FF: Milagro del Amor Part 4

This chapter is mine Novita Cho ^^

4th Chapter

Casts:

Agnelli Clan

Dennis(1000thn)

Alishia(800thn)

Anita(500thn)

Cheryl(300thn)

Aletha(100thn)

Calabria Clan

U-know(800thn)

Max(200thn)

Vincent(400thn)

Boia Nerro

Casey(1000thn)

Joshua(900thn)

Jordan(800thn)

Mannaro

Jeremy, 24 thn

Andrew, 23thn

Matthew, 25thn

Cacciatore

Marcus, 21thn

Elias, 18 thn

Nikky, 17 thn

Henry, 19 thn

Zhoumi, 23thn

Nel mio sogno 

Anita kembali mengejar Cheryl yang melintasi hutan dengan kecepatan yang tidak akan bisa dimengerti oleh akal manusia, kali ini Anita tidak mau kalah lagi oleh Cheryl, dia benci kekalahan terutama dari adiknya yang satu itu yang senang sekali meledeknya. Hari ini mereka kembali bertengkar karena masalah sepele apalagi kalau bukan Cheryl yang selalu meledeknya dengan Vincent.

“Kali ini aku akan menangkapmu Nona Agnelli”Anita berbisik dengan terus memfokuskan pandangannya pada Cheryl yang masih berlari dihadapannya, Cheryl mendengar kata-kata Anita meski hanya sebuah bisikan, dia berhenti di sebuah pohon dan tersenyum mengejek pada Anita sebelum kembali berlari.

“Coba saja kalau kau bisa Nona Agnelli”ujar Cheryl sambil tertawa pelan.

Sampai di kaki gunung Cheryl mulai berjalan layaknya manusia karena kini dia sudah bisa melihat sebuah rumah sederhana di depannya, ya dia sudah memasuki desa dipinggir hutan, Cheryl menoleh kebelakang dia belum melihat tanda-tanda Anita mendekat. Tiba-tiba Cheryl tersenyum, dia merasa kembali menang kali ini.

“Aku mau ke tempat Nathan”ujarnya riang dan melangkah dengan santai memasuki kawasan penduduk tersebut.

**

Beberapa orang laki-laki sedang berkumpul di sebuah ruangan, di sebuah meja dengan piring dihadapan mereka masing-masing, sesekali mereka menyelingi acara makan malam mereka dengan obrolan ringan ataupun  suara tawa rendah setelah mendengar cerita yang lucu. Namun salah satu dari mereka hanya menatap piring makannya dengan malas.

“Mana Marcus?”tanya  laki-laki yang sejak tadi hanya menatap malas piring makannya itu, dia mendongak dan menatap satu persatu laki-laki lain yang berkumpul disitu, tidak ada yang menjawab, mereka hanya menegakkan bahu mereka ataupun menggeleng.

“Di kamar, dia langsung masuk kamar begitu pulang”jawab salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang terlihat paling muda diantara yang lain.

“Kau yakin Nikki?aku tidak melihat Marcus pulang”ujar  yang lain, seorang laki-laki dengan suara berat dan tubuh tinggi serta rambut panjang seleher.

Nikki, laki-laki yang menjawab pertama hanya mengangguk, dia yakin yang tadi dia lihat adalah Marcus.

“Baiklah akan aku panggilkan dia”kembali seorang laki-laki berdiri dari duduknya, wajahnya tampak seperti anak kecil ditambah dengan pipinya yang chubby membuatnya tampak semakin mirip dengan anak kecil.

“Tidak usah Henry, biar aku saja”laki-laki yang bertanya pertama kali juga berdiri kemudian melangkah pergi dari meja makan itu untuk memanggil Marcus.

Sebelum laki-laki itu sampai di depan pintu kamar Marcus, pintu itu sudah terbuka lebih dahulu, Marcus sudah bersiap pergi sepertinya,dia hanya melirik semua laki-laki yang ada diruangan itu sekilas dan tampak acuh tak acuh sebelum kembali berjalan.

**

Marcus mengikuti instingnya ke kaki gunung ke tempat dia merasakan sesuatu yang sangat menganggu itu. Tidak mempedulikan hawa dingin yang sedang menyelimuti kota Bologna hari itu dan bahkan hujan salju mulai turun saat dia sampai di kaki gunung itu, matanya awas mengamati setiap gerakan disekitarnya, dia masih merasakan sesuatu itu disini.

Kemana makhluk itu? batin Marcus, tidak ada suara yang terdengar selain gerakan ranting pohon yang menjatuhkan salju karena sudah tidak mampu menampung beban dari salju yang terus turun, mata Marcus memperhatikan sekelilingnya merasakan kembali kehadiran yang dia sebut ‘makhluk’ itu.

Got It, kau tidak akan bisa lari,gumam Marcus dalam pikirannya, dia tersenyum sebelm melangkah dengan cepat masuk ke dalam hutan sedikit. Kali ini dia akan berhasil mendapatkan makhluk itu.

“Sial, cepat sekali makhluk itu pergi” Marcus menggerutu karena kembali dia tidak menemukan keberadaan makhluk itu, bahkan dia merasakan makhluk itu sudah pergi menjauh.

Dengan perasaan kesal Marcus kembali lagi ke kota, hujan salju turun semakin lebat namun dia tidak mempedulikannya, rambut kuning keemasannya sedikti tertupi butiran salju begitu juga jaketnya. Dia membuka pintu rumah sederhana di pinggiran bologna dan menutupnya dengan kencang membuat semua orang yang sedang berada di ruang makan yang merangkap ruang tengah mereka kaget. Marcus hanya melirik mereka sekilas sebelum masuk ke sebuah ruangan yang bisa ditebak pasti itulah kamarnya.

Suasana menjadi hening diantara kumpulan laki-laki yang sepertinya baru menyelesaikan makan malam mereka dan saling pandang satu sama lain.

“Aku akan bicara padanya” seorang diantara mereka berdiri dengan perawakan tinggi kurus, dia seakan mengerti tatapan ketiga laki-laki lain ini, dia beranjak dari meja makan dan menuju pintu kamar Marcus.

Laki-laki itu hendak mengetuk pintu ketika mengetahui pintu tidak dikunci dengan perlahan dia membuka pintu kamar itu dan terlihatlah Marcus sedang duduk menghadap jendela kamarnya, membelakangi laki-laki itu. dengan langkah pelan laki-laki itu menghampiri Marcus.

“Aku tidak butuh kata-katamu saat ini Zhoumi”baru sampai di belakang Marcus, Marcus sudah berbalik dan menatap laki-laki yang dia panggil Zhoumi ini.

Zhoumi mendesah pelan dan duduk dia atas salah satu tempat tidur yang ada di ruangan itu.

“Ok tidak ada gunanya aku bicara sekarang..Marcus yang tidak pernah gagal dalam tugasnya”dengan nada sedikit menyindir Zhoumi mulai berbicara.

Zhoumi paham sekali kenapa Marcus seperti ini, Marcus adalah orang yang keras, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan terutama dalam hal ini.

“Kita baru pindah kesini masih banyak yang harus kita sesuaikan lagipula mungkin mereka hanya sedang main-main..tiga hari lagi kau bisa menjalankan tugasmu..”ucap Zhoumi menatap Marcus lembut tatapan sayang seorang kakak pada adiknya namun pada kenyataannya Marcus bukanlah adik Zhoumi, ya mereka bukanlah bersaudara, ketiga laki-laki diluar juga bukan, mereka dipersatukan hanya karena ada suatu kesamaan atau mungkin takdir mereka yang sama.

Zhoumi berdiri dari duduknya menghembuskan nafas pelan lalu menepuk bahu Marcus perlahan.

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, kau pemburu vampir terbaik”Zhoumi meninggalkan Marcus sendiri, dia berharap dengan kata-katanya barusan dapat mengobati kekecewaan marcus karena tidak bisa mendapatkan makhluk itu atau lebih tepat disebut vampir.

Marcus, Zhoumi dan ketiga laki-laki diluar adalah pemburu vampir, sama seperti vampir mereka tidak begitu saja menjadi pemburu vampir atau siapapun bisa menjadi pemburu vampir, mereka adalah orang-orang pilihan, tidak ada yang tahu kenapa bisa mereka yang menjadi vampir bahkan pemburu vampir sendiri tidak tahu alasan kenapa mereka yang dipilih, suatu hari di ulang tahun mereka yang ke 17, orang tua mereka akan memberikan sebuah belati yang merupakan senjata untuk membunuh vampir dan sejak saat itu mereka adalah pemburu vampir. Sama seperti vampir juga, pemburu vampir merupakan suatu klan, mereka akan menetap di satu kota mengawasi kemungkinan adanya vampir disitu dan jika ada mereka akan menghabisi mereka, setelah itu mereka akan pindah ke kota lain, ini adalah kota ketiga untuk Zhoumi dan kelima untuk Marcus, Zhoumi memang lebih tua dibanding Marcus tapi Zhoumi awalnya tidak mau menjalani pekerjaan ini sebelum dia dipaksa guidice sebutan untuk ketua mereka, ya mereka memiliki ketua yang mengawasi pekerjaan mereka. Berbeda dengan Marcus, dia menerima pekerjaan ini dengan senang hati atau lebih tepatnya untuk membalas dendam orang tuanya.

Marcus mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya, sebuah belati yang ayahnya berikan saat ulang tahunnya yang ke 17, belati yang sudah membunuh puluhan vampir selama empat tahun dia menjalani pekerjaan ini, Marcus merupakan salah satu pemburu vampir yang sangat agresif mungkin karena masa lalunya yang tidak mengenakan dengan vampir membuatnya benar-benar membenci vampir, Marcus sangat egois dari awal dia selalu bekerja sendiri oleh sebab itu guidice  memintanya pindah bersama Zhoumi, berharap Zhoumi yang dapat merubah sifat keras dan egois Marcus yang bisa membahayakan klan mereka ini.

Marcus menghela nafas perlahan dan menaruh kembali belati itu di laci meja kamarnya dan dia mulai merebahkan tubuhnya di salah satu tempat tidur di kamar itu, matanya mulai terpejam dan masuklah dia ke alam mimpi.

**

Sebuah padang rumput dengan bunga-bunga berwarna merah dan kuning bermekaran, rumput yang hijau dan gunung menjadi lanscape-nya. Seorang laki-laki berambut kuning keemasan menatap sekelilingnya dengan aneh, dia seakan-akan bertanya dalam pikirannya tempat apa ini?

Ada sebuah jalan setapak yang membelah padang rumput yang sangat indah itu, dia mulai berjalan melewati jalan itu tanpa tahu tujuannya, kakinya menuntunnya sendiri untuk berjalan disitu.

“Marcus”sebuah suara lembut terdengar, laki-laki itu berhenti berjalan, dia merasa namanya dipanggil, dia menoleh ke belakang namun tidak menemukan siapapun, suara tawa kecil mulai terdengar, laki-laki itu kembali mengedarkan pandangannya namun sama seperti tadi padang rumput ini kosong tidak ada orang selain dia.

Tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di pinggang laki-laki itu. laki-laki itu hanya bisa terdiam mematung, sampai tangan itu terlepas.

“Aku merindukanmu”suara itu kembali terdengar, laki-laki itu berbalik dan melihat seorang gadis dengan gaun putih selutut melambaikan tangannya. Laki-laki itu berusaha memfokuskan pandangannya untuk melihat dengan jelas gadis bergaun putih itu namun dia tetap tidak bisa melihatnya dengan jelas.

**

Pusat kota Bologna mulai turun salju, beberapa pejalan kaki di sebuah pusat pertokoan disana berusaha menghindari dengan berteduh ataupun segera menuju halte untuk pulang sebelum hujan salju bertambah lebat. Seorang gadis berjalan santai dan terlihat menikmati hujan salju, bahkan dia mulai bersenandung kecil, semua mata menatap gadis ini bukan karena betapa riangnya tapi lebih kepada wajah gadis ini yang sangat tidak biasa, banyak pasang mata terutama laki-laki menatapnya kagum, ya tidak ada yang bisa menolak pesona kulit seputih porselen, hidung mancung dengan rahang yang tegas, bibir merah dan juga mata..ah dia menggunakan lensa kontak biru terang untuk menyamarkan mata merahnya, ya gadis itu adalah Cheryl.

ciao” Cheryl menyapa seorang laki-laki muda mungkin masih belasan tahun yang menatapnya tanpa berkediap, Cheryl tersenyum padanya dan kembali berjalan.

Sampai di depan sebuah toko kue Cheryl berhenti, toko kue yang cukup terkenal di kota ini dilihat dari banyaknya pengunjung di dalam sana, Cheryl kembali memasang senyum di wajahnya, dengan perlahan dia mulai membuka pintu toko itu dan masuk ke dalam, matanya mencari tempat duduk dan dia begitu senang ketika melihat satu tempat duduk kosong.

“Aku beruntung hari ini” ucap Cheryl riang sambil duduk di bangku yang dekat dengan dapur restoran itu, Cheryl mulai melongokkan kepalanya mencari orang yang sangat ingin dia temui tapi yang dia lihat hanya orang-orang yang sedang menikmati roti mereka ditemani minuman hangat, Cheryl mendesah kecewa, dia merasa tidak salah masuk toko tapi kenapa dia tidak bisa menemukan laki-laki itu.

Matanya langsung berbinar ketika melihat seorang laki-laki dengan topi koki menaruh kue-kue yang masih panas di depan konter, mata Cheryl tidak lepas dari laki-laki itu, setiap gerak-geriknya selalu dia ikuti, tidak peduli pada banyak pasang mata disekitarnya yang menatapnya kagum,seakan-akan pusat gravitasi Cheryl saat ini adalah laki-laki itu.

“Nathan”seorang pelayan wanita pada laki-laki yang terus ditatap Cheryl yang ternyata bernama Nathan.

Nathan tersenyum dan mengangguk kemudian kembali ke dapur namun sebelum dia kembali ke dapur matanya menangkap sosok Cheryl yang menatapnya, Nathan sedikit malu ditatap tanpa berkedip oleh seorang gadis yang dia akui sangat cantik itu, Nathan buru-buru tersenyum untuk menyembunyikan rasa malunya lalu masuk ke dapur.

Cheryl sangat kegirangan karena Nathan tersenyum padanya.

“Dia tersenyum padaku”lirih Cheryl dan terus menopang wajahnya dengan tangannya menatap ke arah dapur menunggu Nathan keluar lagi dan tersenyum padanya.

Namun saat sedang asyik melamun seorang pelayan wanita menghampirinya.

“Nona, ada yang ingin anda pesan?”Cheryl medongak, dia terdiam sesaat.

“Ah..aku benda coklat yang dibuat Nathan”ucap Cheryl sambil tersenyum, pelayan wanita itu bingung namun  dia tetap mengangguk.

Pelayan wanita itu berjalan ke konter untuk mengambil pesanan gadis itu dengan penuh tanda tanya dibenaknya, apa gadis itu mengenal Nathan? Bukankah Nathan baru dua bulan tinggal disini? Dia pun memutuskan untuk bertanya pada Nathan.

“Nathan”panggil pelayan wanita itu, Nathan menoleh, dia menghentikan pekerjaannya dengana adonan putih itu dan menghampiri pelayan wanita yang memanggilnya itu.

“Errr..Nathan sepertinya gadis itu mengenalmu”Nathan menatap pelayan wanita itu bingung.

“Gadis?”Nathan menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti, gadis siapa yang dia kenal?

“Gadis yang duduk disitu”pelayan wanita itu menunjuk tempat Cheryl duduk, saat itu Cheryl tersenyum pada Nathan, tiba-tiba saja wajah Nathan memerah, senyumnya sangat manis, pikir Nathan, namun sejurus kemudian dia mengalihkan tatapannya dan beralih pada pelayan wanita ini lagi. Dia memang seperti merasa pernah bertemu dengan gadis itu tapi dia tidak ingat kapan dan dimana.

“Ah..tidak..aku harus kembali bekerja nanti aku dimarahi Andreas zio”Nathan buru-buru kembali ke dapur dan sibuk dengan adonannya.

**

Anita meghentakkan kakinya masuk ke dalam rumah, meski tetap saja hentakkan kakinya tidak akan terdengar, lama kelamaan Anita mirip seperti Dennis, terbiasa melakukan hal-hal yang manusia lakukan seakan sudah seperti kebiasaan mereka sendiri. Raut wajah Anita menunjukan kekesalan, ya dia sedang kesal dengan Cheryl, gadis pemberontak itu selalu bisa membuat moodnya buruk.

“Anita”seseorang menyapanya di ujung tangga, Anita hanya melirik sekilas, Vincent, dia tidak mempedulikan laki-laki itu dan melewatinya begitu saja menaiki tangga menuju kamarnnya.

Vincent memperhatikan Anita sampai dia menghilang dibalik pintu, dia hanya ingin berteman dengan gadis itu tapi kenapa gadis itu tampak selalu ingin menjauhinya, sebenarnya Vincent menyukai Anita, menurutnya Anita menarik namun ketertarikannya masih dalam taraf ingin mengenal gadis itu tidak seperti U-Know yang memang mencintai Alishia,namun sekeras apa Vincent berusaha baik pada Anita, Anita selalu menanggapinya dingin.

“Butuh usaha keras mendekati gadis itu”U-Know tiba-tiba muncul entah darimana menepuk bahu Vincent perlahan.

“Aku tidak tahu kenapa gadis itu sangat dingin padaku”ucap Vincent.

“Bukan hanya padamu tapi pada semuanya,kau tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi padanya”U-Know mengakhiri kalimatnya dengan senyuman penuh arti, Vincent menautkan alisnya tidak mengerti maksud U-Know.

“Alishia”Alishia masuk ke dalam rumah ini, dia terkejut melihat U-Know ada disana dan perlahan dia berjalan menghampiri Alishia.

“Darimana saja kau?”tanyanya lembut sambil membersihkan sisa salju di jaket Alishia, Alishia menunduk tidak berani menatap U-Know. Kejadian kemarin masih terekam jelas di ingatannya, kata-kata U-Know membuatnya menjadi takut jika mereka bertemu, Alishia tidak tahu harus menjawab apa atas kata-kata U-Know kemarin, dia tidak memiliki perasaan apa-apa pada U-Know, dia memang mengagumi laki-laki itu tapi hanya sebatas itu, dia tidak mencintai laki-laki yang memang Dennis jodohkan dengannya. Dia ingin menolak tapi dia tidak setega itu pada Dennis, saat Dennis sangat berharap bisa menyatukan dua keluarga ini, membuat klan U-Know mengikuti kebiasaan mereka menghentikan berburu manusia sebagai mangsa.

**

Sementara itu di sudut lain rumah itu terdengar gelak tawa dua orang, Max dan Aletha sedang duduk di taman belakang, hujan salju baru saja berhenti.

“Dan Vincent menangkap yang sangat besar”Max mengakhiri ceritanya, Aletha tertawa mendegar cerita lucu Max itu. tangannya memegang cup berisi darah binatang dari Max yang sudah dia habiskan sejak tadi.

“Aku pikir itu werewolf ternyata hanya serigala biasa”lanjut Max, Aletha menatapnya penuh tanda tanya, werewolf? Makhluk apa itu? dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Hei..jangan bilang kau tidak tahu werewolf?”tanya Max, Aletha menggeleng, dia memang sama sekali belum pernah mendengar nama itu disebut, Dennis atau saudara-saudaranya yang lain.

“Payah sekali..padahal lumayan untuk mainan..kau tahu anjing-anjing lucu dengan badan besar”Max tertawa di akhir kalimatnya, sepertinya dia pernah mengalami hal lucu dengan werewolf.

“Ceritakan padaku apa itu werewolf”pinta Aletha, Max tersenyum penuh arti.

“Ada syarat”Max mengacungkan jari telunjuknya, Aletha mengerucutkan bibirnya.

“Apa?”tanya Aletha.

“Kau harus berburu lagi malam ini”ucap Max dengan santainya, Aletha membulatkan matanya tidak percaya dengan syarat yang diajukan Max, dia masih belum mau melakukannya lagi setelah kemarin dia menghabisi hampir lima ekor kijang tapi dia sangat penasaran dengan cerita Max.

“Bagaimana?”Max tersenyum lagi, akhirnya mau tidak mau Aletha mengangguk. Max mengulurkan kelingkingnya agar Aletha menepati perjanjiannya. Aletha menyambut kelingking Max, Max tertawa pelan.

“Baiklah..Aletha Agnelli..cerita ini akan sangat panjang seperti cerita si tua Boianero itu jadi jangan tidur sampai Max yang tampan selesai bercerita…”Max menarik nafas mengikuti kebiasaan Dennis ketika hendak berbicara membuat Aletha menahan tawanya melihat ekspresi Max yang tidak nyaman dengan bernafas.

**

U-Know mengajak Alishia ke taman belakang kastil, Alishia belum mempersiapkan jawaban apapun atas pernyataan U-Know kemarin, dia masih bimbang, tidak ada sedikitpun rasa cinta pada laki-laki yang kini berdiri dihadapannya tapi dia tidak bisa membayangkan wajah kecewa Dennis, dia tahu Dennis sangat berharap dia bisa bersama dengan U-Know.

“Ada yang menganggumu?”tanya U-Know yang memang heran dengan sikap Alishia semenjak kemarin.

“Tentu saja dia merasa terganggu, kau yang membuatnya terganggu”seorang gadis berdiri di ambang pintu keluar menuju taman dengan memandang tajam U-Know.

“Anita”panggil Alishia pelan, dia tahu adiknya yang satu ini sangat membenci U-Know.

U-Know menyunggingkan senyum  mendengar kata-kata tajam Anita, dia berbalik menghadapa Anita.

“Dendam ratusan tahun Anita Agnelli”ujar U-Know, mendengar kata-kata U-Know itu, Anita mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasa bencinya pada laki-laki ini tidak akan pernah berubah bahkan sampai kapanpun, seandainya dia berlutut minta maaf dihadapannya, tidak akan bisa Anita memaafkannya.

“Kalau bukan aku masih menghormati Dennis, sudah kupatahkan lehermu sejak dulu Tuan”Anita menatap U-Know dengan tatapan menantang, kekesalannya pada laki-laki ini kembali memuncak sejak mereka sering datang kesini.

“Anita, sudahlah”Alishia kembali berbicara dengan perlahan, dia sangat mengerti perasaan Anita tapi dia juga tidak mau Anita melakukan sesuatu yang akan membahayakannya nantinya.

“Jadi bagimu mereka lebih penting dibanding bangsamu sendiri Anita Agnelli”U-Know kembali berbicara dengan santainya seakan tidak bisa menangkap aura membunuh dari Anita.

“Tutup mulutmu!”sergah Anita, dia sudah berjalan ke arah U-Know.

“Anita”Alishia menahan tubuh Anita untuk maju, dia tidak mau terjadi keributan disini, dia menatap mata Anita dengan lembut seakan mengisyaratkan untuk menahan emosinya, Anita luluh bagaimanapun juga dia tidak akan membuat Dennis dalam masalah dengan membunuh U-Know malam ini meski dia sudah sangat ingin membunuhnya sejak ratusan tahun lalu. Anita melirik U-Know sekilas sebelum berbicara.

“Mereka hanya membuat masalah disini”gerutu Anita kemudian keluar dari rumah

Vincent melihat kepergiaan Anita dan dia mengikuti gadis itu masuk ke dalam hutan, Anita merasa dia diikuti, dia berheti berjalan.

“Apa yang kau inginkan?”ucap Anita dingin.

Vincent melompat dari sebuah pohon di atas Anita, dia seharusnya tahu gadis ini sangat pintar, dia pasti tahu kalau sedang diikuti.

“Kenapa kau sangat membenci kami?”tanya Vincent.

Anita berbalik dan menatap Vincent dengan tatapan tajam.

“Apa harus ada alasan aku membenci kalian..menyukai bisa tanpa alasan begitu juga dengan membenci”sedetik kemudian Anita sudah menghilang, Vincent terdiam memikirkan kata-kata Anita dan kembali teringat kata-kata U-Know tadi siang padanya, Vincent memang penuh rasa ingin tahu dan dia merasa ada suatu hubungan antara kata-kata U-Know dan kata-kata Anita tadi.

**

“Itu, yang itu Aletha”Max mengomandoi Aletha yang sedang berburu dengan menunjukan seekor kijang jantan yang sangat besar, Aletha mengiktui instruksi Max dan mengejar kijang jantang itu.

Max tersenyum senang, sekarang Aletha sudah mulai bisa berburu dan melupakan rasa jijiknya untuk berburu tapi dia masih belum tahu apakah Aletha juga sudah bisa berburu manusia, dia sebenarnya ingin mengajaknya untuk berburu manusia tapi seperti yang dia tahu klan Dennis hanya memangsa manusia saat bulan setengah berbeda dengannya dimana manusia merupakan mangsanya.

Dia melihat Aletha masih mengejar mangsanya, Max lebih memilih untuk mengawasi dari jauh sebentar lagi juga Aletha akan datang kehadapannya dengan buruannya namun tiba-tiba Max mencium sesuatu yang sangat busuk.

“Bau apa ini”ujarnya sambil menggosok-gosok hidungnya dan tiba-tiba saja dia terdiam.

“Sial, anak anjing itu ada disekitar sini”Max langsung bergerak cepat dari satu pohon ke pohon yang lain, dia takut kalau Aletha akan bertemu dengan makhluk yang dia sebut anak anjing itu ketika Aletha sedang berburu seperti ini.

Max menajamkan penciumannya juga pendengarannya, mengawasi gerakan sedikit saja dari anak anjing itu,dia lega ketika melihat Aletha sedang sibuk menghisap darah kijang jantan tadi, dia turun dari atas pohon dan mendekati Aletha.

“Hei, tidak mau berbagi denganku”ujarnya sambil menepuk bahu Aletha dan berjongkok disampingnya.

Aletha menghentikan aktifitasnya dan tersenyum  pada Max.

“Baiklah, silahkan ambil bagianmu guru”ucap Aletha pada Max dan mempersilahkan Max untuk menghabiskan makannnya.

“Ah, tidak, tidak, rasa binatang itu asam, lebih manis manusia”ujar Max membuat mereka tertawa bersama.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik semak-semak dihadapan mereka, Max dan Aletha mencium bau yang sangat tidak enak, Max tahu sumber dari bau itu tapi tidak dengan Aletha, dia hanya menatap bingung Max yang menariknya berdiri dan berjalan mundur, matanya terfokus pada semak-semak dihadapannya.

Suara langkah kaki mulai terdengar juga semakin mendekat dan terus mendekat,Max mendorong Aletha supaya berlindung dibalik tubuhnya, Aletha yang tidak mengerti dengan situasi yang terjadi hanya menuruti kata-kata Max.

Aletha memekik kaget ketika melihat tiga ekor entah serigala, anjing atau apa, intinya binatang yang dia lihatnya adalah binatang berbulu dengan tubuh raksasa. Ketiga binatang itu mengaum, membuat Aletha bergidik kaget.

“Wow, santai, kami tidak melakukan apapun di teritorial kalian, kijang jantan, tidak berbahaya bukan”Max berbicara dengan santai seakan ketiga ekor binatang raksasa itu adalah sahabat lamanya.

Salah satu dari mereka kembali mengaum,

“Ok, ok, kami pergi, senang bertemu dengan kalian tuan-tuan”Max tersenyum dan membungkuk kemudian mengenggam tangan Aletha untuk membawanya pergi.

Aletha sungguh  tidak mengerti apa yang terjadi, makhluk apa mereka?Anita masih menatap ketiga binatang raksasa itu matanya menangkap salah satu dari binatang itu menatapnya dengan intens mata coklatnya lekat-lekat menatap mata merah Aletha tanpa berkedip. Aletha melepaskan kontak matanya begitu Max menariknya untuk berjalan lebih cepat.

**

Hari ini bulan setengah, inilah hari dimana vampir akan ke tempat manusia mencari mangsa, setelah kejadian kemarin, klan Calibria pulang, U-Know berasalan mereka hanya singgah disini dan sebenarnya ingin menuju Venice. Dennis hanya mengiyakan saja, dia sebenarnya tahu apa yang sedang terjadi namun lebih memilih diam.

“kau siap Aletha?”tanya Dennis sambil tersenyum lembut pada putri bungsunya ini.

Aletha mengangguk lemah, Dennis menepuk kepala Aletha perlahan.

“Kau bisa”Dennis meyakinkan Aletha, Aletha tersenyum dan kembali mengangguk.

“Ayo berangkat”Dennis menatap keempat putrinya yang sudah siap untuk berangkat ke kota memulai perburuan mereka.

Sementara itu di sebuah rumah di pinggiran Bologna, tiga orang-orang laki-laki sudah siap dengan belati yang mereka taruh di balik jaket panjang mereka.

Kali ini dia tidak akan lolos lagi, gumam salah seorang laki-laki yang berambut kuning keemasan itu dengan tatapan mata siap membunuh.

Advertisements

4 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 4

  1. Vincent itu siapa ?
    Kalau max kan changmin. U-know yunho kan ..
    Lanjut part berikutnya ya .
    Semoga marcus ketemu anita .

  2. Aaa gawat..apakah marcus memang semenakutkan itu..enggak sabar pingin tau reaksi marcus kalo ketemu anita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s