FF: Milagro del Amor Part 3

This chapter written by Priska Lee ^o^

Casts:

Agnelli Clan

Dennis(1000thn)

Alishia(800thn)

Anita(500thn)

Cheryl(300thn)

Aletha(100thn)

Calabria Clan

U-know(800thn)

Max(200thn)

Vincent(400thn)

Boia Nerro

Casey(1000thn)

Joshua(900thn)

Jordan(800thn)

Mannaro

Jeremy, 24 thn

Andrew, 23thn

Matthew, 25thn

Cacciatore

Marcus, 21thn

Elias, 18 thn

Nikky, 17 thn

Henry, 19 thn

Zhoumi, 23thn

Kerlip cahaya lampu dari banyaknya bangunan membuat Cheryl ingin berkeliling sekedar menikmati pemandangan yang biasanya hanya dapat ia rasakan pada bulan setengah. Ia berjalan layaknya seorang manusia, dengan sangat hati-hati ia menutupi identitas aslinya. Berbagai toko ia lewati, sesekali berhenti beberapa saat hanya untuk lebih memperhatikan isinya. Kali ini Cheryl berhenti pada sebuah toko yang menjual alat-alat musik. Ia terpaku saat melihat sebuah piano dengan arsitektur yang unik. Tatapan takjub itu membawa Cheryl untuk mendekat, kemudian merabanya merasakan hawa dingin yang menyelimuti badan piano tersebut. Sepintas seperti ada hal yang pernah terjadi dalam hidupnya berhubungan dengan piano tersebut.

Cheryl mulai menekan tuts dan memainkannya dengan sangat indah. Satu per satu banyangan muncul dalam pandangnnya, ia mencoba mengingat namun sia-sia.Tak mau berlama-lama lagi Cheryl melanjutkan jalannya, tiba-tiba ia berhenti kembali saat mencium suatu aroma yang menurutnya sangat mengganggu. Ia mengusap-usap hidungnya, berharap dapat sedikit menghilangkan aroma yang menempel.

“Bau apa ini? seperti bau busuk.” Ucapnya. Ia menelusuri jalan mencari sumber bau tersebut kemudian berhenti pada sebuah toko roti.

“Andreas Panetteria.” Cheryl mengeja nama toko roti itu, “Nama yang aneh.” Ujarnya kembali sedikit menilai. Kepalanya sedikit dicondongkan ke depan kaca, menyelidik kehidupan yang sedang berlangsung di dalam. Pandangannya terpaku pada satu titik, dimana ia melihat seseorang yang sedang bergelut dengan benda putih kenyal. Mata Cheryl membulat takjub melihat keahlian laki-laki berambut coklat tersebut. “Woow..”

“Apa yang sedang kau lakukan pada bukuku?” tanya Anita pada Vincent yang sedang melihat isi buku milik Anita yang tergeletak di atas meja tengah.

Mendengar seseorang menegurnya, Vincent mendongak menatap Anita. “Tidak, kau memiliki selera yang bagus.” Puji Vincent. Namun tak berpengaruh, segera saja ia menarik buku itu. “Jangan coba kau sentuh barang-barangku.” Kemudian meninggalkannya sendiri. Vincent menatap bingung Anita.

“Dia memang sedikit protect terhadap barang-barang pribadinya, kami pun tak mudah meminjamnya.” Sambung Alishia yang baru keluar dari kamarnya. Anggukan sebagai jawaban yang ia berikan pada Alishia. “Dimana ayah dan U-Know?” tanyanya menghampiri Vincent yang sedang duduk.

“Ada diruangan itu.” jawabnya menunjuk sebuah ruangan disebelah kamar Denish.

Alishia memicingakan mata dan sedikit memiringkan kepalanya. “Apa yang mereka lakukan diruangan itu?” tanyanya dalam hati. “Kau tidak tertarik?”

“Ah, tidak semenarik dalam banyanganku.”  Alishia semakin curiga dengan yang Denish dan U-Know lakukan diruangan itu. Ruangan yang mereka yakini tidak akan dikunjungi Denish jika tidak ada hal yang benar-benar penting.

“Kau masih disini.” ucap Anita sinis.

Aletha dan Max langsung melihat arah suara Anita. “Ada masalahkah denganmu?” tanya Max mengikuti gaya bicara Anita. Anita hanya mendengus, tak meladeni tanggapan dari Max. “Ada apa?” tanya Aletha.

“Cheryl memasuki wilayah manusia.”

Aletha dan Max terperangah mendengarnya. “Bagaimana bisa?” tanya Aletha khawatir.

“Tadi kami tidak sadar, berlari sampai melewati batas.” Jawab Anita gusar. Mereka dalam kepanikan yang sama. Meraka takut Cheryl bertemu dengan kalangan Cacciatore, kalangan pemburu vampire yang pernah di ceritakan Denish. Anita dan Aletha berada pada satu pikiran, mereka tak mungkin mengatakan hal itu kepada ayahnya, mereka tahu konsekuensi yang akan ditanggung Cheryl jika ayahnya mengetahuinya. Secara bersamaan mereka menatap penuh harap kepada Max. Max yang menyadari arti dari tatapan tersebut.

“Baiklah.” Max langsung keluar melalui jendela kamar Aletha.

“Kali ini kupastikan kau dalam genggamanku.” Racau seseorang yang tengah mencari mangsanya itu.  Namun kali ini ada hal aneh yang dirasakan Marcus. Ia hanya melihat satu bayangan dalam pikirannya. “Tumben sekali.” Gumamnya. Tidak terlalu memperdulikan jumlahnya, Marcus terus berjalan menyusuri pertokoan dengan hati-hati. Dalam benaknya, jika kali ini ia dapat membunuh salah satu dari kawanan vampire, itu adalah permulaan yang bagus dimana ia dapat membunuh yang lainnya.

Tidak sulit bagi Marcus untuk menemukannya. Didepan sebuah toko roti ia melihat seorang gadis yang ia yakini adalah vampire. Marcus mulai mendekatinya perlahan.

“Waahh.” Hanya decakan kagum yang keluar dari mulut Cheryl ketika melihat laki-laki itu dengan lihainya memainkan benda putih tersebut.

Merasa ada yang memerhatikannya, Nathan, nama yang sama dengan nama yang tertera di awal nama tokonya itu, melihat keluar dan berjalan menghampiri Cheryl.

“Maaf hari ini toko kami tutup.” Ujar nathan. Mata Cheryl berkedip, tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara yang menyapanya.

“Ah, aku hanya tertarik dengan keahlianmu memainkan benda itu.” ujar Cheryl polos, sambil menunjuk benda yang dimaksudkan.

Nathan menoleh ke arah yang ditunjuknya. “Adonan?” tanyanya bingung. Baru kali ini ia bertemu orang yang sepertinya asing melihat adonan.

“Adonan.” ulang Cheryl sedikit mengeja. Akibat hilangnya semua memori Cheryl, hingga hal kecil pun tak dapat ia ingat. Kini dirinya hanya mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan dunianya yang baru. “Aku ingin melihat kau bermain-main dengannya lagi.” Pinta Cheryl. Nathan yang masih bingung dengan sikap gadis di hadapannya ini hanya mengangguk, menjawab permintaannya.

Nathan berjalan masuk terlebih dahulu, diikuti Cheryl. Namun tiba-tiba ada suara sayup-sayup yang memanggilnya, membuat langkahnya tertahan. Suara yang dikenalnya, suara Max. “Max?” gumamnya.

“Cheryl, cepat pergi.” Perintah Max yang dapat ditangkapnya. Bagaimana Max tau? Pikirnya, “Kau memang pintar Anita, membunuhku secara halus.” Gerutunya.

“Cheryl, aku yakin kau dapat mendengarku. Cepat pergi dari tempat itu, Cacciatore sedang mengincarmu.”

Cheryl tersentak mendengarnya. Rasa takut yang sempat hilang, kini muncul seketika mendengar nama Cacciatore, pembunuh vampire. Cheryl kaku di tempat.

“Tidak masuk?” tanya Nathan, melihat Cheryl masih berdiri di ambang pintu. Nathan melihat ada sedikit gurat ketakukan diwajah Cheryl. Sesaat ia ingin menanyakan keadaannya, Cheryl melesat meninggalkan toko itu dan menyisakan keanehan dalam benak Nathan.

Marcus terus mengamati setiap gerak-gerik incarannya itu. “Bagus, kau tidak menyadari adanya aku.” Selangkah demi selangkah jarak Marcus dengan Cheryl semakin dekat. Marcus telah mengambil ancang-ancang dengan pisau belati yang dari tadi digenggamannya. Layaknya seorang penjagal, ia mulai menaikkan kedua tangan yang memegang benda berbahaya bagi Cheryl hingga sejajar kepalanya. Dengan sekali ayunan, Marcus yakin vampire itu akan mati ditangannya. “Enyahlah kau.” Ucapnya dalam hati sebagai aba-aba.

“Ahh, Shiiiit.”

Ketika Marcus hendak melayangkan pisaunya, Cheryl berhasil kabur. Ia melesat cepat tanpa jejak. Dengan segera Marcus mengejarnya. Kecepatan lari marcus tak berbeda jauh dengan kecepatan lari bangsa vampire, hingga ia dapat dengan mudah menyusul Cheryl.

Kepanikan yang bersarang di otaknya membuat Cheryl sulit berfikir mencari jalan keluar. Hingga di penghujung jalan ia menemukan jalan buntu. Tak ada tempat bersembunyi bagi dirinya. Sedangkan kalangan Cacciatore itu semakin dekat dengannya.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri dalam kepanikan. “Ayah, bantu aku.” Mohonnya. Namun dengan jarak yang terlampau jauh, ia meyakini ayahnya tak dapat mendengar suaranya.

“Cheryl.”

“Max.” Dengan cepat Max membawa pergi Cheryl.

“Damn, kemana larinya vampire itu. Shit!.”

“Cheryl.” Tiba-tiba Denish merasakan hal ganjal di hatinya. Ia merasa bahwa anak gadisnya yang ketiga sedang dalam bahaya.

U-Know yang sedang bersama Danish, menatapnya bingung. “Apa ada sesuatu?” tanyanya. “Sepertinya.” Jawab Denish singkat, kemudian keluar diikuti U-Know.

“Anita Agneli.” Panggil Denish.

Merasa namanya di panggil, Anita segara menghampiri ayahnya. Ia bisa menduga, kalau ayahnya telah mengetahuinya.

“Anita Agneli.” Panggil Denish sekali lagi.

Tak lama Anita turun bersama Aletha. “Disini.” Jawabnya singkat.

“Dimana Cheryl?” tanyanya langsung seperti membidik buruan.

Anita terdiam, ia bingung akan jawabannya. Denish menatap tajam kepada anaknya itu, mencari jawaban.  Tidak mendapat jawaban, ditanyanya sekali lagi. “Jawab aku, dimana Cheryl, Anita Agneli?” Denish memberikan penekanan di akhir kalimatnya. Yang lain hanya menatap bingung, apa yang terjadi sebenarnya.

“Ayah.” Ucap Alishia menenangkan Denish.

“Cheryl…” Anita membuka suara. “Aku disini ayah.” Tiba-tiba suara datang dari arah depan castle. Cheryl masuk bersama Max.

Seperti tidak pernah ada yang terjadi, Cheryl dan Max melenggang masuk menghampiri Denish. “Aku akan jelaskan semuanya. Lepaskan Anita ayah.”

Denish menuruti permintaan anaknya itu. “Kembalilah ke kamarmu. Dan kau ikut ayah.” Tunjuknya kepada Cheryl. Denish berjalan lebih dahulu menuju kamarnya diikuti Cheryl, sebelumnya ia mengedipkan sebelah matanya, seakan berbicara –aku akan selamat. Yang lain hanya tersenyum dan bergeleng melihat tingkah Cheryl.

Di daerah berbeda tepatnya di pusat kota Bologna. Sekelompok orang tengah mempersiapkan acara yang akan mereka laksanakan. Mereka bukanlah seperti golongan Agneli, Calabria maupun Cacciatore, melainkan manusia biasa yang termasuk dalam kelompok pecinta alam. Acara  yang akan mereka selenggarakan adalah acara rutin yang selalu mereka lakukan setiap tahunnya.

“Kau yakin kita akan pindah tempat?” tanya seseorang di dalam rapat penentuan lokasi yang sedang berlangsung.

“Sangat yakin.” Jawab orang satunya lagi, yang mengakui dirinya sebagai humas acara itu, dan sebagai orang yang menentukan lokasi.

“Apa yang dapat kau pertanggung jawabkan kepada kami?” tanya orang yang duduk paling depan, merupakan pemimpin rapat.

Sejenak ia berfikir. “Semua Harta dan nyawanya lah sebagai jaminannya.” Ucapnya asal sambil menunjukan senyum usilnya dan sebelah tangannya merangkul laki-laki yang diakui sebagai karibnya.

Pria disebelahnya dengan  cepat melayangkan satu pukulan di kepalanya dan tatapan membunuh. “Hidupmu saja yang kau jadikan tumbal, Spencer.” Ucap pria itu dengan memberi penekanan terhadap nama temannya yang diketahui bernama Spencer.

“Tenanglah Aiden, jika kau tiada, aku siap menampung semua harta kekayaan orang tuamu.” Celetuk Spencer membuat Aiden semakin geram.

“Langkahi dulu mayat bapakku, jika kau ingin hartanya.”

Spencer terkekeh medengar pernyataan temannya. Mereka memang suka menjadikan salah satunya sebagai bahan gurauan walaupun terkadang gurauan tersebut hanya lucu bagi mereka berdua.

“Stop, lanjutkan kembali.” Perintah pemimpin rapat.

Dengan gaya yang meyakinkan, Spencer kembali mendominasi pikiran semua orang agar setuju dengan usulnya.

“Sudah, serahkan semuanya padaku, aku yakin tidak kalah dengan tempat kita yang sebelumnya. Aku pun sudah berani bertaruh nyawa sahabatku sebagai jaminannya.” Jelas Spencer panjang lebar, tidak meninggalkan kesan konyolnya. Hingga akhirnya semuanya menyetujuinya.

“Baiklah. Lusa kita berangkat, mulai detik ini tunjukan kinerja kalian.” Semuanya serempak menyanggupi perintah pemimpin mereka.

Disamping itu, ditempat dan hari yang berbeda klan Calaibria kembali berkunjung ke castle klan Agneli. Hubungan mereka memang sangat dekat, sehingga bila memiliki waktu senggang mereka menyempatkan waktu berkunjung ke castle klan Agneli walaupun hanya diam ataupun sekedar medengar permainan piano Cheryl.

Kala itu Alishia sedang menemani Denish merangkai bunga mawar putih kesukaan Denish. Sedangkan Cheryl seperti biasa asik memainkan tuts pianonya, Aletha sedang belajar berburu untuk mengusir rasa jijiknya, menggunakan boneka-boneka binatang yang ia miliki, sedangkan Anita?? Aku pun bingung apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam kamarnya. Tak penah ada yang berani menggangu Anita jika tak terdengar satu suara pun yang keluar dari kamarnya.

“Aliran lagu yang tepat untukmu, kau memiliki selera yang bagus.” Puji Vincent yang sudah ada di samping Cheryl.

Cheryl mendongak. Denish dan Alishia pun melihat kearah yang sama dengan Cheryl. “Kau datang.” Sapa Denish. Vincent hanya tersenyum.

“Jangan keluarkan kata-kata yang sama kau tunjukan kepada Anita. Tidak berlaku untukku.”

Samar-samar Anita dapat mendengar kata-kata yang di ucapkan Cheryl. “Ucapkan sekali lagi jika kau benar-benar ingin mati ditanganku.”  Teriak Anita dari kamarnya.

“Woow, suara yang dahsyat.” Sambung Max sesampainya ia.

Denish dan Alishia tersenyum menatap Max. Tepat dibelakangnya berdiri U-Know, melihat itu raut wajah Alishia berubah seketika.

Cheryl tersenyum jahil. “Kau dengar itu? dia cemburu terhadapku, mengetahui kau menggodaku.”

“MATI KAU CHERYL AGNELI.”

Cheryl menatap Vincent, “Kau lihat kan?”, “Aku menunggumu Anita Agneliku sayang.” Godanya, membuat Anita bertambah geram akan kelakuan adiknya yang satu itu.

“Cih, kali ini aku benar-benar akan membunuhmu.” Umpatnya. Dalam hitungan detik Anita sudah berada dibawah besiap mengejar Cheryl.

“Lakukanlah jika kau bisa.” Ejeknya. Kejar-kejaran pun terulang kembali. Denish hanya bisa menggelengkan kepala melihat polah kedua anaknya itu.

“Sepertinya mereka yang sebenarnya memperebutkanku.” Ujar Vincent kepada Max dengan nada membanggakan diri.

“Tutup mulutmu atau kau yang akan dibunuhnya.” Timpal U-Know. Yang lain hanya tertawa mendengarnya.

“Kau sibuk Denish?” tanya U-Know dengan nada bicara yang memiliki arti lain.

“Merangkai bunga tak membuatku kehabisan tenaga dan waktu yang banyak.” Jawabnya. “Bicaralah dengannya.” Seakan mampu membaca pikiran U-Know, Denish mengizinkan U-Know pergi dengan Alishia.

“Kau mau temani aku berburu?” tanyanya. Matanya menatap lurus kedalam mata Alishia. Alishia menoleh ke arah Denish dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Aku akan ganti baju.” Ucapnya pelan, dengan berat hati ia menyetujuinya.

“Kalian mau berburu?” sambung Max. U-Know hanya mengangguk.

“Aku ikut.” Secara spontan Max langsung bergegas ingin menuju kamar Aletha, namun sebelumnya, “Danish?” panggilnya, Danish mengerti maksud pemuda satu ini.

“Silahkan.” Danis memberikan Max izin untuk membawa Aletha berburu bersama mereka, dengan harapan Max membuahkan hasil.

“Bukan seperti itu caranya.” Ujar Max tiba-tiba yang sudah berdiri santai di depan pintu kamarnya, disela-sela Aletha sedang belajar berburu.

“Bisa kah kau mengetuk pintu sebelum masuk.” Cetusnya tidak suka dengan kebiasaan Max.

Max berjalan mengahampiri. “Ikut aku.” Ajaknya. Aletha memicingkan matanya, menyibak makna dari kata-katanya. “Ikut aku berburu, akan ku hilangkan rasa jijikmu itu.” lanjutnya.

“Tidak mau.” Tolak Aletha. Ia memalingkan muka dari hadapan Max.

“Harus mau, aku akan mengajarkan cara berburu tanpa menimbulkan rasa jijikmu itu.”

Aletha tidak bergeming. “Kau tidak bisa terus-menerus seperti ini. Kau harus memenuhi kebutuhanmu seperti halnya manusia. Suatu saat kau akan menemukan masa-masa dimana kau harus berjuang untuk memenuhi rasa hausmu. Tidak selamanya keluargamu akan terus memenuhi kebutuhanmu. Kau harus lepas dari bayang-bayang masa lalumu. Ingat satu hal kini kau telah abadi, inilah jalan hidupmu seterusnya. Aku akan selalu membantumu hingga kau mampu berdiri sendiri.” Jelas Max panjang lebar.

Aletha termenung, semua kata-kata Max berputar di kepalanya. Ia benci harus berburu, ia benci harus hidup dengan jalan yang seperti ini. Tapi tak ada yang dapat ia lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Sekeras apapun penolakan dirinya, inilah hidupnya yang baru, suka tidak suka ia harus tetap menjalaninya.

Aletha pun terpengaruh dan ia mengikuti Max. “Kau tunggu di bawah.” Ucap Aletha. Max tersenyum mendengarnya.

Ditempat perburuan mereka berpisah, Max dan Aletha berburu ke arah utara sedangkat U-Know dan Alishia ke arah timur.

Aletha masih ragu untuk melakukannya, insting manusia yang masih melekat dalam dirinya membuatnya sulit untuk melakukan hal tersebut, namun Max meyakinkan bahwa Aletha dapat melakukannya.

Max hanya memberikan sugesti ringan yang dengan mudah dapat diserap Aletha. Max tidak melakukan pemburuan lebih dahulu, ia takut jika Aletha melihatnya, insting manusia yang masih melekat dalam dirinya lebih mendominasi dan menyulitkan Aletha keluar dari fase tersebut.

Perlahan tapi pasti Aletha mulai melangkahkan kakinya kala berhadapan dengan seekor binatang.

“Lakukan Aletha.” Bisik Max.

Seluruh badan Aletha gemetar. Rasa ragu dan takut membayangi, namun dihatinya ada sedikit keinginan untuk mencoba. Aletha melangkahkan kakinya lagi. Semakin dekat dengan mangsanya, semakin bergemetar tubuhnya.

“Lakukan.. Lakukan Aletha.” Max terus membisikan kata-kata itu.

Aletha terus melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. “Lakukan!” kata-kata itu terus berputang mengelilingi kepalanya.

Tiba-tiba ia terdiam, “Haruskan aku melakukannya?” tanyanya dalam hatinya, “Mampukah aku?” tanyanya lagi, “Sanggupkah?”

Disisi lain, tepatnya disebelah timur. U-Know dan Alishia berjalan dalam diam. Walaupun sesekali mereka berbicara. Setelah mencapai tengah hutan, Alishia dan U-Know mulai mencium aroma dari binatang buruannya. U-Know membiarkan Alishia mendapatkan buruannya terlebih dahulu. Dengan sigap dan hanya memakan waktu beberapa detik, bintang tersebut mati.

“Kau semakin lihai berburu.” Kata U-Know, menyanjung.

“800 tahun.” Celetuknya, “Kau?”

“Aku menunggu seekor citah.” Jawabnya santai. Mereka kembali berjalan menyusuri hutan. Selama itu ada hal yang menganggu pikiran U-Know. Ada yang ingin diungkapkannya kepada gadis disampingnya itu. Ia berfikir inilah saat yang tepat.

“Alishia.” Panggilnya, ia hanya berdeham sebagai jawabannya.

“Kau tahu, tak ada yang kutakuti di dunia ini.”

“Ayah pernah mengatakan hal itu padaku.” ujar Alishia memberi tanggapan.

“Kini semua itu berubah. Mengenal klan Agneli, membuatku takut akan satu hal.”

Alishia bingung mendengarnya. U-Know berhenti berjalan, begitu juga dengan Alishia. U-Know menghadapkan tubuhnya kearah Alishia, hingga kini mereka saling berhadapan. Kedua tangan kekarnya, meraih kedua tangan Alishia. Digenggam erat olehnya.

“Dirimulah hal yang kutakuti.” Alishia membelalakan matanya, bila ia seorang manusia mungkin ia akan sulit untuk bernafas, sayangnya Alishia sudah lama melupakan rasa itu. Hatinya berdegup kencang.

“Alishia, jadilah bagian dari keberanianku melawan rasa takut itu.” pernyataan itu sontak membuat Alishia semakin kaku, seakan dunia berhenti detik itu juga dan ia tak tahu apa yang harus ia perbuat.

“Aku bisa Max. Aku bisa.” Teriak Aletha ketika ia bisa melumpuhkan satu buruannya walaupun memakan waktu yang cukup lama. Max tersenyum senang melihat Aletha dapat lepas dari belenggu masa lalunya.

“Sudah kupastikan itu.” ujarnya. “Kau mau mencobanya lagi?” tanyanya.

Aletha mengangguk pasti. “Dengan buruan yang lebih besar.” Ia tertawa senang, kini ia dapat berburu tanpa memikirkan rasa jijik.

“Lakukanlah.”

“Aku akan membawa bangkai hasil buruanku. Duduk manis tuan.” Aletha berusaha mencari buruannya kembali tanpa di dampingi Max. Dengan antusian ia mencari binatang dengan ukuran yang besar, ia berlari menyusuri hutan,tanpa ia sadari telah melewati batas teritorial.

Advertisements

5 thoughts on “FF: Milagro del Amor Part 3

  1. Finally …
    Cheryl bisa lolos.
    Sedikit bingung pas peralihan dialog, harusnya dikasih tanda. Tapi karena ceritanya begini jadi ga usah deh 🙂
    Kapan marcus ketemu anita ??!!!

  2. apakah alishia menerima u-know??? yeee,.. akhirnya bs berburu jg,. itu gmn nasib aletha??? *mian klu msh ada yg slh tls nama* *bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s