FF: You Are The Apple In My Eyes 1

“Aku tidak mengerti kenapa kau begitu rajin belajar padahal 10 tahun lagi kau tidak akan menemukan Log di pekerjaanmu, kau percayakan?”

**

 

Cinta selalu berkutat diantara si kaya dan si miskin, si jelek dan si cantik atau si pintar dan si bodoh. Begitu juga dengan yang terjadi di neraka kehidupanku. Kelas 12. Sebuah kisah cinta dua dimensi dimana pilihan jatuh kepada si pintar dan si bodoh terjadi. Semua laki-laki disini yang sudah pasti berposisi sebagai si bodoh memperebutkan seorang gadis yang selalu duduk di depan dan tidak banyak bicara terutama pada kami yang berposisi sebagai si bodoh. Jelas gadis itulah si pintar. Sepertinya laki-laki mudah sekali jatuh cinta pada seorang gadis pintar sehingga membuat mereka tampak seperti orang bodoh. Pengecualian untukku, aku satu-satunya laki-laki diantara ratusan murid kelas 12 disini yang tidak terpesona pada gadis gila belajar itu. Aku tidak tertarik dengan hubungan dua dimensi yang sudah pasti akan berakhir mengecewakan, mana mau gadis pintar seperti dia dengan laki-laki yang selalu berusaha mendekatinya dengan tindakan yang err ekstrim. Hidup bukanlah seperti drama yang sering ditayangkan di televisi dimana pada akhirnya si pintar akan menikah dengan si bodoh. Selama ini kita selalu ditipu dengan klise seperti itu. Pada kenyataannya si pintar tidak akan pernah mau dengan si bodoh.

Aku menguap untuk yang kesekian kalinya semenjak bel masuk berbunyi 30 menit yang lalu.  Ruang kelas bagiku hanyala sebagai transit menuju alam mimpiku. Aku bukanlah seorang murid teladan atau bisa dikatakan lebih dari tidak teladan. Duduk di belakang kelas, tidur sepanjang pelajaran, membolos jam pelajaran. Itulah yang selalu aku lakukan hampir selama 2 tahun aku disini. Namun semenjak menginjak tahun ketiga aku disini, aku terpaksa duduk di kelas sepanjang hari mendengarkan ocehan guru-guru sampai bel berbunyi, karena jika aku tidak mengikuti kelas secara penuh mereka tidak akan membiarkanku ikut ujian akhir. Aku tidak mau berada lebih lama lagi disini.

“Cho Kyuhyun!”baru terlelap sebentar aku mendengar sebuah suara meneriakkan namaku. Ah, tidak bisakah mereka membiarkanku tidur selama jam pelajarannya, yang penting aku hadir di kelas daripada aku menganggu murid lain. Guru yang satu ini selalu saja membuatku kesal. Sementara guru lain membiarkanku tidur di kelas tidak dengan guru yang satu ini.

Hukuman apalagi yang aku dapat kali ini, hah. Lari keliling lapangan sudah, membersihkan koridor sekolah sudah, membereskan buku di perpustakaan-aku sedang menjalani hukuman itu-. Apa lagi?

Aku berdiri dari dudukku dan menatap guru laki-laki itu dengan santai.

“Kau tidur lagi di kelasku! Kau tahu sudah berapa kali kau tidur dikelasku, hah!Jam istirahat kau ke ruang kepala sekolah!sekarang berdiri di luar kelas!”perintah guru itu. Aku tidak berkomentar apapun, mengikuti arahannya keluar kelas dan berdiri bersandar di dinding, melanjutkan tidurku.

Itulah keseharianku, dipenuhi oleh hukuman. Kondisiku berbeda 1800 dengan si pintar itu. Mungkin aku bisa disebut sebagai si bodoh tapi si bodoh disini bukanlah si bodoh yang mengejar-ngejar cinta gadis pintar itu. Kurasa aku sedikit lebih pintar dari mereka.

Aku memang memiliki reputasi buruk disekolah, segala hal yang buruk pernah aku lakukan. Lalu apa aku peduli?tidak, ini hidupku. Orang tuaku tidak tahu menahu dengan bagaimana anaknya disekolah yang penting aku tidak pernah mengirimkan mereka surat pemanggilan orang tua maka urusan selesai. Mereka menganggapku baik-baik saja di sekolah. Cho Kyuhyun yang penurut.

 

**

Jam istirahat baru saja dimulai dan aku harus kembali berhadapan dengan kepala sekolah untuk yang ketiga kalinya minggu ini hanya karena tidur di dalam kelas. Aku berjalan melewati koridor sekolah ini menuju ruang guru yang ada diujungnya. Saat melewati lapangan basket aku melihat banyak murid-murid berkumpul. Apa yang mereka lakukan? Sebaiknya aku melihat sebentar. Aku berbelok dari arah selanjutnya, kurasa Kim sonsaengnim tidak keberatan aku terlambat sebentar. Aku melihat gadis pintar itu di pinggir lapangan dan dihadapannya ada seorang murid laki-laki, mataku membulat sempurna ketika aku tahu siapa murid laki-laki itu.

Lee Sungmin, sahabatku sejak SMP, ketua tim basket, tampan dan idola para gadis disini. Aku memang sudah tahu lama kalau dia menyukai gadis pintar itu tapi aku tidak menyangka dia memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Bahkan aku sudah pernah bilang padanya untuk melupakan rasa sukanya pada gadis gila belajar itu karena aku yakin sekali gadis itu mencari seorang kekasih yang harus lebih pintar dari dia dan jelas bukan Lee Sungmin orangnya.

Lihatlah, betapa laki-laki disini sudah menjadi seperti pengandaian si bodoh itu hanya karena si pintar. Aku menghela nafas perlahan dan keluar dari kerumunan orang-orang itu. Begitu pulang sekolah Lee Sungmin akan menceritakan padaku bagaimana dia ditolak.

Kuketuk pintu ruang guru sebelum membukanya. Beberapa guru sepertinya sudah terbiasa melihat aku kembali dipanggil kepala sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan yang lebih besar.

“Cho Kyuhyun”ujar pria tua yang duduk di kursinya menghadapaku. Aku hanya berdehem pelan. “Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan padamu, mengeluarkanmu dari sekolah ini, aku tidak setega itu toh sebentar lagi kau juga akan lulus”

Selalu dimulai dengan kata-kata ini, ocehan tidak penting sebelum akhirnya dia akan memberikan hukuman-lagi-. Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku mendengar celotehannya sambil sesekali melirik jam di dinding ruangannya. Alamat tidak akan makan siang hari ini.

“Jadi, kali ini aku tidak akan menghukummu”

“Hah?”aku terkejut begitu mendengar kalimat terkahir yang dia ucapkan, tidak ada hukuman?dia bercanda!tidak mungkin.

“Kali ini aku tidak akan menghukummu Cho Kyuhyun tapi..”bunyi ketukan pintu menghentikkan ucapannya. “Masuklah”ujarnya pada orang yang mengetuk pintu. Aku menoleh ke arah pintu yang dibuka dan lagi-lagi kejutan menghampiriku. Setelah kejutan tidak ada hukuman kini si gadis pintar itu masuk ke ruangan kepala sekolah. Hei apa yang dia lakukan sampai masuk ruang kepala sekolah?menolak Lee Sungmin termasuk melanggar aturankah?

Gadis itu membungkuk begitu sampai dihadapan Kim sonsaengnim. Pria tua itu mengalihkan tatapannya padaku.

“Cho Kyuhyun, seperti yang tadi aku bilang. Kau tidak akan mendapat hukuman kali ini tapi mulai besok kau akan duduk di depan Choi Yong Soon dan dia akan mengawasimu”

Sonsaengnim”ujar kami bersamaan. Aku menoleh padanya tepat ketika dia menoleh padaku. Tatapannya benar-benar menunjukkan ketidaksukaan padaku. Apa yang sudah aku lakukan padanya?aku tidak pernah menganggunya kenapa dia harus menatapku seperti itu?cih gadis gila.

“Choi Yong Soon-ssi, kau bisakan?”

“A-aku..baiklah saem”lirih gadis itu. apa sebegitu tidak sukanya dia dengan tugas mengawasiku, hei harusnya aku yang tidak suka dengan hukuman aneh ini.

Duduk di depan sepanjang pelajaran. Bunuhlah aku. Tidak ada kesempatan untuk tidur lagi atau bermain game atau membaca komik. Aku harus fokus mendengar celotehan guru-guru itu. Cho Kyuhyun kematianmu sudah dekat rupanya.

 

**

 

Gadis itu berjalan cepat meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku mendecak pelan. Choi Yong Soon, gadis paling pintar di sekolah ini. Cantik, menarik dan pintar. Kesempurnaan apalagi yang dia miliki. Tidak mengherankan jika dia menjadi incaran seluruh murid laki-laki disekolah ini kecuali aku. Aku sudah mengenalnya sejak masih sekolah dasar karena kami selalu satu sekolah dan parahnya selalu satu kelas. Disetiap sekolah-sekolah itu dia selalu menjadi pusat perhatian berbeda denganku. Kalau dilihat kehidupanku dengannya itu seperti posisi kutub bumi yang berkebalikan, dia selalu diatas sementara aku selalu di bawah. Aku sedikit heran dengannya, dengan nilai yang sangat mencengangkan itu seharusnya dia bisa masuk sekolah paling bagus di Korea sekalipun tapi dia tidak pernah mau melanjutkan ke sekolah-sekolah seperti itu dan memilih menyelesaikan pendidikannya di kota kecil ini. Sebenarnya dia itu bodoh atau pintar?

Aku kembali melewati lapangan basket, sudah sepi. Tentu saja, setelah menolak Lee Sungmin, gadis itu ke ruang kepala sekolah. Namun Lee Sungmin masih ada disana, memainkan bola basket yang sudah menjadi temannya sejak kecil itu. tinggal di kota kecil seperti ini tentu saja membuatmu hapal apapun tentang sahabatmu karena kalian tumbuh bersama tapi meski begitu aku tidak pernah tahu sedikitpun tentang gadis pintar itu meski kami tumbuh bersama disini.

“Sungmin-ah”panggilku pada Sungmin yang sedang men-dribble bola lalu memasukkannya ke dalam ring. Dia membiarkan bola itu menggelinding sendiri sampai ke tempatku. Kuambil bola basket itu dan berjalang menghampirinya yang masih diam terpaku ditempatnya. Kulemparkan bola itu dan dengan sigap dia menangkapnya.

“Sudahlah masih banyak gadis lain. Aku sudah bilang padamu jangan menyukai gadis itu”ujarku.

“Kyuhyun-ah, aku mencintainya”aku mendesah pelan, semua laki-laki yang sudah ditolak gadis itu akan mengatakan hal yang sama. ‘Aku mencintainya’.

Banyak hal-hal aneh yang mereka lakukan jika sudah menyukai gadis pintar itu. Beberapa bulan yang lalu. Shim Changmin, kelas sebelah hampir setiap hari menempelkan mawar putih di pintu loker gadis itu atau Kim Ryeowook yang selalu membuatkan bekalnya untuk gadis itu. Ketiganya adalah sahabatku, jadi aku benar-benar dikelilingi laki-laki yang tergila-gila padanya.

 

**

“Mana suratnya?”baru masuk ke dalam rumah. Kakak perempuanku sudah menunggu dengan menengadahkan tangannya. Aku tahu apa maksdunya.

Noona, kau pikir setiap hari aku selalu membuat kekacauan di sekolah”

“Bukannya memang begitu” dia menatapku tajam. Aku melewatinya untuk masuk ke dalam rumah, menuju dapur dan mengambil minum. Kutandasakan isi gelas itu dalam sekali tegukkan.

“Tidak ada surat hari ini, hah?tumben sekali. Kau sakit?”aku mendecak kesal mendengar ucapan kakakku dan memutuskan untuk ke kamar saja.

Kakak perempuanku itu memang menyebalkan tapi dia adalah kakak terbaik kenapa?karena meski aku sering membuat kekacauan di sekolah dan selalu mendapat surat pemanggilan orang tua. Dialah yang selalu menyelesaikannya tentu saja tanpa memberitahu kedua orang tuaku yang ada diluar negeri. Dia bilang aku adalah tanggung jawabnya makanya dia mau melakukan apapun untukku termasuk menyembunyikan aibku dihadapan kedua orang tua kami sehingga aku aman-aman saja sampai saat ini.

Ponselku bergetar diatas meja belajarku. Kuambil dengan cepat dan membuka ikon pesan disana. Aku segera berganti baju dan keluar kamar lagi.

“Aku pergi”kataku pada kakak perempuanku yang sedang memasak makan malam. Tidak ada komentar, tentu saja. Dia tahu apa yang aku lakukan.

Aku memiliki sebuah band yang sering perform di beberapa cafe kecil di kota ini. inilah pekerjaanku dari sore sampai menjelang tengah malam, wajarkan bila aku tidur di kelas. Aku tidak menyukai pendidikan formal, aku lebih suka dengan musik. Cita-citaku adalah menjadi pemusik. Lulus sekolah hanya sebagai syarat saja atau memenuhi keinginan orang tuaku. Mereka tentu tidak tahu apa yang aku lakukan dan lagi-lagi aku harus berterima kasih pada kakak tercintaku, Cho Ahra.

“Kyuhyun-ah”sapa salah seorang teman band­-ku Park Joo Seon. Aku tersenyum sekilas padanya sebelum mulai mengambil gitarku.

Bagiku saat dipanggung aku benar-benar merasa seperti diriku sendiri. Bukan Cho Kyuhyun si anak nakal di sekolah atau Cho Kyuhyun si anak penurut di rumah. Aku benar-benar merasa seperti diriku sendiri.

 

**

Kurapatkan jaketku dan mengenakan tudung jaketku, melintasi pertokoan yang sudah tutup. Jalanan masih tersisa genangan air akibat hujan beberapa jam yang lalu. Mataku sudah sangat mengantuk, ingin rasanya segera sampai rumah dan merebahkan tubuhku di tempat tidurku yang nyaman. Suasana malam ini begitu hening, mungkin karena habis hujan sehingga tidak ada yang mau keluar. Semakin masuk ke dalam jalan rumahku suasana semakin sepi. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang yang tentu saja aku kenal dengannya. Dari usia 6 tahun aku mengenalnya sampai usiaku yang ke-17 tahun sekarang aku selalu melihatnya disekitarku. Dia berjalan dengan melintasiku. Darimana dia?

“Choi Yong Soon, apa yang dia lakukan malam-malam begini”gumamku sambil terus memperhatikan gadis pintar yang kini sudah terlihat berjalan semakin menjauh.

Advertisements

7 thoughts on “FF: You Are The Apple In My Eyes 1

  1. Yeaaaay eonnie update lagi ..
    Aku tiap hari ngecek blog ini .. Tp belakangan hri ini gak ngecek cz gak ada pulsa #curhat ..
    Ehhh pas bgt ada pulsa langsung ngecek blog eonnie and ada FF baru .. Huaaa ada bacaan lagi .. Asiiik asiik ..

    Suka eon .. Di sini Kyu nya di buat sedikit beda .. Biasanya Kyu itu ank pintar di skolah, tampan, pokoknya di baut perfect .. Tp di sini ada kekurangannya yg buat FF ini menarik .. Ahhhhh … Suka suka ..
    Pokoknya pasti ngikutin .. Semangat eon !!

  2. yaaaah kirain bakalan kyu nya yang pinter tapi gpp sih tetep keren alur ceritanyaaa hehe kata2nya bagus bagus ga noraaa hehe

  3. thor… Ini ngambil dari film taiwan you are the apple of my eye yg main michelle chen nama cwe nya shem cia yi ya?? Hehehe soalnya kata” yg Aku tidak mengerti kenapa kau begitu rajin belajar padahal 10 tahun lagi kau tidak akan menemukan Log di pekerjaanmu, kau percayakan itu sama kaya ko teng ngomong ke shen cia yi nya 😀

    keren kog thor…. Keep writing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s