FF: Milagro del Amor Part 13

*Choi Yong Soon*

Part 13

Vincent membuka pintu kamar Anita perlahan, gadis itu sedang berbaring di tempat tidurnya dengan menatap keluar jendelanya. Mendengar pintu terbuka membuatnya menolehkan kepalanya. Vincent berjalan mendekat, suasana kaku tercipta begitu saja, ini adalah pertama kalinya bagi Vincent bisa sedekat ini dengan Anita.

“Terima kasih sudah mengobatiku”ujar Anita sambil tersenyum ramah hal itu membuat Vincent terdiam sesaat, selama dia tidak pernah mendapat senyum dari gadis yang terlihat dingin pada pria manapun ini.

“Aku hanya berusaha membantu”Vincent terlihat gugup. “Setidaknya lukamu tidak terbuka seperti tadi tapi..”Vincent menggantungkan kata-katanya sambil mengamati lengan Anita yang tertutupi perban tempat luka itu. Pria itu mengusapkan tangannya ke luka itu.”Aku tidak tahu tentang racunnya”lanjut Vincent sambil menatap wajah Anita yang masih terlihat lemah, gadis itu kembali tersenyum.

“Aku merasa baik-baik saja, kurasa sebentar lagi juga sembuh”Vincent menganggukan kepalanya.

“Baiklah sepertinya kau butuh istirahat, aku tidak akan menganggumu”Vincent  tersenyum sebelum berjalan menuju pintu dan menutupnya perlahan. Begitu pintu tertutup terdengar erangan dari bibir Anita, tangannya yang lain mencengkram erat lukanya. Wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, tentu saja sekarang racun dari belati itu sudah mulai masuk ke dalam tubuhnya. Rasanya panas dan seakan membakar tubuhnya dan rasa sakitnya seakan-akan tulang-tulangnya dipatahkan satu persatu.

Anita memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakit yang kini sedang dia rasakan, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Dia pernah mendengar tentang racun dari belati Cacciatore dan tidak menyangka rasanya sesakit ini, yang sekarang dia pikirkan adalah sampai kapan dia bisa bertahan menahannya?akankah dia berakhir dengan kematian.

 

**

“Bagaimana?”begitu Vincent sampai di bawah Aletha langsung menghampirinya, wajahnya penuh kecemasan tentang kondisi kakaknya. Vincent tidak tahu harus menjawab apa, sebenarnya dia tahu kalau racun itu sudah mulai memasuki tubuh Anita dan diapun sempat mendengar erangan kesakitan Anita. Matanya mengarah pada Dennis yang sedang duduk di sofa, pria itu mengangguk seakan mengerti arti tatapan Vincent, matanya terpejam sejenak dan menghela nafas perlahan sebelum kembali membuka matanya. Andai dia bisa menangis, dia sudah menangis sejak tadi. Dia merasa menjadi ayah yang sangat buruk karena tidak bisa menjaga anaknya. Namun disaat-saat seperti ini dia tidak boleh terlihat lemah, dia harus terlihat tenang di depan yang lain.

“Aletha, kakakmu akan baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat saat ini”Dennis yang menjawab pertanyaan Aletha, gadis itu menatap Dennis dengan tatapan tidak percaya.

“Tapi ayah aku mend..”

“Dia akan baik-baik saja, sayang, percaya padaku”Dennis menatap lembut anak bungsunya itu, jika Dennis sudah memberikan tatapan ini artinya sudah tidak boleh ada bantahan atau pertanyaan lain. Aletha mengangguk mengerti, dia pun kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

“Maafkan aku”Vincent berkata lirih sekali setelah Aletha masuk ke dalam kamarnya.

“Kau sudah berusaha”Dennis menepuk bahu Vincent. Dia tidak boleh pesimis saat ini, dia yakin Anita bisa bertahan. Anita tidak akan mati dan dia akan melakukan apapun agar anaknya itu tetap hidup.

 

**

Seorang gadis bermata merah menjelajah seluruh hutan, matanya awas mengamati segala sesuatu yang janggal di dalam hutan, takut kalau-kalau ada yang mengikutinya karena tentu saja ini akan membahayakannya juga orang itu, apalagi kondisi saat ini sedang tidak aman. Gadis itu memperlambat langkahnya begitu sampai di sebuah rumah kecil milik orang yang tentu saja sangat dia kenal, orang yang melakukan hal konyol hanya untuk melindunginya.

“Alishia”seoranng pria dengan rambut blonde melambaikan tangannya terlihat sangat senang bisa melihat gadis yang sangat dicintainya itu meski beberapa jam yang lalu dia hampir saja mati karena tingkah konyolnya untuk melindungi gadis ini.

Wajah Alishia berubah sebal ketika melihat tingkah riang Spencer, ya Spencer itulah nama pria yang kini berjalan mendekati Alishia. Gadis ini tidak habis pikir, bagaimana bisa dia seceria ini setelah melihat sesuatu yang mungkin bagi sebagian-tidak-seluruh orang adalah hal yang sangat menakutkan.

“Pergi dari sini”Alishia berkata dengan tegas dan tanpa ekspresi.

“Tidak”Spencer membantah tidak kalah tegasnya.

“Kenapa kau sangat keras kepala, hah!disini bukan tempatmu, jangan bertingkah bodoh, kau hanya akan mati sia-sia disini, pergilah!”

“Tidak, tidak akan sia-sia kalau aku mati karena melindungimu”

“Spencer, kau gila!”

“Aku bukan gila Alishia, aku mencintaimu”

Spencer berbicara dengan mantap dan penuh keyakinan sementara Alishia tampak frustasi berbicara dengan pria dihadapannya ini, semua kata-katanya seakan bisa dia bantah. Dia merasa Spencer sudah gila.

“Cinta?!Spencer lihatlah dirimu dan lihatlah aku, kita berbeda, tidak akan pernah ada cinta diantara kita”tegas Alishia, matanya tepat menatap manik mata Spencer.  Gadis itu menghela nafasnya perlahan. “Kau mencintai sesuatu yang salah, Spencer”lanjutnya dengan nada yang lebih lembut. Alishia menundukkan kepalanya, sebenarnya ada rasa sakit saat dia mengatakan bahwa tidak mungkin ada cinta diantara mereka karena hal sebaliknya telah terjadi, secara tidak sadar Alishia juga merasakan apa yang Spencer rasakan padanya. Dia mulai mencintai Spencer, mencintai orang yang selalu siap melindunginya meski dia tahu bagaimana bisa makhluk yang lemah melindungi makhluk yang lebih kuat.

Sesuatu yang hangat menyentuh tangan Alishia, dia tahu itu tangan Spencer, bahkan tangannya sehangat tatapannya, gumam Alishia dalam pikirannya. Spencer mengenggam erat tangan Alishia.

“Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, aku tidak mau kau terluka”lirih Alishia lagi, dengan ragu-ragu Spencer menyentuh wajah porselen Alishia perlahan, membuat gadis itu mendongak sehingga mata mereka bertemu. Spencer terdiam beberapa saat, dia terpesona melihat wajah Alishia dari dekat, ternyata dia lebih cantik saat dilihat sedekat ini, Spencer bergumam sendiri dipikirannya. Bagaimana bisa makhluk secantik ini disebut makhluk terkutuk?dielusnya perlahan sisi wajah Alishia, kulit yang sangat halus meski terasa dingin. Kalau saja jantung Alishia masih berdetak bisa dia pastikan saat ini jantungnya sudah berdetak tidak karuan, belum lagi dengan tatapan lembut Spencer yang bisa membuat wajahnya bersemu merah. Alishia berharap dia masih manusia saat ini sehingga semuanya akan menjadi mudah. Dia bisa mencintai pria ini tanpa perlu takut melukainya.

Perlahan Spencer mendekatkan wajahnya sehingga Alishia bisa mersakan hembusan nafas Spencer dihadapannya, gadis itu memejamkan matanya merasakan sensasi yang sebentar lagi akan dia rasakan,yang sudah lama tidak pernah dia rasakan. Sedikit lagi mereka bersentuhan datanglah seorang pria bertubuh tinggi yang menatap kesal kearah dua insan ini.

“Alishia!”serunya membuat gadis itu reflek menjauhkan dirinya dan Spencer, mata gadis itu membulat ketika melihat siapa yang memanggilnya, wajahnya langsung berubah tegang.

“U-know”lirihnya.

Mata pria itu menatap tajam Spencer dengan tatapan ingin membunuh, sementara Spencer terlihat tidak takut dan malah seakan menantang pria ini.

“Manusia bodoh, apa yang aku pikirkan, hah?!kau pikir bisa mendapatkan Alishia, seharusnya aku membunuhmu sejak pertama kali bertemu”

“U-Know, jangan sentuh dia!”Alishia menahan tangan U-Know namun pria itu malah menghempaskan tangan Alishia begitu saja.

“Kau benar-benar akan mati makhluk lemah”

“Aku tidak takut”

“Spencer!”

 

**

 

Cheryl berjalan di pusat kota dengan menggunakan tudung kepala, sebenarnya dia mengambil resiko besar dengan pergi ke kota disaat seperti ini namun dia harus bertemu seseorang, menjelaskan apa yang orang itu lihat kemarin. Orang itu adalah Nathan, Cheryl sadar Nathan melihat apa yang mereka lakukan kemarin dan dia takut Nathan salah paham dan menganggap dia telah membohonginya selama ini. Cheryl tidak ingin persahabatannya dengan Nathan hancur.

Pendengaran juga penciuman Cheryl gunakan semaksimal mungkin sebagai pelindungnya, jika ada Cacciatore mendekat. Jalan Cheryl dipercepat begitu beberapa meter menuju toko roti Natahan. Gadis itu segera membuka pintu toko roti itu, seorang pelayan wanita segera menghampirinya.

“Mencari Nathan?”tanya pelayan wanita itu. Cheryl mengangguk kaku.

“Nathan tidak masuk hari ini, katanya dia sakit, mungkin kau bisa ke rumahnya, kau tahu rumahnyakan?”tanya pelayan wanit itu. Lagi-lagi Cheryl hanya bisa mengangguk, dia mengenakan kembali tudung kepalanya dan bergegas keluar toko. Dimanapun Nathan berada dia harus bertemu dengannya.

Tidak butuh waktu lama bagi Cheryl menemukan rumah Nathan, meski baru sekali ke tempat itu, dia sudah sangat hapal, berterima kasihlah pada otak vampirnya yang mampu mengingat dalam waktu sekejap dan tidak akan pernah lupa. Rumah bergaya Eropa itu terlihat mungil dan terdapat taman kecil dihadapannya. Cheryl pelan-pelan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Sampai di depan pintunya, dia menjadi ragu-ragu, dia takut Nathan tidak mau bertemu dengannya.

Setelah meyakinkan perasaannya beberapa kali, akhirnya gadis itu memutuskan mengetuk pintu rumah Nathan. Tidak ada jawaban diketukan pertama, Cheryl mencoba mengetuk kembali dan kini dia mendengar langkah orang di dalam rumah mendekat. Dengan perasaan takut-takut Cheryl menunggu pintu terbuka.

“Cheryl”Nathan kaget melihat gadis yang telah merebut hatinya itu berdiri di depan rumahnya. Cheryl mencoba tersenyum pada Nathan.

“M-masuklah”Nathan sedikit gugup untuk mempersilahkan Cheryl masuk, gadis itu mengangguk dan masuk ke dalam rumah diikuti Nathan dibelakangnya yang menutup pintu.

“Duduklah”lanjut Nathan, dengan ragu Cheryl duduk di sofa dan diikuti Nathan yang duduk dihadapannya.

Mereka hanya terdiam, tidak ada lagi basa-basi ingin minum apa karena kini Nathan sudah tahu siapa Cheryl. Cheryl menundukan kepalanya sementara Nathan melihat ke arah lain tidak berani menatap Cheryl. Kaget, itulah perasaan Nathan saat ini.Tidak menyangka apa yang dia lihat semalam. Dia melihat Cheryl bukanlah seperti Cheryl. Perasaannya kacau saat ini, masih sulit baginya menerima bahwa Cheryl adalah seorang vampir.

“Maafkan aku, aku sudah membohongimu selama ini, aku tidak berniat seperti itu sungguh”Cheryl berbicara dengan tetap menunduk, dia tidak mau melihat tatapan takut Nathan atau malah tatapan jijik Nathan padanya karena dia adalah makhluk seperti ini.

Nathan menghela nafasnya perlahan,tidak, dia tidak bisa marah pada Cheryl, dia sudah terlanjur jatuh hati pada gadis ini.

“Ceritakan padaku semuanya”ujar Nathan membuat gadis itu mendongak, Nathan menatap lekat-lekat bola mata Cheryl yang kini berwarna merah, ya, Cheryl tidak menyembunyikan lagi warna matanya toh sama saja, Nathan sudah tahu siapa dia sebenarnya.

“Aku ingin kau menceritakan semuanya tentang dirimu, katakan bahwa kau seorang…vampir..”

 

**

 

“Apa yang kau lakukan Marcus!!!”sergah seorang pria bersuara berat dan berperawakan tinggi pada seorang pria berambut coklat yang sedang mengeluarkan semua isi laci lemari disudut ruangan ini.

“Itu bukan urusanmu”balas pria bernama Marcus itu sambil memberikan lirikan tajam. Tangannya masih mencari-cari sesuatu di laci itu, begitu dia melihat sebuah botol yang dia cari dia segera mengambilnya.

“Jadi sekarang kau sudah dibutakan oleh cinta”seorang pria tinggi muncul ke ruangan itu bersama beberapa pria lain dibelakangnya.

“Aku sudah menunggunya selama ini, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi”ujar Marcus sambil berjalan melewati pria tinggi itu.

“Kau rela menyelamatkannya, menyelamatkan makhluk yang telah membunuh orang tuamu!”seru pria itu. Marcus berbalik.

“Dia tidak membunuh orang tuaku”tegas Marcus. Pria itu mendekati Marcus.

“Zhoumi!”pria yang lain berusaha mencegah sebelum terjadi perkelahian.

Zhoumi menatap Marcus lekat-lekat, bagaimana bisa pria yang selama ini telah dia anggap sebagai adiknya melakukan hal seperti ini, hanya karena cinta. Marcus menatap tajam Zhoumi, dia tidak peduli kalau dia harus berkelahi dengan pria itu, dia hanya ingin Anita selamat, dia tahu Anita sedang bertarung dengan racun dari belati milik Zhoumi itu, dia tidak mau Anita pegi lagi,tidak untuk selamanya. Kalau Anita mati lebih baik dia juga ikut mati.

“Kau tahu apa yang kau lakukan adalah suatu kesalahan besar?”tanya Zhoumi.

“Ya, aku tahu”

“Dan kau tahu konsekuensinya?”

“Ya”

“Dan kau masih mau menyelamatkannya setelah tahu kalau kau akan mendapat hukuman setelahnya, hah!!”Zhoumi meninggikan suaranya sambil menunjuk Marcus.

“Aku tidak peduli, aku mencintainya dan aku tidak mau dia meninggalkanku selamanya”Marcus membuka pintu dan keluar begitu saja.

“Marcus!!Guidice akan membawamu dan membunuhmu!!!”Zhoumi berteriak memanggil Marcus agar berhenti melakukan niatnya itu. Meski dia tidak suka dengan sikap Marcus selama ini namun dia sangat menyanyagi Marcus seperti adiknya sendiri. Dia tidak bisa membiarkan Marcus mati begitu saja. Para guidice sudah tahu apa yang dilakukan Marcus dan kemungkinan besar Marcus akan dihukum dan hukuman itu adalah dengan membunuhnya dan Zhoumi tidak mau itu terjadi, tidak terhadap Marcus, orang yang dia sayangi.

 

**

 

Aletha termenung di kamarnya menghadap jendela, pikirannya menerawang, memikirkan kejadian buruk yang terus menimpa keluarganya dan bahkan kini kakaknya meregang nyawa. Apalagi selanjutnya? Dia tidak bisa memikirkan bahwa Anita akan meninggalkannya?tidak itu tidak boleh terjadi, tapi apa yang bisa Aletha lakukan saat ini.

Seandainya dia bisa menangis, Aletha ingin sekali menangis, menumpahkan segala perasaannya saat ini, setidaknya itu bisa membuatnya sedikit lega dibanding seperti ini, menahan kesedihan dan rasa frustasi tanpa bisa melampiaskannya.

Tangan Aletha memainkan gelang pemberian Jeremy dengan sebelah tangannya, memainkan hiasannya, tiba-tiba saja dia merindukan Jeremy. Dia ingin bicara dengan Jeremy. Dia merasa Jeremy adalah tempat yang tepat untuk dia bercerita, Jeremy selalu bisa menenangkannya namun sejak kejadian tempo hari dia tidak pernah lagi bertemu Jeremy. Dia lebih memilih menghindar, dia takut ayahnya marah lagi. Aletha tidak mau memperburuk keadaan. Mungkin sekarang Jeremy marah padanya.

Tiba-tiba Aletha mendengar suara gemerisik semak-semak, di hadapan rumahnya. Indera penciumannya menangkap bau yang dia kenal, betapa dia sangat merindukan bau ini,dia menunggu makhluk itu keluar dari semak-semak. Tak lama kemudian terlihat moncong seekor serigala.

“Jeremy”bisik Aletha. Serigala itu menggeram pelan. Dengan sekali gerakan Aletha sudah keluar dari kamarnya kemudian mengikuti Jeremy yang berjalan masuk ke dalam hutan.

 

**

 

Terdengar ketukan pintu rumah keluarga Agnelli, Dennis yang baru saja memberikan darah segar pada Anita sedikit bertanya-tanya dalam pikirannya, siapa yang datang ke rumahnya dengan mengetuk pintu? Anita juga menatap Dennis bingung, tidak pernah ada yang datang ke rumah mereka dengan mengetuk pintu.

“Cacciatore..”lirih Anita dengan wajah ketakutan, dia mengenggam erat lengan Dennis, dia takut kalau yang datang itu adalah Cacciatore. Dennis menyentuh lengan Anita dan menepuknya perlahan.

“Bukan, kurasa bukan mereka..sepenuhnya..”jawab Dennis membuat Anita bingung. Dennis berdiri dari duduknya.

“Panggil aku kalau kau butuh sesuatu”Dennis mencium kening Anita sekilas sebelum keluar dari kamar Anita.

Dia sudah ada di depan pintu sedetik kemudian. Dia tampak berpikir sejenak sebelum membuka pintu, semoga firasatnya benar. Begitu pintu terbuka terlihatlah seorang pria berkulit pucat dengan rambut coklat berdiri.

“Tuan Agnelli”sapa pria itu. Dennis tersenyum pada pria itu, dia mengenal pria ini meski tidak pernah bertemu secara langsung namun dia hafal wajah ini karena wajah pria ini selalu ada dipikiran anaknya, Anita.

“Marcus, masuklah”ucap Dennis menyuruh pria yang tidak lain adalah Marcus itu masuk. Marcus sedikit bingung kenapa Dennis bisa tahu dirinya dan terlihat santai padahal seharusnya Dennis tahu kalau dia adalah Cacciatore.

“Ada angin apa membawamu kemari?”tanya Dennis ramah, Marcus tetap berdiri di depan pintu.

“Aku ingin memberikan ini padamu, untuk Anita, dia akan sembuh dengan ini”Marcus menyodorkan botol yang berisi penawar racun untuk Anita. Sebenarnya dia ingin bertemu dengan Anita saat ini, dia ingin ada disamping gadis yang dicintainya itu tapi dia sadar, tidak mungkin Dennis mengijinkan Cacciatore seperti dia mendekati anaknya, bukankah Cacciatore juga yang membuat anaknya seperti ini. Jadi Marcus tidak berharap lebih, dengan Dennis tidak mencurigainya dan menerima obat ini, dia sudah senang. Meski dia tahu setelah ini tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk bertemu Anita.

Marcus menunggu Dennis menerimanya, tidak ada rasa curiga sekalipun dalam pikiran Dennis, dia tahu pria ini tulus mencintai anaknya dan ingin anaknya tetap hidup, bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya. Dennis tahu apa yang selanjutnya akan terjadi pada pria ini,dia lama terdiam karena memikirkan bagaimana nasib Anita setelah ini, dia tidak akan pernah melihat Marcus kembali dan anaknya itu akan kembali seperti dulu. Dia berpikir kenapa kisah cinta mereka harus selalu berakhir seperti ini?

“Kurasa Anita ingin bertemu denganmu, lagipula hanya kau yang tahu bagaimana mengobatinya, temuilah dia”ucap Dennis, ada tatapan memohon di matanya membuat Marcus akhirnya mengangguk kemudian mengikuti Dennis berjalan ke kamar Anita.

“Kau tahu resikonya setelah ini?”tanya Dennis ketika mereke menaiki tangga ke kamar Anita.

“Ya, aku akan melakukan apapun karena aku sangat mencintainya”

“Dia juga sangat mencintaimu”Dennis tersenyum  ramah pada Marcus, pria itu ragu-ragu membalas senyum ayah dari gadis yang dia cintai itu. “Masuklah”Dennis membukakan pintu kamar Anita dan menyuruh Marcus masuk. Marcus mengangguk dan masuk ke dalam.

“Marcus..”Anita terkejut melihat Marcus ada di dalam kamarnya, dengan tangan yang masih memegangi lukanya juga rasa sakit yang dia rasakan, dia berusaha berdiri namun Marcus menahannya untuk tetap berbaring di atas tempat tidur.

Tanpa berkata apa-apa Marcus langsung menarik lengan Anita, membuka perbannya dan menyentuh sebentar luka gadis itu membuat Anita meringis pelan. Dengan cekatan Marcus mulai memberikan obat penawar itu ke luka Anita. Gadis itu mengerang kesakitan, Dennis yang melihatnya tidak tega dan lebih memilih keluar kamar, sementara itu Marcus masih memberikan obat itu ke seluruh luka Anita membuat gadis itu terus mengerang kesakitan, Marcus tidak tega mendengar Anita terus mengerang kesakitan seperti ini namun itu lebih baik dibanding dia harus kehilangan gadis ini.

 

**

 

Aletha membenamkan kepalanya ke bulu-bulu tubuh Jeremy, setelah menceritakan semuanya pada Jeremy dia sedikit lebih lega namun tetap saja dia masih sesak, memang yang dia butuhkan saat ini adalah menangis. Jeremy menggeram pelan menenangkan gadis ini.

“Aku tidak mau kehilangan dia Jeremy, dia kakakku yang aku sayangi”lirih Aletha.

Jeremy mendekatkan kepalanya pada Aletha dan mengelus wajah gadis itu, Aletha memeluk leher Jeremy dengan erat.

Tiba-tiba sebuah suara langkah kaki membuat Jeremy langsung berdiri dari duduknya, wujud serigalanya mendengar langkah serigala yang dia yakini kawanannya. Sejak kejadian kemarin, dia lebih memilih menghindari kawanannya dan pergi ke selatan namun karena rasa rindunya pada Aletha dia memberanikan diri kembali ke tempat ini. Jeremy menengang di tempatnya, Aletha tahu itu dia mengenggam erat bulu-bulu punggung Jeremy, dia takut, takut kejadian kemarin kembali terulang.

Tak lama kemudian suara aungan terdengar dan diikuti oleh suara aungan lainnya lalu munculla seekor serigala abu-abu besar, mata serigala itu melirik Aletha sekilas sebelum beralih pada Jeremy. Serigala itu mengonggong. Percakapan antar serigala ini pun mulai terdengar.

Ketua suku ingin bertemu denganmu

Untuk apa?

Entahlah, bawa serta gadis itu

Tidak

Jangan keras kepala Jeremy, aku sudah datang baik-baik

Aku tidak bisa membawa gadis ini

Kau harus membawanya, ini perintah ketua suku, dia ayahmu

Jeremy berbalik pada Aletha, dia menyuruh Aletha naik ke pungunggunya, Aletha bingung harus mengikuti atau tidak namun mata Jeremy menunjukkan permohonan agar Aletha mengikutinya. Aletha tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya?

 

**

 

Dennis merasa lega karena kini Anita sudah sembuh. Dia tahu kalau Marcus akan datang dan dia yakin pria itu datang untuk menyelamatkan Anita. Dennis membiarkan Anita dan Marcus untuk berbicara sebentar diatas, karena mungkin ini adalah terakhir kalinya Anita bertemu Marcus.

“Apa kabar saudaraku?”sebuah suara membuat Dennis menegang ditempatnya, seorang pria dengan jubah yang menjuntai bersama dua pria lain dengan pakaian yang hampir sama, kini ada di ruang tengahnya. Mata merah mereka menyala-nyala membuat mereka terlihat kejam.

“Casey”Dennis berusaha nampak tenang, pria bernama Casey itu menghampiri Dennis dan memeluknya.

“Bagaimana kabarmu?”tanya Dennis basa-basi.

“Baik, kudengar terjadi sesuatu pada Anita, hm?”tanya Casey, sehasrunya dia tahu tujuan Casey kesini adalah karena Anita, terlihat Joshua menyunginggakan senyum misterius. Ini pasti ide Joshua, gumam Dennis.

“Dia baik-baik saja”Dennis berusaha menjawab sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada Casey.

“Oh ya?benarkah?hm kenapa aku mencium bau manusia disini?apakah pola makan kalian sudah berubah?”Casey bertanya dengan sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya.

Advertisements

3 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 13

  1. Siapa?casey?dia gag bakal macem2 kan..yaah kenapa hukumannya dibunuh..tega bener
    tegang..tegang..tegang ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s