FF: Summer, I’ll Fix You Part 1

Apa benar ketika seseorang pergi maka akan ada seseorang lagi yang datang untuk menggantikan kepergian seseorang tadi?

 

Author POV

 

“Aku pergi”seru seorang namja berlari keluar sebuah apartemen, dia terlihat sangat terburu-buru, mulutnya penuh dengan roti yang langsung dia masukan semuanya ke dalam mulut tadi. Dia berlari menuruni tangga sebuah apartemen dengan sangat cepat sembari memakai jaketnya.

 

“Ya!kau belum mencuci piring?!”seru seorang namja lagi keluar dari sebuah pintu seperti ingin memarahi namja tadi namun begitu dia melihat namja itu sudah menghilang, dia hanya mendesah pelan dan kembali masuk ke dalam.

 

Namja yang terburu-buru itu berlari menuju halte terdekat, kebetulan bis sudah datang dengan cepat dia menaiki bus tersebut, wajahnya kelihatan cemas sesekali dia menatap layar handphone yang dia pegang.

 

“Palli..palli”lirihnya tanpa sadar membuat beberapa orang menatapnya aneh, tentu saja mereka merasa aneh masalahnya bahasa yang namja ini gunakan adalah suatu bahasa yang sangat asing di negara ini, negara di Eropa sebelah utara ini.

 

Tak lama kemudian bis berhenti di sebuah halte yang terdapat banyak orang-orang dari berbagai negara ini, dengan cepat namja itu turun dari bis dan kembali berlari menuju sebuah gedung dengan  dekorasi abad pertengahan, khas negara Inggris.

 

Namja itu berlari melewati setiap koridor dengan tatapan cemas menatap layar handphonenya, begitu sampai di depan sebuah pintu, dia langsung mmebukanya dan dia menghembuskan nafasnya lega begitu melihat isi ruangan tersebut.

 

“Ya!kenapa baru datang..kau hampir telat tau!”seru sebuah suara di belakangnya menepuk bahunya. Namja itu menoleh.

 

“Aku bangun terlambat tadi..syukurlah professor belum datang…”ucap namja itu pada namja yang menepuk bahunya, dari bahasa yang mereka gunakan terlihat bahwa mereka berasal dari negara yang sama.

 

“How lucky you are..”ucap namja yang lebih pendek beberapa senti dari namja yang hampir terlambat datang itu.

 

**

 

Seorang yeoja berjalan perlahan keluar sebuah gedung apartemen, tatapannya kosong dia berjalan seperti tidak merasakan keadaan sekitarnya, matanya menyiratkan sebuah kesedihan yang sangat mendalam.

 

“Yongie”panggil seorang yeoja dengan rambut ikal yang berjalan di belakangnya namun yeoja ini sama sekali tidak menolah seakan-akan dia tidak mendengar namanya dipanggil.

 

Yeoja ini terus saja berjalan sementara yeoja yang memanggilnya itu terlihat kesal dan segera megejar langkah yeoja itu lalu menarik tangannya dengan kasar.

 

“Kau akan pulang!”seru yeoja yang memanggilnya namun lagi-lagi tidak ada respon, gadis itu tetap menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan berjalan meninggalkan yeoja yang sudah sangat frustasi melihat sikap gadis itu.

 

“Ya!sudah dua tahun yongie!”seru yeoja itu lagi namun sama seperti usahanya tadi tidak ada respon dari yang dipanggilnya itu dan pada akhirnya dia hanya bisa menghela nafas perlahan dan ikut berjalan perlahan di belakang gadis itu.

 

 

Kyu POV

 

Untung saja aku tidak datang telat, kalau iya aku benar-benar akan dikeluarkan dari kelas Professor Wilson selamanya padahal ini tahun terkahirku disini, apa yang harus aku katakan pada orang tuaku jika aku memundurkan kepulanganku tahun depan, ck.

 

Aku sudah ingin pulang kembali ke negaraku malah harus menambah setahun lagi disini, bahkan rasanya kalau aku tidak punya tanggung jawab pada kedua orang tuaku yang mengirimkanku kesini aku sudah akan pulang sejak sehari aku menginjakkan kakiku kesini, ya aku tidak pernah mau ada disini, di negara Eropa di sebelah utara, negara yang sangat asing bagiku bahkan meski sudah hampir 4 tahun disini aku masih merasa asing.

 

“Kapan rencananya kau pulang?”tanya seseorang membuatku berheti melamun, seorang namja yang memakai topi hitam yang menayapku saat aku masuk kelas tadi.

 

“Eoh..fall..aku tidak mau menghabiskan musim dinginku disini”ucapku sambil melepas earphone yang aku gunakan dan meletakkan buku yang sebenarnya sama sekali tidak aku baca sejak tadi.

 

“Sepertinya kau ingin buru-buru meninggalkan London..apa tidak ada yang menarik untukmu disini?”tanya namja itu lagi sambil melirik sekelompok gadis-gadis berambur pirang yang duduk tidak juah dari tempat kami duduk di taman kampus ini, gadis-gadis yang sejak tadi terus menatap kagum kami, hei menjadi populer tidak salah kan? Apalagi namja di hadapanku ini, sudah sangat terkenal dengan sifatnya yang sangat playboy sedangkan aku, tidak pernah tertarik berurusan dengan yeoja, aku disini hanya untuk menuntaskan tanggung jawabku pada kedua orang tuaku, lulus secepatnya itu lebih baik, aku ingin kembali ke tanah kelahiranku.

 

“Ya..kapan sifat playboymu itu akan hilang, hah…bagaimana dengan Hyo Soo yang kau tinggalkan di Seoul…seharusnya aku memberitahu kelakukan namjachingunya disini..aku yakin dia akan langsung memutuskanmu…”kataku panjang lebar, sudah capek aku menasehati namja dihadapanku ini, kalau dia belum punya pacar sih tidak apa-apa dia mau menggoda seberapa banyak gadis pirang, ini masalahnya dia sudah memiliki pacar dan pacarnya itu sahabatku, sebenarnya kami bertiga bersahabat ketika kami SMP namun setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dan secara kebetulan aku bertemu dengannya disini di London untuk menuntu ilmu. Dunia memang sangat sempit.

 

“Aku hanya main-main Kyuhyun-ah..awas kalau kau lapor padanya…”ucap namja dihadapanku ini dengan tatapan kesal.

 

“Arasso..arasso Donghae-ya”jawabku sambil kembali memasang earphoneku.

 

“Ya..jamkaman..apa benar-benar tidak ada yang membuatmu tertarik disini..”seru Donghae menahan tanganku yang hendak mengenakan earphoneku lagi, aku  mengerutkan dahiku tidak mengerti dengan apa yang dia tanyakan.

 

“Yeoja..”ucapnya dengan penekanan, isshh apa otaknya hanya yeoja saja pantas dia tidak lulus-lulus.

 

“Eopseo…aku disini bukan untuk mencari yeoja..aku hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabku..bahkan kalau bisa lulus dua tahun sudah kukejar dua tahun..sayang seharusnya tahun lalu aku bisa lulus kalau aku tidak perlu membantumu…”ucapku sambil mendelik padanya, dia tersenyum malu, ya kalau bukan membantu temanku ini lulus disalah satu mata kuliah saat ini aku sudah ada di rumahku yang nyaman di Seoul bukannya disini -___- ah sudahlah untuk apa diingat lagi.

 

“Ara…ara..mianhe..but you’re my best..best friend ever..jinjja Kyuhyun-ah…”ucapnya sambil menepuk lenganku dan menatapku serius, kalau seperti ini saja dia akan menyebutku sahabat baiknya, cih.

 

Aku kembali mengenakan earphoneku dan melanjutkan acara bacaku, bukan tapi melamunku lebih tepatnya.

 

“Keundeu..kalau kau pulang dengan membawa seorang yeoja..kemungkinan untukmu dijodohkan dengan rekan bisnis ayahmu itu bisa…”

 

“aku akan mengurus masalah itu sendiri…tidak perlu membawa yeoja..”potongku sebelum dia berbicara terlalu banyak dan malah membuatku kesal pada akhirnya, dia terlihat mengerti dengan perkataanku karena setelah itu dia langsung diam, baguslah, jangan pernah banyak bicara di hadapanku.

 

Yong Soon POV

 

Apa mereka pernah merasakannya? Tidak, kenapa mereka berpikir seolah-olah mereka tahu bagaimana perasaanku, dua tahun sudah cukup? Tidak, tidak akan cukup bahkan sampai berapa tahun sekalipun, apa mereka pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesorang yang sangat berarti di hidupmu, seorang pelindungmu, seorang kakak, seorang orang tua, seorang kekasih,seorang yang bisa menjadi apa saja dihidupmu, tidak mereka tidak pernah merasakannya. Apa mereka pernah merasakan hati ini membeku ketika tahu seseorang itu tidak akan pernah kau lihat lagi dihidupmu, tidak mereka tidak pernah merasakannya, lalu kenapa mereka memaksaku untuk berhenti merasakannya? Berhenti merasakannya sama saja aku berusaha melupakannya, melupakan seseorang yang sangat berarti bagiku, segalanya untukku. Tidak aku tidak akan melakukan itu.

 

 

Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, tanganku mengusap sebuah kalung, aku mengenggamnya erat dan memejamkan mataku, merasakan kehadiran seseorang yang aku yakin dia masih ada disekitarku, meski aku tidak bisa melihatnya tapi aku bisa merasakannya, merasaka kehadirannya, aku bisa merasakan tangannya yang hangat mengenggam tanganku saat ini.

 

“Bogoshipo..”lirihku.

 

Angin musim semi membelai wajahku perlahan, hangat sama hangatnya dengan setiap sentuhan tangannya dipipiku, sentuhan tangan yang tidak akan pernah aku rasakan lagi dan aku merindukannya saat ini, bibir bawahku kugigit meredakan tangisku yang sebentar lagi pasti akan keluar, sudah keberapa kalinya aku menangis? Sudah tidak terhitung, saat-saat ini aku benar-benar merasa lemah, sangat lemah, rasanya aku tidak punya alasan lagi untuk hidup, karena alasanku untuk hidup sudah pergi, pergi selamanya.

 

“Nappeun…nappeun…”ucapku sambil menyentuh dadaku dan memukulnya perlahan, air mataku kembali mengalir sama banyaknya seperti terkahir kali aku menangis.

 

“Yongie-ya”

 

Aku tahu dia selalu memanggilku seperti ini, seorang yang sudah aku acuhkan beberapa tahun ini tapi dia tetap setia ada disampingku, saat aku lemah seperti ini dia bisa menjadi bahuku untuk menangis, sama seperti biasanya, aku sudah merasakan tangannya yang memelukku, mengusap punggungku perlahan.

 

“Kau bisa Yongie-ya..kau kuat..”kata-kata yang selalu dia ucapkan ketika aku menangis tapi kata-kata itu tidak bisa aku lakukan, aku terlalu lemah, aku tidak bisa menjadi kuat lagi karena kekuatanku sudah hilang bersamanya, dialah kekuatanku selama ini.

 

Aku menggeleng lemah dalam pelukannya, dia semakin memelukku dengan erat.

 

 

Kyu POV

 

“Kyu malam ini kau akan ikut kami ke klub?”tanya Donghae ketika kelas berakhir dan aku sedang memasukan bukuku ke dalam tas.

 

“Aku sibuk”jawabku singkat lalu keluar dari kursiku.

 

“Ya..kau sudah lama tidak ikut kami”ucap namja itu lagi mengejarku yang sudah keluar kelas, aku berhenti sejenak kemudian berbalik menghadapnya.

 

“Setelah aku lulus kalian boleh mengajakku ke klub setiap hari dan aku tidak akan menolak..”ucapku kemudian segera meninggalkannya sebelum dia memohon agar aku iktu  bersama mereka, aku memang tidak terlalu senang berkumpul dengan mahasiswa dari negara yang sama denganku disini masalahnya terkadang mereka seperti bermain-main menuntut ilmu disini dan itu sama sekali tidak sesuai dengan tipeku. Aku malah ingin segera lulus darisini.

 

Keluar dari kawasan kampusku yang megah dengan ornamen abad pertengahan ini langsung disapa langit berawan, cih padahal sudah masuk musim semi tapi cuaca tetap saja gelap, aku benci musim semi disini itu sebabnya aku ingin segera pulang, hah sepertinya terlalu banyak yang membuatku tidak betah disini dan suatu keajaiban aku bisa bertahan tiga tahun disini.

 

Aku mengeluarkan handphoneku dari dalam tas dan mengenakan headphone sebelum kembali berjalan menuju halte untuk pulang. Sialnya hari ini, aku harus berdiri di bus.

 

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, kalau aku pulang ke apartemen sekarang pasti aku akan langsung dimarahi oleh Wookie gara-gara tadi pagi seharusnya jadwalku mencuci piring tapi berhubung aku sudah sangat telat aku tidak melakukanya, hah pasti dia sangat marah padaku.

 

Aku segera turun dari bus begitu bisa berhenti di halte dekat pertokoan, sebaiknya aku membeli sesuatu yang dapat meredakan marahnya, terkadang punya teman sekamar yang sensitif sangat melelahkan, Wookie atau nama aslinya Kim Ryeowook tapi aku lebih suka memanggilnya Wookie saja lebih gampang, dia sahabat sekaligus teman satu apartemenku disini.  Aku dan Wookie bersahabat sejak SMA, kebetulan sekali dia melanjutkan kuliahnya disini namun berbeda universitas denganku, dia lebih memilih seni.  Jadilah kami teman satu apartemen disini, kelebihan tinggal bersamanya adalah soal makan, aku tidak perlu repot-repot membeli makanan diluar karena dia selalu sedia memasakan makanan tapi ya itu aku jadi kebagian membereskan apartemen, kadang aku merasa tidak adil sih tapi dia sudah sangat baik mau memasakanku, masakan Korea lagi, coba kalau aku beli diluar aku jamin sekarang aku sudah kembali ke negaraku karena tidak betah. He saves me for some reason tapi seperti yang aku bilang tadi dia sangat sensitif, kalau aku tidak melakukan pekerjaanku dia akan langsung mengomel seperti ahjumma-ahjumma, bayangkan satu jam dia bisa mengomel seperti itu makanya aku selalu berusaha menghindari omelannya tapi kali ini matilah aku.

 

Kira-kira apa yang harus aku lakukan agar saat aku pulang dia tidak memarahiku ya? Aku berjalan perlahan di jalan setapak pusat pertokoan ini sambil berpikir apa yang harus aku lakukan, ah bagaimana kalau aku membelikan bahan makanan untuk makan malam hari ini, johta. Aku segera mengambil belok kanan begitu sampai di ujung jalan, aku menuju salah satu toko yang menjual bahan makanan dari Asia yang sudah sangat sering aku kunjungi, ah sebenarnya Wookie yang sering kesini tapi dia pernah mengajakku sekali dan karena aku memang sangat pintar aku masih ingat jalan kesini.hahahha.

 

Aku berhenti di depan sebuah toko dengan banyak bendera Asia, sekali kau lihat pasti berpikir ini toko aksesoris karena memang terlalu banyak hiasan di dalam toko ini. Aku segera masuk dan mengambil keranjang belanjaan, aku segera menuju deret yang menjual bahan makanan negaraku, aku mengambil beberapa yang penting dan mungkin yang kurang di apartemen.

 

Di depan kasir, ketika penjaga kasir itu sedang menghitung belanjaanku aku melihat rak minuman dan melihat sesuatu yang sudah lama aku cari.

 

“Do you sell soju?”tanyaku pada penjaga kasir yang sedang menghitung belanjaanku.

 

“Yes..it came this morning”jawabnya, aku mengangguk kemudian berjalan ke arah rak minuman tersebut dan mengambil dua botol, sepertinya sogokan bagus lagi agar Wookie tidak marah padaku, sudah lama juga kami tidak minum bersama, aku menaruh dua botol soju itu di meja kasir.

 

Selesai sudah acara belanjanya dan uangku habis, aku tidak menyangka ternyata harga sojunya sangat mahal sekali tapi tidak apalah hanya sekali-kali, sebaiknya besok aku harus mengambil uang lagi. Akhir-akhir ini aku merasa semakin boros saja.

 

Aku berjalan menuju halte tadi, bisa belum datang maka aku pun duduk di kursi yang ada disitu, aku kembali mengenakan headhphoneku dan mulai mendnegarkan lagu, ketika aku baru sadar ada seorang yeoja duduk disampingku, sepertinya dia juga dari Asia dilihat dari wajahnya tapi apa yang dia lakukan kenapa dia menatap kosong ke bawah, aneh sekali, hah sudahlah untuk apa memikirkannya.

 

Aku mulai bersenandung mengikuti lagu yang sedang aku dengar.

 

Tiba-tiba yeoja yang duduk disampingku ini berdiri dan dia mulai melangkah ke jalan, ya! Apa dia mau bunuh diri?! Aku segera melepas headphoneku dan menghampiri yeoja itu dan menarik tangannya.

 

“What are you doing?!”seruku pada yeoja itu, namun yeoja ini hanya diam seakan tidak mendengarku tatapannya masih lurus ke depan, aku mengikuti arah pandangnya namun tidak ada apa-apa, apa yang yeoja ini lihat sampai seperti ini. Dia menarik tangannya perlahan dari genggaman tanganku dan mulai berjalan meninggalkanku. Ya yeoja yang sangat aneh sekali? Apa dia gilan??

 

Aku menatap bingung yeoja yang berjalan semakin jauh dari pandanganku.

 

“Aneh sekali dia itu”ucapku kemudian kembali duduk menunggu bis, mataku tiba-tiba menangkap sebuah benda hitam di tempat yeoja tadi duduk.

 

“Handphone”ucapku begitu tanganku mengambil benda hitam itu.

 

“Hei..your handp…”ucapkanku terhenti ketika aku sudah tidak melihat sosok yeoja itu lagi, isshh aneh sekali yeoja itu tiba-tiba sudah menghilang.

 

Aku mengamati benda hitam ditanganku ini, bagaimana aku mengembalikannya ya??

 

**

 

“Ya..dimana kau membeli soju?”tanya Wookie ketika aku sedang mencuci piring dan dia sedang memasukan bahan makanan ke dalam kulkas.

 

“Di toko yang pernah kau datangi itu..katanya baru datang tadi pagi…”jawabku sambil meletakkan piring-piring yang sudah kucuci bersih ke tempatnya.

 

“Kau mau meminumnya sekarang?”tanya Wookie lagi.

 

“Aniya..aku masih harus bangun pagi besok..hari sabtu saja…”jawabku.

 

“Keureu..aku simpan dulu”ucapnya.

 

Aku berjalan ke ruang tengah mengambil tasku dan membawanya ke kamar, aku melepmarkan tasku ke atas tempat tidur kemudian merebahkan tubuhku diatasnya, hari ini lelah sekali, aku juga menemui hal aneh, seorang yeoja yang ingin bunuh diri dan..

 

“Handphonenya”ucapku kaget begitu menyadari handphone gadis itu yang ada padaku, aku bangkit dari tidurku dan berjalan keluar kamar.

 

“Ya!Kyunnie…kau ganti handphone ya,..sejak tadi terus berbunyi di atas konter..”seru Wookie dari arah dapur. Aku segera bergegas menuju konter dan mengambil benda hitam milik gadis aneh itu.

 

Benda itu terus menyala, ada pesan masuk sepertinya apa dari gadis itu yang sadar kalau handphonenya hilang, aku buka atau tidak ya? Aku menimbang-nimbang, masalahnya ini miliki pribadi orang lain tapi kalau yang sms benar pemiliknya bagaimana, aisshh sudahlah aku lihat saja.

 

Jariku mulai bergerak membuka pesan dan ternyata semuanya hanya berita sms yang tidak terkirim, aisshhh, aku membawa handphone itu ke kamarku namun handphone itu terus berbunyi, berapa banyak sih sms yang gadis aneh itu kirim, mana semuanya tidak masuk lagi.

 

Aku kembali menatap layar handphone itu.

 

“Ongie…”lirihku melihat kepada siapa gadis aneh itu mengirim pesan yang sama sekali tidak terkirim.

 

Advertisements

5 thoughts on “FF: Summer, I’ll Fix You Part 1

  1. akhrny publish jga ff kyusoon!

    donghae udah punya pcr,tpi masih aja jelalatan liat yeoja2 yg cntk…aq kira wookie jdi kakakny kyuhyun,rupanya cuma temen
    onge itu seulong ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s