FF: Milagro del Amor Part 16

Part 16

 

Jeremy dan Max menatap seorang laki-laki yang kini tengah berjalan ke arah mereka, seorang laki-laki yang memiliki tubuh atletis. Laki-laki itu bernama Andrew, yang sejak tadi mendengarkan percakapan dua orang ini secara intens.

“Tidak ada gunanya saat ini untuk saling menyalahkan, bukan salah Jeremy jika dia jatuh cinta pada temanmu itu”ujar Andrew, ditatapnya Max dengan pandangan tidak suka, bagaimanapun Jeremy adalah sahabatnya, mereka satu suku yang artinya secara tidak langsung mereka adalah saudara, dan dia tidak bisa diam saja melihat Jeremy disalahkan seperti ini. Tidak ada yang bisa mengatur dengan siapa mereka jatuh cinta.

“Lalu?salah siapa?Aletha?kalau sahabatmu ini tidak bertemu dengan Aletha tidak mungkin dia akan jatuh cinta pada gadis itu”Max menatap tajam Andrew, menurutnya siapa lagi yang bisa disalahkan kalau bukan Mannaro yang dicintai Aletha ini.

“Itu takdir mereka”

“Takdir?dan takdir Aletha adalah mati karena pria ini”Max menunjuk Jeremy, emosinya mulai terpancing saat ini. Bisa-bisanya makhluk dihadapannya ini terlihat santai. Hidup Aletha kini sedang tergantung dan semuanya karena mannaro-mannaro ini. Max sungguh tidak habis pikir.

Sementara itu Jeremy hanya bisa terdiam, dia sendiri tidak tahu harus berkata apa saat ini. Lidahnya kelu, dia menyesal tentu saja. Dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Jeremy tidak mau kehilangan Aletha begitu saja. Dia kembali teringat kata-kata ayahnya, harus ada pengorbanan dalam sebuah hubungan percintaan dan apakah ini yang dimaksud ayahnya?namun disini Aletha-lah yang berkorban. Jeremy mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tidak mau terjadi sesuatu pada Aletha, dia tidak mau gadis itu yang berkorban. Lebih baik mereka mati bersama dibandingkan dia harus kehilangan Aletha.

“Aku akan menyelamatkan Aletha”ujar Jeremy membuat kedua pria yang sedang beradu mulut ini menghentikan kegiatan saling memberi argumen dan menoleh pada Jeremy diliputi kebingungan dengan apa yang Jeremy katakan.

“Jeremy apa maksudmu?”tanya Andrew.

“Aku akan ke castil mereka dan menyelamatkan Aletha”

“Heh!kau sudah gila hah!baru menginjakkan kakimu di depan castil mereka, sudah kupastikan kau hanya tinggal seonggok mayat serigala!”Max menyampaikan pendapatnya atas ide gila Jeremy. Dia pikir laki-laki ini sama saja mengantar dirinya menuju kematian. Apa mereka tidak tahu seberapa bahanya Boia Nero itu.

“Max, jangan meremehkan kami”Andrew tidak terima Max menganggap mereka makhluk lemah yang dengan gampang dihabisi oleh vampir.”Kalau kau pergi kami juga akan pergi”lanjut Andrew membuat Max membulatkan matanya sempurna. Jeremy kaget mendengar ucapan Andrew, wajah laki-laki berperawakan tinggi itu terlihat serius ketika mengatakan mereka akan bersama Jeremy.

Meski Andrew tidak suka dengan Jeremy yang jatuh cinta pada seorang vampir namun dia tidak bisa membiarkan sahabatnya itu mati karena menolong gadis yang dia cintai. Mereka satu darah, kemanapun Jeremy pergi, masalah apapun yang dihadapi Jeremy. Mereka akan selalu ada untuk Jeremy.

“Well, well, well, kurasa kucing-kucing ini sudah kehilangan otak mereka”sindir Max, dia mengibaskan tangannya . “Lalu bagaimana rencana kalian?”tanya Max. Sedikit dia mulai tertarik dengan keberanian klan Mannaro ini dan sebenarnya dia memang berencana seperti itu. Jiwa pemberontak Max muncul begitu saja mendengar rencana klan ini untuk menyelamatkan Anita.

“Kita akan melakukan penyerangan kesana?”tanya Andrew pada Jeremy dan laki-laki itu mengangguk. Sekarang dia sedang berpikir bagaimana cara yang paling aman untuk bisa menyelamatkan Aletha tanpa harus membuat teman-temannya terluka atau bahkan mati. Meski dia senang karena teman-temannya itu mau bersamanya tapi tetap saja dia tidak mau melibatkan teman-temannya itu terlalu jauh.

“Wow, sepertinya ini akan menarik”gumam Max.

 

**

 

Nathan berjalan memasuki hutan gunung Appenine, dengan tas gendong yang dia gunakan, dia sisir kaki gunug itu. Tujuan utamanya adalah menemukan Cheryl. Dia sudah membulatkan tekadanya bahwa dia akan mencari Cheryl, dia tidak mau begitu saja ditinggalkan oleh gadis yang sudah menjerat hatinya itu.

Nathan mencari ke hutan Appenine ini setelah selalu memperhatikan kalau Cheryl datang dari arah kaki gunung setiap harinya selama mereka masih bertemu. Hal itu baru disadari Nathan beberapa hari lalu saat dia frustasi harus mencari kemana lagi Cheryl dan bukankah gadis itu juga pernah bercerita kalau dia memang tinggal di hutan saat Cheryl menceritakan identitas dirinya pada Nathan.

Ini pertama kalinya bagi laki-laki ini masuk ke hutan, dia tidak mengerti bagaimana isi hutan ini dia hanya bermodal nekat, nekat untuk bertemu gadis vampir bernama Cheryl. Suasana hutan di musim panas cukup ramai dikarenakan banyak hewan-hewan yang berkeliaran di siang hari. Sesekali Nathan menengok ke belakang takut-takut kalau ada yang mengikutinya, laki-laki ini hanya berjalan sesuai instingnya. Dia tidak tahu pasti dimana rumah Cheryl itu.

Semakin masuk ke dalam hutan, pepohonan disana semakin rimbun sehingga cahaya matahari mulai sedikit masuk melalui celah-celah dedaunan pohon yang sangat tinggi ini. beberapa kali Nathan mendengar suara-suara yang sedikit menganggunya itu, ada rasa takut menghinggapinya saat ini namun dia tidak mau menyerah, tidak sebelum bertemu dengan Cheryl. Dia sudah terlanjut jatuh cinta pada gadis itu yang menjadi cinta pertamanya dan dia tidak akan melepas cinta pertamanya itu. Dia sadar, Cheryl dan dia ada di dunia yang berbeda tapi itu bukan masalah menurutnya selama mereka saling mencintai.

Nathan melihat atap sebuah gedung tidak terlalu jauh dari tempat dia berdiri. Sebuah gedung yang tampak seperti istana itu, nalurinya mengatakan itu adalah tempat tinggal Cheryl dan keluarganya. Dia segera berlari agar cepat sampai di gedung itu.

Matanya menatap takjub bangunan dihadapany ini. Dia seperti ada di negeri dongeng saat ini, gedung ini benar-benar seperti istana seorang putri. Kakinya mulai melangkah memasuki gedung bercat putih itu, dia berusaha meredam debaran jantungnya saat ini. Dia yakin akan bertemu dengan Cheryl.

Begitu sampai di depan pintu besar gedung itu. Dia mencoba mengetuknya perlahan namun tidak ada tanggapan maka dia mulai mengetuk pintunya dengan kencang. Tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya membuat Nathan menjadi takut. Dengan ragu-ragu dia masuk ke dalam gedung yang megah itu, matanya mengeksplorasi seluruh ruangan ini.

“Ah”tiba-tiba Nathan jatuh tersungkur ke lantai, seseorang memukul bahunya, seorang gadis yang menatap Nathan dengan tatapan sendu.

“Maafkan aku Nathan, seharusnya kau sudah melupakan aku”lirih gadis itu lalu membawa Nathan pergi dari tempat itu.

Kau akan melupakan ingatannya? Sebuah suara terdengar dipikiran gadis itu, wajahnya terlihat ragu menjawab pertanyaan dari pemilik suara ini. Situasinya tidak memungkinkan sekarang untuk mereka bersama bahkan mungkin tidak akan pernah memungkinkan, jadi apakah melupakan ingatan laki-laki ini adalah jalan yang terbaik?

 

**

“Anita”seorang laki-laki terdengar memanggil gadis yang kini tengah termenung di balkon kamarnya, pikirannya sungguh kacau saat ini. Terlalu banyak yang dia pikirkan saat ini, bahkan selama eksistensinya baru kali ini gadis bernama Anita memilki permasalahan sekompleks ini.

Gadia itu menoleh ke arah pintu kamarnya, seorang laki-laki dengan lesung pipi itu berjalan menghampirinya dengan perlahan, raut wajah laki-laki itu serupa dengan Anita, mereka sedang memikirkan masalah yang sama.

“Maafkan aku Dennis”lirih Anita, laki-laki bernama Dennis itu langsung memeluk Anita, mendekap erat putri keduanya ini dan dibelainya rambut panjang Anita penuh rasa sayang. “Ini semua kesalahanku”lirih Anita lagi.

“Tidak sayang, kau tidak salah, tidak ada yang bisa disalahkan disini kecuali aku, aku yang tidak becus menjaga kalian”Anita memejamkan matanya perlahan. Bagaimana dia tidak berpikir kalau dialah yang salah seandainya saat itu dia langsung menyuruh Marcus pulang tentu saja Casey tidak akan bertemu dengannya dan Aletha tentu tidak harus berkorban seperti ini.

“Dennis”panggil Anita, laki-laki itu melepaskan pelukannya dan ditatapnya penuh sayang putrinya ini.

“Aku yakin Aletha akan baik-baik saja, kita akan menemukan cara menolongnya”seakan mengerti apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh Anita, Dennis berusaha menenangkan gadis ini mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Dia yakin kalau semua ini pasti akan terlewati, dia yakin Aletha akan baik-baik saja hanya saja dia tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. Sampai saat ini pun dia belum tahu bagaimana menolong Aletha. Berhubungan dengan Boia Nero tidak bisa gegabah, langkah yang akan mereka ambil harus benar-benar diperhatikan dan Dennis sedang memikirkan hal itu saat ini.

Anita mengigit bibir sewarna darah itu, bukan hanya Aletha yang sebenarnya sedang dia pikirkan saat ini tapi juga Marcus. Sampai saat ini dia belum bisa menanggapi keinginan Marcus untuk menjadikan laki-laki itu seperti dia,dia tidak mau menyakiti Marcus, menjadi makhluk seperti mereka tidaklah gampang dan kalau boleh jujur dia tidak mau Marcus menjadi seperti dia. Dia akan mempertaruhkan segalanya agar Marcus tetap menjadi manusia.

Anita kembali memeluk Dennis, dia sudah memutuskannya, memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan semoga Dennis dapat menerimanya.

“Kau adalah ayah yang terbaik untuk kami, aku minta maaf karena selalu membuatmu sedih, ayah. Aku mencintaimu selamanya”

 

**

 

Alishia memeluk tubuh Spencer yang bersimbah darah,wajah laki-laki itu kini sudah pucat bahkan nafasnya sudah tersengal, matanya pun sudah terpejam. Luka sayatan panjang terlihat jelas di dadanya, kaus yang dia kenakan sudah berwarna merah semua. Tubuh Alishia bergetar melihatnya.

“Alishia, maafkan aku”dia mendengar laki-laki yang telah membuat Spencer seperti ini meminta maaf padanya. Sejujurnya U-Know tidak berniat melakukan hal ini namun dia sangat emosi tadi sehingga lepas kendali. Dia tidak menyangka kalau laki-laki yang bersimbah darah ini sedang meregang nyawa.

“Spencer..spencer…spencer”berulang kali Alishia memanggil nama Spencer, dia sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Pikirannya tiba-tiba buntu begitu saja, tangan putih Alishia kini sudah berlumur darah Spencer dipangkuannya. Diusapnya wajah pucat yang terpejam itu, satu-satunya yang menandakan laki-laki ini masih hidup adalah nafasnya yang terputus-putus.

U-Know hanya berdiri di tempatnya tadi, tidak mampu bergerak melihat pemandangan dihadapannya. Dia merasa menyesal seketika itu juga tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia hanya bisa merutuki kebodohannya yang bisa hilang kendali tadi.

“Al..is..hia”laki-laki itu berkata lirih sekali sambil mengenggam tangan Alisihia yang menyentuh wajahnya.

“Spencer..bertahanlah..”kalau Alishia bisa menangis sudah dipastikan gadis itu menangis sejadinya namun apa yang dia lakukan sekarang, dia bahkan tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan laki-laki ini.

“Ah..ku..men..cin..taimu..”Nafas Spencer semakin terputus-putus genggaman tangannya pada Alishia juga mulai melemah.

“Spencer..spencer..kumohon jangan tinggalkan aku…aku mencintaimu..aku mencintaimu”Alishia berkata sambil memohon-mohon pada Spencer namun tiba-tiba dia merasakan nafas Spencer semakin melemah dan akhirnya genggaman tangan Spencer terlepas, tubuh itu tidak bergerak lagi.

“Spencer!!!”gadis itu berteriak, sambil mengguncang-guncangkan tubuh Spencer dipangkuannya membangunkan pria itu lagi. “Spencer!”teriak Alishia lagi.

“Alishia”U-Know mendekatinya dan menyentuh bahu Alishia namun tangan Alishia langsung menghempaskan lengan U-Know dipundaknya, ditatapnya benci pria itu.

“Pergi dari hadapaku sekarang!”Alishia menggeram pelan, dia rasanya ingin membunuh laki-laki dihadapannya ini. Merasa Alishia serius dengan kata-katanya, U-Know perlahan menjauh dari Alishia. Tidak ada gunanya dia bicara sekarang dengan Alishia, dia tahu kalau gadis ini sudah sangat bernafsu membunuhnya. U-Know memutuskan untuk  pergi dari tempat itu.

Alishia memeluk tubuh Spencer dengan erat. “Bangun Spencer..bangun..aku mencintaimu…bangun”Alishia menepuk pipi Spencer berkali-kali sehingga wajah Spencer kini sudah dipenuhi oleh darahnya sendiri.”Spencer..kumohon”Alishia menaruh kepalanya di dada Spencer dan masih memohon dengan lirih agar Spencer sadar kembali.

Tiba-tiba dia masih mendengar suara detak jatung Spencer meski terasa sangat pelan dan lemah. Dia menegakkan tubuhnya, ditatapnya wajah pucat itu. Hanya ada satu cara yang terlintas dipikirannya saat ini namun dia masih ragu untuk melakukannya, gadis ini belum pernah melakukannya sebelumnya dan ini akan menjadi yang pertama untuknya. Apa dia bisa menahan untuk tidak membunuh laki-laki ini?

Semakin lama suara detak jantung Spencer semakin lemah, tidak ada waktu lagi. Jika dia tidak melakukannya maka Spencer tidak akan pernah kembali. Alishia memejamkan matanya perlahan, lalu dia mulai mendekatkan wajahnya ke leher Spencer dan dengan sekali gerakkan, menempelkan taringnya di leher Spencer, menyalurkan racunnya yang akan bisa membuat laki-laki ini menjadi immortal seperti dia.

Tidak cukup satu titik di leher.Alishia melakukannya lagi-lagi, begitu juga ditangan Spencer, dia ingin memastikan bahwa semua racunnya masuk ke dalam tubuh Spencer menyentuh sampai ke jantung yang masih berdetak lemah ini.Kumohon bagunlah, batin Alishia sambil terus mengigiti tubuh Spencer, berharap bahwa dia bisa mengembalikan  laki-laki yang dicintainya ini.

 

**

 

“Bunuh aku dan kita akhiri semua”Anita berkata dengan tegas pada laki-laki berambut coklat dihadapannya ini. Mata tajam Anita menyiratkan sebuah keseriusan akan kata-katanya. Sementara laki-laki bernama Marcus ini menatap Anita tidak percaya.

“Tidak”jawab Marcus.”Aku tidak akan membunuhmu”tegas Marcus.

“Kita tidak punya pilihan Marcus”

“Jadikan aku sepertimu dan semuanya akan selesai”

“Aku tidak ingin menjadikanmu sepertiku”

“Kenapa?aku akan mati juga jika aku kembali”

“Tidak, kecuali kau membunuhku”

“Anita!”

Marcus mengerang frustasi karena Anita lebih memilih untuk dibunuh dibandingkan menjadikannya sama seperti gadis dihadapannya ini.

“Aku tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya”lirih Marcus dengan tatapan sendu namun gadis itu tidak memberikan ekspresi apa-apa diwajahnya.

“Kita tidak ditakdirkan bersama Marcus”

“Lalu kenapa aku kembali mengingatmu kalau kita tidak ditakdirkan bersama”

“Bunuh aku dan semuanya akan berakhir”

Advertisements

3 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s