FF: Milagro del Amor Part 14

*Choi Yeon Ji*

Part 14

 

Cheryl menunduk memandangi sepatunya yang sudah tidak utuh lagi karena terlalu sering dipakai menembus hutan, sebenarnya itu tidak terlalu penting. Hanya sebagai atribut pelengkap untuk hidup seperti manusia biasa. Dia terus memandangi ubin yang mengkilap, dia tahu kalau Nathan tidak akan membiarkan debu bertengger di rumahnya. Sementara dia masih menunggu Nathan untuk menanggapi semua pengakuannya. Sejarah dari seluruh perjalanan hidupnya. Sama sekali tidak ada yang ditutup-tutupi lagi.

Cheryl tak lain adalah manusia yang dilahirkan di Veneto, Venice desa San Polo sejak 300 tahun yang lalu. Dia adalah manusia biasa hingga berumur 18 tahun dan sebelum Dennis menemukan dirinya di Piedmont Turin 200 tahun yang lalu dia adalah makhluk terkutuk yang tak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Entah hal apa yang membuatnya melupakan masa-masa saat dia menjadi manusia. Satu-satu hal yang dapat mengingatkannya kembali adalah saat dia bertemu dengan Nathan dan menganggapnya seorang gadis normal. Sejak saat itu Cheryl seakan menemukan kembali insting-insting manusianya, setidaknya dia bisa menirukan cara manusia bernafas, berjalan, menatap, merasakan, dan yang paling berharga adalah berteman.

Nathan memperhatikan setiap gerakan Cheryl. Gadis itu bahkan sudah menguasai seluruh kebiasaan layaknya manusia biasa. “Aku harus bagaimana?” gumam Nathan frustasi.

Cheryl mendongak dan menatap ke dalam mata laki-laki dihadapannya itu. “Mulai sekarang aku tidak akan menunjukkan diriku disekitar sini. Aku tahu sudah waktunya aku berhenti bermain-main karena semua ini justru akan membahayakan semuanya” sahut Cheryl.

Mata Nathan membulat. “bermain-main?” serunya.

“Pada awalnya rasa penasaranlah yang membawaku sampai disini. aku sangat menyesal karena telah melibatkanmu, maafkan aku. Tidak seharusnya kita berteman” Cheryl beranjak dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan Nathan di belakangnya.

“Sudah terlambat Cheryl!!” seru Nathan dengan tegas hingga kata-katanya itu berhasil menghentikan langkah Cheryl, terdengar suara kursi yang terbanting saat Nathan berusaha buru-buru berdiri. “Kau sudah melibatkanku cukup jauh, dan aku tidak akan semudah itu menerima begitu saja kau mengakhiri ini semua” lanjut Nathan.

Cheryl terdiam. Dia mengepalkan tangannya, seakan itu bisa menahan hatinya yang sedang bergejolak. Kata-kata Nathan itu seperti bom yang menghancur leburkan hatinya.

“Mungkin ini kedengarannya bodoh. Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu. Aku sudah menghabiskan waktu bermalam-malam untuk meyakinkan diriku sendiri. Tentang apa yang telah kulihat, apa yang telah kurasakan, dan apa yang kuinginkan. Hingga aku memutuskan untuk tidak peduli siapa pun kau sebenarnya, yang aku tahu aku tetap mencintaimu dan aku menginginkanmu berada disisiku. Apakah itu mungkin?” kata-kata Nathan penuh emosi. Dia mengungkapkan semua yang dia rasakan kepada Cheryl.

“Itu tidak mungkin Nathan. Jelas-jelas kita berbeda. Walaupun kita menginginkannya dunia akan menentang kita. Manusia sepertimu akan cepat melupakan sesuatu, begitupula dengan apa yang terjadi selama ini, kau akan melupakan semuanya. Dan itu lebih baik untukmu” jawab Cheryl. Detik berikutnya Cheryl telah menghilang dari pandangan Nathan. Terasa hembusan angin yang tidak biasa menerpa wajah Nathan menandai kepergian Cheryl yang tiba-tiba.

Saat itu pula Nathan merasa Cheryl serius dengan kata-katanya. Gadis itu tidak akan menampakkan dirinya di depan Nathan. Laki-laki itu tak bisa bernafas dengan tenang mengingat semua perkataan Cheryl. Dia tidak akan melupakan gadis itu. Apa pun yang Cheryl katakan, dia akan tetap menunggu dan mencari gadis itu. Batin Nathan berkata.

 

 

 

Gerbang kayu yang tinggi sekitar sepuluh meter dari tanah sebagai batas wilayah suku Mannaro membuka dengan sendirinya saat kawanan srigala Mannaro tiba. Aletha bisa merasakan hembusan angin yang kencang menerpa wajahnya dan membuat rambut hitam panjangnya melayang. Tubuh srigala Jeremy berhenti disebuah rumah adat salah satu suku Mannaro. Rumah itu memiliki ciri khas khusus dan terlihat lebih besar daripada rumah-rumah yang lain. Aletha turun dari punggung srigala Jeremy saat Jeremy menunduk untuk menurunkan Aletha. Mata Aletha penuh selidik menatap sekelilingnya namun tangannya tak berhenti menggenggam bulu-bulu hangat Jeremy hingga gadis itu merasakan bulu-bulu hangat tersebut berubah menjadi sebuah lengan yang kokoh. Kawanan Mannaro yang lain masih menunggu dengan tenang di belakang mereka. Aletha menangkap sesuatu yang aneh, tidak biasanya para kawanan srigala Mannaro itu bertindak tenang dengan adanya Aletha ditengah mereka.

Jeremy melepaskan genggaman Aletha di lengannya dan menggenggam jemari gadis itu. Jeremy menuntun Aletha masuk ke sebuah rumah di hadapan mereka. Sesungguhnya itu bukan tempat yang asing bagi Jeremy, dari kecil dia telah tumbuh disana hingga dia membawa seorang gadis vampir ke rumahnya atas perintah ayahnya sendiri.

“Aku datang” seru Jeremy pada seseorang yang tengah memandang bintang-bintang dilangit.

Orang yang tak lain adalah ayahnya itu menoleh. Senyuman penuh arti tampak dari wajahnya yang telah menua hingga kumisnya terangkat. “Akhirnya kau datang. Aku senang kau membawa dia bersamamu” sahut ayah Jeremy sambil memandang kearah Aletha.

Aletha sama sekali tidak merasa terganggu dengan tatapan ayah Jeremy tersebut. Tatapannya hangat dan menenangkan. Entah mengapa Aletha memutuskan untuk menyukai lelaki tua dihadapannya itu. Bagi Aletha sama sekali tidak ada rasa terancam saat mereka berhadapan.

“Jeremy” terdengar suara lain dari arah kanan. Seorang wanita paruh baya menghampiri Jeremy. “Ibu sangat merindukanmu” katanya sambil memeluk tubuh Jeremy yang bertelanjang dada. Jeremy membalas pelukan ibunya. Sudah beberapa hari ini Jeremy kabur dan tidak berada di rumah semenjak kejadian yang hampir mengancam keselamatan Aletha. Dari lubuk hati yang paling dalam sebenarnya Jeremy juga sangat merindukan semua orang yang dia sayangi.

Perhatian ibu Jeremy teralih pada Aletha. “Dia gadismu itu?” tanya ibunya pada Jeremy, Jeremy mengangguk pasti namun tetap waspada. “cantik sekali. Bahkan kau telah memasangkan gelang Mannaro padanya” seru ibu Jeremy sambil mengelus lembut rambut Aletha yang terurai panjang.

Aneh memang. Berbagai pertanyaan berkecamuk di diri Aletha. Dia tidak bisa mengerti arti dari keramahan orang tua Jeremy padanya. Namun dia juga tidak merasa sebuah ancaman menyerang dirinya. Mereka semua tampaknya tulus pada gadis itu. Bagaimana bisa ketika seluruh kawanan srigala Mannaro sangat menentang hubungannya dengan Jeremy, orang tua Jeremy sendiri malah bertindak ramah padanya.

“Ada apa dengan ayah dan ibu?” tanya Jeremy yang penasaran menanggapi tingkah ayah dan ibunya itu.

“Kau tahu bahkan aku belum sempat menyuarakan pikiranku sebelum kau memutuskan untuk pergi dari rumah” sahut ayahnya.

Kening Jeremy mengkerut, tidak sedetikpun dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aletha. “Kurasa ayah dan ibu sependapat dengan mereka”

“Aku perlu bicara dengan gadismu itu”

“Namanya Aletha”

“Maaf, maksudku Aletha” ralat ayahnya.

Jeremy tidak langsung mengiyakan permintaan ayahnya, kekhawatiran terpancar jelas dari wajahnya. “Ayahmu hanya ingin bicara. Tidak akan terjadi sesuatu pada Aletha, kau hanya perlu mempercayai kami” sahut ibu Jeremy meyakinkan laki-laki itu.

Jeremy menengok menatap Aletha, gadis itu mengangguk meyakinkan Jeremy kalau dia akan baik-baik saja dan menerima permintaan ayah Jeremy yang ngin berbicara dengannya. Dengan terpaksa Jeremy mengikuti langkah ibunya memasuki ruang yang semakin dalam dari rumah tersebut sementara Aletha tetap berada di ruang depan bersama dengan ayah Jeremy.

“Duduklah Aletha” sahut ayah Jeremy pada Aletha saat yang ada di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Aletha sempat melihat nada ramah dari suara ayah Jeremy sebelum akhirnya dia duduk di seberang laki-laki paruh baya itu.

Dia menarik nafas sebelum mulai berbicara lagi, seolah akan mengatakan sesuatu yang panjang dan memakan waktu yang lama. “Semua orang disini tidak pernah menyangka Jeremy akan terikat pada seorang vampir. Apalagi selama ini dia memang tidak pernah melirik gadis-gadis di suku ini. Mereka semua hanya bersikap terlalu protektif pada Jeremy sehingga menimbulkan kesan membahayakanmu.” Ujar ayah Jeremy, laki-laki itu memperhatikan ekspresi Aletha. Ketika dilihatnya gadis itu masih menyimak dengan serius, ayah Jeremy kembali bersuara.

“Sejujurnya aku pun juga tidak menyangka hal ini akan terulang kembali pada Jeremy” lanjutnya.

Kening Aletha mulai mengkerut. “maksud anda hubungan seperti Jeremy dan aku pernah terjadi sebelumnya?” tanya Aletha ingin tahu.

Ayah Jeremy yang tak lain bernama Jeff itu mengangguk. “Pada awalnya suku Mannaro tidak memiliki hubungan apa pun dengan vampir. Kami menggunakan kekuatan kami sebagai Mannaro hanya untuk melindungi wilayah kami dari serangan suku lain yang ingin menguasai daerah Mannaro. Sampai suatu ketika pada zamannya kepala suku Tora Geil, ada seorang gadis cantik konon dia adalah makhluk paling cantik yang pernah dilihat oleh penduduk suku. Rambut merah menyalanya membingkai wajah mungil dengan mata merah menyala pula, kulitnya memantulkan cahaya di bawah sinar matahari. Dia lemah dan tak berdaya. Tora Geil merupakan kepala suku yang bijaksana dan selalu melindungi orang-orang yang lemah. Tora Geil memilih untuk mengangkat wanita cantik bak bidadari itu sebagai anaknya.

“Sekeras apa pun orang-orang disekeliling Tora Geil merawat gadis yang diberi nama Jane itu, namun dia tidak kunjung membaik. Sampai suatu ketika wanita itu menggumamkan sesuatu dengan suara melengking dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti siapa pun. Tora Geil masih berusaha untuk mengartikan maksud Jane. Tiba-tiba gadis itu berjalan dengan terseok-seok menghampiri seekor hewan ternak dan menghisap seluruh darah hewan ternak itu di depan mata para penduduk Mannaro yang menyaksikannya. Setelah menghisap darah hewan itu, tubuh Jane tampak lebih bugar.

“Saat itu juga para penduduk suku Mannaro tahu kalau Jane berbeda dari mereka. Sebagian dari mereka mengutuk perbuatan Jane dan menganggapnya monster namun sebagian lagi menyetujui Jane untuk tinggal di tengah-tengah suku Mannaro, Tora Geil adalah salah satu yang berpendapat untuk melindungi Jane dan melatih Jane menjadi makhluk yang lebih baik. Atas bimbingan Tora Geil, Jane berhasil hidup dengan damai di tengah-tengah penduduk Mannaro dan banyak menolong mereka di berbagai kesempatan salah satunya menolong mengeluarkan racun dari ular berbisa dari tubuh penduduk yang terkena gigitan ular berbisa.

“Hingga suatu ketika Tora Ki anak kandung sulung Tora Geil jatuh cinta pada Jane dan merasa terikat pada gadis itu. Saat itu Jane dapat merasakan ketulusan Tora Ki dan membiarkan laki-laki itu mencintainya. Ternyata beberapa tahun selanjutnya, keberadaan Jane ditengah-tengah mereka mengundang makhluk yang serupa dengan Jane datang. Sesungguhnya vampir selalu hidup berkelompok meskipun kelompok kecil sekalipun. Semua penduduk Mannaro menganggap itu adalah anugrah dari sang maha kuasa. Karena mereka didatangi seseorang yang akan membantu kehidupan mereka juga, mengingat apa yang dilakukan Jane selama ini. Laki-laki berkulit porselen itu menatap bergantian setiap orang yang berada disana seakan mencari sesuatu diantara kerumunan orang. Mata merah menyalanya menggambarkan kahidupan liar yang dijalaninya selama ini. Tidak seperti Jane, laki-laki itu menjangkau seorang anak kecil di dekatnya yang menandang terpesona padanya dan menggigit leher anak kecil itu hingga kehabisan darah dan melemparkan jasadnya begitu saja.

“sontak saja hal itu mengundang kecaman dari seluruh penduduk. Penduduk segera mengejar laki-laki itu untuk dihukum. Bukannya menangkap laki-laki itu tetapi penduduk malah menjadi sasaran berburunya yang selanjutnya. Kekuatannya yang luar biasa tidak dapat dilawan oleh penduduk. Tora Geil beserta anak-anaknya mendengar apa yang terjadi dan segera datang ke lokasi untuk menangkap dan membunuh laki-laki berkulit porselen itu. Mereka mengejar laki-laki itu hingga menembus hutan, dan berkelahi disana. Anak ketiga Tora Geil sempat mengabaikan kekuatan laki-laki itu akibatnya dia terbuhun dengan tuhub srigala yang tercabik-cabik. Beberapa srigala Mannaro lain menyerang laki-laki itu dari berbagai arah hingga Jane ikut bergabung bersama mereka dan mengalihkan perhatian laki-laki itu. Matanya menangkap sendu bayangan Jane yang ada di depannya, saat laki-laki itu hendak menggapai dan mengelus pip Jane Tora Ki sudah berhasil lebih dahulu meremukkan tubuh porselen laki-laki itu, memetahkannya menjadi beberapa keping. Jane diam saja di tempatnya. Tubuh Srigala Tora Ki dan beberapa saudaranya yang lain berubah menjadi sosok manusia, mata-mata mereka memperlihatkan duka mendalam karena kematian saudara mereka.

“Tora Ki yang menyadari keterdiaman Jane, segera mengajak gadis itu kembali ke desa mereka. Jane menepis dengan kasar lengan Tora Ki dan meminta Tora Ki untuk membunuhnya. Tora Ki terkejut bukan main atas permintaan Jane yang tidak pernah diduganya. Jane beralasan kalau kematiannya akan lebih baik bagi kelangsungan hidup para penduduk suku. Selama Jane hidup ditengah-tengah mereka, secara tidak langsung Jane akan mengundang makhluk-makhluk serupa yang kemungkinan lebih tidak terkontrol akan membahayakan kehidupan penduduk suku. Tora Ki sama sekali tidak ingin mengindahkan permintaan Jane.

“Jane tidak punya pilihan, dia menculik salah satu anak kecil dan menghisap darah anak kecil tersebut, dia tahu setelah ini Tora Ki dan saudara-saudaranya yang lain tidak akan mempunyai alasan untuk tidak membunuhnya. Satu-satunya jalan menuju kematian adalah hal tersebut, karena makhluk seperti Jane tidak akan pernah mati dimakan waktu. Sebelumnya dia telah meninggalkan pesan di tempat Tora Ki dan Jane sering bertemu. Gadis itu meminta pada Tora Ki untuk selalu menjaga penduduk suku dan tidak membiarkan makhluk seperti dirinya memasuki wilayah suku dan mengancam keselamatan penduduk. Gadis itu sangat mencintai orang-orang di desa Mannaro”

Tanpa sadar tangan Aletha telah mengepal kuat di kursi rotan yang dia duduki. “Aku bukannya tidak menyetujui hubungan kalian. Aku mengerti kau makhluk dingin yang berbeda, sama seperti Jane. Tetapi yang kukhawatirkan, harus ada yang berkorban untuk mempertahankan cinta yang tak biasa itu” Lanjut Jeff.

“Aku tidak akan mudah menyerah!” gumam Jeremy setengah berteriak. Laki-laki itu telah berdiri diambang pintu entah sejak kapan.

Aletha menoleh dan mendapati Jeremy berdiri disana dengan rahang yang mengeras. “Aku akan tetap melindunginya” sahut Jeremy lagi.

“Jeremy” gumam Aletha. Kalau dia bisa menangis, mungkin Aletha akan mengeluarkan airmata atas sikap Jeremy itu.

Aletha kini yakin apa yang dirasakan Jeremy padanya, laki-laki itu memang mencintai Aletha dengan tulus. Kini dengan sepenuhnya Aletha membiarkan Jeremy mencintainya. Sama seperti Jeremy, Aletha akan menjaga laki-laki dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya tak peduli jika dia harus membayar harga semahal apa pun.

Ranting-ranting patah dibawah kaki Aletha dan Jeremy saat mereka menginjaknya dan menciptakan suara yang menenangkan di tengah kesunyian diantara mereka berdua di hutan. Jeremy menggenggam tangan Aletha yang menganggur. Dia menengokkan wajah Aletha agar menatapnya. “Setelah apa yang diceritakan ayahku tadi kuharap kau tidak akan terpengaruh, jangan pernah lakukan tindakan bodoh. Aku membutuhkanmu melebihi apapun, dan kau mengerti itu.” Bisik Jeremy penuh penekanan. Aletha mengangguk mengiyakan, entah apa yang dimaksud dengan ‘tindakan bodoh’ yang dikhawatirkan oleh Jeremy pada dirinya.

 

 

 

“U-Know hentikan!!” teriak Alishia. “Kalau kau membunuhnya, itu berarti kau juga membunuhku!” lanjut Alishia penuh emosi.

U-Know dan Spencer sama-sama terkejut mendengar teriakan Alishia itu. Dalam waktu bersamaan U-Know mendadak hatinya seperti diiris-iris, sakit sekali. Selama ratusan tahun dia mencintai Alishia dan melindungi gadis itu tanpa alasan. Dia tidak pernah membayangkan kalau Alishia akan mencampakkannya begitu saja hanya karena seorang manusia. Kata-kata Alishia itu dengan jelas menegaskan kalau Alishia juga sangat mencintai seorang manusia berambut blonde yang sekarang ada di hadapannya.

Sementara itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Spencer. Kini laki-laki itu semakin mempunyai alasan untuk melindungi Alishia, dia tahu kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.  Alishia buru-buru membawa U-Know pergi dari sana sebelum sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Alishia tidak ingin ada pertumpahan darah, apalagi membayangkan kalau Spencer-lah yang akan menjadi korban.

U-Know tidak memberontak ketika tangan kokohnya ditarik oleh Alishia. Hatinya yang remuk, cukup membuat seluruh organ tubuhnya tidak dapat bekerja dengan normal. Disisi lain Alishia sadar kalau dia telah membuat masalah baru.

Dari luar castle, Alishia sudah dapat mencium ada yang tidak beres sedang terjadi di castle yang telah menjadi rumah mereka. Mata gadis itu membulat saat mendapati pemandangan di depannya.

Dia melihat seorang cacciatore yang menolong mereka tempo hari berdiri mematung dengan Anita di depannya, sikap Anita itu seakan menjadi benteng pertahanan untuk melindungi laki-laki Cacciatore tersebut dari serangan tatapan Casey dan Joshua. Dennis dan Cheryl pun telah berdiri mengapit Anita. Alishia seakan merasa terhempas dari tempat yang sangat tinggi.

“Hah! Aku sama sekali tidak mengerti ini. Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku Anita Agnelli!” Casey mengeram di mulutnya tidak bergerak saat dia mengatakannya. Casey sangat marah.

“Maafkan aku Casey” ujar Anita. Casey tahu kalau itu merupakan jawaban mengecewakan dari seorang vampir yang dibanggakannya.

Casey menatap laki-laki cacciatore yang bernama Marcus itu dengan tatapan membunuh. “Kau tinggal pilih, kau atau dia yang akan mati ditanganku” kata Casey lagi.

“Itu bukan pilihan Casey” kata Dennis mencoba untuk tetap terlihat tenang namun tidak berhasil.

Tatapan Casey pun beralih ke Alishia yang baru saja datang. “Kau tidak berulah juga seperti adik-adikmu ini kan Alishia Agnelli” kata-kata Casey mampu menghunus Alishia. Tak ada yang bisa disembunyikan dari Casey.

Alishia dan U-Know terdiam di ambang pintu.

“sepertinya aku juga akan mendapatkan jawaban yang mengecewakan darimu” lanjutnya lagi, kemudian mengeram.

Mata Casey tampak semakin merah karena amarah yang memuncak.

Tatapan Casey kembali pada Marcus. Dia tersenyum bak malaikat.

Terdengar erangan kesakitan dari Marcus. Mata Anita membulat lebar setelah mengetahui apa yang Casey lakukan pada Marcus. Casey menciptakan halusinasi yang sangat menyiksa di benak Marcus hanya melalui tatapan yang mematikan. “Marcus!!” katanya khawatir. “Hentikan Casey. Jangan siksa dia!!!!” seru Anita memohon sambil terus memegangi tubuh Marcus yang sakit.

Anita terus saja memohon pada Casey. Semua yang ada di dalam rumah itu berkumpul mengelilingi tubuh Marcus yang terus mengerang kesakitan. Anita benar-benar menderita melihat orang yang sangat dicintainya itu harus menderita. Namun tak ada yang dapat dilakukan kecuali Casey menghentikan tindakannya yang dapat membunuh Marcus perlahan-lahan.

“Hentikan!!!” terdengar suara suara yang berasal dari belakang Casey dan juga Joshua. Disana telah berdiri Aletha.

Gadis bungsu keluarga Agnelli itu berlari dengan kecepatan vampir menuju keluarganya yang sedang membentuk formasi untuk melindungi Marcus. Aletha berjalan selangkah demi selangkah mendekat ke tempat Casey berdiri. Entah keberanian dan kekuatan darimana yang dia dapatkan.

Mata Aletha menatap dalam ke mata Casey tanpa ragu. “Hentikan semua ini Casey. Kalau kau beralasan menghukum mereka karena mereka berbuat kesalahan. Kesalahan mereka tidak lebih besar daripada kesalahan yang perbuat” kata Aletha dengan tenang.

Tatapan Casey beralih pada gadis bungsu keluarga Agnelli itu. Dan marcus pun berhenti mengerang kesakitan. Kini semua perhatian tertuju pada Aletha, tak ada yang mengerti apa yang dimaksud oleh Aletha.

Casey mengerutkan keningnya. “Yang kutahu kau tak lebih dari sekedar vampir muda yang polos” seru Casey.

Aletha menyunggingkan senyuman penuh arti. Ini bukan seperti Aletha yang biasanya. “Tidak lagi sekarang” jawabnya dengan tenang. “Aku mempunyai hubungan dengan seorang mannaro, lihat ini!” Aletha menunjukkan sebuah gelang yang bertengger di pergelangan tangannya persis di depan mata Casey. “Bahkan aku sudah memakai gelang Mannaro, yang berarti kami telah terikat satu sama lain. Bukankah itu kesalahan yang teramat fatal? Seharusnya yang kau hukum adalah aku bukan mereka. Mereka hanya menjalin hubungan dengan seorang manusia yang masih mempunyai kesempatan untuk menjadi vampir. Sedangkan aku, tak ada yang tau takdir seperti apa yang akan membawa kami. satu hal yang kami tahu adalah, kami saling mencintai” lanjut Aletha panjang lebar. Gadis itu menunggu tanggapan dari Casey.

Casey mengerang marah. dia merasa seakan dirinya telah ditantang secara terang-terangan. “Kau akan menyesal karena tindakanmu ini nona Aletha Agnelli” seru Casey merah padam.

Semua yang ada disana membelalakkan mata mereka. Tak percaya atas apa yang telah dilakukan Aletha. Itu sama saja mempertaruhkan nyawanya. Namun sikap Aletha masih tenang. Benar, bahwa harus ada yang berkorban untuk orang-orang yang dia cintai. Demi keluarganya dan juga demi Jeremy. Dia tahu kalau dia sangat menyukai Jeff, ayah Jeremy. Berkat laki-laki paruh baya itulah dia mendapatkan kekuatannya.

“Tangkap dia!” perintah Casey pada Joshua.

Saat Dennis, Alishia, Anita dan Cheryl hendak menghalangi Joshua. Mereka tahu mereka telah terlambat, gerakan mereka sangat cepat hingga menghilang dari pandangan bersama Aletha di tangan mereka.

Orang yang merasa paling bertanggung jawab dan frustasi adalah Dennis. Dia mengutuk dirinya sendiri karena gagal melindungi anak-anaknya termasuk Aletha.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s