FF: One and The Same 2

Part 2

 

Yoon Yang POV

Aku menghentikan permainan biolaku begitu mendengar namaku di panggil olehnya, kembali lagi berpura-pura senng, kenpa aku harus seperti ini terus? Aku bosan, aku ingin bisa bebas. Ucapku dalam hati.

”Yoon Yang-ah…”panggilnya yang ternyata sudah masuk ke dalam dan berjalan menghampiriku.

Aku memasukan biolaku ke tempatnya dan berusaha tersenyum padanya.

”Ne..aku sudah selesai…”seruku singkat.

Kemudian aku pun berjalan mendahuluinya, sama seperti sebelum-sebelumnya kami hanya terdiam, sibuk dengan pikiranku masing-masing, aku heran kenapa Changmin betah sekali dengan sikapku yang seperti yang jelas-jelas menunjukan penolakan meski secara halus setidaknya aku tidak pernah mengatakan aku membencinya karena memang aku tidak membencinya, aku hanya tidak suka pada kenyataan bahwa aku dan dia dijodohkan, aku hanya ingin memilih sendiri laki-laki yang akan menjadi suamiku tidak dipilih seperti ini.

Aku tidak bisa memastikan perasaanku pada Changmin saat ini yang jelas, aku tidak menganggapnya siapa-siapa, teman? Sepertinya juga tidak, aku hanya ingin segera menghentikan semua ini aku benar-benar lelah, aku merasa terus membohongi perasaanku.

Selama perjalanan pulang kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, dia menatap lurus ke jalan sementara aku melihat ke samping ke luar jendela, menikmati pemandangn kota Seoul di sore hari.

Tak lama kemudian kami sampai di rumahku, aku segera keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah, dia berjalan dibelakangku, begitu aku masuk ke rumah aku melihat ibuku ada di depn pintuku.

”Yoon Yang-ah…sudah pulang?”Tanya ibuku.

”Ne..”jawabku sambil tersenyum dan mencium kening ibuku.

”Changmin-ah..masuk dulu…”seru ibuku pada Changmin.

Aku menghela nafas berat, aku tidak mau bertemu dengannya lagi hari ini, apa dia juga harus ikut makan malam bersama? Anni, aku tidak mau. Aku capek berpura-pura baik padanya di hadapan orang tuaku.

”Tidak usaha ahjumma…aku harus segera pulang…”ucapnya kemudin ibuku pun mengangguk, dia pun segera pergi.

Hufft syukurlah, aku pun segera naik ke kamarku dan menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, lelah sekali hari ini, berangkat sekolah ditambah latihan klub musik. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan masuklah immoku,

”Agassi…”ucapnya sambil berjalan menghampiriku.

Aku langsung menghambur ke pelukan Immoku, dia memang yang selalu menjagaku sejak kecil bahkan dia lebih mengerti perasaanku dibanding ibuku sendiri. Begitu juga dengan masalahku kali ini, sudah beberapa hari ini dia pergi, oleh sebab itu aku sangat merindukannya.

”Apa kabarmu?”tanyanya sambil melepaskan pelukanku.

”Selalu seperti itu…mencoba bertahan…”seruku sambil tersenyum tipis.

Immoku kembali memelukku erat, rasanya nyaman sekali.

”Cinta akan hadir karena terbiasa…lama-lama juga kau akan menyukai Tuan Changmin…”ucap Immoku lagi.

Aku melepas pelukannya dan mengembungkan pipiku kesal dengan perktaannya yang mengatakan bahwa aku akan menyukainya suatu saat nanti.

”Andwe..aku tidak mau…seperti tidak ada namja lain saja…”seruku padanya dan dia hanya mengacak-acak rambutku.

 

Yong Soon POV

”Makanya kalau naik sepeda itu pelan-pelan saja….”ucapku pada Kyu yang masih meringis kesakitan karena jatuh dari sepeda tadi.

Dia itu memang tidak pernah hati-hati. Dia terus saja melihat takut-takut ke lukanya yang cukup banyak mengeluarkan darah, payah sekali dia, masa sama darah saja takut. Muncullah sebuah ide iseng di otakku, aku mengambil kapas yang tadi aku gunakan untuk membersihkan darahnya dan aku sodorkan padanya.

”Ya!jauhkan itu dariku…Yong Soon-ah…apa-apaan sih!buang!”serunya dan aku semakin asyik mengolok-ngoloknya.

Aku hanya tertawa begitu melihat wajahnya yang sangat ketakutan karena melihat arah. Aigoo, temanku ini! Aku pun berhenti menkuti-nakutinya, aku takut dia malah pingsan.

”Cepat obati aku!”serunya lagi.

”Iya..ini juga lagi ngobatin…”ucapnku, aku masih menatapnya sambil tersenyum mengejek karena dia yang takut dengan darah.

Kali ini aku mengusapkan alkohol pada lukanya untuk membersihkannya, padahal hanya disisi saja tapi dia sudah berteriak.

”Ya!pelan-pelan!sakit tau!”serunya.

Dasar dia itu namja apa yeoja sih? Masa segitu aja sudah berteriak. Hal itu malah membuatku semakin bersemngat menggodanya sengaja aku usapkan berkali-kali pada lukanya.

”Ya!Yong Soon-ah..kau mau membunuhku!”serunya lagi.

Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekpresinya itu, aisshh aku senang sekali menggodanya, biasanyakandia yang selalu menggodaku sekarang gilitran aku yang menggodanya.

”Kau lucu sekali Kyu-ya…penakut sekali…”ucapku.

”Sudah cepat selesaikan…”serunya lagi dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain tidak mau melihat lukanya. Benar-benarpayah, harusnya dia lebih sering jatuh agar jadi pemberani.

Terakhir aku menaruh plester pada lukanya dan selesai.

”Selesai…”seruku padanya.

Dia pun memperhatikan lukanya yang sudah aku tutup plester dan tampak perasaan lega di wajahnya. Aku pun pindah duduk yang diawalnya berjongkok di depannya pindah ke sampingnya. Kami sedang ada di teras rumahku menunggu matahari terbenam.

”Yong Soon-ah…gumawo..”ucapnya membuatku menoleh dan ternyata dia sedang tersenyum padaku.

DEG! Kenapa jantungku jadi berdebar-debar seperti ini, Ottohke? Aku tidak boleh menyukainya, aku hanya menganggpanya teman tidak lebih, aku tidak mungkin menyukainya, aku harus menungunya, menunggu orang itu, meski aku tidak tahu dia masih mengingatku atau tidak atau bahkan dia lupa janji itu, aku mneyesal kenapa aku tidak menemuinya sebelum aku pergi, apa dia masih ingat padaku. Cinta pertamaku yang sampai sekarang tidak bisa aku lupakan karena aku masih menuggunya. Bodoh, mungkin aku memang bodoh menunggu yang tidak pasti bahkan itu cerita saat aku masih berumur 5 tahun tapi entahlah aku merasa janji yang dia ucapkan saat itu benar-benar janji yang tulus atau mungkin aku saja yang terlalu polos.

”Ne…”jawabku singkat dan kemudian mengalihkan pandanganku ke arah lain, mataku menatap gelang yang aku pakai sejak dulu, dia yang memberikannya saat itu, mungkin hal ini yang membuatku percaya bahwa janjinya saat itu tulus, janji anak kecil yang masih aku percaya sampai saat ini, tanpa sadar aku malah tersenyum sendiri sambil menatap gelang itu.

 

Kyu POV

Dia benar-benar gadis yang bodoh, sangat bodoh, sepertinya aku benar-benar salah menyukai gadis ini. Bagaimana membuatnya tahu. Seruku dalam hati. Aku melihatnya sedang memandangi gelang di tangannya dan tiba-tiba dia tersenyum sendiri.

”Ya!kenapa kau tersenyum?”tanyaku padanya.

”Ah…anni….”jawabnya singkat

Kenapa dia tidak ingat juga sih? Padahal aku sudah berusaha membuatnya ingat tetap saja. Dia lupa tentangku tapi dia ingat apa yang aku berikan, malangnya nasibku. Apa yang harus aku lakukan?

”Oh ya besok kau sudah mulai bekerja kan?nanti aku akan menjemputmu sepulang latihan basket…”seruku padanya.

”Tidak perlu…aku sudah dewasa…aku bisa pulang sendiri…lagipula kau sudah banyak membantuku…”ucapnya padaku.

Aishh kenapa dia tidak sadar juga tentang perhatianku padanya, dia seperti mengaggap aku hanya perhatian padanya karena aku sahabatnya, gadis yang begitu polos.

”Ara…tapi kau harus hati-hati…”ucapku lagi.

Dia pun mengangguk dan tersenyum dan kemudian tiba-tiba dia memelukku, aku merasa jantungku berdebar sangat kencang setiap dia memelukku.

”Kau memang sahabat terbaikku Kyu…”ucapnya yang masih terus memelukku.

Bisa tidak kau menganggapku bukan sahabat? Pikirku. Bahkan perhatianku selama ini hanya dianggap sebagai perhatiaan seorang sahabat.

Aku hanya tersenyum dan balas memeluknya. Kapan dia akan sadar?

 

Yong Soon POV

Hari ini aku mulai bekerja tentu saja tanpa sepengetahuan nenek, gawat kalau dia tahu. Aku segera merapihkan bukuku dan memasukannya ke dalam tas.

”Buru-buru sekali…perasaan Kyu hari ini mau latihan…”ucap Hyo Jin yang tiba-tiba sudah ada disampingku. Apa hubungannya Kyu yang mau latihan denganku yang mau pulang? Pasti dia ingin meledekku lagi.

”Lalu apa hubungannya?”tanyaku tidak terlalu tertarik dengan pertanyaannya namun aku hanya bertanya sebagai basa basi saja.

”Kau tidak mau melihatnya? Hari ini mereka sparing dengan SMU Chungdam loh….”seru Hyo Jin lagi.

”Lalu…aku harus menontonnya dan berteriak memanggil namanya…Cho Kyuhyun!kau keren sekali!begitu…”ucapku sambil memperagakan bagaimana gadis-gadis yang mengidolakan Kyuhyun.

Hyo Jin tertawa melihatnya dan aku pun ikut tertawa karenanya.

”Tidak mungkin…dia sahabatku…aku tahu siapa dia sebenarnya dan aku tidak tertarik mengidolakannya seperti mereak….”ucapku lagi.

”Ara…yang tahu siapa Kyu sebenarnya…wah sepertinya hubungan kalian benar-benar sudah serius…”seru Hyo Jin membuatku langsung menoleh padanya.

Apa maksunya bicara seperti itu. Dasar Hyo Jin!

”Hyo Jin-ah!”seruku padanya namun dia langsung berlari keluar kelas. Hufft menyebalkan sekali dia.

Hubungan yang serius? Apa maksudnya? Aku hanya menganggapnya sahabat tidak lebih dan tidak akan lebih.

Aku berjalan keluar kelas melewati lapangan basket, aku melihat anak-anak basket sedang berkumpul dan aku melihat Kyu juga disana sedang berbicara dengan Donghae dan tak lama kemudian Hyo Jin datang menghampiri Kyu, matanya melihat ke arahku dam aku melihat Kyu berbalik dan melihatku lalu tersenyum, aishh apa yang Hyo Jin katakan pada Kyu. Kenapa Hyo Jin harus jadi manager klub basket sih. Aku pun tersenyum padanya dan tiba-tiba ada beberapa orang gadis, sepertinya hobaeku yang datang menghampiri Kyu. Mereka sepertinya fans-fans Kyu, Yah Kyu cukup populer disekolahm, apalagi dia tidak jago olahraga saja dalam akademik pun di jago pantas saja banyak gadis yang menyukainya. Aku tersenyum sendiri melihatnya yang sok cool di depan fans-fansnya itu. Namja yang takut dan cengeng itu bisa berpura-pura cool di depan gadis-gadis itu, dasar Kyu.

Aku melihatnya merangkul salah satu gadis itu dan tersenyum. Ya!apa-apaan dia itu! Entah kenapa aku kesal dengan sikapnya itu, dia mau sok menjadi playboy sekarang. Hufft. Ya!kenapa aku malah kesal, itu hak-haknya melakukan itu, lagipula siapa aku. Aisshh, sudahlah daripada  disini terus nanti aku terlambat bekerja di hari pertamaku karena mengurusi Kyuhyun itu. Aku pun segera berjalan kembali keluar sekolah.

 

Kyu POV

”Gumawo Kyu Oppa…”ucap gadis itu dan kemudian pergi.

Aku melihat ke tempat Yong Soon berdiri dan ternyata dia sudah tidak ada disana, apa itu berarti dia cemburu?

”Dia sepertinya cemburu…”ucap Hyo Jin disampingku.

“Jeongmal?”tanyaku merasa senang jika dia memang cemburu melihatku dengn gadis lain itu menunjukan dia menyukaiku.

“Makanya….cepat katakan padanya…”ucap Hyo Jin lagi.

Anni, aku masih ingin dia ingat siapa aku. Aku ingin dia tahu siapa aku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku segera mengangkatnya. Appa, gumamku. Aku segera berjalan kepinggir ke lapangan agar tidak ada yang tahu apa yang aku bicarakan.

”Wae?”tanyaku dingin begitu aku mengangkat teleponnya.

Aku hanya mendengarkannya yang sedang berbicara.

”Ne..aku akan kesana…”ucapku singkat dan kemudian aku menutup teleponnya.

Mau apa ayahku memintaku bertemu dengannya? Malas sekali harus bertemu dengannya, apa dia ingin menanyakanku tentang hal itu. Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab.

”Kyuhyun-ah…ayo main!”seru Donghae yang tiba-tiba sudah ada disampingku dan menepuk bahuku.

”Ah…ne..”aku pun segera mengikutinya yang sudah berjalan lebih dahulu.

 

Yoon Yang POV

Aku mencari buku itu isetiap rak di perpustakaan, kenapa tidak ada ya? Perasaan kemarin aku masih melihatnya. Aku pun terus berjalan melewati setiap rak mencari buku itu. Aishh padahal aku sangat ingin membacanya, harusnya kemarin aku langsung pinjam saja.

Setelah memutar setiap rak sebanyak dua kali dan aku tidak menemukannya juga, aku pun menyerah, mungkin sudah ada yang pinjam, aku pun hendak keluar dari perpustakaan begitu aku melihat sampul buku itu dipegang oleh seseorang, benar ternyata sedang di pinjam seseorang,aku ingin bertanya pada orang itu sampai kapan dia meminjamnya.

”Eh…mian..aku….”

Ucapanku terpotong begitu mengetahui siapa yang memegang buku itu, Changmin. Ottohke? Kenapa harus dia?

”Yoon Yang-ah…”ucapnya begitu melihatku.

Apa yang harus aku lakukan? Aku bilang aku mau meminjam bukunya? Tidak mungkin, atau aku bilang aku ingin menyapanya. Tidak, dia akan besar kepala dan menganggap aku menyukainya.

”Waeyo?”tanyanya masih menatapku.

”Ah…anni…aku duluan…”jawabku singkat dan kemudian berjalan keluar perpustakaan, aku tidak mau banyak bicara dengannya.

 

Changmin POV

Aku melihatnya yang berjalan semakin menjauh, kenapa dia selalu bersikap seperti itu, apa dia benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padaku. Apa yang harus aku lakukan Yoon Yang-ah agar kau mau menyukaiku?ucapku dalam hati.

Aku memandang buku yang sedang aku baca dan aku tahu Yoon Yang juga menyukai buku ini. Padahal aku sengaja mengambilnya, aku ingin agar Yoon Yang bisa berbicara lebih banyak padaku.

”Semangat kawan!”ucap Jaejoong yang tiba-tiba sudah disampingku.

Aku pun hanya menanggapinya dengan senyuman tipis dan berjalan menuju meja penjaga perpustakaan untuk meminjam buku ini dan akan aku berikan pada Yoon Yang.

 

Yong Soon POV

Aneh sekali, kenapa semua orang disini begitu baik padaku ya? Padahal aku kan masih baru disini. Aku mengambil tasku karena aku sudah selesai bekerja dan akan segera pulang. Sudah pukul 7malam. Aku harus segera pulang sebelum nenek pulang. Dia tidak boleh tahu akan hal ini.

Saat aku sampai di depan restauran seseorang menyapaku.

”Yong Soon-ah…mau pulang?”Tanya Wookie sunbae yang merupakan koki di restoran ini.

“Ne…sunbae…”jawabku sambil tersenyum.

”Sendiri?”tanyanya lagi.

Aku pun mengangguk dan tersenyum.

”Tinggal jalan sajakok sunbae…”ucapku lagi.

”Hati-hati…”serunya sambil tersenyum.

Aku pun pamit padanya yang sedang menunggu bisa sementara aku berjalan pulang, untuk tidak terlalu jauh, pikirku. Aku menikmati suasana malam yang sangat ramai di pertokoaan ini. Lampu-lampu jalanan ditambah lampu dari setiap toko menambah suasan ramai di jalan ini. Aku berjalan pelan-pelan berusaha menikmati suasananya, indah sekali. Tiba-tiba aku menangkap sesuatu yang menarikku di sebuah toko aksesoris. Sebuah kalung dengan bentuk hati yang bisa dipisahkan. Aku jadi ingin membelinya, akan kuberikan satu untuk sahabat terbaikku Kyuhyun. Aku pun kemudian masuk ke dalam toko itu dan membelinya. Aku tidak sabar ingin memberikannya pada Kyu. Hari ini dia ada tugas untuk membantuku mengerjakan PR tapi tumben sejak tadi dia tidak sms atau meneleponku biasanya dia selalu melakukannya. Apa dia kelelahan karena latihan basket, dia kan memang cepat lelah, mungkin aku ke rumahnya saja dulu dan akan aku berikan disana.

 

 

 

Changmin POV

Aku melihat Yoon Yang keluardari toko aksesoris, aku yakin itu Yoon Yang. Apa yang dia lakukan disini, malam-malam begini. Aku pun segera memberhentikan mobilku dan berlari mengejarnya yang sudah berjalan lebih dahulu.

”Yoon Yang-ah..”seruku sambil menahan tangannya, dia langsung berbalik dan terkejut melihatku.

”Mwo?siapa kau?”tanyanya sambil berusaha melepaskan tangannya namun aku memegangnya dengan erat membuatnya tidak dapat melepaskannya.

”Yoon Yang-ah…ayo pulang…”ucapku padanya.

”Ya!lepaskan aku!”serunya menghentakan tangannya namun aku tetap memegangnya erat-erat.

Tiba-tiba dia langsung menginjak kakiku.

”Aaaa!”seruku dan melepaskan tangannya membuatnya langsung berlari. Ya kenapa lagi dengannya? Kenapa dia seperti itu? Aku yakin dia Yoon Yang tapi kenapa sikapnya seperti itu.

 

Kyu POV

”Apa gadis itu sudah mengingatmu?”tanya ayahku.

”Belum..”jawabku singkat, tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa menunduk tidak mau melihatnya.

”Sudahlah Jung Soo-ya….”ucap ibuku sambil berjalan menghampiriku dan menggamit lenganku.

”Kau ingat perjanjian kita kan…kalau sampai kau lulus dia belum ingat tentangmu atau paling tidak dia menyukaimu…kau akan tetap kujodohkan dengan Hyun Mi….”ucap ayahku lagi.

Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya menyukaiku. Ayahku kemudian berjalan pergi.

Aku menghela nafas perlahan. Kenapa ayahku begitu memaksaku?

”Kyuhyunnie…kau begitu mencintai gadis itu?”tanya ibuku tiba-tiba sambil menatapku.

Aku hanya bisa mengangguk.

”Kalau begitu buktikan pada ayahmu kalau kau benar-benar mencintainya…”ucap ibuku sambil tersenyum.

Aku pun langsung memeluk ibuku, dia memang yang paling mengerti dengan perasaanku.

”Gumawo Umma…”ucapku sambil terus memeluknya.

”Nah sekarang ayo makan malam dulu…”ucap ibuku.

Aku menggeleng.

”Aku harus segera pulang Umma…ada janji…”seruku.

”Ah ara..dengannya kan….ya sudah…hati-hati ya…aku ingin kau kembali kesini Kyuhyunie…”ucap ibuku sambil mengelus wajahku.

”Aku akan kembali jika ayah membatalkan perjodohan itu….’ucapku lagi.

Ibuku hanya bisa mengehla nafas. Aku pun segera berpamitan padanya dan mencium keningnya lalu keluar dari rumahku. Aku menatap rumahku sekilas, aku rindu rumahku tapi aku juga tidak mau dengan perjodohan yang ayah buat, aku punya orang yang sangat aku cintai aku ingin bersamanya bukan dengan gadis itu.

 

Aku melihat Yong Soon berdiri di depan rumhnya malam-malam begini, apa yang dia lakukan. Aku pun mempercepat langkahku berjalan kearahnya. Ketika aku berhenti tepat di depannya, dia menatapku sangat tajam.

”Darimana kau?”tanyanya ketus. Kenapa dia?

”Aku baru pulang latihan basket…”jawabku karena tidak mungkin aku menceritakan kemana aku pergi tadi.

”Kau bohong…memangnya aku tidak tahu jam berapa latihan selesai…kau membuatku khwatir Kyuhyun-ah…ahjumma juga…kenapa kau tidak bilang….”ucapnya masih menatapku kesal.

Ya jadi dia khawatir padaku? Apa itu berarti dia mulai menyukaiku? Entah kenapa aku senang melihatnya khawatir padaku.

”Jeongmal? Kau khawatir padaku?”tanyaku memastikan.

”Tentu saja aku khawatir padamu karena kalau kau tidak pulang Prku tidak akan selasai…”ucapnya kemudian tersenyum.

Tadinya aku sudah merasa senang sekali, tiba-tiba hatiku hancur begitu mengetahui dia mengkhwatirkanku karena PR nya. Yong Soon-ah, kau ini! Aku hanya bisa menghela nafasku mendengar jawabannya. Dia pun langsung menarikku masuk ke dalam rumahnya.

”Palli…bantu aku!”serunya sambil mengeluarkan buku-bukunya.

Aku malas sekali setelah mengetahui kenyataan ini tapi aku harus tetap membantunya maka aku pun memabntunya mengerjakan PR meski dengan perasaan sakit hati karena perkataannya tadi, sepertinya sangat sulit membuatnya menyukaiku. Apa aku memang sangat bodoh menyukai gadis seperti dia. Argghh, Ottohke?

 

Yoon Yang POV

”Yoon Yang-ah…semalam kau kemana?”tanya Changmin tiba-tiba begitu dia menjemputku di depan rumah.

Semalam ? Aku tidak kemana-mana semalam, aku dirumah, apa makasudnya?

”Aku dirumah…”jawabku.

”Kemarin aku melihatmu di sebuah toko aksesoris…”ucapnya lagi.

”Mwo?aku ada dirumah semalam tidak kemana-mana…mana mungkin ayah mengijinkanku keluar kecuali denganmu…”jawabku aku sengaja menekankan kata-kata ’denganmu’ agar dia tahu betapa tidak enaknya harus selalu pergi dengannya, kemana pun. Entah karena perkataanku atau memang karena dia sudah puas bertanya, dia diam dan kembali keheningan menyelimuti kami sepanjang perjalanan ke sekolah.

 

Pulang sekolah, rutinitas biasa, aku yakin sekarang Changmin sedang menungguku. Aku malas sekali pulang dengannya hari ini, aku ingin pulang sendiri, sekali saja. Lalu muncul ide di otakku, aku akan bilang kalau aku akan pergi dengan Je Ri dengan begitu aku bisa pulang sendiri. Aku berjalan keluar gedung sekolah dan seperti sudah kuduga sebelumnya dia sudah menungguku.

”Ayo pulang…”serunya ketika aku sudah dekat dengannya.

”Anni..hari ini aku mau pergi dengan Je Ri…”jawabku.

Dia menatapku heran.

”Tidak boleh?”tanyaku dengan sedikit ketus, jangan pikir dia bisa mnegaturku seperti ayah.

”Anni…bukan begitu…apa perlu aku antar?”tanyanya lagi.

”Tidak perlu…”jawabku singkat.

Dia pun mengangguk dan akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan kemudian pergi. Senangnya bisa pulang sekolah sendiri, sebaiknya aku jalan-jalan dulu sebentar. Maka aku pun memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat pertokoaan.

Baru kali ini aku berjalan-jalan sendiri, senangnya. Aku mengamati jalanan yang sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Sampai…

”Awas!!”teriak sebuah suara yang membuatku kaget dan langsung menoleh ke belakang. Sebuah sepeda menuju ke arahku.

BRUKK

Aku merasa tubuhku sakit sekali, aku berusaha melihat apa yang terjadi ternyata aku terjatuh begitu juga si pengendara sepeda itu, namun sepertinya aku lebih parah. Kakiku sakit sekali, pantas saja sepeda itu menimpa kakiku

”Gwenchanayo? Mianhe..”ucapnya sambil mendirikan sepedanya dan kemudian membantuku berdiri.

”Ne…gwenchana…”jawabku sambil berdiri dan membersihkan rokku yang kotor.

Aku mendongak untuk melihat siapa yang menabrakku. Aku terpaku melihat wajahnya begitu pun dia, aishhh kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini. Masa aku menyukai seseorang karena pandangan pertama, andwe!tidak mungkin!

 

Kyu POV

Aku menabrak seorang gadis, babo sekali aku. Ini gara-gara aku takut telat menjemput Yong Soon malah membuatku menabrak gadis itu. Semoga dia tidak terluka parah.

”Gwenchanayo? Mianhe..”ucapku sambil mendirikan sepedaku dan kemudian membantunya berdiri.

”Ne…gwenchana…”jawabnya sambil berdiri dan membersihkan roknya yang kotor.

Dia pun mendongak, Aku langsung terpaku melihat wajahnya begitu pun dia. Yong Soon? Kenapa dia disini?

”Yong Soon…”ucapku padanya.

Dia menaikkan alisnya seakan tidak mengerti ucapanku. Kenapa Yong Soon seperti itu?

Advertisements

3 thoughts on “FF: One and The Same 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s