FF: Drama Story Third Scene

Third Scene

 

Matahari terlihat malu-malu menunjukan dirinya padahal ini sudah masuk musim semi, sepertinya aku memang tidak akan pernah melihat matahari yang sesungguhnya di Seoul, mendadak aku menjadi rindu matahari California, hangat dan terang.  Aku tidak akan pulang sebelum bertemu ayah.

Masalah Aiden yang akan datang pun aku tidak memikirkannya lagi, terserah dia akan datang atau tidak. Kulangkahkan kakiku keluar apartemen dan menuju pusat pertokoan di Seoul,Myeongdong.

Agaknya hari ini lebih ramai dari yang biasanya, sebenarnya tempat ini tidak pernah sepi pengunjung baik dari penduduk sekitar sini ataupun wisatawan yang ingin membeli souvenir khas negeri ini karena harganya yang murah-murah.

Aku melihat sebuah hanbok dipajang sebuah toko hal itu mengingatkanku ketika aku berusia 14 tahun, sekolahku di California mengadakan pesta Hallowen dan kau tahu apa yang ibu berikan padaku sebagai kostum, hanbok,kadang ibuku itu aneh, hallowen pesta hantu kenapa kau harus pakai hanbok, 3 tahun setelah itu aku sadar ada hantu Korea yang menggunakan hanbok, jadi ibu menyuruhku menjadi hantu korea, sangat lucu jika mengingat itu.

”Choi Yong Soon”aku mendengar namaku disebut dengan penuh penekanan, lamunanku tentang masa remajaku buyar, aku berbalik dan kaget melihat dua orang dengan tubuh besar dan tegap ada dihadapanku, mata mereka menatapku tajam.

Waeyo?”tanyaku berusaha setenang mungkin sekligus mencocokan wajah-wajah dihadapanku ini dengan beberapa orang yang kukenal dan Bingo, mereka berdua dalah orang yang kemarin aku temui, jinjja, mereka sepertinya benar suruhan pria yang kupukul itu.

”Maaf sepertinya aku tidak punya waktu meladeni kalian”aku berkata dengan santai dan lebih memilih untuk meninggalkan mereka namun tiba-tiba salah seorang dari mereka mencengkram tanganku.

”Ya!lepaskan aku!”seruku sambil berusaha melepaskan tanganku.

”Ikut kami!”sergah salah satu dari mereka dengan topi berwarana merah, bisa kulihat tatapan menyeramkan mereka.

Mereka pikir semudah itu membawaku, dengan kemampuan yang aku punya, aku memelintir tangan mereka sehingga aku bisa melepaskan tanganku lalu menginjak kaki mereka berdua.

Aku berlari menghindari mereka, ok aku memang bisa bela diri tapi dihadapanku ada dua orang, itu mungkin akan sedikit berat. Aku mendengar mereka meneriaki namaku, memanggilku untuk kembali, sial, aku semakin mempercepat lariku.

Sangat sulit berlari dalam keadaan ramai seperti ini, beberapa kali aku hampir menabrak orang, aku menengok kebelakang dan mereka masih mengejarku, nafasku mulai tersengal-sengal,mataku mencari tempat sembunyi yang aman tapi tidak ada.

Jwesonghamnida, jwesonghamnida,jwesonghamnida”ucapku berkali-kali karena aku terus-terusan hampir menabrak orang yang berlalu –lalang.

Sial, apa yang harus aku lakukan, di depan aku melihat halte bus terpikir untukku naik bus apa saja agar mereka tidak mengejarku namun aku ingat uangku hanya untuk pulang, kalau sampai aku pergi kemana saja dan tidak tahu jalan pulang bagaimana? Apalagi aku baru setahun disini, aku belum begitu mengenal Seoul.

”Ya!jangan lari kau!”teriakan mereka kembali terdengar dan rasanya semakin dekat, aku menengok kebelakang, benar mereka semakin dekat.

”Bagaiman..”ucapanku terhenti ketika aku merasakan kepalaku menabrak tubuh seseorang, seseorang itu menahan tanganku agar tidak jatuh, sial kenapa harus menabrak orang segala.

Aku mendongak dan berniat untuk meminta maaf dan segera berlari lagi apalagi saat aku mendengar suara mereka yang lantang itu.

Jwesonng..

”Choi Yong Soon”lagi-lagi kata-kataku terhenti, hei kenapa seharian ini banyak sekali yang memanggil namaku namun cara dia memanggil berbeda dengan kedua orang itu, dia menyebutkan namaku seakan merasakan sebuah kelegaan telah bertemu denganku.

Minahe,kalau kau punya masalah denganku nanti saja, aku harus segera pergi”kataku buru-buru dan meninggalkannya, lagi-lagi sebuah tanga mencengkram tanganku dan kali ini orang yang kutabrak tadi dan setelahnya aku merasa dia membawaku berlari. Apa yang dia lakukan? Apa dia salah satu dari orang suruhan pria yang kupukul, sama seperti dua orang yang mengejarku, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia memakai topi yang menutupi sebagian wajahnya.

 

**

 

Aku bersembunyi di belakang sebuah toko roti sederhana yang sudah keluar dari kawasan Myeongdong, gila aku lari sampai jauh dari Myeongdong, sepertinya tawaran menjadi sprinter dulu dari senior high school-ku harusnya kuterima, menilik aku bisa berlari sejauh itu. Sayang, aku sudah lulus.  Aku berusaha mengatur nafasku yang ternegah-engah akibat ’lomba lari’ tadi, aku baru sadar ada suara nafas lagi disebelahku, benar, tadikan orang ini yang menarikku pergi. Dia menyelonjorkan kakiknya dan bersandar di dinding, aku terus memperhatikan gerak-geriknya, ketika dia mulai membuka topinya dia menoleh padaku.

”Kau punya masalah apa sampai dikejar seperti itu hah?”tanyanya nafasnya sudah mulai normal kembali namun peluh memenuhi tubuhnya.

Aku tidak menjawab dan malah memperhatikan namja di hadapanku ini, ya dia adalah seorang laki-laki. Rambut blondenya, tubuh yang kurus dan rahang yang tegas, dia tidak tampan cenderung lucu.

”Ya, kenapa kau terus menatapku, apa aku sangat tampan, hah”ujarnya, aku langsung melengos, apa semua laki-laki itu narsis, Aiden juga seperti itu.

”Kenapa kau bisa mengenalku?”tanyaku langsung, setelah mengamati wajahnya sebentar, aku yakin tidak pernah mengenal bahkan bertemu laki-laki ini.

”Aku terpaksa mengenalmu”jawabnya sambil kembali memakai topinya.

Aku sungguh tidak mengerti jawabannya itu, terpaksa mengenalku? Dia berdiri dari duduknya dan mengamati jalanan dari balik toko ini.

”Sudah aman”katanya saat kembali berbalik, aku masih terus menatapnya, masih tidak mengerti dengan jawabannya tadi.

”Hei apa aku memang sangat tampan sampai kau menatapku seperti itu”ujarnya dengan tatapan prihatin.

”Apa semua laki-laki memang terlalu percaya diri dengan apa yang dia miliki”kataku ketus, rasanya lama-lama sebal juga jika dia terus bernarsis ria seperti tadi.

Dia terkekeh pelan, apa yang lucu? Laki-laki yang sangat aneh apalagi dengan rambut blonde itu, dia pikir dia orang Eropa hah?wajah begitu Asia ingin berpenampilan seperti orang Eropa, ck.

”Ada yang lebih percaya diri lagi dibandingkan aku, oiya aku baru ingat kenapa aku terpaksa mengenalmu, ayo ikut aku”

Apa yang dia katakan barusan lagi-lagi sangat aneh, untuk apa aku ikut dengannya? Ok otakku sudah sangat penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang laki-laki yang kini sudah mulai berjalan meninggalkanku.

”Tenang saja mereka sudah pergi jauh, kau aman, ayo cepat”dia berhenti berjalan dan berbalik lalu tersenyum, dia punya senyum gusi, itu semakin membuat wajahnya sangat lucu.

Meski dia bilang begitu aku tidak beranjak dari tempatku berdiri, untuk apa aku mengikutinya, lagipula kalau dia orang jahat bagiamana? Aku hanya menatap punggunya yang semakin jauh, benar-benar laki-laki aneh.

”Ya!kenapa kau masih berdiri disitu!cepatlah!dia akan memarahiku!”serunya kembali berjalan kehadapanku dan dengan sekali gerakan menarik tanganku berjalan.

”Ya!lepasakan aku, kau mau apa hah?”tanyaku sudah bersiap mengeluarkan kemampuan bela diriku, hanya satu orang itu gampang apalagi dia kurus.

”Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu”jawabnya santai ketika kami sudah sampai dipinggir jalan dan aku baru sadar ada sebuah mobil Volvo berwarna silver di hadapanku, wow laki-laki ini sepertinya bukan orang sembarangan atau lebih tepatnya dia adalah orang kaya, orang tuanya yang kaya, itu yang benar.

”Masuklah”katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku.

”Maaf aku tidak mengenalmu”kataku singkat dan berjalan meninggalkannya, aku tidak tahu apa maksud laki-laki ini tapi aku tidak akan pergi sembarangan dengan laki-laki yang belum kenal dan belum jelas apa tujuannya.

”Yong Soon-ssi, ayolah bantu aku sekali ini, anggap saja sudah menolongmu dari kejaran dua pria itu, aku sudah mencarimu seminggu ini, dia akan membunuhku kalau tidak membawamu, ayolah tolong aku”laki-laki itu menatapku dengan tatapan memohon ketika dia sudah bisa mengejar langkahku.

Dibunuh? Apa maksud laki-laki ini? hah dia selalu membuatku bingung.

”Apa maksudmu?’tanyaku.

”Akan aku jelaskan di mobil yang penting ikutlah denganku, ayolah”pintanya lagi, wajahnya memelas dan entah kenapa aku merasa iba, wajahnya benar-benar terlihat sangat kasihan, apa sebaiknya aku ikut saja? Kalau dia berbuat jahat padaku aku yang akan membunuhnya bukan orang yang dia sebut-sebut ingin bertemu denganku.

 

**

”Jadi seberapa kenal kau denganku?”aku bertanya menyelidiki kemungkinan dia membohongiku dengan kata-kata dia mengenalku padahal sebenarnya tidak dan juga apa maksud dari kata-kata terpakasa mengenalku.

Dia mendesah pelan dan melirikku sekilas.

”Kau adalah Choi Yong Soon, usia 22 tahun, lahir dan besar di California, ibumu sudah meninggal dan kau baru setahun disini, ada lagi Agassi?”tanyanya di akhir kalimatnya lengkap dengan senyum gusinya.

Bagaimana dia bisa tahu? Apa dia memata-mataiku.

”Sebenarnya aku tahu yang lain tapi sebaiknya aku jelaska di dalam saja karena kita sudah sampai”ucapnya.

Aku baru sadar kami sudah sampai di sebuah kawasa apartemen yang sangat megah kurasa dan apa?!bukankah ini kawasan Star City di Apgeujong? Meski aku baru setahun disini aku tahu ini kawasan elit, benar ternyata laki-laki yang sedang mengendarai volvo ini bukan orang sembarangan, apa dia pemilik suatu perusahaan?jika iya untuk apa dia mengenalku? Kembali otakku penuh dengan pertanyaan.

Aku dan laki-laki itu turun tepat di apartemen dan menyerahkan kunci mobilnya kepada orang di depan pintu masuk untuk memarkirkan mobilnya.

”Dia tinggal disini”ujarnya singkat sambil berjalan disampingku yang masih mengamati bangunan apartemen ini dengan seksama, meski tidak semegah apartemen di LA tapi dari seluruh kawasan apartemen di Seoul inilah yang terbaik.

”Ya!kau tidak berniat menjualkukan?”pertanyaan itu terlontar begitu saja saat kami sedang menunggu lift, dia tertawa pelan, sebenranya itu hanya pertanyaan pancingan, meski dia sangat aneh namun aku merasa dia laki-laki yang baik.

”Aku laki-laki yang baik, tenang saja, lagipula kalaupun dijual sepertinya kau…”dia menggantungkan kalimatnya dengan memperhatikanku dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai. Aku merasa risih dengan tatapannya.

mwohae?” kataku galak, dia tersenyum simpul dan tepat setelah itu lift terbuka, dia menekan nomor 9 setelag lift tertutup.

 

**

 

”Kau lulus dari universitas musik hanya dalam waktu tiga tahun, lulusan terbaik, jago bela diri, wow sangat impresif untuk gadis tomboy sepertimu”ucapnya setelah menceritakan seberapa kenal dia denganku dan Damn, he knows everyhting.

”Aku hanya boleh bicara sampai ini, dia yang akan menjelaskan kenapa kau ada disini, sebentar lagi dia akan datang” aku penasaran dengan orang yang dia sebut tidak pernah ada namanya ini, dia laki-lakikah atau perempuan? Kenapa dia sangat bertemu denganku bahkan sampai menyuruh orang?kurasa aku tidak punya masalah dengan orang kaya yang tinggal di kawasan ini.

”Kau mau minum?”tanyanya sambil berdiri dari duduknya menuju dapur apartemen ini, kurasa itu dapur mengingat dia ingin mengambilkan minum untukku.

”Tidak usah”kataku buru-buru namun dia sudah kembali lagi.

”Kalau seorang wanita mengatakan tidak usah sebenarnya dia mau, hanya basa-basi saja”dia kembali duduk dihadapanku dan memberikanku segelas air putih.

”Ini apartemenmu?”tanyaku penasaran, dia bilang orang itu mau bertemu denganku, aku pikir ini apartemennya tapi kenapa laki-laki dihadapanku ini bisa masuk kesini? Semuanya sangat membingungkan, aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mau saja diajaknya kesini bertemu orang yang sama sekali tidak aku kenal, aku merasa aneh dengan diriku.

”Bukan ini miliknya, oiya aku belum mengenalkan diriku, aku Spencer atau Hyuk Jae, Yong Soon-ssi”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s