tampan yang entah berasal darimana menganggu ketenangan kota kecil ini dengan kesempurnaan yang mereka miliki. Aku penasaran apakah semuanya sepintar Vincent yang berhasil menjawab seluruh soal Mr. Connors hari ini? mungkin, menilik ada kemiripan diantara mereka. Tampan dan pintar, apalagi kekurangan mereka.

Lagi-lagi dengan bodohnya aku menatap meja tempat mereka duduk, mereka terlihat asyik bercengkrama dengan Alishia juga ada disitu, dirangkul oleh salah satu dari mereka yang berpotongan rambut paling pendek berwarna pirang. Kurasa mereka sudah menjadi sepasang kekasih, hanya dalam waktu singkat. Namun ada satu orang, pria yang sekelas denganku di kelas biologi, dia hanya menatap keluar jendela sama seperti terakhir kali aku melihatnya di kelas. Entah apa yang menarik minatnya dengan melihat keluar jendela. Tidakkah dia ingin mengobrol dengan yang lain, dia terlihat paling tidak nyaman disitu. Ah, apa yang aku pikirkan, sungguh bodoh. Menatap mereka saja sudah sebuah kebodohan ditambah lagi dengan menyimpulkan sesuatu yang bahkan tidak kau ketahui tentang mereka.

“Anita,”

Cheryl duduk di hadapanku dan meletakkan nampanya, dia tersenyum maka aku pun membalas senyumnya. Setidaknya kehadirannya mampu mengalihkan tatapanku pada mereka.

“Kulihat daritadi kau memperhatikan mereka?”tanya Cheryl sambil melirik ke meja mereka yang ada di sudut kantin.

“Tidak,”jawabku cepat sebelum dia semakin yakin aku menatap mereka terus.

“Rambut hitam dengan wajah anak kecil itu Vincent, pacar Alishia yang baru itu Spencer, yang paling tinggi itu Joe, yang memiliki tatapan mata menyeramkan itu Jeremy dan terakhir yang menatap keluar jendela itu Marcus,”aku mengerjapkan mataku mendengar penjelasan Cheryl yang begitu mendetil, bagaimana dia bisa tahu?. “Aku wartawan sekolah dan mereka akan menjadi headline bulan ini, permintaan Ted.”pernyataan akhir Cheryl menjawab pertanyaan dipikiranku.

“Aku tidak habis pikir seberapa pentingnya membicarakan mereka,”nada suara Cheryl menjadi jengkel dan ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan ketidak sukaan pada mereka . Satu-satunya yang tidak terpesona pada mereka adalah Cheryl.

“Mereka kaya, tampan dan pintar. Mungkin karena itu.”

Cheryl mengerenyitka dahinya dan berdecak pelan. “Terserahlah, aku tidak peduli seberapa sempurnanya mereka. Tidak ada manusia yang sempurna.” Benar kata Cheryl, tidak ada manusia yang sempurna. Lalu, mereka bukan manusia kalau begitu?

Pria bernama Marcus berdiri dari duduknya. Aku kembali menatap mereka karena cerita Cheryl tadi dan menyadari pria yang sekelas denganku di kelas biologi yang ternyata bernama Marcus beranjak dari duduknya. Wajah stoic nya benar-benar memancarkan aura yang dingin. Cara jalannya sangat angkuh dan ketika dia melewati mejaku perasaan dingin dan kebas itu muncul lagi.

“Hei Anita, kau baik-baik saja?”Cheryl menyentuh jemariku dan membuat rasa itu hilang. Apa sebenarnya yang tadi itu?

“Iya, aku baik-baik saja.”jawabku dan kembali menyantap bekal buatan Nathan. Aku selalu merasa aneh dengan kehadiran pria bernama Marcus itu.

 

**

 

Koridor sekolah banyak ditempeli kertas dengan warna mencolok, aku tidak tahu apa itu. Maka begitu sampai di depan lokerku aku memperhatikan pamflet yang ditempel tepat disampingnya. Spring Prom. Bukan sesuatu yang menarik minatku tentu saja.

“Anita,”Nikki berjalan menghampiriku, dia berdiri tepat disampingku dan sama-sama menatap pamflet prom itu. “Kau akan datang?”tanyanya.

“Aku tidak bisa dansa.”kataku cepat.

Dia menoleh padaku. “Aku juga tidak bisa tapi aku berniat untuk datang. Ayolah datang saja.”ujaranya, mata hitamnya berusaha meyakinkanku untuk datang namun aku memang sama sekali tidak ada niatan.

“Akan aku pikirkan,”aku tersenyum di akhir kalimatku lalu berjalan meninggalkannya.

Dansa bukan keahlianku, sangat bukan. Ada diurutan paling bahwa hal-hal yang tidak bisa aku lakukan. Makanya aku sangat tidak tertarik pada hal-hal seperti prom.

Perpusatakaan sekolah ini benar-benar mirip seperti kastil. Bagaimana bisa mereka mempertahankan bentuk seperti ini? rak-raknya begitu tinggi sehingga kau butuh tangga untuk mengambil buku yang berada diatas. Hari ini aku harus meminjam buku biologi untuk besok, essay yang harus aku kerjakan malam ini.

Aku sudah berbelok dua rak untuk mencari buku itu namun tidak kunjung kutemukan. Suasana perpustakaan ini begitu sepi karena kebanyakan murid sudah memulai kelasnya. Disini juga satu-satunya tempat yang belum terjamah sinar matahari. Sepertinya sinar matahari hanya akan masuk ke ruangan ini musim panas nanti.

Aku mendesah lega ketika akhirnya aku menemukan buku bersampul hitam itu dan beruntung tida ada di rak atas, cukup terjangaku oleh tanganku. Namun ketika aku menyentuh buku itu, sebuah tangan lain juga menyentuh buku yang sama. Marcus juga ingin mengambil buku yang sama. Aku melepaskan tanganku, sudah kubilang aku merasa dia sangat mengintimidasiku disaat seharusnya akulah yang berhak mempertahankan buku itu karena aku masuk ke sekolah ini lebih dulu. Sepertinya aku mengalah. Dia mengambil buku itu tetap dengan wajah yang datar lalu menyodorkannya padaku. Aku mengerjapkan mataku tidak percaya, dia memberikannya padaku. Kuambil buku itu dan setelahnya dia langsung berbalik dan hilang. Kenapa dia memberikannya padaku? Apa dibalik wajahnya yang dingin itu sebenarnya dia baik?

Benar kata Dennis, kau tidak bisa menyimpulkan seseorang dari wajahnya saja. Meski mungkin terlihat jahat belum tentu sebenarnya dia jahat. Manusia memang aneh, bisa wajah yang terlihat baik-baik ternyata adalah seorang penjahat. Mungkin dia juga begitu. Dibalik wajahnya yang datar dan dingin sebenarnya dia baik. Ternyata apa yang Dennis selalu katakan sejak aku kecil baru aku pahami dan gunakan saat ini.

 

**

 

Mataku terasa berat ketika pagi hari. Semalam aku begadang untuk menyelesaikan essay biologi itu dan pada akhirnya aku sangat mengantuk pagi ini. Nathan bahkan harus menyadarkanku terus menerus ketika sarapan karena beberapa kali aku hampir membenturkan wajahku ke meja. Untunglah aku masih bisa selamat sampai sekolah dan berhenti di halte yang tepat.

Rasa kantukku mengalahkan rasa penasaranku sehingga tidak seperti kemarin-kemarin, aku selalu dipenuhi rasa penasaran pada lima murid baru itu. Hari ini aku langsung masuk kelas namun sialnya pria itu juga sudah ada di kelas. Marcus tengah duduk membaca buku di tempat dudukku dulu karena sekarang tempat itu menjadi miliknya.

Hanya ada kami berdua di dalam kelas dan rasanya sungguh aneh. Hening. Bahkan tarikan nafas kami saja tidak terdengar. Dia begitu larut dengan bacaannya sementara aku bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba saja rasa kantukku hilang. Sempat berpikir untuk mengucapkan terima kasih padanya karena buku dihadapanku ini tapi kuurungkan niatku. Tidak bisa. Aku tidak mungkin mengajaknya bicara lebih dahulu, dia akan berpikiran aku sok kenal. Sebaiknya aku memeriksa kembali essayku, lebih baik begitu.

“Anita.”

Suara lembut terdengar ditelingaku. Mereka bahkan sampai memanggilku di kelas. Sungguh malaikat-malaikat yang terlalu ingin tahu.

“Anita.”kuacukhkan panggilannya lagi. Mereka harus tahu kalau aku tidak suka dengan keberadaan mereka yang mengawasiku.

“Anita.”aku menaruh essayku dan mendongak, ketika aku menoleh ke samping Marcus tengah menghadap ke arahku, buku gambarku ada ditangannya dan tengah dia sodorkan padaku.

“Anita.”aku terperangah mendengar suaranya, jadi sejak tadi yang memanggilku adalah dia. Oh, bagaimana bisa suaranya begitu serupa dengan mereka. Halus dan lembut.

Dia menantiku mengambil buku milikku itu dan dengan segera kuambil. Kurasakan mukaku memanas saat ini. Aku sungguh malu sempat berpikir itu mereka dan mengacuhkan panggilannya padaku tadi. Apa dia marah? Kubiarkan rambut panjangku menutupi samping wajahku agar dia tidak melihatku yang kini tengah begitu malu. Kau sungguh bodoh Anita.

Sepanjang pelajaran aku sama seklai tidak mau melirik kesampingku, rasanya masih malu mengingat hal bodoh yang aku lakukan. Aku sibuk mencatat penjelasan Mr. Murray di depan berusaha fokus dan melupakan kejadian memalukan tadi.

 

**

 

“Anita!”

Merasakan namamu dipanggil oleh seseorang dengan nada satu oktaf lebih tinggi membuatmu akan langsung menoleh dan mencari sumber suaranya. Begitupun apa yang aku lakukan. Aku baru selesai kelas terakhirku hari ini dan baru saja keluar kelas tepat saat itu namaku dipanggil dengan sedikit berteriak.

Sebuah kertas berwarna tepat ada dihadapanku. Kertas selebaran yang terpampang disamping lokerku. Senyuman terkembang di wajah mungil milik satu-satunya gadis yang selalu banyak bicara ini. Aku mengerenyitkan dahiku.

“Kau akan ikut prom?”tanyanya, sudah kuduga dia akan bertanya tentang acara itu. Aku mendesah pelan dan menggeleng.

“Aku tidak bisa dansa”kataku. Kini dia yang mengerenyitkan dahinya.

“Aku juga tidak bisa dan itu bukan alasan untuk tidak datang Anita,”cetusnya.

Dia terlihat begitu menuntut. Apa aku harus bilang kalau aku alergi dengan makanan di pesta atau aku tidak suka keramaian seperti pesta.

Please,” dia mulai memohon dan aku paling tidak bisa melihat seseorang memohon padaku. Cheryl sahabatku yang pertama disini, well sebenatnya Nikki tapi dia adalah satu-satunya gadis yang mengajakku berkenalan dan mau menjadi temanku.

“Aku tidak punya gaun,”suatu alasan yang langsung keluar dari mulutku begitu saja. Mencari alasan lain tidak mungkin, seperti kakakku yang tidak mengijinkan atau hal-hal yang disebutkan diatas. Jelas tidak mungkin.

Tidak memiliki gaun adalah alasan terkonyol yang pernah ada meski pada kenyataannya aku memang tidak memiliki gaun. Kulihat Cheryl semakin menatapku aneh, seorang gadis yang tidak memiliki gaun. Sebentar lagi Cheryl akan menyimpulkan bahwa aku adalah gadis yang aneh ditambah lagi jika dia melihat gambar-gambarku.

“Jangan bercanda Anita,”katanya tidak percaya dengan ucapanku.

“Sungguh,”kataku.

“Baiklah, kalau begitu hal yang pertama kita lakukan adalah membeli gaun untukmu. Ayo,”lengan Cheryl mengait ke lenganku kemudian menarikku berjalan. Gadis ini sungguh keras kepala.

Selama aku berpindah-pindah, aku jarang memiliki teman. Paling hanya sebatas mengenal dan bertegur sapa di sekolah selebihnya seperti teman tempatmu bercerita, belajar bersama atau belanja bersama dan menghabiskan ‘girl time’-mu, aku tidak punya. Aku bukan penyendiri namun kadang aku susah untuk menyamankan diriku dengan orang lain dalam waktu singkat. Selain juga karena aku punya dunia yang sedikit berbeda, ketujuh pria bersayapku.

Matahari yang bersinar sepertinya membuat kebanyakan warga tidak mau melewatkannya begitu saja. Mereka berkeliaran di pusat kota, entah untuk sekedar duduk di taman yang mulai didatangi burung-burung atau duduk di cafe pinggir jalan bersama kenalan mereka, menghabiskan waktu saling bercengkrama. Sementara seharusnya aku bisa melakukan hal-hal yang menarik untuk memanfaatkan sinar matahari yang mulai muncul ini bersama malaikat-malaikatku, aku terpaksa mengikuti keinginan gadis berambut ikal yang tidak mudah menyerah ini. Dia tidak kujung melepaskan tangannya, seakan-akan takut aku akan pergi.

“Akan aku pilihkan gaun yang cantik untukmu,”ujarnya seraya menarikku masuk ke dalam sebuah toko pakaian. Aku mendesah pelan.

Dia tidak seperti apa yang aku pikirkan selama ini. Kupikir dia gadis biasa yang hampir sama denganku. Tidak tahu apapun tentang masalah ‘gadis-gadis’ namun kenyataannya berbeda. Selang beberapa detik kami masuk ke dalam toko ini, dia sudah sibuk memilih gaun untukku dan lagi-lagi aku hanya bisa mengekorinya di belakang.

“Anita, kau coba yang ini, ini, ah ini juga.”dia menyerahkan tiga buah gaun padaku dengan sebuah senyuman manis lalu mendorong tubuhku masuk ke dalam ruang ganti.

Oh, kapan ini akan berakhir?. Aku tidak akan datang ke prom.

 

**

 

Setelah hampir dua jam berkutat dengan gaun-gaun itu, akhirnya selesai juga. Wajah Cheryl tampak puas ketika keluar dari toko. Sebuah gaun biru muda selutut dengan aksen renda-renda di kerahnya sudah dia dapatkan dan satu buah gaun lagi untukku. Aku lebih suka menghabiskan uangku untuk membeli buku bacaan dan kali ini aku harus menghabiskan uangku untuk gaun. Hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya akan aku lakukan.

Langit sudah gelap ketika kami keluar toko dan ada perasaan cemas muncul pada diriku. Mereka pasti mencariku. Aku tidak pernah pulang terlambat bahkan sampai larut seperti ini. Aku harus segera pulang kalau begitu. Namun niatku urung ketika melihat dua mobil paling mencolok di sekolah terparkir tidak berapa jauh dari kami berjalan, tepat di depan sebuah coffee shop. Sekelebat wajah Marcus menghampiri pikiranku, kurutuki apa yang baru saja aku pikirkan. Ada perasaan lain yang aku rasakan, entah kenapa aku ingin kesana, ingin melihatnya. Bodoh, apa yang kau pikirkan Anita.

“Anita, aku haus. Bagiaman kalau kita ke sana dulu untuk membeli minuman,”Cheryl menyadarkan lamunanku dan tepat menujuk coffee shop itu dengan gerakan cepat aku mengangguk. Kau sungguh sangat bodoh dan penurut sekali hari ini Anita.

Benar dugaanku, pria itu ada disana bersama kelima pria yang lain juga Alishia. Oh Tuhan, mereka benar-benar tidak bisa terpisahkan. Biasanya mereka duduk bersama-sama namun kali ini Marcus memisahkan diri. Dia duduk dekat jendela sambil membaca buku dan dia memakai kacamata. Dia bahkan terlihat lebih rupawan dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaus gari-garis hitam. Oh Anita, kau sungguh terpesona pada pria itu? apa yang terjadi padaku. Aku memalingkan mukaku dan mengekori Cheryl yang tengah memesan minuman.

Aku merasa seperti bukan diriku saat ini. Bahkan aku kembali melirik ke arah mereka yang kini tengah tertawa. Salah satu dari mereka yang tidak salah bernama Jeremy memanggil Marcus. Pria yang tengah larut dengan bacaannya itu mendongak dari bukunya dan melemparkan sebuah senyum setengah. Aku selalu suka jika seseorang tersenyum setengah. Andrewlah yang terbaik dan yang paling aku suka namun kali ini list­-ku berubah. Dia sangat menawan ketika menunjukkan senyum setengahnya.

 

**

 

“Kau sudah pulang?”Aiden menyapaku dengan pertanyaan sindiran ketika aku membuka pintu rumah.

“Maaf, aku pergi dengan Cheryl tadi.”kulewati tubuhnya tanpa menoleh padanya. Pikiranku masih tertuju pada pria bermata sewarna madu itu. Kenapa rasanya wajahnya selalu menghantui pikiranku. Efek melihatnya begitu dashyat pada sistem kerja otakku ini.

Bahkan aku tidak menyapa mereka yang tengah ada di ruang tengah ketika aku sedang menaiki tangga menuju kamarku. Kulemparkan begitu saja tas berisi gaun itu ke atas tempat tidurku. Aku menghela nafas perlahan dan menaruh tasku di meja belajar.

Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur lalu kutatap langit-langit kamarku. Sekelebat wajahnya kembali muncul. Kenapa dia selalu ada dipikiranku? Apa yang salah dengan kerja otakku saat ini?

“Ann,”pintu kamarku berbunyi pertanda ada yang membukanya. Aku melirik sekilas ke arah pintu. Aiden sudah berdiri di kamarku dan menutup pintu. Bahkan untuk sekedar menegur Aiden saja aku malas.

Dia duduk disampingku dan menatapku seksama.

“Kau sedang bingung untuk pergi ke prom atau tidak, kan?”tanya Aiden dengan sebuah senyuman singkat di akhir kalimatnya.

Prom. Ya itu juga menjadi masalah buatku. Dia menggerakan tangannya merapihkan anak rambutku yang sedikit menutupi wajahku. “Ikut saja. Kau belum pernah mencobanya bukan? Lagipula ini akan membuatmu semakin mudah bersosialisasi,”

“Kau tahu?”tanyaku.

“Aku tidak akan bilang pada Dennis.”ujarnya. Sudah kuduga dia tahu bagaimana aku di sekolah karena dia selalu mengawasiku.

“Terima kasih Aiden. Kau tidak perlu mengawasiku lagi, aku baik-baik saja.”Aku membalikkan tubuhku dan membelakanginya.

Kurasakan dia mengecup sisi keningku perlahan dan kemudian terdengar pintu yang tertutup. Malam itu aku bermimpi berdansa dengan pria berwujud seperti malaikat itu. Marcus.

Advertisements

3 thoughts on “FF: White Wings Chapter 3

  1. binguung harus komen apa, pnggambaran ttg mereka kaya author emg bener2 selalu ada ddkt mereka,
    haaa makin cinta sama author ini n makin cinta sama marcuuuss^^

  2. Kyaaaaa makiiin penasaran sungguh ..
    Bener ternyata dia itu Marcuuus .. Hhahahaha suka suka suka …
    Ahhh eonnie jgn lma2 yah lanjutannya .. Semangat!!

  3. ahahaha,.. anita terpesona sama marcus,.. penasaran sebenernya marcus n the genk tuh manusia bkn??? hyyyaaa,. makin penasaran!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s