FF: You Are The Apple In My Eyes 11

“Tidakkah kita tampak seperti sepasang kekasih”

“Aku tidak mau mendengar jawabannya sekarang, aku ingin berusaha keras untuk mengejarmu”

“Aku memang kekanak-kanakan dan bodoh”

“Aku akan berhenti mengejarmu”

“Apa yang sedang kau lakukan?.”

“Tidak ada, aku baru saja pulang. Kau?.”

“Aku baru selesai mandi.”

“Bagaimana minggu-minggu awal disana?.”

“Baik, sangat baik.”

“Kau harus belajar dengan benar. Jangan membuat orang tuamu kecewa atas pilihanmu.”

Ne noona.

“Kyu!”

Meski baru seminggu menjalani masa-masa kuliah, kurasa aku sudah merindukannya. Merindukan dia yang sedang menggerutu kesal saat ini karena aku menggodanya. Rasanya memang sangat berbeda ketika hampir dua belas tahun sosok gadis itu ada di sekitarku sekarang tiba-tiba saja tidak ada lagi gadis pintar ini, menyisakan sesuatu yang kosong.

Dia masih mengomeliku diseberang telepon sementara aku hanya bisa mengulum senyum, beberapa teman sekamarku menatapku aneh namun aku tidak peduli. Aku menyewa apartemen kecil bersama teman-teman yang baru kukenal saat pertama kali masuk ke kampus ini, kenapa aku bisa mengenal mereka mungkin karena kami menyukai jenis musik yang sama.

“Tidak adakah yang mengejarmu disana seperti saat sekolah?”tanyaku ketika dia sudah berhenti dengan omelannya.

“Memangnya kenapa?”dia bertanya balik.

“Tidak, kalau ada yang mengejarmu kau harus bilang padanya berhenti untuk mengejarmu karena sudah ada yang mengejarmu saat ini. Aku”kudengar dia tertawa, tawa yang kurindukan.

“Baik akan aku katakan pada mereka tapi aku tidak janji mereka akan menuruti perkataanku”.

“Kau harus memaksa mereka. Pokoknya tidak ada yang boleh mengejarmu disana karena aku yang lebih dahulu mengejarmu”.

Dia hanya bergumam pelan.

“Aku merindukanmu.”

Kami mengucapkan kalimat itu bersama. Sungguh lucu sekali. Sebenarnya kata-kata itu yang sejak tadi ingin aku katakan dan ternyata dia juga ingin mengatakan itu. Kami tertawa menyadari kebetulan yang lucu ini.

“Aku benar-benar merindukanmu”kataku lagi.

“Aku juga. Kau masih berhutang padaku, ingat janjimu mengunjungiku musim dingin nanti”.

“Iya aku ingat.”

Kemudian hening. Seperti kehabisan bahan pembicaraan, kami hanya bisa terdiam. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku katakan lagi sepertinya kata ‘aku merindukanmu’ merupakan kata-kata yang ingin aku katakan sejak awal sehingga setelah mengatakan itu membuatku tidak tahu apalagi yang harus aku bicarakan.

“Kurasa kau harus istirahat”kataku.

“Iya, selamat malam.”

“Selamat malam.”

Kutaruh ponsel hitamku disamping. Seperti sebuah kewajiban bagiku untuk meneleponnya setiap pukul tujuh malam dan hal itu sudah aku lakukan sejak dia pergi ke Seoul. Kami bercerita banyak hal dan bisa menghabiskan lebih dari satu jam. Dia akan menceritakan hari-harinya selama di Seoul, pergi kemana saja disana dan berharap dia bisa mengajakku pergi pada akhirnya dia mengingatkanku tentang janji untuk mengunjunginya musim dingin nanti.

**

Pertengahan musim dingin dan aku sudah libur. Sebelum pulang ke rumah aku harus menepati janjiku untuk mengunjugi Yong Soon di Seoul. Dia bilang dia akan menjemputku di stasiun. Hampir setahun kami tidak bertemu bagaimana rupanya saat ini ya? Aku yakin dia semakin cantik dan terlihat dewasa. Bahkan di usia 17 tahun saja dia sudah terlihat dewasa apalagi sekarang. Gadis yang terlalu cepat tumbuh dewasa.

Aku turun dari kereta berwarna abu-abu itu mengedarkan pandanganku mencari sosok gadis manis yang sudah berjanji menjemputku. Tidak butuh waktu lama ketika aku melihatnya melambaikan tangannya padaku. Yah dia semakin cantik dan dewasa. Dia mengenakan jaket hitam panjang dengan kepala yang ditutupi oleh topi rajutan coklat. Kurasa dia memotong rambutnya karena terlihat lebih pendek dari sebelumnya.

“Hai Kyu”sapanya begitu aku sampai dihadapannya. Aku tersenyum padanya dan dia langsung memelukku. “Kau tidak berubah”ujarnya lagi.

“Kau berubah”kataku, dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan seksama kemudian tersenyum.

“Ayo”katanya menarik lenganku untuk berjalan.

Kami keluar stasiun menuju halte bus terdekat, aku tidak tahu dia akan mengajakku kemana, kubiarkan saja gadis ini yang memandu. Kemanapun dia mengajakku aku tidak masalah. Udara sudah semakin dingin di Seoul ini dan aku lupa membawa sarung tangan. Kuusapkan kedua tanganku untuk memberikan kehangatan pada jari-jariku yang rasanya kaku karena kedinginan.

“Udara disini dingin sekali”kataku padanya yang duduk di sampingku di dalam bus. Dia melirikku dan kemudian membuka sarung tangan putih dengan hiasan strawberi-strawberi kecil di punggung tangannya. Dia memberikannya padaku. Aku sedikit terkejut karena perlakuannya dan hanya menganggurkan sarung tangan yang dia berikan. Dengan cepat Yong Soon memakaikan sarung tangan miliknya itu padaku.

“Lain kali jangan lupa”katanya, aku mengangguk. Bibirku membentuk senyuman memperhatikan sarung tangan yang kukenakan ini. Tidak berubah, masih perhatian. Aku menoleh ke arahnya yang kini tengah menatap jalanan di sampingnya.

“Yong Soon-ah, tidakkan kita tampak seperti sepasang kekasih”dia berbalik menghadapku, alisnya terangkat kemudian tertawa pelan.

“Benar, kau benar Kyu”diakhiri dengan tawa lagi. Memangnya kata-kataku tadi lucu, bagian mana yang lucu?

“Aku serius”ujarku. Dia hanya mengangguk kemudian kembali menatap jalanan di sampingnya. Aku mendesah pelan. Dia masih belum menyukaiku sepertinya dan aku harus mengejarnya lebih cepat lagi.

“Ayo turun”dia melewati tubuhku ketika bus sudah berhenti. Aku mengikutinya turun dan pemandanganya yang pertama kali menyambutku ketika turun adalah Namsan Tower. “Kau pasti belum pernah kesini kan?”dia menatapku dengan pandangan meremehkan.

“Enak saja. Aku pernah kesini ketika aku kecil. Lagipula apa untungnya sering kesini”jawabku. Dia berdecak pelan lalu menarik tanganku denga kasar untuk berjalan. “Ya Yong Soon-ah, pelan-pelan”

Dia membawaku naik ke atasnya dan dari sini dapat terlihat seluruh kota Seoul yang tertutup awan mendung musim dingin. Yong Soon berdiri di pinggir pagar, aku berjalan menghampirinya dan memberikan gelas kertas yang berisi coklat panas padanya.

“Terima kasih”katanya. Dia memandang jauh kedepan. “Kau tahu aku sering sekali kesini sejak pindah ke Seoul. Waktu kecil aku juga sering kesini tapi rasanya berbeda saat aku sudah dewasa dan kesini lagi”.

“Gadis yang terlalu cepat dewasa”celetukku.

“Apa katamu?!”nada bicaranya naik setingkat, aku menunjukkan senyum setengahku dan sukses membuatnya memukul bahuku. “Kau sungguh menyebalkan Cho Kyuhyun”ujarnya dan menarik tanganku kembali untuk mengikutinya.

Dia membawaku ke tempat duduk yang ada disana lalu dia pergi entah kemana. Gadis yang aneh. Di musim dingin seperti ini ternyata tempat ini masih ramai saja. Kalau aku boleh memilih aku lebih baik tidur dirumah dengan penghangat dibanding harus keluyuran di tempat terbuka seperti ini. Kalau bukan untuk memenuhi janjiku pada Yong Soon aku tidak mau kesini.

Tidak lama gadis itu sudah kembali dengan membawa kertas, dia duduk di hadapanku dan mengeluarkan spidol dari tasnya. Aku menatapnya bingung. Apa yang ingin dia lakukan?

“Ayo tulis sesuatu disini”dia menunjuk kertas berwarna kuning itu. Aku semakin bingung dibuatnya, menulis apa? Aku hanya diam.”Ya Kyu, kau tidak tahu tentang hal ini?”tanyanya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung. Kulihat dia mendesah pelan. Aku benar-benar tidak tahu bukan salahkukan?

“Ya sudah tulis apa saja disana, ok”lanjutnya. Aku mengangguk mengiyakan. Kupandangi kertas kuning ini, sebenarnya untuk apa kertas-kertas ini. Kulihat banyak kertas seperti ini ditempelkan di pagar-pagar. Apa seperti permohonan? Ah ya mungkin seperti itu. Aku tahu apa yang harus aku tulis.

“Apa yang kau tulis Kyu?”tanya Yong Soon ketika dia sudah menuliskan ‘permohonannya’ dan menutupnya rapat-rapat dariku.  Aku membalik kertasku dan menunjukkan padanya.

Bisakah Choi Yong Soon menyukaiku lagi.

Yong Soon tersenyum. “Kekanak-kanakan ya?”tanyaku. Dia menggeleng.

“Tidak, kau bebas menulis apa saja”ujarnya. “Oh ya kau mau tahu jawaban dari tulisanmu itu, aku menulisnya disini”dia menunjuk kertasnya. Wah bagaimana bisa begitu kebetulan. Apa yang dia tulis disana. Apa dia menulis ‘semoga Cho Kyuhyun dan Choi Yong Soon dapat bersahabat selamanya’ dari sikapnya selama ini dia memang hanya menganggapku sahabat tidak lebih.

Aku menggeleng. “Aku tidak mau tahu dulu karena siapa tahu kau berubah pikiran dengan jawabanmu itu.”

**

Pertengahan Januari, salju mulai menutupi jalanan kota Seoul. Udara bukan hanya sekedar dingin tapi sangat dingin.  Meski aku sudah memakai jaket tebal dan sarung tangan tetap saja rasanya masih sangat dingin.  Hari ini hari ulang tahun gadis itu dan aku ingin memberikannya kejutan dengan datang ke Seoul ke asramanya. Selama kuliah di Seoul dia masuk asrama. Aku belum mengucapkan ulang tahun padanya sejak semalam karena aku berniat sekarang sekalian memberikannya hadiah. Sebuah kotak berwarna merah, warna kesukaannya sudah aku bawa. Aku harap dia ada di asramanya saat ini.

Aku sudah berjalan ke arah gedung asramanya, kuambil ponsel hitam milikku, sebaiknya sekarang aku bilang padanya kalau aku sudah ada di depan asramanya, dia pasti akan sangat terkejut. Aku sudah tidak sabar melihat wajah kagetnya ketika melihatku tiba-tiba ada disini. Namun ketika aku menyentuh pilihan panggil kutaruh kembali ponselku ke dalam saku jaket biru tuaku. Mataku membulat sempurna ketika melihat sosok gadis itu ada di depan asramanya. Jaket merah dengan topi rajutan yang senada. Aku kaget bukan  karena melihatnya kenapa sudah ada di depan asramanya tapi lebih kepada seseorang yang kini tengah berbicara padanya, seorang laki-laki dengan tubuh tinggi menggunakan jaket coklat. Mereka terlihat berbicara dan Yong Soon tersenyum pada laki-laki itu, dia mengenggam tangan Yong Soon lalu pergi. Laki-laki itu merangkul tubuh Yong Soon sambil membawanya pergi.

Seberapa keras aku mengejarnya ternyata aku tetap tidak bisa mendapatkannya. Kurasa setahun yang lalu itu adalah kesempatan terakhirku dan aku menyia-nyiakannya. Dia tidak akan pernah menyukaiku lagi, seharusnya aku tahu itu. Tidak mungkin seorang gadis yang ‘ditolak’ akan menyukai laki-laki yang ‘menolaknya’ itu lagi, meski sebenarnya bukan ‘ditolak atau menolak’ melainkan hanya sebuah ketidak sadaran dari laki-laki itu. Sungguh bodoh.

Hujan salju turun tepat ketika aku sampai stasiun kutaruh bawaanku di sampingku. Jendela kereta mulai tertutupi buliran putih itu secara perlahan. Masih terekam jelas apa yang kulihat tadi. Aku tidak berani menanyakannya pada Yong Soon, aku takut apa yang aku pikirkan itu benar dan akan semakin membuatku patah hati.

**

Aku menjadi Cho Kyuhyun yang bodoh untuk yang kesekian kalinya. Dia memang terlalu jauh untuk kugapai dan seharusnya sudah sejak awal aku sadar. Seharusnya sejak awal aku tidak sadar dia menyukaiku. Seharusnya aku tidak menerima ajakannya belajar bersama. Seharusnya aku tidak pernah mengenalnya.

“Jangan coba-coba menganggu urusan kami lagi Cho Kyuhyun atau kau akan kami habisi.”

Derap langkah itu semakin jauh meninggalkanku dengan segala kesakitan yang kurasakan, bukan karena pukulan mereka sakit yang kurasakan tapi di hatikulah rasa sakit itu berasal. Aku bersandar di dinding sudut jalanan yang remang-remang ini merasakan lembapnya aspal sehabis hujan. Hujan terakhir di musim dingin.

Kukerjapkan mataku perlahan berusaha memfokuskan pandanganku karena kulihat seseorang berjalan mendekat padaku tapi rasanya kepalaku sangat pusing. Kurasa mereka memukul kepalaku dengan kencang.

“Kyuhyun-ah”kudengar nada khawatir dari suara seorang gadis. Dia?untuk apa dia kesini?bukankah sudah ada laki-laki yang lebih berarti baginya dibanding aku. Ah ya dia masih menganggapku sahabat dan hanya akan menjadi sahabat selamanya.

“Apa yang kau lakukan Kyu. Kau menyakiti dirimu sendiri. Lihatlah dirimu sekarang. kenapa kau tidak bisa berubah menjadi lebih dewasa, hah.”

Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Aku anak kecil dan akan selalu seperti ini. Apa masalahnya untuknya toh tidak ada untungnya jika aku berhenti bersikap kekanak-kanakan di hadapannya, dia tetap tidak akan menyukaiku.

“Kau tidak masuk kuliah seminggu. Kau tidak bisa dihubungi. Apa yang kau inginkan?mana Cho Kyuhyun yang bilang akan mengejar mimpinya. Kau menghancurkan dirimu sendiri!”

Lalu apa pedulinya? Aku tidak perlu menjadi sempurna di hadapannya karena aku tidak akan pernah bisa. Aku hanya seorang Cho Kyuhyun yang bodoh dan kekanak-kanakan. Aku bangun dari dudukku, menatapnya yang kini tengah menatapku juga.

“Kyu, kumohon berhentilah bersikap seperti ini.”

“Untuk apa aku harus berhenti bersikap seperti ini, apa pedulimu padaku”aku berjalan melewatinya. Dia masih berusaha peduli. Kepeduliannya membuatku berpikiran lain dan pada akhirnya aku kecewa. Bisakah dia bersikap acuh padaku.

Aku berjalan cepat meninggalkannya namun tiba-tiba tangannya menahanku.

“Cukup Kyu. Kau sungguh egois. Bisakah kau mendengarkanku sekali ini”.

“Aku akan berhenti mengejarmu agar kau tidak perlu peduli padaku lagi”Kutatap matanya yang berkaca-kaca itu sepersekian detik sebelum kulepaskan tangannya yang menahanku tadi dengan kasar, meninggalkannya.

Hujan kembali turun menemani langkahku.

Advertisements

19 thoughts on “FF: You Are The Apple In My Eyes 11

  1. aigo ada apa dg cho kyuhyun? abis d pukulin ?
    siapa yg brani mukulin suami(?)ku #tarik kyuhyun kekamar#

    author yg baik hati(?) knapa publish ny smggu skali ?? hhe

  2. Ige mwoyaaaaaaa??????????????

    Yong soon kenapa cm anggap Kyu sahabat? Kasian Kyu patah hati lagi…. 😥

    Gara2 ff ni aku jd download filmnya loh thor, tp ngga mudeng bahasanya… Semoga endingnya ngga kyk di film… masa iya mereka ngga jd sih??? *sedih*

    Fighting for next part ‘-‘)9

  3. Itu Kyu kenapa eon? Dipukulin? Kyu kenapa mau nyerah lagiii??
    Aigooo….yang semangat dong Kyu, jangan menyerah buat mengejar Yong Soon..!
    Eon, buat Happy Ending,ne?
    Jangan lama-lama ditunggu next-nya 😀

  4. Eonni keren banget,jarang jarang liat karakter kyu kayak gini hehe,,

    manis banget!!

    Tiap part bikin penasaran..next part y eonn..

  5. Kyaaaa part galau lagiiiiii ..
    Huhuhuhu eonnie~
    Gak sabar tau endingnya gmna???!
    pokoknya di tunggu yg selanjutnya !! Semangat eon !!

  6. Mianhae baru bisa comment eonnie ~
    huahhh ketinggalan 3part dan akhirnya ngebut deh,
    ceritanya bikin ikutan galau,aishh itu knp kyu dipukulin eonnie kan kasian,tapi knp mreka g jadi” pdhl kirain aku dipart ini mreka jadian.
    Huaa pokoknya daebak!!
    Sweet nya jg dpt dipart 10.
    Ditunggu next partnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s