FF: You Are The Apple In My Eyes 6

 

 

Pagi yang mendung menyapaku hari ini, seperti menandakan bahwa aku akan mendaptkan sesuatu yang kelabu. Sepertinya aku tahu itu apa. Seminggu ujian dan hari ini adalah pengumumannya. Aku tidak yakin bisa mengalahkan gadis pintar itu, meski aku sudah berusaha keras menganggunya belajar.  Aku akan dipermalukan hari ini juga.

Aku mendesah pelan ketika aku sampai di depan gerbang sekolahku. Dari jauh saja sudah terlihat banyak siswa berkumpul di depan papan pengumumam. Sebaiknya aku membolos hari ini, tidak bertemu dengan gadis itu sepertinya lebih baik dan mungkin bisa mengganti langit mendung ini menjadi sedikit lebih ceria, meski besok tetap saja aku harus siap dengan langit yang kembali mendung. Aku membalikkan tubuhku, semakin cepat aku pergi semakin baik.

“Cho Kyuhyun”sial, aku mendengar suaranya memanggilku tepat ketika aku ingin melangkahkan kakiku. Hebat sekali dia bisa mencium keberadaanku padahal tadi aku tidak melihatnya di kerumunan siswa-siswa itu.

“Kau mau kemana?”tanyanya yang sudah berdiri di belakangku. Aku berbalik dan berusaha untuk terlihat santai.

“Aku malas belajar hari ini, aku mau ke game center saja”jawabku kemudian kembali berbalik namun sesuatu menahan tanganku. Tangannya.

“Kau belum melihat pengumumannya”ujarnya, aku mendesah pelan dan menggerakan tanganku menyuruhnya untuk melihat. Lihat saja wajahnya sudah berseri-seri sekali. Dia pasti sangat yakin dia yang menjadi terbaik. Penderitaanku akan dimulai sebentar lagi.

Dia masuk ke dalam kerumunan itu dan tidak butuh waktu lama, aku melihat jarinya membentuk angka dua. Aku berdecak pelan. Benarkan, sebaiknya aku harus mulai berpikir bagaimana agar aku tidak tampak terlalu memalukan nanti saat aku harus memotong rambutku. Dengan cepat aku berbalik.

“Cho Kyuhyun”aku kembali mendengar namaku dipanggil. Sebelum dia mengejark, sebaiknya aku lari.

“Ya!”

Masih terdengar dia meneriakiku. Aku tidak peduli, hariku sudah menjadi buruk. Aku melewati salon. Apa aku akan melakukannya?aku sudah menerima taruhan itu, aku seorang laki-laki tidak mungkin aku tidak menepati apa yang telah aku katakan. Aku mendesah pelan. Selamat tinggal Cho Kyuhyun yang tampan.

**

 

Kukenakan topi untuk menutupi kepalaku. Sepanjang jalan ke sekolah aku terus berpikir bagaimana aku ke sekolah besok dengan kondisi seperti ini? aku sudah bisa membayangkan tawa mereka ketika melihatku baru melintasi gerbang saja.

Di depan sekolah yang sudah sepi dan gelap di beberap tempat, aku berhenti. Kutatap gedung berlantai dua itu. Kenapa aku kembali kesini?aku hanya ingin menunjukkan pada gadis itu bahwa aku seorang laki-laki yang menepati janjinya. Sudahlah Cho Kyuhyun, hidupmu memang sudah berakhir sejak tadi.

Koridor sepi sama sekali tidak membuatku takut atau apapun. Aku lebih takut bertemu gadis itu. Cahaya lampu dari kelas di ujung kodiror memastikan bhawa gadis itu masih ada disana. Namun saat aku masuk ke sana. Kosong. Kemana dia?apa sudah pulang?

Kuputuskan untuk masuk ke dalam saat, duduk ditempatku yang biasa.

“Cho Kyuhyun”aku mendengar suaranya. Kulirik dia sekilas. Dia pasti sangat senang melihatku seperti ini.

“Cho Kyuhyun”ujarnya seperti tidak percaya ini aku, memangnya siapa lagi. Setan? Dia duduk di kursi di hadapanku, memperhatikanku dengan seksama. Risih sekali dilihatnya seperti ini.

Lalu kulihat dia menutup mulutnya seperti menhawan tawa. Sudah kuduga. Aku menelungkupkan wajahku ke meja. Apa yang akan terjadi padaku besok? Apa salahku sehingga mendapat cobaan seperti ini?

“Kyuhyun-ah, aku tidak percaya kau melakukannya?aku padahal belum bilang apa-apa”katanya. Mencoba menghiburku, tidak akan berhasil tapi apa yang dia katakan tadi.

Mwo?”tanyaku dengan menegakkan kepalaku.

Dia kembali terlihat seperti menahan tawa. Sudahlah lebih baik dia tertawa saja dihadapanku.

“Sejujurnya aku tidak sungguh-sungguh dengan hal itu”sepersekian detik waktu yang kubutuhkan untuk mengetahui maksud perkatannya dan cih aku dibodohi.

“Apa!!k-kau sebenarnya tidak serius dengan taruhan itu dan bodohnya aku langsung percaya sehingga memotong rambutku seperti ini”aku menunjuk kepalaku sementara gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“Sebenarnya aku ingin bilang tadi pagi tapi kau pergi begitu saja”

Aku kembali menelungkupkan wajahku ke meja.

“Tapi Kyu kau tampak tampan dan rapih, jinjja

“Jangan meledekku Choi Yong Soon”

“Aku serius Kyu”

 

**

 

“Kyu”panggilnya, aku hanya berdehem pelan dan pura-pura sibuk dengan soal yang sedang aku baca dan sesekali mencoret-coret dibuku.

“Kyu”

Aku kembali hanya berdehem, dia berbalik. Aku meliriknya lewat bulu mataku.

“Kyu”

“Ada apa Choi Yong Soon?”tanyaku dengan penuh penekanan di setiap katanya dan memberikannya tatapan tajam.

“Bagaimana kalau kita pulang saja”dia sedikit takut-takut. Seharusnya dia merasa bersalah telah membuatku seperti ini. aisshh Choi Yong Soon.

Aku merapihkan buku-bukuku dengan cepat, memasukkannya ke dalam tas dan keluar kelas.

“Kyu, jamkkaman

Aku tidak peduli dengannya dan terus saja berjalan. Kudengar langkah kakiknya yang berusaha mengejar langkahku dengan berlari. Dia tertinggal jauh rupanya ketika aku berhenti di depan gerbang sekolah dan tidak melihatnya dibelakangku.

Aku menunggunya sampai dia tiba dihadapanku. Gadis ini menatapku takut-takut.

Mianhe”sebenarnya dia bilang maaf pun tidak akan bisa memperbaiki keadaan, semua sudah terlanjur terjadi.

“Anggap saja taruhan ini sungguh-sungguh sehingga aku tidak perlu malu karena ini”aku kembali menujuk kepalaku. Dia mengangguk cepat.

Aku kembali berjalan dan kali ini tidak cepat seperti tadi, membiarkan Yong Soon berjalan bersama disampingku.

Kami berjalan dalam diam, baik di bus maupun kini saat kami sudah sampai di jalan menuju rumah kami. Tidak ada yang ingin kukatakan padanya setelah semua ini. Aku masih sibuk dengan pikiran apa yang harus aku lakukan besok?

Kami tiba di pertigaan yang akan memisahkan kami karena letak arah rumah kami yang berbeda.

“Kyuhyun-ah, ini”tiba-tiba dia menyerahkan kantong kertas padaku, aku menatapnya dengan tatapan tanda tanya. “Jaketmu yang kau pinjamkan waktu itu. Aku lupa mengembalikannya kemarin”lanjutnya. Aku mengangguk dan mengambil kantong itu.

“Terima kasih”katanya. Dia pun berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah dia berbalik. “Kau terlihat tampan Kyu dan aku sungguh-sungguh mengatakannya”dia tersenyum dia akhir kalimatnya yang entah kenapa kali ini ada sebuah perasaan hangat yang aku rasakan. Tidak ada nada mengejek dari kata-katanya. Dia seperti tulus mengatakannya. Ah apa yang aku pikirkan?sudah jelas-jelas dia sedang meledekku.

“Aku memang selalu tampan, selamat malam”kataku, lalu mulai berjalan. Entah apa yang aku pikirkan, aku kembali berbalik dan ternyata saat itu Yong Soon juga berbalik. Aku tertawa kecil begitupun dia. Kenapa jadi aneh seperti ini.

“Selamat malam Kyu”katanya dan kali ini dia benar-benar berjalan pergi. Sebenarnya ada sebuah ide yang melintas di otakku tadi, mengantarnya sampai ke rumah. Sebuah ide bodoh ketika aku menyadarinya, untung aku tidak mengatakannya.  Kurasa aku tahu kenapa dia tampak mempesona di mata orang lain karena aku pun merasakan hal yang sama.

 

**

 

Kukenakan topi hitam milikku, sepertinya lebih baik seperti ini. Aku keluar kamarku dan segera keluar rumah sebelum kakakku menyadari apa yang terjadi padaku. Tidak mungkin aku bilang aku kalah taruhan dari seorang gadis.

Namun sayangnya, kesialanku dimulai pagi ini dan bersal dari kakakku.

“Kyu”aku baru saja selesai memakai sepatuku ketika kakakku memanggilku. “Kenapa kau memakai topi?dan ah kenapa sepertinya ada yang beda denganmu?”tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan namun tiba-tiba kakakku melepaskan topi yang aku kenakan begitu saja.

Omo, Cho Kyuhyun, adikku. A-apa yang..”dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena dia lebih dahulu tertawa, aku mengambil topiku ditangannya, mengenakannya kembali dan segera keluar rumah.

Bahkan kakakku sendiri mentertawakanku seperti itu. bagaimana di sekolah. Kubenarkan letak topiku agar sedikit menutupi wajahku.

Aku hanya bisa berdoa dalam hati, tidak akan ada yang mengenaliku tapi itu mustahil. Perjalanan ke sekolah hari ini kenapa terasa sangat cepat atau hanya perasaanku saja.

“Siswa baru, rapihkan bajumu”wow,sepertinya penjaga sekolah itu tidak menyadariku. Dia berpikir aku siswa baru. Penyamaranku berhasil kalau begitu.

Tidak terlalu sial kalau begitu. Aku tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam sekolah.

“Kyu!”suara melengking tinggi terdengar tidak sampai sepuluh meter dari tempatku berada, matilah aku. Shim Changmin. Kembali kubenarkan letak topiku dan berjalan, pura-pura tidak mendengar.

“Ya!Kyuhyun-ah, kau pikir aku tidak mengenalimu”dia menghadang jalanku kemudian merangkulku dari samping. Aku mendesah pelan. “Kenapa kau memakai topi?”tanyanya dan secara langsung membuka topiku, aku buru-buru menggapai topiku kembali dan memakainya.

“Shim Changmin”gerutuku. Dia terkekeh pelan.

“Kau sedang taruhan dengan Choi Yong Soon?”

“Kalah taruhan lebih tepatnya”

Dia mengerutkan dahinya, dia tampak aneh sekali. Tumben dia sama sekali tidak meledekku dan darimana dia tahu aku taruhan dengan gadis itu.

Wae?”tanyaku.

“Kalau kau yang kalah, kenapa Yong Soon ke sekolah dengan bando kuping kelinci yang waktu itu kau belikan untuknya?”aku tidak mengerti dengan apa yang Changmin katakan pada awalnya namun saat melihat gadis itu melintas aku tahu maksud Changmin.

Dia memakai bando pink kuping kelinci itu. Gadis itu melintasi beberapa kelas dan hampir semua orang disana memperhatikannya tapi kurasa dia sama sekali tidak malu memakainya karena sebenarnya dia terlihat sangat manis.

“Dia malah terlihat semakin manis, kyeopta

Aku tersenyum. Entah dengan maksud apa dia melakukan hal itu yang jelas melihatnya dengan bando pink membuat perasaanku senang.

 

**

 

Benar, dia semakin terlihat manis dengan bando pink di kepalanya, rambut hitam sebahunya dia gerai kali ini, tidak seperti biasanya. Menambah cantik wajahnya. Dia sedang berbicara dengan beberapa teman-temannya di meja salah satu dari mereka. Sesekali dia tersenyum menanggapi perkataan salah satu temannya. Sepertinya aku tahu kenapa gadis ini begitu banyak yang menyukainya dan mungkin salah satunya aku. Ah, tidak, aku tidak menyukainya.

Dia menoleh dan memiringkan sedikit kepalanya,sial, aku tertangkap basah sedang memperhatikannya. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku, memasang earphone merah ke telingaku dan tidak mencoba untuk meliriknya lagi. Hufft, semoga dia tidak sadar aku memperhatikannya sejak tadi.

“Ehm”aku merasa seseorang berdiri disampingku dan kurasakan tangannya menarik earphone merahku terlepas. Aku menoleh kesampingku.

Gadis itu tersenyum,sial dia semakin cantik saat tersenyum.

“Lagu apa yang kau dengar?”dia terdiam sesaat mencoba mendengarkan, tidak butuh lama dahinya mengkerut.

Dia menoleh padaku. “Ini tidak ada suaranya”

Kupasang senyum setengahku lalu mengeluarkan ujung earphoneku dan menunjukkan padanya bahwa earphoneku tidak terpasang. Dia semakin mengerutkan dahinya. Aku tahu pasti dia tidak mengerti.

“Aku sering melakukannya”kataku, kemudian menggeser sedikit dudukku. Seakan mengerti dia duduk di tempat dudukku. Kini kami saling membelakangi.

“Untuk apa?”tanyanya.

“Saat aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun, aku akan melakukannya”. Dia bergumam pelan. “Sebenarnya kau masih bisa mendengar suara, pejamkan matamu dan kau akan mendengar banyak suara”dia tergelak dan tertawa pelan.

“Kau benar-benar kekanak-kanakan Kyu”

“Kau sudah mengatakannya ratusan kali padaku”

“Benar, kau itu kekanak-kanakan tapi kau tahu aku sebenarnya iri padamu”aku kaget mendengar perkatannya. Iri?apa yang perlu diirikan dari diriku. Dia memiliki segalanya. “Kau bisa melakukan apapun sesukamu tanpa ada beban”lanjutnya.

“Memangnya selama ini kau terbebani?”tanyaku refleks dan entah kenapa gadis ini malah kembali tertawa.

“Sedikit banyak iya”jawabnya. Aku mendengarnya mendesah pelan.

“Aku harus selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal, aku harus selalu sempurna. Itu yang selalu ayahku katakan. Aku tidak mengecewakannya dan itu membuatku terbebani selama ini”kata-katanya membuatku tertegun. Ceritanya membawaku kembali pada kenangan ketika kami masih sekolah dasar. Dia selalu dijemput oleh ayahnya sepulang sekolah dan dari pertama aku melihat ayahnya. Dia memang sosok yang tegas dan mungkin agak sedikit memaksakan kehendaknya pada putrinya ini.

Seandainya gadis ini tahu, ayah dan ibuku tidak pernah tahu bagaimana kelakuaknku karena ada pelindungku yaitu kakak tercintaku itu, kurasa dia akan merasa hidupnya lebih baik. Aku selamat selama ini karena kakakku.

“Ayahku dokter, ibuku juga dan tentu saja mereka juga ingin aku menjadi dokter padahal aku tidak mau. Mereka memaksaku untuk melanjutkan diluar negeri setelah ini padahal aku tidak mau tapi aku tidak bisa menolaknya”dia menghela nafas. Apa bedanya denganku?ayahku ingin aku menjadi pengacara yah meski sekarang belum ada pemaksaan, bahkan setiap pulang mereka belum membicarakan kemana aku melanjutkan. Pembedanya mungkin kedua orang tuaku tidak memaksaku untuk menjadi sempurna, menjadi yang paling pintar dan lain-lain. Aku masih boleh pergi kemana yang aku suka atau melakukan apa yang aku suka, sementara gadis ini. Kurasa ke pantai saja itu pertama kali untuknya.

“Kurasa kau cocok menjadi dokter”kataku, aku tidak mengerti kenapa aku mengucapkan hal itu, mungkin aku ingin memberi sedikit semangat.

“Benarkah?”tanyanya.

“Ya tentu saja, kau pintar, kau can- kau pintar sangat pintar”hampir aku salah berucap. Bahaya sekali. Kudengar dia kembali tertawa.

“Kurasa kali ini aku punya alasan untuk mengikuti keinginan orang tuaku”

“Hah?”

Dia kembali tertawa.

“Kau bilang aku cocokkan jadi dokter nah kurasa itu akan menjadi alasanku”aku tersenyum.

 

**

 

“Kyuhyun-ah, kau menyukai Yong Soon kan?”Changmin memperhatikan wajahku dengan seksama, ketika kami sedang makan di kantin. Mata tajamnya menatapku lekat-lekat membuatku merasa risih. Apalagi dia juga mendekatkan tubuhnya padaku.

“C-Changmin-ah, kenapa denganmu?”tanyaku.

Dia memundurkan tubuhnya dan bersandar pada kursi, kembali menatapku.

“Kyuhyun-ah, katakan sejujurnya, kau menyukai Yong Soon kan?”tanyanya lagi. “Ya, jawab aku”tuntutnya.

Aku hanya bisa diam, bukan karena aku tidak bisa menjawab namun lebih kepada, aku sama sekali tidak mengerti maksud perkatannya. Menyukainya?tentu saja, dia teman yang menyenangkan, semua orang juga menyukainya.

“Aissshh, ya Cho Kyuhyun. Kalau kau memang menyukainya setidaknya beri tahu aku jangan menyerobot begitu saja”dia melipat kedua tangannya di depan dada, ah jadi karena itu.

“Ah, aniya. Aku tidak menyukainya seperti yang kau maksud”kataku.

Jinjja?”dia terlihat tidak percaya dengan jawabanku. Aku mengangguk mantap.”Kurasa Sungmin sedikit tidak suka melihatmu terlihat sedikit berbeda terhadap Yong Soon”ya aku juga tahu, dia sudah memandangku aneh semenjak di pantai itu.

“Dia yang memintamu bertanya padaku?”tanyaku.

Dia menggeleng. “Tidak, aku hanya penasaran saja. Kau tidak pernah menyukai seorang gadis bahkan Yong Soon sekalipun makanya aku penasaran”Changmin sudah kembali seperti biasa, sepertinya jawabanku tadi sedekit melegakannya. Dia kembali menyantap makan siangnya.

“Yeah, dia hanya berhutang padaku karena aku telah menolongnya, tidak lebih”

Begitu selesai makan siang dengan Changmin, kata-kata Changmin terus berputar di otakku. Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu Sungmin, kelas kami memang berbeda tapi biasanya kami akan berpapasan. Aku tahu Sungmin tidak suka melihat kedekatanku dengan Yong Soon, sudah beberapa kali juga dia menyatakannya meski secara implisit.

Kubasuh tanganku di wastagel kamar mandi dengan cepat. Mungkin sebaiknya aku menemuinya setelah pulang sekolah ini. bagaiamanpun dia sahabatku dan aku tidak mau merusak persahabatnku hanya karena seorang gadis. Sungmin menyukainya lebih dulu baru a-. Ah, apa yang aku pikirkan.

“Kau tidak menyukainya Cho Kyuhyun”kutatap cermin yang memantulkan diriku.

“Sungmin-ah”tanpa dicari sepertinya aku sudah menemukannya. Dia baru saja masuk ke kamar mandi. Dia melirikku sekilas dan tersenyum tipis.”Sungmin-ah”panggilku lagi, dia berbalik. Aku tersenyum. “Ah, tidak apa-apa”kataku kemudian berbalik. Bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan.

“Kyu”kali ini dia yang memanggilku, aku berbalik.

“Kau menyukai Yong Soon?”

 

**

 

Kuketukkan pensilku ke meja beberapa kali,menimbulkan nada yang menghiasai ruang kelas yang begitu sepi ini. Seperti biasa dia duduk dihadapanku, berkutat dengan soalnya. Gadis itu masih memakai bando berkuping kelinci, seakan tidak mau melepaskannya. Padahal ini sudah pulang sekolah.

Aku mengamti belakang tubuhnya dan percakapan dengan Sungmin di kamar mandi tadi terlintas dipikiranku. Siapa yang disukai gadis ini? Sungmin bilang Yong Soon tidak mau menerimanya karena sudah menyukai seseorang. Siapa laki-laki beruntung itu?kurasa beruntung disukai gadis cantik dan pintar ini meski gadis ini juga sombong dan menyebalkan. Dua terakhir hanya berlaku untukku.

“Yong Soon-ah”panggilku. Dia segera berbalik dan menatapku dengan wajah polosnya itu. aku memajukan tubuhku bertumpu pada kedua tanganku. Mendekatkan wajahku padanya.

“Yong Soon-ah, pernahkan kau menyukai seseorang?”tanyaku. Semburat merah langsung muncul di kedua pipinya dan itu menambah kadar kecantikannya. Dia memundurkan tubuhnya dan terlihat gugup. Kenapa?apa aku salah bertanya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”tanyanya balik, sudah kuduga dia akan bertanya balik.

“Aku hanya penasaran. Banyak sekali laki-laki disini menyukaimu, tidakkah kau menyukai salah satu dari mereka atau jangan-jangan kau tidak normal dan malah-“

“Ya!aku normal, aku juga suka laki-laki. Aku memang menyukai seseorang disini”ujarnya, mataku membulat sempurna.

Jinjja?nugu?”tanyaku penasaran.

“Aku tidak akan pernah memberitahumu”ujarnya dan berbalik memunggungiku lagi.

“Hei, Yong Soon-ah, marhaebwa”aku keluar dari dudukku kemudia pindah tempat duduk ke hadapannya. Dia memasang tatapan terganggu tapi aku tidak akan menyerah untuk tahu siapa yang disukainya.

“Ya, marhaebwa

Shireo”dia mendelik padaku dan kembali melanjutkan mengisi soal, aku menarik-narik tangannya seperti sedang merengek.

“Ya Cho Kyuhyun, kau benar-benar kekanak-kanakan”dia terganggu dengan apa yang aku lakukan, aku hanya bisa nyengir.

“Ayolah Yong Soon-ah”aku kembali menarik-narik lengannya yang dia letakkan diatas meja.

Dia menggurutu kesal dan menatapku sebal. “Keureu, akan aku ceritakan padamu”dia menghela nafas sebentar.

“Aku memang menyukai seseorang disini dan dia la-ki-la-ki. Dia bodoh, sangat bodoh tapi dia itu lucu dan menyenangkan”kulihat gadis ini tersenyum ketika menceritakan laki-laki yang dia sukainya, senyuman yang berbeda. Kurasa dia benar-benar menyukai laki-laki itu. Beruntung sekali.

“Berapapun seringnya aku menunjukkan perhatianku padanya dia tidak pernah sadar”kali ini tatapnnya menujukkan kesedihan dan diikuti helaan nafas.

“Lalu siapa dia?”tanyaku lebih penasaran kepada siapa orangnya?mendengarnya menceritakan laki-laki itu membuatku sedikit tidak suka. Dia menatapku serius, kurasa dia akan mengatakannya.s

“Rahasia”dia tersenyum penuh kemenangan begitu saja. Apa?hanya itu?dia tidak mau memberitahunkannya, sial. Dia begitu licik. Aku mendesah kecewa.

“Yong Soon-ah, kurasa sebaiknya kau berhenti menyukai laki-laki seperti itu, untuk apa kau masih menyukainya padahal dia sendiri tidak pernah sadar kalau kau menyukainya. Kau hanya membuang waktumu. Kau tidak pantas dengan laki-laki bodoh seperti itu”dia menaikkan sebelah alisnya.

“Benarkah?menurutmu begitu?”tanyanya wajahnya berubah serius lagi dan entah kenapa aku melihat perubahan ekspresinya, kenapa dia terlihat sedih. Apa karena aku menyuruhnya berhenti menyukai laki-laki itu?ah dia sangat menyukainya rupanya tapi kata-kataku benar, untuk apa menyukai seseorang yang tidak pernah sadar akan dirimu.

Aku mengangguk. Kudengar dia mendesah pelan. “Kau benar, aku hanya membuang waktuku. Dia tidak akan pernah sadar aku menyukainya”dia menatapku dalam membuatku sedikit salah tingkah. Aku mengangguk-anggukan kepalaku dengan cepat untuk menutupi kegugupanku.

 

**

 

Setalah percakapan kami tadi sepanjang jalan pulang kami berdua hanya saling terdiam. Sepertinya dia sedang tidak ingin banyak bicara, ada rasa bersalah menelusup, apa mungkin karena kata-kataku. Aku hanya mencoba memberi saran saja.

“Yong Soon-ah, boleh aku mengantarmu sampai rumah?”tanyaku ketika kami sudah sampai di pertigaan tempat kami biasa berpisah. Dia mendongak dan menganggukan kepalaku, kami kembali berjalan dalam diam.

“Yong Soon-ah, kau tahu kapan terkahir kali aku ke rumahmu?”aku mencoba membuka percakapan.

“Tidak”jawabnya singkat.

“Kurasa kau lupa. Kita selalu sekelas sejak sekolah dasar. Mungkin kau tidak pernah sadar akan hal itu tapi saat kita kelas 6 kita pernah satu kelompok belajar dan saat itu kita belajar bersama di rumahmu. Ibumu sangat ramah, aku jadi ingin bertemu ibumu lagi”aku tersenyum kecil mengingat saat aku kelas 6 dan belajar di rumahnya, ibunya sangat baik padaku. Dia sangat mirip dengan Yong Soon. Cantik.

Tidak terasa kami sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Terima kasih sudah mengantarku. Kalau kau ingin bertemu ibuku datanglah di akhir pekan”katanya. Aku menganggukan kepalaku. Dia berbalik. Kurasa aku memang salah bertanya seperti tadi padanya.

“Kyu, kau serius dengan ucapanmu tadi, untuk berhenti menyukai…”

“Ah, itu..itu hanya pendapatku saja. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, seseorang yang benar-benar menyukaimu. Kau tidak pantas mencintai, kau lebih pantas dicintai” gadis itu tersenyum dan apa yang baru saja aku katakan?aishh aku tidak bisa mengontrol mulutku.

“Kau benar, terima kasih Kyu. Selamat malam”

“Selamat malam”

Aku berharap malam ini aku bisa mengatakan hal lain bukan seperti yang tadi dan rasanya aku menyesal menanyakan siapa yang dia sukai.

Advertisements

11 thoughts on “FF: You Are The Apple In My Eyes 6

  1. Huhuhu 😥

    Itu pasti Kyuuu kan?? yg disuka Yong Soon pasti Kyuhyun!!! Jeongmal!!!!

    Aku mo nangis 😥

    Huwaaa… jebalyo… cepet balik!!!.
    Author jebal, ff nya publish besok aja.. ngga usah mggu dpn… aku penasaran pke bgt deh sm couple ini…!!!

  2. Kyaaaa salah sangka lagi !! Kayaknya bakal panjang deh !!
    Aduuuuuuuh jdi rumiiiit eiiiiii …
    Dan makin penasaran …
    Di tunggu selanjutnya eon .. Masih berharap di publis seminggu 2 kali !! 😀

  3. dongsaeng,
    makin seru!?

    Sumpah kyu babo,
    tu sinyal2 makin kuat
    aish jinjja

    lha tu blm d crtain mslh umin ama yongie dongsaeng!? Ada apa dgn mreka?
    Jgn blg ada apa apa’a,
    haha
    *comment apa ini

    yasu, d tggu part slanjut’a,
    as soon as possible yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s