FF: Milagro del Amor Part 9

9th Chapter

 

Sepuluh hari berlalu, musim semi datang. Bunga bermekaran dengan indahnya menghiasi hampir seluruh kota Bologna. Seorang gadis berdiri dipuncak gunung Apennine. Ia memejamkan mata merasakan segarnya udara musim semi yang lama ia nanti. Tak lama, ia merasakan kedatangan seseorang dengan bau khas yang sangat ia kenal. Gadis itu sengaja tak membuka matanya, tetap merasakan udara yang mengalir dengan merentangkan kedua tangannya. Orang tersebut semakin dekat kemudian memeluknya dari belakang. Menghirup aroma tubuh gadis itu. Tubuhnya bergidik langsung membuka mata dan memalingkan wajahnya tepat di depan wajah seseorang yang memeluknya tadi. Laki-laki itu hanya tersenyum melihat respon yang diberikan gadisnya itu.

 

“Tidak berubah.” Katanya tersenyum jahil. Tangannya tetap mengait di pinggang gadis itu.

“Tentu saja. Tidak akan ada yang berbeda dariku. Begitu pula dengan hatiku.” Ucapnya dengan menatap lekat kedua mata laki-lakinya. “Cintaku hanya untukmu, Marcus.” Katanya lagi. Kedua tangannya bertaut dibalik punggung Marcus. Memeluknya erat.

Marcus tersenyum senang mendengarnya. “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Anita.” kata Marcus melepas pelukannya, dikecup hangat kening Anita.

ªªª

 

“Aku pergi, Dennis.” Ucap Anita meluncur pergi meninggalkan Denish, Alishia dan Aletha yang sedang berkumpul di ruang tengah, sedangkan Cheryl yang sedang asik memainkan pianonya terhenti sejenak melihat kakanya itu.

“Aku ikut.” Cheryl menyusul Anita.

“Dia menjadi lebih ceria akhir-akhir ini.” Sahut Alishia menilai perubahan adiknya itu.

Dennis hanya menatap kosong arah perginya Anita dan Cheryl. “Ia menemukannya.” Gumam Dennis namun dapat di dengar kedua anaknya.

“Menemukan? Apa yang kau maksud?” Alishia menautkan alisnya mencoba mencerna maksud kata-kata Dennis.

“Bukan sesuatu yang buruk kan ayah?” Aletha mulai mencemaskan perubahan kaka yang paling dekat dengannya itu.

“Dia anak yang cerdas.” Sahut Dennis. Raut kekhawatiran akan purtinya itu terlihat jelas di wajah Dennis.

ªªª

 

Anita dan Cheryl berjalan berdampingan dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Terkadang Anita tersenyum akibat bayangan yang muncul dalam pikirannya begitu pula dengan Cheryl.

 

“Manusia itu lagi?” tanya Anita memecah keheningan. Cheryl tersadar dan  melihat kepada Anita.

“Apa kau berubah profesi menjadi seorang detektif sekarang?” Cheryl tidak suka Anita selalu ingin tahu apa yang ia lakukan. Rasa ingin tahu yang dimiliki Anita terkadang membuat Anita menjadi sedikit menyebalkan bagi Cheryl. “Berhenti mengikutiku dan ingin tahu tentang apa yang ku lakukan. Urusi saja urusanmu.” Tambah Cheryl dengan nada bicara sedikit ketus.

Anita berhenti berjalan dan menatap adiknya itu. “Aku hanya mengkhawatirkanmu.” Ucap Anita. Cheryl juga menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Anita.

“Seharusnya kata-kata itu bukan untukku, melaikan dirimu sendiri. Menjauhlah dariku.” Cheryl pergi meninggalkan Anita yang mematung mendengar kata-kata yang ia ucapkan. Cheryl terpaksa mengatakannya, ia tak mau Anita dalam bahaya karena dekat dengannya.

 

Anita terdiam. Ia bingung dengan sikap Cheryl padanya. ditatapnya Cheryl yang pergi meninggalkannya hingga bayangannya hilang. “Ada apa dengan dirimu?” tanya Anita pada dirinya sendiri. Ia kembali berjalan menuju puncak gunung Apennine dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya mengenai perubahan sikap Cheryl terhadap dirinya.

Sesampainya di puncak gunung Apennine, ia melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi berambut coklat keemasan dengan dada bidang menambah kesan cool pada dirinya. Anita berjalan perlahan menuju orang tersebut. Tak ada kata yang keluar ketika Anita berada disampingnya. Pikiran Anita masih terfokus kepada Cheryl.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya laki-laki itu.

Anita bergeming. Pikirannya masih penuh dengan Cheryl. Hatinya bertanya-tanya, apa ia melakukan suatu kesalahan?

“Takkan kau temukan jawabannya dalam benakmu itu.” ujar laki-laki itu lagi seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Anita. “Katakanlah apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya lagi. kini kedua tangannya memegang bahu Anita mengarahkan menghadap dirinya.

Anita menatap kedua mata laki-laki itu dan tersenyum seolah berkata tak ada yang perlu ia ceritakan pada laki-laki itu. Anita menampik semua pikiran tentang Cheryl yang mengganggunya.

“Kau tahu Marcus, aku menaruh dendam yang sangat besar kepada makhluk yang memisahkan kita. Janjiku akan ku bunuh makhluk itu jika aku bertemu dengannya.” Anita terdiam sejenak kemudian kembali melanjutkan ceritanya. Marcus hanya diam mendengarkan Anita. “Aku hampir gila mencari Makhluk itu sampai suatu saat aku bertemu dengan Dennis dan ia menjadikanku makhluk immortal. Aku tak menyesali perubahan diriku ini karena aku yakin peralihanku menjadi makhluk immortal membuatku dengan mudah menemukan makhluk itu dan membunuhnya.”

“Kau telah membunuhnya?”

“Tak sulit menemukannya karena kami satu golongan, tapi untuk membunuhnya tak semudah menemukannya.” Anita menghembuskan nafas berat. “Secara tidak langsung Dennis yang memaksaku untuk mengubur dalam-dalam dendam ini. Makhluk itu sangat dekat dengan keluarga ku terlebih dengan Dennis. Aku tak mau mengecewakannya, ia berharga bagiku.”

Marcus merangkul pundak Anita seolah memberikan ketenangan baginya. “Lupakanlah.” Ujar Marcus.

“Marcus..” panggil Anita. Marcus hanya berdehem sebagai jawabannya.

“Bangsaku adalah mangsa untuk kalanganmu. Apakah suatu saat nanti kau akan membunuhku?” Marcus tertegun mendengar pertanyaan Anita. Marcus lama terdiam. Anita Gadis yang sangat ia cintai, namun Makhluk seperti Anita pula yang menjadi target pembalasan dendamnya.

“Apa yang kau buru selama ini?” tanya Marcus tanpa menjawab pertanyaan Anita.

“Dennis selalu mengajarkan kami untuk lepas dari manusia dan binatanglah sebagai gantinya.” Jawab Anita.

“Kalau begitu aku tak akan membunuhmu.”

ªªª

 

Cheryl berjalan lunglai menuju perkotaan. pikirannya penuh dengan rasa bersalah pada Anita. Ia sengaja melakukan hal itu, ia takut Anita menjadi korban jika terus mengikutinya. Ketakutan yang sama ia rasakan pula terhadap Nathan. semenjak kejadian kala itu Cheryl mencoba untuk menjauh dari Nathan hampir seminggu Cheryl tak mengunjunginya. Ia tak mau Nathan dalam bahaya jika ia terus bersamanya. Namun mudah bagi Cheryl untuk lepas begitu saja, bayang-bayang Nathan selalu berjalan bagaikan film dalam benak Cheryl. Hal ini yang membuat Cheryl memutuskan unutk menemuinya walau hanya sekali. Tapi tanpa Cheryl sadari sepasang mata menangkapnya berjalan menuju perkotaan yang merupakan daerah larangan bagi klan-nya.

 

Cheryl sampai pada sebuah toko dimana toko itu sedang ramai pengunjung. Cheryl menganggap ini kesempatan yang pas baginya. Ia berdiri didepan kaca besar sebagai pembatas toko itu dengan lingkungan luar. Dari kaca itu dapat dilihat dengan jelas aktifitas yang terjadi di dalam. Cheryl juga dapat melihat seseorang yang dirindukannya. Cheryl tersenyum tipis melihat laki-laki itu. Tiba-tiba Cheryl teringat kata-kata yang sempat di ucapkan Nathan. Bagaikan benda tajam yang memilet hatinya ketika ia mengingatnya.

 

“Aku juga mencintaimu.” Gumam Cheryl. Kata-kata itu sangat ingin ia lontarkan kepada Nathan, namun Cheryl menyadari bahwa mereka tak dapat bersatu. Cheryl menghela nafas berat, mencoba untuk melepas beban dihatinya. Cukup hanya melihatnya, Cheryl pun melangkahkan kakinya pergi dari toko kue itu.

“Cheryl.” Panggil seseorang. Mendengar namanya di panggil Cheryl menghentikan langkahnya. Ia berbalik menoleh kebelakang.

“Nathan.” sahutnya.

“Hanya itu yang kau lakukan?” tanya Nathan, terdengar dari nada bicaranya terselip amarah. “Apa yang kau lakukan hah? Kau tahu betapa tersiksanya aku tanpa kabar darimu? Aku seperti orang bodoh yang selalu menunggumu. Pagi, siang, malam aku berdiri disini berharap kau muncul di hadapanku. Aku seperti orang idiot yang setaip saat memikirkanmu. Apakah kau sedang sakit atau kau marah padaku karena pernyataanku saat itu. Kini kau datang hanya melihatku tanpa menemuiku? Kau egois Cheryl.” Nathan mencurahkan seluruh kekesalannya pada Cheryl. Tanpa ia sadari butiran hangat menetes dari kedua matanya. Cheryl tak bergeming. Hanya sesak yang ia rasakan. Vheryl ingin menumpahkan rasa sesaknya sama seperti yang dilakukan Nathan, namun ia tak mampu melakukannya, karena ia makhluk immortal. Baginya Nathan adalah satu-satunya orang yang menangis untuk dirinya.

 

Perlahan Cheryl berjalan mendekati Nathan tanpa melepaskan sedikitpun pandangan matanya dari sosok laki-laki itu. Cheryl mendekap erat tubuh Nathan, begitupun sebaliknya.

“Maafkan aku.” Ucap Cheryl. “Tapi ini yang terbaik untukmu.” Lanjutnya. Cheryl melepaskan pelukannya dan tersenyum. “Besok aku akan datang lagi.” Cheryl lantas pergi sebelum Nathan sempat berbicara.

ªªª

 

“Joshua.” Sapa Alishia yang baru saja keluar dari kamarnya. Joshua merupakan klan Boia Nerro. Klan Boia Nerro adalah klan tertinggi dan memiliki kuasa penuh dikalangan vampire. Klan ini juga yang membuat beberapa peraturan yang patut unutuk di taati oleh semua vampir.

Mendengar nama salah satu petinggi klan Boia Nerro itu di sebut Dennis menghentikan kegiatan membaca bukunya dan berjalan menghampiri Joshua.

“Haruskah ku buatkan pesta untuk emnyambut kedatanganmu?” Tanya Dennis dengan tangan kananya menepuk bahu sebelah kiri Joshua. Dennis memang akrab dengan para petinggi di klan Boia Nerro, tapi keakraban mereka tidak membuat Dennis bersikap sesuka hati. ia tetap mematuhi peraturan yang klan Boia Nerro buat. Hal itu juga yang di ajarkan Dennis pada keepat anaknya.

“Darah segar disetiap kedatanganku.” Gurau Joshua.

“Apa kabar Joshua?” Tanya Alishia yang ikut bergabung dengan mereka.

“Hai Alishia. Kurasa kecantikanmu kian bertambah setiap detik.” Puji Joshua sebagai jawaban atas pertanyaan Alishia.

“Kau berdusta Joshua.” Tawa pecah diantara mereka. ”Ayah, aku pergi.” Pamit alishia pada Dennis.

“U-Know akan datang malam ini.” Dennis mencoba mengingatkan janji yang telah dibuat U-Know dengan Alishia.

“Aku dapat mengingatnya dengan baik ayah.” Jawab Alishia dan langsung melesat pergi meninggalkan Dennis dan Joshua.

“Hubungan itu masih terjalin baik?” Tanya Joshua.

“Ya. Terlebih sejak ada mereka bersamaku.” Jawab Dennis sambil berjalan menuju sofa dimana tempat ia membaca tadi.

“Kau sosok ayah yang baik bagi mereka, aku yakin itu.” ucap Joshua tiba-tiba. “Pertegaslah perhatianmu pada keempat anakmu.” Lanjutnya.

Dennis diam mendengar pernyhataan Joshua. Ia paham betul arti dari kata-kata itu. Joshua pasti sudah melihat salah satu dari keempat anaknya yang melanggar peraturan.

“Aku takkan mengatakan hal ini pada Casey. Cegah mereka sebelum Casey mengetahuinya.” Joshua beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Dennis yang masih sibuk dengan pikirannya. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau membatasi ruang gerak keempat anaknya. Namun Dennis juga tak mau anak-anaknya melakukan hal yang tidak sepatunya mereka lakukan.

 

Pulanglah sebelum matahari terbenam. Dennis mencoba memberi pesan kepada anak-anaknya.

ªªª

 

Sudah hampir seminggu Alishia tidak memenuhi hasrat dirinya akan darah. Kini ia berjalan menyusuri hutan untuk berburu. Selama perjalanan menuju hutan, ia memikirkan pertemuannya dengan U-Know nanti malam. Apa yang harus ia lakukan dengan laki-laki itu? pertanyaan itu terus menggelayut di pikirannya. Semenjak kejadian itu ia dan U-Know intensitas bertemu mereka berkurang. Alishia mensyukuri itu. Ia berharap U-Know dapat terlepas dari dirinya. Namun , saat Dennis memberi tahunya kemarin bahwa U-Know ingin mengajakku pergi ke castilnya Alishia tak dapat menolaknya. Ia tak mau melihat gurat kekecewaan di wajah Dnnies jika mendengar penolakan dari dirinya nanti.

 

“Apa yang sebenarnya kau lihat dari diriku U-Know?” tanya Alishia, lebih tepatnya pertanyaan itu ditujukan pada dirinya.

Dari jarak 3 meter Alishia dapat mencium bau mangsanya. Tanpa menunggu lama ia langsung memangsa hewan buruannya itu. Ia sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya akan darah. Alishia memangsa hewan itu tanpa melihat keadaan sekitar.

Disisi lain seorang laki-laki sedang melenturkan tubuhnya sambil mengambil beberapa gambar menggunakan kameranya seusai ia menyelesaikan tugasnya membuat tempat untuk ia tinggali sementara waktu ditempat itu.

“Ahh,, tidak terlalu buruk juga. Aku masih bisa hidup di tempat ini.” ucapnya kemudian ia berjalan menyusuri daerah itu tetap dengan mengambil beberapa gambar. Hingga suatu saat ia melihat objek menarik yang menurutnya wajib untuk ia abadikan.

 

Laki-laki itu mengambil posisi agar objek tersebut tidak menyadari kehadirannya. Ia berhasil mengambil beberapa photo. Namun setelah ia perhatikan kembali pada photo yang barusan diambilnya, laki-laki itu merasa ada hal yang mengganjal. Ia seperti mengenal objek yang di photonya.

 

“Alishia.” Gumamnya. Laki-laki itu cepat menujukan pandangan matanya pada posisi dimana objek itu berada. Sepertinya terlambat baginya untuk membuktikan hal yang ia curigai. Ditempat itu tak nampak hal yang menjadi objeknya tadi.

Laki-laki itu kembali melihat dengan teliti photo yang iya ambil. Iya yakin sekali, yang berada dalam photo itu adalah Alishia, dengan seekor hewan yang berlumuran darah.

“Mungkinkah?” gumamnya.

Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.”tidak mungkin,, tenanglah Spencer. Alishia gadis normal. Ia tak mungkin melakukan hal itu.” katanya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Belum genap 24 jam ia berada di tempat tinggalnya yang baru, Spencer dikejutkan dengan hal yang berhubungan dengan seseorang yang membuatnya memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke tengah hutan, hal tidak masuk kedalam nalar pikirannya.

“Itu semua benar.” Ucap seseorang dari arah utara tempat Spencer berdiri. Spencer melihat sosok laki-laki tanpa mengenakan pakaian atasnya dengan celana pendek, bertubuh tinggi kekar.

Spencer memicingkan matanya melihat laki-laki itu. “Siapa kau?” tanyanya.

Laki-laki itu mendekati Spencer, satu langkah laki-laki itu mendekatinya, langkah yang sama Spencer berjalan mundur.

“Aku tak akan menyakitimu. Aku Andrew.” Ucapnya mengenalkan diri dengan menjulurkan tangan kanannya.

Dengan ragu-ragu Spencer menjabat balik tangan Andrew. “Spencer.” Sahutnya.

“Apa yang kau lihat tadi benar.” Ucap Andrew, membuka kembali rasa penasaran yang sempat tergantikan dengan rasa penasaran Spencer terhadap dirinya.

“Apa maksudmu?” tanyanya. “Kau mengenal Alishia? Apa hubunganmu dengannya?” tanyanya lagi.

“Aku memang tak mengenal baik gadis itu, tapi aku mengenal baik lingkungan gadis itu.” jelasnya. Spencer semakin tak mengerti maksud dari pernyataan Andrew. Mengenal baik lingkungan Alishia? Apa maksudnya? Siapa dia sebenarnya?, tanyanya dalam benaknya.

“Aku tak mengerti. Jelaskan padaku.” pinta Spencer.

Andrew tersenyum melihat Spencer dengan rasa penasarannya yang tinggi. “Ikut denganku.” Ajak Andrew. Spencer tak serta merta mengikuti langkah Andrew, ia justru mengeluarkan gerakan-gerakan bak seorang pendekar. Andrew tertawa melihat tingkah polah Spencer. “Aku tak akan memangsamu. Jika kau ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu, ikut denganku.” Mendengar itu Spencer tak berpikir panjang lagi langsung mengikuti langkah Andrew pergi.

ªªª

 

“Dimana Max?” tanya seseorang pada laki-laki yang sedang membersihkan binatang piaraannya yang telah di awetkan itu.

Laki-laki itu pun menoleh ke arah sumber suara. “Aletha.” Sahutnya.

“Hai Vincent.” Sapanya. “Kau sendiri? dimana U-Know?” tanyanya lagi.

“Siapa yang kau cari sebenarnya?”

“Max.” Jawabnya singkat.

“Dibelakang. Dia sedang membuat sesuatu untukmu.” Jawabnya. Aletha tertarik dengan kata-kata terakhir Vincent.

“Membuat sesuatu untukku? Apa itu?” tanyanya lagi meyakinkan.

“Kau akan tahu jika kau menghampirinya.”

“Baiklah.” Aletha berjalan menuju tempat dimana Max berada.

Sesampainya ia diruangan belakang castil klan Calabria ruangan itu lebih tepat dibilang dapur, ia memang melihat Max. Ia terlihat seperti sedang menyiapkan sebuah minuman. Namun Aletha mencium aroma yang mengganggu rongga hidungnya.

“Ummh.. baunya tak bersahabat denganku Max, membuatku sulit bernafas” Ucap Aletha mengomentari hal yang menggangunya. Max menoleh kebelakang melihat sosok yang berbicara padanya.

“Kau tidak melakukan hal itu Aletha.” Sahutnya. Aletha berjalan mendekati Max dengan kedua jari yang menutup hidungnya. Max melirik kearahnya dan tersenyum.

“Untukmu.” Max menyerahkan sebuah gelas yang berisikan cairan berwarna merah, yang menurut Aletha mengeluarkan aroma tak sedap.

Aletha mengambil gelas yang diberikan kepadanya dengan tetap menutup lubang hidungnya. “Apa ini?” tanya Aletha memerhatikan dengan saksama isi dari gelas itu.

“Minumlah.” Suruhnya.

Aletha hanya memandang kepada Max. “Akh.. aku tak suka aroma ini. menyulitkaku. Kau mencoba meracuniku Max?” Aletha bergurau seolah-olah memandang curiga Max.

“Itu perbuatan koynol yang sia-sia Aletha. Cepat minum.”

“Baiklah.” Aletah mulai meminum cairan itu sedikit demi sedikit. Nampaknya Aletha menyukai rasa cairan yang ia nilai mengeluarkan aroma tak sedap itu.

Aletha menyeka mulutnya tengan punggung tangannya. “Emh,, tidak terlalu buruk.” Ujarnya.

“Hanya seekor citah liar, yang kuburu kemarin dan sengaja ku simpan untukmu. Kau akan segera merasakan khasiatnya.”

Aletha terkejut endengar nama hewan buas itu disebut oleh Max.”Sedikit membuatku segar.”

“Ada apa?” tanya Max sembari berjalan menuju ruang tenga diikuti Aletha dibelakangnya.

“Temani aku ke sungai perbatasan itu Max.” Pinta Aletha. Max terkejut mendengar permintaan Aletha. Max memandang tajam kepada Aletha.

“Aku hanya mau memberikan ini untuk Jeremy Max.” Jelas Aletha sebelum Max bertanya alasan kepadanya dan menunjukan benda yang ingin ia berikan kedapa Jeremy.

 

Max terkejut melihat benda yang ingin diberikan Aletha itu. Sebuah lukisan yang menggambarkan sosok binatang mirip seperti seekor anjing dengan tubuh yang lebih besar dan terdapat pula wujud peralihan dalam bentuk manusianya. Max tak menyangka bahwa Aletha sudah mengenal salah satu anggota klan itu. “Kau bahkan sudah mengenalnya.” Max kesal, Aletha dekat dengan sosok bernama Jeremy itu.

“Ia tak jahat seperti yang kau dan keluargaku ceritakan Max. Ia sosok yang sangat hangat, walaupun terkadang aku takut mendengar aungannya.” Aletha mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Max. Membuktikan bahwa yang mereka sangka selama ini tidak benar. Klan Mannore bukanlah klan yang jahat dan kasar justru sebaliknya, itulah yang ia tau.

“Kau tidak mengenalnya dengan baik Aletha.” Ujar Max dengan nada bicara sedikit dingin.

“Aku mengenalnya dengan baik Max. Ikut denganku, kau akan percaya bahwa semua yang ku katakan ini benar.” Nyatanya Max malas untuk ikut bersama Aletha menemui Mannore itu. tapi ia mengubah pola pikirnya dan memutuskan untuk menemani Aletha ke sungai perbatasan itu dengan maksud menjaga Aletha. Max takut sesuatu terjadi jika Aletha pergi sendiri ke daerah itu.

ªªª

 

Suasana  yang berbeda terasa di Klan Cacciatore. Zhoumi, Nikki, Henry, Elias sedang berkumul diruang tengah dengan meminum secangkir kopi dan tengah menunggu seseorang yang sudah 3 hari tak pulang. Terlihat sekali ketengangan diantara mereka. Seperti sesuatu yang buruk telah terjadi.

Terdengar suara knop pintu berputar. Benar,, orang yang mereka harapkan telah datang.

 

“Darimana saja kau Marcus?” Tanya Zhoumi tanpa basa-basi lagi. menurutnya tak ada waktu untuk berbasa-basi lagi. semua mata yang berada diruangan itu menatap lekat Marcus.

“Ada apa?” tanyanya santai. Zhoumi geram dengan respon yang di berikan Marcus.

“Baca ini.” Elias melemparkan sebuah media cetak. Marcus duduk dibangku sebelah Nikki dalam media cetak itu dimana salah satu kolomnya memuat artikel yang memberitakan bahwa ditemukan 3 mayat siswa SMA di sebuah gang kecil daerah pertokoan, pada tubuh mayat tersebut terdapat dua lubang bekas gigitan di bagian leher yang disinyalir lubang tersebut bukan dikarenakan terkaman hewan buas, tak jauh dari tempat itu ditemukan 2 mayat wanita pekerja sebuah bar dengan bekas luka yang sama. Kelima mayat itu ditemukan dihari yang sama oleh orang-orang sekitar. Pihak kepolisian masih menunggu hasil otopsi dan menyelidiki sebab dari tewasnya 3 siswa SMA dan 2 wanita ini.

Mata Marcus membulat usai membaca artikel tersebut. “Tidak mungkin.” gumamnya namun dapat terdengar jelas oleh Nikki yang tepat berada disampingnya.

Nikki terkejut mendengarnya. “Apa maksudmu dengan tidak mungkin Marcus?” tanyanya tegas.

“Kau sudah membacanya dengan jelas Marcus? Kejadian itu terjai 2 hari yang lalu.” Ucap Henry tak kalah tegas dengan Nikki. Raut wajah Marcus mengeras. Ia tak dapat berfikir jernih. Kabar ini begitu mengejutkan baginya. Baru saja ia mendengar bahwa mereka sudah tidak memangsa manusia, tapi kini ia mendapatkan kabar 5 orang tewas dengan bekas luka gigitan di bagian leher. Tidak dapat dipungkiri ini ulah makhluk itu.

“Kita harus segera membasmi makhluk biadab itu Marcus. Jika tidak, akan semakin banyak korban akibat ulah mereka.” Ucap Henry meyakinkan Marcus. Marcus menatap kosong media cetak itu. pikirannya kacau.

“Tidak mungkin.” gumamnya lagi.

Zhoumi geram melihat tingkah Marcus. Ia berdiri dan mendobrak meja. “Ada apa denganmu sebenarnya, hah? apa yang kau maksud tidak mungkin itu? sudah jelas ini perbuatan mereka. kita tidak bisa tinggal diam. Mereka harus kita basmi secepatnya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali.” Jelas Zhoumi dengan rasa amarahnya. “Sebentar lagi bulan setengah, kita harus bersiap-siap.” Lanjutnya.

Marcus  tetap tak bergeming, ia tak mengindahkan Zhoumi. Ia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

Dennis selalu mengajarkan kami untuk lepas dari manusia dan binatanglah sebagai gantinya,  kata-kata itu terekam jelas dalam otaknya.

“Tidak mungkin.” gumamnya. “Apa yang harus ku lakukan?” Marcus mengacak-acak rambutnya, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau kejadian kala itu terulang dengan memakan banyak korban, tapi ia juga tak mungkin membunuh keluarga seseorang yanag sangat ia cintai itu. Marcus juga takut kalau-kalau gadisnya yang akan terbunuh jika pada malam bulan setengah itu mereka dan keluarganya itu terlaksana.

ªªª

 

Tepat sebelum matahari terbenam semua anggota keluarga Angelli telah kembali kerumah. Dennis keluar dari kamarnya dan melihat Cheryl tengah memainkan jarinya menekan tuts-tuts piano dengan alunan musik yang indah.

Cheryl menghentikan permainannya ketika melihat Dennis keluar dari kamarnya. “Kau sudah bangun?” tanya Cheryl dengan tatapan polosnya.

“Aku tidak tidur.” Sejatinya makhluk seperti mereka tidak akan pernah tidur. Cheryl melihat gelagat aneh dari bapaknya.

“Ada yang ingi n kau bicarakan pada kami ayah?” tanya Cheryl. Dennis menggeleng, namun Cheryl kenal persis siapa ayahnya itu. ia tahu ada yang disembunyikan Dennis dari mereka. namun Cheryl tak seperti Anita yang memiliki tingkat penasaran yang tinggi, ia kembali memainkan pianonya.

“Malam Dennis.” Sapa seseorang dari arah pintu castil. Lagi-lagi Cheryl menghentikan permainannya dan melihat siapa yang datang.

“Ku harap kau tidak mengganggu Alishia, U-Know.” Sahut Cheryl dengan nada bicara yang dingin.

U-Know tidak menghiraukan kata-kata Cheryl, ia lebih tertuju pada Dennis. “Maaf aku telat.”

“Katakanlah pada Alishia.” Ucap Dennis

“Baiklah.” Jawabnya. “Lanjutkanlah.” Ujar U-Know.

“Kehadiranmu merusak konsentrasiku.” Jawab Cheryl

“kau tak semahir yang ku bayangkan.” Kata U-Know mengejek Cheryl. Cheryl geram mendengarnya. Ia ingin sekali membalasnya namun berkat Dennis ia mengurungkan niatnya itu.

“Ia ada dikamarnya.” U-Know melihat Dennis dan mengagguk. U-Know langsung menuju kamar Alishia yang kebetulah tak ia kunci.

“Jangan lanjutkan ini ayah.” Pinta Cheryl. Dennis menatap anaknya itu.

“Alishia tak mencintainya. Selama ini ia diam karena tak mau mengecewakanmu ayah.” Jelas Cheryl yang sedikit ia ketahui mengenai isi hati Alishia.

“Ini lebih baik dari pada melakukan hal yang melanggar aturan.” Jawab Dennis kemudian kembali masuk kedalam kamarnya. Jawaban Dennis bagaikan mata panah yang menancap langsung tepat sasaran pada nadi buruan. Cheryl mematung ditempatnya.

 

Dilantai 2 tepatnya di kamar Alishia tengah berada Anita yang sedang menceritakan hal yang baru saja ia alami beberapa hari belakangan ini. sebenarnya bukan Anita yang bercerita, lebih tepatnya Alishia yang memaksanya bercerita karena Akita bukan tipe yang mudah bercerita tentang apa yang ia alami pada orang lain, meskipun orang itu merupakan orang terdekatnya.

 

Alishia merasakan ada hal aneh yang dialami adiknya itu. Disamping rasa penasarannya itu, Alishia juga khawatir dengan perubahan sikap Anita. Oleh karena itu Alishia memaksa Anita untuk bercerita. Ditengah Anita sedang bercerita, seseorang masuk.

 

Anita yang duduk persis berhadapan dengan pintu kamar Alishia langsung berubah ekspresi wajah ketika melihat siapa yang masuk. Alishia yang sadar akan perubahan itu langsung menoleh kebelakang melihat siapa yang masuk.

“Kedatanganmu selalu merusak suasana.” Cetus Anita tanpa menghilangkan kesan dingin terhadap U-Know.

“Kau sudah datang?” sapa Alishia. Anita geram melihat Alishia yang selalu bersikap manis pada U-Know, padahal ia tau bahwa Alishia tak menyukainya.

“Kau selalu saja bersikap seperti itu kepadanya. Hentikan semua itu Alishia.” Ujar Anita kesal kepada Alishia. Alishia hanya memasang senyum simpul pada Anita. U-know menatap dalam kepada Anita.

“Aku akan pergi tanpa kau suruh. Jangan tunjukan tatapan itu padaku atau akan kuhilangkan tatapan itu untuk selamanya.” Anita pergi meninggalkan Alishia dan U-Know.

“Aku ingin mengajakmu ke castil Boia Nerro.” Tanpa basa-basi U-Know langsung mengutarakan niatnya bertemu dengan Alishia. Alishia tersentak mendengarnya.  Alishia tahu jika berhubungan dengan klan Boia Nerro ada hal penting yang akan dilakukan.

“Aku tidak bisa U-Know.” Jawab Alishia lembut. U-Know kesal mendengar penolakan Alishia.

“Kenapa? Karena manusia itu?” tanyanya lugas.

“Jangan kaitkan dengan manusia itu.” jawab Alishia tegas. U-Know menyeringai mendengar penyataan tegas yang keluar dari mulut Alishia.

“Benar saja.” Ucapnya. “Aku kembali besok setelah terbenamnya matahari.” Ucapnya lagi. U-Know langsung pergi melalui jendela kamar Alishia. Alishia menghela nafas berat, seolah-olah hal yang berhubungan dengan U-Know adalah masalah besar baginya.

ªªª

 

Keesokan harinya seperti biasa Marcus dan Anita selalu bertemu di puncak gunung Apennine. Dari kejauhan Anita dapat melihat punggung kekar laki-lakinya itu. Anita memeluknya dari belakang sesampainya ia disana. Namun ada hal berbeda yang dirasakan Anita. Ia tak melihat respon dari Marcus yang biasa diberikannya.

Anita tidak terlalu menghiraukan hal itu. Ia berdiri disamping marcus dengan kedua tangan yang melipat di dada.

 

“Kenapa kau berbohong?” tanya Marcus.

“Berbohong? Apa maksudmu?” Anita kembali bertanya pada Marcus. Ia menoleh dan menatap lekat laki-laki disampingnya itu.

“Kenapa kalian melakukannya?” tanya Marcus lagi dengan nada bicara dingin. Anita tak mengerti maksud Marcus.

“Maksudmu?” tanya Anita.

“Kenapa kalian membuanuh manusia tak berdosa itu.” tuduh Marcus. Anita kaget mendengar tuduhan yang dilontarkan Marcus padanya.

Anita menggelengkap kepala. “Bukan kami.” jawabnya singkat.

“Lantas? Apa kau fikir Mannaro yang melakukannya? Sudah jelas itu jejak kalian.” Nada bicara marcus semakin tinggi, ia kesal karena berfikir Anita telah membohonginya dan keluarganya telah membunuh manusia.

“Ku tegaskan bukan kami yang melakukannya.” Jawabnya tegas. Anita tampak berfikir. “Mungkinkah?” ujarnya tiba-tiba. Anita pergi meninggalkan Marcus.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s