FF: Drama Story Seventh Scene

Seventh Scene

 

”Itu bukan apa-apa”dengan sekali gerakan Kyuhyun mengambil foto yang aku tunjukkan dengan tangannya dan menyimpan foto itu ke dalam laci meja. Dia menunjukkan wajah sangat dingin padaku, aku semakin tidak mengerti dengan sikap namja ini.

”Pulanglah”suruhnya padaku, kutatap wajahnya tidak percaya, dia mengusirku?Apa maksudnya?. ”Kau mengusirku?”tanyaku.

Dia menghela nafas perlahan, ”Memangnya apa yang mau kau lakukan disini”katanya. Aku benar-benar merasa bodoh saat ini, bagaimana bisa aku percaya bahwa laki-laki dihadapanku ini ingin bertemu dan meminta maaf padaku, kenyataannya?lihatlah sekarang dia mengusirku. Apa maunya?kukepalkan kedua tanganku. Kenapa aku harus selalu emosi menghadapi laki-laki dihadapanku ini. Dia menatapku datar, seakan-akan secara tidak langsung sangat menghendaki aku pergi.

”Hei, kenapa kalian berdiri seperti itu?Kyu, bukankah kau merindukan Yong Soon, lihat dia sudah datang”seorang namja membuka pintu dan dia menatap kami dengan tatapan bingung, silih berganti antara aku dan laki-laki menyebalkan ini, terakhir dia menghadapkan wajahnya pada Kyuhyun.

”Tidak”suara laki-laki ini terdengar, kembali tanpa ada nada. Baiklah, dia benar-benar ingin mengusirku, ok, aku akan pergi. Aku semakin merasa bodoh jika terus disini.

”Baik, aku pulang”kataku singkat kemudian melewati Spencer yang tengah menatapku bingung. Aku mendelik kesal padanya ketika lewat tepat disampingnya, gara-gara dia aku harus menahan malu dan merasa bodoh seperti ini. bagaimana aku bisa percaya kalau dia –namja menyebalkan- itu mau meminta maaf padaku. Aku terlihat seperti mengharapkannya sekarang, hah! Ini terakhir kalinya aku bertemu dan berhubungan dengan laki-laki itu selanjutnya aku akan menganggap tidak pernah kenal dengannya.

 

**

 

”Sampai”suara Aiden membuyarkan lamunanku, ternyata aku sudah sampai. Hari ini Aiden kembali mengantarku ke cafe. ”Gomawo”kataku sambil melepas seat belt.

”Hei, ada apa denganmu hari ini?”tanya Aiden ketika aku sudah melepaskan seat belt-ku. Aku menggeleng dihadapannya, dia menyipitkan matanya menunjukkan kalau dia tidak yakin dengan jawabanku.

Nothing’s happened, Aiden”kataku yakin sambil menunjukkan senyum termanis yang aku bisa. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

Kyeopta”ujarnya dan sebuah cubitan mendarat dipipiku, dasar  Aiden! Aku mendengus kesal seraya keluar dari dalam mobilnya dan berjalan namun langkahkau berhenti ketika menyadari dia mengikutiku berjalan. Aku berbalik dan melihat Aiden berhenti beberap meter dariku sambil tersenyum dengan senyuman khasnya itu.

”Aku ikut ke dalam”ujarnya, aku mendesah pelan dan mengangguk, bagaikan anak kecil dia segera menghampiriku dan menggamit lenganku serta mengajakku berjalan. Terkadang Aiden bisa terlihat lebih anak kecil dibanding denganku.

Aku membuka pintu belakang ketika tepat Sungmin juga ingin membuka pintu.

”Yong Soon-ah”

”Sungmin-ah”ujar kami bersamaan. Tatapan mata Sungmin langsung melirik laki-laki disampingku, dia tersenyum kaku padaku. Kenapa dia jadi terlihat aneh?

Wae?”tanyaku padanya.

”Ah, aniya”dia menggeleng cepat. ”Chogi, kau sudah datang ke alamat yang aku berikan kemarin?”tanyanya.

”Belum, aku belum sempat”jawabku. Sungmin hanya mengangguk-anggukan kepalanya namun matanya menatap Aiden disampingku. Ada apa dengan Sungmin?

”Aku keluar sebentar”lanjut Sungmin dan dia melewatiku begitu saja, saat dia sudah menghilang dari pandanganku aku masih terus menatap kearah dia keluar tadi. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Sungmin sehingga dia menjadi aneh seperti itu?

”Kenapa?”Aiden menyentuh bahuku membuatku sedikit terlonjak kaget. Aku menggeleng cepat, dia tersenyum dan menarik tanganku masuk ke dalam.

 

**

 

Bagaimana rasanya diawasi?tidak enak, sangat tidak enak. Sama seperti saat ini. Laki-laki menyebalkan itu kembali muncul. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia inginkan?apa maksudnya dengan sekarang tiba-tiba ke tempat ini setelah sebelumnya dia mengusirku.

Kubungkukan tubuhku ke depan pengunjung sebelum berlalu ke belakang panggung. Bersikap biasa, itulah yang harus aku lakukan, anggap saja dia tidak ada, bukankah aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengganggap dia tidak ada.

Kuambil tasku dan segera pergi dari tempat itu meski Sungmin menatapku bingung. Aku harus segera mencari Aiden dan pulang.

Tidak butuh waktu lama aku sudah menemukan dia bersandar di mobilnya, dia tersenyum menyambutku.

”Ayo pulang”pintaku, aku benar-benar ingin pulang secepatnya sebelum aku bertemu dengan laki-laki kitu.

”Kenapa terburu-buru sekali?”tanya Aiden sambil mengacak-acak rambutku, kusingkirkan tangannya dari kepalaku. ”Anni”jawabku singkat.

”Wajahmu cemas sekali”dia memperhatikan wajahku dengan seksama sambil mendekatkan wajahnya.

”Tidak”kataku cepat sambil mundur ke belakang namun tiba-tiba Aiden menahan tanganku dan menyentuh daguku. Aku mengerjapkan mataku dengan cepat, apa yang akan dia lakukan.

Jinjja?”Aiden tersenyum sekilas sebelum mendekatkan wajahnya padaku. Apa dia akan menciumku? Kurasakan wajahku memanas saat ini, aku ingin melepaskan tubuhku dari kekangan tubuhnya namun Aiden menahan tanganku dengan kuat.

”Aiden..”lirihku, dari ekor mataku kulihat seseorang memperhatikanku dari jauh, Kyuhyun, entah kenapa rasa kesal kembali menguasaiku hal itu membuatku mengalungkan tanganku di leher Aiden dan menarik Aiden untuk menyentuh bibirku.

Ada rasa puasa menelusup hatiku ketika mencium Aiden dihadapan Kyuhyun, entahlah kenapa, mungkin karena kejadian beberapa hari yang lalu. Bagaimana aku merasa seperti mengharapkan dia,seakan-akan aku sedang jatuh cinta pada laki-laki menyebalkan itu. Sekarang lihatlah, kutunjukkan aku tidak pernah sekalipun mengharapkannya, ah sepertinya aku melakukan ini hanya untuk meyakinkan hatiku tapi apakah tidak tampak seperti sengaja membuat Kyuhyun cemburu?

 

**

 

Kutatap kertas berisi sebuah alamat yang Sungmin berikan dua minggu yang lalu. Hatiku bimbang sekarang, apakah aku akan datang ke alamat ini atau aku biarkan saja. Aku sudah tidak terlalu berharap untuk dapat bertemu ayahku, semuanya terlihat mustahil bagiku. Apa sebaiknya aku memang kembali ke Amerika dan memulai hidupku dengan Aiden?. Aku benar-benar bingung memikirkannya, kenapa aku menjadi ragu-ragu seperti ini. Kutatap kertas itu lagi, apa yang harus aku lakukan sekarang?

”Yong Soon-ah, wae?”Yeon Ji membuka pintu kamar, aku menoleh ke belakang, dia berjalan menghampiriku dan duduk diatas tempat tidurku. Wajahnya terlihat cemas.

”Tidak ada apa-apa”jawabku.

”Ceritakan padaku”pintanya.

”Sungmin memberikan ini padaku, alamat ayah tapi entah kenapa aku menjadi ragu saat ini, apa lebih baik aku pulang dan menikah dengan Aiden?”

”Mwo?!”serunya sangat terkejut. Dia menatapku tidak percaya. ”Aiden sudah melamarmu?”tanyanya seakan tidak percaya dan berita yang baru dia dengar tadi sungguh mengejutkan dia. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa dengannya?

”Yong Soon-ah, kau harus tahu kalau…”tiba-tiba Yeon Ji berhenti berkata. Aku menaikkan alisku dan memberikan tatapan untuk memintanya melanjutkan kata-katanya.

”Kakau apa?”tanyaku. Yeon Ji menggeleng ”Tidak ada apa-apa”dia mendesah pelan. Kenapa Yeon Ji sangat aneh seperti ini, dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting tapi dia ragu.

Tok..Tok..Tok

Ketukkan pintu membuat kami saling pandang, siapa yang datang sepagi ini?Yeon Ji segera beranjak dari kamarku untuk membukakan pintu.

Oppa”aku mendengar Yeon Ji menyapa orang itu, Sungmin-kah yang datang?setahuku hanya Sungmin yang Yeon Ji panggil Oppa tapi kenapa Sungmin datang sepagi ini? aku pun bergegas keluar kamar dan mataku membulat sempurna ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

”Kau?!mau apa kau kemari?”kataku ketus, tidak perlu bersopan-santun layaknya tuan rumah yang baik pada laki-laki menyebalkan ini. Hah kenapa dia selalu muncul?!

”Yong Soon-ah”Yeon Ji memanggilku, aku berdiri tepat dihadapannya kali ini dengan tatapan penuh kemarahan. Mau apa lagi dia kemari?!

”Aku ingin menyelesaikan semuanya. Ikut aku akan aku tunjukkan sesuatu”katanya, apa mengikutinya?tidak akan, untuk apa?! Kenapa laki-laki ini selalu saja menyebalkan?!

 

**

 

Aku kembali menjadi orang bodoh lagi dengan menerima tawaran laki-laki sangat menyebalkan disampingku ini. Kali ini kembali aku tidak menemukan alasan yang meyakinkan kenapa aku mau mengikutinya. Laki-laki ini mengemudikan mobilnya keluar kota Seoul. Aku menoleh padanya yang sedang mengemudi.

”Mau kau bawa aku kemana, hah?”tanyaku kesal.

”Mempertemukanmu dengan ayahmu”jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Aku terus menatapnya, apa aku suda tidak mengerti bahasa Korea lagi, kenapa aku merasa aneh dengan apa yang dia katakan, apa maksudnya?dia akan mempertemukanku dengan ayahku? Itukah yang dia katakan atau aku salah dengar?

Mwo?”hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba dia memberhentikan mobilnya di sebuah taman yang luas. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Dia membukakan pintu mobilnya dan menyuruhku turun secara tidak langsung, ya dia tidak memintaku turun namun aku mengerti isyarat membuka pintu yang dia lakukan. Dia mulai berjalan meninggalkanku, apakah aku sebaiknya ikut atau menunggu disini. Apa yang ingin dia lakukan disini? Aku mengamati sekelilingku, sepi, hanya ada hamparan padang rumput berwarna hijau.Kutatap punggungnya yang semakin berjalan menjauh, sebaiknya aku mengikuti dia.

 

**

 

Harapan yang terlalu tinggi selalu menghasilkan kekecewaan untuk yang kesekian kalinya bagiku. Tanganku mengepal kuat di kedua sisi tubuhku dan bisa kurasakan kedua lututku bergetar, apa sebentar lagi aku akan terjatuh? Suasana menadadak menjadi semakin hening bahkan untuk sekedar suara angin yang berhembus saja tidak terdengar. Tubuhku terasa sangat kebas, lidahkupun kelu. Aku seperti orang yang lumpuh saat ini.Pandangan mataku hanya tertuju pada satu titik namun semakin lama titik itu semakin kabur dan kurasakan mataku mulai basah. Tetesan bening jatuh begitu saja. Aku pikir saat ibuku meninggal adalah saat terakhir kali aku menangis karena toh aku tidak memiliki siapa-siapa lagi namun kali ini kejadian itu berulang. Cairan bening itu mengalir kembali di mataku, bibirku membentuk senyuman miris. Inikah bukti keragu-raguanku beberapa hari yang lalu?

Aku merasa Tuhan sangat jahat padaku, kenapa?aku kembali sendiri dan kali ini aku benar-benar akan sendiri selamanya.

Kyuhyun memang mempertemukanku dengan ayahku, benar dia memang melakukannya namun meski dengan pertemuan ini aku tidak akan pernah bisa melihat wajahnya. Bahkan untuk sekedar melihat wajah ayahku untuk pertama kalinya, Tuhan tidak mengijinkanku.

Kugigit bibir bawahku menahan cairan bening itu turun terus, aku tidak bergeser sedikitpun dari tempatku sejak pertama kali tiba. Tidak ada niatan untukku mendekat pada gundukan tanah itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini?menangis?sudah kulakukan, lalu apalagi? Kupejamkan mataku, menarik nafas sebanyak mungkin saat ini untuk mengatasi tangisanku yang mungkin sebentar lagi akan terdengar. Kepalan tanganku semakin kuat dan kurasakan tubuhku semakin melemas, tidak apakah aku menangis kembali persis seperti kematian ibuku?

Saat ini kurasakan rumput menggelitik telapak tanganku, aku sudah terduduk di rerumputan dengan air mata yang terus turun tanpa bisa kutahan.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan melingkari bahuku, aku baru sadar kalau ada Kyuhyun disini. Kali ini dia ingin menenangkanku dengan memeluk dan itu membuatku menangis sejadi-jadinya.

 

**

 

Keheningan yang tercipta sejak tadi sepertinya tidak menganggu kami berdua dan malah menikmatinya. Aku sudah tidak menangis lagi seperti tadi. Tidak akan menyangka aku menangis dihadapannya, selama ini aku selalu berusaha agar tidak ada orang yang melihatku menangis, pasti dia menganggapku seorang gadis yang lemah. Aku memang paling lemah saat menghadapi kehilangan.

”Apa kau pernah kehilangan seseorang?”tanyaku memecah keheningan ini. Dia seperti terkejut mendengarku bicara setelah sejak tadi aku hanya menangis dan kemudian diam. ”Tidak, kau tidak pernah merasakannya, hidupmu sempurna, ayah, ibu dan kakak perempuan”aku menghela nafas perlahan berusaha mengontrol emosiku saat ini. ”Sedangkan aku sejak lahir tidak pernah melihat ayahku sementara ibuku harus berperan ganda menjadi ayah juga”kuhirup udara sebanyak-banyak untuk menormalkan suaraku yang sedikit bergetar dan mencegah tetesan bening itu jatuh kembali.

”Lalu, Aiden datang dikehidupanku, dia bisa menjadi ayah dan kakak dalam satu waktu, aku nyaman dengannya tapi tetap saja itu tidak bisa menggantikan sosok seorang ayah begitu saja, aku kesini hanya berharap bertemu ayahku tidak lebih namun apa yang aku dapat”bibirku membentuk senyuman miris.

”Yong Soon-ah, mianhe”setelah sekian lama terdiam dia berbicara, aku menoleh padanya, tidak seperti biasanya tatapannya kini lebih lembut dan menyiratkan rasa kasihan.

Gwenchana”kataku, untuk apa dia minta maaf, seharusnya aku mengucapkan terima kasih padanya sudah mempertemukanku dengan ayah meski dalam kondisi yang tidak aku inginkan. Setidaknya dari semua sikap menyebalkannya selama ini, dia menepati janjinya untuk mempertemukanku dengan ayah. Entah kenapa kali ini aku yang merasa bersalah padanya.

”Seharusnya aku yang berterim kasih padamu”ujarku sambil tersenyum tipis padanya, dia mengangguk sekilas dan dengan cepat mengalihkan pandangannya dari hadapanku. Dia memang sangat aneh. ”Sudahlah, semua sudah berakhir sekarang”lanjutku dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ya, semua sudah selesai, semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa kusesali saat ini. Sepertinya memang aku harus kembali ke Amerika dan hidup bersama Aiden.

”Apa kau mencintai Aiden?”tiba-tiba Kyuhyun menoleh padaku, menatap bola mataku lekat-lekat. Sebentar apa yang dia tanyakan tadi?apa aku mencintai Aiden?tiba-tiba sekelebat kata-kata laki-laki ini tentang dia yang menyukaiku muncul dipikiranku. Apa dia benar-benar menyukaiku? Dia masih menatapku sungguh-sungguh menunggu menjawabnya.

”Entahlah, aku nyaman dengannya dan aku menyanyanginya”jawabku dan tiba-tiba saja sorot matanya kembali dingin, dia hanya mengangukan kepalanya dan kembali menatap jalanan yang sangat lengang dihadapannya. Selain aneh laki-laki ini juga lucu.

”Bagaimana denganmu?kau bilang kau menyukaiku, eoh? Wae?”tanyaku. Dia hanya diam dan memasang tatapan lurus kedepan, hah kenapa dia tidak mau menjawabnya. Dulu dengan lantangnya dia bilang kalau dia menyukaiku dan sekarang?sudah kuduga dia hanya berbohong saat itu agar aku mau menuruti permainannya, dia pikir aku gadis remaja yang akan terlonjak senang begitu mengetahui ada seseorang yang menyukainya, tidak .

”Bagaimana dengan ibumu?kemarin aku merasa tidak enak padanya”kataku mengalihkan pembicaraan.

”Dia berpikir kita sedang bertengkar dan dia menyalahkanku”jawabnya masih dengan posisi seperti tadi, tidak melihat lawan bicaranya.

”Sudah kuduga, maaf aku menamparmu kemarin”kataku, dia hanya menganggukan kepalanya. Benar-benar aneh. ”Rasanya aku berhutang padamu, kau telah mempertemukanku dengan ayahku sesuai janjimu jadi aku akan membalas kebaikanmu, apa yang kau inginkan?pura-pura menjadi kekasihmu lagi?tapi kurasa saat ini aku harus tahu apa motifmu dan mungkin aku hanya bisa dua bulan saja set..”

”Bolehkah aku memiliku?”tanyanya, tatapan matanya menghujam tepat kedalam mataku, tatapan yang tidak bisa aku artikan apa, namun mata obsidian itu menungguku menjawab. Apa yang harus aku jawab?aku bahkan tidak memiliki perasaan apa-apa padanya?lalu apa maksudnya berkata seperti itu, pertanyaan terus bermunculan di otakku.

”Aku hanya ingin memilikimu, aku mencintaimu Yong Soon-ah”kata-katanya selanjutnya lebih membuatku tidak mengerti. Ada apa dengannya?satu nama yang muncul dipikiranku saat ini adalah Aiden.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s