FF: Milagro del Amor Part 12

*Shin Rae Bin*

 

Part 12

“Penghianat kau.” Seru Zhoumi melayangkan tatapan tak bersahabat. Emosinya memuncak ketika Marcus terus berusaha melindungi makluk terkutuk baginya.

Marcus menatap sendu Zhoumi, “Bertahun-tahun aku menantinya. Tidak kah kau tahu itu?” Marcus mencoba untuk melunakkan suasana, ia mengerti yang dilakukannya saat ini memang salah namun ia tak dapat mengambil keputusan untuk melepaskan lagi wanitanya itu.

“Cih, persetan dengan cinta.” Zhoumi meludah seakan-akan jijik dengan pernyataan Marcus. “Kau telah dibutakan dengan cinta busukmu itu Marcus. Kau lupakan janjimu kepada orang tua kita untuk membalaskan dendam mereka pada makhluk keparat itu.” lanjutnya penuh emosi dapat terlihat jelas dari nada bicaranya.

“Bukan mereka yang membunuh orang tua kita.” Ucap Marcus meyakinkan.

“Tidak ada yang bisa menjamin kalau bukan mereka.” sahut Zhoumi sinis. “Sekuat apapun kau melindungi mereka, tetap akan kubalaskan dendam kedua orang tuaku. Tak peduli itu wanitamu.” Ucap Zhoumi dengan penuh penekanan disetiap nada bicaranya. Ia meninggalkan Marcus yang masing berdiri menatapnya pergi. Pikiran Marcus berkecamuk. Ia yakin bukan kalangan Anita yang membunuh kedua orang tuanya.

 

***

 

Perseteruan diantara mereka semakin panas. Kedua clan ini saling memegang prinsip hidupnya. Anita dan Cheryl tidak bisa tinggal diam melihat Clan mereka menjadi kambing hitam akibat ulah dari Clan yang menurutnya tidak beradap ini.

“Kau hebat juga nona. Gerakanmu sangat lincah. Aku salah menduga.” Puji Ray pada Cheryl ditengah pertengkaran mereka.

Cheryl tersenyum sinis mendengarnya. “Ini baru permulaan, kubuat kau tak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan malam ini.” Cheryl dan Anita sengaja membuat situasi diantara mereka semakin memanas, mengulur waktu agar Clan Cattivo tidak dapat berburu.

“Sekuat itukah dirimu manis? Lihat darah segar terus mengalir dari lenganmu. Kita sudahi saja permainan ini. Aku mulai lapar.” Ujar Dylan melipat kedua tangannya di dada melihat Anita yang sedikit meringis akibat luka dilengannya yang bertambah parah.

Anita menyunggingkan sebelah senyumnya. “permainan ini takkan berakhir sebelum kau lenyap bersama keluargamu itu.” Anita kembali menyerang Dylan dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Anita mencoba untuk menyerag Dylan dari arah samping agar langsung mengenai organ vitalnya. Namun sial, Dylan cepat membaca gerakan Anita. Kini Dylan memanfaatkan kondisi Anita yang sudah sangat lemah itu, ia cengkram erat luka dilengan Anita, membuat Anita menjerit kuat melepas rasa sakitnya.

Cheryl yang mendengarnya langsung mendorong kuat tubuh Dylan hingga terhempas menabrak tembok besar di belakangnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Cheryl khawatir. Anita hanya meringis tertahan. Anita terluka!! Cheryl mencoba mengirim sinyal kepada kedua saudaranya dan Dennis. Walaupun ia tidak yakin mereka dapat menanagkap sinyal dari Cheryl atau tidak karena Cheryl dan Anita jauh dari batas wilayah mereka.

***

 

Bulan setengah merupakan kesempatan yang baik buat Aletha belajar berburu. Dennis membawa Aletha untuk berburu bersamanya sedangkan Alishia mendapatkan mangsanya sendiri di tempat yang berbeda. Tak membutuhkan waktu lama bagi Aletha untuk mendapatkan mangsanya. Dennis tersenyum melihat kemajuan pada diri Aletha.

Anita terluka!!, seru sebuah suara. Sinyal lemah yang dikirimkan Cheryl tertangkap oleh Dennis dan Aletha. Sontak Dennis dan Aletha menghentikan aktivitas mereka. Dennis membeku, tidak ada satupun yang dapat melukai makhluk seperti mereka kecuali satu, yaitu clan Cacciatore. Dennis yakin akan itu.

“Dennis.” Panggil Aletha menatap Dennis dengan wajah penuh kekhawatiran brgitu pun Dennis, gurat khawatir terpampang jelas di wajahnya, dengan cepat Dennis dan Aletha berlari menuju tempat dimana Cheryl dan Anita berada.

 

***

 

“Tebakanku benar, kau pasti ada disini.” Seru suara laki-laki menggalkan aksi wanita cantik dalam perburuannya. Wanita itu menatap kesal pada laki-laki itu dan membiarkan buruannya pergi.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Alishia sedikit geram melihat tingkah laki-laki kurus didepannya itu.

“Menemuimu.” Jawabnya. “Aku sengaja menunggumu disini.” Lanjutnya sambil berjalan mendekat.

“Sudah kukatakan. Pergilah dari sini dan lupakan aku. Disini bukan tempat yang cocok untukmu.” Seru Alishia.

Spencer tidak menggubris apa yang Alishia katakan. Ia menyodorkan botol minum berici cairan berwarna merah segar kepada Alishia.

Alishia bingung menatapnya. “Apa itu?”

“Ini darah kelinci hasil perburuanku tadi. Darahnya kusisihkan untukmu dan dagingnya kujadikan lauk makanku. Kuharap kau suka.” Ucapnya sambil memberikan botol itu.

Alishia tersenyum geli melihatnya. “Bodoh.” Alishia menerima botol pemberian Spencer, setidaknya malam ini ia tidak benar-benar gagal berburu. Tak sungkan Alishia meneguk habis cairan merah dalam botol itu di depan Spencer. Spencer sedikit bergidik ketika melihat Alishia meminum darah kelinci buruannya itu, namun sekuat tenaga ia menutupi ketakutannya.

“Bagaimana?”

Alishia menyeka sisa-sisa darah di bibir merahnya yang membuat bibirnya semakin terlihat merah dengan punggung tangannya. “Tidak buruk.” Spencer tersenyum senang mendengarnya.

Anita terluka! Kedua bola mata Alihsia membulat ketika mendapat sinyal yang ia yakini itu suara Cheryl.

Alishia hendak bergegas pergi, namun tangannya ditahan oleh tangan kecil Spencer.

“Aku harus pergi.”

“Kemana? Aku ikut.” Pinta Spencer tanpa melepas genggaman tangannya.

“Jangan bodoh. Ini sangat berbahaya untukmu.”

“Tidak aku akan tetap ikut denganmu.”

Alishia geram melihat tingkah konyol laki-laki ini. Ia menghempaskan genggaman tangan Spencer pada tangnnya dengan secepat kilat ia berlari meninggalkan Spencer.

Spencer kaget melihat gerakan Alishia yang sangat cepat. “Hei, tunggu aku.” Serunya berlari berusaha mengerjar Alishia. Secepat apapun Spencer berlari, ia takkan mungkin dapat mengejar Alishia.

“Aiiissshh,, cepat sekali larinya.”geurutunya. “Aku, mantan atlit lari. Aku pasti bisa mengejarmu. Alihsia tunggu aku, aku pasti akan membantumu.” Lanjutnya. Ia pun terus berlari mengejar Alishia.

 

***

 

“Apa-apan ini?” seru Dennis dengan nada bicara yang sangat keras menambah ketegangan yang terjadi. Semuanya melihat kearah Dennis namun Cheryl tek bergeming. Ia terlalu kesal dengan ketiga laki-laki dihadapannya ini.

“Cheryl Agnelli.” Seru Dennis menghentikan Cheryl yang hendak melayangkan batu besar kearah ketiga laki-laki itu.

Aletha langsung menghampiri Anita yang sudah terkulai lemas karena darah yang lerus mengalir dari lengannya.

“Bagaimana bisa begini?” tanya Aletha pada Anita penuh khawatir. Anita hanya tersenyum lemah menjawabnya.

Tak lama Alishia datang menghampiri Aletha dan Anita.

“Pertambahan personil? Sepertinya permainan ini akan semakin seru.” Ujar Ray.

Dylan terkikik. “Sepertinya. Tapi aku sudah sangat lapar.” Sahutnya.

“Bagaimana kalau kita berburu bersama. Sepertinya ada cukup manusia lezat disekitar sini.” Tambah Jimmy seolah memberikan solusi. “Dennis?” lanjutnya meminta jawaban bersahabat dari Dennis.

“Maaf, kami tidak seperti kalian.” Jawab Dennis tegas. “Aletha, Alishia bawa Anita pulang.”

“Baguslah, setidaknya kami tidak perlu mengurangi posri untuk berbagi.” Celetuk Ray, membuat emosi Cheryl semakin memuncak.

“Cheryl, tahan emosimu.” Kata Dennis mencoba menenangkan.

“Ternyata kalian sedang berkumpul disini.” Seru sebuah suara membuat semua mata yang berada disana mengalihkan pandangan menuju suara itu berasal. Tak lama terlihat jelas sosok 4 laki-laki berjalan tegap menghampiri mereka.

Clan Agnelli dan Cattivo kaget melihat kedatangan Clan Cacciatore. Dennis sudah mengira ini akan terjadi namun ia tetap terlihat tenang didalam ketagangan.

“Sudah cukup kalian menghirup udara bebas. Kali ini akan kupastikan kalian akan mati makhluk terkutuk.” Seru salah satu laki-laki itu dengan penuh emosi. Ia melayangkan tanggannya yang sudah menggenggam belati diikuti dengan ketiga laki-laki lainnya.

Dengan cepat Dennis memerintahkan keempat anaknya untuk menyelamatkan diri. Begitu pun dengan Clan Cattivo. Mereka saling kejar. salah satu Clan Cacciatore berhasil menancapkan belatinya pada salah satu Clan Cattivo, Ray.

“Mati kau.” Ujar laki-laki berperawakan kecil sambil menarik kembali belatinya. Laki-laki itu tersenyum senang karena dapat membunuh salah satu makhluk yang menurutnya telah membunuh keluarganya.

“Kau berhasil Henry.” Ucap Nikky ikut menyunggingkan senyumnya. Tidak berhenti sampai disitu mereka kembali mengejar kawanan yang lainnya.

“Bertahanlah.” Kata Aletha pada Anita. Anita dibopong oleh Aletha dan Alishia ke tempat persembunyian mereka. Aletha sangat khawatir melihat keadaan Anita, karena selama ini Anita lah yang sangat dekat dengannya. Ia sangat takut bila Anita akan meninggalkannya.

“Aku baik-baik saja.” Sahut Anita.

Sulit dipahami, tiba-tiba salah satu Clan Cacciatore sudah menghadang Alishia, Aletha dan Anita di tengah perjalanan mereka. segera Alishia berdiri di depan mencoba melingdungi kedua adiknya itu.

“Baiklah kau yang pertama.” Kata laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut berwarna kuning seolah-olah menunjuk bahwa Alishia lah yang pertama akan dibunuhnya. Satu langkah laki-laki itu berjalan maju, satu langkah pula Alishia membimbing kedua adiknya untuk mundur.

“Kali ini takkan kubiarkan kalian lari.” Kini laki-laki itu bersiap melayangkan belatinya ke arah Alishia. Aletha dan Anita tak dapat berbuat banyak. Anitatak kuat melakukan apapun dengan kondisinya yangsangat lemah, sedangkan Aletha tidak memiliki cukup keberanian memingat umurnya yang masih muda, namun tetap menjaga Anita.

“Mati kau!”

Alishia memejamkan matanya pasrah bila ia harus mati saat ini. Belati itu terpental ketika seseorang melemparkan balok kayu berukuran besar kearah tangan Clan Cacciatore.

Laki-laki berperawakan kurus berambut blonde itu segera berdiri di depan Alishia. “Aku akan melindungimu.” Alishia membuka matamnya dan kaget melihat Spencer ada dihadapannya.

“Kau gila. Cepat pergi.”

“Tidak. Akan melindungimu.” Seru Spencer pada Alishia. Alishia tertegun betapa laki-laki itu sangat menyayanginya hingga berani melakukan hal bodoh yang tidak ia mengerti.

“Apa yang kau lakukan manusia bodoh? Menyingkir dari situ.” Clan Cacciatore itu murka karena usahanya berhasil digagalkan.

“Sedikit saja kau menyentuhkan, akan kubunuh kau dengan tanganku.”

Laki-laki itu tersenyum miris mendengar perkataan Spencer. “tidak ada satupun yang dapat menghalangiku.” Laki-laki itu kembali siap menusukkan belatinya, ia tak mempedulikan keberadaan Spencer.

“Hentikan.” Seru laki-laki lain dari arah yang berlawanan. “Hentikan Zhoumi.” Lanjutnya.

“Marcus.”

“Bawa Anita dan laki-laki itu pergi dari sini.” Kata Marcus kepada Alishia. Alishia mengangguk dan segera pergi.

“Dua kali kau menggagalkannya. Sungguh.”

 

***

 

Anita terbaring lemah di tempat tidurnya. Luka menganga dilengannya berasil diatasi. Kini keluarga Agnelli berkumpul diruang tengah castil mereka. Dennis masih memikirkan kejadian buruk itu sambil memegang cangkir berisi darah dengan telunjuknya menari mengelilingi cangkir itu. Alishia duduk dibangku panjang sambil membuka lembaran majalah dengan Aletha tiduran di pangkuannya. Sedangkan Cheryl menekan malas tuts pianonya.

“Bagaimana semua itu bisa terjadi Dennis?” seru U-Know sesampainya ia, menghampiri Dennis.

“Semua terjadi begitu saja. Anita terluka dan Ray tewas.” Jawabnya tidak lepas dari aktivitas sebelumnya.

“Sudah sepantasnya ia mati.” Sahut Cheryl, U-Know menatapnya.

“ada apa denganmu?” tanya Vincent pada Cheryl yang entah kapan ia tiba.

Cheryl tak bergeming. “Dia masih terbawa emosi.” Ujar Aletha.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya U-Know pada Alishia.

“Kau dapat melihatnya dengan jelas saat ini.” celetuk Cheryl dibalik pianonya.

“Aku harap kalian tidak berada jauh dari sini. Situasi sedang tidak aman.”Dennis mewanti-wanti ketiga putrinya.

“Kami mengerti Dennis.”

“Aku akan melihat Anita.” Ujar Vincent sambil menatap Dennis meminta izin. Dennis mengangguk mengijinkan.

“Kau tidak boleh mengganggunya.” Segera Aletha bangun dari tidurnya dan menyusul Vincent.

Vincent terkekeh melihat tingkahnya. “aku tidak akan menganggunya.”

“Derap langkah kakimu itu dapat membangunkannya.”

“Haruskah aku terbang?”

“Itu baik, tapi lebih baik jika kau tidak masuk.” Aletha merentangkan tangannya didepan pintu kamar Anita.

 

***

 

“Aku akan keluar sebentar.”

“Diluar belum cukup aman Alishia.”

“Aku akan baik-baik saja Dennis.” Alishia meyakinkan ayahnya.

“Akan kutemani.” Ucap U-Know

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” sahut Alishia.

“Kau ingin menemui manusia itu?” tanya U-Know menyelidik.

Alishia membeku ditempatnya, Dennis pun kaget mendengar pertanyaan U-Know.

“Itu bukan urusanmu.”

“Katakan saja kau ingin menemuinya.” Kata U-Know menuntut, terselip rasa kesal pada nada bicaranya.

“Manusia? Alishia?” Tanya Dennis meminta penjelasan.

“……………”

 

***

 

“Aku tak mengerti isi dari otakmu itu Marcus.” seru seseorang dengan penuh emosi.

“Aku sudah menjelaskannya padamu Zhoumi.”

“Dulu kau sangat ingin membunuhnya. kau picik Marcus.” sahut Elias

“Menjijikkan.” Nikky menambahkan.

“Kau tak mengerti. bertahun-tahun aku menunggunya.” ucap Marcus membela diri.

“Aku tak peduli dengan kisah menjemukanmu itu. jangan halangi aku lagi.” ujar Zhoumi pergi meninggalkan Marcus diikuti Nikky, Henry, dan Elias.

Marcus hanya tertunduk mendengarkan setiap perkataan yang menyudutkan dirinya. Ia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sulit. Zhoumi, Nikky Henry dan Elias sudah mengetahui kebenarannya, ia tinggal menunggu kabar buruk tentang seluruh Clan Cacciatore mengetahui bahwa dirinya melindungi Vampire musuh terbesar-Nya, jika memang mereka melaporkannya.

“Anita.”

Advertisements

3 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 12

  1. uuwaaaa spencer berani banget..jadi terharu#plaakk
    setelah anita berurusan sama joshua,sekarang gantian marcus sama clannya..haduuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s