FF: Milagro del Amor Part 10

Chapter 10

 

Anita melesat secepat kilat meninggalkan Marcus yang tidak menyangka Anita akan pergi begitu saja.

”Anita!”Marcus berteriak memanggil namun gadis itu tidak menghiraukan panggilannya, satu yang dia inginkan saat ini adalah segera sampai kerumahnya, pikirannya sudah dipenuhi tuduhan-tuduhan yang dia yakin benar, emosi sudah menguasainya saat ini.

Marcus memutuskan untuk mengejar Anita meski gadis itu sudah berlari cukup jauh, rasa penasaran memenuhi pikirannya, kenapa Anita langsung pergi begitu saja? Apa mungkin Anita marah karena kata-katanya tadi?

Sebenarnya Marcus ragu kalau yang melakukan itu adalah keluarga Anita, namun siapa lagi yang melakukan, semua bukti sudah jelas, korban itu meninggal dihabisi oleh vampir. Logika dan perasaan Marcus saat ini tidak sinkron, disatu sisi logikanya mengatakan kalau sudah jelas vampirlah yang melakukan itu dan sudah pasti itu keluarga Anita namun perasaannya percaya bahwa Anita tidak mungkin melakukan hal itu, Anita bukan pembohong.

Anita mempercepat larinya agar segera sampai tidak merasakan kehadiran Marcus yang mengejarnya di belakang. Begitu sampai di depan kastilnya dengan satu gerakan Anita membuka pintu dan melesat menuju ruang tengah kastil itu, ekspresi Anita menunjukkan kemarahan, membuat dua orang yang ada disitu berdiri dari duduknya menatapnya bingung.

Mata merah Anita menunjukkan kebencian yang sangat mendalam pada seorang laki-laki yang berdiri dengan wajah angkuh.

”Kau!”seru Anita menunjuk laki-laki itu, seorang gadis tidak mengerti dengan situasi yang saat ini terjadi tapi dia yakin ada sesuatu yang membuat Anita menunjukan ekspresi seperti ingin membunuh laki-laki yang dia tunjuk saat ini.

”Apa yang sudah kau lakukan?!”suara Anita agak sedikit meninggi, laki-laki itu menautkan alisnya tidak mengerti dengan pertanyaan Anita tersebut.

”Apa maksudmu?”tanya laki-laki itu dengan ekspresi mengejek.Tangan Anita mengepal kuat, rasanya dia ingin segera mematahkan kepala laki-laki di hadapannya ini.

”Peraturan yang kami buat harus selalu dipatuhi oleh semua yang berkunjung kesini Tuan U-Know”laki-laki yang ternyata U-Know itu kembali menautkan alisnya semakin tidak mengerti dengan kata-kata gadis ini.

”Sepertinya kau teramat cerdas sehingga aku tidak mengerti kata-katamu Nona Anita”ujar U-Know.

”Kau pikir bisa menyembunyikan ini dari kami, kau pikir kami tidak tahu pembunuhan yang kau lakukan di kota,hah?!”

”Pembunuhan?pembunuhan apa maksudmu?”tanya U-Know tidak mengerti. Wajahnya tampak bingung,namun ekspresi itu diartikan oleh Anita yang memang sudah terbawa emosi.

”Kau memang makhluk paling terkutuk!”dengan satu langkah Anita sudah berdiri dihadapan U-Know menarik kerah baju laki-laki itu dan mendorong tubuhnya membuatnya menabrak dinding dan jatuh ke lantai.

”Anita!”pekik gadis yang ada disitu yang tidak lain adalah Alishia,dia tidak menyangka Anita akan melakukan hal itu,U-Know juga tidak siap dengan apa yang akan dilakukan Anita,Anita memang seorang vampir wanita tapi kekuatannya sebanding dengan U-Know.

Sementara itu Marcus baru saja sampai di depan sebuah kastil yang berdiri di tengah-tengah rimbunnya hutan ini. Dia mengamati kastil ini dengan seksama.

Apa ini tempat tinggalnya, pikir Marcus, dia berjalan perlahan hendak memasuki gerbang kastil ini namun baru beberapa langkah dia berhenti., apakah dia harus masuk?mencari Anita?lalu apa yang akan dia lakukan?menanyakan sekali lagi pada Anita. Marcus menggelengkan kepalanya, tidak dia tidak akan masuk. Marcus pun berbalik namun saatdi berbalik., dia melihat seorang gadis sedang berlari dari keajuhan dan tidak butuh waktu lama untuk gadis itu sudah melewatinya tanpa memperhatikannya dan masuk ke dalam kastil.

Aku seperti pernah melihat gadis itu?gumam Marcus.

Gadis yang dilihat Marcus tadi adalah Cheryl, dia langusng pulang begitu dia mendengar Alishia berteriak dan muncul kejadian tadi dipikiran Cheryl dan diapun segera bergegas kembali ke kastil.

”Anita”Cheryl masuk dan langsung memanggil nama saudaranya itu begitu melihat Anita tengah menatap tajam U-Know yang masih tersungkur di lantai, Cheryl menoleh pada Alishia yang hanya terpaku menatap kedua orang ini, dia ingin membantuU-Know saat ini namun dia tahu seperti apa Anita. Dia tidak menyangka Anita akan mengeluarkan kembali kemarahannya yang seperti ini setelah beratus tahun yang lalu dia melihat Anita juga seperti ini.Cheryl yang merasa tidak bisa membiarkan hal ini ingin mendekat menenangkan Anita namun Alishia mencegahnya lebih dahulu, Cheryl tidak tahu bagaimana Anita, terkahir kali Anita seperti ini Dennis terluka saat akan menenangkan Anita. Cheryl bimbang karenanya, dia tidak ingin terjadi hal-hal yang lebih menyeramkan lagi, apalagi dia bisa melihat betapa marahnya Anita.

U-Know mencoba berdiri meski dia merasa tulangnya seperti remuk,dia tidak menyangka kekuatan Anita sebesar itu, dia menatap nanar Anita.

”Cih, bahkan setelah ratusan tahun kau masih lebih memilih membela makhluk lemah itu dibanding bangsamu sendiri”ujar U-Know tajam.

”Seharusnya sudah kuhabisi kau ratusan tahun lalu!”balas Anita tidak kalah tajam, rahang U-Know mengeras menahan amarahnya.

”Anita Agnelli, jangan main-main denganku”seru U-Know sambil berjalan mendekati Anita.

”Aku tidak takut denganmu”dengan penekanan disetiap kata-katanya seakan Anita menantang U-Know. Kali ini U-Know sudah mencapai batas kesabarannya meladeni sikap Anita yang sangat memusuhinya itu bahkan setelah ratusan tahun berlalu. Dengan langkah perlahan U-Know mendekati Anita, Alishia bisa menangkap tatapan membunuh dari U-Know, tidak, tidak boleh ada kejadian saling membunuh disini.

”U-Know,kumohon sudahlah”

Alishia berdiri ditengah-tengah dua makhluk immortal yang siap saling membunuh ini, dia menatap U-Know dengan lembut berharaplaki-laki ini bisa meredakan amarahnya, dia tidak mau terjadi sesuatu pada kedua orang ini terutama pada Anita.

”Anita”

”Ada apa ini?”

Dua buah suara terdengar secara bersamaan namun dari asal yang berbeda, Aletha dengan Max dari taman belakang dan Dennis dari arah pintu depan.

**

 

”Anita kau tidak bisa menuduhnya seperti itu”Dennis berbicara dengan perlahan pada putrinya yang duduk disamping kanannya di ruang makan mereka. Anita mendelik kesal pada Dennis terutama setelah melihat senyum kemenangan dari U-Know yang duduk dihadapannya, U-Know senang Dennis memihaknya. Dengan tangan disilangkan di depan dadanya, U-Know tersenyum mengejek pada Anita membuat gadis itu sangat geram.

”Anita, kau dengar aku?”panggil Dennis karena merasa Anita sama sekali tidak mendengarnya, setelah melihat kejadian tadi Dennis berbicara dengan mereka berdua untuk menyelesaikan masalah dan dalam hal ini Dennis merasa Anitalah yang salah karena dia menuduh U-Know tanpa adanya bukti.

Dengan malas Anita menoleh pada Dennis dan menggumam pelan.

”Sebaiknya kau minta maaf padanya, Anita”ujar Dennis.

”Apa?!minta maaf”suara Anita meninggi mendengar kata-kata Dennis, bagaimana bisa dia yang meminta maaf pada U-Know setelah semua yang U-Know lakukan padanya,dia tidak menyangka Dennis akan menyuruhnya melakukan itu.

”Seharusnya dia yang minta maaf, bukan aku, hah walaupun dia meminta maaf aku tdak akan pernah memaafkannya!”Anita berdiri dari duduknya.

”Pembicaraan selesai!”lanjut Anita dan langsung berjalan meninggalkan tempat duduknya, Dennis mendesah pelan, U-Know terdiam.

Anita berhenti sebentar sebelum menaiki tangga, dia menoleh lagi.

”Ayah, bisakah kau mengerti perasaanku kali ini”lirih Anita namun cukup untuk didengar oleh Dennis yang kini menoleh padanya, tatapan mata Anita melembut, menunjukan betapa dia belum bisa melupakan kesedihannya itu dan dia berharap Dennis mengerti itu, mengerti kenapa dia sangat sulit memaafkan laki-laki itu. Anita pun kembali berbalik dan mulai menaiki tangga.

Alishia yang memang sejak tadi mendengar pembicaraan ayahnya ini ingin mengikuti Anita yang kini menaiki tangga ke kamarnya namun diurungkan niatnya, saat ini sepertinya Anita tidak ingin ada yang menganggunya.

”Kalau bukan Calibria lalu siapa yang melakukannya?”tiba-tiba Cheryl sudah berdiri disamping Alishia, menanyakan topik yang sedikit menjauh dari hal ini, Alishia menoleh pada adiknya itu dan menggeleng.

”Entahlah, ayah sedang mencari tahunya,kuharap kita akan segera tahu,sebelum Boia Nero yang lebih dulu tahu”jawab Alishia sambil terus memandang pintu disudut lantai dua,kamar Anita.

 

**

 

Seorang laki-laki menatap sekeliling ruangan yang tidak terlalu besar ini dengan seksama, sebuah rumah kecil dipinggir hutan bagian timur gunung Appenine, rumah yang banyak dihiasai lukisan-lukisan yang tampak sangat kuno, juga ornamen-ornamen yang sangat aneh bagi laki-laki yang terbiasa tinggal ditengah kota ini.

”Siapa namamu tadi?”tanya seorang laki-laki bertubuh kekar sambil membawa dua buah mug keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri laki-laki tadi yang duduk disebuah bangku kecil di tengah ruangan itu.

”Spencer”jawab laki-laki yang bernama Spencer.

”Aku Andrew”ujar laki-laki yang bertubuh kekar, dia menaruh mug  itu di meja dan mendorongnya ke hadapan Spencer, Spencer tersenyum tanda terima kasih lalu mulai meminum isi mug itu.

Spencer tidak mengerti dengan pikirannya yang menerima ajakan dari laki-laki dihadapannya ini hanya karena rasa penasarannya pada Alishia,ya, Andrew bilang dia tahu siapa Alishia, pertanyaan yang selalu menghantui Spencer sejak pertama kali dia bertemu gadis manis itu.

”Jadi kau tinggal disini?”tanya Andrew membuka pembicaraan.

”Ya, baru”

”Karena gadis itukah?”pertanyaan Andrew membuat Spencer terdiam seketika, wajahnya memerah, tidak bisa dipungkiri bahwa dia kesini karena gadis itu, ya semuanya yang Spencer lakukan saat ini untuk gadis itu.

”Ya, begitulah”Spencer menyentuh belakang lehernya merasa sangat malu dan tiba-tiba dia sadar apa yang seharusnya dia lakukan saat ini, bertanya pada Andrew tentang siapa itu Alishia.

”Lalu siapa gadis itu?Alishia?”tanya Spencer. Andrew tertawa namun tawanya terdengar miris.

”Bahkan kau sudah tahu namanya”gumam Andrew, Spencer tidak mengerti maksud perkataan Andrew.

”Baiklah dengarkan aku, mungkin hal ini akan sangat mengejutkanmu tapi percayalah setelah ini kau akan tahu langkah yang sudah kau ambil saat ini sangat salah”lanjut Andrew.

Spencer hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan Andrew mulai bercerita, dimulai dari cerita membosankan tentang sejarah sampai akhirnya, Spencer menegang dalam duduknya, matanya membulat sempurna, dia merasa seperti sedang menonton film saat ini.

”Dia vampir”Andrew menyebutnya perlahn.

Wajah Alishia muncul dipikirannya, wajah Alishia yang sangat cantik saat tersenyum berganti dengan wajah Alishia yang memiliki taring dan berlumuran darah, bulu kuduk Spencer berdiri, dia kembali mengingat saat pertama kali bertemu, Alishia yang sedang berdiri sendiran di pinggir jalan digoda oleh pria mabuk.

”Dia akan menggoda mangsanya sebelum menghabisinya”

Sementara Andrew terus berbicara, pikiran Spencer sudah melanglang kemana, dia membanyangkan apa saat itu Alishia sedang menunggu mangsanya dan jikalau dia tidak menghampiri Alishia dengan niat menolongnya apakah selanjutnya dia akan mendengar berita pria mabuk yang tewas di pinggir jalan karena kehabisan darah. Pertemuan kedua, Alishia dan beruang, apakah beruang itu juga mangsanya?

”Mereka tidak bisa dipercaya,sangat licik”

Spencer hampir membahayakan nyawanya sendiri ketika mengikuti Alishia dan malah tersesat bersamanya, apa itu taktiknya? Bagaimana kalau saat itu dia benar-benar dibunuh.

Spencer menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya ini semua, sungguh sulit, dia tidak bisa berpikir bahwa Alishia adalah seorang pembunuh,Alishia tidak tampak menyeramkan,dia baik dan menyenangkan. Spencer bertempur dengan pikirannya sendiri, apa yang dilakukannya setelah ini, menjauhi Alishia? Tapi kenapa pilihan itu membuat hatinya sakit.

 

**

 

Musim semi yang hangat di Italia, matahari bersinar tidak terlalu terang tapi cukup menghangatkan, bunga-bunga bermekaran penuh, Gunung Apennine pun menunjukan pesonanya di musim semi ini, beberapa padang rumputnya sudah dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni, rumput hijau yang tidak terlalu tinggi, juga kicauan burung.

Seorang gadis memegang sebuah pringan berwarna hijau, dia melemparkannya begitu saja dan tak lama kemudian seekor serigala raksasa mengejarnya dan mengambil piringan itu lalu kembali lagi kepada gadis itu. Gadis itu tertawa senang.

”Anjing pintar”ujar gadis itu sambil mengelus tubuh serigala raksasa itu. Serigala itu mengonggong membuat gadis itu tertawa.

”Aku tahu, bukan tuan anjing tapi tuan serigala”gadis itu seakan mengerti arti gonggongan serigala itu.

Serigala itu mendekatkan wajahnya pada gadis dengan rambut panjang itu dan menggosok pipi gadis itu dengan bulunya.

Aletha

”Hmm”gadis yang ternyata Aletha itu menggumam pelan, merasakan lembutnya bulu serigala coklat ini. Seperti sudah terbiasa mereka untuk berkomunikasi lewat pikiran mereka, Aletha sendiri tidak mengerti kenapa serigala yang tidak lain adalah Jeremy ini bisa masuk ke dalam pikirannya dan berkomunikasi dengannya, bukankah seharusnya hanya bangsanya saja yang bisa, meski begitu dia tidak ambil pusing, dia senang berteman dengan Jeremy. Mannaro tidak seburuk cerita yang dia dengar.

Jeremy merebahkan tubuhnya ke tanah, Aletha mendekatinya dan ikut merebahkan tubuhnya di badan Jeremy yang sangat nyaman menurutnya, dia membelai lembut bulu coklat terang Jeremy.

Kenapa kau lebih suka melihatku dalam bentuk ini?

”Kau lebih hangat dan kau sangat tampan, serigala tertampan”jawab Aletha sambil memainkan bulu di belakang telinga panjang Jeremy.

Hei, jadi wujud serigalaku lebih tampan dibanding wujud manusiaku?

Aletha tertawa mendengar perkataan Jeremy, dia menggeleng pelan dan memainkan kuping Jeremy yang selalu bergerak jika disentuh. Tiba-tiba Jeremy kembali berubah menjadi bentuk manusianya.

”Jawab aku”pinta Jeremy yang merasa Aletha tidak menjawab pertanyannya. Ekspresinya menuntut.

”Tentu saja, kau sangat sangat tampan dalam wujud manusiamu”jawab Aletha dengan malas, Jeremy memperhatikan ekspresi Aletha yang sangat berbeda, seperti ada sesuatu.

”Ada sesuatu yang menganggumu?”tanya Jeremy sambil menyentuh wajah Aletha dan menatapnya lembut.

”Banyak hal yang terjadi di rumah”lirih Aletha, Jeremy langsung membawa Aletha kepelukannya.

”Ceritakanlah padaku”pinta Jeremy, dia paling tidak suka melihat ekspresi sedih Aletha, dia hanya ingin melihat senyuman di wajah Aletha.

 

**

 

Sudah dua hari ini Marcus hanya berdiam diri di kamarnya, dia bahkan tidak pergi ke gunung untuk menemui Anita, perasaannya saat ini benar-benar sedang kacau, banyak hal yang menganggu pikirannya dan semuanya itu tentang Anita. Semakin banyaknya pembunuhan di kota membuatnya benar-benar bingung, apa yang harus dia lakukan? Dia tidak mau mempercayai begitu saja kalau itu semua Anita dan keluarganya yang melakukannya namun apa yang bisa menjelaskan itu bukan mereka.

Marcus mengerang frustasi, rasa rindu juga menyesakkan dadanya, dua hari tidak melihat gadis yang sangat dia cintai cukup membuatnya benar-benar seperti orang gila karena rasa rindu ini. Kenapa baru saja mereka bertemu harus berakhir seperti ini?. Perang antara perasaan dan pikiran membuat Marcus tidak bisa menemukan solusi apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dia ikuti perasaannya ataukah pikirannya?

Namun rasa rindu pada gadis itu membuat Marcus berjalan membuka pintu kamarnya dan pergi,dia luar rumah dia bertemu dengan Zhoumi yang kaget melihat Marcus keluar namun sayangnya Marcus tidak mengindahkan keberadaan Zhoumi, yang dia butuhkan saat ini adalah bertemu dengan oksigennya untuk hidup, Anita.

Langkah Marcus sangat cepat, seakan-akan dia ingin segera bertemu gadis itu, seakan tidak ada lagi yang dia butuhkan selain melihat senyum di wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Sampai di bukit tempat mereka bertemu, Marcus tidak melihat keberadaan Anita, apa Anita benar-benar marah padanya?apakah dia tidak mau bertemu dengannya lagi? Pikiran buruk memenuhi kepala Marcus.

”Tidak, Anita”lirih Marcus tanpa pikir panjang dia beralri dari tempat itu menuju kastil yang dia yakin itu adalah tempat tinggal Anita.

Dia berjalan perlahan memasuki taman kastil itu, dia sangat ingin bertemu dengan Anita saat ini, mengatakan kalau apapun yang Anita lakukan dia tidak peduli, asal gadis itu ada disampingnya terus, namun tangannya berhenti ketika hendak mengetuk pintunya.

Tidak, tidak seharusnya dia seperti ini, dia memang sangat mencintai Anita tapi apakah dia akan mengkhianati semua keluarganya.Marcus menggeleng kuat-kuat, dia menyesali kenapa mereka harus berbeda saat ini dan membuat mereka sulit bersatu,kenapa sejak dulu mereka tidak pernah bisa disatukan.

Dia berbalik hendak meninggalkan tempat itu,namun saat berbalik, tubuh Marcus menegang, dilihatnya seorang gadis berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya, menatapnya dengan sendu, gadis dengan gaun putih selutut yang selalu ada dimimpinya, mimpi yang membawanya menyadari bahwa gadis itu masih hidup. Rasa rindu yang teramat sangat memenuhi dada Marcus, ingin rasanya dia menghampiri gadis itu dan memeluknya dengan erat, melepaskan rasa rindu ini. Namun apa yang Marcus lakukan hanya terdiam.

”Marcus”lirih gadis itu,gadis itu adalah Anita,gadis yang membuat Marcus bingung antara keluarganya atau cintanya.

Marcus menundukan kepalanya kemudian memutuskan untuk berjalan dan melewati Anita begitu saja, ada rasa sakit muncul di hati Anita melihat Marcus seperti itu.

”Kumohon percayalah padaku, Marcus”ujar Anita dengan tangan yang menahan tangan Marcus membuatnya berhenti berjalan.

”Setiap hari aku menunggumu,meski baru dua hari tidak bertemu tapi rasa rindu ini benar-benar menyesakkan sama rasanya saat aku tidak tahu kau dimana ratusan tahun,aku sangat merindukanmu Marcus, kumohon jangan tinggalkan aku, percayalah padaku,kumohon”pinta Anita dengan sangat memohon.

Marcus mendesah pelan, dia berbalik dan melihat Anita yang menundukan wajahnya, dia mendekatkan dirinya pada Anita, mengenggam tangan gadis itu dengan kuat. Sebelah tangannya lagi, dia gunakan untuk mendongakkan wajah Anita menatap lembut mata itu, mata yang dulunya cokelat itu berubah menjadi merah, tubuhnya yang menjadi dingin, berwarna putih pucat,semua perubahan itu tidak akan membuat Marcus meninggalkan gadis ini,dia tidak akan bisa menghilangkan rasa cinta ini hanya karena Anita sudah berubah, tidak, Anita tidak pernah berubah di mata Marcus. Marcus mengelus perlahan pipi Anita, tidak ada lagi semburat merah muda disana seperti dulu.

”Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Anita, aku akan selalu percaya padamu, saat ini, dulu dan nanti”Marcus tersenyum lembut sebelummenarik tubuh Anita ke dalam pelukannya.

”Aku sangat mencintaimu Anita”lirih Marcus mempererat pelukannya, Anita tersenyum, dia senang Marcus percaya padanya.

Namun tiba-tiba Anita merasakan sesuatu,tubuhnya langsung menegang seketika, dia melepaskan pelukan Marcus.

”Ada apa?”tanya Marcus melihat perubahan wajah Anita, Anita menatap kesekeliling mencari-cari sesuatu yang membuatnya tegang seperti ini.

Tiba-tiba saja seorang laki-laki dengan jubah hitam panjang muncul dihadapan mereka, Anita kaget begitu juga Marcus, dia tahu laki-laki ini juga vampir, Anita mengenggam tangan Marcus lebih kuat, wajahnya sungguh sangat tegang. Marcus tidak mengerti kenapa Anita seperti ini.

”Nona Agnelli, tertangkap basah bukan?”ujar laki-laki itu sambil menyungingkan senyum yang sangat menyeramkan.

Anita berusaha tenang, dia menoleh pada Marcus yang memasang wajah bingung.

”Pulanglah”ucap Anita dengan penuh permohonan pada Marcus untuk segera pergi darisini, Marcus tidak mengerti kenapa Anita seperti ini tapi melihat wajah seirus Anita memintanya untuk pulang,Marcus mengangguk, dia melepaskan genggaman tangan Anita dan mulai berjalan begitu melewati laki-laki itu Marcus memberikan sebuah tatapan menyelidik yang ditanggapi senyuman sinis laki-laki itu.

Well, dua orang anggota keluarga Agnelli tertangkap basah melanggar peraturan dan kali ini aku tidak menyangka kau, Anita Agnelli”ujar laki-laki itu setelah Marcus tidak trelihat lagi.

”Joshua”lirih Anita, lagi-lagi laki-laki yang bernama Joshua itu tersenyum sinis.

”Ternyata Anita Agnelli yang selalu dibanggakan oleh Casey seperti ini,bagaimana ya kalau dia tahu?”Joshua melipat tangannya di depan dada dan menatap Anita dengan seksama. Anita berusaha menghindari tatapan Joshua, dia tahu posisinya tidak aman sekarang.Joshua memang tidak menyukainya terutama sejak Casey pimpinan Boia Nero memintanya untuk bergabung bersama mereka.

”Apa maumu?”tanya Anita, Joshua terkekeh pelan.

”Sedikit bermain denganmu vampir kesayangan Casey”

 

**

 

Cheryl melongokkan kepalanya dari balik kaca sebuah toko roti,mencari sosok laki-laki yang dia sukai,Nathan. Dia tidak berani masuk ke dalam,dia takut ada yang mengawasinya. Tiba-tiba seseorang melambaikan tangannya menyuruh Cheryl masuk, orang itu adalah Nathan.

Karena pertemuan kemarin Nathan menyuruhnya untuk datang lagi, meski awalnya dia tidak mau tapi dia tidak berani menolak permintaan Nathan terlebih lagi dia memang ingin bertemu dengan Nathan.

”Kau ingin makan apa?”tanya Nathan begitu Cheryl sudah masuk dan duduk disalah satu meja disana.

”Tidak, bekerjalah dulu, aku akan menunggumu”jawab Cheryl sambil tersenyum tipis, Nathan mengangguk kemudian kembali ke dapur,

Cheryl memperhatikan sekeliling toko ini yang cukup ramai di siang hari seperti ini,Cheryl memainkan tangannya, dia tidak tahu apa langkah yang dia ambil ini salah tapi dia hanya ingin bertemu dengan Nathan. Dia tidak menyalahi aturankan? Bahkan dia tidak membalas pernyataan Nathan, meski sebenarnya dia sangat ingin. Dia hanya ingin berteman dengan Nathan, karena disaat bersama Nathan dia bisa merasa pernah menjadi manusia. Nathan membuatnya merasa menjadi manusia.

Tiba-tiba mata Cheryl menangkap tiga orang pria dengan tubuh kekar dan tegap, dalam sekali lihat Cheryl yakin mereka sama dengannya tapi dia sama sekali tidak kenal dengan mereka,apa mereka baru?

Tiga orang pria itu menimbulkan keramaian diluar, banyak pasang mata menatap mereka kagum terutama para gadis,tidak bisa dipungkiri itulah pesona vampir. Cheryl langsung berdiri dari duduknya dan segera keluar dari toko itu. Dia mengejak langkah tiga pria itu.

”Tunggu”panggil Cheryl membuat ketiga pria itu berhenti.

”Ada apa nona manis?”tanya salah satu dari mereka yang bertubuh paling besar.

”Ray,jangan katakan itu”sergah yang lebih pendek dengan senyum memikat.

”Ada apa nona…”

”Cheryl Agnelli”lanjut Cheryl sambil tersenyum ramah.

”Oh, keluarga Agnelli, aku Jimmy, ini Ray dan itu Dylan”ujar pria yang bernama Jimmy sambil tersenyum menunjuk kedua orang disampingnya yang bernama Ray dan Dylan.

”Kalian tinggal disini?”tanya Cheryl, dia memang vampir yang mudah bergaul, jika melihat bangsa mereka pasti Cheryl yang lebih dahulu menyapa, oleh sebab itu dia rela meningalkan tempat  Nathan hanya untuk berkenalan dengan mereka.

”Tidak,hanya singgah sebentar”jawab Jimmy ramah.

”Kalian mau singgah di tempat kami, ayah pasti senang bertemu keluarga baru”ujar Cheryl penuh semangat, Jimmy menatap kedua orang disampingnya dan mengangguk.

”Baiklah”

Advertisements

3 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s