FF: Milagro del Amor Part 17

Part 17

 

Alishia terus menggenggam tangan spencer tak ada dalam niatnya untuk meninggalkan Spencer yang tengah sekarat. Tidak ada respon apa pun dari laki-laki itu, membuat Alishia hampir frustasi dan putus asa. apa pun yang akan terjadi, Alishia tau kalau dia harus menerima kenyataan terburuk sekalipun. Hal yang paling menyakitkan baginya. Dia tidak ingin hingga matahari terbit dan menyadari kalau Spencer sudah tidak ada dunia yang fana ini. Dinginnya angin malam yang menerpa lembut kulit porselennya tidak berpengaruh apa pun. Selama berjam-jam Alishia memangku kepala Spencer yang terkulai dengan mata tertutup. Mengelus rambut laki-laki itu. Rasanya sudah lama sekali gadis itu tidak pernah seperti ini, saat dia mendapatkan suntikan kehidupan karena laki-laki itu namun dengan sekejap dia pun harus bersiap untuk menyaksikan kematian orang yang dicintainya.

Membuat lubang dan mengubur orang yang sangat dicintai begitu sangat menyakitkan. Mata Alishia tidak sedetikpun beralih dari wajah Spencer, dia akan selalu mengingat wajah itu selama hidupnya. Itu pun jika setelah ini dia masih memiliki semangat hidup. “Aku sudah memperingatkanmu. Kenapa kau tidak menuruti saja kata-kataku saat itu” bisik Alishia. Dia menyesali Spencer yang tidak pernah menuruti kata-katanya. Alishia merasakan ada yang aneh dimatanya. Sesuatu menghalangi penglihatannya, seperti airmata yang berlinang. Tetapi airmata itu tak pernah jatuh hingga yang bisa dia lakukan hanyalah mengerjap-ngerjapkan matanya. “Pasti kau sangat kesakitankan. Aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau tidak sanggup bertahan” bisik Alishia lagi.

Matahari yang sangat tidak diharapkannya mulai memancarkan cahayanya. Malam akan berganti siang, dan itu pertanda kalau Alishia akan kehilangan laki-laki itu seutuhnya. Jiwa dan jasadnya. Bahkan Alishia sendirilah yang harus mengubur jasad orang yang sangat dicintainya itu. Saat matahari mulai menyorotkan sinarnya bersamaan dengan itu memar-memar di tubuh Spencer mulai memudar. Darah segar dari lukanya perlahan mengering dan mengelupas dengan sendirinya. Lekuk-lekuk wajah Spencer terlihat semakin jelas. Rahangnya tampak lebih tajam dan kokoh. Siluet warna di wajahnya tampak lebih pekat di atas kulit putih bersinar Spencer. Bibir yang merah dengan rona di pipinya, alis serta rambutnya tampak lebih bersinar dari sebelumnya. Tubuh kurus kering Spencer jauh lebih berisi.

Puncaknya saat Alishia merasakan kulit hangat Spencer berubah menjadi sedingin  es  menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Saat itulah Alishia sadar kalau racunnya berhasil membawa laki-laki yang dicintainya itu ke kehidupan barunya. Spencer akan menjadi sepertinya.  Mata Alishia berbinar-binar menyaksikan pemandangan dihadapannya. Terakhir kali dia melihat transformasi Aletha. Namun sekarang dialah yang bertanggung jawab atas transformasi Spencer. Alishia tidak sabar menanti mata coklat Spencer menatap wajahnya dengan lembut saat laki-laki itu membuka matanya untuk pertama kalinya sebagai makhluk imortal.

Alishia merasa sangat beruntung saat apa yang diharapkannya benar-benar terjadi. Spencer membuka matanya, dan Alishia menjadi yang pertama dilihat oleh laki-laki itu setelah semua kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Ada seberkas kekecewaan dalam diri Alishia saat dia tidak menemukan mata coklat favoritnya melainkan sepasang mata merah menyala. Alishia telah kehilangan mata coklat itu untuk selamanya.

“Alishia” gumam Spencer.

Alishia diam.

Spencer mengelus wajah porselen Alishia. Satu-satunya yang tidak berubah, laki-laki itu tetap mencintai Alishia. Spencer menarik kepalanya dari pangkuan Alishia dan duduk dihadapan gadis itu. “Kau baik-baik saja?” tanya Spencer cemas begitu melihat ekspresi gadisnya itu seperti baru saja mengalami kesedihan yang mendalam. Spencer sangat terkejut saat melihat tangannya yang sedang mengelus pipi Alishia berkilauan di bawah sinar matahari.

Lak-laki itu mencoba berkonsentrasi. Sesuatu yang sangat berbeda. Semua panca inderanya bekerja terlalu keras dari biasa membuatnya merasa sangat kesakitan. Dia bisa merasakan setiap terpaan angin dengan detail berseluncur di kulitnya. Pendengarannya bahkan dapat menangkap keramaian kota, bukan halusinasi tapi ini nyata. Matanya bisa dengan mudah melihat jaringan di setiap pohon di hutan hingga yang berjarak ratusan meter sekalipun. Indera perasanya dapat merasakan sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat, rasanya pahit seakan dia baru saja menelan arang. Terasa kesat. Saat itulah dia dapat mengingat kalau teralhir kali dia makan daging ayam liar yang dipanggang diatas bara api.  Semua itu terasa menyakitkan bagi Spencer. Dia belum bisa menyeimbangkan semua panca inderanya yang sangat sensitif. Rasanya sangat frustasi saat semua informasi yang berlebihan itu diterimanya.

“Spencer” gumam Alishia. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Dia tahu kalau Spencer sedang berjuang keras untuk menangani semua panca inderanya. Saat seperti inilah vampir baru akan sangat labil. Dan itu sedang terjadi pada Spencer.

Spencer tidak bisa merespon Alishia yang menyebut namanya. Dia terlalu berkonsentrasi pada dirinya yang sangat menyakitkan. Tiba-tiba saja Spencer merasa ada bau yang sangat harum melintas di indera penciumannya dan otaknya segera memerintahkannya untuk mengejar bau itu. Spencer berlari sangat cepat, diluar kemampuan manusia biasa. Dia tidak memperhatikan inderanya yang lain, dia hanya memusatkan perhatiannya di indera penciuman. Sangat sulit untuk menggunakan seluruh panca indera secara bersamaan.

Alishia mengejar di belakangnya. “SPENCER JANGAN!!!!” teriak  Alishia.

Laki-laki itu masih tidak merespon.

“SPENCER KUMOHON JANGAN!!!!”  teriak Alishia lagi.

Lagi-lagi tidak ada respon dari Spencer.

“Kumohon Spencer, jangan!! Mereka bukan makanan, mereka saudaramu” lirih Alishia. Terselip luka yang mendalam dalam nada suara Alishia. Dia menyalahkan dirinya, karenanya Spencer menjadi seorang monster yang tidak berbeda darinya.

Kali ini laki-laki itu merespon kata-kata Alishia. Nada suara yang penuh dengan kepedihan itu mampu meluluhkan Spencer, apalagi dia tahu kalau suara itu berasal dari orang yang sangat dicintainya. Alishia langsung menghambur ke pelukan Spencer. “Maafkan aku telah membuatmu seperti ini” seru Alishia.

Spencer melepaskan pelukan Alishia. Pelukan Alishia menyakitinya, sentuhan itu terlalu jelas. Alishia menatap Spencer, jiwa gadis-nya menganggap Spencer menjauhinya. Alishia mencoba menyadarkan dirinya kalau Spencer tidak akan dengan sengaja menolaknya. Spencer tampak begitu frustasi.

“Alishia” gumam Spencer. Hati nuraninya tidak ingin menyakiti Alishia. “Maafkan aku. Ak..akuu..” Spencer terlihat bingung pada dirinya sendiri.

 

 

 

“Apa yang ayah katakan pada Aletha?” kata Jeremy menuntut pada ayahnya yang bernama Jeff yang tengah duduk di ruang tengah dengan ditemani ibunya.

Ibu jeremy bangkit dan mendekati laki-laki itu. “Ada apa dengan Aletha?” tanya perempuan setangah baya itu dengan cemas.

Jeremy berdesis. “Aletha mengorbankan dirinya sendiri kepada Klan Boainero. Aku tidak tahu apa yang telah ayah ceritakan, tapi itu sangat berpengaruh bagi Aletha. Seperti yang pernah kukatakan, aku akan menjaganya walaupun harus bertaruh nyawa sekalipun” desis Jeremy. Setelah itu dia meninggalkan rumah. Tidak mempedulikan ibunya yang terus memanggil-manggil namanya.

Ditengah jalan sesosok orang yang memiliki tubuh kekar berdiri di depan Jeremy, menghalangi jalan laki-laki itu. “Aku ikut denganmu!” serunya dengan mantap.

Jeremy tidak berkata apa pun, dia melewati laki-laki di hadapannya yang bernama Micky itu. Micky mengikuti langkah Jeremy di belakang. Mereka berjalan memasuki hutan menuju sebuah kastil di tengah hutan yang merupakan kediaman keluarga Agnelli.

Di tengah jalan Jeremy melihat Max yang tengah bersandar di salah satu pohon paling besar di hutan. “Sekali lagi kuingatkan. Mungkin kau akan kehilangan nyawamu. Tidak, maksudku kalian berdua” seru Max sambil melihat Micky yang berada di belakang Jeremy.

Jeremy diam, seolah tidak memperhatikan peringatan Max. Dia meneruskan perjalanannya. Max mendengus, kemudian dia pun melangkah di belakang Jeremy.

Mereka menyusuri jalan setapak yang seakan tak pernah dijamah. Rumput-rumput liar tumbuh dengan sejahtera, bau lembab tanah pun dapat tercium dengan jelas. Ketika mereka sampai di depan sebuah kastil Jeremy menghentikan langkahnya diikuti dengan Micky di belakangnya. Sedangkan Max tetap berjalan, saat di depan pintu Max membukakan pintu untuk kedua orang suku Mannaro tersebut seolah-olah menghormati tamu. “Silahkan masuk” ujar Max seadanya. Nada suara Max malah terkesan seperti meremehkan. Tentu saja dia tidak pernah benar-benar masuk melalui pintu.

“Aku membawa sekutu” ujar Max ketika telah berada di dalam kastil kepada semua yang ada. Disana sudah ada Dennis tengah duduk di depan salah satu sisi meja dan dikelilingi oleh Anita dan Cheryl di sebelah kiri dan kanannya. Sedangkan U-Know dan Vincent berada diseberang meja.

“Selamat datang di kastil kami” sapa Dennis dengan ramah pada Jeremy dan Micky yang berdiri di belakangn Max.

“Aku sudah tau tentang keadaan Aletha. Apa yang bisa kulakukan?” seru Jeremy langsung ke inti permasalahan.

Dennis tetap tenang. “Bergabunglah bersama kami” ujar Dennis lagi, bermaksud mengundang tamu-tamunya bergabung bersama mereka untuk duduk di sisi meja.

“Aku tahu semua yang ada disini sangat ingin Aletha bebas. Semua yang ada disini adalah yang menyayangi Aletha. Tapi Klan Boianero bukanlah klan vampir biasa, mereka pemimpin dari semua klan vampir di dunia. Mereka sangat berkuasa. Setahuku, vampir yang menjadi tawanan Klan Boainero ada beberapa kemungkinan akan dijadikan pelayan atau prajurit dan kemungkinan terburuknya akan dimasukkan ke kolam jiwa. Cassey selalu punya rencana yang sulit ditebak. Tapi aku yakin kemungkinan terakhir tidak dilakukan atau belum dilakukan oleh Cassey pada Aletha.” Jelas Dennis panjang lebar.

Jeremy memperhatikan dengan seksama setiap perkataan Dennis. Keningnya berkerut, “Aku tidak mengerti, apa itu kolam jiwa?” tanya Jeremy ingin tahu.

“Kolam jiwa itu tempat hukuman mati para vampir” sahut Cheryl.

Jeremy bergidik membayangkan Aletha yang akan dimasukkan ke dalam kolam jiwa. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aletha sudah menjadi bagian dari hidupnya, dia tidak tahu akan seperti apa hidupnya jika tanpa Aletha. Jeremy sangat mencintai gadis vampir yang polos itu.

“Tolong libatkan aku dalam masalah ini!” seru sebuah suara dari arah pintu membuyarkan suasana mencekam tentang kolam jiwa.

“Marcus!” seru Anita yang telah berdiri melihat kedatangan Marcus.

Dennis mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat pada Anita agar dia tetap tenang. “Anita tenanglah!” ujar Dennis dengan lembut.

Tentu saja Anita tidak bisa tenang. Walau bagaimanapun Marcus tetaplah manusia, dia tidak bisa terlibat begitu saja dalam urusan vampir tanpa resiko. Resiko berhadapan dengan klan Boianero sangatlah besar.

“Aku orang yang sangat bertanggung jawab atas tertangkapnya Aletha. Tolong libatkan juga!!” seru Marcus dengan tegas. Dia sama sekali tidak mempedulikan wajah Anita yang sedang menatapnya gusar atas keputusan Marcus yang dinilai sangat beresiko.

“Aku tahu. Kalau begitu bergabunglah” kata Dennis.

“Ayah!!” protes Anita.

“Kita lanjutkan” seru Dennis tenang namun tegas. Memotong suasana agar Anita berhenti protes. Disisi lain Dennis berpikir kalau mereka memang membutuhkan sekutu yang banyak untuk membebaskan Aletha.

“Tidak tanpa kami” potong Alishia.

Kali ini U-know lah yang dibuat heran oleh kedatangan Alishia. “Kami?” tanya U-Know dengan kening berkerut.

“Aku juga ingin terlibat dalam urusan keluarga baruku ini” sebuah suara berat terdengar dari balik punggung Alishia. Seseorang tersenyum dengan gummy smile-nya yang khas. Seolah merasa bangga dia dapat ikut berkumpul ditengah-tengah makhluk yang sebelumnya dianggapnya mengerikan.

Semua mata tertuju pada Spencer. Tidak terkecuali Cheryl, dia lah yang paling antusias dengan perubahan Spencer. “Alishia kau..??” tanya Cheryl terputus.

“sebelumnya dia manusia” gumam Marcus lebih kepernyataan daripada pertanyaan . Tatapannya lekat menatap Anita yang berada di seberangnya. Anita tak berani menatap balik ke arah Marcus. Gadis itu tahu arti dari tatapan Marcus padanya.

 

 

 

Setelah pertemuan panjang Spencer berlatih mengendalikan semua panca indera barunya. Dia berlari menggunakan kakinya dengan kecepatan vampir. Dia sangat antusias meskipun rasanya cukup menyakitkan bagi vampir baru sepertinya. Responnya terhadap larangan Alishia adalah kemajuan, hampir saja dia menjadikan manusia sebagai mangsanya. Dan sekarang ingatan yang kuat tentang kehidupan manusianya akan membuatnya tidak akan memangsa manusia. Rasanya baru berapa puluh jam yang lalu Spencer masih makan daging ayam liar, dan masih bisa merasakan kedinginan. Rasanya cukup menyakitkan kalau ada beberapa bagian dari kemanusiaannya yang tidak dapat dia rasakan lagi.

“Kau bisa apa? Kuharap kau tidak merepotkan” seru sebuah suara yang memecah konsentrasi Spencer.

Spencer tersenyum dengan Gummy smile-nya yang khas. “Hai Sobat” sapanya dengan ramah.

Tanggapan Spencer pada dirinya membuat U-Know muak. Dia lebih senang jika Spencer membencinya dan menganggapnya musuh. Itu lebih adil. “lebih baik kau mencoba membunuhku daripada mengucapkan kata yang memuakkan itu” seru U-Know ketus.

“Aku tidak membencimu. Malah sebaliknya. Kau membuatku memiliki peluang yang besar berada di samping Alishia”

U-Know tidak tahan dengan kata-kata Spencer. Cara bertarung laki-laki itu melalui kata-kata. Menyerang Spencer adalah kesalahan terbesar U-Know. Harusnya dia biarkan saja wujud manusia Spencer hidup, toh umurnya sebagai manusia pun tidak akan bertahan lama dan habis dimakan waktu. U-Know mengutuk dirinya sendiri begitu menyadari Spencer yang berada di hadapannya sekarang ini adalah makhluk yang sejenis dengan dirinya.

 

 

“Marcus!!” seru Anita sambil mengejar langkah laki-laki yang dicintainya itu.

Marcus menyadari kehadiran Anita, dia menoleh kebelakang dan mendapati gadis itu sedang menatap radang kearahnya. “Aku tidak akan mengubah keputusan tentang ini” seru Marcus.

Anita kesal dengan sikap keras kepala Marcus. “kenapa kau begitu keras kepala” seru Anita, ada nada gusar dalam suaranya.

“Kenapa kau begitu egois!!. Kau tidak ingin mengubahku, kau memintaku untuk membunuhmu dan sekarang kau ingin aku menjadi penonton bagi pertarungan kalian melawan Boianero. Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan!”

“Aku ingin kau hidup normal”

“Hidupku tak pernah normal”

Suasana hening. Hanya bunyi gesekan dedaunan pohon di hutan yang terdengar. “Aku melakukan ini bukan karena hubungan romantis kita. tapi karena Aletha”  ujar Marcus memecah kesunyian. “aku tidak akan menyerah selama kau menginginkanku” lanjutnya

“Bagaimana kalau aku tidak menginginkanmu”

“itu berarti aku sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi”

“Jangan konyol Marcus! Hidupmu sangat berharga”

“Tidak tanpamu” seru Marcus kemudian dia melangkah meninggalkan Anita sendiri yang mematung di tempatnya. “Sampai bertemu lagi di tempat latihan”

 

 

 

Sepanjang malam terus terdengar suara lolongan srigala yang tak lain adalah kawanan Mannaro. Lolongan merapakan cara mereka berkomunikasi dari jarak jauh dan untuk menandakan keberadaan mereka satu sama lain. Hanya mereka yang memiliki satu tujuan dengan Jeremy yang bisa mendengar pikiran Jeremy.

“Ada latihan pertempuran setiap malam di tengah hutan” kata Jeremy memberikan instruksi pada siapa pun yang dapat mendengar pikirannya.

yang kutahu Andrew juga akan bersama kita” kata Micky.

                “Harusnya dia bisa mendengarku sekarang” sahut Jeremy

                “Aku mendengarnya. Aku dan yang lain akan datang besok” sahut Andrew dari lokasi yang berbeda.

Berdasarkan apa yang telah mereka bicarakan di pertemuan, mereka telah sepakat untuk mengadakan latihan pertempuran sebelum akhirnya bertempur secara nyata jika dibutuhkan.

Advertisements

4 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 17

  1. Langsung loncat ke part ini (‾⌣‾)♉
    Rame rame rame, walaupun ga ngerti ya sudahlah. Aku baca dari part pertaman dulu ya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s