FF: Milagro del Amor Part 5

5th chapter

 

Tempat berburu clan Agnelli bukan benar-benar pusat kota. Saat bulan setengah mereka hanya berburu manusia yang masuk dalam kriteria  pantas untuk dijadikan mangsa. Mereka berburu di pinggir hutan yang masih menjadi akses beberapa manusia. Manusia yang mereka jadikan mangsa pun hanya manusia-manusia yang bermasalah, dari mulai pengedar narkoba, pembunuh berdarah dingin, pemerkosa, perampok yang melarikan diri. Hanya manusia-manusia seperti itu yang mereka incar. Itu sudah berlaku bagi keluarga Agnelli seperti aturan tak tertulis.

“Kau ikut denganku” seru Dennis pada Aletha yang masih terlihat ragu-ragu dan cemas. Saat musim berburu secara naluriah mereka akan berpencar untuk mendapatkan mangsa masing-masing. Namun Dennis tidak bisa meninggalkan Aletha yang tidak memiliki naluri berburu sekuat yang lain.

Aletha terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia berkata. “Aku menunggu disini saja ayah”

Dennis menatap ke dalam mata Aletha. Laki-laki itu mencari sesuatu dari sorot mata Aletha yang dapat meyakinkan dirinya kalau anak perempuan bungsunya itu akan baik-baik saja.

“Percayalah” sahut Aletha lagi. Dennis memutar bola matanya, dia tidak ingin memaksa. Apa pun alasannya Aletha berhak memilih apa yang ingin dia lakukan.

“Jaga dirimu. Aku tidak akan terlalu jauh” seru Dennis menegaskan kalau dia akan tetap mengawasi Aletha meskipun dia sedang berburu.

Aletha tersenyum untuk mencairkan suasana hati Dennis. “Nikmati saja berburumu ayah” sahutnya lagi.

“Jaga dirimu Aletha” sahut Alishia. Kemudian, hanya butuh waktu sepersekian detik saja mereka telah lenyap dari pandangan Aletha dan telah menuju daerah perburuan masing-masing. Aturan mainnya, dalam soal berburu manusia mereka tidak boleh agresif mengejar mangsanya. Mereka cukup diam dan menunggu hingga mangsa yang memenuhi kriteria mereka menghampiri dengan sendirinya. Biasanya manusia mudah sekali tergoda dengan paras rupa mereka yang sempurna. Bukan hal yang sulit untuk mengetahui mana manusia yang bermasalah dan yang tidak bermasalah.

Hingga di sebuah jalan setapak yang berliku namun panjang Alishia menciptakan suatu gerakan berjalan layaknya manusia, jalannya terlihat begitu anggun tetapi tidak tampak kaku. Itu dia lakukan sebagai gerakan untuk memancing mangsa.

Tepat tengah malam, tiga orang laki-laki melintasi jalan setapak tempat dimana Alishia berjalan. Mereka tampak lebih besar dengan pakaian hangat tebal yang mereka pakai. Jalan mereka  terseok-seok karena dalam keadaan mabuk berat. Kadang-kadang terdengar racauan mereka yang tidak jelas. Satu diantara mereka bernyanyi dengan kesadaran yang minim sambil memegang sebuah botol minuman keras di tangan kirinya dan ditanggapi oleh tawa yang mengejek dari kedua temannya yang lain. Lelaki yang memegang botol minuman keras itu berbalik menatap temannya yang memakai mantel coklat dengan sorot mata berang, dia tersinggung dengan tawa yang ditimbulkan temannya, tangan kanannya mencengram kerah mantel coklat milik temannya. Sedangkan satu orang lainnya tampak hendak memisahkan ketegangan diantara kedua temannya, meskipun dengan gerakan yang terseok-seok dan tampak dipaksakan.

Alishia menatap datar kearah tiga laki-laki mabuk itu. Tubuhnya mematung tanpa kedip dan gerakan sedikit pun. Itulah sosok vampir yang sebenarnya, mereka mampu tidak bergerak sedikitpun dalam waktu yang lama, gerakan-gerakan kecil itu hanya mereka lakukan agar mereka tidak terlalu terkesan kaku. Lelaki yang tadi sibuk memisahkan kedua temannya kini tidak benar-benar berniat untuk memisahkan lagi. Matanya menangkap sosok Alishia, tanpa kedip memperhatikan Alishia dari atas ke bawah. Tak peduli dengan kesadaran seminim apa pun, tak ada yang dapat memungkiri keindahan paras Alishia. Lekuk-lekuk tubuh Alishia yang proporsional dengan kulit halus bak porselain dan rambut tergerai indah dengan efek sinar bulan yang terpantul di wajahnya seakan memberikan kesan kalau Alishia lebih pantas disebut malaikat.

Kedua lelaki yang sedang bersitegang itu tiba-tiba lebih tertarik dengan sikap temannya yang aneh. Kedua laki-laki itu pun mengikuti arah pandang temannya yang sedang mengawasi Alishia. “Hai nona cantik. Kenapa memandang kami seperti itu?” seru laki-laki yang memegang botol. Dia melangkah dengan seluruh keseimbangan yang dia miliki untuk mendekati Alishia. Itu tidak membuat Alishia gentar, sudut bibir Alishia kini tertarik keatas membentuk sebuah seringaian. Namun tak ada yang menyadari arti seringaian yang dibuat Alishia, mata mereka telah buta oleh kecantikan yang dipancarkan gadis itu. “Kau ingin bermain-main dengan kami hah?!” sahut yang bermantel coklat.

Siapa yang tahu kalau merekalah yang akan menjadi mainan. Mereka bertiga mengepung Alishia, membentuk lingkaran dimana Alishia berada di tengah. “Ayolah kita bersenang-senang nona cantik” seru yang memegang botol sambil menunjukkan seringaian bajingannya. Alishia tak sabar untuk memangsa mereka, paling tidak menunggu sampai mereka sendirilah yang akan maju menawarkan diri mereka untuk dimangsa.

“Kenapa hanya diam saja? Kau bisu! Baiklah aku anggap itu sebagai penerimaan dengan senang hati” gumamnya lagi. Laki-laki itu melempar botol minuman keras yang sejak tadi dia pegang ke sembarang arah. Matanya liar penuh nafsu menatap Alishia sambil menggaruk-garuk janggutnya dan berjalan mendekati Alishia. Sedangkan dua orang yang lainnya saling menatap dengan licik, menunggu giliran mereka tiba. Disisi lain inilah yang ditunggu Alishia, hanya tinggal satu gerakan saja mereka akan menjadi mangsanya.

Namun sebuah suara memecah suasana yang mulai panas. “Hei bajingan! Apa yang kalian lakukan!” Seru sebuah suara dengan nada penuh kemarahan.

Tatapan ketiga laki-laki mabuk itu pun beralih ke sumber suara. Tatapan mereka tak kalah beringas karena merasa kesenangan mereka terganggu. Begitupun juga dengan Alishia, dia menatap datar ke sumber suara. Seorang laki-laki berambut putih kekuningan telah berdiri dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, wajahnya menatap ketiga lelaki itu penuh kemarahan. Dalam benaknya Alishia kesal karena dia harus kembali menunda untuk melepaskan rasa dahaga di tenggorokannya.

“Kau ingin menjadi pahlawan rupanya” seru laki-laki yang tadinya memegang botol. Dapat diketahui dari tindakannya yang lebih berani, dialah pemimpin dari kedua temannya yang lain.

“Habisi saja dia Fred!” kata yang memakai mantel coklat pada laki-laki yang merupakan pemimpin mereka. “Benar, dia telah menganggu kesenangan kita” sahut yang lain.

Mendengar kata-kata temannya. Laki-laki yang bernama Fred itu semakin berang. Dia melayangkan sebuah tinju ke arah laki-laki yang telah dianggap mengganggu kesenangan mereka. Tetapi laki-laki itu menahan pukulan dari Fred sebelum mendarat, hingga tinju itu hanya sebatas pukulan di udara, ekpresinya datar menatap Fred. Ekspresi itu dianggap Fred sebagai sebuah tantangan. Dengan penuh kemarahan Fred menyerang laki-laki itu dengan liar, namun tak ada pukulan yang berhasil mendarat dengan sempurna karena laki-laki itu selalu berhasil mengelak dengan mulus. Hingga dua orang yang lainnya tak sabar dan ikut bergabung dengan Fred untuk menyerang laki-laki itu. Bergabungnya kedua orang itu pun tidak membawa pengaruh yang cukup besar. Laki-laki itu selalu berhasil mengelak, meskipun dia malah terkesan tidak melakukan gerakan apa pun. Akhirnya ketiga laki-laki itu mulai kehabisan tenaga dan pukulan-pukulan mereka pun semakin lambat. Saat itulah laki-laki berambut putih kekuningan itu melayangkan tinjunya kearah tiga pemabuk itu, hingga tubuh mereka tersungkur ke tanah. “Pergi kalian dari sini! Aku tidak segan-segan menghabisi kalian jika kejadian ini terulang lagi” serunya dengan nada peringatan. Kemudian mereka bertiga terhuyung-huyung meninggalkannya dan Alishia yang ternyata masih berdiri dengan ekspresi datarnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu dengan nada cemas pada Alishia.

Alishia diam saja. Sesungguhnya dia sedang memendam kekesalan pada laki-laki yang kini berada di hadapannya. Rasanya ingin sekali Alishia menjadikannya sebagai pengganti mangsanya yang pergi. Tetapi tidak mungkin, karena lelaki yang berada di hadapannya itu sama sekali tidak termasuk dalam kriteria untuk dijadikan mangsa.

Laki-laki itu mengernyitkan keningnya, menanggapi Alishia yang hanya diam saja tanpa eksresi. “Nona kau baik-baik saja? Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan mengantarkanmu pulang, namaku Spencer. Kau bisa percaya padaku” sahut laki-laki bernama Spencer itu dengan hati-hati. Dia takut kalau dia malah akan mengganggu keadaan psikis Alishia.

Setelah waktu yang  lama, akhirnya Alishia mengedipkan matanya kembali. dia menatap Spencer sekilas. Bersamaan dengan itu Alishia menangkap sebuah sinyal yang memanggil namanya. Sebuah ketegangan, raungan dan juga geraman melintas di pikirannya begitu saja. Tanpa mengatakan apa pun Alishia pun pergi meninggalkan laki-laki bernama Spencer itu. Spencer yang heran mencoba untuk mengejar Alishia, karena perasaan khawatirnya pada gadis itu. Tetapi dia tidak bisa menemukan sosok Alishia yang telah lenyap dibalik hutan dan cahaya temaram bulan. Akhirnya Spencer hanya bisa menarik nafas. Dia sama sekali tidak berharap kalau gadis itu akan berterima kasih padanya dan mau melakukan apa pun untuknya karena telah menolong gadis itu dari para pemabuk sebagaimana film-film yang sering dia tonton. Hanya saja entah mengapa, tiba-tiba Spencer merasa penasaran pada Alishia yang terkesan sangat misterius baginya. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Spencer.

♥♥♥

Rasa muak tergambar jelas dari wajah seorang laki-laki berambut kuning keemasan, yang biasanya tak menunjukkan ekspresi apa pun di depan saudara-saudaranya.

“Cobalah untuk sedikit tenang Marcus, gegabah akan membuat kita kewalahan” sahut seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus pada laki-laki berambut kuning keemasan yang bernama Marcus itu. Marcus mendongak, “Aku mengerti kau tidak pernah gagal. Tapi ini juga bukan pekerjaan yang gampang” lanjutnya lagi.

“Bagaimana bisa aku tenang Zhoumi, kalau tanda-tanda makhluk itu semakin jelas” sahut Marcus, kemudian dia pun berjalan mendahului Zhoumi dan laki-laki berparas imut dengan pipi chubby yang bernama Henry. “Aku bisa melakukannya, aku merasakan dia hanya sendiri” kata Marcus lagi, detik berikutnya dia telah berlari dengan kecepatan yang sulit masuk akal manusia biasa. Meninggalkan Zhoumi dan Henry ditempat mereka. Zhoumi dan Henry menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Marcus, dan mereka berdua pun memilih untuk tidak mengganggu Marcus dengan incarannya. Mereka lebih memilih untuk berbelok ke tempat lain, memeriksa kehidupan vampire lain.

Marcus memperlambat langkahnya. Memasang ancang-ancang dengan belatinya saat dia melihat sesosok gadis berambut hitam lurus sepinggang sedang mematung di tempatnya. Marcus yakin kalau itu adalah vampire, instingnya tidak mungkin salah meskipun ada sebuah tanda tanya di kepalanya. Dia heran dengan vampire itu yang tidak terlihat sibuk untuk berburu. Marcus mendengus pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dengan mudahnya dia akan membunuh vampire itu tanpa perlawanan. Sama sekali tidak menantang. Marcus sangat menyukai tantangan.

Disisi lain, tiba-tiba Aletha menegang. Dia mengepalkan kedua tangannya, merasakan kedatangan manusia yang tak jauh dari tempat dia berdiri. Mau tidak mau insting berburunya terpacu saat merasakan kedatangan manusia itu, tetapi insting manusianya lebih kuat sehingga dia mencoba untuk tidak menggubris kedatangan manusia itu dan lebih memilih mematung di tempatnya, menunggu ayah dan saudara-saudaranya. “Aku tidak bisa” gumam Aletha sambil memejamkan matanya. dia yakin kalau Dennis dan saudaranya bisa mendengar gumamannya. Dia juga yakin mereka akan mengerti dengan situasi Aletha. Mereka akan selalu mengerti.

Marcus bisa saja langsung menerkam vampire perempuan yang membelakanginya saat jarak mereka hanya tinggal enam langkah lagi. Bagaimanapun dia tetap harus melakukannya dengan hati-hati, mengantisipasi kelompok vampirenya akan datang, karena vampire tidak mungkin hidup seorang diri tanpa sebuah clan atau kelompok.

Bersamaan dengan itu Marcus melihat sesosok makhluk hitam besar muncul dari balik sela-sela pepohonon, hanya terlihat seperti bayangan di bawah sinar redup bulan setengah dan berjalan menghampiri dirinya. Dia menangkap sesuatu yang aneh, dia tahu kalau itu tidak lain adalah Mannaro. Sudah seharusnya juga Mannaro memburu vampir, tetapi disini mannaro itu justru berjalan mendekatinya. Tubuhnya besar dan gemuk melebihi beruang, dan juga lebih berotot dibandingkan kuda. Moncongnya panjang dan meringis memamerkan sederet gigi taringnya yang kokoh dan tajam seperti belati. Geraman liar terdengar dari celah-celah giginya, seperti sebuah petir yang menggelegar memecah kesunyian hutan di malam hari yang dingin. Bulu-bulunya rapi dengan salju yang menempel disana, dia sama sekali tidak menunjukkan kegentarannya dengan suhu gunung Apennines yang mencapai minus. Marcus melangkah mundur, masih dengan memasang ancang-ancang kalau saja dia akan menerima serangan.

“Aku tahu ini juga tugas kalian. Tapi seharusnya kalian tidak menghalangiku, karena ini bukan batas teritorial kalian” seru Markus pada makhluk  berbulu itu.

Kali ini makhluk berbulu itu tidak mengeram melainkan mengaung seakan dia ingin mengatakan sesuatu sebagai jawaban dari kata-kata Marcus.

Aletha mencium berbagai bau yang ditangkap indera penciumannya. Mendengar geraman serta raungan makhluk itu membuat Aletha menyadari sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Baunya sama seperti dimana saat dia berburu dengan Max saat itu, dia menyadari kalau makhluk itu bukanlah hewan seperti yang sering menjadi buruan keluarganya. Aletha membuka matanya dan membalikkan tubuhnya, melihat apa yang sedang terjadi. Sorot mata Marcus menatap lurus ke dalam mata Aletha dengan penuh kebencian dan amarah. Mendadak Aletha merasakan kalau saraf-saraf tubuhnya mati, tatapan itu seakan menghujam jantungnya. Aletha menyadari bahwa bahaya sedang mengancam dirinya. Dia juga melihat sesosok makhluk seperti srigala tetapi dengan ukuran lebih besar dan berkali-kali lipat lebih besar dari tubuh Aletha. Makhluk itu sedang membelakanginya, dia bertindak seolah-olah hendak melindungi Aletha. Tapi Aletha sendiri pun tidak mengerti bagaimana pastinya karena yang dia dengar dari Max, Mannaro merupakan musuh vampire dan tidak akan segan-segan untuk membunuh vampir.

Sebisa mungkin Aletha memikirkan apa yang dia alami dan mencoba untuk mentransfernya kepada saudara-saudaranya dan juga Dennis melalui pikiran. “Tolong aku” gumam Aletha. Tubuhnya gemetaran.

Dennis dan Anita yang sedang dalam perburuan mereka terpaksa harus meninggalkan kegiatan mereka. Mereka mengkhawatirkan Aletha. Seperti insting, Dennis dan Anita segera berlari dengan kecepatan berlari mereka sebagai vampir. Dennis dan Anita bertemu saat mereka melewati jalan yang menghubungkan mereka dengan tempat Aletha, tak lama kemudian Alishia menyusul. Terlihat ekpresi khawatir yang timbul di raut wajah mereka. Dennis mengangguk sebagai tanda agar Anita dan Alishia mengikutinya.

Pemandangan yang sangat mengerikan terlihat. Dimana Aletha berada di dekat salah satu anggota dari cacciotore dan mannaro yang sama-sama merupakan pemburu vampir. Mata Dennis membulat melihat pemandangan yang mengancam nyawa anak bungsunya itu. Tanpa pikir panjang, Dennis, Alishia dan juga Anita bergabung dalam ketegangan itu. Alishia dan Anita memasang ancang-ancang untuk melindungi Aletha yang terkulai lemas, sedangkan Dennis berada di depan mereka bertiga dengan gerakan defensif. Seolah tidak akan membiarkan apa pun menyakiti anggota keluarganya. “Bawa Aletha ke castle” kata Dennis melalui pikirannya.

Alishia dan Anita mengangguk mengerti dan segera membawa Aletha pergi dari sana  secepat mungkin. Dennis masih berada di tempatnya dengan sangat awas. Ketika dilihatnya bayangan di sela-sela pepohonan, dia tahu itu adalah kawanan Mannaro yang datang, dari sudut lain Dennis pun dapat mencium bau manusia cacciotore yang mendekat. Dia berpikir tidak mungkin bagi dirinya untuk tetap disana, kecuali membiarkan dirinya mati ditangan para kawanan itu. Tanpa pikir panjang lagi, Dennis segera pergi dari sana dan menyusul ketiga anaknya.

Setelah berada si castle, Alishia segera menuntun Aletha untuk duduk di sofa yang berada diruang tengah agar gadis itu menenangkan diri dari shock yang dialaminya.

“Mengapa hal seperti tadi bisa terjadi? Aku yakin Aletha tidak melewati daerah teritorial Mannaro” cetus Anita yang kesal.

Dennis tampak memegang dagunya, tampak berpikir. “Entahlah” gumamnya. “Dimana Cheryl?” tanya Dennis kemudian, menyadari kalau Cheryl tidak bersama mereka.

Alishia dan Anita saling pandang. “aku tidak tahu. Sejak mencari buruan tadi aku sama sekali tidak mendengar suara Cheryl” jawab Alishia.

“Begitupun juga denganku” balas Anita.

Mendadak ekspresi Dennis kembali cemas. Rahangnya mengeras, dari wajahnya yang biasa tampak selalu tenang. “Jaga Aletha. Aku akan mencari Cheryl” sahut Dennis.

“Tapi ayah, keadaan diluar sangat berbahaya untuk pergi seorang diri” kata Alishia. “Aku bisa ikut bersama ayah” lanjutnya.

“Tidak. Tidak ada yang boleh ikut denganku. Kalian bertiga disini saja. Alishia dan Anita jaga Aletha” sahut Dennis lagi. Kemudian dia pun hilang di balik hutan yang gelap.

♥♥♥

“Kurasa aku tidak akan berburu untuk hari ini. Ada hal yang lebih menarik” Cheryl bergumam pada dirinya sendiri, dia tersenyum. Dia tahu saudara-saudaranya tidak akan mendengarkannya, bahkan Dennis pun tidak. Karena sekarang ini dia sedang berada di pusat kota Bologna, jarak yang lumayan jauh sehingga yang lain tidak bisa mendengar kata-katanya. Tentu saja dia tidak akan berburu, selain faktor aturan yang tidak memungkinkan dia berburu di pusat kota Cheryl juga tidak berniat untuk berburu.

Dia melangkah dengan ceria melintasi jalan-jalan kota. Salju-salju terasa mencair dibawah kakinya saat dia menginjak. Tak jauh berbeda dari sebelumnya. Orang-orang selalu saja memperhatikannya, tak jarang dari mereka rela menghentikan aktivitas sejenak hanya untuk mengagumi keindahan Cheryl. Rasanya tidak mungkin mereka hanya menatap Cheryl sekilas. Mereka akan memperhatikan Cheryl dengan waktu yang mereka miliki, tak puas-puasnya memandangi sosok sempurna itu. Hal itu tidak berpengaruh bagi Cheryl, sekarang dia bisa mengerti manusia akan selalu memiliki ekspresi yang sama saat melihatnya.

Langkah Cheryl terhenti di sebuah toko roti. Di dalam masih terlihat ramai dengan orang-orang yang mengisi waktu luang mereka bersama kerabat-kerabat mereka dengan hanya minum kopi bersama sambil memakan roti buatan Nathan. Suasana di dalam sangat hangat dengan candaan dan tak jarang orang-orang di dalam tampak tertawa bersama, Cheryl hanya memperhatikan dari luar. Hingga dia lupa untuk berkedip atau menggerakkan tubuhnya agar terkesan tidak kaku. Nathan yang sedang sibuk mengolah adonan menyadari kedatangan Cheryl yang berdiri seperti patung marmer dengan pahatan-pahatan yang sempurna. Dari balik kaca yang memisahkan mereka Nathan terus saja memperhatikan Cheryl. Sampai dia berpikir kalau dia harus menghampiri gadis itu, sebelum gadis itu mati kedinginan dan kelaparan.

“Permisi” sapa Nathan begitu jarak dia tidak begitu jauh dari Cheryl. Sebisa mungkin laki-laki itu menahan diri untuk mengagumi sosok Cheryl. Sampai kapanpun dia akan selalu berdecak kagum dan memuji Tuhan karena telah menciptakan makhuk yang begitu indah. Tetapi itu tak lantas membuat kesadaran Nathan tersita seperti kebanyakan manusia yang melihat Cheryl.

Cheryl kembali dari lamunannya. Dia sadar kalau dia harus segera mengedipkan mata, bergerak dan bernafas agar seperti manusia pada umumnya. Meskipun sebenarnya vampire tidak perlu melakukan itu semua. Cheryl tersenyum tanpa kata-kata pada Nathan.

Nathan mengerutkan keningnya. “Sebaiknya nona masuk. Cuaca di luar sangat dingin” saran Nathan. Cheryl tampak ragu-ragu.

Nathan menyunggingkan senyumannya hingga menciptakan kerutan di sudut matanya. “Tidak perlu sungkan” sahut Nathan lagi. Detik berikutnya dia menarik pergelangan tangan Cheryl agar segera mengikutinya ke dalam dan menggiringnya ke sebuah kursi yang tak jauh dari dapurnya. “Maaf telah lancang” dia sadar kalau dia telah menarik tangan Cheryl tanpa seizin pemiliknya. “Aku pikir nona sedang kedinginan, aku akan mengambilkan kopi hangat” lanjut Nathan, agak salah tingkah dengan sikap Cheryl yang terus menatapnya.

Di dapur, Nathan tidak langsung menyiapkan kopi hangat untuk Cheryl. Dia memperhatikan gadis itu dari balik dinding yang tengah menatap dekorasi toko rotinya. Pandangan Nathan beralih ke tangan kanannya yang memegang tangan Cheryl, dia merasakan sesuatu seperti sebuah setrum di tangannya saat menarik gadis itu masuk. Sebuah setrum yang membuatnya tidak ingin melepaskan tangannya dari sana. Nathan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang melandanya saat ini. Merasa tidak ingin larut dalam perasaan tidak mengetinya, Nathan sadar kalau dia harus segera menyiapkan kopi hangat dan roti untuk Cheryl sebelum gadis itu merasa curiga kenapa dia begitu lama.

“Silahkan dinikmati” sahut Nathan sambil menyodorkan nampan yang berisi secangkir kopi dan beberapa potong roti. Dia duduk di kursi seberang Cheryl.

Cheryl memperhatikan benda yang disodorkan Nathan kepadanya, dia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya dengan benda itu. “Terima kasih” sahut Cheryl untuk menutupi kebingungannya.

Nathan mampu membaca kebingungan Cheryl. “Nona tidak perlu khawatir, itu gratis. Kurasa kita pernah bertemu sebelumnya bukan?”

“Panggil saja aku Cheryl, itu namaku. Waktu itu aku pernah melihatmu memainkan benda yang bernama adonan” jawab Cheryl.

Nathan tertawa renyah mendengar Cheryl yang menyebut adonan dengan kata ‘benda’. “Ya.. kurasa itu adalah benda yang lezat saat telah menjadi roti. Benda yang berwarna coklat itu” seru Nathan dengan nada bercanda sambil menunjuk beberapa potong roti yang ada di nampan dengan gerakan matanya.

Suasana pun menjadi hangat. Semakin lama Cheryl mulai terbiasa dengan aroma tidak enak yang berasal dari roti yang di panggang. Entah mengapa aroma itu memberikan aroma yanga khas di indera penciuman Cheryl yang selalu mengingatkan dia dengan Nathan, dan dia sadar kalau dia mulai menyukai aroma itu. Cheryl beralasan kalau perutnya tidak kuat dengan kafein kopi dan lebih memilih agar rotinya di bungkus saja. Nathan mengerti tanpa kecurigaan sedikit pun.

Beberapa jam berlalu. Nathan sibuk membereskan toko rotinya yang akan tutup. Dia mengunci pintu etalase tokonya, kemudian merapatkan jaketnya sebelum dia melawan hawa dingin salju malam  di pusat kota Bologna. Di depan deretan yang hanya berselang beberapa toko dari toko kue miliknya Nathan melihat Cheryl sedang memain-mainkan kakinya membentuk sebuah lukisan di salju tempat dia berpijak. Nathan mengerutkan keningnya.

“Cheryl?” sapa Nathan, saat dia yakin bahwa gadis yang dilihatnya adalah Cheryl.

Cheryl mendongak, tatapannya berubah ceria saat dia melihat Nathan. “Nathan” kata gadis itu sambil tersenyum.

“Kenapa kau belum pulang?. Ini sudah sangat malam” terdengar kekhawatiran dalam nada suaranya.

Cheryl memasang ekspresi sedih. “Aku tidak tahu apakah aku harus pulang atau tidak” jawab Cheryl. Dia masih belum rela untuk berpisah dari Nathan. Bagi Cheryl, ada sesuatu dalam diri Nathan yang membuatnya nyaman.

“Kau bertengkar dengan keluargamu?” tanya Nathan hati-hati.

Cheryl tampak berpikir. “Iya” jawabnya asal.

Nathan mengehala nafas. “Biar bagaimanapun kau harus pulang. Keluargamu pasti sangat khawatir” kata Nathan kemudian. Cheryl mengerucutkan bibirnya, tanda dia tidak setuju dengan kata-kata lelaki itu.

“Cheryl” sebuah suara dari sudut yang berbeda terdengar memanggil nama Cheryl. Suara itu membuat Cheryl maupun Nathan mendongak ke sumber suara.

Cheryl sangat mengenal suara itu, dan tak perlu pikir panjang baginya untuk mengenali bahwa sosok itu adalah Dennis. “Ayah” gumam Cheryl. Matanya membelalak khawatir saat Dennis mengetahui keberadaannya.

Namun Dennis tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda kalau dia marah.

Di bawah cahaya redup lampu jalan kota Nathan juga dapat menangkap bayangan Dennis. “Tuan Agnelli” sapa Nathan pada Dennis.

Mata Cheryl membelalak. “Kau kenal dengannya?” tanya Cheryl pada Nathan. Nathan mengangguk mantap.

Dennis melakukan gerakan tersenyum pada Nathan. “Cheryl, ayo kita pulang” ajak Dennis pada Cheryl dengan lembut layaknya seorang ayah pada gadis kecilnya.

Nathan mengangguk pada Cheryl seolah memberikan kode bahwa gadis itu harus menuruti perkataan Dennis. Cheryl tersenyum pada Nathan, kemudian berjalan mendekati Dennis. Mereka berdua pun berjalan menjauhi Nathan, saat mereka  tak dapat ditangkap dari pandangan Nathan maka mereka pun berlari dengan kecepatan yang tidak kasat mata oleh akal sehat manusia.

♥♥♥

Matahari kembali terbit. Dengan salju yang kadang-kadang masih turun.

“Mulai sekarang kita tidak memangsa manusia lagi” kata Dennis memecah kesunyian.

“Tidak masalah” jawab Alishia.

“Aku juga tidak keberatan” sahut Cheryl tanpa menghentikan permainan pianonya.

“ Dan sepertinya kita harus pindah dari sini” kata Dennis lagi.

Seketika itu juga Alishia mendongak ke arah Dennis. “apa karena masalah kemarin malam?” tanya Alishia. Padalah dia tahu bahwa itulah yang menjadi satu-satunya alasan Dennis mengajak mereka pindah.

Anita dan Aletha yang tadinya sedang berada di kamar masing-masing kini sudah berdiri di ujung tangga. “Maaf, aku telah berulah” sahut Aletha dengan nada penyesalan.

“Tidak ada yang salah. Tapi memang sudah saatnya kita pergi dari sini. Kita sudah terlalu lama disini” Dennis mencoba untuk menjelaskan.

Cheryl menghentikan permainannya dan menatap Dennis serius “Aku tidak setuju” jawab Cheryl tegas.

“Cheryl” kata Dennis dengan tegas. Rahangnya mengeras di tengah sikap tenangnya.

“Aku tidak akan setuju kita pindah dari sini. Aku akan tetap berada disini” Cheryl menegaskan kata-katanya. Sifat pemberontaknya kembali.

Dennis memperhatikan wajah Alishia, Anita, Aletha satu persatu. Mereka menampakkan ekspresi yang mendukung Cheryl. Dennis menghela nafas, tatapan matanya kembali lembut. “Baiklah kita tidak akan pindah” katanya kemudian.

“Aku berjanji akan menjaga diri dengan baik” sahut Aletha.

“Aku juga” timpal Anita.

“Begitu pun denganku” kata Alishia

Cheryl memutar bola matanya. dia adalah tipe vampir yang licin, susah bagi lawan untuk menangkapnya, tetapi dia tahu bahwa dia harus mengatakan sesuatu juga untuk membuat Dennis tenang. “Well. Kurasa aku juga akan lebih berhati-hati”

Dennis memperhatikan wajah anaknya satu persatu. Senyumnya terkembang, “Kuharap kalian dapat memenuhinya. Aku sangat menyayangi kalian” balas Dennis. Dan mendapat anggukan dari keempat anak perempuannya.

Advertisements

4 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 5

  1. Tuan agnelli..kenapa nath tau??
    Nath manusia kan??eh..terkadang bingung karena nama cast pake nama internasional..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s