FF: Milagro del Amor Part 6

6th chapter

 

“Aku mencintaimu.”

Itulah kata-kata terakhir yang terekam dalam benak laki-laki berkulit putih ini. Laki-laki itu spontan terbangun dari tidurnya dan terdiam. Ia kembali mendapat mimpi yang sama beberapa hari terakhir ini. Seorang gadis mengenakan gaun putih selutut berparas cantik, selalu mengeluarkan kata-kata yang menggambarkan isi hatinya kepada laki-laki itu. Ia tertegun, memikirkan arti dari semua mimpinya itu.

  • §§§

Semenjak kejadian kemarin malam membuat klan Agnelli lebih berhati-hati, terutama Dennis. Ia menjadi lebih protect kepada keempat purtinya itu. Dennis tidak mau kejadian kemarin terulang kembali. Apapun akan ia lakukan demi keselamatan purtinya, bahkan ia berani bertaruh dengan nyawanya.

 

Dennis duduk sendiri di ruang tengah dengan memegang cup berisikan darah segar. Ia masih memikirkan kejadian malam itu. Bagaimana bisa Mannaro ada di tempat itu, ia yakin mereka tidak melewati batas teritorial.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan ayah?”

Dennis keluar dari dunianya ketika Alishia menyapanya dengan pertanyaan. “Kau tidak medapatkannya semalam?” Dennis berbalik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan putri sulungnya ketika melihat pakaian berburu yang di kenakan Alishia dan warna matanya yang masih merah pekat.

“Ada manusia yang menggagalkanku.” Jawabnya. Alishia menangkap tatapan khawatir ayahnya itu. “Semuanya akan baik-baik saja ayah. Percayalah.” Alishia mencoba meyakinkan laki-laki dihadapannya itu.

Dennis mencoba menghilangkan sedikit kekhawatirannya. “Baiklah.” Izinnya.

“Aku ikut.” Pinta seseorang dari arah belakang Alishia. Dennis menatap heran anaknya itu. “Aku tidak mendapatkan mangsa semalam.” Cheryl mencoba menjelaskan kepada ayah dan kakanya sebelum mereka berfikir yang tidak-tidak. Semoga mereka percaya, ujarnya dalam hati. Berharap Dennis dan Alishia percaya dengan alasannya itu.

“Benarkah? Aneh sekali rasanya seorang Cheryl salah satu putri klan Agnelli, tidak mendapatkan buruan.” Sambung Anita ketika menuruni tangga. Cheryl memucat ketika Anita meragukan alasannya itu dan menjadi salah tingkah.

“Ada yang salah? Hal itu tidak bisa dijadikan jaminan.” Ucap Cheryl membela diri. Dennis menatapnya dengan tatapan menyelidik. Cheryl gugup mendapatkan tatapan seperti itu dari ayahnya. Ia takut ayahnya mengatahui yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini. semenit kemudian tatapan Dennis kembali melembut.

“Kutitip dia Alishia.” Dennis mempercayakan kepada putri sulungnya itu. Cheryl menghela nafas lega mendengarnya.

Anita tersenyum melihat tingkah Cheryl, ia mulai curiga terhadap Cheryl. “Kau selamat hari ini.” celetuknya pelan, namun tetap dapat tertangkap oleh ketiga orang disitu.

“Anita?”

“Oh cukup kemarin.” Tolaknya.

 

Alishia dan Cheryl berlari dengan kecepatan yang sulit dicerna dengan akal manusia.

  • §§§

Seorang laki-laki berambut kuning keemasan keluar dari kamarnya dengan raut muka yang sulit diartikan. Ia berjalan menuju tempat dimana terdapat beberapa laki-laki lainnya sedang berkumpul.

 

“Kau merasakannya lagi?” tanya salah seorang dari mereka. Laki-Laki berambut emas itu hanya menggelangkan kepala.

“Lalu?” tanya seseoarang lainnya.

“Gadis itu lagi.” Racaunya. Keempat laki-laki lainnya terlihat bingus dengan ucapannya.

“Gadis? Sajak kapan kau memiliki kekasih?” tanya seseorang berperawakan tinggi kurus. Laki-laki itu bergeming dengan tatapannya yang kosong. Semuanya menatap heran Marcus, tidak biasnya ia seperti itu.

“Gaun putih selutut.” Racaunya lagi. Mereka bertambah heran dengan pemimpin Mannaro ini. Setan apa yang telah merasukinya hingga membuatnya seperti ini, pikir mereka.

“Sepertinya kau butuh istirahat.” Laki-laki berperawakan tinggi kurus beranjak dari duduknya dan menuntun pemimpin Mannaro ini kembali ke kamarnya.

“Lepaskan.” Tepisnya. Kemudian ia pergi keluar meninggal keempat temannya. Zhoumi, Henry, Nikki dan Elias hanya bisa terheran-heran melihat tingkah aneh Marcus hari ini.

  • §§§

Ditempat yang berbeda tepatnya di tengah hutan yang rimbun terdapat sekelompok orang yang menamakan kelompok mereka dengan kelompok pecinta alam tengah membangun sebuah tenda untuk mereka berteduh dan tidur.

 

“Ahh,, akhirnya selesai juga semua.” Ujar laki-laki berambut putih kekuningan itu dengan sedikit menggeliat untuk melenturkan otot-ototnya yang kaku. “Bagaimana? Asik bukan?” tanyanya pada seluruh anggota kelompoknya, sambil mejamkan mata mencoba menikmati udara sejuk ditempat itu.

“Tidak seburuk bayanganku.” Jawab seseorang berambut coklat sedikit panjang. Laki-laki berambut putih itu pun tersenyum mendengarnya.

“Kau yakin disini aman?” tanya seseorang lainnya yang sedang memasukkan barang-barangnya kedalam tenda.

“Tenang saja Anthoni. Aku telah memeriksa semua situasi disini dan kunyatakan aman.” Jawabnya dengan masih menutup amatanya, meyakinkan laki-laki yang diketahui bernama Anthoni. Anthoni mencoba percaya dengan temannya itu walaupun ada sedikit kekhawatiran dalam benaknya.

Sesaat laki-laki berambut putih itu membuka matanya dan menoleh kepada sahabat dekatnya. Laki-laki itu menatap heran kepada laki-laki yang menatapnya itu.

“Stop melakukan hal aneh.” Ujar laki-laki berambut coklat itu datar, seakan dapat membaca pikirannya.

Kemudian laki-laki itu merangkulkan tangan kanannya ke bahu temannya itu dan berbisik. “Kau mau ikut aku? Aku dengar disini ada sungai yang airnya sangat jernih. Ada oarang berkata padaku bahwa tang jarang ada gadis yang berkunjung kesana.” hasutnya, mencoba mempengaruhi temannya.

Laki-laki yang dirangkulnya itu mengacukan kata-katanya. Tidak mendapatkan jawaban ia melepaskan rangkulannya dan beranjak pergi.

“Baiklah, jangan merengek padaku nanti.” Ujarnya sebelum meninggalkan perkemahan. “Ku harap tidak sebaliknya Spencer sahabatku.” Jawabnya sedikit mengejek.

  • §§§

“Berapa lama kau tak berburu?” tanya Alishia di tengah perjalanan mereka. Cheryl tersentak mendengar pertanyaannya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk bersikap tenang.

“Hanya kemarin.” Jawabnya santai, sesekali ia tolehkan kepalanya kesamping menghelanafas kegugupan. Ia harap Alishia tidak menaruh curiga padanya.

“Kau lupa, matamu dapat berbicara.” Kata Alishia lantang. Ya, Cheryl melupakannya. Ia lupa bahwa matanya sudah berwarna merah pekat, menandakan ia belum memenuhi kebutuhannya akan darah. Cheryl diam, tak mungkin baginya untuk mengelak.

“Penuhi kebuhutanmu, bila tak ingin ayah curiga.” Suruhnya.

Cheryl menatap Alishia. “Kau memang yang terbaik Alishia.” Ia tersenyum tenang. Mengetahui Alishia tidak akan melaporkannya kepada ayahnya. Kini mereka sudah memasuki tempat perburuannya. Seperti biasa mereka mulai berpencar untuk menemukan buruannya sendiri. Namun Alishia menangkap sesuatu yang aneh dari Cheryl. Ia melangkah menuju kota.

“Cheryl.” Panggilnya cepat.

Cheryl berhenti mendengar Alishia memanggilnya. “Aku yakin kau takkan membunuhku.” Jawabnya dengan kedipan mata. Kemudia Cheryl melesat pergi meninggalkan Alishia.

“Jangan bodoh kau Cheryl.”

“Sayangnya aku tak sepintar Anita, Alishia.” Alishia menatap adiknya itu dengan perasaan heran. Apa yang mampu membuat Cheryl kuat menahan tak memenuhi kebutuhannya itu. Namun Alishia tak terlalu mengambil pusing akan hal itu, ia percaya Cheryl dapat menjaga dirinya.

 

Ia terus berjalan hingga ke tengah hutan. Dari kejauhan dia sudah mengakap adanya hewan berukuran besar yang dapat dijadikan mangsa olehnya. Benar saja ia menemukan beruang hutan. Ia berjalan santai hingga hewan itu tepat berada ada di hadapannya kurang dari 30 cm.

 

Alishia mulai mengambil ancang-ancang besiap untuk menerkan hewan berukuran besar itu, sesuai dengan yang dibutuhkannya. Ketika selangkah lagi ia akan menghisap cairang merah dalan diri hewan tersebut. Ada yang berteriak dengan kencangnya. Membuat kerjaannya terhenti.

 

“Hiyaaaaa.. kau, menjauhlah dari situ. Aku akan menyelamatkanmu.” Seseorang berlari menuju arah Alishia dan hewan itu berada. Alishia mendelik kesal melihat orang yang sama telah menggagalkan rencananya untuk yang kedua kalinya. Alishia mundur beberapa langkah menjauhi beruang itu. Ia naik ke atas sebuah pohon besar. Dari atas sana Alishia memerhatikan laki-laki itu yang lari dengan kencangnya bersiap menikam beruang itu dengan benda ditangannya. Ia menusukkan beruang itu dengan bambu runcing yang dibawanya. Dengan sekali tusuk, hewan itu langsung terkapar. Darahnya memancar. Alishia gemetar melihatnya. Rasanya ia ingin sekali menengadahkan kepalanya untuk meminum darah yang keluar. Namun apa daya, ia tak mungkin membongkar jati dirinya.

Seharusnya aku yang membunuhnya. Ucap Alishia dalam pikirannya.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu dari bawah pohon.

Alishia menunduk dan menggelengkan kepala. Laki-laki itu tersenyum dan membuang nafas lega. “Tetaplah disana, aku akan membantumu turun.” Laki-laki itu memanjat pohon yang dipanjat oleh Alishia sebelumnya. Namun ketika laki-laki berambut pirang itu berada di atas pohon dengan ketinggian yang sulit dijangkau manusia biasa, dalam sekejap mata Alishia sudah berada di bawah. Laki-laki itu tertegun melihat Alishia yang tiba-tiba berada dibawah.

“Hei, kenapa kau turun lebih dulu?” tanyanya. Kini ia bingung bagaimana cara menuruni pohon ini. Alishia hanya melihat acuh terhadapnya. Alishia hendak pergi meninggalkan laki-laki itu namun ditahannya.

“Hei, tunggu! Jangan pergi.!” Cegahnya. Alishia berbalik dan menatap laki-laki itu. “Bantu aku turun dari pohon ini.”

Alishia melepaskan nafasnya kemudia berjalan mendakati pohon itu dan menempelkan kakinya di batang pohon. Dengan satu kali hentakan, laki-laki itu terjatuh. Ia mengerang kesakitan karena ia terjatuh dalam keadaan berbaring. Tawa Alishia lepas melihat laki-laki itu meringis kesakitan. Laki-laki itu terpana melihat kecantikan Alishia ketika sedang tertawa seperti itu. Memang tak ada seorang pun yang dapat melawan pesonanya.

“Spencer.” Laki-laki itu bangkit dari tidurnya sambil menyebutkan namanya. Twa Alishia terhenti ketika laki-laki itu mengajaknya berkenalan.

“Alishia.” Jawab Alishia tanpa membalas jebat tangan laki-laki itu. Ia takut jika laki-laki itu mengetahui identitasnya ketika menjabat tangannya yang dingin.

Perbincangan langsung terjadi diantara mereka berdua. Pribadi Spencer yang riang mampu membuat suasana menjadi hangat dengan segala pembicaraan.

“Alishia Agnelli.” seseorang memanggilnya.

 

Alishia menegang ketika melihat siapa yang memanggilnya. “U-Know.” Sahutnya pelan. Laki-laki disamping Alishia pun ikut melihat orang yang memanggil gadis disampingnya itu.

U-Know geram melihat Alishia sedang akrab berbincang dengan seorang pria yang ia rasakan bukan dari kalangan sejenisnya. Amarahnya mencuat, terlihat dari raut mukanya. U-Know yang sejatinya berburu manusia, bersiap-siap untk menyerang laki-laki itu. Tak peduli bila Alishia harus melihatnya.

Alishia yang mengatahui tanda-tanda bahwa U-Know akan menyerang Spencer langsung membuat penjagagaan terhadap laki-laki itu. ia rentangkan tangannya hingga Spencer berada di belakangnya. Spencer terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi antara kedua orang ini. Apa kedua orang ini saling mengenal? Pikirnya.

 

“Apa kau mengenalnya?” tanyanya perlahan. Namun Alishia bergeming dan memilih untuk berkonsentrasi menjang Spencer dari serangan U-Know.

 

Alishia menatap tajam U-Know. Tatapannya seolah bicara, -jangan lakukan itu. U-Know mulai melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah sedangkan Alishia berjalan mundur mengikuti alunan langkah U-Kow. Spencer hanya mengikuti gerakan Alishia, walaupun sebenarnya ia tak mengerti apapun. Ia pun tak mengatahui bahwa dirinya sedang dalam bahaya.

 

“Hentikan.” Ucap Alishia mencoba menghentikan U-Know. U-Know hanya menyeluarkan senyum murkanya. Ia tetap melangkah maju.

“Ingat janjimu.” Ucap Alishia lagi. Namun U-Know tetap bergeming dan terus melangkah, Alishia pun terus mundur.

“Kumohon berhentilah.” Pinta Alishia. U-Know menghentikan langkakhnya. Matanya menatap sendu Alishia.

“Inilah alasanmu tak menjawabku?” U-Know bersuara meminta penjelasan.

Alishia menggeleng keras. “Aku baru bertemu dengannya.” Spencer seakan mendapakan pencerahan ia mulai mengerti keadaan.

“Jadi itu kekasihmu.” Gumamnya seolah mengerti. “Benar kami tidak saling mengenal dan baru bertemu hari ini.” Spencer mencoba membantu Alishia memberi penjelasan kepada orang yang dianggapnya kekasih Alishia.

Tatapan mata U-Know beralih melihat laki-laki yang berlindung di balik Alishia. Mendapat tatapan mengerikan dari U-Know, Spencer langsung menunduk. Dengan sekali gerakan ia menarik Alishia dan membawanya pergi dari tempat itu. Gerakan yang sangat cepat membuat Spencer terlambat untuk mencegahnya. Ia hanya bisa menatap U-Know dan Alishia yang sudah hilang.

  • §§§

Cheryl berjalan riang menuju sebuah tempat yang sudah ia kunjungi beberapa hari ini. Ia tak merasa khawatir sama sekali jika ayahnya mengetahuinya. Seingatnya ayah sudah mengenal Nathan, sehinnga ia berfikir ayahnya akan mengizinkannya jika bersama Nathan.

 

Sesampainya, ia tak melhat ada tanda-tanda kehidupan disana. Gelap dan sepi. Rasa kecewa mulai menyelimutinya. Keinginan untuk bermain dengan Nthan hilang. Namun sesaat ia mencium bau, bau yang dapat dikenalinya. Ya, bau tubuh Nathan yang sangat khas. Beberapa kali ia bersamanya, Cheryl sudah hafal dengan wangi tubuhnya. Kekuatan penciuman yang dimiliki Cheryl sebagai salah satu keahlian makhluk seperti dirinya. Cheryl mengikuti arah bau itu berasal. Benar saja, beberapa meter jarak dari tokonya terdapat sebuah pasar. Tak lama dari itu Cheryl dapat menemukan Nathan.

 

“Benda apa itu?” tanya Cheryl sesaat ia sampai. Nathan terlonjak kaget mellihat Cheryl yang sduah ada di sampingnya. Ia heran bagaimana bisa Cheryl mengetahui dirinya sedang berada di pasar.

“Bagaimana kau tahu aku disini?” tanyanya heran tanpa menjawab pertanyaan Cheryl.

Cheryl tersenyum. “Tak penting dari mana ku tahu, yang penting sekarang beri tahu aku benda apa yang kau pegang itu?”

Tatapan Nathan beralih pada benda yang sedang dipegangnya. ia kembali menatap Cheryl. Kini berbalik Cheryl yang heran melihat tatapan Nathan.

“Kau tak tahu ini?” tanyanya aneh. Cheryl mengangguk. “Ini tepung beras. Bahan unutk membuat roti.” Mulut Cheryl membulat, seolah mengerti ucapan Nathan.

 

Mengikuti Nathan berbelanja bahan di pasar, membuat Cheryl sekan menemukan hal baru dalam hidupnya. Walaupun sebenarnya hal yang ia temukan saat ini sudah ia jumpai ketika ia masih menjadi manusia.

Seusai berbelanja. Nathan mengajak Cheryl ke sebuah tempat tak jauh dari toko roti miliknya.

Lagi-lagi Cheryl harus bingung melihat tempat-tempat yang menurtnya aneh di dunia manusia ini. Ia merasa bagaikan alien yang baru tiba di bumi. Cheryl mengikuti Nathan yang masuk kedalam tempat itu kemudian menuju sebuah tempat duduk disudut ruangan namun masih dapat menikmati pemandangan diluar yang berbataskan kaca.

Natahan memanggil orang yang sedang berjaga kala itu. Cheryl mengidarkan pandangannya keseluruh penjuru tempat itu, ia menyukai tempat ini. Tempat sederhana dengan tekstru yang unik dan terdengar alunan musik jazz yang menemani setiap orang-orang yang berkunjung kesana.

 

“Cafe.” Sebut Nathan disela-sela kesibukan Cheryl menikmati suasana. Cheryl terdiam melihat Nathan.

“Tempat ini bernama cafe. Aku yakin kau pun tak tahu ini.” jelas Nathan menyadarinya. Namun Nathan masih belum berani menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya.

“Selamat siang tuan. Ada yang bisa saya bantu?” seorang pelayan memberikan buku menunya. Nathan terlihat memilih-milih menu yang akan dipesannya sedangkan Cheryl tetap asik menikmati suasana tempat itu. Baginya tempat ini menyenangkan.

Nathan menutup buku menunya. “Aku pesan seperti biasa.” Pelayan itu dengan sigap mencatat pesanan Natahan kemudian beralih kepada Cheryl.

“Kau mau apa?” tanya Nathan.

 

Cheryl yang masik asik dengan dunianya tanpa sadar menyebutkan sesuatu yang tabu bagi manusia. “Darah.” Sontak Nathan dan pelayan itu kaget mendengar kata yang keluar dari mulut Cheryl. Sedetik kemudian Cheryl ia telah salah bicara. Perlahan ia melihat kearah Nathan dan pelayan itu. Cheryl memutar otak mecari alasan yang tepat. Kemudia ia menujuk sesuatu.

 

“Ah, maksudku itu. Aku ingin itu. Cairan yang seperti darah itu.” ucapnya sedikit terbata-bata. Nathan dan pelayan itu melihat benda yang dituju Cheryl.

“Jus strawbery.” Sebut Nathan.

“Ah, jus strawbery.” Ulangnya. Dengan setengah bingung pelayan itu mencatat pesanan Cheryl. Cheryl hanya dapat menyunggingkan senyum setengahnya untuk menutupi keteledorannya itu. Ia baru menyadari bahwa dirinya benar-benar butuhnya darah.

Setelah pelayan itu kembali ketempatnya dan menyiapkan pesanan Nathan dan Cheryl. Pembincangan hangat terjadi diantara mereka. Hingga ia menanyakan hal yang sedikit mebuatnya penasaran.

“Kau mengenal ayahku?” tanya Cheryl.

 

Nathan menatap Cheryl. Ia terdiam untuk beberapa saat. “Siapaun pasti mengenal ayahmu.” Jawaban yang bekum bisa diterima Cheryl, namun rasa penasaran Cheryl yang bisa di bilang minim membuatnya tak kembali bertanya.

Kemudian pelayan datang kembali membawakan pesanan mereka. mereka pun larut dalam berbagai perbincangan.

  • §§§

Dikediaman klan Agneli terlihat sangat sepi tidak ada kehidupan didalamnya. Seperti yang diketahui Alishia sedang berburu, Cheryl bersama Nathan, Dennis mendapat undangan untuk datang ke kastil klan Boia Nerro, Aletha sepertinya pergi tanpa sepengetahuan Dennis, kejadian malam itu membuat ruang gerak Aletha dibatasi oleh Dennis mengingat usianya yang baru sebagai makhluk immortal, Dennis belum sepenuhnya percaya akan keselamatan Aletha jiaka berpergian seorang diri, sedangkan Anita?? Aku pun tak yakin ia ada di kastil ini juga.

 

Any body home.” Seru seseorang sesampainya ia di kastil itu. “Hello, any body home.” Ulangnya. Tak dapat jawaban papun ia mengira kastil itu ditinggal penghuninya. Ia pun hendak pergi meninggaklan kastil itu, namun sebelumnya ia mencoba kesebuah ruangan yang biasanya dikunjungi jika berasa disana.

 

Tok.. tok.. tok..

 

Ia mengetuk pintu si empunya kamar. Tak ada jawaban, ia pun membuka pintunya dan mendapati kamar itu kosong. Tak berlama-lama lagi, orang tersebut melesat pergi dari tempat itu.

  • §§§

Gemericik air, kicauan bururng dan semilir angin yang menyejukkan menemani hari seorang gadis yang duduk terdiam dipinggiran sungai. Gadis itu sedang merenungi kehidupannya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya yang harus ia lakukan. Sebagai makhluk yang terlahir kembali seharusnya ie marasa senang. Namun ia belum mendapatkan kebahagiaan itu. ia senang bertemu dengan orang-orang yang sangat menyayanginya dan melindunginya. Tapi entah mengapa ia belum bisa merasakan kebahagiaan itu datang kepadanya. 100 tahun sudah ia menjalani hidup seperti itu. Ingin sekali rasanya ia kembali seperti dulu, menjadi manusia seutuhnya, berkumpul dengan semua keluarganya. Sepertinya itu harapan yang sia-sia, ia tahu itu takkan mungkin terjadi. Sebagai makhluk immortal pun ia termasuk makhluk yang lemah, tak dapat melindungi dirinya sendiri. Sangat berbeda dengan ketiga kakanya.

 

Ditengah lamunanya ia mendengar suara raungan dari sebrang sungai. Gadis itu pun langsung beranjak dari duduknya dan mengindarkan padangannya dan berjaga-jaga. Ia kenal dengan suara itu. suara yang sama seperti ketika ia bersama dengan Max dan sama dengan kejadian malam itu.

 

Suara itu kain dekat dan keras. Perlahan sosok itu memperliahtkan diri. Gadis itu menegang melihatnya. Sosok yang sama ditemuinya terakhir kali. Ia berusaha menenangkan dirinya. Ia mencoba untuk melawan sosok itudengan rasa ketakutan yang ia pendam, gadis itu mencoba berbicara dengan sosok yang ditemuinya.

 

Gadis itu menarik nafas panjang. “Salahkah aku berada disini?”

 

Sosok itu hanya meraung menanggapi pertanyaannya. Gadis itu tak mengerti maksud dari raungannya. Ia menatap lekat sosok itu. dilihatnya mata dari sosok yang bertubuh besar itu. Mata yang menenangkan. Mata itu seakan berbicara, -Tenanglah. Namun gadis itu tak dapat menangkap maksudnya.

 

Ia kembali mengajaknya berbicara. “Sebodohnya diriku, aku masih mengetahui ini perbatasan teritorial kita. Aku tidak melewatinya bukan?”

Kembali lagi sosok itu meraung menanggapi kata-katanya yang diketahui ia adalah golongan Mannaro. Gadis itu terdiam sejenak, kini beralih sosok itu lah yang meraung seakan mengajaknya berbicara. Namun gadis itu bergeming.

“Aletha.” Panggil seseorang dari arah belakang.

“Max.” Sahutnya. Aletha tak heran Max dapat menemukannya. Max meraih tangan Aletha ,mengamankannya.

“Tenang sobat, kita masih berada di wilayah masing-masing.” Ucap Max. Mannaro itu meraung semakin keras ketika Max mengajak Aletha pergi dari tempat itu.

Tetaplah disini, biarkan aku menikmati keindahanmu lebih lama,pikirnya.

  • §§§

“Marcus belum kembali?” tanya seseorang berperawakan tinggi kurus yang diketahui bernama Zhoumi.

“Tadi ia kembali, mengambil mantel lantas pergi lagi.” Jawab seseorang lainnya yang beberapa senti lebih pendek darinya, bernama Elias.

“Kemana dia pergi.” Tanya Zhoumi pada Elias.

“Ia ingi mencari udara di gunung. Itulah yang disampaikannya padaku.” jawab Nikki, seseorang lainnya sambil terus memainkan games-nya bersama Henry.

“Gunung? Apa yang dippikirkan anak itu?” gumam Zhoumi.

“Ia terlihat aneh akhir-akhir ini.” celetuk Henry ditengah kegiatannya.

  • §§§

Udara dingin yang berhenbus tak mengrurngkan niat seorang pria untuk menghentikan perjalanannya. Ia terus mendaki. Trek yang terjal dan di penuhi bebatuan ia lalui dengan mudah tanpa kesulitan. Pikirannya masih terpaku pada arti dari mimpi yang ia dapat. Bagi sebagian yang mendengarnya hal ini memang terlihat sepele, apalah arti sebuah mimpi. Banyak orang mengartikan mimpi hanyalah bunga tidur. Namun hal itu tak berlaku bagi laki-laki berambut coklat keemasan ini, baginya mimpi bukan sekedar bunga mimpi melaikan petunjuk. Mimpi yang ia dapat akhir-akhir ini berbeda dengan mimpinya pada hari-hari sebelumnya. Jika ia mendapatkan mimpi ia bisa langsung mencerna arti dari mimpi itu, namun tidak dengan yang ini. itulah mengapa ia tak dapat dengan mudah mengabaikannya.

 

Dengan satu raihan tangan ia mencapai puncak gunung Apennines. sesampainya ia di atas gunung tersebut. Matanya terpejam menikmani hembusan angin yang menyejukan. Kedua tangannya pun direntangkan seakan ingin memeluk langit.

Sesaat ia merasakan hal aneh. Ia merasakan adanya vampire di tempat itu. seketika matanya terbuka dan langsung mengerdarkan pandangannya. Persis sekali, di ujung sebelah timur ia menemukan sesosok gadis yang ia yakini adalah vampire. Tak mau gagal untuk yang ketiga kalinya. Kini ia lebih berhati-hati. Tangannya lincah mengambil belati yang selalu ia bawa.

  • §§§

Sesosok gadis canting duduk disebuat batu besar pinggiran gunung. Dalam benaknya terbayang sesosok pria yang sangat ia cintai. Kehidupannya bersama pria itu berjalan bahagia sebelum ia menjadi makhluk immortal.

Namun naas kejadiaan itu memaksa dirinya berpisah dengan orang yang sangat ia cintai. Bagi gadis itu hal itu terlalu pahit dan menyakitkna untuk diingat, dimana ia menyaksikan dengan kedua matanya saat sesosok makhluk yang bisa dibilang bukan manusia merenggut nyawa kekasinya itu. Ia tak dapat dengan mudah melupakan kejaidian kala itu, terutama kenangan bersama kekasihnya. Tapi kini menjadi sesosok makhluk yang sama dengan makhluk yang merampas nyama kekasihnya itu. Kilatan amarah dan kebencian pun berkumpul menjadi satu ketika ia mengetahui bahwa ia harus dipertemukan dengan makhluk yang membunuh kekasihnya. Gadis itu tak dapat meluapkan amarahnya itu lantaran ia menghormati orang yang telah mengimmortalnya yang kini menjadi ayahnya dan makhluk itu kenal baik dengan ayahnya.

Kegiatan gadis itu terganggu kala ia merasa ada sesuatu yang mendekatinya. Ia bangkit dari duduknya sebelum ia berbalik, ia menyempatkan untuk mencoba menebak apa yang sedang mendekatinya. Tak banyak gambaran yang ia dapatkan. Kemudian ia memberanikan diri untuk berbalik.

 

Tubuh gadis itu menegang mengetahui siapa yang ada di belaknganya. Klan Cacciatore pikirnya. Dengan kepintaran yang dimilikinya, ia mencoba untuk mencari cara untuk lari dari hadapan klan itu. tapi ada yang menjadi pertanyaan gadis itu. Laki-laki berambut coklat keemasan itu tidak menyerang Gadis itu melainkan berdiam diri menatap lekat gadis dihadapannya.

 

“Gadis itu.” guamam laki-laki itu pelan namun dapat di dengar olehnya. Gadis itu menautkan alisnya heran sambil terus menjaga diri. Laki-laki itu berjalan mendekatti gadis itu. setelah jarak mereka tidak kurang dari 10cm. Laki-laki itu mencoba untuk menyentuh wajah gadis dihadapannya.

Melihat gelagat aneh. Gadis itu langsung mendorong laki-laki itu hingga tersungkur ke tanah.

“Kau tak bisa semudah itu menangkapku.” Ujarnya, kemudian meninggalkan laki-laki yang masih tak bergerak.

  • §§§

“Bisa ku pastikan ayahmu akan mengetahuinya.” Ancam seseorang kepada gadis didepannya itu.

“Aku tak mengenalnya, percayalah.” Gadis itu mencoba membela diri.

“Ada apa ini?” tanya seseorang yang baru saja sampai. Kedua orang itu menoleh kearah datangnya suara. Wajah gadis itu pucat pasi melihat siapa yang datang.

“Kau atau aku yang akan memulai cerita?” tanya laki-laki yang sedari tadi memendam amarah.

“Cerita apa?” tanyanya pada dua orang dihadapannya. Tak ada yang mengeluarkan suara. Laki-laki itu melirik gadis belahan jiwanya itu. “Alishia?” panggilnya.

Gadis itu hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan oarang yang memanggilnya.

“Baiklah aku yang kan mengatakannya.” Sahut laki-laki yang satu. “Sepertinya putrimu ini memiliki hubungan dengan seorang manusia Dennis. Itulah yang menyebabkan ia tak mengubris perasaanku.” Jelasnya.

Alishia langsung mendongak dan menatap lekat mata ayahnya. “Aku tak mengenalnya ayah.” Alishia mencoba untuk membela diri. Rahang Dennis mengeras mendengar pernyataan U-Know dan tatapannya tajam menusuk kedalam mata putrinya itu.

“Percayalah ayah. Aku memang tak mengenalnya.” Ucapnya lagi.

“Masuk ke kamarmu.” Perintah Dennis.

“Tapi ayah?” Alishia masih mencoba membela diri. Disaat yang bersamaan Max, Aletha dan Anita kembali. Mereka merasakan suasana teganga didalamnya.

“Woow.. suasana apa ini?” celetuk Max.

“Ayah?” panggil Aletha. Dennis bergeming mendengar panggilan Aletha. Mereka mendekat ke tempat dimana sepertinya sedang ada perseteruan.

“Masuk kamarmu Alishia Agnelli.” Parintah Dennis lagi kepada putri sulungnya itu.

“Ayah sebenarnya ada apa ini?” tanya Anita penasaran. “Alishia?” tanyanya lagi, ketika tak mendapat jawaban dari Dennis. Alishia pun tak menjawab pertanyaan Anita dan terus berjalanmenuju kamarnya dengan langkah lunglai.

“Jam 8 aku harapka kalian semua berkumpul dirungan itu, ada yang ingin ku bicarakan. Hari ini aku di undang berkunjung ke kastil Boia Nerro.” Denis langsung berjalan menuju kamarnya ketia ia usai berbicara. Apa yang akan disampaikan Dennis hingga ia menyuruh kami untuk berkumpul diruangan yang jarang terjamah itu, setidaknya itulah yang ada di benak masing diantara mereka.

Advertisements

4 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 6

  1. Jadi anita yang ada di mimpi marcus ??
    \(´▽`)/
    Maaf di part 5 ga bisa komen -_- error terus jadi disatuin disini aja ya hehehe ga apa-apakan ?
    Lanjutkan !
    Lebih dibanyakin lagi marcus-anitanya dong ..

  2. Eoni maaf mungkin dipart sebelumnya saya enggak komen..udah coba,tp tetep aja error..
    Mianhae
    akhirnya saat yg ditunggu2 muncul,yaaah knp u-know pemaksa.Dennis juga kenapa..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s