FF:Drama Story Sixth Scene

Sixth Scene

 

”Ada apa?”

Eoh

Pertanyaan Aiden membuat pikiranku kembali ke alam nyata. Dia masih saja menatapku penasaran, Aiden tidak akan pernah puas hanya dengan jawaban iya atau tidak dia akan terus menuntut sampai aku mengatakan apa yang sedang terjadi padaku. Aku menggeleng. Dia menatapku lekat-lekat sambil mendekatkan wajahnya padaku. Kudorong kepalanya menjauh, dia tertawa. Kebiasaan sekali.

”Hei ada apa denganmu, hm?”tanyanya.”Tidak ada”jawabku. Dia mendecak kesal mendengar jawabanku.

”Baiklah, terserah kau mau cerita atau tidak”ujarnya duduk kembali di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah marah padaku.

”Bukan begitu, hanya saja..mau memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya lain waktu” Aiden memutar bola matanya, aku belum tahu bagiamana menjelaskan semuanya padanya makanya aku butuh waktu.

Aku berdiri dari dudukku dan mendekat padanya, sengaja untuk duduk disampingnya.

”Ayolah, I promise”ujarku sambil menunjukan tanda V padanya.

”Aku pegang janjimu”katanya, aku tersenyum dan mencubit pipinya. Dia mendengus kesal.

Saat ini aku sedang berada di rumah Aiden di Seoul, rumah yang jarang sekali dia tempati bahkan menurutku tidak pernah.

”Anita, apakah benar kata-katamu tadi kau ingin pulang?”tanya Aiden. ”Iya”kusandarkan kepalaku di bahunya.

”Yakin?”

”Tentu saja”

”Bagaimana dengan ayahmu?”

Kutegakkan tubuhku menatapnya yang kini sedang menatapku intens. Aku mendesah pelan.

”Sepertinya aku tidak akan pernah bertemu dengannya”lirihku.

”Apa yang terjadi padamu selama ini?”Aiden kembali bertanya wajahnya dipenuhi rasa kekhawatiran. Aku bingung harus bercerita darimana pada Aiden, apa saja yang sudah aku alami setahun ini, terlalu membingungkan.

”Ah, bagaimana kau bisa sampai ke tempatku?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”Jangan mengalihkan pembicaraan Anita”katanya menarik wajahku menghadapanya, dia menatap lekat bola mataku, mencari jawaban kenapa aku terlihat aneh, tidak akan kau temukan disana.

Kulepaskan tangannya yang merengkuh wajahku.

”Aku sudah berjanji akan menceritakannya nanti, hm”ingatku padanya. Dia menghela nafas perlahan.

”Aku kesini bukan untuk menjemputmu, bertemulah dulu dengan ayahmu lalu pulang dan…”Aiden menggantungkan kata-katanya dan sebuah senyum terukir di wajah manis itu.”Menikahlah denganku”lanjutnya. Aku menatapnya tidak percaya, apa yang barusan laki-laki ini katakan, menikah?apa dia sedang melamarku sekarang? Ini memang bukan pertama kalinya Aiden berkata seperti itu, sejak kami masih SMA, Aiden selalu mengatakan kalau aku akan menjadi istrinya, kalau dia akan menikahiku begitu lulus kuliah dan sebagainya kata-kata yang selalu menyangkut menikah namun entah kenapa kali ini mata Aiden menunjukkan kesungguhan dan keseriusan bukan hanya sekedar ucapan seorang remaja yang memberikan janji pada kekasihnya untuk menikahinya begitu lulus. Aku tahu, aku dan Aiden sudah dewasa, sudah seharusnya aku memikirkan sebenarnya bagaimana hubunganku dengan Aiden, tidak ada kata-kata pernyataan cinta diantara kami tapi dia selalu mengatakan aku miliknya sementara aku tidak pernah ambil pusing namun aku tahu Aiden butuh kepastian dariku.

Aiden mendekatkan tubuhnya dan mencium keningku perlahan.

”Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kau bertemu ayahmu, hm”kuhembuskan nafasku perlahan, kenapa aku tidak bisa bilang iya saat ini juga. Siapa lagi yang begitu perhatian padaku dan selalu ada disampingku, Aiden tapi kenapa aku belum yakin dengan perasaanku pada Aiden.”Ah, aku lapar buatkan aku makanan”rajuk Aiden padaku sambil mengerucutkan bibirnya, ck, kebiasaan dia lagi yang sangat menyebalkan. Baru saja dia terlihat dewasa dan sekarang dia kembali seperti anak kecil. Dasar Aiden!

Shireo!”ujarku.

”Ayolah istriku yang cantik”

 

**

 

Aiden selalu bisa membuatku menuruti apa keinginannya, sama seperti sekarang, dia merajuk untuk memasak untuknya dan inilah yang kulakukan sekarang, memasak untuknya. Aku tersenyum melihat hasil masakanku.

Drrrtt..Drrrrttt

Ponselku bergetar diatas meja, segera kutaruh masakan itu di atas meja dan menyambar ponselku yang masih terus bergetar. Kulihat sekilas layar ponselku sebelum mengangkat telepon itu. Yeon Ji.

”Ah, Yeon Ji, wae?”tanyaku.

”Hah”aku terkejut mendengar kata-kata gadis itu.

”Aku akan kesana”kututup telepon itu dan dengan cepat melepas celemek yang aku gunakan, mengambil tasku diatas meja dan bergegas pergi.

”Aiden aku pergi dulu, makanan sudah di meja”kataku pada Aiden yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamarnya tanpa menunggu jawaban Aiden aku segera keluar rumahnya.

Aku harus segera sampai rumah, mau apa lagi orang itu. Tidak ada habis-habisnya dia mengangguku, laki-laki keras kepala yang sangat menyebalkan.

Dengan tidak sabar aku menunggu bus sampai di halte dekat rumahku. Bahkan aku mulai berlari dari halte terdekat ke rumahku itu sampai rumah.

Kubuka pintu rumah dengan cepat dan masuk ke dalam.

”Kau!”seruku pada laki-laki yang kini sedang duduk di ruang tengah dengan Yeon Ji juga disana. Aku masih terengah-engah akibat berlari tadi.

”Ikut denganku”katanya dan tiba-tiba saja tangannya menarikku, apa yang dia lakukan?

”Lepaskan aku!”seruku namun dia tidak mengindahkannya dan malah menarikku keluar rumah.

”Ya!”aku terus berteriak untuk minta dilepaskan. Bisa kulihat Yeon Ji menatapku bingung dan seakan meminta penjelasan padaku. Namun bagaimana aku menjelaskan jika laki-laki ini malah menarikku keluar.

 

**

 

”Turunkan aku!”pintaku ketika dia mulai menjalankan mobilnya. Dia tidak mengindahkan kata-kataku.

”Ya!turunkan aku!”kali ini kunaikkan nada suaraku dan sama seperti tadi dia tidak menanggapi apa-apa, laki-laki ini membuatku emosi.

”Ya!”aku menyentakkan tangannya yang memegang stir mobil membuanya harus menginjak rem secara tiba-tiba. Dia melirikku dengan tatapan kesal.

Eomma ingin bertemu denganmu”katanya singkat kemudian kembali menjalankan mobilnya, apa-apaan laki-laki ini?

Mobil sedan hitam itu kini mulai memasuki halaman rumah mewah itu.

”Turunlah”katanya pelan. Aku tidak mau turun, dengan seenaknya dia membawaku kesini, sudah kubilang aku tidak ingin mengikuti permainannya.

Kyuhyun keluar dari mobil berjalan menuju pintuku dan membukanya.

”Turunlah”katanya lagi masih dengan nada yang tadi. Aku meliriknya kesal dan segera turun dari mobil dengan segera dia kembali menarik tanganku untuk berjalan meski sekarang dia menarikku dengan lebih lembut.

”Yong Soon-ah, kalian baru pergi bersama, aigoo, ayo makan siang bersama”ibu Kyuhyun langsung menyambutku begitu masuk ke dalam rumah, terpaksa aku tersenyum. Ibu Kyuhyun menarik tanganku lembut untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan lain di rumah ini, ruang makan mereka. Ini kedua kalinya aku kesini dan dalam kondisi yang tidak jauh berbeda, laki-laki itu selalu mengajakku ke rumahnya dengan sebuah paksaan.

 

**

 

Kutatap namja yang sedang berdiri menghadapa taman rumah mewahnya ini sebentar sebelum berjalan menghampirinya, aku benar-benar harus mengakhiri ini semua. Aku sudah tidak ingin terlibat dengan hal yang sangat membingungkan ini. seorang laki-laki yang tiba-tiba memintamu menjadi kekasihnya lalu dengan tiba-tiba lagi dia bilang menyukaimu padahal pada kenyataannya kalian hanya bertemu sekali.

”Ini terakhir kalinya aku berkata, kita akhiri semua ini”dia berbalik ke arahku menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, mata obisidiannya seakan menyiratkan sesuatu yang entah aku tidak tahu apa itu.

”Tidak”ujarnya singkat dengan ekspresi datar. Kukepalkan tanganku dengan kuat, aku selalu habis kesabaran jika berbicara dengan laki-laki ini, dia selalu membuatku emosi.

”Baiklah kalau begitu aku yang akan bilang sekarang!”seruku kemudian berbalik. Namun bukannya berjalan aku malah berbalik menghadapanya ternyata dia menarik tanganku dan dengan secepat kilat aku merasakan tangannya menarik tengkukku dan sejurus kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Dia menciumku?!

PLAKK

Tanganku bergerak menampar wajahnya, dia sudah benar-benar keterlaluan, laki-laki yang tidak punya sopan santun.

”Yong Soon-ah, Kyuhyun-ah”kulihat ibu Kyuhyun kini ada dihadapan kami, aku yakin dia melihat apa yang aku lakukan tadi. Aku segera pergi dari tempat itu.

 

Apa yang dia lakukan tadi?apa maksudnya dia menciumku?aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia inginkan dariku. Kubuka pintu rumah dengan perlahan.

”Yong Soon-ah”Yeon Ji ternyata tepat di balik pintu, aku meliriknya sekilas kemudian masuk ke dalam, aku mendengar langkah kakinya yang mengikutiku.

”Apa yang terjadi padamu?”tanyanya. Kududukan tubuhku dan menggeleng pelan.

”Bagaimana kau bisa mengenal Cho Kyuhyun?”Kutatap Yeon Ji yang menatapku penasaran. Apa sebaiknya aku cerita padanya?

 

**

 

”Siapa yang kau sukai?”tanya Yeon Ji penasaran, setelah aku menceritakan semuanya sepertinya gadis ini malah semakin penasaran, bagaimana dia bisa bertanya aku menyukai siapa? Dia pikir aku terlibat cinta dengan ketiga laki-laki yang sekarang ini selalu ada disekitarku. ”Tidak ada”kataku.

”Aiden?”

”Entahlah”

”Sungmin?”

”Aku hanya menganggapnya kakak, tidak lebih” Yeon Ji menggumam pelan entah apa yang dia pikirkan saat ini. Kutaruh piring bekas makan malam ke wastafel, mencuci tanganku.

”Aku pergi dulu”kataku, hari ini aku harus bekerja, kulihat Yeon Ji masih tampak berpikir, apa sebegitu antusiasnya dia dengan ceritaku?

”Kemana kau seharian ini?”suara seorang laki-laki membuatku terlonjak kaget begitu sampai di halte dekat rumahku. Aiden bersandar di mobilnya dengan kedua tangan yang dia lipat di depan dadanya.

”Aiden”kataku mendekat padanya. Dia tersenyum lembut padaku, entah kenapa saat-saat seperti melihat senyum Aiden memberikan sebuah ketenangan. ”Maaf”lanjutku.

Gwenchana, kau mau pergi bukan?ayo aku antar”ujarnya semangat. Aku mengangguk.

Tidak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan menuju cafe, aku sibuk dengan pikiranku sendiri sementara Aiden sepertinya tidak ingin mengusikku.

”Kau bekerja disini?”tanyanya membuyarkan lamunanku, tidak terasa aku sudah sampai di depan cafe. ”Eoh, kau mau turun atau langsung pulang?”tanyaku.

”Tentu saja turun dan menunggu istriku”jawabnya. ”Tidak perlu menungguku”.

”Tidak, aku ingin menunggumu”jawab Aiden lagi, dia turun dan membuka pintuku.

”Yong Soon-ah”aku mendengar namaku dipanggil ketika turun dari mobil dan ternyata Sungmin-lah yang memanggilku. Aku tersenyum pada laki-laki dengan wajah aegyo itu. Matanya melirik Aiden disampingku dan memberikanku tatapan bertanya –siapa disampingmu?-.

”Ah, Aiden ini Sungmin temanku”kataku menolah pada Aiden yang kini sedang bertatapan dengan Sungmin. Sungmin tersenyum sekilas sebelum berjalan masuk ke dalam.

”Aku masuk dulu”kataku pada Aiden dan mengikuti langkah Sungmin.

”Siapa Aiden?”tanya Sungmin tiba-tiba, dia berjalan dihadapanku. Aku mengejar langkahnya sehingga kini aku berjalan disampingnya.

”Temanku”jawabku. ”Hm”gumamnya. ”Ah, aku mulai tahu keberadaan ayahmu”lanjutnya.

Jinjja?”tanyaku antusias. Dia mengangguk mantap. Aku benar-benar berterima kasih pada laki-laki ini, dia selalu mau membantuku. Bagaimana aku bisa membalas kebaikannya.

”Aku akan menemanimu kesana”katanya lagi. Tidak, sudah cukup dia membantuku dengan mencarikan alamatnya.

”Tidak, tidak perlu Sungmin-ah, biar aku sendiri yang kesana, aku sudah terlalu merepotkanmu, neoumu gamsaheyo

Arasso, kau akan pergi dengan namja itu kan”

”Eh?” apa maksdunya?

”Sudahlah, akan kutuliskan alamatnya semoga beruntung”

 

**

Ternyata Aiden masih menungguku, dia sedang membelakangiku saat ini, sebuah ide jahil muncul di otakku, akan aku kagetkan dia. Aku melangkah perlahan mendekatinya dan begitu mendekat aku berjinjit sedikit dan menutup matanya.

”Ya!Anita!”serunya sambil melepasakan tanganku. Dia berbalik menghadapanku, kenapa dia bisa tahu itu aku?

”Kenapa kau bisa tahu itu aku?”gerutuku. Dia malah tertawa pelan dan mengacak-acak rambutku.

”Tentu saja aku tahu segalanya tentang istriku, termasuk kebiasaan isengnya” dia tersenyum dan mencubiy hidungku. ”Hei, siapa itu Sungmin?”tanya Aiden, aku menaikkan sebelah alisku, kenapa dia bertanya seperti itu.

”Kau cemburu?”tebakku.

”Yah, tentu saja, dia terlalu dekat dengan istriku dan..dia terlihat menyukaimu”ujarnya serius, kali ini aku yang merasa lucu dan tertawa pelan.

”Tidak, dia tidak menyukaiku, aku hanya menganggapnya kakak, tidak lebih” dia mengangguk-anggukan kepalanya.

”Terserah, pokoknya jangan terlalu dekat dengannya, areo?”peringatnya padaku.

”Hah, belum menjadi istrimu saja sudah seperti ini”

”Itu karena aku sangat mencintaimu”Aiden merangkul bahuku. ”Ayo jalan-jalan dulu”

Selalu, Aiden selalu bisa membuat mood-ku berubah dengan cepat, dia selalu bisa membuatku tersenyum dengan tingkah manisnya, apa hal itu belum bisa meyakinkan diriku bahwa aku menyukainya?bahwa aku siap menjadi istrinya.

 

**

 

Tiga minggu sudah berlalu, kehidupanku mulai normal, yang dimaksud normal adalah, tidak ada lagi laki-laki menyebalkan itu. Ya sejak insiden dia menciumku itu dia tidak pernah lagi menemuiku atau bahkan menghubungiku. Apa dia sudah sadar?baguslah, sebenarnya aku masih kesal dengannya, seenaknya saja dia menciumku saat itu?!ah mengingatnya benar-benar membuatku ingin membunuhnya. Ah sudahlah semua sudah selesai.

”Yong Soon-ah, sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Tuan Cho dikantor, kau tahu kenapa?”Yeon Ji bertanya di pagi itu membuat mood­-ku langsung jelek, apalagi yang dia tanyakan adalah laki-laki itu. Hei memangnya aku siapa dia? Mengenalanya saja tidak.

”Darimana aku tahu”jawabku singkat sambil terus mencuci piring.

”Kalian sudah selesai?”pertanyaan macam apa itu?

”Selesai?!mulai saja belum”ujarku. ”Sudah jangan bahas dia lagi”.

 

Semua barang-barang sudah aku beli. Berulang kali aku memeriksa catatan belanjaanku, apa aku sudah membeli semua yang aku catat atau belum.

”Sudah, saatnya pulang”gumamku dengan menenteng dua buah kantong plastik di kedua tanganku.

”Yong Soon-ssi”suara seorang namja yang kini berjalan kearahku membuatku berhenti berjalan, sial, kenapa aku bisa bertemu dengan laki-laki ini.

”Ah ternyata itu benar kau”laki-laki itu tersenyum begitu sampai dihadapanku. Aku melenguh pelan, seharusnya aku langsung pergi saja tadi.

Wae?”tanyaku malas.

”Kyu ingin bertemu denganmu, dia ingin minta maaf tentang masalah kemarin tapi dia sedang sakit, maukah kau menjenguknya”pinta laki-laki dengan banyak nama itu tapi aku lebih suka mengenalnya bernama Spencer.

”Untuk apa?dia tidak perlu minta maaf, semua sudah selesai”kataku.

Please, dia ingin bertemu denganmu dan minta maaf”Spencer memasang wajah memohon. Apa aku harus kembali berurusan dengan laki-laki itu lagi?

 

**

 

”Dia sedang tidur, tunggu saja sebentar lagi dia bangun”Spencer pergi begitu saja meninggalkanku di dalam kamar laki-laki ini.

”Ya!”seruku namun Spencer lebih dahulu menutup pintu kamar ini. Dengan perasaan kesal aku duduk ditepi tempat tidur namja ini. Wajahnya semakin pucat saja, sepertinya dia memang sedang sakit. Sampai kapan aku harus meunggunya bangun, hanya untuk mendengarnya meminta maaf, betapa bodohnya aku mau saja diajak kesini. Sebaiknya aku pulang sekarang. Aku berdiri dari dudukku namun tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang berserakan di atas meja lampunya. Aku seperti mengenal sosok di foto itu. Dengan cepat kuambil foto-foto yang berserakan disana. Mataku membulat sempurna begitu melihat siapa orang di foto itu.

Maldo andwe”lirihku.

Itu semua aku,iya aku, itu foto-fotoku. Aku memperhatikannya satu persatu, bagaimana bisa dia memiliki foto-fotoku di Amerika, tidak, dia mengambil fotoku disana. Siapa laki-laki ini? Apakah aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?tidak, aku merasa tidak pernah bertemu dengannya, lalu bagaimana dia bisa mendapatkan semua foto-fotoku. Apa dia tahu aku tinggal dimana.

 

Aku menyukaimu

 

Kata-katanya kembali muncul dipikiranku, laki-laki ini sudah lama memperhatikanku sehingga dia bisa begitu saja mengatakan menyukaiku tapi tidak mungkin, tidak secepat itu, tidak, bahkan dia tidak pernah berinteraksi denganku di Amerika.

”Yong Soon-ah”aku mendengar suara bass miliknya memanggilku, dia sudah bangun rupanya. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

”Apa yang kau inginkan?”tanyaku sambil menunjukkan foto-fotoku dihadapannya. Bisa kulihat dia terkejut mendapati aku mengetahui semua foto-foto yang diambilnya tanpa aku sadari itu.

Advertisements

One thought on “FF:Drama Story Sixth Scene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s