FF: Milagro del Amor Part 15

*Shin Rae Bin*

Part 15

 

 

Laki-laki berwajah tampan sedang menyesap minumannya sambil memandang jauh keluar melalui jendela castilnya. Terlihat gurat halus dikeningnya menandakan begitu beratnya beban pikiran yang kini menganggunya. Aletha, dia memikirkan bagaimana nasib putri bungsunya yang di bawa Casey malam itu. Dennis terus merutuki diri karena telah lengah menjanga putri-putrinya. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah bagi putri-putrinya.

“Ayah.” Sapa seseorang bersuara lembut berjalan mendekatinya.

Dennis mengalihkan pandangannya menatap putrinya itu. “Alishia.” Sahutnya.

“Aku yakin Aletha baik-baik saja disana. Casey tak sekejam yang kita bayangkan, aku tahu kau yakin itu.” Alishia mencoba menghibur Dennis yang terlihat sangat kacau karena rentetan kejadian akhir-akhir ini.

Dennis menghela nafas berat. Pandangannya kosong menatap keluar. “Aku telah gagal.” Racaunya.

Alishia memicingkan mata, dia tau bahwa ayahnya sangat terpuruk atas kejadian yang menerpa keluarga mereka. “Kau terhebat yang kami miliki.” Ujar Alishia seraya merangkul Dennis.

Dennis masih memandang kosong keluar sambil terus menyesap minumannya. Pikirannya bercampur aduk. Satu sisi dia khawatir akan keselamatan Aletha yang di kini berada ditangan Casey, walaupun dia tahu Casey masih memiliki sisi yang tidak banyak diketahui makhluk sepertinya tetapi tetap Dennis harus waspada dan khawatir, disisi lainnya dia memikirkan kegagalannya sebagai seorang ayah yang dipikirnya dia tidak bisa menjada dan membimbing keempat putrinya. Dennis merasa gagal mejadi seorang ayah.

“Dennis, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya sebuah suara berat dari belakang mereka. suarang yang sangat mereka kenal, tak lain adalah suara Max. Dennis dan Alishia mengalihkan pandangan mereka menuju suara berasal. Terlihat Max berdiri tegap dengan semburat khawatir dan  tak percaya menjadi satu disusul U-Know dibelakangnya.

Perasaan Alishia campur aduk ketika melihat U-Know. Dia masih selamat, malam itu U-Know tidak membeberkan semuanya didepan Casey. Tapi kali ini dia tidak yakin keberuntungan kembali berpihak kepadanya. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya jika U-Know menceritakan semuanya kepada Dennis. Alshia berharap U-Know masih mau berbaik hati padanya melihat kondisi Dennis tidak dalam keadaan baik.

Dennis menghela nafas lagi dan berjalan menuju bangku yang berada diruang tengah castilnya, diikuti Alishia, max dan U-Know dibelakangnya. “Sampai saat ini aku masih belum mengerti apa yaang membuat Aletha berani melakukan itu semua.” Katanya memandang lurus castil. “Dia juga menunjukkan gelang pemberian Klan Mannaro itu.” ungkap Dennis sambil tersenyum tipis mengingat apa yang dilakukan Aletha tempo itu.

Mata Max membulat. Emosinya sesaat naik ketika mendengar cerita Dennis. “Makhluk itu biang dari semuanya.”

“Aku tak yakin apa yang dilakukan makhluk Mannaro itu hingga membuat putri kecilku memiliki keberanian melawan Casey.”

“Aletha memang polos tapi kurasa dia pintar dalam memilih teman.” Ucap Alishia disambut tatapan tajam dari U-Know. Alishia memang menangkan hal ganjil dalam diri U-Know. Dia terlihat pendiam saat ini, tapi matanya yang tajam terus mengarah padanya. Alshia sadar akan tatapan itu dan tidak berani membalasnya karena dia tau dialah yang bersalah kini.

“Kau akan menemui Casey?” tanya U-Know yang dari tadi diam, matanya tetap mengarah ke Alishia. Alishia kaget mendengarnya. Dia takut U-Know akan membukanya didepan Casey.

“Aku tidak akan melakukan hal yang dapat membahayakan putriku. Casey sangat tidak suka ditentang. Aku akan berbicara padanya nanti.” Jelas Dennis.

“Kapan?” tanya Max sedikit menuntut.

Dennis menatapnya. “Sampai keadaan mencair.” Max terlihat tidak puas akan jawaban Dennis. Dia tidak bisa melihat Aletha menjadi tawanan Casey.

“Aku yang akan bicara pada Casey.” Ucap Max berlalu dari pandangan Dennis.

“Jangan bertindak gegabah, atau kau akak membahayakan Aletha.” Sahut Dennis, namun terlambat Max hilang dari pandangannya.

“Dia tahu apa yang harus dilakukan.” Bela U-Know kemudian pergi. Dennis kembali termenung. Alishia melihat cemas kepada ayahnya, dikaitkan kedua tangannya kebahu Dennis mencoba memberikan kenyamanan.

 

 

 

Ruangan kecil tak bercahaya bertempatkan dibawah tanah, dikelilingi dinding kokoh  dengan jeruji besi berukuran besar menjulang tinggi dan udara dingin lembab menyelimuti gadis betubuh kecil dengan rambut sebahu. Gadis itu tengah terdidur diatas lantai tak beralas. Ini tempat yang harus dia terima akibat dari tindakan yang berani diambilnya tempo itu.

Sekelebat bayangan hadir menjadi bunga tidurnya bagaikan film. Gadis kecil nan imut yang sedang bermain di taman bermain sambil memakan ice cream, ditemani kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Kemudian berganti dimana ia harus melihat kedua orang yang sangat dicintainya meninggal dalam kondisi yang tidak wajar. Dia juga melihat kembali seseorang mentransformasikan dirinya menjadi makhluk yang sangat tidak diinginkannya. Lalu muncul sosok separuh laki-laki separuh hewan berdiri tegap menatapnya, gadis itu enggan menatap balik sosok itu. perlahan laki-laki itu berjalan mendekat dan memancarkan tatapan hangat membuat gadis itu merasa sangat nyaman. Namun tiba-tiba sosok itu menghilang dari pandangannya membuat gadis itu merasa takut dan sakit yang luar biasa.

“Aletha Agnelli.” Gadis itu mendengar seseorang mendengar namanya.

“Jeremy.” Panggilnya. Ia menganggap seseorang yang memanggilnya adalah Jeremy. “Jeremy” panggilnya lagi.

“Aletha Agnelli.” Kali ini suara itu semakin keras hingga menghapus semua bayangan yang ada dan membangunkan Aletha. Aletha sedikit menggeliat dan mengucek matanya.

“Ada apa?” tanyanya pada seorang penjaga ruang bawah tanag.

Orang itu membuka jeruji yang mengurungnya. “Casey memanggilmu.” Katanya.

Setengah malas Aletha bangkit dari tidurnya dan berjalan mengikuti penjaga itu menuju tempat Casey.

“Max.” Panngil Aletha ketika sampaiu disebuah ruangan dimana terdapat Casey, Joshua dan Max. Max yang sebelumnnya tengah berbincang serius dengan Casey dan Joshua melihat ke arah Aletha.

“Aku beri kau waktu tidak lebih dari 5 menit.” Ucap Casey. Casey dan Joshua meninggalkan mereka agar bebas berbincang.

“Sedang apa kau?” tanya Aletha. Max tidak menjawab pertanyaan Aletha, dia menatap lekat gadis dihadapannya itu. Aletha bingung dengan arti tatapan Max.

“Ada yang aneh?” tanya Aletha sembari memperhatikan dirinya sendiri.

“Apa yang ada dipikiranmu sebenarnya? Apa yang makhluk itu katakan hingga mampu menghipnotismu menjadi seperti ini?” tanya Max geram namun tetap terlihat tenang.

Aletha tersenyum. “Aku mencintainya.” Jawabnya santai. “Jeremy sangat baik kepadaku, dia melindungiku. Bahkan keluarganya sangat ramah terhadapku. Mereka tidak seperti yang kalian pikirkan, Max.” Jelasnya.

“Kau bahkan sudah bertemu keluarganya?” tanya Max kaget, tak menyangka Aletha gadis yang selama ini dilindunginya berani berbuat sejauh itu.

“Kurasa itu tidak buruk.” Pikir Aletha.

“Kau tau tindakanmu itu mengancam keselamatanmu, tidak. Dennis dan ketiga kakakmu juga takkan luput dari pantauan Casey.”

“Perhatian Casey hanya akan tertuju padaku. kupastikan itu.” Ucap Aletha mantap.

“Aletha Agnelli.” Panggil Max dengan nada tinggi. Kekesalan max akan gadis ini sudah memuncak. Dia tidak habis pikir Aletha mampu melakukan ini semua. Gadis polos yang selama ini dikenalnya kini telah berubah menjadi gadis yang berani mengambil resiko dengan mempertaruhkan nyawanya.

“Aku sadar semua ini kesalahan besar,tapi aku sangat mencintainya Max. Apaun akan kulakukan.”

“Bagus. Kau nantikan hadiah pemberian Casey Aletha Agnelli.” Seru suara dari belakang tak lain adalah Joshua. Max mengernyit mendengar ucapan Joshua, laki-laki itu menagkap sesuatu yang buruk akan terjadi pada Aletha. Max ingin sekali membebaskan Aletha tapi  saat ini tak ada yang bisa dia lakukan, jika dia salah langkah akan memperburuk keadaan. Joshua menggiring Aletha kembali keruang bawah tanah.

“Kau sampaikan salamku pada Dennis.” Tunjuk Joshua pada Max, ada makna dibalik kata-katanya.

 

 

 

“Bagaimana dengan Aletha?” tanya laki-laki berambut kecoklatan pada gadis manis berambut sebahu. Gadis itu menatap lurus pemandangan indah dari puncak pengunungan Apennine. Dia mendesah mengingat adik kesayangannya. Gadis itu merasa sangat bersalah pada Aletha. Aletha mengorbankan dirinya untuk melindungi gadis itu dan kekasihnya.

“Entahlah. Seharusnya aku yang berada disanan bukan dia.” Ucapnya dengan tatapan kosong.

Laki-laki yang sedari tadi berdiri disamping gadis berambut sebahu itu menatap lekat kearahnya. “Aku sudah membuat keputusan.” Katanya pada gadis itu.

Gadis manis itu mengalihkan pandangannya melihat laki-lakinya. “Ubah aku sepertimu.”lanjutnya. Mata gadis itu membulat tak percaya dengan yang dikatakan laki-laki yang diki tepat dihadapannya.

“Kau gila Marcus.” Katanya tegas. “Aku tak mau.”

Marcus memegang kedua bahu Anita. “Hanya itu yang bisa menyatukan kita tanpa ada yang terluka.”

“Aku tidak mau. Tidak semudah itu menjadi makhluk seperti kami.”

“kumohon.” Anita menatap lekat mata Marcus.

“Bagaimana dengan keluargamu nanti? Bagaimana jika Klan Cacciatore yang lain tahu? Kau akan mendapat masalah besar. Tidak aku tidak mau.”

“Mereka sudah tahu. Mereka tahu tentangmu.”

“Lalu?”

“Mereka memberiku pilihan, kembali atau mati dan memberiku waktu sampai bulan setengah nanti.  Aku tidak akan kembali dengan begitu aku akan mati ditangan mereka. Lebih baik aku mati ditanganmu sama saja bukan? Lakukanlah untukku Anita.” Anita diam mendengar cerita Marcus.

“Terlalu sakit untukmu. Aku tidak mau menyakitimu.” Anita melangkah melepaskan pandangannya dari sosok Marcus.

“Akan lebih sakit jika kehilangan dirimu untuk kedua kalinya.”

“….”

“Anita.”

“Beri aku waktu untuk berbicara dengan Dennis.” Sejujurnya Anita ingin melakukan hal itu, membuat Marcus abadi berada disampingnya. Tapi Anita tau betapa sakitnya awal menjadi makhluk transformasi.  Anita tidak mau menyakiti Marcus, tapi Anita juga tidak mau kehilangan Marcus. Dia tidak yakin Dennis akan sepaham dengannya. Apa yang harus kulakukan?, Batinnya.

 

 

“Kau mencintainya bukan?” tanya Alishia pada adiknya yang kini sedang menatap jauh sosok laki-laki yang sedang duduk didepan sebuah toko seakan menunggu sesuatu datang.

“Sangat.”

“Aku yakin dia menunggumu.”

“Aku ingin sekali berdiri dihadapannya, tapi keberadaanku akan membahayakan dirinya.” Ucap Cheryl, matanya terus tertuju pada laki-laki yang dicintainya. Alhia yang sedari tadi berada disampingnya tiba-tiba terdiam ketika mendengar kata-kata Cheryl. Keberadaanku akan membahayakan dirinya, benar keberadaanku akan membahayakan manusia bodoh itu, pikir Alishia.

“Cheryl, aku harus pergi.”

Cheryl menatap Alishia. “Aku mengerti, pergilah.” Cheryl kembali melihat pria itu. Pria yang sangat dia cintai.

“Maafkan aku Nathan.” gumam Cheryl.

 

Dia tidak datang. Dia benar-benar tidak datang lagi kesini. Cheryl, dimana kau? Apa perkataanmu tempo lalu hal yang sebenarnya? Apa kau benar-benar akan melupakanku? Sungguh aku tak peduli bagaimana wujudmu, siapa kau sebenarnya, bagaimana kehidupanmu saat ini, aku tak peduli sekalipun kau sosok yang sangat mengerikan. Kumohon jangan lakukan ini. Aku terlanjur mencintaimu. Kumohon datanglah. Batin Nathan menjerit.

Kata-kata Cheryl terus terputar ditelinganya. Nathan bingung, dia gusar. Gadis yang terlanjur dicintainya memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak banyak yang dilakukannya hari ini selain duduk dibangku depan tokonya menunggu seseorang yang sangat diharapkan datang. Nathan sengaja menutup tokonya agar ia bisa seharian menanti Cheryl. Mulanya Nathan yakin kalau Cheryl akan datang kembali ketempat itu, tapi harapannya hilang saat tidak ada tanda-tanda kedatangan gadis itu.

Nathan tersenyum bila mengingat kejadian pertama kali dia bertemu dengan Cheryl. Cheryl berusaha menutupi identitasnya menyamar sebagai seorang manusia. Seakan-akan memakan makanan yang dimakan manusia, meminum minuman yang diminum manusia, seakan-akan bernafas seperti manusia,berjalan layaknya manusia, berkedip, tersenyum, tertawa, bahkan dia mengganti warna bola matanya agar terlihat seperti manusia, Gadis itu sukses mengelabui Nathan. Tapi tak satupun kebohongan itu menimbulkan rasa benci Nathan. Nathan justru begitu menyayanginya.

Bayangan Cheryl kian jelas dalam pikirannya. Dulu Nathan sempet kehilangan kontak dengan Cheryl hingga membuatnya sulit berkonsentrasi, beruntungnya ia Cheryl kembali kala itu. Kini Nathan tidak ingin benar-benar kehilangan Cheryl, karena ia sadar kata-kata Cheryl tempo lalu tidak main-main.

“Aku yang akan mencarimu.” Gumam Nathan.

 

 

“Tinggalkan Aletha.” Perintah seseorang pada laki-laki telanjang dada.

“Kami saling mencintai.”

“Cinta telah membuatnya dalam bahaya.” Tutur Max.

“Apa maksudmu?” tanya Jeremy.

“Aletha dibawah pengawasan Casey, tidak menutup kemungkinan semuanya akan terkena imbas dari perbuatannya.” Jeremy mengerutkan keningnya belum mengerti maksud ucapan Max. “Aletha menunjukan gelang yang kau berikan kepada Casey untuk melindungi Anita sekaligus menunjukan hubungan yang kalian miliki.” Lanjut Max.

Mata Jeremy membulat. Disatu sisi dia senang Aletha berani mengakui dirinya tapi disisi lain dia tak menyangka Aletha mampu berbuat nekat. Terbesit perasaan bersalah dalam benaknya.

“Casey masih berbaik hati padanya jika dia mau berubah pikiran.” Kata Max lagi. sejujurnya Max tidak ingin mengakui bahwa Aletha mencintai laki-laki bernama Jeremy, tapi ini harus dilakukannya untuk menyelamatkan Aletha dari hukuman Casey.

Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Jeremy usai mendengar cerita Max. Batinnya beradu. Jeremy mencintai gadis polos itu tapi ternyata membuat Aletha mencengkram nyawanya sendiri.

“Hentikann.” Seru sebuah suara. Pikiran Jeremy dan Max beralih pada suara yang mereka dengar. Suara tersebut tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

 

 

Laki-laki berambut blonde sedang asik dengan aktifitasnya mengumpulkan kayu bakar, tanpa dia sadari sepasang mata tengah memperhatikan gerak-geriknya. Perlahan tapi pasti sang pemilik mata mendekati laki-laki itu tanpa membuatnya sadar dengan kedatangannya. Satu hentakan ditujukan mampu membuat laki-laki berambut blonde itu terhempas jauh.

“Kau.” Serunya meringis menahan sakit.

“Apa kabar Spencer?” sahutnya. U-know itu mengambil bagian baju Spencer kemudian menghempaskannya lagi bagaikan melempar batu. Spencer kembali tersungkur. Tubuhnya dipenuhi luka, tulang-tulangnya seperti hancur.

“Kau lihat? Kau tidak berharga. Dalam sekejap aku mampu membuatmu menjadi bangkai.”

“Apa yang kau inginkan?” tanya Spencer, tangan kananya menopang tubuhnya.

“Sudah lama aku tidak merasakan darah manusia.”sahutnya. “Aku ingin kau mati.”. Secepat kilat U-Know menghunuskan bagian dirinya yang paling mematikan bagi manusia.

“Hentikann.” Seru seseorang. “U-Know hentikan.” Serunya lagi yang tak lainadalah Alishia.

U-Know tidak mengindahkan suara yang memanggil namanya. dalam pikirannya saat ini adalah membuat laki-laki dalam genggamannya ini mati.

Sedetik tubuh Spencer menggenjang, rasa sakit menjalar disekujur tubuhnya, saraf-sarafnya menegang, pandangan kabur, nafasnya mulai berat. Sempat terlintas wajah Alishia dalam pandangannya. Aku mencintaimu. Guman Spencer sebelum semuanya gelap.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s