FF: Millagro del Amor Part 2

2nd chapter

 

Disaat semuanya sibuk berkutat dengan mangsa masing-masing. Aletha malah berhenti berlari, dia hanya memperhatikan saudaranya yang sedang mengejar mangsa untuk memuaskan nafsu haus mereka dengan tatapan ngeri. “Aku belum bisa” gumam Aletha pada dirinya sendiri.

Detik berikutnya dia lebih memilih untuk kembali ke castle mereka. Langkah Aletha nyaris tak menimbulkan bekas di atas salju, dia berlari seakan melayang. Tak butuh waktu bermenit-menit baginya untuk sampai ke castle yang telah menjadi rumahnya itu. Dia tidak menghiraukan rasa haus yang melandanya. Membayangkan dirinya mengejar mangsa, merobek daging dan menghisap darah mangsanya membuat Aletha kembali bergidik. Dia mengutuk monster yang telah membuat kedua orang tuanya meninggal, tetapi siapa sangka kalau sekarang dia sejenis dengan monster pembunuh orang tuanya itu. Lagi-lagi Aletha kembali bersedih, perbedaannya sekarang dia tidak bisa merasakan titik cairan bening membasahi pipinya sebagaimana kehidupannya 100 tahun yang lalu.

“Aletha Agnelli” seseorang menyebut namanya dengan penuh penekanan.

Aletha mendongak ke arah sumber suara. Entah sejak kapan dan sudah berapa lama Max berdiri menyandar di samping piano milik Cheryl. Aletha tak berniat untuk kembali menyapa, dia meneruskan langkahnya menyusuri tangga berarsitektur jaman romawi. Sorot mata merah Max terus tertuju pada Aletha hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.

“Sudah datang rupanya” suara lain membuyarkan konsentrasi Max dari bayangan Aletha, di belakangnya telah berdiri gadis dengan rambut ikal coklat yang tak lain adalah Cheryl.

“Baru saja” sahut Max.

Cheryl menaikkan bahunya, seakan tidak terlalu peduli dengan kedatangan Max. Gadis itu berjalan melewati Max, mendekati pianonya dan kembali sibuk dengan tuts-tuts piano seperti sebelumnya. Matanya tampak lebih cerah daripada sebelumnya.

“Maaf telah membuat tamu menunggu” suara lembut Dennis terdengar disusul dengan kedatangannya. Terdapat sisa-sisa salju di rambut coklatnya. Dennis tersenyum ramah dan menyambut Max dalam pelukan hangatnya.

Max membalas pelukan Dennis. “aku datang lebih dulu, U-Know dan Vincent berburu sebelum kesini” jelas Max pada Dennis sambil membalas senyuman hangat Dennis. Sedangkan Dennis tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baguslah, kalau begitu kami tidak perlu menyuguhkan apa pun” celetuk Anita yang sudah berada di dalam rumah. Dengan risih dia membersihkan sisa-sisa salju yang menempel di rambut dan mantelnya.

“Dimana Aletha?” tanya Alishia kemudian.

“Tadi dia naik ke atas. Kulihat matanya masih berwarna merah tua. Bukankah kalian baru kembali dari berburu?” Jawab Max yang diakhiri dengan pertanyaan.

“Benarkah? Aletha selalu begitu.” Sahut Dennis, dia menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukannya, vampire tidak butuh bernafas. Dennis pintar melakukan hal sepele  itu,  seakan sudah menjadi kebiasaan baginya.

“Aku akan menyusulnya, aku membawakan sesuatu untuknya. Sudah kuduga dia akan seperti ini lagi” wajah Max berubah penuh harap pada Dennis, tatapannya mengisyaratkan –itu tidak masalah bukan?-

Dengan sikapnya yang tenang Dennis mengangguk menjawab tatapan Max. Kemudian hanya dengan berapa detik Max sudah mencapai anak tangga dan leyap di balik dinding bangunan.

“Kenapa ayah mengizinkannya?” tukas Cheryl. Jari-jarinya berhenti menari diatas tuts piano. Matanya tertuju pada Dennis, meminta jawaban laki-laki itu.

“Kulihat Max ingin berteman dengan Aletha. Apa salahnya kalau aku mengizinkannya.” Jawab Dennis pada Cheryl.

Mendengar jawaban Dennis, Cheryl kembali menunduk, lebih memilih untuk berkutat dengan pianonya. Jawaban Dennis terkadang memang rancu seperti sekarang ini. Cheryl bukan Anita yang gampang penasaran dan harus mendapatkan jawaban sedetail-detailnya. “hhhhmmmm… jadi sekarang giliran Aletha yang ingin dijodohkan dengan Max. U-Know dengan Alishia, Vincent dengan Anita. Baiklah aku mengerti, Keluarga Agnelli dan Calabria akan menjadi keluarga besar.” Cetus Cheryl panjang lebar. Dia tidak memperhatikan kalau dua saudaranya itu sedang memandang garang dirinya.

Anita mengerang. “Kau hanya cukup mengulangi kata-katamu itu jika kau ingin aku membunuhmu Cheryl” tukas Anita.

Cheryl mendongak. “Coba saja kalau kau bisa. Anita-Vincent” sahut Cheryl lagi, dengan tatapan seolah-olah mengejek Anita dengan kata-katanya.

Sekali hentakan saja Anita menghampiri Cheryl dengan kecepatan yang tidak dapat ditanggap oleh mata manusia biasa. Namun Cheryl tak kalah lincah, gadis itu pun telah berlari ke arah jendela, Anita yang geram terus saja mengejar Cheryl hingga keluar castle. Berkejar-kejaran diantara hawa dingin pegunungan yang tertutup salju.

Dennis yang memperhatikan tingkah kedua putrinya itu hanya bisa menggeleng-geleng. Alishia terus memandangi tingkah Dennis, hingga mereka beradu pandang pun Alishia tetap memandang Dennis dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ada yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Dennis pada Alishia.

Alishia menggeleng dan lebih memilih melangkah ke ruangan yang bisa dikatakan kamarnya. Dennis memperhatikan Alishia hingga dia menghilang dibalik dinding kamarnya. Wajah Dennis berubah sedih dengan kepergian Alishia. Belakangan ini Alishia memang menjadi lebih pendiam, tentu saja dia tahu penyebabnya walaupun gadis itu tidak mengungkapkannya secara langsung pada Dennis. Mereka sudah hidup bersama selama kurang lebih 800 tahun, itu bukan waktu yang singkat untuk mengenal sifat gadis itu.

“Maaf kami datang terlambat” sebuah suara memecah keheningan sebuah ruangan yang hanya berpenghunikan Dennis. Dennis berbalik ke arah sumber suara, U-Know dan Vincent sudah berdiri disana. Tersenyum pada Dennis.

“Tidak masalah” sahut Dennis dengan senyuman penuh penyambutan. Wajah sedihnya beberapa detik yang lalu sirna terkubur oleh senyuman hangatnya.

“Kenapa sepi sekali?” pandangan U-Know berkelana di sudut ruangan, dia tidak menemukan siapapun kecuali Dennis seorang.

“Anita dan Cheryl sedang bermain-main diluar, Max menghampiri Aletha di kamarnya, Alishia juga sedang ada di kamarnya” jelas Dennis. Suaranya lembut memberikan ketenangan di setiap kata-katanya.

Vincent tampak memutar bola matanya. “dasar Max” gumamnya.

“Boleh aku menemui Alishia?” Tanya U-Know pada Dennis.

“Sebaiknya jangan dulu. Sepertinya Alishia sedang butuh istirahat dan waktu untuk sendirian” jawab Dennis dengan mantap.

U-Know  kecewa, tetapi dia segera mengatasi mimik wajahnya agar tidak terlalu tampak kecewa di hadapan Dennis. “Kalau begitu apa yang bisa kita lakukan bertiga saat ini?”

“Ada sesuatu yang bisa aku tunjukkan pada kalian” sahut Dennis.

Vincent tampak tertarik. Bisa dikatakan Vincent satu tipe dengan Anita. Dia senang dengan sesuatu yang membuatnya penasaran dan menarik baginya. U-Know dan Vincent pun mengikuti langkah Dennis.

**

“Larimu semakin kencang setelah berburu, tapi kau tidak akan bisa menangkapku Anita” Kata Cheryl pada Anita yang masih mengejarnya tanpa memperlambat kecepatannya sedikit pun.

“Kau tau aku tidak akan dengan semudah itu menyerah” jawab Anita, terus mengejar Cheryl.

Cheryl merupakan tipe petualang, larinya paling kencang dibandingkan dengan ketiga saudaranya yang lain. Vampire tidak akan pernah merasa lelah, tidak peduli sudah sejauh mana mereka berlari Cheryl dan Anita terus saja berkejar-kejaran.

Namun tiba-tiba Anita memberhentikan langkahnya. Dia melihat pemandangan di bawah tempat dia berdiri saat ini. Disana berkelap-kelip cahaya lampu yang menandakan  banyak bangunan-bangunan yang berdiri. Anita sadar kalau mereka sudah mendekati tempat kehidupan manusia yang seharusnya tidak mereka dekati.  Berbeda dengan Cheryl, gadis itu malah masih terus berjalan. Hanya berjalan, karena dia tahu kalau Anita sudah tidak mengejarnya lagi, langkahnya bak seorang manusia, itu salah satu kebiasaan atau bisa dibilang insting manusia yang masih bersisa di sistem pergerakan tubuhnya.

“Cheryl apa yang kau lakukan? Cepat kembali!” Anita mulai cemas. Tidak ada jawaban dari Cheryl, padahal dia tahu kalau adiknya itu bisa mendengar kata-katanya. Vampir memiliki pendengaran yang tajam tanpa lawan bicaranya harus berteriak. “Ini sudah melanggar peraturan, Cheryl kau dengar apa kataku. Cepat kembali!” kata Anita lagi.

Cheryl sama sekali tidak menggubris kata-kata Anita, matanya masih memandang takjub ke arah kaki gunung. Selama ini, setiap bulan setengah dia hanya diperbolehkan ke tempat yang suka dikunjungi manusia untuk mencari mangsanya. Tapi kali ini dia melihat suatu tempat yang menjadi pusat kehidupan manusia. Dia merasa tertarik. Hanya ingin memperhatikan bagaimana manusia saling berinteraksi dalam kehidupannya. Cheryl melupakan semua kejadian dimana dia masih menjadi seorang manusia, pemandangan di depannya membuat dia penasaran kehidupan macam apa yang pernah dia alami. Menjadikan pemukiman manusia sebagai tempat berpetualangnya yang baru.

“Cheryl kau dengar aku!” Anita sudah mulai geram. Dia tidak mengerti dengan tingkah adiknya. Dia tahu Cheryl pasti sudah mengerti tentang aturan-aturan mereka tapi dia tidak habis pikir adiknya itu tidak menggubris kata-katanya sedikitpun. Anita melompat untuk menarik Cheryl agar kembali. Namun Cheryl terlalu lincah untuk ditangkap oleh Anita, Cheryl sudah melampaui batas teritorial Agnelli. Tidak ada yang bisa dilakukan Anita lagi. Gadis itu mendengus kesal bercampur cemas.

“Tenang saja, aku akan pulang. Yang kau lakukan cukup tidak memberitahu ayah. Itu pun kalau kau berubah pikiran untuk tidak membuatku mati” kata-kata Cheryl tertangkap telinga Anita yang tajam, tapi sosok gadis itu tidak terlihat oleh Anita.

“Jangan bodoh Cheryl!” gumam Anita ketus.

“Sayangnya aku memang tidak sepintarmu Anita. Bye…” suara Cheryl mulai terdengar semakin sayup di telinga Anita.

“Dasar adik yang menyebalkan” dengus Anita. Tidak ada sahutan lagi dari Cheryl yang menandakan kalau jarak mereka sekarang sudah melampaui batas pendengaran mereka.

**

Seorang laki-laki berkulit putih dengan rambut kuning keemasan tampak duduk menegang sambil memejamkan matanya. Dia berkonsentrasi terhadap sesuatu yang menganggunya. “Sial!” erangnya kesal.

“ada sesuatu?” tanya seseorang lainnya. Dia memperhatikan gerak-gerak temannya itu.

Laki-laki berambut kuning keemasan itu berdiri meninggalkan teman-temannya dan makanan yang tadinya sedang dia makan. Mereka sedang manyantap makan malam mereka sebelum akhirnya laki-laki berambut kuning keemasan itu merasakan sesuatu yang menganggunya.

“Marcus apa yang kau lihat?” tanya seseor ang yang tampaknya lebih muda daripada laki-laki bernama Marcus itu.

Marcus belum menjawab pertanyaan dari temannya itu. Dia mengambil mantel yang dia sampirkan pada gantungan di balik pintu, dengan cekatan dia memakai mantel dan sarung tangannya. Tak lupa dia menyelipkan sebuah belati di saku mantelnya. “Zhoumi, ini tidak sedang bulan setengah kan?” tanya Marcus pada laki-laki tinggi yang sedang berjalan dari arah kamar mandi.

Laki-laki yang dipanggil Zhoumi oleh Marcus tidak siap dengan pertanyaan Marcus yang tiba-tiba saat dia kembali dari kamar mandi. Butuh waktu beberapa detik bagi Zhoumi untuk mencerna pertanyaan Marcus. Zhoumi menggeleng, “Tidak sedang bulan setengah” jawabnya kemudian.

Shit!!! Apa mau makhluk itu.” Gumam Marcus.

“Vampir” sahut laki-laki lain yang langsung mengerti tingkah Marcus. Matanya kecil dengan perawakan wajah seperti anak kecil.

“Dimana?” tanya yang lainnya lagi. Laki-laki berambut coklat, tubuhnya tidak kalah tinggi dari Marcus, tetapi perawakan wajahnya menunjukkan kalau dia lebih muda dari Marcus.

“aku merasakan dia ada di kaki gunung” jawab Marcus. Dia berjalan meuju pintu dan membukanya yang membuat hawa dingin masuk menghambur ke sudut-sudut ruangan.

“Aku ikut!!” sahut laki-laki berambut coklat itu.

“Tidak usah Elias. Kalian berjaga-jaga saja disekitar sini, biasanya vampir tidak pergi sendirian. Pasti ada kawanannya. Biar aku saja yang mengecek di kaki gunung” jelas Marcus. Kemudian dia menerobos hawa dingin yang basah di luar rumah. Berjalan dengan penuh waspada dengan indera yang ditajamkan.

**

Max terus saja memperhatikan gerak-gerik Aletha yang sibuk dengan kegiatannya sendiri, Max nyaris tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Dia duduk bersandar di sofa yang bersebrangan dengan tempat Aletha duduk. Aletha tidak mengubris Max.

“Apa yang kau lukis?” tanya Max mencoba untuk memecah keheningan.

Aletha masih saja sibuk, dia tidak menjawab pertanyaan Max. Max berjalan mendekati Aletha dan melihat apa yang dilukis oleh gadis itu. Kening Max berkerut menyaksikannya. “mereka….” gumamnya belum selesai.

“kedua orang tuaku” potong Aletha. “aku sedang merindukan mereka” lanjutnya.

“Maafkan aku” bisik Max, terdengar nada penyesalan dari kata-katanya.

“Ini bukan salah siapa-siapa. Seperti kata Dennis, sudah takdirku menjadi makhluk imortal dan kedua orang tuaku meninggal” Aletha mendongak menatap Max. Matanya mengandung pengharapan.

Max terkejut dengan perubahan ekspresi Aletha, dia pun mencoba untuk kembali seperti biasa. “lihat dirimu Aletha” Max mengangkat lengan Aletha dan memainkannya naik-turun. “Kau kurus sekali, aku baru tahu kalau tidak hanya manusia yang senang diet, tapi vampir juga bisa” dia berceloteh, mencairkan suasana yang tadinya suram.

Aletha terkekeh. “tapi aku tidak merasa itu masalah” tukasnya.

Dengan sekejap Max merengkuh wajah Aletha, menatap ke matanya. “Matamu merah gelap, jelas-jelas kau sedang haus” sahut Max lagi. “aku membawa minuman segar untukmu” dia melepaskan tangannya yang merengkuh wajah Aletha, detik berikutnya dia sudah kembali dengan membawa sebuah cup tertutup.

Aletha menerima cup itu, dia memperhatikan tulisan di cup itu. “strawberry juice” gumam Aletha membacanya. “seperti manusia saja” lanjutnya.

“benar sekali, kau adalah vampir berjiwa manusia” . aletha tak menghiraukan kata-kata Max.

Aletha mulai menyedot isi cup itu dengan sedotan yang ada di cup. “enak. Ini apa?” tanya Aletha  dengan wajah ingin tahu.

“Hanya beruang yang kutemukan di hutan” jawab Max santai.

“Sepertinya mengerikan membayangkannya”

“Tidak ada yang mengerikan, berburu adalah hal yang menyenangkan” sahut Max sambil menyunggingkan senyumannya.

Advertisements

6 thoughts on “FF: Millagro del Amor Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s