FF: Milagro del Amor Part 7

7th Chapter

 

Cheryl mencoba menyesap minuman berwarna darah dihadapannya, sambil mengamati wajah Nathan, dia sangat berharap Nathan memalingkan wajahnya sebentar saja sehingga dia bisa menghilangkan cairan di dalam gelas itu yang Nathan sebut jus strawberry, tidak penting apa namanya bagi Cheryl, dia tetap tidak akan bisa meminumnya meski berwarna seperti darah rasanya sama sekali berbeda. Lidah Cheryl tidak terbiasa dengan itu. Namun kenyatannya Nathan seakan terhipnotis wajah Cheryl dan tatapan matanya terus mengarah pada Cheryl.

Cheryl berdehem pelan sebelum mulai menyesapnya melalui sedotan, dia terus memperhatikan wajah Nathan dan begitupun sebaliknya dengan Nathan, begitu dia merasakan cairan itu mengalir  ditenggorokannya, dia merasakan rasa yang amat sangat pahit namun mau tidak mau di harus melakukannya lagi untuk menyempurnakan penyamarannya.

“Kau tidak ingin makan sesuatu?”Nathan bertanya pada Cheryl karena Cheryl sama sekali tidak memesan makanan, Cheryl menjauhkan gelasnya sedikit dan menggeleng pada Nathan.

“Aku sudah makan”jawabnya sambil tersenyum, seketika itu Nathan terpaku melihat senyuman Cheryl yang menurutnya sangat indah, bahkan dia harus berdehem beberapa kali untuk mengatasi kegugupannya, ya entah kenapa Nathan menjadi gugup saat melihat senyuman Cheryl.

“Kau baik-baik saja?”Cheryl balik bertanya karena melihat tingkah Nathan yang aneh.

“Ya, ya, ya,aku baik-baik saja”Jawab Nathan terburu-buru, dia mengalihkan pandangannya dari wajah Cheryl ke pasta yang sudah dia pesan.

Cheryl terkikik pelan melihat tingkah Nathan, dia sangat lucu, itulah pikiran Cheryl, dia menopangkan kedua tangannya menahan wajahnya,sedikit memiringkan wajahnya dan kembali memasang senyum di wajahnya, dia mengamati Nathan yang sedang makan. Di amati terus membuat Nathan semakin gugup.

“Kau mau mencoba pastaku, ambillah”Nathan malah menyodorkan piring pastanya pada Cheryl, Nathan tidak bisa berpikir apa-apa lagi, dia merasa menjadi bingung berhadapan dengan gadis yang sukses membuat jantungnya berdetak tak karuan sejak tadi dengan semua tingkahnya.

“Tidak, tidak, aku sudah makan,habiskan saja makanmu Nathan”ujar Cheryl lengkap dengan senyumannya lagi.

Cheryl, pulang

Cheryl mendengar namanya dipanggil, itu suara Alishia, gadis itu mendesah pelan, dia belum mau pulang, dia masih ingin bemain dengan Nathan tapi dia tahu Alishia sudah memperingatkannya untuk pulang, kalau dia tidak pulang, dia takut ayahnya akan menjemputnya seperti kemarin.

“Ada apa?”tanya Nathan yang menyadari perubahan wajah Cheryl menjadi sedikit gelisah.

“Nathan, aku harus pulang”Cheryl berdiri dari duduknya, Nathan sedikit bingung dia pun ikut berdiri.

“Biar aku antar”tawar Nathan, Cheryl menggeleng.

“Kakakku sudah menjemput, ciao” Cheryl tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Nathan dan keluar cafe tersebut, Nathan masih saja terus menatap gadis itu yang kini sudah berjalan semakin menajuhi cafe, ada rasa kehilangan sekaligus kecewa saat gadis itu menolak tawarannya untuk mengantarnya pulang.

 

**

Tepat pukul 8 malam keempat gadis itu berkumpul dimana Dennis menyuruh mereka untuk berkumpul, sebuah ruangan yang sangat jarang mereka gunakan, entah apa tujuan Dennis menyuruh mereka berkumpul disitu, sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin Dennis sampaikan dan sebegitu pentingnya sehingga pembicaraan ini dilakukan ditempat yang lebih tertutup dan serius.

Keempat gadis itu kini sedang menunggu Dennis yang belum datang, masing-masing tidak ada yang saling bicara, sibuk dengan kegiatan mereka sendiri atau lebih tepatnya mencoba menebak-nebak apa yang akan Dennis bicarakan. Alishia duduk di sofa merah dengan pandangan lurus ke jendala besar dihadapannya menikmati bulan yang hampir penuh itu sedangkan Cheryl terlihat sibuk memainkan pajangan di meja besar di ruangan itu, sebuah bola-bola yang disusun rapih dia keluarkan dan di gelindingkannya di meja, lain dengan Aletha yang sibuk membolak-balik majalah usang yang ada disana hanya sekedar untuk mengusir kebosanannya sementara Anita disibukkan dengan buku bacaanya di sudut ruangan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan muncullah seorang pria dengan rambut coklat dan lesung pipi yang tidak lain adalah Dennis.

“Sudah berkumpul semua?”tanyanya pada semua gadis diruangan ini.

“Sudah ayah, apa yang ingin ayah bicarakan?”tanya Alishia langsung saat Dennis beranjak duduk di depan jendela besar ruangan itu, dia memperhatikan wajah anak gadisnya itu satu persatu yang kini sedang menatapnya penuh tanda tanya dari tempatnya masing-masing.

“Aku ingin membicarakan kejadiaan beberapa hari lalu”

“Dennis”Anita menginterupsi kata-kata Dennis, untuk apa membahas kejadiaan kemarin?bukankah Dennis sudah tidak mau membahas itu?itulah pikiran Anita ketika dia mulai mengerti jalan pikiran Dennis dan apa maksud tujuannya mengumpulkan mereka disini.

“Aku tidak akan membahasnya lagi seperti kataku, hanya saja,sebelumnya kalian harus mengerti aku mengatakan hal ini bukan karena aku mengatur kalian, aku melakukan ini karena aku menyanyangi kalian, jadi tolong dengarkan kata-kataku sampai selesai”Dennis berkata dengan lembut dan tenang tapi terselip penekanan agar mereka memperhatikan kata-kata Dennis setelah ini dan mencamkannya baik-baik.

Mereka mengangguk dan menatap Dennis menunggu kata-kata Dennis.

“Alishia, aku minta maaf untuk kejadian tadi, aku terlalu kasar padamu, aku percaya kau tidak mengenalnya, kurasa U-Know sangat berlebihan tapi dia hanya ingin melindungimu, interaksi dengan manusia memiliki batas-batas tertentu dan aku yakin kau tahu akan hal itu”

“Iya, aku tahu ayah, maafkan aku, aku hanya berusaha melindungi manusia itu, dia tidak bersalah, dia hanya berada pada waktu yang salah”Alishia mencoba kembali menjelaskan, meski Dennis sudah minta maaf dan percaya padanya tapi dia masih menangkap keraguan pada kata-kata Dennis.

“Iya aku tahu Alishia, aku tahu”Alishia tidak membalas kata-kata Dennis, dari kata-katanya tadi dia dapat menangkap bahwa Dennis sudah selesai bicara dengannya.

“Aletha”panggil Dennis pada putri bungsunya.

“Iya ayah”jawab Aletha sedikit takut-takut.

“Sungguh aku sangat menyayangimu,kau selalu membuatku cemas, ingin rasanya aku selalu ada disampingmu untuk menjagamu tapi aku sadar kau bukanlah anak kecil, aku hanya bisa mengingatkanmu terus dan terus, jangan dekati teritorial Mannaro lagi, mengerti? Aku tidak bisa membayangkan mereka akan menyakitimu sayang”pesan Dennis sambil tersenyum lembut pada anak bungsunya itu, Aletha mengangguk perlahan, ya dia harus selalu hati-hati sekarang dia tidak mau membuat ayahnya sedih.

“Anita”kini Dennis beralih pada Anita, gadis itu menatap tepat mata Dennis seakan-akan mencari tahu apa yang akan pria itu akan pesankan padanya.

“Kau adalah gadisku yang sangat hat-hati, kau bisa menjaga dirimu dengan baik tapi tetap saja terkadang aku mencemaskanmu, rasa penasaranmu yang terlalu berlebihan terkadang membuatku takut kau akan berbuat sesuatu yang mencelakakan dirimu, aku hanya ingin mengingatkanmu, tetap hati-hati dan kuharap kau bisa membantuku menjaga saudara-saudaramu yang lain”

“Ya”Anita menjawab singkat, Dennis tersenyum pada anak gadisnya yang seperti memiliki dunianya sendiri ini tapi dia sangat tahu kenapa Anita seperti ini.

“Cheryl”kini Dennis beralih pada Cheryl.

Cheryl menatap takut-takut ayahnya, dia merasa paling akan diberi pesan sangat panjang, apalagi kalau bukan karena ayahnya memergokinya bersama seorang manusia.

“Cheryl anakku,aku tidak tahu apa yang kau lakukan di kota, apakah menurutmu kota itu sangat menarik atau apapun alasannya kumohon kurangi kegiatannmu kesana, aku tidak melarangmu, sungguh itu hakmu namun kuharap kau bisa memikirkan akibatnya dikemudian hari, ingat kita berbeda dengan mereka, kita tidak bisa sembarangan berinteraksi dengan mereka, mengerti maksudku?”

“Iya ayah aku mengerti”Cheryl menunduk menjawab pertanyaan ayahnya.

“Aku mengatakan ini karena aku sangat menyanyangi kalian, sungguh bukan aku ingin mengekang kalian, aku hanya mengaggap kalian seperti anak-anakku sendiri yang harus aku lindungi tapi tidak mungkin aku mengikuti kemana kalian pergi, kalian tentu tidak mau kan? Oleh sebab itu aku hanya bisa mengingatkan kalian, lebih hati-hati mulai sekarang, berjanjilah padaku, hm?”

Satu persatu dari mereka mengangguk, sebenarnya Dennis tidak mau bertindak otoriter seperti ini tapi dia hanya ingin melindungi keluarganya, anak-anaknya, meski mereka tidak memiliki hubungan biologis namun kebersamaan yang beratus-ratus tahun membuat Dennis sudah menganggap keempat gadis ini adalah anaknya dan dia tidak mau terjadi sesuatu pada keempat gadis yang sangat dicintainya ini.

**

Malam ini tampak lebih cerah dibanding malam-malam biasanya, bahkan bulan terlihat jelas,udara pun tidak sedingin pagi hari tadi, malam ini lebih hangat. Seorang gadis berdiri di balkon yang berhadapan langsung dengan hutan yang gelap. Sebelah tangannya menggenggam pagar, dia tampak sedang berpikir keras, sesekali alisnya yang indah itu saling bertaut.

Tangannya bergerak menyentuh pipinya, kejadian tadi siang kembali teringat olehnya, apa jadinya saat itu jika dia membiarkan pria itu menyentuh wajahnya, bukan karena dia takut dibunuh well­-mungkin itu juga tapi ada hal yang lebih dari sekedar takut untuk dibunuh, mata pria itu memberikan suatu isyarat seakan dia sangat ingin tahu atau lebih tepatnya memastikan.

Dua kali sudah dia bertemu pria Cacciatore itu dan pria itu memberikan dua tatapan yang berbeda padanya, dia masih ingat saat pertama kali bertemu mata pria itu juga tidak lepas menatapnya, kaget itulah yang dia tangkap dari tatapan mata pria itu dan kini tatapannya berbeda lagi.

“Anita”seorang gadis tampak memasuki balkon, gadis di balkon itu berbalik dan melemparkan tatapan ada apa.

Gadis yang bernama Alishia itu menghampiri Anita dan berdiri disampingnya, ikut memperhatikan hutan dihadapannya.

“Pemburu vampir lagi?”tanya Alishia sambil memiringkan kepalanya.

“Apa maksdumu?”Anita bertanya dengan sedikit ekspresi tidak suka mendengar nada bertanya Alishia.

“Kali ini apa yang terjadi?”tanya Alishia lagi.

“Kau membaca pikiranku”cetus Anita tidak suka jika Alishia membaca pikirannya lagi.

“Tidak sengaja”Alishia menjawab singkat sambil tersenyum.

“Kau tahu ayah sudah mengingatkan kita untuk selalu hati-hati mulai saat ini, jadi jangan melakukan hal yang membuatnya cemas”lanjut Alishia.

Anita tersenyum mengejek pada Alishia, tidak seharusnya kata-kata itu ditujukkan padanya, dia lebih tahu untuk selalu berhati-hati bukankah selama ini dia tidak pernah mendapat masalah dengan makhluk-makhluk lain.

“Seharusnya kata-kata itu ditujukkan untukmu Alishia, jauhi manusia itu kalau kau tidak ingin dapat masalah”ujar Anita dan meninggalkan Alishia di balkon itu.

Alishia tersenyum tipis, ya sudah seharusnya dia menjauhi manusia itu bukan karena dia yang akan dapat masalah tapi manusia itu.

**

Pagi menjelang, matahari masih enggan muncul, awan gelap lebih dahulu datang, sekelompok pria yang sedang berkemah itu mendengus kesal ketika melihat langit yang berwarna abu-abu, padahal mereka berharap hari ini akan lebih cerah. Memang sudah resiko jika berkemah di musim dingin, kalau bukan karena taruhan konyol mereka waktu itu tentu mereka tidak akan mau menghabiskan waktu disini.

“Aku ingin pulang!”seru salah seorang dari mereka, pria berambut coklat dengan wajah seperti anak kecil yang baru saja keluar dari tendanya.

“Bersabarlah, tinggal dua hari lagi”jawab salah satu pria yang sedang berkumpul di depan sebuah api unggun, mereka sedang menikmati segelas coklat panas yang baru saja mereka buat.

“Ini gara-gara ide konyol manusia itu”lanjut pria berambut coklat itu lagi sambil menerima segelas coklat panas dari teman-temannya.

“Sudahlah Aiden, kurasa dia sangat menikmati perjalanan ini”ujar yang lain sambil memperhatikan seorang pria dengan rambut blonde yang sedang berdiri di ujung tebing seakan sedang menikmati udara dingin pagi ini.

Pria yang bernama Aiden itu mendesah pelan kemudian berjalan menghampiri pria yang berdiri di ujung tebing tadi.

“Spencer ini giliranmu mengambil kayu bakar”ucapnya ketus, pria itu menolah dan tersenyum menunjukkan senyum gusinya.

“Aiden, ayolah, perjalanan ini sangat menyenangkan bukan?”ujar pria bernama Spencer itu.

“Menyenangkan katamu?kau tahu semalam aku hampir membeku!”seru Aiden dengan wajah kesal, Spencer tertawa pelan.

“Aku tahu, aku tahu, dua hari lagi Ok?”ujar Spencer sambil tersenyum dan menepuk bahu sahabatnya itu lalu mulai berjalan memasuki hutan untuk mengambil kayu bakar.

Spencer berjalan perlahan di tengah hutan yang basah ini, sejak semalam dia tidak berhenti memikirkan pertemuannya dengan gadis yang pernah dia selamatkan itu, juga dengan pria yang bersamanya kemarin,intinya kini Spencer tengah memikirkan gadis itu.

“Alishia”gumamnya tanpa sadar, entah kenapa Spencer menjadi amat sangar penasaran dengan identitas gadis itu, kenapa dia bisa bertemu di hutan? Apa gadis itu tinggal disini? Begitu banyak pertanyaan di pikiran Spencer  sehingga membuatnya pusing sendiri.

 

**

Aletha menyusuri hutan dengan langkah perlahan, berjalan seakan-akan dirinya adalah manusia, terkadang Aletha senang melakukan ini hal itu bisa membuatnya teramat sangat senang karena ternyata dia masih memiliki sifat manusianya, ya saat-saat inilah Aletha merasa dirinya masih manusia walaupun itu hanya perasaan Aletha saja.

Kepalanya mendongak mengamati ranting-ranting pohon yang mulai bersih dari sisa-sisa salju, sesekali dia menyunggingkan senyum, entah apa yang dipikirkan Aletha sehingga dia bisa tersenyum seperti itu.

Tanpa terasa Aletha sudah masuk jauh ke dalam hutan, dia memutuskan untuk duduk disalah satu batu besar disana, memainkan kedua kakinya, mendongak ke langit, memutar memorinya tentang kehidupan manusianya, Aletha senang melakukan hal itu karena dia tidak ingin lupa pada memori saat dia masih berdarah panas, dia takut jika dia tidak melakukan hal itu dia akan lupa padahal memorinya sebagai makhluk mortal adalah memori yang sangat indah baginya sesuatu yang tidak mungkin bisa dia lakukan lagi saat ini.

Tiba-tiba terdengar suara ranting terinjak, Aletha segera berdiri dari duduknya, matanya mengawasi setiap sudut hutan ini, berusaha menangkap sesuatu yang menghasilkan suara tadi, lama kelamaan suara itu semakin jelas, Aletha merasakan dirinya dalam bahanya, dia berjalan mundur. Dia tidak bisa menebak darimana asal suara tadi. Aletha mulai mendengar suara hembusan nafas juga bau yang menyesakkan hidungnya.

Mannaro, gumam Aletha dalam pikirannya, dia semakin berjalan kebelakang, dia takut, setahunya ini masih teritorial mereka bukan milik Mannaro tapi kenapa mereka kemari? Kini suara gonggongan mulai terdengar, Aletha semakin takut, tubuhnya sedikit gemetar, tidak ada yang bisa menolongnya saat ini, tidak ada Max.

“Jangan sakiti aku, aku akan pergi”lirih Aletha mata merahnya bergerak-gerak mencari sesosok makhluk itu dengan langkah mundur.

Ketika terdengar gonggongan lagi Aletha sudah bersiap untuk lagi namun sebuah tangan mencegah dirinya untuk berlari, saat Aletha menoleh matanya membulat kaget melihat seorang pria bertelanjang dada dengan rambut hitam yang sedikit berantakkan. Matanya tajam namun wajahnya kecil.

“Aku tidak akan menyakitimu”lirih pria itu. Aletha hanya diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Baru kali ini dia melihat Mannaro dalam bentuk manusinya dan bakan sebenarnya dia baru melihat Mannaro beberapa hari yang lalu saat Max mengajaknya berburu.

Pria itu melepaskan tangannya dari tangan Aletha dan tersenyum pada gadis itu.

“Aku Jeremy”ujarnya, dia menatap Aletha lekat-lekat menunggu jawaban gadis itu.

“Aletha”lirih Aletha, entah apa yang dia lakukan benar atau salah dengan berbicara pada Mannaro. Namun dia yakin bahwa pria ini tidak akan menyakitinya.

“Nama yang bagus”ujar Jeremy lagi, Aletha tidak tahu harus menanggapi,sampai dia mendengar sebuah lolongan, membuatnya kembali takut. Aletha bergerak mundur.

“Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu, maukah kau berteman denganku Aletha?”tanya Jeremy lagi dengan wajah penuh harap, Aletha hanya mengangguk cepat, lolongan kembali terdengar, Aletha semakin takut dan Jeremy tahu itu.

“Kalau begitu maukah kau bertemu denganku disini besok?”Aletha hanya mengangguk, dia tidak benar-benar mendnegarkan kata-kata Jeremy, ketakutan sudah menguasainya terutama setelah mendengar lolongan itu terus menerus.

“Terima kasih Aletha, pergilah”ujar Jeremy, setelah itu Aletha melesat dengan cepat menghilang dari hadapan Jeremy, Jeremy tersenyum senang, sudah sejak kemarin dia ingin berbicara dengan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan tadi?kenapa kau tidak menjawab panggilanku”seorang pria yang bertelanjang dada juga sudah berdiri dibelakang Jeremy.

“Andrew”ucapnya begitu berbalik.

“Ah, tidak, aku sedang berlari tadi jadi tidak mendengarmu”Jeremy beralasan kenapa dia tidak menjawab panggilan pria yang dia sapa Andrew itu.

Pria bernama Andrew itu hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.

“Ketua mencarimu, ayo pergi”ujar Andrew dan seketika itu juga dia merubah dirinya menjadi seekor serigala raksasa dengan bulu abu-abu lalu masuk ke dalam hutan sementara Jeremy masih terpaku ditempatnya.

“Aku akan menunggumu besok Aletha”gumam Jeremy sebelum dia merubah dirinya menjadi serigala berbulu coklat dan berlari mengikuti Andrew.

**

Spencer sibuk mengambil ranting-ranting pohon yang berjatuhan, mengumpulkannya untuk dijadikan kayu bakar, kali ini adalah tugasnya untuk mengumpulkannya. Sudah banyak yang dia kumpulkan, Spencer sedikit meregangkan tubuhnya yang sejak tadi terus membungkuk memunguti ranting-ranting kayu, tiba-tiba mata Spencer  berbinar-binar melihat sesosok gadis yang menghantui pikirannya sejak mereka pertama bertemu.

“Wow, apa hari ini hari keberuntunganku”ujarnya tersenyum senang, dengan gerakan cepat dia menghampiri gadis yang sedang berjalan perlahan itu.

“Alishia”panggilnya, dia masih mengingat dengan jelas nama gadis itu dan dia senang akan hal itu.

Alishia menoleh mendengar namanya dipanggil, matanya membulat kaget begitu melihat Spencer lagi, dia ingin berlari tapi tidak mungkin, Spencer akan tahu siapa dia. Spencer tersenyum senang begitu sampai dihadapan Alishia.

“Kau masih mengingatku?”tanyanya pada Alishia, Alishia hanya mengangguk perlahan. Tentu saja dia masih mengingat pria ini, ingatan vampir sangat tajam.

“Syukurlah, kekasihmu baik-baik saja kan?”tanya Spencer lagi, dia takut kejadian kemarin membuat gadis ini dan kekasihnya bertengkar.

“Ya, dia baik-baik saja”jawab Alishia singkat.

“Maaf aku harus pergi”ujar Alishia lagi kemudian kembali berjalan, dia ingat pesan Dennis untuk tidak bertemu dengan manusia lagi.

“Tunggu, tunggu”Spencer mengikuti Alishia berjalan,Alishia kaget ketika menyadari kini Spencer berjalan disampingnya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria disampingnya ini, sekarang dalam benak Alishia dia berpikir bagaimana caranya agar pria ini pergi.

Tanpa terasa mereka sudah berjalan beriringan jauh dari tempat mereka semula bertemu, mereka asyik dengan keheningan diantara mereka, Spencer terlihat sangat senang, entah kenapa sejak pertama bertemu gadis ini, dia akan selalu senang jika bertemu dengan gadis ini lagi.

“Apa kau tinggal disini?”tanya Spencer memecah keheningan setelah sekian lama terdiam.

“Tidak”jawab Alishia singkat.

“Kau masih mengingat namaku?”tanyanya lagi.

“Spencer”lagi-lagi Alishia hanya menjawab singkat berharap pria ini akan bosan dengan jawaban singkat Alishia sehingga bosan dan segera pergi.

“Kau ingat?!sudah kuduga pria setampan aku akan selalu diingat”pekik Spencer senang, dia tersenyum dengan senyum gusinya itu pada Alishia, Alishia menahan tawanya, sungguh pria disampingnya ini sangat lucu, tidak ada rasa ketakutan pada diri pria ini padahal bisa saja Alishia memangsnya bukankah Spencer selalu menggalkan rencana makannya.

“Hei, kau ingin tertawa bukan?tertawalah, kurasa kau lebih cantik jika tertawa, Oops jangan katakan itu pada kekasihmu, aku tidak sedang mencoba merayumu saat ini hanya saja kurasa kau akan sangat…”

Alishia tidak bisa menahan tawanya mendegar Spencer yang terus berbicara terus menerus dengan ekspresi yang sangat lucu, Alishia tertawa lepas, Spencer terpaku melihat tawa Alishia, bagaimana mungkin gadis ini begitu indah, wajahnya, tawanya, tubuhnya, semuanya. Apa ada gadis seindah ini?

 

**

Cheryl mengendap-endap keluar dari kamarnya, dia ingin pergi ke kota lagi hari ini, apalagi kalau bukan untuk bertemu Nathan. Dia sangat hati-hati saat keluar kamarnya, dia takut saudaranya atau bahkan ayahnya memergokinya, dia tidak tahu harus berbohong apa pada mereka.Begitu sukses keluar tanpa ada yang melihat dia segera melesat dari satu pohon ke pohon lain dengan senyuman diwajahnya.

Sementara itu Anita berdiri diatas atap kastil mereka, menyunginggkan senyum melihat saudaranya yang berlari jauh.

“Seharusnya kau gunakan taktik yang lebih bagus untuk kabur Cheryl”gumam Anita dan setelah itu dia mulai mengikuti Cheryl pergi, kali ini dia tidak ngotot untuk menangkap gadis itu, dia lebih memilih mengawasi, apa yang sebenarnya dilakukan saudaranya itu di kota.

Cheryl tidak merasakan kehadiran Anita dibelakangnya karena memang Anita menjaga jarak dengan Cheryl dna hanya mengandalkan indera penciumannya untuk mengikuti Cheryl, sampai di kota gadis itu berjalan layaknya manusia, dia sudah tidak sabar untuk bertemu Nathan lagi.

Sebuah toko kue baru saja buka, seorang pria berdiri di depan toko itu, mungkin dia yang baru membuka toko, wajah Cheryl langsung ceria melihat pria itu.

“Nathan”panggilnya, meski masih jauh Cheryl sudah memanggil pria dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi itu, Nathan tersenyum melihat Cheryl, entah kenapa dia merasa senang bisa melihat senyum gadis itu, senyum yang membuatnya tidak bisa tidur setiap malam karena memikirkannya.

“Aku datang lagi”seru Cheryl senang begitu sampai dihadapan Nathan.

“Masuklah, kau ingin membeli sesuatu?”tanya Nathan sambil membukakan pintu untuk Cheryl masuk.

“Tidak, aku ingin melihatmu bermain dengan adonan”jawab Cheryl semangat. Nathan bingung,apa dia harus menyanggupi keinginan Cheryl.

**

“Berjanjilah untuk selalu bersamaku,Marcus”

“Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi, Anita”

“Anita”lirih Marcus saat dia kembali terbangun dari tidurnya dengan mimpi yang sama untuk kesekian kali, mimpi dengan cerita yang berbeda namun tokohnya sama, dia dan seorang gadis.

“Anita”Marcus kembali mengucapkan nama yang dia dapat dari mimpinya, nama gadis itu Anita?apakah gadis salam mimpi itu sama dengan gadis yang kemarin dia temui.

“Gadis vampir itu”lagi-lagi Marcus menggumam tidak jelas, dia benar-benar tidak mengerti kenapa dia bisa bermimpi hal yang sama berulang kali, apa maksud mimpinya? Marcus mengacak rambutnya frustasi.

Sementara itu diluar kamar Marcus, empat orang pria sedang sarapan bersama, Zhoumi menengok beberapa kali ke pintu kamar Marcus, dia ingin membangunkan pria itu namun dia tahu Marcus tidak suka jika tidurnya diganggu.

“Apa yang terjadi pada Marcus?”tanya Henry yang menghabiskan croissant nya dalam sekali gigit.

Semua mata tertuju pada Zhoumi, semua tahu  Zhoumilah yang paling dekat dengan Marcus, yang lain sedikit enggan terlalu dekat dengan Marcus yang memang sangat dingin itu. Zhoumi menaikkan bahunya, dia sendiri juga tidak tahu ada apa dengan Marcus akhir-akhir ini,dia tidak mau bicara apapun. Mendengar suara pintu dibuka, semua mata beralih pada seorang pria dengan rambut pirang kecoklatan itu yang baru saja keluar dari kamarny, sudah rapi dan sepertinya akan pergi lagi.

“Aku pergi dulu”ujar pria itu yang tidak lain adalah Marcus. Marcul langusng berjalan tanpa menunggu tanggapan pria-pria itu, toh dia memang tidak butuh tanggapan apapun. Zhoumi mendesah pelan melihat sikap Marcus yang selalu seperti ini.

**

Anita sampai di kota, di segera mengikuti bau tubuh Cheryl, tidak mempedulikan banyak pasang mata yang menatapnya kagum, langkah anggunya seakan tidak terusik oleh beberapa sapaan pria-pria yang dia lewati, dia hanya terfokus pada tujuannya menyeret saudaranya itu pulang.

“Merepotkan”keluh Anita saat menyadari Cheryl memasuki pusat pertokoan kota itu. Namun langkahnya berhenti seketika, ketika melihat seorang pria yang juga berhenti berjalan, mereka hanya berjarak beberapa meter saja, tubuh Anita menegang seketika, begitupun juga pria itu.

Anita hendak lari tapi bagaimanapun Cheryl masih ada disini, dia tidak akan membiarkan adiknya dalam bahaya bukankah dia sudah berjanji pada Dennis untuk menjaga saudara-saudaranya, lalu apa yang harus dia lakukan?

Marcus, pria itu berjalan mendekati Anita, kali ini dia ingin memastikan apakah gadis dalam mimpinya itu adalah gadis vampir ini,Anita hanya bisa terpaku ditempatnya, dia berpikir keras apa yang harus dia lakukan, kenapa saat seperti ini otaknya menjadi tumpul?

Cheryl pulang, Cacciatore disini, pulang Cheryl!

Anita berusaha mengirimkan pesan melalui pikirannya pada Cheryl berharap Cheryl mendengarnya.

“Anita!”seru seorang gadis berlari menghampiri Anita, dia terkejut melihat seorang Caccitore hanya berjarak satu meter saja dari kakaknya. Marcus ikut menoleh dan memperhatikan gadis yang baru saja datang itu, dia berhenti berjalan mendekat, pikirannya berusaha menggabungkan semua mimpinya, menyatukannya. Melihat Marcus hanya diam, Anita langsung membawa Cheryl pergi sebelum Marcus sadar dan mengejar mereka.

Begitu dua gadis itu hilang, Marcus masih berdiri ditempatnya, semuanya jelas sekarang, siapa yang dia mimpikan selama ini, gadis vampir itu dan namanya adalah Anita. Anitalah yang selalu muncul dalam mimpi Marcus, yang menjadi pertanyaan Marcus sekarang, apa hubungan dirinya dengan gadis itu? Gadis yang seharusnya dia bunuh karena gadis itu adalah musuhnya.

 

Advertisements

5 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 7

  1. omo ……… kurang banyak adegan anita-marcusnya >.<
    maaf baru komen di part ini, di part 5 sama 6 error terus …
    jadi ga apa-apakan?
    hehehehe …
    next ya, ini udah greget !

  2. Woaaa~ marcus anita ada apaan ya?dimasa lalu kah?
    Kyaaa abang saya keluar jeremy,andrew werewolf..
    Ngomong2 spencer pedenya kelebihan..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s