FF: Milagro del Amor Part 11

Chapter 11

 

“Kalian Cattivo Clan?” tanya Dennis saat keluarga Agnelli dan Clan Cattivo berkumpul di ruang tengah.

“Benar sekali” sahut Jimmy dengan ramah

“Aku pernah mendengar ada Clan bernama Cattivo tapi aku baru melihat kalau kalianlah Clan itu” seru Dennis dengan tenang.

Jimmy menyeruput darah segar binatang yang disuguhkan Clan Agnelli untuk mereka sebagai penyembutan tamu. “Kami hidup berpindah-pindah, bahkan dari satu negara ke negara lain” jawab Jimmy lagi.

“Kami senang sekali bisa bertemu Clan Agnelli disini” sahut seseorang yang duduk tepat di samping kiri Jimmy, laki-laki itu bernama Ray.

“Mereka berempat, kau yang memciptakannya?” tanya sebuah suara berat lain.

Dennis mengerutkan keningnya, dia tahu maksud pertanyaan dari laki-laki yang bernama Dylan yang duduk tepat di sebelah kanan Jimmy. Hanya saja Dennis mengerti mungkin karena kehidupan mereka yang selalu berpindah-pindah membuatnya sedikit tidak mengerti dengan asas kesopanan, “Mereka anak-anakku” jawab Dennis dengan tenang.

Dylan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mereka cantik sekali. Aku suka gadis berambut panjang” seru Dylan tanpa sungkan, sambil memandang Aletha dengan tatapan penuh arti.

Dennis dapat melihat dari ekor matanya kalau Aletha risih dipandang seperti itu oleh Dylan. “Dylan berusahalah bersikap lebih sopan” tegur Jimmy pada Dylan. Dari tingkahnya dapat disimpulkan bahwa Jimmy lah pemimpin dari Clan Cattivo.

Dylan mendengus kesal tapi dia tetap menuruti perkataan Jimmy. Laki-laki itu menyeruput darah segar yang disediakan di atas meja untuk menutupi kekesalannya. Namun lagi-lagi dia kembali mendengus kesal, kali ini mengundang lebih banyak perhatian. Semua mata tertuju padanya. “Darah apa ini? Asam sekali” geram Dylan sambil mengelap kasar sisa-sisa darah di sudut bibirnya.

Jimmy dan Ray serentak memberikan tatapan tajam pada Dylan. “Aku tidak salah, memang rasanya sangat asam” Seru Dylan membela diri, mengerti dengan tatapan Jimmy dan Ray.

“Maaf kalau kami hanya bisa menyediakan itu” sahut Alishia yang sedikit merasa bersalah karena tamu mereka tidak puas dengan pelayanan mereka sebagai tuan rumah.

“Darah apa ini?” tanya Dylan, nama bicaranya masih menyisakan emosi.

“Darah beruang gunung” sahut Anita yang mulai kesal dengan kelakuan tamu mereka yang menurutnya tidak tahu sopan santun.

Dennis memberikan isyarat dengan gerakan tangannya pada keempat putrinya agar tidak berbicara lagi. Namun Dennis masih menatap lekat ketiga tamu mereka yang berada di depan mereka, tatapan Dennis tidak seperti biasanya. Dia seakan sedang mencari sesuatu dari kejadian di hadapannya, dengan sikap yang tetap tenang tanpa ketiga orang itu menyadari arti tatapannya.

“Hanya beruang gunung? Padahal darah manusia disini sangat lezat” gumam Dylan lagi, sepertinya dia tidak menyadari kalau dia sudah terlalu banyak berbicara.

“Apa?” bisik Aletha penuh selidik.

“Dylan!” geram Jimmy pada Dylan. Kali ini geraman Jimmy itu berhasil membuat laki-laki berambut pirang itu diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun lagi.

“Maafkan kelakuannya. Kami terlalu sering di luar jadi dia tidak bisa mengerem perkataannya” kata Jimmy pada Dennis.

Dennis hanya mengangguk dan tersenyum tipis. “Sebaiknya kalian istirahat dulu saja” kata Dennis kemudian, dan segera mendapat tatapan protes dari keempat anak perempuannya. Tapi Dennis mencoba tidak menghiraukan dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.

Melihat Dennis yang melangkah memasuki kamarnya, keempat anak perempuannya pun berinisiatif membubarkan diri. Alishia berjalan mengikuti Dennis sedangkan Anita, Aletha, dan Cheryl melangkah ke kamar masing-masing. Saat di pangkal anak tangga Anita merasa ada sebuah tangan besar menahannya.

“Kau tentu saja tuan rumah yang baik bukan? bisa temani aku berjalan-jalan sekitar sini, jujur saja aku sangat bosan” ujar sebuah suara berat milik Ray.

Anita hanya menatap tajam Ray dan tangan laki-laki itu yang sedang bertengger di tangannya bergantian. “Baiklah, aku mengerti kalau kau keberatan” Kata Ray sambil mengangkat kedua tangannya keatas seperti seorang tersangka yang menyerahkan diri.

Anita hanya pergi tanpa sepatah katapun menuju kamarnya membuat Ray berdecak. Detik berikutnya Ray mendengar sebuah tawa ledekan tak jauh dari tempat dia berdiri. Dia berbalik dan telah mendapati Dylan telah bersandar di ujung tangga dengan tangan kanan yang bertumpu di pagar tangga menahan kepalanya, Dylan terlihat sangat santai.

“Sepertinya kau harus lebih banyak berlatih padaku dalam memikat hati seorang gadis” gumam Dylan sambil menggaruk-garuk dagunya dengan tangan kirinya yang menganggur.

Ray tampak memutar bola mata. “Keahlianku tidak seburuk yang kau kira. Hanya saja gadis disni berbeda” cetus Ray berjalan melewati Dylan.

“Jangan pernah berpikir untuk memikat salah satu anak Dennis. Kita disini hanya singgah dan jangan sampai rasa penasaran kalian pada mereka membuat perjalanan kita terhambat” tegur Jimmy.

Dylan dan Ray mendengus sebagai ekspresi protes mereka. “Apa salahnya sedikit bersenang-senang?” kata Ray

“gadis disini cantik, manusia disini pun lezat. Aku akan betah kalaupun harus berlama-lama disini” sahut Dylan, posisinya sudah kembali normal.

♥♥♥

“Ayah” panggil Alishia pada Dennis saat dia telah berdiri di ambang pintu.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Dennis pada Alishia tanpa membalikkan badannya.

Alishia berjalan menghampiri Dennis yang sekarang telah duduk dia kursi singasananya. “Ayah yakin membiarkan klan Cattivo untuk tinggal disini?” tanya Alishia was-was.

“Kau keberatan?” jawab Dennis dengan pertanyaan.

“Aku perhatikan, mereka tidak tahu sopan santun”

“Tidak mudah untuk membiarkan mereka begitu saja. Dengan tinggal disini, maka mereka terpaksa harus mengikuti aturan kita” Dennis mencoba menjelaskan.

Alishia terdiam. Kadang-kadang sulit baginya untuk mengerti jalan pikiran Dennis. Tapi dia yakin apa yang dilakukan Dennis adalah selalu yang terbaik bagi mereka dan siapa pun itu. Mungkin kecuali izin Dennis terhadap U-Know untuk mendekatinya.

“Alishia” gumam Dennis

Alishia kembali menatap Dennis setelah sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mengenai U-Know…” belum selesai Dennis berbicara.

“Aku bisa mengerti alasan ayah, ayah hanya ingin yang terbaik untuk kami” sahut Alishia.

“Syukurlah kalau kau mengerti. Aku hanya mengizinkan U-Know untuk mendekatimu, itu tidak mutlak jika kau harus bersama U-Know. Kau bisa mencari seseorang yang kau cintai dan mencintaimu terlepas dari U-Know, tapi kumohon jangan sampai kau melupakan aturan-aturan yang berlaku di kalangan kita” kata Dennis panjang lebar. Alishia dapat menangkap kalau saat ini Dennis sangat mengkhawatirkan anak-anaknya.

“Aku mengerti ayah” jawab Alishia, kemudian dia berjalan mendekati pintu dan membiarkan Dennis sendirian di ruangannya.

Dennis menggengam erat-erat kedua tangannya di atas meja. Dia selalu mengkhawatirkan keempat putrinya, tetapi tidak seperti akhir-akhir ini. Bisa dikatakan kekhawatiran Dennis saat ini sudah mencapai ubun-ubun. Dia tidak ingin bahaya mengancam anak-anaknya. Kalau dia bisa bunuh diri, mungkin itu yang telah dilakukannya asalkan anak-anaknya tidak dalam bahaya.

♥♥♥

Anita berjalan semakin dalam melintasi pepohonan yang hanya seperti bulu ayam yang berterbangan baginya, kalaupun dia menabrak pepohonan itu maka dapat dipastikan pohon itulah yang akan langsung tumbang tanpa menciderai tubuh Anita sedikit pun. Larinya terhenti di sebuah padang rumput luas, yang tidak begitu jauh dari puncak gunung Appenines. Hanya beberapa tanaman saja yang dapat tumbuh karena suhu dan keadaannya tidak seperti dataran biasa. Langit gelap tertutup awan, angin berhembus semakin kencang membuat rambut Anita tak dapat rapi. Anita melihat bayangan hitam membelakangi dirinya. Anita tetap di tempatnya, tidak tertarik untuk menghampiri sesosok pemilik bayangan hitam itu.

“Akhirnya kau datang juga” kata orang itu sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati Anita. Seiiring dengan setiap langkah orang berjubah hiam itu, tangan Anita semakin mengepal dengan kuat.

Anita diam seribu bahasa di tempatnya. Dia tahu kalau orang itu ingin mengintimidasinya secara perlahan dengan tindakan-tindakan yang ditimbulkan. Satu-satunya yang dapat membuatnya sedikit tenang adalah dia masih dapat mendengar suara angin dan merasakan setiap hembusan angin menyapa kulit poeselennya. Itu cukup meyakinkannya kalau dia masih berada di dunia fana ini.

“Sejujurnya saja aku masih tidak habis pikir kau bisa melanggar aturan yang telah ada sejak  beratus-ratus tahun yang lalu” gumam orang itu.

“Aku tidak bermaksud melanggar peraturan” jawab Anita mencoba tegas, tetapi suaranya lebih terdengar lirih. Seketika itu juga dia mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya masuk ke dalam intimidasi yang diciptakan Joshua pada dirinya.

Joshua menyentuh pipi Anita dengan perlahan-lahan dan memandangi tangannya yang bertengger disana. “Sayang sekali” gumamnya. “Jelas-jelas kau sudah melanggar peraturan itu Anita Agnelli” lanjutnya dengan setiap penekanan dalam kata-katanya.

Kali ini Joshua beralih menyentuh tangan kanan Anita yang menganggur, menyentuhnya dengan sangat hati-hati seperti akan retak jika Joshua tidak lebih berhati-hati. “Menarik sekali” kata Joshua sambil mengulum senyum penuh arti. “Kasih yang baru sampai ternyata” lanjut Joshua lagi.

Anita sadar kalau setiap gerakan yang dilakukan Joshua padanya adalah suatu tindakan untuk mencari tahu. Joshua sedang mengorek-ngorek isi pikiran Anita. “Kau sudah tahu semuanya” kata Anita lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.

“Ya, terima kasih telah mengizinkanku” sahut Joshua

“Kau boleh menghukumku asalkan jangan sentuh dia” ujar Anita lagi, entah darimana dia mendapatkan kekuatan itu tetapi suaranya kini terdengar lebih lantang dari sebelumnya.

Joshua terkekeh. “Sayangnya tidak semudah itu bagiku. Casey pasti marah besar jika mengetahui hal ini, tapi aku yakin dia akan memberikanmu keringanan dengan tidak membunuhmu” kata Joshua, suaranya seperti sebuah dawai yang mengalun indah tetapi sangat berbisa. Anita bisa merasakan kekaguman bercampur kengerian secara bersamaan saat mendengar suaranya.

Anita masih menanti kelanjutan setiap kata-kata Joshua. “Bunuh manusia bernama Marcus itu dengan tanganmu sendiri!” kata Joshua lagi.

“Tidak!!” cetus Anita tanpa berpikir.

Joshua mengerutkan keningnya.  “Kau bahkan tidak berpikir dulu sebelum menjawab perkataanku. Kau membuatku bingung Anita Agnelli” seru Joshua.

Joshua membalikkan tubuhnya membelakangi Anita. Dia menyembunyikan tangannya di balik jubah hitam yang dia kenakan. “Vampir yang bermasalah akan menjadi masalahku juga. Belum lagi aku harus menangani Cheryl Agnelli setelah ini. Kasihan sekali Dennis, anak-anak yang sangat dia sayangi ternyata bermasalah”

“Jangan sakiti mereka! Ini masalahku dan berikan konsekuensinya padaku”

“Kau tahu kalau cintamu itu sulit untuk bersatu, sebenarnya aku sangat menyayangkan kenapa pilihannya adalah manusia. Sikap keras kepalamu itu juga membuatku harus berpikir kembali”

“Apa pun hukumannya aku siap, asal jangan sakiti dia”

“Sudah berapa kali kau mengatakan itu padaku” kata Joshua, dia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Anita. “Begini saja, aku akan memikirkannya kembali. Saat bulan setengah kita bertemu lagi disini dan bawakan aku dua orang manusia. Aku akan memberitahumu hukuman apa dan apa yang harus kau lakukan. Aku baik bukan?”

“Manusia?” kata Anita tak yakin.

“Tentu saja. Aku tidak mengkonsumsi darah binatang. Apa aku harus menghargai daerah kekuasaan kalian dengan tidak meminum darah manusia juga? Baiklah kalau begitu” kata Joshua.

Anita terpancing. “Baiklah, aku akan carikan dua orang manusia untukmu”

Joshua tersenyum penuh arti. “Itu lebih baik. Ingat! Saat bulan setengah”

Berapa detik kemudian Anita sudah tidak dapat melihat sosok Joshua lagi. Tidak ada tanda-tanda kepergiannya. Hanya hembusan angin yang tidak semestinya yang menandakan kepergian Joshua. Anita memutar matanya, otaknya seakan ingin pecah. Anita tidak memiliki kekuatan untuk pergi dari tempatnya, kakinya lunglai hingga dia terduduk di tanah yang lembab dengan kedua tangannya sebagai penyangga tubuhnya yang hampir ambruk. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencang tetapi tentu saja itu tidak dapat dia lakukan.

♥♥♥

Aungan dan geraman terus saja menggema dari kedalaman hutan. Aletha tampak ragu. Dia tahu kalau Jeremy telah menunggunya di tempat biasa mereka bertemu. Entah darimana Aletha tiba-tiba terpikir bagaimana bisa dia dapat berteman dengan seorang Mannaro. Tak ada yang dapat menjamin keselamatannya selama dia bergaul dengan Jeremy, tetapi Aletha percaya dia akan aman berada di sisi Jeremy. Kadang-kadang bayangan yang mengerikan muncul dalam benak Aletha, apalagi saat dia mengingat aungan dan geraman dari kawanan Mannaro saat mereka baru pertama kali bertemu. “Aku vampir dan dia Mannaro” gumam Aletha pada dirinya sendiri.

Satu hal yang tidak dia mengerti. Seiring semakin kuat keinginannya untuk menjauh dari Jeremy bersamaan dengan itu perasaan untuk selalu ingin bersama Jeremy selalu saja mampu mengalahkannya. Bayangan kalau dia tidak dapat menikmati kebersaan bersama Jeremy lagi itu akan menjadi mimpi yang paling buruk selama hidupnya. Andai saja Jeremy adalah kakaknya, dia tidak akan harus sembunyi-sembunyi hanya untuk bertemu dengannya. Tidak. Aletha tidak mengharapkan Jeremy adalah kakaknya, bahkan lebih dari itu. Mereka seperti dua orang yang memiliki satu jiwa. Jeremy adalah miliknya, itu adalah pernyataan yang paling tepat.

“Aletha” tegur sebuah suara berat yang sangat dia kenal.

Aletha tidak membalikkan tubuhnya untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Aletha memejamkan matanya. dari balik kelopak mata yang tertutup dia mendengar bunyi ranting-ranting yang patah dan dedaunan kering yang hancur di bawah langkah seseorang yang semakin mendekat kearahnya.

Hingga sebuah tangan besar memegang bahunya pun Aletha masih tidak membuka matanya. dia tidak ingin kehilangan konsentrasi, dan mengumpulkan semua yang bisa dia ingat tentang orang itu ke dalam ingatannya.

Orang itu membalikkan tubuh Aletha dan saat itu lah Aletha membuka matanya. “Kau kenapa?” tanya orang yang ada di hadapannya dengan cemas.

Aletha segera memeluknya, merasakan temperatur tubuh orang itu yang hangat. Sangat nyaman. “Apa yang terjadi?” tanya orang itu cemas, tangannya sibuk mengelus rambut Aletha menciptakan gerakan yang memenangkan bagi Aletha.

“Belakangan ini aku sering ketakutan. Takut sesuatu yang buruk akan terjadi” sahut Aletha.

Orang yang tak lain adalah Jeremy itu melepaskan pelukan Aletha padanya, dia memperhatikan ekspresi wajah Aletha dan mencoba mencari tahu sesuatu di balik tatapan mata gadis itu. “Apa yang kau takutkan?” tanya Jeremy dengan lembut.

Aletha diam.

“Tidak ada yang perlu kau takutkan selama aku ada di dekatmu. Aku akan menjagamu” jawab Jeremy.

Aletha mengangguk, ekspresinya lebih tenang sekarang.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat” kata Jeremy lagi, nada suaranya terdengar lebih ceria. Dan itu berhasil menghangatkan suasana.

Jeremy menggandeng tangan porselen milik Aletha. Membimbing gadis itu menuju tempat yang dia maksud. Dari kejauhan Aletha sudah mendengar suara-suara keramaian dengan bahasa yang tidak dia mengerti namun bersahabat baginya. Terlihat asap yang mengepul seiring semakin dekatnya mereka.

Aletha melirik Jeremy dengan pandangan kekhawatiran. “Aku tidak terbiasa dengan keramaian” sahut Aletha, wajahnya berubah cemas.

“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku disini bersamamu, kau percaya padaku?” kata Jeremy meyakinkan. Tangannya semakin kuat menggenggam tangan Aletha.

Dari jarak beberapa meter dari sumber asap itu Aletha dapat melihat sebuah cahaya terang yang tak lain adalah api unggun. Api unggung yang besar dan dikelilingi beberapa orang, lima, enam, tujuh, depalan, sepuluh, lima belas, dua puluh. Dari hitungan yang di tangkap oleh indera penglihatan Aletha ada sekitar dua puluh lebih orang yang sedang berkumpul. Mereka menari bersama dengan alat musik yang Aletha yakin itu bukan alat musik modern. Keakraban terjalin diantara mereka, kadang-kadang dia dapat mendengar suara tawa yang menggema di bawah sinar rembulan.

Namun situasi mendadak berubah saat dia dan Jeremy berada sekitar enam meter dari mereka. Aletha melihat orang-orang yang terdiri dari laki-laki dan gadis yang berumur sekitar belasan tahun itu melangkah mundur sambil mengambil ancang-ancang. Sama halnya dengan Jeremy, dia langsung bergerak membuat perisai bagi Aletha. Jeremy berdiri di depan Aletha dengan otot-otot yang menegang dibalik pakaian yang dia kenakan.

Dari balik kerumunan itu muncul seseorang dengan perawakan tinggi dan otot-otot yang lebih besar dari milik Jeremy. Melihat orang itu, mengingatkan Aletha pada sesosok srigala Mannaro berbulu abu-abu yang akan menyerangnya saat pertama kali dia melihat sekawanan Mannaro bersama Max.

“Jeremy, kau sudah gila” terdengar sebuah suara dari balik geraman orang itu.

“Terserah kau ingin mengatakan apa Andrew” sahut Jeremy dengan tenang.

Ketenangan Jeremy membuat emosi Andrew membuncah. Seketika itu pula Andrew berubah menjadi sosok makhluk buas dengan memamerkan sederet gigi taring yang tajam seperti belati. Bulu abu-abunya tampak berdiri karena tegang.

Jeremy masih tidak gentar “Tidak sepantasnya kau dengan semudah itu mengubah dirimu di depan tamu kita” katanya, sorot matanya menerobos mata srigala Andrew. Dari balik tubuhnya, Aletha mencengkram kuat lengan Jeremy.

Sosok srigala Andrew mengaung hebat. Seketika itu pula Jeremy pun mengubah dirinya menjadi srigala berbulu coklat. Aletha tersentak dengan perubahan Jeremy yang tiba-tiba, ttubuhnya terhempas ke tanah namun itu tidak mampu membuat tubuhnya cidera.

Andrew dan Jeremy melayang di udara, masing-masing saling menyerang dengan cakar mereka yang tajam. Dengan sekali hentakan yang tidak terduga oleh Andrew, Jeremy berhasil menjatuhkan Andrew hingga tubuh besar srigalanya terhempas beberapa puluh meter dari tempat awal. Setelah itu Jeremy melolong dengan panjang disertai dengan geraman dari balik gigi-gigi taring tajamnya. Semua orang yang ada disana seakan tersihir dengan lolongan panjang milik Jeremy. Mereka langsung menunduk dan tidak berbuat apa-apa lagi, bagitupun dengan sosok manusia Andrew yang hanya menatap tidak percaya ke arah Jeremy.

Jeremy segera mengubah dirinya kembali ke bentuk manusianya setelah dirasa keadaan sudah cukup tenang. Dia menoleh kearah Aletha yang mengkerut di tanah sambil menatapnya tidak percaya. Aletha pun tersihir dengan lolongan panjang milik Jeremy. Selama ini gadis itu tidak pernah mendengar lolongan panjang mannaro seperti itu.

Jeremy menghampiri Aletha dan menolong gadis itu untuk berdiri, “Kau tidak apa-apa?” tanya Jeremy khawatir.

Aletha buru-buru menggeleng. “Ini bukan tempat yang tepat untukku” lirihnya.

Aletha yakin Jeremy dapat mendengar kata-katanya tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menggubris perkataan Aletha. Para gadis-gadis mannaro terus memperhatikan Aletha dengan tajam dari atas hingga bawah. Kalau keadaannya Aletha adalah seorang manusia mungkin dia dapat berbangga diri saat ini, namun kenyataannya berbeda. Dia merasa dirinya terintimidasi oleh tatapan-tatapan menyelidik itu. Aletha tidak melihat tatapan tidak bersahabat dari mereka melainkan adalah tatapan rasa ingin tahu yang dalam seakan tak ada yang dapat menjawab beribu pertanyaan dalam benak mereka.

Jeremy menarik tangan Aletha menembus kerumunan. “Kau tunggu disini” seru Jeremy tegas.

Beberapa saat yang terasa sangat lama bagi Aletha, Jeremy kembali menghampiri gadis itu dengan sebuah benda di tangan kanannya. Jeremy memasukkan benda melingkar itu di tangan Aletha. Aletha memperhatikan benda yang ada di tangannya, sebuah gelang berupa anyaman dari akar tumbuhan dengan model yang sangat cantik. Aletha menangkap ada beberapa orang dari kerumunan gadis-gadis mannaro yang memakai gelang yang sama seperti dirinya. Saat itu Aletha ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan pada Jeremy, tetapi waktunya tidak tepat.

“Mulai sekarang, aku tidak ingin mendengar ada diantara kalian yang ingin menyakitinya. Kalau tidak, urusannya denganku” seru Jeremy dengan ekspresi serius. Aletha sama sekali tidak pernah melihat keseriusan Jeremy seperti sekarang.

Lalu Jeremy menarik tangan Aletha menembus kerumunan itu lagi. Beberapa laki-laki mannaro masih tampak menegang. Jeremy terus menuntun Aletha menuju daerah perbatasan suku Mannaro, beberapa orang laki-laki suku mannaro masih mengikuti mereka dengan penuh emosi. Aletha bergidik.

Tepat di perbatasan. Beberapa orang laki-laki itu mengubah diri mereka menjadi srigala dan terus mengaung. Jeremy membalikkan tubuhnya dan menciptakan sebuah gerakan untuk melindungi Aletha. Ketegangan kembali terjadi.

Satu gerakan, Jeremy juga mengubah wujudnya. Aungan terus menggema di bawah sinar rembulan yang bersinar terang.

Jeremy ini tidak benar. Jeremy mendengar pikiran Matthew

Aletha tidak mengerti dia bisa mendengar pikiran setiap Mannaro itu. Beberapa kali dia menggelang-gelengkan kepalanya, namun itu nyata.

Bagaimana bisa dengan seorang vampir. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Kali ini dari srigala berbulu kuning keemasan, sosok srigala Jay.

Jelas-jelas kau menyalahi sejarah. Lanjut Xiah yang merupakan srigala putih.

Kembalilah Jeremy!. Mereka musuh kita, tidak seharusnya kau membawanya kesini. Sahut Hero.

Ini diluar kendaliku. Tidak untuk Aletha, tidak ada satu orang pun dari kalian yang bisa menyakitinya!!. Kali ini Aletha mendengar Jeremy-lah yang bersuara.

Kita lihat, apa yang bisa kau lakukan untuk gadis vampir itu. Seru Andrew, emosinya masih membuncah.

Jeremy langsung mengaung penuh emosi setelah mendengar pikiran Andrew. Kawanan Mannaro mendekat kearah Jeremy. Tatapan tajam mereka tertuju pada sesuatu di balik tubuh besar Jeremy yang tak lain adalah Aletha. Jeremy terus mengaung seperti sebuah peringatan kepada kawanannya.

Aletha memejamkan matanya. dia tahu bahaya sedang mengancam dirinya, tetapi dia percaya pada Jeremy. Apa pun yang Jeremy lakukan dia tetap percaya. Namun sebuah tangan dingin mencengkran tangan Aletha dengan kasar. Itu bukan tangan Jeremy.

“Kalian tidak akan melihat kami di sekitar sini lagi” seru suara itu. Aletha membuka matanya. matanya membulat saat melihat disampingnya telah berdiri Max.

Beberapa mannaro ingin menerkam Max dan Aletha. Dengan gerakan cekatan Max langsung membawa Aletha pergi dari perbatasan Mannaro ke tempat yang jauh darisana. Aletha masih mendengar suara raungan, geraman, dan lolongan melalui indera pendengarannya.

Max menghempaskan tangan Aletha dengan kasar hingga gadis itu terhempas ke lantai saat mereka telah berada di castle keluarga Agnelli. Sikap Max terhadap Aletha mengundang perhatian dari seluruh orang yang ada disana.

Alishia buru-buru menghampiri Aletha, terlihat kekhawatiran dari sorot mata Alishia, Anita dan juga Cheryl.

“Apa yang terjadi?” tanya Dennis tidak sabar dibalik sikap tenangnya.

Bahu Max tampak naik-turun. Nafasnya menderu, sorot matanya menatap Aletha tajam.

“Dia berteman dengan mannaro dan pergi ke kawasan mannaro” seru Max, dia sudah tak mempedulikan asas kesopanan lagi. Emosi sudah membakar dadanya.

“Aletha, itu benar?” tanya Dennis menuntut.

“Ayaahh” seru Alishia memohon.

Aletha hanya terdiam.

Max melayangkan tinjunya ke meja ruang tengah, membuat meja dan kursi rusak berkeping-keping dengan seketika. “Mengapa kau tidak pernah mendengar perkataanku hah? Apa gunanya selama ini aku menjagamu kalau kau juga akan tetap mati di tangan mereka” bentak Max pada Aletha.

“Gadis itu sudah punya kekasih” bisik Ray pada Dylan ditengah ketegangan.

“Siapa yang kau maksud? Mannaro itu atau vampir bernama Max itu kekasihnya?” seru Dylan sambil mengerutkan keningnya.

“Max. Tidak, sepertinya mannaro itu” Ray kembali berpendapat.

Dylan mengernyit. “Mengerikan sekali. Coba kalau dia memilihku, dia tidak akan menyesal” Kata Dylan, dan langsung dibalas oleh sikutan Jimmy.

“Cobalah untuk serius. Situasinya sedang tegang” ujar Jimmy memperingatkan.

“Max tahan emosimu!” ujar U-Know lembut pada Max. U-Know memegang bahu Max dan membawanya keluar dari castle keluarga Agnelli.

Vincent masih berdiri di ambang pintu masuk castle keluarga Agnelli. Dia berdiri mematung disana. Sama sekali tidak melakukan gerakan sedirkit pun.

Keadaan menjadi lebih tenang saat Max pergi. Anita dan Cheryl ikut bergabung bersama Alishia menghampiri Aletha. “Kau tidak apa-apa?” tanya Anita dengan cemas.

“Sebaiknya sekarang biarkan Aletha tenang dulu di kamarnya” ujar Alishia memberikan instruksi pada kedua saudaranya yang lain.

Anita dan Cheryl mengangguk mengerti. Mereka berdua membimbing Aletha menuju kamarnya, mereka tak peduli saat melewati Clan Cattivo. Aletha lebih penting daripada hanya sekedar sok ramah menegur tamu-tamu yang kurang sopan santun itu.

♥♥♥

Setelah berpikir cukup panjang akhirnya Alishia mumutuskan untuk pergi menyusul U-Know dan Max untuk melihat keadaan Max. Tidak sulit bagi Alishia untuk menemukan U-Know dan Max, mereka masih berada di tengah hutan. Dari jarak yang cukup jauh Alishia melihat U-Know yang sepertinya sedang menenangkan Max. Tangan kanan U-Know berada di bahu kiri Max, dan Max pun tampak sedang tertunduk mendengarkan kata-kata U-Know.

“Maaf kalau aku mengganggu kalian” Kata Alishia. “Max kau tidak apa-apa?” Alishia beralih pada Max.

Max mendongak menatap Alishia. Tatapannya berbeda dari biasanya, Alishia sedikit kesulitan untuk mengartikan tatapan itu. “Tugasku menjadi lebih berat sekarang” gumam Max.

“Terima kasih kau telah menyelamatkan Aletha dari kawanan mannaro itu” ujar Alishia pada Max.

Max buru-buru menggeleng. “ini tidak seperti itu. Ini adalah awal dari masalah yang besar” Alishia dapat melihat Max tampak frustasi.

Lagi-lagi U-Know menyentuh pundak Max, memberikan kekuatan pada laki-laki itu. “Max tenangkan dirimu. Tidak akan ada bencana besar” U-Know terdiam sejenak, dia beralih pada Alishia. “Aku akan membawa Max pergi dari sini sampai dia tenang” ujar U-Know.

Mata Max langsung membulat dengan sempurna mendengar pernyataan U-Know pada Alishia. Dia menghempaskan tangan U-Know yang masih bertengger di pundakknya. “Aku tidak akan pergi selangkahpun dari sini” kata Max, rahangnya mengeras.

“Aku tahu kau sangat mencemaskan Aletha. Tapi kau juga harus ingat  kami keluarganya, tentu saja kami juga akan menjaganya. Sebaiknya kau tenangkan dulu dirimu, itu akan lebih baik” kata Alishia dengan lembut pada Max. Laki-laki tinggi itu pun tidak berkata-kata lagi.

“Kami pergi dulu” pamit U-Know. Kemudian dia membawa Max pergi.

Alishia menghela nafas panjang. Keadaan semakin rumit. Dan sekarang masalah sedang bertumpu pada Aletha. Alishia lebih memilih untuk berjalan dengan langkah manusianya. Di sepanjang perjalanan dia banyak memikirkan sesuatu tentang anggota keluarganya. Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, tetapi tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu untuk dirinya.

Tiba-tiba saja Alishia melihat sebuah cahaya temaram di balik pepohonan. Kali ini bukan api unggun seperti beberapa minggu yang lalu. Sebuah rumah sederhana berdiri tegak. “Disini bukan tempat yang cocok untuk sebuah rumah” keluh Alishia. Dia tidak habis pikir kenapa pemilik rumah mendirikan rumahnya disana. “Sejak kapan ada rumah disini?” tanya Alishia penasaran.

Tak sengaja, Alishia malah melangkah mendekati rumah itu. Persis ketika dia berada di depan pintu rumah itu, ada seseorang dari dalam membuka pintu itu.

Tubuh orang itu mendadak gemetar saat melihat Alishia yang telah berdiri disana.  Di bawah cahaya redup lampu Alishia dapat melihat seseorang yang tidak asing lagi baginya. Orang yang sama dengan pemilik tenda di tengah hutan beberapa minggu yang lalu. Tapi yang membuat Alishia yak mengerti adalah sikap laki-laki itu sangat berbeda padanya seperti sebelumnya.

Laki-laki yang kalau tidak salah bernama Spencer itu tampak pucat dengan tubuh yang menggigil. “Aku hanya lewat sini. Kau tampak tidak enak badan. Sepertinya kau salah memilih tempat untuk mendirikan sebuah rumah” ujar Alishia seadanya. Lalu gadis itu lebih memilih untuk pergi dari sana.

“Alishia” gumam laki-laki bernama Spencer itu.

Alishia menghentikan langkahnya, tetapi dia juga tidak berbalik. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Spencer itu lagi. Dia sepertinya tidak mempedulikan reaksi tubuhnya terhadap kedatangan Alishia.

“Aku sudah memperingatkanmu. Ini bukan tempat yang baik untukmu, sebaiknya kau pergi darisini!” seru Alishia.

Hening untuk beberapa saat.

“Aku tidak takut dengan binatang buas apa pun” seru Spencer dengan yakin. “Dan aku tidak akan takut denganmu” lanjutnya kemudian.

Alishia merasa tertarik dengan kata-kata Spencer terakhir. Dia membalikkan tubuhnya menatap laki-laki itu, dan mencari sesuatu dari mata laki-laki itu. Alishia terdiam. Dia dapat menangkap ada sesuatu yang tidak beres disana.

“Kau memiliki kesempatan besar untuk membunuhku sebelumnya, tapi kau tidak melakukan itu. Padahal bisa dikatakan aku sudah menggagalkan aksi memangsamu untuk kedua kalinya”

“Baguslah kalau kau telah tahu siapa aku. Tapi aku bisa membunuhmu kapan saja”

“Aku tidak percaya dengan kata-katamu itu. Kau tidak akan pernah bisa membunuhku”

“siapa yang bisa menjamin?”

“Kalau pun itu benar. Mungkin aku rela mati di tanganmu”

“Jangan bodoh!” anehnya Alishia bergidik mendengar perkataan Spencer.

“otakku sudah sulit untuk berpikir sesuai logika”

“………….”

“itu karena aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu Alishia.” Sahut Spencer lantang. Tubuhnya sudah bisa menyesuaikan diri. Dia sudah tidak gemetar hebat seperti beberapa saat sebelumnya.

“Hapus perasaan itu!” seru Alishia.

“Tidak akan. Kau tidak punya hak untuk menyuruhku menghapusnya dari sini” Spencer menyentuh dadanya.

“Tolong jangan memperkeruh keadaan  Spencer” lirih Alishia. “Tolong jangan seperti ini”

“Alishia” gumam Spencer. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan Alishia akan memohon padanya seperti itu.

“Kumohon pergilah dari sini. Lupakan aku!”

♥♥♥

Bulan Setengah.

Ini adalah saat yang tidak pernah diharapkan Anita. Dia harus mencari dua orang manusia untuk dijadikan mangsa bagi Joshua. Tekanan demi tekanan terus saja menghimpit hubungannya dengan Marcus.

“Aku pergi dulu” kata Anita pada ketiga saudaranya dan juga Dennis.

“Kau tahu ini sedang bulan setengah?” seru Dennis.

Anita mengangguk.

“Bahaya mengancam dimana-mana. Cacciaotore sedang mengincar kita” kata Dennis lagi.

“Aku hanya pergi sebentar. Mereka tidak akan berhasil menangkapku” kata Anita keras kepala. Detik berikutnya dia langsung pergi dari Castle tanpa menunggu izin dari Dennis. Anita akan tetap pergi meskipun Dennis tidak mengizinkannya, dan itu pasti dia lakukan.

“Aku juga harus pergi” cetus Cheryl.

Baru saja Dennis akan berkata, tetapi gadis itu sudah lenyap dari castle. “Kebiasaan sekali” gumam Dennis khawatir.

Anita menunggu mangsanya dengan gusar di kaki gunung. Dia berharap ada dua orang manusia yang mendekatinya secepatnya. Hingga dia tidak perlu berlama-lama menanggung beban permintaan Joshua.

Setelah menunggu cukup lama. Tepat seperti yang diharapkan, ada dua orang manusia yang mendekati Anita. Sesuai kriteria, mereka merupakan pengedar narkoba. Hanya menunggu beberapa detik lagi Anita akan meluncurkan aksinya. Ketika dua orang itu mulai melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan dengan satu gerakan saja Anita langsung memukul bahu mereka masing-masing dengan kekuatan vampirnya. Dan berhasil membuat dua orang itu pingsan dan terkulai lemas.

Anita menentukan posisi yang enak untuk membawa kedua orang itu secara bersamaan kepada Joshua. Dia sibuk mengurus mangsanya itu. Tiba-tiba saja sesuatu yang tajam menghujam lengannya kirinya. Anita langsung meringis kesakitan. Harusnya sebuah sabetan senjata tajam biasa tidak akan mempan padanya. Dia menoleh kebelakang. Dan mendapati seorang laki-laki berambut merah dengan perawakan tinggi kurus sedang menatap nanar Anita sambil membawa belati di tangannya. Tangan kanan Anita menahan luka yang ditimbulkan oleh lelaku itu di lengan kirinya.

Laki-laki itu terus maju selangkah demi selangkah, seirama dengan langkah mundur Anita. Setiap langkah maju laki-laki itu, sebanyak itu pula Anita melangkah mundur.

“Kau akan mati ditanganku makhluk terkutuk!” seru laki-laki itu dengan mata yang penuh emosi.

Anita terdiam. Pasrah kalau pun dia harus mati. Pada akhirnya dia pun akan tetap mati di tangan Clan Boia Nero.

Laki-laki itu siap menghunuskan belatinya ke jantung Anita, sebelum sesuatu menggagalkan niatnya. Seseorang menendang tengannya hingga belati itu terpentanl dari tangannya.

Laki-laki itu menatap tak percaya saat melihat temannya lah yang melakukan itu. “Marcus?” gumam laki-laki itu tak percaya.

“Hentikan niatmu itu Zhoumi” seru Marcus dengan wajah tenangnya.

“Kau menolong seorang vampir?”

“aku terpaksa melakukannya. Maafkan aku”

Zhoumi mendengus kesal.

“Aku tidak bisa menutup-nutupinya lagi darimu. Dia orang yang sangat aku cintai. Orang yang aku tunggu selama ini. Anita”

“Kau salah mencintai seseorang Marcus. Jelas-jelas dia akan memangsa dua orang manusia”

Anita menatap sendu kearah Marcus yang sekarang sedang menatapnya.

Sebuah suara yang terlintas di pikiran Anita mengganggunya. Disini terjadi kekacauan lagi, cepatlah kesini! Seru suara itu. Anita tahu kalau itu adalah suara Cheryl. Ekspresi Anita berubah seketika. Dia lebih konsentrasi pada suara yang melintas dalam pikirannya.

Tanpa pikir panjang Anita meninggalkan Marcus dan Zhoumi yang sedang bersitegang. Ada hal yang lebih penting.

♥♥♥

Seseorang duduk berjongkok di depan toko roti.

Cheryl heran melihat pemandangan di depannya, tidak biasanya Nathan duduk berjongkok di depan toko roti miliknya sendiri. Tatapan Cheryl menembus ke dalam toko roti yang sudah gelap. Lampu-lampu telah dimatikan, dan kursi-kursi telah tersusun rapi.

“Cheryl” seru Nathan sambil segera menghampiri Cheryl saat laki-laki itu menangkap sosok Cheryl.

Cheryl bingung.

Kedua tangan Nathan memegang bahu Cheryl, matanya memperhatikan setiap detail tubuh Cheryl. “Kau tidak apa-apa kan? Kau tidak terluka kan?” tanya Nathan. Nada bicara terbukti sekali kalau laki-laki itu sangat mencemaskan Cheryl.

“Aku tidak apa-apa. Kenapa kau duduk di depan toko rotimu?” tanya Cheryl penasaran.

“Aku sengaja menunggumu” jawab Nathan. “Aku sangat mengkhawatirkanmu. Beberapa jam yang lalu kembali terjadi kasus pembuhunan dengan bekas luka yang sama. Ratarata yang menjadi korban pembunuhan adalah perempuan yang dapat dikatakan berpenampilan menarik. Aku takut kau menjadi korban” jelas Nathan panjang lebar.

“Aku….”

“Aku sangat lega karena kau tidak apa-apa” Nathan tersenyum pada Cheryl.

Cheryl sudah tidak terlalu berkonsentrasi lagi pada Nathan yang ada di hadapannya. Nalurinya mengatakan kalau ini saat yang tepat untuk menyelidiki kasus ini sebelum lebih banyak lagi korban berjatuhan.

“Nathan sebaiknya kau cepat pulang.” Kata Cheryl.

Nathan heran. “Kenapa aku?, bagaimana denganmu?” tanya Nathan, dahinya berkerut karena mengkhawatirkan gadisnya itu.

“Tidak akan terjadi sesuatu padaku. Aku akan menemuimu lagi nanti, ada hal yang harus aku lakukan” Cheryl mencoba memberikan penjelasan kepada Nathan.

Nathan ragu. “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian” sahut Nathan bersikeras.

Cheryl bingung dengan apa lagi dia harus meyakinkan Nathan. Yang terlintas dalam pikiran Cheryl adalah mengirim pesan melalui pikiran kepada Anita. Frekuensinya terlalu jauh jika dia mengirim pesan untuk Dennis, Alishia, dan Aletha yang sekarang sedang berada di castle. Karena Cheryl tahu Anita juga sedang di luar castle, kemungkinan besar Anita akan mendengar pikirannya. Disini terjadi kekacauan lagi, cepatlah kesini!

“Baiklah. Tapi satu syarat, kau harus segera pulang setelah kakakku datang kesini” kata Cheryl.

Nathan mengangguk setuju sambil tersenyum dengan senyumnya yang khas. Senyuman polos bagi seorang Cheryl.

Kota tak seperti biasanya. Selama ini yang Cheryl perhatikan, kota Bologna tidak pernah mati walaupun sudah lewat tengah malam. Tapi keadaannya berubah dalam waktu dua minggu terakhir ini. Setiap malam, orang-orang lebih memilih untuk berlindung di rumah mereka masing-masing. Bahkan beberapa toko lebih memilih untuk tutup. Contohnya saja seperti butik yang ada di seberang toko roti milik Nathan.

Sorot lampu jalan menyinari bayangan Anita di seberang jalan. Cheryl melambaikan tangannya. Semakin sering dia bergaul di kota, kemampuan Cheryl dalam menirukan kebiasaan manusia semakin baik. Anita menghampiri Cheryl dan juga Nathan. Tangan kanan Anita masih sibuk menutupi luka yang menganga lebar akibat serangan anggota Cacciaotore yang bernama Zhoumi.

Mata Cheryl membelalak lebar, seketika menjadi cemas. Dia tahu kalau telah terjadi sesuatu yang buruk pada kakak perempuannya itu. Benda tajam biasa tak akan mampu menembus kulit porselen mereka. Nathan memperhatikan luka di balik tangan Anita yang menutupinya, sama seperti Cheryl. Nathan juga tampak sangat khawatir.

“Apa yang terjadi?” tanya Cheryl menuntut.

“Hanya luka kecil” sahut Anita, tak ingin membuat Cheryl cemas. Apalagi disekitar mereka masih ada Nathan. Mereka tidak dapat dengan leluasa berbicara.

Aku tidak bisa bercerita sekarang, tidak di depan manusiamu.Gumam Anita lewat pikirannya dan menembus pikiran Cheryl.

Cheryl mengerti. “Nathan, kakakku sudah datang. Saatnya kau untuk pulang” seru Cheryl.

Nathan masih memperhatikan keadaan Anita. Dia menjadi ragu untuk meninggalkan Cheryl dan juga Anita sendirian. Mereka berdua adalah makhluk yang sangat cantik, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi korban selanjutnya apalagi rata-rata yang menjadi korban adalah gadis-gadis cantik. Melihat keadaan Anita yang sedang terluka membuat Nathan tambah tidak yakin. “Aku tidak yakin dapat pulang dengan tenang, meninggalkan kalian berdua. Aku bisa mengantar kalian ke tempat yang ingin kalian datangi” kata Nathan.

Sorot mata Cheryl melembut. “Kumohon Nathan” lirih Cheryl.

Nathan masih berpikir. “Aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa pada kami” lanjut Cheryl lagi. Kali ini Nathan tidak bisa menolak kata-kata gadis itu lagi.

Dengan berat hati laki-laki itu pun mengiyakan permintaan Cheryl padanya. “Akan kupegang janjimu” sahut Nathan, lalu dia pun berjalan meninggalkan Cheryl dan Anita yang masih berdiri di tempat mereka sambil menatap punggung Nathan yang semakin menjauh.

“Apa yang terjadi Anita?” tanya Cheryl kemudian.

“Tidak sekarang Cheryl. Ini waktunya kita mencari tahu apa yang terjadi” jawab Anita.

♥♥♥

“Nona Cheryl Agnelli?” sapa sebuah suara berat yang sontak membuat Cheryl dan Anita terperanjat kaget.

Cheryl dan Anita membalikkan tubuh mereka untuk melihat pemilik sumber suara itu. Seseorang yang mereka kenal berdiri di ambang lorong pertokoan yang gelap. Tapi mereka tetap mengenalinya.

“Jimmy?” kata Cheryl ragu.

Seseorang yang bernama Jimmy itu berjalan mendekat. Wajahnya terlihat lebih jelas di bawah sinar lampu jalan. Dia mengerutkan keningnya. “Anita kenapa dengan tanganmu?” tanya Jimmy ingin tahu.

“sepertinya kau harus lebih berhati-hati dalam berburu, agar tidak berhadapan dengan Cacciotore” seru sebuah suara lainnya, kali ini adalah suara Ray.

“Kami sedang tidak berburu” sahut Anita dengan lantang.

“Kenapa?” tanya Dylan bingung, entah darimana laki-laki itu muncul. Suara itu terdengar lebih dulu, disusul dirinya yang ikut bergabung dengan temannya yang lain.

Cheryl menatap penuh selidik kearah tiga laki-laki itu. “para perempuan-perempuan itu. Apakah ulah kalian?” tanya Cheryl tanpa basa-basi.

Dylan terkikik. “Hanya masalah selera. Darah para gadis lebih lezat” sahut Dylan.

“Kami rasa ini bulan setengah. Tidak masalah bukan kalau kami berburu?” kata Jimmy.

Sorot mata Anita sangat tajam menatap tiga laki-laki di hadapannya itu. Dia sangat emosi, karena tiga orang itu Marcus mencurigai keluarganya dan dia pun harus bertengkar hebat dengan U-Know. “Kalian tahu, ini masih daerah kami. Tidak semestinya kalian berburu sesuka hati. kami punya aturan!” seru Anita.

“hanya memangsa binatang? Aturan bodoh kalau menurutku. Kenapa ada vampir yang menyiksa diri mereka sendiri, aku bingung” celoteh Ray.

Suasana mendadak menjadi tegang. Nafas permusuhan diantara mereka berhembus dengan kencang. Tatapan nanar satu sama lain memberikan jarak yang semakin jauh sebagai teman.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s