FF: White Wings

Ketika situasi menghadapkanmu pada dua pilihan, keluarga atau cinta

 

 Alunan maha karya Mozart terdengar menghisai seluruh penjuru rumah bernuansa putih ini, menemaniku menyelesaikan puluhan soal kalkulus yang guruku berikan kemarin. Baru empat puluh delapan jam aku bergabung di kelas kalkulus milik Mr. Grey dan dia sudah memberikanku puluhan soal. Apa dia berpikir karena hidupku yang terus berpindah, aku sudah tertinggal untuk ukuran siswa di kota kecil ini. Sebaiknya aku tunjukkan padanya seluruh piagam kejuaraan matematika yang pernah aku dapat agar dia tahu bahwa soal ini tidak perlu diberikan lagi padaku. Otakku memang tidak jenius hanya saja setiap kali aku pindah sekolah maka guru-guru di sekolah tersebut selalu memberikanku soal yang sama, hingga pada akhirnya aku hapal dengan soal-soal itu. Kesimpulannya, mereka selalu menganggapku tertinggal. Jelas sekali kenapa mereka bisa berpikir seperti itu, kalau tahu dengan siapa aku tinggal. Aku tidak tinggal dengan ayah dan ibu atau lebih tepatnya aku tidak memiliki ayah dan ibu. Itu cukup memberikan bukti pada mereka bahwa aku tidak mendapat perhatian dari keluarga yang utuh, belum lagi ditambah dengan fakta bahwa aku sering berpindah. Nakal dan bodoh. Itulah anggapan mereka.

Kututup buku bersampul coklat dihadapanku, rasanya lelah setelah mengerjakan puluhan soal kalkulus itu. Buku bersampul biru yang tergeletak begitu saja diatas tempat tidur dengan sprei berwarna peach itu mengundangku mendekat. Masih ada yang harus aku selesaikan dengan sebuah gambar di buku itu. Kubuka halamannya langsung pada gambar yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak dua jam lalu kalau saja aku tidak terjebak dengan soal-soal kalkulus bodoh itu. Aku tersenyum mengamati sebuah goresan pensil yang saling menyambung membentuk sesuatu yang utuh, manusia, well tidak seutuhnya manusia. Jika bagian belakang sesosok tubuh ini ditutup, bisa disebut manusia. Manusia yang begitu rupawan, bahkan melebihi rupawannya dewa dan dewi Yunani. Matanya sewarna langit yang biru dengan tulang pipi yang menonjol sempurna serta rahang yang terpahat pas di wajahnya. Aku tidak pernah bosan menggambarnya, melihat pensilku mampu membentuknya serupa dengan apa yang ada di pikiranku membuatku sangat senang. Sosok ini terasa begitu nyata dan bukan hanya sekedar imajinasi liarku atau bunga tidurku setiap harinya.

Kususuri gambar yang sangat sempurna ini. Sempurna bukan karena kepandaianku melukis tapi lebih kepada apa yang aku lukis. Perpaduan cantik dan tampan. Jika ada manusia paling tampan di dunia ini, kurasa tidak akan bisa mengalahkan ketampananannya. Sekali lihat saja kau akan menyukainya dan betah berlama-lama untuk memandang wajahnya. Pemilik ketampanan ini bukan hanya satu tapi tujuh dan semuanya kulihat setiap hari karena mereka tinggal bersamaku.

“Anita, makan malamnya sudah siap”suara merdu itu terdengar mendekati kamarku, kututup bukunya dan kusimpan kembali ke meja belajarku. Tidak berapa lama pintu kamar terbuka. Salah satu dari ketujuh manusia tampan, wajahnya hanya menyembul dari balik pintu coklat berukir.

“Makan malam” ujarnya dengan sebuah senyuman yang tercetak di bibir merahnya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dia pun kembali menutup pintu.
Kuikuti langkahnya untuk keluar kamar.

**

“Dennis”sapaku pada seorang pria yang tengah menekan-nekan tuts piano sehingga menimbulkan suara yang indah. Alunan Mozart yang aku dengar tadi. Kucium pipinya sekilas, membuatnya tertawa pelan sehingga mencetak jelas lesung pipi yang ia miliki.

“Kau tidak berniat melewatkan makan malam, kan?”tanyanya, aku tertawa pelan. Dennis terlalu perhatian padaku namun aku menyukainya, siapa lagi yang bisa memberiku perhatian selain dia dan yang lainnya. Aku sendiri di dunia ini dan mereka bagaikan malakikat yang dikirim Tuhan untuk menemaniku, memang malaikat kurasa.

“Tidak, aku sangat lapar hari ini.”

“Tugasmu begitu banyak? Kau mau pindah sekolah lagi?”

Tawaran kedua kalinya hari ini. setelah beberapa hari ini dia selalu melihatku mengurung diri di kamar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tidak henti-hetinya diberikan. Dia beranggapan aku tertekan di sekolah baruku ini, mungkin iya tapi aku tidak akan meminta untuk pindah sekolah lagi. Sebaiknya kuhabiskan masa terakhir sekolahku disini.

“Tidak, aku senang di sekolah baruku ini.”

Kupaksakan terseyum dan wajah Dennis menunjukkan kecemasan. Mata sebiru langitnya meniliti wajahku dengan seksama. Selalu bermasalah dengan sekolah yang baru. Kurasa aku memang terlahir tidak menarik dan sedikit aneh. Setelah empat puluh delapan jam berada di sekolah itu, belum satupun teman yang kudapat. Aku memang bukan tipe gadis yang mudah bergaul dengan sesama gadis lain, aku tidak punya kesamaan dengan mereka yang sering menghabiskan waktu dengan yang biasa disebut ‘girl thing’. Besar ditengah-tengah kumpulan pria-pria ini membuatku tidak terbiasa dengan hal-hal berbau gadis-gadis bahkan tidak familiar. Lainnya mungkin karena aku suka melukis hal-hal aneh. Jika aku bisa memberikan penjelasan yang aku lukis bukanlah hal aneh tapi aku melukis mereka, mereka yang tinggal bersamaku.

“Maaf, kami tidak bisa memberikanmu kehidupan yang sama seperti teman-temanmu yang lain,”Dennis menyentuh pipiku dengan tangannya yang sangat hangat. Aku tersenyum getir.

“Tidak, kalian sudah memberikanku kehidupan yang terbaik. Tanpa kalian aku tidak tahu bagaimana diriku saat ini. Apakah aku masih bisa tersenyum seperti ini ataukah aku sudah mati. Kalian adalah keluargaku. Aku sangat menyayangi kalian.”

Dennis merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat. Sapuan lembut menyentuh lenganku, putih dan sehalus sutra. Berada di dekatnya membuatku nyaman. Dia selalu menjadi penghiburku disaat aku sedih atau saat aku tidak bersemangat. Dia seperti ayah bagiku.

“Hei Ann, Nathan sudah hampir membuang kembali masakannya karena kau tidak kunjung datang,”suara lain terdengar bersandar di tangga dengan bersidekap.

Rambut kecoklatan dengan wajah anak kecil yang rupawan dimiliknya ditambah mata sebiru langit yang selalu membuatku terpesona padanya. Bukan dalam arti menyukainya. Aku hanya menganguminya, mengagumi keindahan yang masing-masing mereka miliki. Meski sudah tujuh belas tahun sejak mata kecilku menangkap sosok mereka, aku tidak pernah berhenti mengagumi betapa sempurnanya mereka.

“Aiden, kau cemburu karena ingin kupeluk juga, iya kan?”kataku menggoda pria yang lebih pendek dari Dennis ini, namun tetap saja kesempurnaannya tidak berkurang. Aku senang menggoda pria yang tidak pernah mau aku peluk ini, katanya dulu waktu aku kecil ketika dia memelukku untuk pertama kalinya, aku malah muntah di bajunya. Baginya itu terakhir kalinya dia memelukku. Tidak bisa disalahkan juga, aku sakit saat itu.

Dia mencibir lalu mengacak-acak rambutku dengan kasar dan berlalu begitu saja dari hadapanku. Sempurna belum tentu tidak menyebalkan.

“Dan berhenti memanggilku Ann”

Aku berbalik ke arah Dennis dengan mengerucutkan bibirku mencari pembelaan. Bukan pembelaan yang aku dapat melainkan tawa khas Dennis.

“Makanlah dulu” Dennis berujar. Aku pun mengikuti kata-katanya menuju ruang makan.

Wangi khas masakan favoritku sudah tercium begitu aku menginjakkan kakiku ke ruangan berdinding warna peach dengan beberapa lukisan sayuran yang tergantung pas di tempatnya masing-masing. Meja makan hanya diduduki oleh dua orang pria yang tengah berbicara, begitu aku masuk mereka langsung menoleh padaku dan tersenyum. Salah satu dari mereka menyuruhku mendekat.

“Anita.”

“Hai Andrew,”sapaku pada pria yang menjadi objek gambarku di buku itu. Aku mengambil tempat duduk tepat disampingnya. Dia menepuk kepalaku pelan. Kebiasaannya. Kalau dia yang melakukannya padaku aku suka tapi jika Aiden, uh, itu sangat menyebalkan.

“Hai manis, kemana kau seharian ini, hm?”sosok pria dengan senyum memikat dan duduk tepat disamping Andrew menyapaku.

“Tugas,”jawabku singkat seraya menarik piring berisi spageti carbonara buatan Nathan. Pria itu ternyata sudah ada dihadapanku dengan segelas coklat panas yang dia letakkan tepat disampingku. Lalu rambutku kembali berantakan karena ulah tangannya. Mengacak rambutku menjadi kebiasaan semua orang di rumah ini dan uh itu menyebalkan, kecuali untuk Andrew.

Aku selalu makan malam sendirian kecuali malam-malam tertentu yang hanya terjadi satu bulan sekali. Mereka tidak butuh makan, makan hanya sebagai pelengkap bagi mereka atau seperti pembiasaan dengan kebiasaan manusia. Mereka tidak lapar ataupun haus, lelah juga mengantuk. Mereka tidak butuh hal-hal bersifat kemanusiaan. Kalaupun mereka melakukan hal-hal bersifat manusiawi hanya untukku.

Kupandangi ketiga pria dengan warna mata yang sama dan bentuk wajah yang hampir serupa. Sempurna. Berada ditengah-tengah mereka membuatku merasa sama seperti mereka tapi itu tidak mungkin. Aku ceroboh, kaku dan tidak cantik. Tidak masuk kriteria. Ketiganya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Andrew dan Bryan tengah menyambung pembicaraan mereka yang sempat terhenti akibat kedatanganku. Bahasa yang mereka gunakan tidak akan bisa dimengerti, bukan bahasa manusia yang biasa dikenal. Sementara Nathan tengah sibuk membaca buku sambil mengawasiku makan malam. Dia tidak akan membiarkanku keluar ruang makan sebelum makanan dihadapanku habis. Itulah Nathan.

**

Dennis, Andrew, Nathan, Aiden, Bryan, Henry, Matthew. Ketujuh orang-orang inilah yang pertama kali aku lihat melalui mata kecilku. Sentuhan tangan merekalah yang kurasakan pertama kali, ketika aku mulai bisa merasakan keberadaan orang-orang disekitarku. Tidak pernah kubayangkan hidupku tanpa mereka. Sepanjang hidupku hanya mengenal mereka sebagai keluargaku. Meski tidak pernah sekalipun memanggil mereka dengan sebutan yang biasa orang-orang gunakan untuk menyebut keluarga mereka. Aku tidak mengenal ayah dan ibuku, mereka pun juga tidak tahu. Sepanjang yang mereka ceritakan, mereka menemukanku ditinggalkan di jalan begitu saja. Kebaikan hati merekalah yang membuatku masih ada di dunia saat ini. Tidak pernah terbayangkan olehku hidup tanpa mereka, memikirkannya saja sudah membuat hatiku terasa nyeri.

Kupandangi langit-langit kamarku, aneh, malam ini aku tidak bisa tidur padahal aku merasa seharian ini sangat lelah dengan segala tugas yang harus aku kerjakan. Aku berguling kesamping dan memandang ke luar jendela kamarku. Hitam dan gelap. Bulan masih tertutup awan di bulan-bulan ini, meski seharusnya minggu depan sudah masuk musim semi. Kukerjapkan mataku perlahan dan ketika aku membuka mata sehelai sayap putih jatuh tepat dihadapanku dan menyentuh lantai kamarku lalu hilang begitu saja. Aku mendudukan tubuhku dan helai demi helai sayap putih terus turun dan selalu menghilang tepat ketika menyentuh tubuh dan selimut menutupi sebagian tubuhku yang lain. Bibirku membentuk senyuman, aku tahu siapa yang melakukannya, dia selalu melakukannya ketika aku tidak bisa tidur. Aku kembali merebahkan tubuhku ke tempat tidur.

Hidupku terlalu dilingkupi keanehan dan keajaiban namun hal itulah yang membuatku merasa hidup. Merekalah yang membuat hidupku menjadi penuh keajaiban. Sayap putih terus turun mengiriniku memejamkan mataku. Sayap putih yang sering aku mainkan ketika kecil, sayap putih yang selalu membuatku hangat ketika di dekapnya. Sayap itu milik mereka. Aku sendiri tidak tahu harus menyebut mereka apa, malaikat? Mereka tidak pernah mau disebut malaikat. Lalu apa sebutan bagi manusia dengan sayap putih dan wajah rupawan, seraphim. Itulah sebutan mereka. Aku sendiri tidak terlalu memikirkan siapa mereka, darimana asal mereka, apa tujuan mereka di bumi ini. Aku tidak peduli, bagiku mereka keluargaku. Dan itu cukup meski mereka terkadang mereka sering bercerita mengenai siapa mereka namun aku tidak tertarik dengan cerita itu.

“Selamat malam.”sebuah bisikan lembut mengantarku memasuki alam mimpi.

**

Kuambil secara asal kaus putih dari atas tumpukan baju dan mengambil jaket coklat favoritku dan mengenakannya.

“Ann.”

Suara selembut beledu dan pintu yang terbuka membuatku terperanjat dan memekik”Aiden,”aku langsung masuk kembali ke kamar mandi. Terdengar kekehan pelan dari pria yang aku selalu aku sebut menyebalkan. Lihatkan betapa menyebalkannya dia.

Aiden tidak pernah mengetuk pintu jika ingin masuk ke dalam kamarku dan itu sangat menyebalkan. Jika kasusnya aku masih kecil itu tidak masalah tapi sekarang aku sudah dewasa dan dia seorang pria. Meski aku tahu di dunia mereka tidak mengenal adanya seorang wanita karena semuanya adalah pria. Tidak bisa dibayangkan ada tempat dimana hanya ada pria-pria saja.

Kupercepat mengenakan kausku lalu merapihkan rambutku sebentar dengan tangan sebelum keluar kamar mandi. Buku gambar juga tas cokelatku, segera aku sambar sebelum keluar kamar. Kuturuni tangga dengan langkah cepat, hingga sebuah gumpalan putih tepat mengenai wajahku dan menghilang begitu saja setelahnya.

“Henry!”

Sudah cukup baru beberapa jam aku bangun tapi mereka sudah membuatku emosi. Terdengar tawa yang berdentang seperti lonceng. Kukepalkan kedua tanganku dan berpura-pura tidak mempedulikannya padahal saat ini aku ingin menghajar pria kedua ter-menyebalkan dalam list­-ku setelah Aiden.

“Hei , kau marah,”

Pria itu kini tengah berdiri dihadapanku dengan sayap yang terkembang, kepalanya dimiringkan sedikit menatapku intens. Tidak kupedulikan dia dan berjalan melewatinya.

Henry dan Aiden keduanya sama menyebalkannya, mereka senang sekali mengerjaiku. Tidak pernah terbayangkan olehku ketika aku masih kecil merekalah yang selalu menjagaku dan mengajakku bermain. Menilik kesukaan mereka mengerjaiku sekarang, tidak mungkin mereka yang dulu menjagaku.

Dennis duduk diujung meja makan lengkap dengan secangkir teh dihadapannya, terkadang aku penasaran benarkah isi cangkir itu adalah teh. Dennis adalah yang paling manusia diantara mereka.

“Pagi Anita,”aku tersenyum menanggapi sapaannya. Dia kembali asyik dengan koran yang sedang dia baca. Terlihat sangat manusia bukan?

Aku tidak tahu kenapa Dennis suka sekali membaca berita mengenai manusia dan dia semakin rajin melakukannya akhir-akhir ini. Kupandangi koran yang sedang dia baca tepat disebuah halaman yang memberitakan kematian seorang pengusaha mudah di kota ini. dia diduga dibunuh. Bahkan di kota sekecil ini masih ada saja pembunuh, aku kira di kota yang hanya berpenghuni tidak sampai dua ribu orang ini dan kemungkinan semuanya saling mengenal masih ada saja pembunuh. Aku bergumam pelan membuat Dennis sedikit terusik karena kini dia sudah tidak menatap korannya melainkan aku.

“Ini bekalmu,”Nathan menaruh kotak makan berwarna putih itu kehadapanku, aku memberikan senyum terima kasih padanya dan kembali rambutku menjadi korban. “Rambutmu terlihat sudah panjang, tidakkah lebih baik kau memotongnya, sayang?”

Aku melirik Dennis yang kini tengah kembali menekuri korannya. Setelahnya aku mendongak pada Nathan yang kini tengah menyentuh ujung rambutku. Setahuku dialah yang menyuruhku memanjangkan rambut karena dia pernah melihat rambut panjang itu mencerminkan seorang gadis. Nathan begitu perhatian pada perkembanganku sejak kecil. Seperti ketika aku masuk sekolah menengah Nathan mulai bertanya hal-hal yang membuatku malu. Kurasa jika dia wanita aku tidak akan malu tapi masalahnya dia bukan wanita dan membicarakan hal yang berbau wanita itu membuatku sangat malu. Aku tidak tahu darimana dia mengetahui hal-hal seperti itu namun suatu hari aku memergokinya tengah membaca buku berjudul ‘Psikologi Remaja’ entah darimana dia mendapatkan buku itu.

“Tidak, aku sedang suka rambut panjang,”aku berdiri dari dudukku memasukkan bekal buatan Nathan ke dalam tas lalu mencium pipi Nathan sekilas. “Aku pergi,”

“Jangan lupa bawa payung, Dennis bilang hari ini akan hujan”

Jika Dennis diibaratkan ayah sementara Nathan adalah ibunya. Sebuah pikiran dari alam gilaku tentu saja.

**

Aku benci dipanggil Ann dan aku benci ditatap intens oleh orang-orang yang tidak aku kenal. Baru aku melangkah masuk ke dalam satu-satunya sekolah negeri di kota ini, mata orang-orang yang tidak kukenali ini sudah menatapku awas. Ini sudah tiga hari dan mereka masih mengintimidasiku. Kudekap buku gambarku dengan erat ke dada, menunduk membiarkan rambut panjangku menutupi kedua sisi wajahku. Aspal yang masih basah membuat jalanku sedikit pelan, aku harus berhati-hati agar tidak jatuh. Sudah kubilang aku orang yang kaku.

Ada tangga kecil sebelum masuk ke dalam gedung sekolah, kutapaki satu persatu dengan perlahan namun entah karena sepatuku yang licin atau memang aku terlalu kaku, kakiku terpeleset. Aku jatuh terduduk dengan buku gambarku terbuka dan kertas-kertasnya berhamburan begitu saja. Kudengar suara tawa beberapa orang disekitarku. Aku ambil buku itu berikut kertas-kertasnya dengan cepat.

“Hei, apa ini?,”kertas putih terakhir terangkat dari tanah, seseorang mengambilnya. Pria tinggi dengan rambut coklat keemasan dan bertampang menyebalkan mengamati gambarku dengan seksama. Senyum sinis terpampang di wajahnya.

“Kembalikan,”cicitku memintanya untuk mengembalikan kertas itu. Dia menatapku dengan tatapan merendahkan. Aku tidak bisa menghadapi keadaan seperti ini, biasanya aku selalu pasrah. Aku tidak bisa melawan mereka.

Pria ini menatapku dari atas sampai bawah, “Berapa usiamu masih menggambar seperti ini?”dia menunjukkan gambar itu pada murid-murid yang tengah berdiri di sekitarnya dan gelak tawa terdengar dari mereka.

Aku mendesah pelan, dia tidak mungkin mau mengembalikannya. Maka aku putuskan untuk tidak menghiraukannya dan berjalan melewati tubuh tinggi pria itu dengan tetap menunduk. Bahkan di tahun terakhirku, aku masih harus menerima perlakuan seperti ini.

Bagiku aku hanya hidup saat di rumah, bersama keluargaku yang bersayap itu. Meski Aiden dan Henry sering mengerjaiku tapi rasanya tidak seperti saat mereka-mereka yang mengerjaiku atau mengolokku. Sangat menyakiti hatiku. Apa aku satu-satunya manusia yang tidak bisa memiliki teman?

Kubuka pintu kaca ruang kelas pertamaku. Kelas kalkulus Mr. Grey. Masih kosong, tentu saja, belum ada yang akan masuk sampai bel berbunyi dan mereka akan berlarian masuk karena Mr. Grey tidak mentolerir keterlambatan. Aku mengambil posisi duduk dibelakang dekat jendela yang selalu terketuk oleh dahan pohon pinus. Ruangan ini didominasi warna hijau tua sejalan dengan pohon-pohon rindah yang ditanam di sekitar sekolah tertua di kota ini. Buku gambar itu kubuka, sedikit kotor karena jatuh. Kulihat kertas mana yang hilang ternyata lukisan Andrew yang kubuat kemarin. Aku hanya bisa mendesah pelan, kembali aku harus membuatnya dari awal. Tidak tahukah mereka merefleksikan Andrew dalam selembar kertas dengan pensil itu begitu sulit. Wajahnya terlalu rupawan untuk digambar hanya dengan pensil kuning ini. Kugigit bibir bawahku, menahan tangis yang akan pecah sebentar lagi.

**

Setiap kali aku menggoreskan pensilku ke kertas putih ini, aku selalu berharap lukisanku akan sempurna. Aku ingin melukis mereka sesuai dengan mereka, harus sama karena ini satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk tetap mengingat mereka. Semakin dewasa aku semakin takut kehilangan mereka. Aku takut mereka seperti ibu peri yang dikirim pada anak kecil yang kesepian dan ketika anak itu sudah dewasa, ibu peri menghilang. Aku tidak mau seperti itu, mereka tidak boleh pergi, mereka satu-satunya keluargaku. Aku akan semakin kesepian jika mereka pergi.

Aku tidak punya kenangan apapun atau bukti tentang mereka, foto-foto masa kecilku yang seharusnya ada mereka. Semuanya hanya ada fotoku, mereka tidak terlihat ketika di foto. Hal itulah yang membuatku semakin takut kalau mereka memang akan seperti cerita ibu peri. Ketika si anak menjadi dewasa dan tidak percaya lagi hal-hal seperti ini, ibu peri pergi. Oleh karena itu, aku selalu melukis mereka yang sedang melakukan berbagai macam kegiatan. Aku tidak mau kehilangan satu momenpun dari mereka.

“Boleh kuambil bolanya?”pertanyaan dari seseorang membuatku berhenti menggoreskan pensil di kertasku. Kudongakkan kepalaku dan seorang pria dengan rambut hitam tepat berdiri dihadapanku, matanya bulat berwarna hitam. Dia kini tengah tersenyum padaku sambil menunjuk ke bawah kakiku. Refleks aku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah bola ada disamping kakiku.

Oh, dia ingin mengambil bola. Aku pun mengambilnya dan melupakan kertas-kertasku yang kini terjatuh ke tanah semua. Sial, aku lupa. Buru-buru aku mengambil kertas itu sebelum dia melihatnya dan mentertawakanku seperti pria yang tadi pagi. Namun tidak kusangka dia ikut berjongkok dan membantuku memungut kembali kertas-kertasku lalu mengambil bolanya.

“Lukisanmu sangat bagus,Anita. Aku Nikki,”dia menjulurkan tangannya yang tidak memegang bola padaku. Aku hanya menatap tangan itu. Ini pertama kalinya ada yang mau berkenalan denganku, bahkan dia tahu namaku. Bagaimana bisa?

“Anita,”dengan ragu aku menyambut tangannya.

“Aku sudah tahu, senang akhirnya bisa berkenalan denganmu secara langsung,”dia tersenyum. Aku hanya mengangguk pelan.”Kita sekelas di kelas bahasa Spanyol,”lanjutnya.

Kucoba mengingat wajah-wajah teman sekelasku di kelas bahasa Spanyol, apakah aku pernah melihatnya.

“Mungkin kau lupa. Tidak apa-apa. Lain kali kau harus ingat, aku Nikki dan kita sekelas di kelas bahasa Spanyol,”ujarnya.

Aku mengangguk.

“Aku pergi dulu, “dia kembali tersenyum dan setelahnya dia berlari pergi ke tempat teman-temannya. Sementara aku masih terpaku ditempatku, masih tidak percaya bahwa ada yang mengajaku berkenalan. Kupikir aku tidak akan pernah memiliki teman disini.

Kukumpulkan kembali kertas-kertas lukisan itu memasukkanya ke dalam buku lalu pergi dari taman sekolah ini yang mungkin lebih tepatnya disebut pinggir hutan kecil, karena memang tepat disamping sekolah adalah hutan.

**

Sepertinya hari ini adalah hari teraneh sepanjang hidupku. Setelah seorang pria bernama Nikki yang sekelas denganku di kelas bahasa Spanyol mengajakku berkenalan. Kini gadis berambut ikat hitam dan mata hitam yang sekelas denganku di kelas sastra Inggris juga mengajakku berkenalan. Cheryl namanya. Dia sejak lahir sampai sekarang tinggal disini. Saint Cove.

Dia terus berceloteh sepanjang pelajaran disampingku. Gadis yang ceria menurutku, seandainya aku bisa seperti itu. Aku hanya ceria dihadapan ketujuh malaikat bersayap itu. Dia banya bercerita tentang kota ini juga beberapa kelas yang ternyata sama denganku.

“Dimana kau tinggal?”tanya Cheryl ketika kelas sastra baru saja bubar dan aku harus masuk kelas biologi setelahnya sementara Cheryl harus masuk kelas Geografi. Kami berjalan beriringan di koridor.

“Mayer road.”jawabku.

“Oh, benarkah? Ibuku memiliki toko disana, kau tahu toko alat musik diujung jalannya?”tanya Cheryl dengan antusias tinggi. Aku mengulum senyum melihat matanya membulat sempurna ketika aku bilang dimana aku tinggal.

“Iya aku tahu. Piano besar disana membuatku ingin membelinya.”kataku.

“Kau akan dapat potongan jika membelinya, bilang saja kau temanku.”Cheryl tertawa setelahnya dan kami telah sampai di depan kelasnya selanjutnya.

“Kalau begitu kapan-kapan aku bisa ke rumahmu, kan?”aku terdiam sesaat sebelum menganggukan kepala seadanya.

Mengajak seseorang ke rumah? Tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Dia berpamitan dan masuk ke dalam kelasnya.

**

Benar kata Nathan tadi pagi, hujan menyapaku ketika aku baru saja turun dari bis. Perjalanan masih cukup jauh untuk sampai rumah. Cukup untuk membuatku basah kuyup tapi kalau tidak kutempuh hujan ini akan semakin lama untuk sampai ke rumah padahal hari sudah gelap.Kukenakan tudung jaketku untuk sekedar menutupi kepalaku agar tidak terlalu basah terkena air hujan, kemudian mulai berlari sampai ke rumah.

“Apa yang dikatakan Dennis tidak pernah meleset Anita,”Nathan sudah menungguku di depan pintu, wajah sempurnanya berkerut di beberapa tempat melihat tubuhku yang basah kuyup. Wajahnya berubah khawatir. Aku menatapnya dengan tatapan memohon maaf. “Masuklah dan keringkan tubuhmu,”lanjutnya.

Aku masuk ke dalam rumah yang terasa begitu hangat, sepertinya aku sudah kedinginan. Aku masuk ke dalam kamarku yang bernuansa putih ini lalu masuk ke dalam kamar mandi, mengeringkan tubuhku.

Ketika aku kembali dari kamar mandi, segelas coklat panas sudah ada di meja belajarku. Pasti Nathan yang membuatnya. Aku hanya melihat Nathan tadi, kemana yang lainnya pergi?. Mereka memang terkadang menghilang tiba-tiba tanpa kutahu entah mereka pergi kemana. Aiden pernah bilang mereka sesekali ke dunia manusia untuk berbaur dan mengamati perkembangan, entah perkembangan apa yang dia maksud, tidak pernah terlalu aku pikirkan.

Terlalu banyak keanehan dihidupku yang membuatku malas untuk mempertanyakannya. Seperti bagaimana mereka bisa memiliki uang untuk membiayaiku hidup. Itu pertanyaan yang selalu bertengger dipikiranku tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk bertanya. Seperti yang sudah kubilang, mereka keluargaku, aku tidak peduli dengan yang lain.

**

Sayap-sayap berwarna putih turun perlahan dari langit seperti hujan, aku berusaha menangkapnya satu persatu. Sayap itu berubah menjadi air ketika menyentuh tanganku, terasa sangat dingin. Kupanggil nama mereka satu persatu namun tidak ada yang muncul, kupanggil lagi nama mereka dan semua sama, tidak ada mereka.

Apa mereka pergi meninggalkanku, tidak. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian.

“Dennis,”

Kupanggil nama Dennis berkali-kali, aku berlari mencarinya. Padang rumput hijau yang terang ini tiba-tiba gelap. Aku tidak bisa melihat apapun.

“Dennis,”

Aku kembali memanggilnya namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Kini sayap-sayap hitam turun perlahan. Tanganku bergetar ketika sayap hitam itu berubah menjadi darah ditanganku. Apa ini?

“A-anita”aku mendengar suara tertahan Dennis, kupanggil namanya namun aku tidak bisa melihatnya.

“A-anita, pergi dari sini”

Suaranya kembali terdengar. Dimana dia?

“Dennis,”

“Dennis,”

**

“Anita, sadarlah”

Dennis ada dihadapanku menyentuh pundakku perlahan, nafasku naik turun. Apa tadi itu mimpi?

“Dennis,”kupeluk tubuh tegapnya da menyembunyikan wajahku di dadanya, suara tangisan lolos dari bibirku. Aku takut, sangat takut. Rasanya begitu nyata. Dia meninggalkanku dan dia terluka.

Tanganna mengelus punggungku perlahan, menenangkanku namun tanganku masih bergetar begitupun tubuhku. Mimpi yang sangat menyeramkan.

“Semua baik-baik saja Anita, itu hanya mimpi”Dennis berkata sangat lirih seraya terus mengelus punggungku perlahan.

Sayap putihnya menyelimutiku, membuatku mulai merasakan kenyamanan. Kudengar dia bergumam pelan, itu lagu yang sering dia perdengarkan padaku ketika aku tidak bisa tidur. Lagu tidurku.

“Semua baik-baik saja Anita, aku disini,”

Advertisements

10 thoughts on “FF: White Wings

  1. ceritanya bikin senyam senyum sendiriii .. Hahah cast2nya itu lhoooo ..
    Seruuu eon ..
    Tp ini tuh baru part 1?? Atau udh smpe sini ajah?? Soalnya aku belum nemu maksd dri cerita ini???! =.=a
    Tapi jujur daah seru bgt ~
    Daebak eonnie 😀 di tunggu yg selanjutnya !!

  2. thooor knapa marcus ny nda ada?? huueee TT
    kurang lengkap tanpa suami ak yg satu itu ~,~
    mereka emg bukan manusia, ga ada manusia yg menyilaukan seperti mereka #apadah#
    ada lanjutan ny kah??

  3. iya eon marcus.a mana? kaya.a klo ada anita tapi ga ada marcus rasa.a gmana gtu…

    ini tuh udah tamat apa mash lanjut eon aq ko msh bingung sama alur cerita.a, tapi.a bikin penasaran o_O jadi gmana dong ❤

  4. Menanti marcus..hohoho

    ceritanya keren eonn,g ngebayangin tu pangeran pangeran tampan pnya sayap…hadew,meleleh gue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s