FF: You Are The Apple In My Eyes 3

“Kau selalu terlihat manis bahkan saat menangis pun kau sangat manis”

**

“Kyu, kau ini sudah tingkat akhir, seriuslah belajar”aku menghentikan suapanku ketika aku mendengar kakakku berbicara. Aku meliriknya yang kini  tengah menatapku dengan tatapan yang serius.

“Ya, aku tahu”jawabku sekenanya. Tidak perlu diberitahu seperti itu aku juga tahu. Aku juga sudah mulai serius belajar akhir-akhir ini, sejak aku terpaksa harus duduk di depan gadis pintar itu. Ah, lagi-lagi aku kepikiran dia.

“Maksudku,berhentilah bermain dengan bandmu, kau sebentar lagi akan lulus dan akan kuliah. Kalau kau tidak serius belajar dan mendapatkan nilai yang bagus bagaimana bisa kau masuk universitas”aku meletakkan mangkuk nasiku dan menghadapakan dudukku ke arah kakakku.

“Aku tidak berniat kuliah”kataku, memang benar aku tidak berniat untuk melanjutkan pendidikanku.

“Ya!apa yang kau katakan hah?kau tahu kalau ayah sampai tahu kau akan dibunuhnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika ayah tahu hal ini, tanggung jawabku padamu hanya sampai lulus sekolah menengah”terangnya panjang lebar.

Noona, mereka akan menjadikanku pengacara dan aku tidak akan pernah mau. Lebih baik aku tidak kuliah dibanding harus mengikuti kemauan mereka”kataku. Kakakku berdecak pelan. Aku tahu dia kehabisan kata-katanya.

Ayah memang ingin sekali aku menjadi pengacara sementara aku sama sekali tidak berminat. Aku lebih suka musik, kalaupun kuliah aku ingin mengambil jurusan musik tapi rasanya mustahil mengingat keinginan ayahku. Jadi, lebih baik aku tidak kuliah.

Aku keluar dari kursiku.”Aku selesai”kataku kemudian berjalan menuju kamarku. Kuambil jaket yang aku gantungkan dekat pintu kamarku. Aku harus pergi lagi seperti biasa, memuaskan hasrat bermusikku.

Kuambil ponselku dia atas meja belajarku, mataku menangkap buku berwarna biru diatas meja. Buku yang tadi gadis itu berikan, buku yang katanya berisi soal-soal. Dia memintaku mengerjakannya bukan?ah iya dia memintaku mengerjakannya. Sejak pulang aku hanya menaruh buku itu ke meja tanpa sedikitpun ada keinginan untuk menyentuhnya apalagi mengerjakannya.

“Hei, jangan lupa besok aku koreksi jawabanmu”

Kata-katanya tadi pagi kembali terngiang dipikiranku. Kenapa aku jadi bingung seperti ini?bahkan aku merasa ingin mengerjakannya. Ck, apa yang terjadi padaku. Bahkan kini aku sudah duduk di kursiku. Sebaiknya kukerjakan saja dengan cepat supaya dia puas besok dan tidak memberikanku kumpulan soal lagi. Kuraih ponselku kembali, mengetikkan pesan singkat pada teman-temanku yang mungkin sedang menungguku, aku akan datang telat karena kumpulan soal dari gadis pintar itu. Hebat sekali, dia berhasil memaksaku belajar malam ini.

**

Pagi yang sangat cerah hari ini, bahkan rasanya matahari sudah ada di tengah saat ini. Aku berjalan masuk ke dalam gerbang sekolahku. Sama seperti pagi-pagi yang lain, aku maish terlihat seperti orang bangun tidur bahkan sepanjang jalan ke kelasku, sudah beberapa kali aku menguap.

Kelas di ujung koridor ini masih tampak sepi, baru beberapa saja yang datang atau sebenarnya mereka sudah datang hanya masih berkeliaran dimana-mana. Sama seperti pagi-pagi biasanya kursi di belakang tempat dudukku pasti sudah terisi. Gadis itu datang jam berapa ke sekolah?ck, sangat rajin.

Dengan sengaja aku melemparkan tasku ke meja dengan kencang membuat beberapa teman sekelasku menoleh padaku, niatku ingin mengejutkan gadis itu namun sepertinya tidak berhasil. Dia masih asyik dengan sesuatu yang dia kerjakan di buku tulis. Sungguh tidak asyik dia itu.

Aku mendudukan tubuhku, kukeluarkan ponsel hitam milikku memasang earphonenya ke telingaku. Tak lama, aku merasakan pulpen gadis itu memukul-mukul pundakku. Aku segera berbalik. Dia menengadahkan tangannya dihadapanku.

“Mana soal yang sudah kau kerjakan?aku akan mengoreksinya”katanya. Mata cokelat bulatnya menatapku dengan seksama. Aku segera mengeluarkan buku miliknya dan menyerahkannya ke tangannya. Dia tersenyum sekilas lalu mulai memeriksa pekerjaanku.

Aku memperhatikannya, dipikir-pikir dna dilihat-lihat dari dekat, gadis ini manis juga. Ah, apa yang aku katakan barusan?. Dia mendongakkan kepalanya dan mendesah pelan.

“Kau mengerjakannya tanpa melihat buku panduankan”katanya. Tentu saja untuk apa melihat buku panduan, aku saja mengerjakannya karena terpaksa.” Hampir semuanya salah, kerjakan lagi”perintahnya. Aku membulatkan mataku, enak sekali main perintah-perintah begitu saja. “Cho Kyuhyun, kau itu tidak bodoh hanya saja kau malas. Kau harus menghilangkan kebiasaan malasmu itu. Besok akan aku periksa lagi dan kali ini kau harus melihat buku panduan terlebih dulu. Semua jawabannya ada disitu”jelasnya. Aku berdecak kesal dan mengambil kembali buku itu dari mejanya.

“Kyuhyun-ah”Sungmin berjalan menghampiriku, aku melihat tiba-tiba gadis itu terlihat tegang. Kenapa dengannya?

Begitu Sungmin sampai di hadapanku, gadis itu malah keluar dari tempat duduknya, melirik kami sekilas lalu pergi keluar kelas. Dia seperti ketakutan begitu, memangnya ada apa dengan Sungmin. Aku melirik Sungmin.

“Kenapa dia takut padamu?”tanyaku. Sungmin menaikkan alisnya.

“Hah?”

“Ah, tidak apa-apa”

**

“Jadi sekarang dia menjadi gurumu”Changmin melemparkan bola basket, kutangkap sebelum menyentuh tanah.

“Begitulah”aku membawa bola itu melewati tubuh Changmin dan memasukannya ke dalam ring.

“Ah,enak sekali dirimu. Aku juga ingin seperti itu”ujar Changmin sambil mengambil bola yang menggelinding sampai keluar lapangan.

Ternyata dia masih menyukai gadis itu. Ck, sebegitu mempesonakah dia? Aku merasa biasa saja. Tiba-tiba aku melihatnya melintas bersama beberapa teman-temannya. Dia terlihat tertawa bersama teman-temannya itu. Kalau dia tersenyum membuatnya semakin manis. Coba saja dia selalu tersenyum seperti itu dihadapanku. Aku tidak akan pernah memberi julukan yang aneh-aneh padanya. Entah bagaimana mata kami saling bertemu dan sebuah keajaiban ketika aku melihat bibirnya membentuk sebuah senyuman untukku. Apa aku tidak salah lihat?

“Kyu!!”

BUG

Aku merasa kepalaku seperti terhantam sesuatu dan penglihatanku menjadi kabur. Kepalakupun menjadi pusing. Apa yang terjadi padaku?. Semuanya kenapa jadi kabur seperti ini.

“Kyu, kau baik-baik saja”aku mendengar suara Changmin, dia terdengar sangat cemas.

“Kyu”aku mendengar suara lain, hei ini kan suara gadis itu. Kenapa dia juga terdengar sangat cemas. Aisshh kepalaku sangat sakit sekali. Sekarang semuanya hitam.

**

“Kyu, sadarlah, aku minta maaf Kyu. Aku tidak sengaja”suara Changmin lagi terdengar terisak, apa dia menangis?. Kepalaku sudah tidak terasa sakit lagi seperti tadi. Aku mulai membuka mataku perlahan, masih kabur. Aku mengerjapkan mataku dan sedikit demi sedikit mataku bisa melihat normal.

Aku menatap langit-langit ruangan yang aku kenal sebagai tempat perawatan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?kenapa aku bisa ada disini? Aku jatuh dari gedung sekolah-kah?

“Kyu, kau sudah sadar”aku langsung membuka mataku dengan sangat lebar begitu melihat sosok seorang gadis ada di depan wajahku. Choi Yong Soon. Aku segara bangun dari keadaan berbaringku, dia terlihat menjauhkan wajahnya.

Aku menoleh kesampingku dan melihat Changmin kini tengah tersenyum senang dan tiba-tiba saja dia langsung memelukku dengan erat membuatku sesak.

“C-Changmin-ah, l-lepaskan a-ku”pintaku.

“Ah, Kyu jinjja aku takut kau akan mati. Aku benar-benar minta maaf Kyu, aku tidak sengaja melempar bola basket itu. Aku pikir kau akan menangkapnya”

Oh, jadi kepalaku terkena bola basket tadi.

“Ah, ne Changmin-ah, gwenchana”kataku sambil mendorong tubuhnya untuk tidak memelukku. Dia terlihat lega melihatku baik-baik saja. Aku baru ingat ada seorang lagi di ruangan ini. Choi Yong Soon.

“Kau sudah bangun, aku permisi dulu”ujarnya kemudian berbalik dan berjalan keluar ruangan. Apa dia juga mencemaskanku? Dia bahkan menungguiku.

“Kyu, aku senang kau sudah sadar. Kau tahu aku sangat cemas tadi”Changmin kembali memelukku. Aku masih memperhatikan pintu yang kini sudah tertutup dan sosok itu sudah pergi. Aku tidak menyangka dia akan ada disini menungguiku sampai sadar. Dia tampak sangat peduli padaku.

**

Aku mengusap kepalaku yang masih terasa sedikit sakit. Dihantam bola basket tentu bukan hal yang enak. Untung saja aku tidak gegar otak atau semacam itulah. Seharusnya aku minta pertanggung jawaban pada Changmin, paling tidak memintanya mentraktirku selama satu bulan penuh. Kurasa dia mau saja. Dia sangat merasa bersalah karena hal ini.

“Kyu”aku merasa namaku di panggil. Aku berbalik dan melihat lagi-lagi gadis itu berjalan menghampiriku.

Dia berhenti tepat dihadapanku dan menatapku dengan takut-takut, tangannya mengenggam erat tas selempang yang dia pakai.

“Ada apa?”tanyaku.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya. Aneh sekali kenapa dia bertanya seperti itu. aku merasa gadis ini benar-benar berbeda hari ini. Pertama, dia tersenyum padaku. Kedua, dia mencemaskanku ketika aku pingsan tadi dan sekarang dia kembali mencemaskanku.

“Ya, aku baik-baik saja”jawabku sambil tersenyum.

“Syukurlah, kau cukup lama pingsan tadi. Sebaiknya kau ke dokter untuk memeriksakan kepalamu”katanya. Aku hanya menganggukan kepalaku. Dia tersenyum dan kami pun saling diam. Gadis itu menundukan kepalanya. Apa ada yang ingin dia katakan lagi?

“Kyu”panggilnya pada akhirnya.

“Yong Soon-ah”seorang gadis berambut panjang memanggil gadis ini. Teman sekelasku yang kuketahui bernama Choi Yeon Ji. Begitu sampai dihadapan kami, dia melirikku sekilas sebelum beralih pada temannya ini.

“Aku tidak jadi pulang dengan Jong Woon, ayo kita pulang”katanya sambil menggamit lengan Yong Soon. Gadis itu tersenyum padaku lalu pergi bersama Yeon Ji. Aku menatap punggungnya yang berjalan semakin menajuh. Hari ini sungguh sangat berbeda dan aneh. Gadis lucu, sombong, tidak asyik, menyebalkan dan manis.

**

Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidurku. Rumahku sangat sepi karena ternyata kakak perempuanku belum pulang bekerja. Aku meringis pelan ketika merasakan rasa sakit di kepalaku kembali muncul. Aku tengkurap dan memukul-mukulkan kepalaku ke bantal untuk meredakan rasa sakitnya.

Kuperbaiki posisi tidurku, tanganku menggapai ponselku di tasku yang aku lempar begitu saja ke tempat tidurku. Sepertinya malam ini aku tidak bisa datang lagi. Kemarin gara-gara menyelesaikan soal itu aku tidak bisa datang juga. Gadis itu menganggu hobiku.

“Jung Soo hyung, aku tidak bisa datang lagi hari ini”kataku pada seseorang yang sedang aku telepon.

Wae?”tanyanya.

“Aku ada ulangan besok”

“Wow, tumben sekali kau memikirkan ulangan”

“Aku hanya ingin segera lulus dari sekolah itu”

“Ok, baiklah. Belajar yang benar”

“Hm, terima kasih hyung”kataku kemudian memutuskan sambungan telepon. Aku menghela nafas perlahan.

Kuambil buku biru itu lagi. Kubuka lembaran yang sudah aku isi, disana ada tulisan tangannya yang membenarkan jawabaku. Apa-apaan dia itu semua isi tulisannya hanya menyuruh untuk melihat halaman di buku panduan. Aku menutup wajahku dengan buku itu.Kepalaku sakit dan kurasa dia akan mengerti jika aku tidak mengerjakannya. Aku kan sedang sakit, tadi saja dia begitu mencemaskanku seharusnya dia bisa menerima kalau aku tidak bisa membenarkan jawabannya besok. Ya seharusnya begitu tapi…

**

Aku melemparkan buku biru itu kehadapannya yang sedang membaca buku entah apa. Dia terlalu banyak membaca buku. Dia menengadahkan kepalanya padaku. Sementara aku langsung duduk di kursiku dan membelakanginya. Apa yang dia lakukan sehingga bisa membuatku mau menurutinya?semalaman aku membenarkan jawaban soal-soal itu. Apa dia memiliki kemampuan sihir untuk membuat seseorang mau menuruti perkataannya. Gadis yang berbahaya ruapanya.

“Hei”panggilnya, aku segera berbalik. Dia tersenyum.

Chukkae semuanya benar. Sudah kubilang kau itu tidak bodoh hanya saja kau malas. Buktinya kau bisa mengerjakannya dengan benar. Aku yakin kau akan bisa mengerjakan ulangan hari ini dan mendapat nilai bagus. Yah walaupun nilaiku akan tetap lebih bagus daripada dirimu”katanya panjang lebar. Aku memberikan senyum setengahku dan kembali berbalik.

Tetap saja gadis sombong, sepertinya hari ini dia sudah kembali seperti dirinya yang sedia kala. Aku kembali berbalik dan kini dia tengah serius memandangi buku yang sedang dibacanya. Tanpa sadar aku malah terus menatapnya.

“Yong Soon-ah”panggilku. Baru kali ini aku memanggil namanya. Dia melepaskan pandangannya dari buku bacaanya itu dan menatapku.

Aku mendekatkan tubuhku padanya, dia terlihat kaget. Aku menujukkan smirk-ku dan semakin mendekatkan wajahku padanya. Dia semakin bersandar ke tempat dudukunya. Wajahnya terlihat takut dan tegang. Aisshh dia semakin terlihat lucu.

“Kau sangat manis ketika sedang serius membaca”

BUK

Buku yang dia baca sukses mengenai wajahku. Cih gadis ini sungguh menyebalkan.

“Ya!”seruku dan dia malah tertawa lepas. Apa-apaan dia?!

Advertisements

8 thoughts on “FF: You Are The Apple In My Eyes 3

  1. Kyaaaa manisnyaaaaa …
    Ahhhhhh terpesona bgt nih eon sma ceritanya …

    Bner2 bakal jd ff yg selalu aku tunggu2 niiih .. Daebaaaak eonnie !!

    Pokoknya di tunggu bgt eonn .. Berharap 2 kali seminggu di publishnya .. Ato gak sekali publish dua chapter 😀 *reader cerewet* 😀

    Hehehehe .. Pokoknya daebak deh eonnie .. Semangat terus ^^

  2. Eonni,kereeeeeen ffnya…
    Changmin bego bgt masa kyu isa mati gara2 ketimpuk bola..hohoho

    next part jangan lama lama y eonn..hehehe

  3. yong soonya ko cemas gtu sih ? semoga aja suka sama kyuuu~ pasti tanpa kyu sadar di juga suka yong soo. kereeeeeen !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s