FF: White Wings Chapter 2

*seneng liat respon yang baik dari temen2 sekalian sama chapter awalnya, sebenarnya ini cuma iseng-iseng bikin cerita fantasy and thank you so much buat yang udah comment ^^ ditunggu saran dan kritiknya *

 

Manusia memiliki tujuh sifat baik dan tujuh sifat buruk yang utama, saling terkombinasi dengan apik membentuk kepribadiaan seseorang. Itulah manusia, lalu bagaimana dengan malaikat- meski dalah hal mereka tidak mau disebut malaikat melainkan seraphim-, Dennis pernah bercerita mengenai hal ini sebelumnya. Dia menceritakannya sebagai cerita pengantar tidur ketika aku masih berumur 10 tahun. Dulu, aku memang tidak mengerti dan cenderung masa bodoh namun seiring usiaku bertambah aku menyadari satu hal. Merek bertujuh mewakili ketujuh sifat baik manusia itu. Lalu muncullah pertanyaan di otakku, jika ada malaikat yang mewakili ketujuh sifat baik manusia maka apakah ada malaikat lain yang mewakili ketujuh sifat buruk manusia?. Sebuah pertanyaan yang enggan aku tanyakan karena lagi-lagi dengan alasan untuk apa aku mengetahuinya. Maka aku hanya menyimpannya diotakku saja.

Pagi ini aku berangkat lebih awal ke sekolah, aku tidak mau kejadian kemarin kembali terulang. Mata-mata yang tidak kukenal menatapku penuh tanda tanya dan sifat awas. Aku sungguh risih dengan tatapan mereka. Belum lagi dengan kejadian ‘terjatuh karena terpeleset’, cukup membuatku memutuskan untuk selalu datang lebih awal ke sekolah. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi lagi padamu dihadapan orang-orang itu.

Sisa-sisa genangan air bekas hujan semalam, mengiringi setiap langkahku masuk ke dalam gedung sekolah bergaya eropa kuno ini dengan dinding-dinding batu yang sudah terlihat kusam. Meski terliaht beberapa kali berusaha ditutupi dengan dicat tetap saja tidak membantu sama sekali. Curah hujan di kota ini terlalu tinggi. Khas kota di semenanjung. Angin sedikit berhembus membuat tubuhku sedikit bergidik, hari ini aku hanya memakai sweater tipis sebagai bentuk protes agar musim semi segera datang atau lebih tepatnya berpura-pura musim semi sudah datang. Aku lelah dengan hujan. Namun ternyata aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar, menggigil di pagi hari yang mendung.

Hanya ada beberapa murid-murid yang berdiri di jalan masuk ke gedung sekolah dan semuanya terlalu sibuk untuk memperhatikanku. Kebanyakan dari mereka sedang bercengkrama dengan lawan bicara dihadapannya atau sedang sibuk memperbaiki penampilan mereka di depan kaca mobil-mobil yang terparkir di lapangan parkir sekolah ini. Sekolah ini membolehkan muridnya membawa kendaraan, sangat berbeda dengan sekolahku yang dulu.

Tidak ada yang memperhatikanku berjalan dan aku bersyukur karena itu. Kupercepat langkahku memasuki gedung sekolah, tubuhku butuh kehangatan saat ini juga.

“Anita,”

Nikki berjalan dari arah dalam gedung menghampiriku yang baru sampai di depan lokerku. Bibirnya membentuk senyuman , tudung jaket birunya dia gunakan untuk menutupi kepalanya sehingga hanya sedikit saja rambutnya yang terlihat. Aku salah rambutnya bukan hitam melainkan sedikit kecoklatan. Tampak beberapa bercak basa di jaket birunya itu. apa dia baru saja duduk di bawah pohon? Karena kurasa pagi ini tidak hujan.

“Kau datang sangat pagi”dia sudah ada dihadapanku saat ini, aku mengangguk sebagai jawaban.

Aku memang gadis yang kaku dan sedikit sulit bergaul, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi seseorang yang begitu ramah. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Gerakan tangannya yang cepat di atas kepalaku membuatku terkesiap, dia mengusap rambutku.

“Kau berjalan di bawah pohon tadi?”tanyanya. Aku sedikit gugup, tidak ada yang pernah menyentuhku seperti tadi kecuali malaikat-malaikaku itu. “Oh ya, aku lupa tujuanku menncarimu untuk..”dia menggantungkan kalimatnya, kulihat dia merogoh sesuatu di saku jaketnya. “Ini”dia menyodorkan sebuah kertas. Aku mengerenyitkan dahiku.

“Lukisanmu yang diambil James,”kuambil kertas putih yang sedikit kusut itu dan membukanya. Benar, ini lukisan milikku. Kutatap wajah raman Nikki. “Terima kasih,”

“Lukisanmu sungguh bagus Anita, harusnya kau masuk kelas seni semester ini”ujarnya.

Aku memang sempat berpikir untuk mengambil kelas itu semester ini namun aku menyadari bahwa aku baru masuk sekolah ini dan rasanya terlalu aneh jika di semester awal langsung mengambil kelas seni. Bukankah aku harus mengejar pelajaran yang lain dulu. Mengingat mereka menganggapku bermasalah.

“Aku harus mengerjar ketertinggalanku dulu semester ini,”

“Kulihat kau tidak perlu mengejar, kau pintar Anita. Mr. Bannes juga bilang begitu,”

Guru bahasa Spanyolku, tentu saja dia menganggapku seperti itu. Aku yang selalu disuruh maju ke depan membacakan Don Quixote. Aku bisa bahasa Spanyol berkat Matthew,entah darimana dia belajar, yang jelas sangat menolongku di kelas bahasa Spanyol.

“Mungkin semester depan aku akan mengambil kelas seni,”kataku.

Dia bergumam pelan. “Padahal aku harap kau mengambilnya semester ini, kelas kami butuh seniman hebat sepertimu,”

Jadi dia mengambil kelas seni, pantas saja. Satu-satunya yang bisa menghargai lukisan anehku tentu saja hanya seniman. Sementara orang awam hanya akan menggap sebagai coretan kekanak-kanakan seorang remaja. Malaikat, di usia 17 tahu kau masih percaya adanya malaikat? Itulah pemikiran mereka.

Aku hanya tersenyum tipis padanya. Mungkin sebaiknya memang aku mengambil kelas seni, sehingga aku tidak terlalu terlihat aneh. Meski mereka akan menganggap aku memiliki imajinasi yang sangat tinggi karena menggambarkan malaikat sedang melakukan kegiatan yang manusia lakukan setidaknya aku tidak dianggap kekanak-kanakan.

Hujan turun ketika kelas sudah dimulai, ditambha dengan sedikit angin membuat daun-daun pohon bergerak-gerak diluar. Itu mengundang perhatianku yang duduk di dekat jendela dan membuatku tidak konsen sama sekali. Mr. Connors sedang menjelaskan rumus percepatan di depan kelas sementara tanganku bukannya bergerak mencatat rumus yang dia tulis besar-besar di papan tulis, aku malah mulai menggambar pephonan yang bergerak-gerak. Rasanya sayang melewatkan pepohonan ini memunculkan bentuk aneh karena daunnya bergerak-gerak diterpa angin.

Aku bukan orang yang suka hujan tapi bukan berarti aku benci dengan hujan, terkadang hujan mampu memberikan efek hidup bagi gambar-gambarku. Pernah sekali aku menggambar Henry yang tengah bermain hujan di halaman belakang rumahku yang dulu. Efek basah tubuhnya menjadi sesuatu yang menarik dan terasa berbeda.

Gambarku tepat selesai ketika Mr. Connors selesai dengan kelasnya dan memberikan kami tiga buah soal untuk dikerjakan. Bagus, aku belum sempat mencatat rumusnya tadi. Aku harus ke perpustakaan setelahnya.

 

**

Kantin sekolah ini begitu riuh ketika sudah masuk makan siang. Mereka terlihat bergerombol duduk disetiap meja. Namun seperti tipikal sekolah umumnya. Si pintar akan duduk dengan si pintar, si kaya dengan si kaya juga, lalu si populer sudah pasti dengan si populer lagi. Kapan tradisi seperti akan hilang?. Buku setebal 200 halaman ini kutaruh diatas meja kayu kecoklatan, sepertinya sekolah ini sama sekali tidak mengubah sedikitpun interior dari gedung lama yang ditempatinya, bahkan mejanya pun kayu. Aku mulai mencatat rumus yang tidak sempat aku tulis tadi dan mengeluarkan bekal yang dibawakan Nathan untukku.

“Siapa yang menyuruhmu duduk disini, anak baru?!”suara tinggi seorang gadis membuatku mendongak dari buku tulisku. Seorang gadis berambur brunette berdiri tepat disampingku dengan tiga orang gadis lain dibelakangnya. Gadis populer dan pengikutnya. Dia melipat tangannya di depan dada dan menatapku dengan tatapan tajam.

“Maaf?”kataku.

“Kau menantangku, hah”gadis brunette ini mencondongkan tubuhnya padaku, aku sedikit mundur kebelakang.

Aku bukan gadis yang senang mencari masalah apalagi di tempat baru yang asing bagiku. Lebih baik aku mengalah. “Maaf”kali ini bukan tanya yang kuucapkan melainkan perminataan maaf. Kukumpulkan buku di meja ini. Aku salah memilih tempat duduk, ini miliknya.

“Alishia, ini tempat umum. Kau tidak berhak mengusirnya!”suara gadis lain terdengar mendekati meja dimana sedang terjadi ketegangan disini. Cheryl. Dia menatap geram gadis yang dia panggil Alishia.

Alishia memutar bola matanya dan terlihat jengah melihat kedatangan Cheryl dengan nampannya. Diletakannya nampan perak itu ke meja dengan sedikit kencang menimbulkan suara yang membuat semua mata terarah pada meja ini.

“Jadi, sekarang kau berani melawanku gadis tanpa ayah”wajah Cheryl terkesiap mendengar kata-kata Alishia.

Sebuah gerakan cepat dari tangan Cheryl mengambil coke di nampannya dan membukanya tepat dihadapan Alishia sehingga wajahnya terkena cairan berawarna coklat gelap itu. Terdengar teriakan Alishia. “Tutup mulutmu gadis centil,” Alishia mengerang kesal lalu segera berbalik pergi bersama ketiga temannya yang lain.

Aku hanya terpana melihat kejadian yang baru saja terjadi. Semua mata di kantin ini telah kembali pada kegiatan mereka tadi, seakan tontonan mereka sudah selesai. Cheryl duduk di kursi dihadapanku, aku pun mengikutinya. Duduk kembali. Dia hanya terdiam, aoa sebaiknya aku bertanya? Aku sungguh tidak tahu bagaimana beramah-tamah.

Tiba-tiba terdengar tawa rendah darinya yang kemudian berubah menjadi tawa yang sedikit kencang. Aku semakin heran dengan perubahan sikapnya.

“Kau tahu aku begitu senang bisa melakukan itu padanya setelah selama ini dia selalu mengejekku. Aku benar-benar lega sekarang,”ujarnya setelah tertawa beberapa saat. Sungguh aneh.

“Anita, kau juga harus punya keberanian untuk melawan. Jangan biarkan orang lain menindasmu”Cheryl berkata dengan penuh semangat, tangannya terkepan diatas meja. Aku hanya tersenyum tipis. Aku tidak bisa, aku tidak ingin mencari masalah.

Dia menghela nafas perlahan lalu menarik nampan makan siangnya kehadapannya. “Kau tidak makan?”tanyanya.

“Aku bawa bekal,”kutunjukkan kotak putih milikku.

“Woaah, ibumu yang membuatnya?”

“Bukan, kakakku”

“Kakakmu? Pasti dia sangat cantik karena dia pandai memasak. Kata ibuku seorang gadis yang cantik itu yang bisa memasak,”

“Dia pria”

“Kakakmu seorang pria?”matanya membulat sempurna lagi dan terlihat sangat lucu, sangat kontras dengan wajah mungilnya sehingga mau tidak mau aku tersenyum. “Iya, dia seorang pria”

“Pasti kakakmu sangat tampan. Kata ibuku seorang pria yang tampan itu yang bisa memasak,”aku tertawa pelan mendengar kata-katanya, dia pun ikut tertawa.

Tampan. Kata itu sepertinya belum mampu mengungkapkan betapa tampannya Nathan.

 

**

 

“Aku pulang”

Kubuka pintu rumah sederhana di kawasan yang tidak terlalu ramai ini. Di butuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke rumah dari sekolah. Rumah sederhana dengan taman kecil di depannya yang ditumbuhi beragam bunga yang tampak mulai bermekaran. Aku tidak tahu kapan Dennis atau yang lainnya membeli rumah ini atau dari siapa mereka membeli rumah ini. Mereka hanya bilang seminggu sebelum kepindahanku kemari, aku tidak menyangka bahkan mereka sudah membeli rumah ini.

Rumah ini memiliki dua lantai, kamarku ada di lantai atas yang berjendela agak menjorok ke luar. Bukan tipikal rumah moderen lebih kepada rumah model lama dengan dinding batu bata oranye. Tepat dibelakangnya ada jalanan menuju hutan pinus. Begitu sampai disini, rumah sudah terisi begitu juga dengan kamarku. Kembali tidak kupusingkan hal itu, entah siapapun yang menatanya tapi begitu aku masuk ke dalam rumah ini untuk pertama kalinya aku sudah jatuh cinta. Rumah ini memberikan rasa nyaman disetiap sudutnya. Semua perabotannya juga tertata rapi. Mereka tidak butuh tidur sehingga sisa kamar di rumah ini hanya dijadikan ruang santai dengan sofa-sofa atau tempat duduk dan beberap lemari buku. Sentuhan ke moderenan tidak terlalu tampak, hanya ada sebuah televisi dan komputer di kamarku serta peralatan di dapur  yang digunakan sebagai pelengkap kemanusiaan mereka.

Ada piano besar di dekat tangga ke lanta dua. Itu milik Dennis. Hampir semua dari mereka bisa memainkan piano dengan mahir sementara aku tidak bisa sama sekali. Berulang kali mereka mengajariku dan hasilnya nol besar. Aku tidak berbakat bermain musik. Beberapa foto kecilku menghiasi ruang utama juga sampai ke dalam menuju ke tangga, bahkan di dinding tangga juga mereka tempelkan.

“Dennis, Aiden, Nathan, Andrew, Bryan, Matthew, Henry”kupanggil nama mereka satu per satu namun tidak kunjung satu pun yang muncul.

“Dennis,”

“Nathan.”

Kususuri dapur namun yang kudapat hanyalah kekosongan. Tidak ada Nathan yang biasanya bereksperimen dengan menu-menu yang dia tonton di TV. Kemana lagi mereka pergi?. Kuputuskan untuk berhenti mencari, sepertinya semuanya sedang pergi. Ke suatu tempat untuk melihat apa yang mereka sebuah perkembangan itu. Aku mengambil gelas milikku dan mengisinya dengan air putih dari keran, menghabiskannya dalam sekali tegukan.

Kududukan tubuhku di kursi meja makan, menatap ruangan yang kosong ini. Seluruh rumah sangat hening. Rasanya pasti seperti ini jika mereka pergi, mendadak ketakutan kembali muncul dalam benakku. Bagaimana kalau mereka benar-benar pergi dan tidak kembali? Apa aku sudah terlalu dewasa untuk memiliki mereka? Tidak, aku masih butuh mereka. Jangan ambil mereka dulu, tidak, jangan pernah ambil mereka.

“Ann,”

Aku terlonjak kaget dari tempat dudukku ketika suara selembut beledu dan tangan halus menyentuh bahuku perlahan, aku berbalik secepat kilat dan mendesah kesal juga lega. Aiden. Dia memamerkan senyum anak kecilnya dan wajah tidak bersalahnya itu.

“Kau hampir membuat jantungku berhenti, menyebalkan,”Dia tertawa dengan puasnya.

“Wajah ketakutanmu sangat lucu, Ann”kutatap jengkel dia yang terus saja tertawa. Kenapa ada malaikat semenyebalkan dia?. “Kenapa kau sudah pulang?”tanyanya ketika dia sudah selesai dari acara tertawa meledeknya itu.

Aku berjalan ke wastafel dan menaruh gelasku disana. “Mr. Grey tidak masuk hari ini,”

“Tidak datang?”nada bicaranya mempertanyakan seraya menatapku seksama.

“Kau pikir aku membolos,”jawabku gusar. “Aku adalah murid yang baik, kau tahu”lanjutku. Dia kembali tergelak.

“Iya Ann kau adalah murid yang paling baik dan teladan, bahkan kau menggambar pohon ketika seharusnya kau mencatat rumus percepatan dan ah, terlambat masuk kelas Biologi kemarin”

“Kau mengawasiku”sebuah pernyataan dengan nada yang meninggi, dia kembali melakukan kebiasaannya dulu. Mengawasiku.

“Dennis yang menyuruhku”katanya.

Aku mendengus kesal dan berjalan melewatinya. Benar-benar mengesalkan, sudah kubilang untuk berhenti mengawasiku. Aku bukan bayi lagi.

“Aku tidak datang ke sekolahmu hanya-“

“Aku tidak perlu tahu bagaimana cara kau mengawasiku. Lewat bejana aneh, terserahlah”potongku lalu berjalan cepat menaiki tangga.

Aku harus membicarakan ini dengan Dennis lagi. Kali ini aku harus meyakinkannya aku akan baik-baik saja tanpa pengawasan mereka yang terlalu berlebihan. Memata-mataiku di sekolah itu sangat menganggu. Aku benar-benar tampak seperti sedang bersamalah jika diawasi seperti ini.

“Ann, oke aku tidak akan melakukannya lagi. Maukah hari ini kau menemaniku belanja? Aku tidak tahu kapan Nathan pulang dan sepertinya bahan makanan sudah habis,”aku benar-bener kesal padanya dan tidak tertarik untuk menemaninya belanja.

“Ann, Ann, Ann,”

“Berhenti memanggilku Ann!!!”aku berdiri di hadapan pintu dan berteriak kepadanya yang kini sudah ada di tangga terakhir, tanganku terkepal kuat. Ann, Ann, Ann. Aku sungguh tidak suka mendengar dia memanggilku Ann.

“Oke oke, maaf An-nita. Aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu lagi.”

Aku membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam, Aiden ikut masuk ke dalam. “Jadi Anita kau mau menemaniku kan, hm?”aku menghela nafas perlahan. Oke, aku tidak bisa marah padanya ataupun pada yang lain. Aku mengangguk pelan. Senyum terpancar di wajah rupawan itu.

“Aku ganti baju dulu,”kataku.

“Oke,aku akan menunggu,” dengan santainya di duduk diatas tempat tidurku.

“Menunggu itu diluar bukan disini Aiden”sedetik lalu aku sudah tidak kesal kini dia kembali membuatku kesal.

“Oh ayolah Ann, hanya mengganti ba-“

“Aiden!!!”mendengar teriakanku dia berdiri lalu mengangkat kedua tangannya sambil berjalan mundur keluar kamar. Kututup pintu kamar dengan kencang. Aiden itu tidak pernah sadar kalau aku bukan anak perempuan berusia dua tahun yang dulu dia pakaikan baju. Aku sudah 17 tahun. Apa perlu aku memakai name tag bertuliskan umurku agar dia selalu ingat.

 

**

 

Sore hari langit mendadak cerah, akhirnya ada sinar matahari yang menyentuh kulitku. Semoga ini pertanda baik musim semi akan segera datang. Kota ini benar-benar kota kecil maka pusat kotanya pun tidak seramai kota yang pernah aku tinggali dulu. Hanya ada beberapa cafe kecil juga pertokoan di jalan yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan ini. aku berjalan beriringan dengan Aiden dan seperti yang pernah terjadi sebelumnya dengan perjalananku bersama Andrew, semua mata menatap kagum sosok rupawan disampingku ini. Uh, itu menyebalkan. Seakan-akan Aiden menjadi magnet tersendiri bagi mereka. Sementara sosok rupawan ini sepertinya tidak terganggu dengan kondisi ini.

Ketika melewati sebuah cafe, beberapa wanita yang sedang mengobrol langsung menghentikan obrolan mereka. Mata mereka menatap Aiden dengan memuja, bahkan ada yang sedang ingin meminum sesuatu dicangkirnya malah menumpahkannya ke bajunya. Ingatkan aku untuk tidak membawa mereka lagi bersamaku.

Toko swalayan ini tidak terlalu besar namun cukup lengkap. Aku membawa trolley berjalan sementara Aiden yang mengambilkan bahan makanan yang dibutuhkan. Tangannya cekatan mengambil barang-barang seakan semuanya daftar belanja sudah ada di otaknya dan mungkin benar. Kekuatan super.

“Aiden, aku mau itu”kataku menunjuk kripik kentang yang ada di rak makanan ringan. Pria itu mengambilkannya dan menaruhnya di trolley.

“Ada lagi tuang putri?”tanyanya, kupukul bahunya pelan dan dia tertawa. “Menurutmu apa lagi yang harus dibeli?”

“Kurasa cukup”kulirik bahan makanan yang sudah lengkap di trolley. “Kalian sudah makan bulan ini?”tanyaku karena selama beberapa minggu ini aku sangat merasa kesepian makan pagi dan malam sendirin.

“Ah, aku melupakan satu hal itu. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama dan kau yang masak,”usul Aiden. Aku menaikkan sebelah alisku. Memasak? Bukan keahlianku. “Akan kusuruh mereka pulang sebelum makan malam,”lanjut Aiden penuh semangat.

“Aiden, aku tidak bisa masak.”

“Aku akan membantumu.”

“Kau juga tidak bisa masak.”

“Aku bisa dengan sesuatu.”

“Dan Dennis akan memarahimu jika melakukannya.”

“Tidak akan, asal kau tidak memberitahunya.”

Perdebatan kecil kami membuat beberapa pasang mata menatap ke arah kami. Perdebatan sengit juga wajah rupawan Aiden cukup menarik minat orang-orang yang sedang berbelanja untuk melirik ke arah kami.

“Baiklah, ayo bayar.”kuhentikan perdebatan ini sebelum orang-orang menjadikan kami tontonan.

Kubawa trolley ini ke kasir, Aiden mengeluarkan barang-barangnya dan kasir wanita berambut pirang itu menatap intens Aiden. Oh, ayolah, berapa banyak lagi yang akan terpesona padanya. Bahkan sampai kasir wanita ini menatap Aiden dengan tatapan yang sedikit menggoda. Sungguh jengah melihatnya. Aku membantu Aiden mempercepat gerakannya mengeluarkan barang belanjaan ini. Aku ingin segera menarik Aiden keluar dari sini secepatnya. Selagi mengecek harga belanjaan kami, lagi-lagi wanita ini melirik Aiden sementara pria ini tampak tidak sadar. Meskipun sadar dia tetap tidak akan merasa risih.

“Ada yang anda butuhkan lagi tuan?”tanya kasir wanita itu dengan nada suara sedikit manja dan itu menjijikkan.

“Ada yang kau butuhkan lagi Ann?”tanya Aiden padaku, aku menggeleng cepat. Aiden membayar belanjaan kami.

“Kalian benar-benar kakak adik yang sangat manis,”kata kasir wanita itu seraya memberikan uang kembalian pada Aiden, aku tersenyum tipis sementara Aiden tersenyum terima kasih dan sudah pasti kasir wanita itu merona.

Aiden membawa beberapa belanjaan dan berjalan disampingku.

“Biar aku yang bawa semua,”tawarnya.

“Tidak apa-apa, aku bisa,”tolakku.”Kau tahu aku tidak suka melihat kasir wanita itu menatapmu seperti tadi, uh menyebalkan sekali,”ceritaku, kudengar dia terkekeh pelan.

“Dia hanya bersikap ramah,”

“Ramah dan menggoda itu tidak begitu berbeda,”

Tentu saja Aiden tidak akan sadar itu tatapan menggoda, mereka tidak memiliki perasaan apapun pada lawan jenis mereka. Mungkin karena selama ini mereka hanya melihat yang sejenis dengan mereka.

“Rasanya ingin kubilang kau kekasihku dan kupukul wajahnya,”

“Memangnya kau berani?”

“Tidak.”

Kami tertawa bersama. Meski aku kesal dan tidak suka pada seseorang namun aku tidak pernah bisa memberikan perlawanan,sama seperti di sekolah.

**

 

Malam ini aku benar-benar merasa memiliki keluarga. Kami makan malam bersama, Dennis, Aiden, Nathan, Andrew, Bryan, Matthew juga Henry. Kami bercengkaram layaknya sebuah keluarga dan rasanya sungguh menyenangkan. Sudah lama kami tidak melakukan kegiatan ini dan malam ini mengobati kerinduanku untuk makan bersama mereka.

Aku membantu Nathan mencuci piring setelahanya dan kami bercerita banyak hal termasuk menceritakan Cheryl yang melakukan aksi beraninya pada Alishia dan kami tertawa bersama. Sangat mudah tertawa bersama mereka. Sudah kubilang aku merasa benar-benar menjadi diriku saat bersama mereka.

Setelahnya aku ikut bermain catur bersama Andrew dan Matthew, aku menang dari mereka berdua membuat mereka harus menuruti apa yang aku inginkan. Mencabuti sayap mereka. Kebiasaan yang sering aku lakukan ketika kecil. Jika salah satu dari mereka menggendongku, aku akan mulai mencabuti sayap-sayap mereka dan kujadikan mainan.

Malam ini sungguh sangat menyenangkan bersama mereka semua. Dennis menemaniku tidur, aku masih takut dengan mimpiku beberapa hari yang lalu. Oleh sebab itu Dennis akan menemaniku sampai aku tertidur dengan lagu pengantar tidurnya itu.

 

**

 

Nathan berdiri ditengah-tengah lapangan rumput yang hijau, tubuhnya membelakangiku. Kupanggil namanya namun dia tidak kunjung berbalik. Kupanggil lagi, kini lebih kencang namun sama dia hanya diam di tempatnya.

Aku pun melangkah mendekatinya, sayap putihnya terkembang bebas. Kusentuh perlahan namun begitu kusentuh sayap putih itu berubah menjadi hitam. Aku mundur beberapa langkah. Dia bukan Nathan.

 

**

 

Pagi ini aku kembali bermimpi tentang sayap hitam itu lagi, meski tidak seseram mimpiku sebelumnya namun tetap saja membuatku bangun tidak segar. Itu sungguh mimpi buruk. Bahkan aku pergi ke sekolah sedikit telat dibanding hari biasanya, melanggar peratutan yang kubuat sendiri untuk datang lebih awal.

Cuaca hari ini berbanding terbalik dengan kondisiku. Matahari terlihat malu-malu mulai muncul di langit kelabu, menggantikan hujan yang bertengger seminggu ini. Setidaknya ada yang memperbaiki suasana hatiku saat ini.

Sekolah sudah ramai, terang saja. Lima belas menit lagi dan bel masuk akan berbunyi. Lapangan parkir sudah terisi penuh namun ketika aku sampai disana terlihat kerumunan murid-murid. Aku berhenti untuk melihat namun agak jauh dari kerumunan mereka. Apa yang sedang mereka perhatikan?. Kucoba menggerak-gerakan kepalaku untuk melihat apa yang mereka lihat. Ternyata ada sebuah mobil convartible merah dan Audi R8 berwarna putih. Darimana aku tahu merk mobil itu karena baru semalam aku melihatnya di TV dan Andrew membicarakannya pada yang lain dalam bahasa mereka yang sedikit aku mengerti. Jadi itu yang membuat mereka berkumpul. Aku kembali berjalan namun lagi-lagi langkahku terhenti ketika terdengar decakan kagum dari kerumunan murid-murid itu, mau tidak mau aku kembali berbalik.

Sosok itu, tidak, ada lebih dari satu sosok. Satu, dua, tiga, empat, wajah mereka serupa. Kulit putih, rahang yang tegas, tulang pipi yang menonjol dan wajah tanpa cela. Manusia manapun akan berkata bahwa mereka tampan. Langkah mereka begitu anggun dan suara mereka seperti lonceng yang berdentang. Kenapa rasanya sama?. Langkah mereka seirama. Malaikat. Kata itu muncul begitu saja dipikiranku, mereka begitu sama dengan ketujuh malaikatku hanya saja ada sesuatu yang membedakannya meski tidak kentara namun aku bisa merasakannya berbeda. Siapa mereka?.

Satu sosok lagi berjalan paling belakang, bahkan dia terkahir keluar dari mobil. Sementara yang lain sudah mencapai dengan pintu masuk gedung. Pria tinggi dengan wajah yang tidak jauh berbeda dari keempat yang lain memasang wajah dingin. Berbeda dengan yang lainnnya, ada yang tertawa atau tersenyum sementara pria ini memasang wajah datar. Seakan tidak peduli dengan sekelilingnya. Tepat ketika dia melintasiku kurasakan sensasi dingin tubuhku dan ada rasa kebas beberapa saat.

“Anita,”

Sentuhan dibahuku menyadarkanku, Cheryl menatapku yang tengah termenung dengan seksama. Dia kemudian berdecak pelan.

“Keponakan paman Casey.”

“Kau mengenal mereka?”tanyaku dan tidak bisa membendung rasa penasaranku. Cheryl merasa aneh melihatku bertanya dengan rasa antusias seperti ini. Aku hanya ingin tahu siapa mereka, apa mereka sama dengan malaikat-malaikatku, kerupawanan mereka bukanlah kerupawanan seorang manusia.

“Tidak, hanya saja aku tahu kalau paman Casey, orang terkaya di kota ini memang memiliki lima keponakan dan beberapa minggu yang lalu kudengar mereka akan pindah ke sini, tidak kusangka mereka sama sombongnya dengan paman Casey itu. Lihat saja memakai mobil seperti itu di kota kecil ini. Lagi-lagi orang populer di sekolah ini bertambah.”

 

**

 

Kelas biologi adalah kelas pertamaku pagi ini, setelah mendengar celotehan panjang lebar Cheryl tentang kelima murid baru ini sedikit mengobati rasa penasaranku, tapi aku masih belum puas. Entah kenapa aku merasa mereka sama dengan malaikat-malaikatku. Kubuka pintu kelas Biologi, kelas ini paling tidak banyak muridnya, setahuku hanya ada 15 orang saja dan biasanya mereka akan terlambat karena Mr. Murray juga selalu terlambat datang.

Rasanya seperti mendapat jackpot ketika aku membuka pintu kelas dan pria baru itu ada di kelas yang sama denganku dan duduk di tempatku. Sebuah ketidak beruntungan. Dia tidak menyadari kehadiranku karena kini dia hanya menatap keluar jendela, entah apa yang dia amati. Aku berjalan melewati kursi-kursi yang kosong dan memutuskan untuk duduk tepat disampingnya. Seharusnya aku meminta kembali kursiku, aku lebih dahulu masuk kesini seharusnya aku bisa mengintimidasinya sama seperti Alishia atau James lakukan tapi nyatanya aku tidak bisa. Dialah yang seakan mengintimidasiku dengan kehadirannya.

Kuhela nafas perlahan lalu duduk, membuka buku penuntun biologi milikku dan mulai membacanya. Dia sama sekali tidak terusik dengan adanya aku, dia masih fokus menatap keluar jendela. Kutolehkan wajahku kesamping dan seperti magnet aku terpaku pada pria ini. Wajahnya sungguh rupawan, benar-benar sempurna namun kesempurnannya sedikit berbeda dengan mereka. Rambutnya kecoklatan dna terkadang kelihatan kemerahan. Seakan terhipnotis aku terus saja menatapnya hingga sepertinya dia terusik. Dia menoleh padaku.

Matanya sewarna madu dan tatapannya begitu tegas juga mengintimidasi tapi suara hatiku mengatakan aku menyukai tatapan matanya. Kedua bola mata itu mengamatiku dengan seksama dan aku tidak merasakan perasaan apapun selain, aku ingin terus memandang ke kedua bola mata indah itu.

Efek dari pertemuan mata kami tadi membuatku tidak konsentrasi selama pelajaran biologi, aku hanya menekuri buku gambarku dan tanpa kusadari aku menggambar sosok disampingku.

Advertisements

12 thoughts on “FF: White Wings Chapter 2

  1. Baca FF ini bikin aku terus bertanya2 di setiap saat aku baca FF ini ..
    Masih banyak bgt misteri dibalik cerita ini ..
    kekeke jarang2 eonnie buat Fantasy .. Dan ini seruuu lhoooo .. Ketagihan .. Aduuuuh ..
    Boleh kah aku berpikir pria yg ketampanannya luar biasa yg ada di samping Yong Soon itu adalah Cho Kyuhyun???
    Ahhhh penasaran tingkat dewa niiih .. Di tunggu eon FF lanjutannya .. Semangat eon lanjutinnya .. Jgn lama2 yah 😀

  2. wow.. baru baca ff ini.. kerreen….
    7malaikat baik.. kyu evil brti msk yang jahat donk.. hihi..

    prtama aga ragu baca ff fantasy, tp stlah baca ffnya keren jd ketagihan..

    oh ya saengi yang love at first sight or first lust kok ga ada ya?
    pdhal aku mo baca lagi..

      1. view suasana sama settingan tmpt’a dongsaeng!?
        Ntah knp pas kamu gambarin suasana’a yg kbyang sama aku tu twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s