FF: You Are The Apple In My Eyes 10

 

* Tiga part lagi sebelum END, wanna say thank you buat semua yg udah nyempetin baca atau yang udah comment. Semoga endingnya ga mengecewakan buat semuanya nanti. I really appreciate ur comment ^^*

 

Kutatap amplop berwarna coklat yang bertuliskan namaku juga alamatku itu. Amplop yang sepertinya akan aku simpan sampai saatnya tepat. Tidak bisa kubayangkan respon kakakku dan juga kedua orang tuaku jika aku memberikan amplop ini. Aku tidak siap menghadapinya. Kebohonganku akan terbongkar, aku sama sekali tidak mengikuti saran kedua orang tuaku untuk masuk universitas yang mereka inginkan dan menjadi pengacara, aku lebih memilih mengikuti mimpiku dan kurasa mereka tidak akan siap kuberitahu sekarang. Kumasukkan amplop itu ke dalam laci meja belajarku bersamaan dengan kudengar pintu diketuk. Kenapa kakakku pulang cepat sekali?baru sepuluh menit yang lalu dia pergi. Apa ada yang tertinggal.

Pintu semakin diketuk kencang dan tidak sabaran. Sepertinya bukan kakakku. Dia akan menambahkan dengan teriakan memanggilku. Ketukannya semakin tidak sabar. Siapapun tamu ini harus kuajari tata cara berkunjung ke rumah orang. Pintu berwarna putih itu buka dan berdirilah gadis itu disana. Choi Yong Soon. Matanya berkaca-kaca dan dia masang wajah sedih, menderita dan segala macam sebutan untuk wajah yang tidak bahagia. Aku belum pernah melihatnya seperti ini sebelumnya kecuali-

“Kyu”dia menubruk tubuhku dan langsung mendekapku dengan erat. Hah bisakah gadis ini tidak suka memeluk tiba-tiba. Tidakkah dia tahu setiap kali dia melakukan ini jantungku menjadi aneh juga seluruh tubuhku.

Dia menangis. Ya dia menangis, bukan tangisan pelan tapi dia menangis dengan kencang persis ketika kami dihukum.

“Yong Soon-ah, wae?”tanyaku perlahan. Dia semakin kencang menangis. Aduh, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak terbiasa menenangkan seorang gadis yang menangis. Itu jelas bukan keahlianku.

Aku baru sadar kami masih berdiri didepan pintu. Sebaiknya aku bawa dia kedalam lebih dahulu, daripada ada yang melihat dan menyangka aku melakukan yang tidak-tidak pada gadis ini.

“Ayo masuk dulu”kataku membimbingnya masuk ke dalam rumah, matanya masih mengeluarkan tetesan bening itu, sesekali dia mengusapnya. Aku menatapnya prihatin. Apa yang bisa membuatnya sampai menangis seperti ini. Aku membawanya ke dapur, kurasa itu lebih baik daripada aku membawanya ke kamarku. Kuberikan kotak tisu padanya, dia mengambilnya dan mengusap matanya yang masih basah itu. Dia belum berhenti menangis sejak tadi.

“Aku..tidak..diterima..di kedokteran Kyu…”dia kembali menangis dengan kencang dan aku hanya bisa memasang wajah terkejut. Pantas saja, bagaimana bisa?!

Apa yang harus kulakukan saat ini? dia pasti sangat kecewa. Apa aku harus memeluknya?tidak, aku tidak berani melakukannya. Maka aku hanya mengusap kepalanya seperti yang dilakukan ibuku ketika kecil. Kudengar tangisannya mulai mereda perlahan.

Gwenchana Yong Soon-ah, mungkin itu bukan yang terbaik untukmu”kataku menenangkannya-berusaha menenangkan lebih tepatnya-.

“Aku hanya akan menjadi guru”lirihnya sambil sesenggukan.

“Guru juga bagus, kurasa kau cocok. Kau sudah mengajariku selama ini dan kau berhasil Yong Soon-ah. Kau akan menjadi guru yang hebat”kataku menyemangatinya.

“Tapi katamu aku cocok menjadi dokter”dia menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca membuatku salah tingkah. Aku ingat aku pernah berkata seperti ini. aisshh, menjadi apapun dia pasti cocok. Guru atau dokter atau yang lainpun cocok untuk gadis pintar dna cantik ini.

“Ah tidak, kau cocok jadi apa saja Yong Soon-ah. Aku yakin itu, jadi kau jangan patah semangat hanya karena kau tidak bisa menjadi dokter. Mungkin sebenarnya kau lebih tepat menjadi guru. Kau pintar dan kau senang membagi ilmumu pada teman-teman yang lain termasuk aku”dia mengangguk perlahan. “Orang tuamu sudah tahu?”tanyaku hati-hati. Aku tahu kedua orang tuanya sangat ingin dia menjadi dokter. Gadis ini hanya mengangguk perlahan.

“Suratnya datang tadi pagi, ayah yang membukanya. Ayah tidak memberikan tanggapan apapun, hanya minta maaf karena sudah memaksaku untuk masuk kedokteran selama ini”dia kembali menatapku, mata bening coklatnya masih tampak berkaca-kaca. Setidaknya orang tuanya tidak marah.

“Syukurlah, mereka mendukungmu”aku mencoba tersenyum padanya.

“Bagaiman denganmu?dimana kau diterima?”tanyanya.

“Suratnya belum datang”jawabku buru-buru. Aku tidak mungkin memberitahunya saat ini disaat ayahku belum tahu tentang berita ini dan aku tidak yakin ayah akan memberikanku ijin.

“Belum datang?”

Aku mengangguk meyakinkannnya.

“Ah, bagaiman kalau aku mentratkirmu es krim. Kurasa perasaanmu akan lebih baik setelah makan es krim”kataku sambil berdiri dari dudukku.

“Memangnya aku anak kecil sepertimu Kyu”

“Ya, siapa yang menangis hanya karena tidak diterima, bukankah itu lebih kekanak-kanakan dibanding aku yang selalu kau bilang kekanak-kanakan”

“Baiklah, kurasa hari ini aku akan menjadi sepertimu”dia tersenyum.

Aku lebih suka melihatnya tersenyum. Senyumnya selalu bisa memberikan sensasi aneh padaku. Melihatnya menangis hanya membuatku merasa tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menenangkannya.

**

Ponselku bergetar diatas meja belajarku sejak tadi. Aku begitu takut kalau itu telepon dari ayahku maka aku mengabaikannya saja sejak tadi. Namun ponsel itu terus bergetar kembali beberap saat setelah berhenti. Siapa yang meneleponku sampai berulang kali seperti ini?

Aku mendekat ke meja belajarku. Menatap layar ponsel hitamku sekilas dan aku melupakan sesuatu. Aku bergegas mengambil jaket abu-abuku dan keluar kamar. Seharusnya saat ini aku mengantar Soo Eun di stasiun. Hari ini dia akan berangkat ketempat dia akan melanjutkan sekolahnya. Sebuah universitas khusus wanita.

Kakaku tidak berkomentar apa-apa ketika aku pergi, dia sibuk didepan laptopnya mengerjakan pekerjaannya. Kukenakan sepatuku asal saja dan setengah berlari keluar. Aku mengetik dengan cepat pesan pada Soo Eun,mengatakan bahwa aku akan segera sampai.

Sampai di stasiun aku maish berlari mencari sosok gadis itu dan itu dia, duduk menunggu kereta dengan jaket oranye favoritnya. Aku mendesah pelan, untung dia belum pergi.

“Soo Eun-ah”sapaku, dia mendongak dan merengut melihatku. Aku tahu dia pasti kesal.

“Kukira kau tidak datang Kyu” aku duduk disampingnya.

“Aku sudah janji dan aku pasti menepatinya. Hanya sedikit lupa”aku terkekeh pelan. Dia mengerucutkan bibirnya. Kuacak-acak rambutnya kasar. Dia mendegus kesal.

“Kau belum tahu diterima dimana?”tanya Soo Eun padaku.

“Belum ada surat yang datang, mungkin terlambat”jawabku asal. Padahal kebalikannya tentu saja, surat itu sudah datang, aku diterima dan kusimpan rapat-rapat surat itu dilaci mejaku. Menungu waktu yang tepat untuk memberitahukan pada keluargaku.

“Berarti ketika surat itu datang, kau harus segera memberitahuku, agar aku bisa mengunjungimu setiap liburan”katanya.

Arasso

“Aku akan merindukanmu Kyu”katanya kemudian memelukku, kubalas pelukannya itu. Gadis yang menyebalkan namun menyenangkan ini akan selalu aku rindukan. Tidak habis pikir dia harus pergi jauh ke Busan. Apa dia bisa bertahan disana sendirian? Aku jadi sedikit khawatir melihat sikapnya yang masih seperti anak kecil.

Terkadang aku berpikir Yong Soon sering mengataiku kekanak-kanakan, lalu bagiaman dengan gadis ini, dia lebih kekanak-kanakan dibanding aku. Yong Soon salah menilah kurasa. Soo Eun memberikanku pelukan terakhir, sebelum dia mulai menaiki kereta. Aku melambaikan tanganku padanya, perlahan tubuh kecil berbalut jaket oranye itu hilang. Kulihat kedua orang tuanya sudah di dalam kereta, sepertinya mereka mengantar sampai ke tujuan. Senangnya bisa memenuhi keinginan orang tuamu, sedangkan aku. Aku bahkan tidak berani mengatakan berita ini karena aku yakin mereka akan kecewa. Aku berbalik dan keluar stasiun.

Sepanjang jalan, aku memikirkan cara bagaimana memberitahu keluargaku tentang hal ini. Aku adalah anak laki-laki yang sangat tidak penurut, pasti mereka berpikir seperti itu tapi aku memang tidak bisa mengikuti keinginan mereka. Aku hanya ingin mengejar mimpiku. Kubuka pintu tempat tinggalku dan juga kakakku ini namun tepat saat itu kakakku ada dibalik pintu.

“Kyu”ujarnya, wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan dan yah sangat berbeda seperti ada sesuatu.

“Kenapa tidak memberitahuku?”dia menunjukkan amplop coklat itu padaku, aku menelan ludahku dnegan berat bagaimana bisa dia menemukannya?

“I-itu ak-“

“Kau bisa jelaskan ini pada ayah dan ibu, mereka ada didalam dan mereka sudah tahu semuanya”

“Apa?!”

**

Aku memetik gitarku perlahan, seakan sedang mencoba nada yang terdengar dari petikanku namun sebenarnya jelas bukan karena itu. Aku tidak sedang dalam mood yang bagus. Ayahku sangat marah ketika aku mengetahui aku diterima di jurusan musik dan semakin marah karena sebenarnya aku tidak pernah mendaftar di jurusan hukum. Aku tidak ikut ujian. Mereka sangat kecewa, aku tahu itu. Diam, aku hanya bisa melakukan itu. Ayah belum memberikan jawaban apapun,kalau ayah tidak mengijinkan juga kurasa aku harus membuang semua partitur lagu yang kubuat dan menjadi anak baik untuk mereka. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, namun aku masih berharap ayah akan menerimanya. Aku berjanji akan bersungguh-sungguh kali ini karena memang ini yang aku inginkan.

“Ada masalah?”Yong Soon duduk dibangku kecil disampingku, sejak kapan dia disini. Sejak kejadian itu aku lebih memilih menghabiskan waktuku di cafe Jung Soo Hyung dan gadis ini selalu ikut.

“Tidak ada”jawabku cepat dengan masih memetik gitar coklat ini. Kudengar dia mendesah pelan.

“Sudah beberapa hari ini kulihat kau berbeda?ada sesuatu yang terjadi? Kau bisa berbagi denganku”katanya lagi.

Aku tidak mungkin cerita padanya, dia pasti akan berpikir hal yang sama dengan kedua orang tuaku. Kuyakin dia akan bilang aku kenakak-kanakan karena sampai membohongi kedua orang tuaku hanya karena keinginanku sendiri.

“Jung Soo Oppa”kudengar dia menyapa seseorang yang baru kembali, aku mengikuti arah pandangnya. Laki-laki berlesung pipi itu tersenyum pada Yong Soon dan berjalan mendekat kearah panggung kecil ini.

“Kulihat kalian sangat dekat”kataku. Dia menoleh padaku.

“Ini sudah kesekian kalinya kau mengatakan itu Kyu, memangnya kenapa kalau aku dengan Jung Soo oppa, dia bisa menjadi kakak bagiku. Kau kan tahu aku tidak punya kakak, jadi aku senang berbicara dengannya”terang gadis ini panjang lebar. Kakak laki-laki? Oh, baguslah.

“Apa yang kalian lakukan disini berdua? Ah apa kalian sudah pacaran?”Jung Soo hyung sudah berdiri dihadapan kami, aku menatapnya malas. Kudengar Yong Soon tertawa pelan.

“Sudahlah hyung, aku tidak sedang ingin bicara dennganmu”kataku ketus. Kudengar tawa unik Jung Soo hyung.

“Baiklah-baiklah, kurasa kau hanya ingin bicara dengan Yong Soon”

Kudengar langkahnya pergi, baguslah. Aku sedang tidak ingin bicara dengannya.

Oppa, kau membuat eclair hari ini?”tanya Yong Soon.

“Ya”

Yong Soonberanjak dari duduknya, tidak butuh waktu lama dia sudah kembali.

“Mau?”dia menawariku sepiring eclair, aku menggeleng.”Ayolah, dicoba, buatan Jung Soo oppa yang terbaik”pintanya. Akhirnya aku mengambil satu.

“Akan membuatmu lebih baik”katanya. Aku tertawa pelan dan memasukan kue itu sekali suap ke mulutku.

“Kau tahu kalau eclair itu lambang kesedihan dan kau memberikannya padaku agar aku menjadi lebih baik, bagaimana bisa?”

Gadis ini tersenyum. “Kau tahu kalau minus dikali minus menjadi plus, ,kurasa jika kue ini sedih dan kau sedih bertemu maka  akan menjadi bahagia”

Aku tertawa kecil. Bagaimana bisa seperti itu.

“Kau terlalu banyak belajar”kataku. Dia tertawa pelan dan menghabiskan sisa eclair dipiring itu. “Oh ya kau mau mendengar lagu buatanku?”tawarku. Matanya berbinar dan mengangguk dengan cepat.

“Kalau begitu duduklah di kursi penonton dan nikmati penampilan Cho Kyuhyun yang tampan”dia kembali tertawa sambil turun dari panggung dan duduk di salah satu meja disana.

Aku mulai memainkan gitarku. Sebuah lagu yang pelan tidak seperti yang biasa aku mainkan. Lagu ini bercerita tentang kekaguman pada seseorang dan kurasa semua tahu siapa yang aku kagumi. Gadis yang tengah duduk menatapku intens ini. Sudah kebiasanku menuangkan semua perasaanku menjadi sebuah lagu. Saat aku senang, sedih, menyukai seseorang, patah hati semuanya aku jadikan sebuah lagu. Hidupku untuk musik, sejak dulu sampai sekarang dan aku ingin orang tuaku tahu itu.

Dia bertepuk tangan setelah aku selesai bernyanyi, dia mengacungkan jempolnya padaku. Dia bisa membuatku lebih baik hanya dengan senyumnya saja.

Hari itu aku tampil membawakan lagu-lagu pelan, Yong Soon tidak seperti biasanya duduk menontonku, dia malah sibuk membawa pesanan makanan pengunjung. Kurasa dia dimanfaatkan oleh Jung Soo Hyung disini dan gadis itu tidak tahu.

“Ayo pulang”kataku padanya yang duduk di depan cafe menungguku beres-beres, aku menyuruhnya keluar agar dia tidak perlu disuruh membantu. Dia kan bukan pelayan disini. Dia tersenyum dan mulai berjalan bersamaku.

“Kau benar-benar keren tadi. Kurasa kalau kau jadi penyanyi kau akan memiliki banyak fans”

Aku menoleh padanya. “Tentu saja aku kan tampan”

“Isssh, bukan karena kau tampan. Suramu bagus Kyu, tidakkah kau sadar itu”aku hanya tersenyum. Aku memang ingin menjadi penyanyi tapi bagaimana bisa? Ayah tidak akan pernah setuju. “Kalau kau jadi penyanyi, aku akan menjadi fansmu, membeli semua cd-mu, datang ke konsermu-“aku lebih dahulu tertawa membuatnya berhenti berbicara. Gadis ini lucu sekali bagaimana dia bisa berpikir sampai sejauh itu.

“Kenapa?”tanyanya dengan wajah penasaran, kami berhenti sebentar hanya karena celotehannya tadi.

“Tidak, kau berpikir terlalu jauh”kataku.

“Sudah seharusnya seperti itu Kyu, kau harus merencanakan masa depanmu seperti apa dari sekarang”

Ne noona

Dia memukul bahuku ketika aku memanggilnya noona, aku tertawa terbahak-bahak karenanya sambil berjalan kembali. Aku senang menggodanya.

“Kapan kau berangkat?”tanyaku.

“Dua minggu lagi”kudengar ada nada sedih dari suaranya atau hanya perasaanku saja. “Kau masih belum mau memberitahuku kau diterima dimana?”tanyanya. aku tersenyum getir. Aku sendiri tidak tahu aku melanjutkan atau tidak. Aku menggeleng.

“Aku sudah tidak diterima di kedokteran dan kurasa beritamu masuk mana akan lebih spektakuler dibanding beritaku”

“Aku akan memberitahumu jika sudah waktunya”

Yaksok?”

Yaksoke

Kami kembali berjalan dan kali ini kami hanya terdiam satu sama lain. Sebentar lagi aku akan berpisah dengan gadis ini. Sejak sekolah dasar sampai sekarang kami selalu satu sekolah dan sekarang saatnya kami berpisah menggapai mimpi kami masing-masing. Belum apa-apa aku sudah merindukannya.

“Kyu”dia menahan tanganku untuk berjalan, dihadapkannya tubuhnya padaku.

“Maukah kau datang ke rumahku sebelum aku pergi nanti?”pintanya.

Tanpa dia minta pun aku akan datang.

“Tentu saja”

“Maukah kau mengunjungiku di Seoul nanti?”

Untuk yang ini, aku senang dia mengijinkanku mengunjunginya di Seoul.

“Iya pasti”

“Terima kasih”dia menatapku lekat-lekat. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Aku tersenyum kaku. Jantungku bekerja lebih keras saat ini.

“Aku tidak tahu kau sadar atau tidak, kita selalu sekelas sejak sekolah dasar sampai sekarang”

Aku sadar, sadar sepenuhnya Yong Soon-ah. Bahkan aku pikir kau yang tidak sadar ternyata kau juga sadar kita selalu bersama.

“Mulai tahun depan kita akan berpisah, aku tidak bisa lagi melihatmu tidur dikelas, bermain game dikelas, bercanda di jam pelajaran dan yang pasti tidak ada lagi dirimu dikelasku nantinya”dia berhenti sejenak, wajahnya menunduk. “Aku akan merindukanmu Kyu”

Aku juga akan merindukanmu Yong Soon-ah. Dari dulu aku ingin sekali bisa dekat denganmu dan ketika kita sudah dekat kenapa waktu berlalu begitu cepat. Entah keberanian darimana, aku menyentuh tangannya, menautkan jari-jari kami. Tanganku yang lain mendongakkan wajahnya, kulihat matanya berkaca-kaca sama seperti ketika dia datang ke rumahku. Kuperhatikan lekat-lekat wajah cantik itu. Mata coklat benignya, hidungnya juga bibir mungil berwarna plum yang sedikit terbuka seakan menggodaku untuk menyentuhnya. Aku belum pernah melihatnya sedekat ini dan dia sungguh cantik. Sekali lagi aku tidak tahu ada apa dengan otakku. Aku mulai mendekatkan wajahku padanya, hembusan nafasnya yang hangat di udara malam yang dingin ini menyentuh wajahku, rasanya semakin dekat dan terus semakin dekat. Yong Soon memejamkan matanya, kurasakan jantungku semakin berdetak tidak karuan. Aku ikut memejamkan mataku membiarkan semuanya berjalan perlahan. Rasanya semakin dekat dan ketika bibir mungil itu tersentuh sedikit oleh bibirku, aku tersadar. Tidak seharusnya aku melakukan hal bodoh ini. Apa yang kau pikirkan Kyu. Kau tidak boleh menciumnya.

Aku membuka mataku dan menjauhkan tubuhku.

“Ayo cepat hari sudah sangat malam”kataku kemudian berjalan lebih dahulu. Aku tidak berani melihatnya setelah hampir melakukan hal bodoh itu. Aku malu, menciumnya adalah hal yang tidak panats aku lakukan.

**

“Kyu!”dia melambaikan tangannya padaku yang berjalan semakin mendekati rumahnya. Dia ada di depan pagar putih rumahnya itu.

Dia menghambur ke pelukanku begitu aku sudah dekat. Sebenarnya aku masih canggung karena kejadian beberapa minggu yang lalu yang hampir saja aku menciumnya namun sepertinya dia menganggap hal ini biasa saja dan seperti tidak pernah terjadi hal yang kemarin itu.

“Aku akan sangat merindukanmu, kau berhutang satu janji padaku”katanya sambil melepaskan pelukannya.

“Apa?”tanyaku.

“Kau belum cerita dimana kau diterima”

Aku terkekeh pelan. Aku sampai lupa dengan janjiku itu. sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu aku ingin mengatakannya namun dia begitu sibuk mengurus kepergiannya. Ketika pulang dua minggu yang lalu aku tidak menyangka akan diberikan keajaiban oleh Tuhan. Ayah mengijinkanku bermusik. Aku merasa seperti mimpi saat itu bahkan hari-hari setelah aku masih tidak percaya. Aku sudah sangat ingin mengabarkan padanya namun dia terlampau sibuk. Bahkan setelah dua minggi yang lalu kami baru bertemu kembali.

“Aku mengambil musik”kataku.

Jinjja?”tanyanya tidak percaya. Aku menangguk dengan mantap. “Ah, Kyu kau benar-benar akan menjadi penyanyi. Chukkae

“Hei, belum tentu aku menjadi penyanyi”

“Aku yakin kau akan menjadi penyanyi. Suaramu bagus, kau pandai membuat lagu dan kau juga tampan. Pokoknya kau harus memberi cd albummu gratis padaku”

“Kau masih saja terlalu berpikir jauh ke depan”

Dalam hati sebenarnya aku mengaminkan, aku memang ingin menjadi penyanyi dan semoga aku bisa mewujudkannya.

“Aku senang sebelum aku pergi, aku melihatmu dulu”ujarnya sambil tersenyum. “Kurasa aku harus kembali ke dalam, sebentar lagi aku akan berangkat”lanjutnya.

Aku menangguk. Disini kami akhirnya berpisah. Apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi nanti?

“Aku menunggumu menepati janjimu, mengunjungiku di Seoul, arachi”kuharap aku bisa menemuinya dan semoga dia tidak melupakanku.

Dia berpamitan kemudian berbalik. Kutatap punggungnya. Aku tidak ingin membiarkan dia pergi dariku. Aku sadar aku tidak ingin berpisah darinya dan kata-kata Jung Soo hyung waktu itu benar adanya. Itu yang harus aku lakukan.

“Yong Soon-ah”panggilku, dia berbalik. “Boleh aku mengejarmu?”tanyaku dan dia hanya tersenyum. Kuanggap itu sebagai jawaban iya darinya. Aku akan mendapatkannya, aku akan membuatnya kembali menyukaiku.

Advertisements

14 thoughts on “FF: You Are The Apple In My Eyes 10

  1. aigoo jinjja mereka bner bakal pisah, tapi knapa ak yg deg-deg’an..
    ak baru sadar#lemot# ternyata d ff mu kali ini yong soon ny lbh bisa “terbuka” sm perasaa ny 🙂

    dtggu klanjutan ny 🙂

  2. Wah….mereka bener2 bakal berpisah yaa? Kyu ambil jurusan musik dan Yong Soon jadi guru..
    Aku suka kalimat terakhirnya eon “boleh aku mengejarmu?”
    Aku akan mendapatkannya, aku akan membuatnya kembali menyukaiku.
    Aigoo..
    Semangat Cho Kyuhyun!
    Fighting 🙂
    ditunggu kelanjutannya eon 🙂

  3. Kyaaaa semakiiin seruuuuuuu ..
    Huaaaaaaa eonniieee ada romantisnya juga .. Hehehehe .. Kereeeen >,<
    Aduuuuuh gak sabaraaaaaaan !!
    Di tunggu eon yg selanjutnya ..

  4. yaaah kenapa ga jadi aja ciumannya ?#yadongkumat haha kenapa sih kyu ga oernah bilang aja kalo suka jadi gemes sendirii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s