FF:Milagrro del Amor Part 8

8th Chapter

 

Matahari kembali bersinar menyinari kota Bologna dan kaki gunung Apennines. Hangat sinar matahari semakin terasa karena sebentar lagi Itali akan mengalami musim semi. Salju-salju tampak mulai mencair meskipun hawa dingin masih terasa. Bisa diprediksi musim semi akan berlangsung kurang dari 2 minggu lagi.

“Aku senang matahari sudah kembali bersinar sebagaimana mestinya” sahut Anita sambil menghampiri Cheryl yang sedang menatap hamparan hutan hijau di depannya.

Cheryl menoleh menatap Anita, “Kemarin kau mengikutiku?” tanya Cheryl dengan wajah datar.

“Benar” jawab Anita singkat, sambil melihat ke depan hamparan hutan.

Cheryl mengdengus. “Aku tidak suka kau melakukannya”

Anita menoleh menatap adiknya itu. “Aku hanya mengantisipasi kalau kau tidak melakukan apa pun di pusat kota. Kau tahu keadaan sekarang cukup berbahaya. Para cacciatore sedang berkeliaran hendak menangkap kita” jelas Anita dengan serius.

Cheryl menghela nafas. “Aku tidak semudah itu untuk ditangkap”

“Kau keras kepala sekali. Bahkan kau rela membiarkan dirimu kehausan demi menemui manusia itu. Apa kau tidak berpikir hah?” Anita mulai kesal.

“Aku memang tidak berpikir sedetail saat kau memikirkan sesuatu. Aku hanya ingin melakukan apa yang kuinginkan. Aku bahagia berada disana. Kau tau kalau aku melupakan semuanya saat aku menjadi makhluk imortal. Aku hanya ingin kembali merasakan bagaimana kehidupanku sebelum aku menjadi seperti ini.” Jelas Cheryl penuh emosi.

Tatapan Anita melunak pada Cheryl. “Maafkan aku” gumamnya menyesal. “Kau mencintai seorang manusia?” tanya Anita selanjutnya.

Cheryl terdiam. “Cinta?” dia mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti dengan kata ‘cinta’. “Entahlah” jawabnya.

“Sikapmu cukup memperlihatkan kalau kau mencintai manusia itu” jelas Anita lagi.

“Entahlah. Aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri, aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya. Yang aku tahu, aku selalu nyaman berada di dekatnya” jawab Cheryl. “Sudahlah, aku bosan disini. Aku ingin berjalan-jalan” lanjut Cheryl, lalu gadis itu pun melompat ke atas pohon dengan sekali gerakan saja. Dia pun terus berlari dari satu pohon ke pohon lain. Anita hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Cheryl yang selalu saja tidak betah berlama-lama di castle tanpa pianonya.

Anita melangkah meninggalkan balkon dan berjalan menuju kamarnya. Dia melewati kamar Aletha, pintu kamarnya tidak tertutup yang membuat Anita tertarik untuk mendongak melihat situasi di dalamnya. Dia melihat adik bungsunya itu sedang serius melukis sesuatu di atas kanvas. Anita melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. “Cheryl pergi?” tanya Aletha tanpa menoleh ke arah Anita, tanpa melirik pun dia sudah dapat mengetahui kalau Anita duduk di sofa yang tersedia di sudut ruangan kamarnya.

“Dia selalu pergi” jawab Anita.

Tak ada jawaban dari Aletha, meskipun Anita yakin gadis itu dapat mendengar dengan jelas kata-kata Anita. “Apa yang kau lukis?” tanya Anita yang mulai penasaran karena adiknya itu terkesan sangat serius. Detik berikutnya Anita telah berada di belakang Aletha yang sedang sibuk dengan kuas dan cat lukisnya.

Anita mengerutkan kening. Dia melihat gambar seekor beruang. Tidak. Lebih tepatnya srigala dengan bulu berwarna coklat  dan mata abu-abu, tubuhnya dibuat seolah-olah lebih besar dibanding beruang. Tidak cukup itu saja, Aletha juga melukis sesuatu seolah-olah memberikan efek transformasi srigala itu, kini Aletha sedang sibuk melukis sosok manusianya. “Jangan bilang kalau kau melukis mannaro” kata-kata Anita lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan.

“bukan masalah kan? Kupikir mereka menarik dijadikan objek lukisan, lagipula aku belum pernah menjadikan mereka objek lukisanku sebelumnya” jelas Aletha dengan santai.

“Astaga. Mereka itu berbahaya Aletha” Anita menekankan setiap kata-katanya. “Lagipula kenapa kau berpikiran melukisnya saat transformasi?, kau pernah melihatnya?” Anita menangkap sesuatu yang ganjal dari lukisan Aletha. Aletha menegang dan menghentikan gerakannya sedetik namun cukup lama bagi ukuran vampir.

Mau tak mau kata-kata Anita mengingatkan Aletha pada pertemuannya dengan seorang mannaro bernama Jeremy. Mereka tidak berbahaya seperti apa yang dikatakan kakak-kakaknya dan juga Dennis. Well, meskipun dia tidak mempunyai hak untuk secepat itu menilai. Mannaro yang dia kenal hanya Jeremy, dan Mannaro tidak hanya Jeremy masih banyak kawanan-kawanannya yang lain.

“eeehhh… aku hanya berimajinasi” jawab Aletha sekenanya. Dia berusaha menutupi gejolak hatinya, meskipun dia tidak begitu yakin kalau dia akan berusaha menutupinya dari Anita.

Anita hanya berdeham mengerti. “Imajinasimu sangat bagus. Bahkan kau melukisnya seperti benar-benar nyata” puji Anita.

“Aku melakukannya selama seratus tahun”

“Benar juga, kenapa aku bisa lupa kalau kau sudah berumur seratus tahun sebagai makhluk imortal” sahut Anita sembarangan. Kemudian mereka pun tertawa bersama hingga menggema sampai ke sudut-sudut ruang kamar Aletha.

♥♥♥

“Bagaimana bisa kau belajar secepat itu?” tanya Nathan dengan sorot mata takjub.

Gadis disampingnya tersenyum puas. “Bahkan aku bisa melakukan lebih dari ini..” sahut Cheryl sambil tertawa renyah.

“Woooww” gumam Nathan, bibirnya membulat. Dia kembali memeriksa adonan yang di buat Cheryl. Tekstur yang sempurna untuk hasil coba-coba seseorang yang baru belajar. Cheryl hanya mengulang tiga kali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Itu sengaja dia lakukan agar Nathan tidak curiga, tetapi tetap saja Nathan merasa takjub. Harus berapa kalikah dia melakukannya?. Sebenarnya makhluk seperti mereka selalu sempurna melakukan pekerjaa-pekerjaan manusia walalupun sebelumnya belum mereka lakukan. Mereka hanya tinggal memulai dan kesempurnaan itu akan datang dengan sendirinya. “Baiklah kita panggang adonan ini. Selanjutnya kita bisa mengetahui rasa yang kau hasilkan” sahut Nathan kemudian. Dia berjalan menghampiri sebuah oven berukuran kecil, karena hanya untuk memanggang hasil adonan Cheryl saja.

Sementara Cheryl menunggu Nathan. Dia memain-mainkan sisa tepung yang ada di nampan untuk menghilangkan rasa bosannya. Kadang-kadang dia meniup tepung yang menempel di tangannya, membuat tepung itu berterbangan lalu dia tersenyum senang. Pengalaman yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Dia sangat senang setiap kali dia bersama Nathan, dia dapat melakukan hal-hal baru seperti apa yang dia lakukan saat ini. Kali  ini Cheryl menyentuh tepung dengan jari telunjuknya dan mencoletkannya di pipinya sendiri membentuk tiga garis di pipi kanan dan pipi kiri. Dia menggunakan panci yang berkilat di dapur Nathan yang tidak digunakan sebagai cermin dan bergaya-gaya disana.

Nathan mencuri pandang kearah Cheryl. Dia tersenyum melihat tingkah polos Cheryl. “Gadis yang special” gumam Nathan pada dirinya sendiri.

Nathan berjalan mendekati Cheryl. “Kita hanya tinggal menunggu beberapa menit saja” sahut Nathan. Cheryl tersentak mendengar kata-kata Nathan yang telah berada di belakangnya saat dia sedang sibuk menghibur dirinya.

Buru-buru Cheryl membalikkan badannya agar berhadapan dengan Nathan, dia menghentikan tindakan konyolnya. Semakin lama, Cheryl semakin lihai bertindak-tanduk sebagaimana manusia biasa. “Tidak masalah menunggu beberapa menit saja” sahut Cheryl sambil memasang senyumnya.

Nathan memperhatikan raut wajah Cheryl lekat-lekat. “Wajahmu. Ada banyak tepung di pipimu” kata Nathan bersamaan saat dia menyentuh wajah Cheryl.

Cheryl menegang saat Nathan menyentuh wajahnya dengan hati-hati. menelusuri setiap inchi lekuk wajah gadis itu. Mata Nathan menatap langsung ke dalam mata biru Cheryl, tentu saja sebelumnya gadis itu menyamarkan warna mata merahnya. Cheryl tidak melakukan apa pun, dia membiarkan Nathan menyentuh wajahnya. Laki-laki itu membersihkan sisa-sisa tepung di wajah Cheryl yang sehalus porselain.

Nathan tersenyum lembut setelah dia membersihkan sisa-sisa tepung di wajah Cheryl. “Coba saja kotori wajahmu dengan tepung. Maka aku akan selalu membersihkannya” cetus Nathan pada Cheryl.

“Bagaimana kalau ini?” kata Cheryl saat dia mencoletkan tepung ke pipi Nathan, lalu dia tertawa. Nathan menatap Cheryl seakan-akan hendak menghukum gadis itu. Cheryl tak menggubris tatapan Nathan. Dia tetap tertawa, dia tahu kalau Nathan hanya bercanda dengan tatapannya itu.

“Ternyata kau memang ingin dihukum nona Cheryl. Aku ini gurumu” sahut Nathan. Baru saja dia akan mencoletkan tepung ke pipi Cheryl. Seorang perempuan berambut pirang keriting sebahu memanggil Nathan dari balik lubang yang menghubungkan tempat memesan dan dapur.

“Nathan ada yang ingin bertemu denganmu” kata perempuan itu.

Nathan mengerutkan keningnya. “Siapa?” tanyanya penasaran

“Seorang laki-laki” jawab perempuan itu lagi.

“baiklah” kata Nathan pada perempuan itu, perempuan itu pun pergi darisana. “Kau bisa menungguku kan?” tanya Nathan beralih pada Cheryl. Cheryl mengangguk mantap.

Sebenarnya Cheryl mencium bau yang tidak beres. Aroma yang tiba-tiba menusuk indera penciumannya. Aroma itu sama dengan aroma tubuh manusia biasa, namun lebih tegas dan menyengat. “Ada apa?” tanya Cheryl pada dirinya sendiri. Dia menegang di tempatnya berdiri.

“Nona kau akan tetap berada disana?” tanya perempuan yang sama dengan yang berbicara pada Nathan tadi.

Cheryl tidak menggubris pertanyaan perempuan itu. Dia tetap menegang di tempatnya, sampai perempuan itu lebih memilih tidak meneruskan pertanyaannya pada Cheryl.

♥♥♥

Seorang gadis berambut hitam lurus sebahu berjalan melintasi hutan. Langkahnya sangat anggun tidak terkesan dibuat-buat. Walaupun dia bisa saja melompat dari satu pohon ke pohon yang lain tapi itu tidak dia lakukan. Dia lebih menikmati gerakan insting manusianya yang masih bersisa. Dari saudara-saudaranya yang lain Aletha lah yang memiliki insting manusia yang paling kuat. Dia memeluk sebuah benda berbentuk kotak berukuran lumayan besar. Terkadang dia mendengar sebuah lolongan yang panjang. Tidak seperti sebelumnya, Aletha tidak begitu takut lagi dengan suara lolongan itu. Hingga dia hafal pemilik lolongan itu. Dia hanya merasa takut jika suara lolongan tidak familier di indera pendengarannya dan itu berarti bukanlah Jeremy yang melakukannya.

Aletha mendengar suara lolongan yang panjang sekali lagi. “dasar anak anjing” cetus Aletha sambil tersenyum.

Dari sela-sela pepohonan yang mulai menggelap dia melihat bayangan hitam besar yang mendekat. Aletha menghentikan langkahnya dan memperkuat sistem inderanya. Namun detik berikutnya seorang laki-laki bertelanjang dada keluar dari balik pepohonan sambil berjalan dengan santainya mendekati Aletha. Rambut kecoklatannya acak-acakan membingkai wajah laki-laki itu, sejumput rambut terurai menutupi keningnya.

“Hai” sapa laki-laki itu sambil tersenyum ramah pada Aletha.

Aletha menghembuskan nafas lega, meskipun dia tahu kalau itu adalah Jeremy. Aletha menjawab sapaan Jeremy dengan senyumannya.

“Aku dengar kau tadi menyebut ‘anak anjing’. Siapa yang kau maksud anak anjing?” tanya Jeremy.

Aletha mendengus, dia menahan tawanya. Menurutnya ekspresi Jeremy sangat lucu. “Siapa lagi kalau bukan kau” jawab Aletha jujur.

“Hei, aku lebih tua darimu. Dan aku bukan anak-anak lagi”

“Memangnya umurmu berapa hingga kau mengatakan kau lebih tua dariku?”

“24”

“Aku bahkan sudah lebih dari 100 tahun”

“Itu curang”

“jadi kau ingin mendengar kalau umurku 17 tahun?”

“Memang itu kenyataannya bukan?”

“Well, kalau begitu aku katakan saja aku berumur 17 tahun sejak hampir 100 tahun yang lalu?”

“Kedengarannya itu lebih baik” sahutnya Jeremy kemudian, lalu mereka pun tertawa bersama. Memecah kesunyian diantara ribuan pepohonan yang berdiri kokoh di gunung Appenines.

“Umurmu 24?” tanya Aletha penasaran saat mereka telah duduk di atas ranting pohon pinus yang menjulang tinggi dan kokoh.

Pandangan Jeremy beralih menatap wajah porselain Aletha. “Benar. Kau meragukannya?” tanya Jeremy.

“Jujur saja iya” jawab Aletha yang masih penasaran. “Well, kurasa wajahmu tak menunjukkan kau sudah menginjak umur berkepala dua itu” lanjut Aletha. Gadis itu selalu mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Jeremy tanpa takut kalau laki-laki itu akan tersinggung. Sepertinya tidak ada kata tersinggung pada Aletha di kamus kehidupan Jeremy.

Jeremy tertawa dengan pertanyaan polos Aletha. “Kau tidak pernah mendengar tentang Mannaro?” Jeremy malah balas memberikan pertanyaan.

“Pernah, tapi tidak detail” jawab Aletha.

“Mannaro juga tidak akan bertambah tua selama dia masih memegang kekuatan sebagai Mannaro” Jeremy mencoba menjelaskan. “Aku menjadi Mannaro diumurku yang ke-18 tahun. Jadi mungkin penampilan fisikku tidak lebih dari seorang anak berumur 18 tahun meskipun sebenarnya aku telah berumur 24 tahun” lanjut Jeremy.

Aletha mengangguk mengerti. “Lalu, apa mannaro bisa berteman dengan vampir?, bukannya jenis kita saling memusuhi?”

“Sepertinya kau penasaran sekali dengan jenisku ya?”

Aletha mengangguk.

“Baiklah, aku akan menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan Nona Aletha Agnelli. Jenisku tidak memusuhi vampir dengan harga mati. Kami hanya melindungi daerah kami. Bisa kubilang hanya sebatas tidak suka terhadap vampir. Apa kau dan keluargamu juga sangat membenci kami?” Jeremy menandang Aletha dan gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Jeremy. “Kami pun juga begitu, rasa berhati-hati lah yang membuat semuanya seolah saling membenci. Kau tidak perlu jauh-jauh mencari jawaban dari pertanyaanmu. Buktinya saja kita bisa berteman” lanjut Jeremy, dia tersenyum pada Aletha di akhir kata-katanya.

Entah mengapa Aletha selalu merasa tenang setiap melihat senyuman Jeremy, seolah senyum itu mempu memberikan kedamaian untuknya. “Kenapa kau ingin berteman denganku?” tanya Aletha ragu-ragu seperti sebuah bisikan. Dia tidak peduli kalau Jeremy tidak mendengarkan pertanyaannya barusan.

Tapi laki-laki itu dapat menangkap dengan jelas pertanyaan Aletha. Ekspresi wajahnya berubah serius menatap langsung ke dalam mata merah gadis di sampingnya itu. “Apa yang kau lihat dariku? Kita tidak akan berteman kalau saja kau menolakku untuk menjadi temanmu. Sebenarnya kau sudah mendapatkan jawabannya dari dirimu sendiri.”

“Ada suatu keyakinan kalau kau tidak akan menyakitiku sebagaimana yang pernah dikatakan Max ataupun Dennis” jawab Aletha.

“Kau benar. Aku tidak akan menyakitimu. Tidak akan pernah” sahut Jeremy, nada suaranya seolah mewakili seluruh perasaannya, tatapan matanya lembut. “Sekarang giliran kau yang harus menjawab pertanyaanku” nada bicara Jeremy lebih ceria dari sebelumnya.

Aletha menatap Jeremy waspada. “Apa?” tanyanya.

Jeremy tertawa, “Ayolah Aletha. Ekspresimu itu seolah-olah aku akan menginterogasimu seperti seorang tersangka. Aku hanya ingin bertanya, apa yang kau bawa itu?, jujur saja daritadi aku penasaran” pandangan Jeremy beralih ke benda kotak putih yang dibawa Aletha sedari tadi.

Senyum Aletha tersungging. “Ini untukmu” jawabnya sambil menyodorkan benda yang dipegangnya itu kepada Jeremy.

Jeremy mengerutkan keningnya. “Untukku?” tanyanya memastikan dan dijawab anggukan mantap dari Aletha.

Jeremy membuka bungkusnya dan melihat sebuah kanvas yang bergambar dirinya dalam trasnformasi dari Mannaro menjadi manusia. “Kau yang melukisnya?” tanya Jeremy pada Aletha dengan pandangan takjub.

“Kau menyukainya?” tanya Aletha sambil mengawasi perubahan ekspresi Jeremy.

“Sangat detail dan hidup. Aku bahkan sangat menyukainya” jawab Jeremy. Jeremy menurunkan lukisan itu ke tanah dengan kekuatannya, mengatur kecepatan dan kekuatan angin sehingga lukisan itu seperti melayang dan perlahan-lahan turun hingga sampai ke tanah dengan satu gerakan kecil dari tangan kiri Jeremy.           “Kita tetap berada disini sampai matahari mulai tenggelam berganti dengan cahaya bulan” sahut Jeremy lagi.

Aletha diam saja. Dia memandang lekuk wajah Jeremy dari samping di tengah cahaya matahari yang mulai meredup, Aletha merasa kesulitan untuk mengalihkan pandangannya dari Jeremy.

Dia merasakan sesuatu yang hangat membaur dengan tangannya yang dingin. Pandangannya beralih, tangan panjang dan ramping milik Jeremy telah berada di atas tangannya. “Matahari tenggelam sangat indah. Lihatlah!” sahut Jeremy kemudian, Aletha pun buru-buru mengalihkan pandangannya kearah pemandangan matahari tenggelam yang dimaksud Jeremy. Suasana pun menjadi hening. Mereka larut dalam perasaan mereka masing-masing di bawah sinar matahari keemasan yang memancar menyinari sosok mereka.

♥♥♥

Sepanjang hari Alishia menemani Dennis untuk memantau bisnis Dennis di pusat kota. Hal itu selalu dia lakukan setiap sebulan atau dua bulan sekali bersama dengan Dennis. Dennis merupakan pengusaha sukses dan terkenal di pusat kota. Tetapi dia lebih memilih untuk tidak terlalu membuka diri meskipun Dennis juga terkenal sebagai pengusaha yang dermawan dan juga ramah.

“Sepertinya mereka bertiga belum pulang ayah” seru Alishia pada Dennis begitu mengecek keberadaan ketiga adiknya yang tidak dia temukan di sekitar castle.

“Pasti asik bermain, padahal sudah aku memperingati untuk berhati-hati” gumam Dennis.

“Kurasa mereka akan menjaga diri baik-baik” sahut Alishia

Dennis meraih sebuah buku tebal di salah satu rak buku yang terletak di sudut ruangan. “Kurasa begitu”

“Kalau ayah khawatir aku bisa mencari mereka”

“Tidak perlu. Biarkan saja”

Alishia berpikir, mungkin saja Anita sedang berburu dan Aletha ikut bersamanya mengingat Aletha tidak akan pergi terlalu yang dari hutan gunung Appenines apalagi Anita juga tipe orang yang akan melindungi saudaranya. Tetapi berbeda dengan Cheryl, bisa dikatakan dia berbeda dari yang lain. Sifat pemberontak dan petualang Cheryl lebih kental dari yang lain. Sehingga Alishia tidak yakin kalau gadis itu tidak pergi ke pusat kota, apalagi hari sudah mulai gelap. Tanpa pikir panjang, Alishia pun langsung pergi meninggalkan castle untuk memastikan kekhawatirannya.

Di tengah hutan dia berhenti berlari. Dia melihat sebuah cahaya kuning yang redup dari balik pepohonan, sehingga dia memutuskan untuk berjalan layaknya manusia biasa hanya untuk berjaga-jaga. Dia menajamkan indera penglihatannya. Cahaya itu semakin terang seiring semakin dekat jaraknya. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah api unggun. Musim yang mendekati musim semi memang cocok untuk berkemah, walaupun sisa-sisa salju masih ada. Seingatnya dua minggu yang lalu memang ada yang berkemah disana untuk beberapa hari. Tak jauh dari api unggun itu dia melihat sebuah tenda yang lebih kecil dari tenda yang dia lihat dua minggu yang lalu. “Ada manusia lagi?” gumam Alishia pada dirinya sendiri.

Alishia pun lebih memilih tidak menggubris rasa penasarannya. Dia lebih memilih untuk berjalan ke arah pusat kota. Namun sebuah suara mengacaukan rencananya. “Alishia” seru sebuah suara itu.

Tanpa menoleh, Alishia pun tahu kalau seorang manusialah yang memanggilnya karena dia mengenal aroma yang menusuk ke indera penciumannya.

“Alishia” panggil suara itu lagi. Sepertinya orang itu tidak akan berhenti memanggil nama Alishia sampai gadis itu menoleh menatapnya.

Alishia membeku di tempatnya. “Alishia kau mendengarku?” tanya orang itu mendesak.

Alishia sangat menuruti apa yang sering dikatakan Dennis padanya. Dia tidak ingin berhubungan dengan seorang manusia meskipun hanya berteman sekalipun, tanpa pikir panjang Alishia buru-buru berlari namun berlari dalam langkah manusia. Dia tidak ingin membuka identitasnya sebagai vampir di depan manusia itu.

Dia bisa mendengar bunyi kasar dedaunan dan ranting-ranting yang patah saat diinjak, dia yakin itu bukan karenanya. Vampir berjalan selembut mungkin bahkan nyaris tak meninggalkan jejak kaki. “Sial” gumam Alishia pada dirinya sendiri, dia tahu manusia itu juga berlari mengikutinya.

Dia merasakan kini sebuah tangan bertengger di pergelangan tangan kanannya yang membuatnya terpaksa berhenti. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak memiliki keahlian berlari seperti Cheryl, kemampuan berlari manusianya sangat payah. Alishia tetap mematung di tempatnya, menahan aroma manusia yang menusuk hidungnya.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu secepat ini” gumam orang itu sambil tersenyum. Alishia tidak menggubrisnya.

Orang itu mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah Alishia yang seolah sangat menghindari dirinya, sangat berbeda di pertemuan mereka sebelumnya. “Kau masih mengenalku kan Alishia?” tanya orang itu memastikan. “Aku Spencer. Aku sengaja kesini ingin bertemu denganmu” sahutnya lagi.

Mata Alishia membelalak terkejut, kalau saja dia manusia mungkin jantungnya akan keluar. Selama ini tidak ada seorang manusia yang rela berkemah di dalam hutan hanya untuk menemuinya. Kini Alishia mendongak menatap orang yang bernama Spencer itu. Laki-laki itu masih sama seperti yang dilihat Alishia beberapa minggu yang lalu. Rambut blondenya tampak berantakan dan sejumput rambut hampir menutupi matanya. laki-laki itu tersenyum ramah sambil menunjukkan senyum gusinya yang terkesan polos bagi Alishia. Manusia yang polos.

Alishia menepis tangannya dari genggaman spencer. “Maaf” seru Spencer pada Alishia. Ekspresi Alishia masih datar.

“Untuk apa?” tanya Alishia singkat.

Kening Spencer berkerut, tapi setelah mengerti maksud pertanyaan Alishia dia menjawab. “Aku tidak tahu harus pergi kemana selain kesini untuk menemuimu”

“Untuk apa kau menemuiku?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang membawaku untuk menemuimu, mungkin aku ingin berteman denganmu”

“Aku tidak ingin berteman denganmu. Pulanglah! Disini berbahaya” sahut Alishia dengan tajam.

Spencer terdiam. Sorot mata kecewa terlintas. “Aku tidak peduli. Apa yang harus kulakukan agar kita bisa berteman?” tanya Spencer lembut.

Alishia tertegun melihat keseriusan Spencer. “Tidak ada. Pulanglah!” seru Alishia lagi. Gadis itu pun berjalan meninggalkan Spencer.

“Tunggu!. Kurasa kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan” seru Spencer. Alishia tidak peduli.

Spencer berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah Alishia. Dia kembali menahan tangan gadis itu. “aku tidak akan membiarkan dirimu berjalan sendirian, kita temukan jalan bersama.” Kata Spencer. Alishia memandang tidak suka ke arah tangannya yang di genggam Spencer.

Spencer tahu Alishia merasa risih dengan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Alishia. Entah mengapa Spencer tidak ingin melepaskannya, seperti ada sebuah setrum yang membuatnya tidak ingin mengalihkan tangannya dari sana. “Kau kedinginan” gumam Spencer yang merasakan suhu dingin di tangan Alishia. Spencer mengeluarkan sepasang sarung tangan dari kantong jaketnya dan memakaikannya di tangan Alishia.

Alishia tidak memberontak dengan perlakuan Spencer. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Spencer yang terlihat sangat telaten mamasukkan setiap jari-jarinya kedalam sarung tangan. Setelah selesai Spencer tersenyum tulus pada Alishia. Dan detik itu juga Alishia menyadari kalau dia menyukai senyum polos laki-laki itu, senyum yang memperlihatkan gusinya. Kedua tangan Spencer beralih menyentuh kedua pipi Alishia. Gadis itu tersentak hingga sedikit menyentakkan kepalanya ke belakang.

Melihat tanggapan Alishia lagi-lagi Spencer meminta maaf. “Maaf” katanya, lalu dia melepaskan sebuah syal panjang yang dikenakannya dan memakaikannya pada Alishia. “Bagaimana bisa kau keluar rumah dengan pakaian dingin yang tipis seperti itu?. Kau kedinginan” seru Spencer kemudian.

Sebenarnya cuaca dingin tidak terlalu berpengaruh pada vampir, dan suhu tubuh vampir memang lebih rendah daripada suhu manusia biasa. Oleh kerena itu Alishia sengaja tidak memakai pakaian yang lebih tebal karena dia hanya bermaksud untuk mencari saudara-saudaranya. Tidak menyangka kalau akan bertemu dengan manusia bernama Spencer itu lagi.

“aku akan mencari jalan keluar darisini. Serahkan saja padaku, aku sudah dua kali mendaki gunung ini” Sahut spencer, lalu dia berjalan mendahului Alishia.

Alishia hanya menuruti kata laki-laki itu. Dia berjalan di belakang Spencer, menatap gerak-gerik Spencer yang tertangkap indera penglihatannya. Spencer mengambil sebatang ranting yang telah patah untuk membantu perjalanan. Sesekali dia menebas tumbuhan-tumbuhan belukar yang menghalangi jalan mereka. Spencer tampak sangat terbiasa dengan pekerjaan itu. Alishia tahu kalau jalan yang ditunjukan Spencer kepadanya adalah jalan yang salah, namun gadis itu lebih memilih diam dan mengulum senyum melihat kepercayaan diri Spencer. “Manusia unik” gumam Alishia pada dirinya sendiri.

Spencer mengumpulkan daun-daun dan menaruhnya di sebuah pohon pinus, dia meminta Alishia untuk beristirahat disana setelah sekitar tiga jam mereka berjalan namun tidak kunjung sampai ditempat awal mereka bertemu. “Maaf karena aku belum bisa menemukan jalan. Kau bisa beristirahat, aku tidak akan jauh-jauh darimu. Aku berada disana” jelas Spencer sambil menunjuk sebuah pohon pinus besar lainnya yang berada sekitar enam meter dari pohon pinus yang disediakan Spencer untuk Alishia. Alishia mengangguk mengerti.

Spencer tersenyum, dia menangkap sinyal Alishia mulai bisa menerimanya. Dia pun berjalan ke pohon pinus yang ditunjuknya. Dia mengeliat meregangkan otot-ototnya yang kaku sebelum membiarkan tubuhnya bersandar di pohoh pinus. Dia merapatkan jaket yang dikenakannya dan membiarkan matanya perlahan memejam dan membawanya ke dalam mimpi indah yang damai.

Dari jarak enam meter Alishia masih dapat memperhatikan Spencer. Wajahnya, gerakannya, nafasnya, raucauannya, dan mimpinya. Dari ekspresi kedamaian yang terpampang jelas di wajah Spencer, Alishia tahu kalau laki-laki itu sedang bermimpi indah. Alishia mampu memandangi manusia yang tidur untuk waktu berjam-jam tanpa mengalihkan pandangannya. Mereka terlihat seperti tidak mempunyai beban saat terpejam. Sesuatu yang sangat dirindukan Alishia, dia tidak dapat bermimpi lagi selama hampir delapan ratus tahun ini. Dan melihat seseorang yang mengalami mimpi indah adalah hal yang menyenangkan untuknya.

Kening Alishia berkerut ketika menangkap sesuatu yang menganjal pada Spencer. Tubuh laki-laki itu mulai bergetar tidak sebagaimana normalnya. Alishia beranjak dari duduknya, dia berjalan mendekati Spencer. Dia melihat wajah Spencer memucat dan tubuhnya bergetar hebat. Mendadak Alishia menjadi khawatir. Dia menempelkan tangannya di kening Spencer. “Dia sakit” gumam Alishia. Gadis itu melepaskan sarung tangan dan syal yang dipasangkan Spencer untuknya dan memasangkan pada Spencer. “Waktu bermain-main telah selesai” kata Alishia lagi. Dengan satu gerakan Alishia berhasil membopong Spencer dan mulai berlari dengan kecepatan vampir ke tempat awal mereka bertemu.

♥♥♥

“Seseorang ingin berbicara denganmu” kata Nathan pada Cheryl yang membeku ditempatnya berdiri setelah Nathan menerima tamunya.

Cheryl terdiam. Nathan mendapati sesuatu yang aneh dari tingkah Cheryl, yang tidak pernah dilihatnya dari sosok Cheryl yang ceria. Cheryl tampak menahan cemas. “Kau sakit?” tanya Nathan yang mulai khawatir.

Cheryl cepat-cepat menggeleng. Vampir tidak bisa sakit. Namun lebih dari itu, dia seakan sedang menimbang kematiannya sendiri. Dia menelan ludah, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan tindakan-tindakan kecil seperti itu.

“Cheryl kau membuatku khawatir” sahut Nathan, dia tidak bisa menutupi kekhawatirannya lagi. “aku bisa mengatakan kepadanya kalau kau tidak bisa menemuinya” lanjut Nathan.

Cheryl menarik nafas, dia mengedipkan matanya kembali menjadi manusia normal. “Aku akan menemuinya” kata Cheryl pada akhirnya. Dia tahu kalau dia tidak harus menghindar. Makhluk itu memang ditakdirkan untuk mengejar keberadaan jenisnya. Cheryl keluar dari dapur dan mendapati seseorang sedang duduk di sebuah kursi pengunjung dengan bahu yang menegang. Seorang laki-laki itu menoleh ke arah Cheryl dan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.

Cheryl berjalan mendekati laki-laki itu dengan rasa sangat cemas melandanya. “Duduklah nona Cheryl Agnelli” seru laki-laki itu pada Cheryl.

Cheryl menurut dan duduk di kursi yang tersedia, bersebrangan dengan laki-laki itu. “Aku Marcus, aku yakin tanpa kujelaskan kau juga tahu siapa aku” seru laki-laki itu.

Cheryl mengangguk. “Apa mau mu? Kau ingin membunuhku?” sahut Cheryl mencoba melawan kegentarannya.

Mereka berbicara seperti bisikan, sehingga dari pintu dapur Nathan tidak dapat menangkap pembicaraan apa pun. Nathan melihat gerak-gerik mereka. Bahkan nyaris seperti patung, mereka hanya terlihat saling menatap satu sama lain. Tidak ada gerakan, seperti dua buah patung yang sengaja diletakkan disana.

Marcus mendesah, tawanya sepeti mengejek Cheryl. “kau pikir aku akan bertindak bodoh seperti itu. Kalaupun aku harus membunuhmu, aku tidak akan membunuhmu disini. Tidak di depan manusia bernama Nathan itu” jelas Marcus sambil melirikkan matanya ke arah Nathan, tapi Nathan tidak menyadari kalau Marcus dan Cheryl mengetahui keberadaannya.

Cheryl mendesah, dia juga tahu kalau daritadi sebenarnya Nathan berada disana. “Lantas apa mau mu?” tanya Cheryl penasaran tapi ekspresinya tidak menunjukkan rasa penasarannya itu.

“Bawa aku pada saudaramu itu!” seru Marcus. Dia membiarkan Cheryl membaca pikirannya tentang gadis yang dia maksud.

Cheryl mengerutkan keningnya. Bibirnya bergetar. “Kau pikir aku akan mengorbankan saudaraku? Meskipun jenis kami adalah makhluk terkutuk bagi kalian, aku tidak seperti itu!” rahang Cheryl mengeras penuh amarah saat dia mengatakannya. Dia melihat Anita dalam bayangan seorang Cacciatore bernama Marcus yang ada dihadapannya itu.

“Ada yang harus aku pastikan” seru Marcus tertahan, tak kalah tegangnya.

Cheryl berdiri dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi berderit yang memekakkan telinga dari kursinya. “Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan pernah mengorbankan saudaraku sendiri! Aku tidak akan membiarkan kau menyentuhnya!” sahut Cheryl dengan tegas. “Jangan harap aku akan diam saja kau mengincar saudaraku!” kata Cheryl sekali lagi lalu beranjak meninggalkan Marcus disana.

Dari gerakannya Nathan tahu kalau Cheryl sedang marah pada orang yang berada dihadapan gadis itu. Tetapi tetap saja Nathan tidak dapat menangkap pembicaraan mereka. Dilihatnya Cheryl meninggalkan laki-laki itu dengan penuh amarah. Nathan ingin menghampiri Cheryl, namun akhirnya dia lebih memilih memberikan waktu agar Cheryl menenangkan dirinya. Sedangkan laki-laki bernama Marcus itu tetap duduk menegang di tempatnya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya untuk beberapa saat, lalu dia pergi meninggalkan toko roti milik Nathan.

Saat itulah Nathan berpikir untuk menyusul mencari Cheryl. Nathan berlari dari satu tempat ke tempat lain mencari tanda-tanda kehidupan Cheryl. Hingga dia sampai di depan sebuah taman kota. Rambut gadis itu tampak bersinar di bawah lampu taman yang menyinarinya. Bahkan dikegelapan yang hanya disinari lampu taman Cheryl pun tampak begitu mempesona. Gadis itu duduk seorang diri di salah satu kursi panjang. Nathan menghampiri Cheryl dengan hati-hati, takut kalau kedatangannya akan semakin memperburuk suasana. Dia duduk di sebelah Cheryl setelah dirasanya Cheryl tidak keberatan.

Nathan hanya diam. Dia tidak mengatakan apa pun kecuali meraih tangan dingin Cheryl dan menggenggamnya erat-erat seolah dari sentuhannya itu dia ingin mengatakan ‘aku akan selalu disini untukmu’. Cheryl menoleh menatap Nathan, tatapan mata Nathan padanya mampu menenangkan kegelisahan dalam diri Cheryl. Bagaimana tersiksanya hati Cheryl mengetahui kalau Anita saudaranya sedang dalam incaran Cacciatore meskipun dia tidak tahu apa maksudnya, namun dia menangkap ada sesuatu yang tidak beres. ‘Anita dalam bahaya karena aku’ kata Cheryl dalam hati.

“aku tidak ingin pulang” lirih Cheryl pada Nathan. “dan kuharap kau tidak memaksaku” lanjut gadis itu. Dia tidak ingin di tengah jalan Cacciatore itu akan mengikutinya dan akan menemui Anita. Cacciatore bukan makhluk bodoh yang gampang dibohongi. Dia rela mati di pusat kota-di pemukiman manusia, asalkan saudaranya tidak dalam bahaya.

Nathan menunjukkan ekspresi tidak setuju. “Aku tidak akan merepotkanmu lagi, tapi tolong kali ini jangan paksa aku untuk pulang. Aku punya alasan” jelas Cheryl.

“Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendiri disini”

“Kau pulang saja”

“Tidak jika tanpamu”

“Aku bisa menjaga diri” Cheryl tidak ingin Nathan melihat dirinya saat dibunuh oleh seorang Cacciatore.

“Aku tahu”

“Kalau begitu apa yang kau tunggu?, kau pulang saja!”

“Aku menunggumu”

Cheryl mendesah “baiklah. Bagaimana kalau aku ikut denganmu pulang?” tanya Cheryl.

“Sepertinya itu lebih baik” jawab Nathan. Dia pun berdiri dan membimbing Cheryl mengikutinya menuju rumah. Di perjalanan Cheryl berpikir sebenarnya ini tidak baik untuk Nathan. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Cheryl untuk tidak akan mengunjungi Nathan lagi setelah ini. Dia tidak ingin Nathan terlibat dalam situasi yang sulit. Cheryl bukan manusia seperti yang ada dalam pikiran Nathan, dan setiap detiknya Nathan tidak terlepas dari bahaya kalau dia tetap bersama Cheryl.

Cheryl memandang takjub sebuah rumah yang dihadapannya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun memiliki taman yang luas dengan arsitektur klasik namun tetap terkesan modern. Nathan menuntun Cheryl untuk masuk ke dalam rumahnya. “Ini rumahku” seru Nathan saat mereka telah berada di depan pintu rumah. “Aku tinggal sendirian disini, keluargaku di Roma  dan sebagian di luar negeri” jelas Nathan sambil berusaha memutar knop pintu hingga pintu itu membuka lebar. Seakan menyambut kedatangan mereka berdua.

“Kau tunggu disini. Aku akan membawakan kau minum” sahut Nathan, berusaha sopan terhadap tamunya.

Baru saja Cheryl akan menolak namun sudah terlambat. Laki-laki itu telah melangkahkan kakinya ke dapur hendak mengambilkan minuman untuk Cheryl, terpaksa gadis itu mencari alasan lagi untuk menolak meminumnya. Cheryl berjalan menyusul Nathan di dapur. Dapur yang sangat luas. Cheryl menduga-duga bahwa ukuran dapur itu bahkan lebih luas daripada kamarnya sendiri. Gadis itu dapat menebak dengan tepat pasti Nathan lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur.

Nathan tersenyum melihat Cheryl yang memperhatikannya. Selesai melihat Nathan yang sibuk membuat sesuatu, mata Cheryl kembali berkelana memperhatikan arsitektur rumah Nathan. Di sebuah sudut ruangan matanya mendapati sebuah piano dengan cat berwarna coklat sehingga terkesan begitu antik. Dia menyentuh badan piano kemudian beralih menekan tuts-nya satu persatu seakan telah lama dia tidak memainkan benda itu. Cheryl menarik kursi kesil yang tidak berada jauh dari piano, mungkin sengaja ditaruh di dekat piano itu, dengan jari-jari lentiknya Cheryl mulai memainkan sebuah lagu yang mengalir begitu saja dari otaknya dengan sangat indah.

“Sebenarnya apa yang tidak kau bisa?” tanya Nathan pada Cheryl dengan pandangan takjub. Entah sejak kapan Nathan telah berdiri di samping piano. Cheryl baru tersadar kalau dia memejamkan matanya saat bermain piano, bahkan dia tidak menghiraukan indera penciumannya.

Cheryl menghentikan permainannya dan beralih menatap Nathan dengan bola mata membulat seperti ingin keluar. “Kurasa hal yang tidak bisa kulakukan adalah jauh-jauh darimu” kata itu keluar begitu saja dari bibir Cheryl.

“Cheryl” gumam Nathan dengan wajah serius. Pipi Cheryl memerah.

“Kau pasti bisa bermain piano juga” kata gadis itu mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak sepintar itu, adikku yang bermain piano” jawab Nathan. “Cheryl” gumam Nathan, ada sesuatu yang berbeda saat Nathan menyebut nama Cheryl.

Cheryl mendongak menatap Nathan. Entah mengapa Cheryl merasa pipinya memanas. “Aku mencintaimu” Nathan kembali bersuara.

“Nathan” gumam Cheryl. Dia berasa bahagia mendengar pengakuan Nathan namun disisi lain dia juga mengutuk dirinya sendiri karena membuat laki-laki itu jatuh cinta padanya.

“Aku tau ini mungkin terlalu cepat. Meskipun kita belum terlalu lama bersama, entah mengapa aku seakan sangat mengenalmu. Mungkin terdengar konyol, tapi itulah kenyataannya” jelas Nathan, matanya lembut menatap Cheryl.

Cheryl ingin sekali bersuara dan mengatakan kalau dia juga mencintai Nathan. Ada sesuatu yang tidak Nathan ketahui tentang dirinya dan dia tidak bisa mengatakannya. Bibir Cheryl terkunci rapat. Tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang berbeda, lehernya menegang bibirnya bergetar saat mendengar sebuah suara dari pikirannya. Gadis itu tertegun.

♥♥♥

Anita berdiri di sebuah toki roti milik Nathan. Dia memperhatikan orang-orang yang ada di dalam toko roti itu, namun gadis itu tidak mendapati adiknya. Dia mencium bau Cheryl yang lumayan jauh dari tempat dia berdiri saat ini hingga dia tidak dapat memastikan dimana adiknya itu berada. “Cheryl dimana kau?” kata Anita melalui pikirannya.

Tidak ada jawaban dari Cheryl.

“Aku tahu kau pasti masih disekitar sini. Sekarang telah di depan toko roti milik manusia-mu” sahut Anita lagi masih melalui pikiran.

Anita mendengus kesal karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Cheryl. “Aku tidak akan memaksamu untuk pulang. Aku hanya penasaran dengan manusia-mu itu. Kau tidak ingin mengenalkannya denganku?” tempo bicara Anita mulai cepat karena gadis itu sudah kesal.

“Anita tolong pergi darisana!” jawab Cheryl kemudian.

Anita mengerutkan keningnya karena dia mendengar nada cemas dari suara pikiran Cheryl.

“Nona Anita Agnelli” sebuah suara berat memanggil namanya dengan penuh penekanan. Anita menegang di tempatnya, dia tahu kalau sumber suara itu berasal dari belakangnya, bau itu juga begitu menyengat.

Anita mengepalkan kedua tangannya dengan kencang, tubuhnya menegang. Dia tahu kalau dengan satu gerakan saja dia dapat mati dengan sekejap tanpa bekas. Penakut bukan sifatnya, sehingga dia memberanikan dirinya untuk menoleh ke sumber suara itu. Walaupun dia tetap akan mati, setidaknya lebih terhormat karena dia masih berusaha untuk mempertahankan dirinya daripada tidak bertindak apa pun. “Kau memanggilku tuan Cacciatore?” sapa Anita, rahangnya mengeras.

Orang yang berada di hadapannya itu menarik sudut-sudut bibirnya ke atas. Gerakannya tidak seperti sebuah seriangaian yang sering dia lakukan, namun lebih seperti sebuah senyuman lega. Anita heran melihat sikapnya yang tetap tenang.

“Kau sama sekali tidak mengenaliku?” tanya laki-laki berambut keemasan itu. Matanya seakan mengharapkan kalau Anita akan mengingat sesuatu.

“Kau Cacciatore yang tidak sengaja kutemui di puncak gunung Appenines dan manusia yang ingin membunuh adik bungsuku!” sahut Anita dengan ketus.

Laki-laki itu cepat-cepat menggeleng, tatapannya berubah sedih. “Bagaimana mungkin kau bisa melupakanku?” gumamnya.

Anita benar-benar tidak mengerti arah bicara laki-laki itu. Laki-laki itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Anita. Anita mendadak cemas, tiba-tiba saja jalanan menjadi sepi. Dia ingin sekali menangis tapi tentu saja vampir tidak bisa melakukannya. Tatapan laki-laki itu seakan memendam sesuatu yang sangat menyakitkan sehingga membuat Anita tidak dapat melakukan apa pun. Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Anita. “Anita” gumam laki-laki itu.

Anita buru-buru menepis tangan laki-laki itu sebelum berhasil menyentuh wajahnya. Dia tahu kalau itu hanya tak-tik Cacciatore, kemudian dia akan menikam Anita tanpa ampun. Dengan satu gerakan yang luwes Anita melepaskan diri dari perangkap jarak diantara mereka yang semakin sempit. “Anita…” panggil laki-laki itu seakan tidak rela Anita meninggalkannya.

Anita tidak meneruskan langkah vampirnya. Dia seperti sangat mengenal cara orang itu memanggilnya. Anita masih membeku di tempatnya, dia masih menunggu.

“Anita” laki-laki itu terus saja memanggil nama Anita tanpa bosan. “Aku selalu senang memanggil namamu Anita. Anita Rose Marie Gialli” lanjut laki-laki itu.

Detik itu juga Anita merasa kepalanya sangat berat menerima kenyataan. Bahwa laki-laki itu memanggil nama lengkapnya. Hampir selama lima ratus tahun ini tak ada yang memanggilnya seperti itu. Perlahan Anita membalikkan tubuhnya, dia menatap sosok laki-laki itu dari atas hingga bawah hingga beberapa kali. Mata Anita tak berkedip sedetikpun. “Ka…kaa..kau…” kata Anita terbata-bata. “Marcus Gerolamo Cardano?” tanyanya tak yakin.

Laki-laki itu tersenyum puas. Matanya berkaca-kaca tak sanggup lagi menahan butiran hangat mengalir membasahi pipinya. “Benar” jawabnya singkat tapi yakin. “Kau ingat aku?”

“Bagaimana bisa..?” gumam Anita yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Katakan kalau aku sedang tidak bermimpi!” nada bicara Anita meninggi.

Laki-laki bernama Marcus itu menghampiri Anita dengan sekejap saja. “Apa aku seperti mimpi? Aku nyata Anita” Marcus menyentuhkan tangan dingin Anita ke wajahnya. “Aku sudah lama mencarimu”

Tanpa pikir panjang Anita langsung memeluk laki-laki berambut keemasan itu dengan erat. Dia tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali saja dia harus menahan derita selama ratusan tahun. Dan kali ini dia tidak akan membiarkannya pergi lagi. Begitupun dengan Marcus, dia memeluk Anita sangat erat. Mereka tak dapat membendung kebahagian mereka lagi setelah penantian yang panjang

Advertisements

3 thoughts on “FF:Milagrro del Amor Part 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s