FF: Drama Story First Scene

First Scene

 

Ini sudah yang kesekian kalinya aku menguap, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi rasanya aku ingin sekali merebahkan kepalaku dan memejamkan mataku lalu mulai masuk ke alam mimpi yang nyaman dan damai, namun apa daya masih ada pekerjaan yang menungguku, pekerjaan yang memang baru setahun aku lakukan karena aku baru baru setahun tinggal di kota ini.

”Yong Soon-ah,ini coklat panas untukmu”seorang laki-laki dengan senyum memikat memberikanku segelas coklat panas,dia memang paling tahu apa kebutuhanku saat aku sedang sangat mengantuk seperti ini.

Gomawo”aku mengucapkan terima kasih padanya dan memberikan senyum terbaikku, dia duduk disampingku dan menghela nafas perlahan. Kenapa dengannya?

Sungmin, Lee Sungmin, itulah nama laki-laki yang duduk tepat disampingku ini. Dia salah satu dari orang-orang yang kukenal di kota ini. Well– pada kenyataannya aku hanya mengenal beberapa orang saja dikota ini. Dia laki-laki yang cantik, kenapa aku bilang begitu bagaimana wajahnya bisa lebih manis dibanding aku yang seorang perempuan?tapi meski wajahnya cantik, dia tetap seorang namja, dia bisa kubilang sangat dewasa dan bertanggung jawab,dia adalah tulang punggung keluarganya. Di kota Seoul ini dia tinggal sendiri sementara ibu dan adik laki-lakinya tinggal di Busan,dia bekerja dan juga kuliah disini bahkan dia yang membiayai kehidupan keluarganya darisini, hebat kan?

”Ada sesuatu yang kau pikirkan?”tanyaku, aku memiringkan wajahku agar bisa menatap wajahnya dengan jelas, dia menoleh padaku dan menggeleng, selalu seperti itu dia memang tidak pernah mau cerita jika ada masalah.

”Jangan tidur di atas panggung”dia berdiri dari duduknya dan menatapku dengan tatapan mengejek, hei itu hanya sekali saja aku tertidur di atas panggung.

Dia mulai melangkahkan kakiknya meninggalkanku yang masih menghabiskan coklat panas di gelas kertas ini, kutepuk-tepuk wajahku untuk menghilangkan kantukku, masih ada satu lagu lagi,Choi Yong Soon, Hwaiting!!

 

**

Sama seperti hari-hari biasa kafe ini penuh dengan banyak orang, rasa-rasanya kafe ini tidak akan pernah sepi, beruntung sekali aku mendapatkan pekerjaanku disini, yah meski harus selalu melawan kantukku karena aku dan teman-temanku akan mulai tampil saat larut malam.

Aku dan teman-temanku bekerja disini sebagai penghibur,bukan penghibur yang seperti itu kami benar-benar penghibur, aku dan teman-temanku memiliki sebuah band, Sungmin juga salah satu anggotanya. Setiap hari kami memiliki jadwal manggung disini makanya tak heran kalau kafe ini sudah seperti rumah keduaku.

Kupandangi sekeliling ruangan yang cukup luas, seperti sudah kebiasaan sebelum mulai beranyanyi aku akan melakukan itu, yah aku adalah vokalis di band ini sekaligus gitarisnya, Sungmin juga gitaris, Junho bassis dan Wooyoung drummernya. Aku adalah satu-satunya perempuan di band ini meski begitu mereka memperlakukanku sangat baik malah terlampau baik.

Ketika musik mulai mengalun dengan perlahan, aku mulai bernyanyi, hari ini kami memainkan musik yang agak lebih lembut biasanya kami lebih memilih genre punk-rock dan sejenisnya. Lantunan lagu akustik ini mulai merubah suasana kafe menjadi lebih tenang dan aku mulai terhanyut dengan lagu yang aku bawakan. Terkadang ada beberapa lagu yang benar-benar mewakili perasaanku sama seperti lagu ini, lagu yang dibuat Sungmin, lagu yang menggambarkan tentang kerinduan, kerinduan dia pada keluarganya.

Aku merasa Sungmin masih lebih beruntung dibandingkan diriku, dia masih memiliki adik dan seorang ibu sementara aku, aku tidak punya siapa-siapa lagi, ibuku meninggal setahun yang lalu tepat sebelum aku memutuskan pindah kesini. Aku lahir dan dibesarkan di California, ibu memutuskan pindah kesana setelah ayah meninggalkan ibu saat mereka baru menikah dua bulan, ayah dan ibu memang dijodohkan dan sepertinya ayah tidak menyetujui itu, dia pergi meninggalkan ibu yang ternyata sedang mengandung aku, ibu tidak sadar akan hal itu sampai dia tida di Amerika.

Ibu berjuang sendiri membesarkanku, ibu tidak pernah mau kembali ke Korea dengan alasan dia tidak mau keluarganya tahu kalau pernikahannya hancur, intinya ibu benar-benar melarikan diri. Awal-awal kehidupan kami di Amerika sangat berat terutama saat kami lahir tapi ibu adalah sosok yang sangat gigih menurutku, ibu bisa mengantarku sampai aku lulus dari sebuah universitas musik disana, yeah, aku memang sangat mencintai musik sejak dulu. Ketika ibu meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, aku merasa terpuruk, aku seperti kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki namun sebuah surat yang ibu simpan membuatku ingin kembali kesini mencari dia yang telah meninggalkan aku dan ibuku. Ibu masih berharap aku bisa mengetahui bagaimana wajah ayahku dan dia ternyata berharap bisa membawaku kembali ke Korea suatu saat nanti, dan disinilah aku sekarang, di kota Seoul untuk mencari ayahku. Berbekal sebuah alamat dari surat ayahku saat usiaku masih 10 tahun, aku mencarinya namun ternyata dia sudah tidak ada disitu,meski sekarang aku tidak tahu harus kemana yang pasti aku akan tetap berusaha menemukannya.

Bait terakhir lagu itu aku lantunkan perlahan dan begitu petikan gitar Sungmin berakhir,selesai. Aku mengucapkan terima kasih pada semuanya dan setelah itu kembali kebelakang panggung.

**

”Ayo aku antar pulang”Sungmin menyerahkan helm ketanganku diluar kafe, dia tersenyum dan menepuk tempat dibelakang sekuternya.

”Ehm, sepertinya sebentar lagi aku akan mendengar kabar baik dari kalian berdua”celetuk Wooyoung yang entah darimana tiba-tiba sudah muncul disampingku dan menaruh tangannya di pundakku, aku melepasnya karena risih.

”Apa maksudmu?”tanyaku tidak mengerti, Wooyoung tidak menjawabnya dan langsung melambaikan tangannya dan berjalan menuju Junho yang sudah menunggunya diatas motor.

Annyeong”ucap mereka berdua dan setelah itu mereka sudah menghilang dari hadapan kami.

Aku menoleh pada Sungmin menanyakan apa maksud Wooyoung lewat tatapan mataku, Sungmin tersenyum namun menggeleng.

”Sudah ayo aku antar pulang, sudah malam”katanya.

Mianhe, aku sudah janji dengan Yeon Ji, dia sudah menungguku di depan toko sana,aku akan pulang dengannya”kataku.

Sungmin mengangguk dan aku menyerahkan helmnya lagi padanya.

”Sampaikan salamku pada Yeon Ji, hati-hati”pesannya sebelum dia mulai menjalankan sekuternya dan menghilang.

Selama setahun di Seoul aku tinggal dengan Yeon Ji, seorang gadis periang, baru lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan dari Yeon Ji lah aku mengenal Sungmin, Junho dan Wooyoung. Sungmin adalah sahabat Yeon Ji dulu di Busan , Yeon Ji mengenalkanku dengan Sungmin saat Sungmin berkunjung ke apartemennya darisitu aku ditawari untuk bekerja bersama Sungmin dan aku menerimanya, aku juga tidak mau merepotkan Yeon Ji yang sudah mau menampungku. Awal perkenalanku dengan Yeon Ji ketika aku menolongnya yang sedang diganggu oleh beberapa pria mabuk dijalan, meski aku seorang perempuan aku bisa bela diri, mungkin karena aku tinggal hanya dengan ibuku di Amerika aku terbiasa atau lebih tepatnya menganggap diriku sebagai pelindung ibuku. Darisitulah aku mengenalnya, dia menawariku untuk tinggal ditempatnya selama aku mencari ayahku disini, dia juga terkadang membantuku namun aku tidak terlalu berharap banyak, dia memiliki hidupnya sendiri begitu juga aku.

Aku melihatnya sudah menunggu di depan toko, dia baru pulang makan-makan dengan teman sekantornya dan dia bilang ingin pulang bersamaku, meski baru setahun tapi aku merasa seperti saudara, well- dalam hal ini Yeon Ji adalah adikku, aku lebih tua satu tahun darinya dan Sungmin seharasunya aku panggil Oppa karena dia lebih tua setahun dariku namun aku enggan memanggilnya dengan sebutan itu karena aku tidak terbiasa, 22 tahun tinggal di Amerika membuatku sedikit susah beradaptasi disini, aku tidak terbiasa memanggil kakak atau adik pada seseorang.

Kupercepat langkahku karena sepertinya Yeon Ji sudah menunggu daritadi, namun saat tinggal beberapa toko lagi ada dua orang yang menghadangku.

”Choi Yong Soon, kami ingin bicara denganmu”ucap salah satu dari dua orang yang tidak bisa kulihat jelas wajahnya karena mereka memakai topi yang sedikit menutupi muka mereka.

Aku mundur beberapa langkah, sepertinya mereka bukan orang baik-baik. Aku terus menatap mereka sementara kakiku melangkah mundur, memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai ada orang yang mencariku? Ah, apa ini teman-temannya pria yang kemarin aku pukul itu, bagaimana ini? Sebaiknya aku segera pergi dari sini.

”Maaf aku tak punya waktu untuk bicara dengan kalian”setelah aku mengatakan itu aku segera berlari menghindari mereka, aku tidak mendengar langkah kaki mengejar atau suara orang memanggil, jangan-jangan aku yang terlalu curiga saja, sebenarnya mereka bukan orang jahat, benar-benar bodoh, kenapa aku menjadi ketakutan seperti ini.

Aku menghela nafas ketika aku mulai berhenti berlari dan merutuki sifatku yang selalu mudah curiga pada orang, sebaiknya aku segera kembali sebelum Yeon Ji marah padaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s