FF: A Ghost Love Story Part 2

 

 

 

 

Part 2

 

Yong Soon POV

 

“Terima kasih”ucapku pada seorang pelanggan yang baru saja pulang, aku menengok ke arah jam dinding di toko ini, sudah pukul 9 malam, aku mengalihkan pandanganku ke dapur ibu sedang membereskan dapur karena sebentar lagi toko akan tutup.

 

Diam-diam aku keluar dari belakang etalase, mata aku mengawasi ibu yang sedang ada di dapur, aku aku takut dia memergokiku yang sedang berusaha kabur. Aku melangkah keluar perlahan dari toko kue miliki ibuku itu, begitu sampai diluar dengan tidak ketahuan aku bernafas lega.

 

“Noona”panggil sebuah suara membuatku terlonjak kaget, seorang anak kecil, tidak juga sih, mungkin masih SMP sudah berdiri disampingku, melayang, tentu saja mereka kan arwah, satu hal yang aku tidak suka dari mereka yaitu datang dengan tiba-tiba. Menyebalkan, dia tidak tahu apa aku orangnya kagetan.

 

“Ya..kau mengagetkanku tau”seruku padanya, dia tersenyum tipis.

 

“Aku sudah bertemu dengan kakakmu tadi siang”ucapku, tiba-tiba wajahnya langsung bersemangat .

 

“Jinjja?”tanyanya. aku mengangguk dengan mantap.

 

‘Klienku’ sekarang adalah seorang anak laki-laki yang baru berusai 13 tahun, dia meninggal tiga hari yang lalu dikarenakan kecelakaan saat sekolahnya sedang jalan-jalan ke Jeju, padahal di hari itu kakak perempuan satu-satunya yang dia miliki sedang ulang tahun dan dia ingin memberikan sesuatu pada kakaknya itu namun terlambat dia keburu meninggal, namun sepertinya dia belum tenang.

 

“Kakakmu menangis begitu menceritakanmu..”ucapku pada anak itu, kami sedang duduk di taman yang tidak terlalu jauh dari toko ibuku, dia menunduk sejak tadi, aku tahu dia pasti sangat sedih, aku baru tahu dia hanya tinggal bersama kakaknya saja, kalau aku jadi kakaknya aku pasti akan snagat sedih kehilangan satu-satunya adikku.

 

Beberapa pasang mata memperhatikanku aneh karena berbicara dengan angin disampingku, aku sudah terbiasa dengan tatapan aneh seperti itu, sudah tidak peduli lagi lebih tepatnya.

 

“Aku merasa bersalah meninggalkannya..dia sendiri sekarang..”lirih namja disampingku ini.

 

“Kau sudah menemukan barang itu?”tanyaku padanya.

 

Namja itu mendongak dan mengangguk.

 

“Tidak jauh dari tempat aku kecelakaan…”jawabnya.

 

“Johta…aku akan mengambilnya besok dan akan kuberikan pada kakakmu..”ucapku sambil tersenyum padanya, dia pun ikut tersenyum.

 

“Neomu gamsaheyo noona..kau sangat baik…”ucapnya lagi.

 

“Ne..gwenchana..”jawabku.

 

 

**

 

“Kau bisa menemaniku hari ini?”tanya Je Ri tepat di hadapanku, dia menatapku dengan tatapan setengah memohon, aku menghela nafas perlahan.

 

“Tidak”jawabku singkat dan bisa kulihat perubahan wajahnya langsung menjadi sedih, bukannya aku tidak mau menemaninya hari ini tapi terkahir kali aku menuruti keinginannya semua kacau, lagipula hari ini aku sudah bernjanji dengna Nam Seung Woo, ‘klienku’ kemarin untuk mengambilkan barang itu dan memberikannya pada kakaknya.

 

“Ahh..kau jahat Yongie”serunya padaku sambil menarik-narik lengan kemejaku.

 

“Ya..ya…aku sudah ada janji hari ini…mian..mian..”ucapku melepaskan tangannya dari lengan kemejaku dan selanjutnya aku segera pergi keluar kelas, sebelum dia kembali merengek.

 

Aku berjalan menyusuri koridor kelas dan pada saat itu aku kembali berpapasan dengan Kim Ryeowook orang yang menolongku kemarin, dia berhenti berjalan begitu melihatku dan menatapku, ok tatapannya sangat aneh namun begitu aku ingin tersenyum duluan, dia lebih dahulu tersenyum padaku, meski sedikit kaku.

 

Aku membalasnya dengan senyuman lagi kemudian kembali berjalan.

 

Author POV

 

Seorang namja sedang mencari sesuatu di pinggir jalan, wajahnya menujukan tampang frustasi karena sejak tadi tidak juga menemukan benda yang dia cari, dia mencari di semak-semak di pinggir jalan namun tidak ketemu juga, pada akhirnya namja itu menyerah dan duduk dipinggri jalan, tampak berpikir.

 

“Dimana jatuhnya?”umpat namja itu sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

 

Namja itu kembali berdiri dari duduknya, dia melihat seseorang sedang berdiri tidak jauh dari dia, dia pun menghampiri orang itu untuk bertanya, tidak ada salahnya bertanya siapa tahu orang itu tau, pikir namja itu.

 

“Permisi..”panggil namja itu namun orang yang dia panggil sama sekali tidak mendengarnya, namja itu menjadi sedikit kesal karena dia sudah memanggil berulang kali tapi orang ini tetap tidak menanggapinya padahal dia berdiri tepat disampingnya.

 

“Ya!”ucap namja itu menyentuh pundak orang itu namun yang dia sentuh hanya angin.

 

Namja itu terkejut, dia mencoba lagi menyentuh orang itu dan sama seperti tadi dia hanya menyentuh angin. Namja itu terdiam dan tiba-tiba saja dia jatuh terduduk di pinggir jalan, tatapannya kosong menatap jalanan di hadapannya.

 

“Andwe..andwe..”ucap namja itu berulang-ulang lalu memegang kepalanya, dia terus menggeleng.

 

“Andwe…andwe….andwe…”ucapnya terus, dia berdiri dari duduknya dan berlari pergi dari jalan itu.

 

“Tuan bisa melihatku kan?”ucap namja itu pada seorang pria yang dia temui sedang berjalan namun pria itu melewati namaj itu begitu saja tanpa terlihat menyadari adanya namja itu, dia melakukan itu terus pada setiap orang yang dia lewati namun semuanya sama tidak ada yang menyadari keberadaan namja itu, dia tidak terlihat.

 

Namja itu kembali berhenti berjalan.

 

“Andwe…kejadian itu hanya mimpi..”lirihnya.

 

**

 

Yong Soon baru saja berjalan keluar dari sebuah rumah sederhana dengan senyum tersungging di bibirnya, satu tugas lagi sudah dia selesaikan dengan baik.

 

“Gomapta noona”suara anak laki-laki kemarin terdengar oleh Yong Soon, dia tersenyum dan kembali berjalan untuk pulang.

 

Sambil berjalan dia melihat jam tangannya masih sore untuk pulang, pikirnya. Dia memegang perutnya yang terasa lapar, lalu memutuska untuk makan di salah satu kedai pinggir jalan.

 

Yong Soon asyik sendiri dengan makanan di hadapannya, kalau sudah dihadapkan dengan makanan dia akan lupa dengan segalanya, tiba-tiba dia berhenti menyuap ketika menyadari sepasang mata sedang memperhatikannya di meja ujung.

 

Kim Ryeowook sedang mengamati gadis yang sedang menghabiskan ramyonnya, entah kenapa dia merasa tertarik sekali pada gadis ini, dia tahu kalau gadis ini bisa melihat arwah-arwah dan dia membantu arwah-arwah itu, oleh sebab itu dia sangat tertarik pada gadis ini. Ryeowook tersenyum pada Yong Soon, Yong Soon dengan ragu-ragu membalas senyumnya.

 

Yong Soon POV

 

Kenapa dengan namja itu? sejak kemarin sepertinya dia terus mengikutiku, apa yang dia inginkan? Aku jadi tidak berselera makan lagi kalau begini. Aku meletakkan sumpitku kemudian meneguk jus jerukku lalu berdiri dari dudukku hendak pulang namun tiba-tiba sebuah tangan menahanku. Namja itu yang melakukannya.

 

“Yong Soon-ssi..bisa bicara denganmu?”tanyanya padaku, aku menatapnya heran kemudian mengangguk dan duduk kembali begitupun dia yang duduk dihadapanku.

 

**

 

Jinjja? Berapa orang lagi yang tahu aku bisa melihat arwah, hah? Ini pasti gara-gara Je Ri, aku berusaha menjawab apa yang ditanyakan namja di hadapanku ini dengan baik dan benar seperti menjawab soal ujian tapi dia terlalu penasaran.

 

“Nde..aku bisa melihat semuanya..bahkan disini ada seorang gadis di pojok sana sedang menangis..atau ada ahjussi yang mondar-mandir terus di depan sana..semuanya”ucapku dengan penekanan, ya aku bisa melihat semuanya, dimanapun, tidak ada kecuali, ok mungkin menyeramkan tapi aku sudah terbiasa sejak kecil seperti ini, awalnya aku hanya bisa melihat semakin beranjak dewasa aku mulai bisa berkomunikasi dengannya, pada dasarnya tidak ada arwah yang jahat atau menganggu manusia, mereka masih disini karena menunggu waktunya di panggil tapi terkadang ada juga yang iseng, seperti hantu dirumahku, Joo Hyun namanya, nenek yang memberikan nama itu, dia selalu saja mengangguku waktu aku masih SMP dengan tiba-tiba muncul di hadapanku, tidur disampingku atau mengikutiku kemana aku pergi tapi sekarang dia sudah pergi karena memang sudah waktunya.

 

“Daebak”gumam namja dihadapanku ini.

 

Aku menatapnya tida percaya, adakah orang yang seperti dia? Menyebut ini hebat, selain aku tentunya. Kalau aku cerita pada orang lain mereka pasti tidak pernah percaya sampai aku bilang ada yang mengikutinya di belakang, setelah itu dia tidak pernah mau bertemu denganku lagi, makanya aku tidak terlalu sering membicarakan kemampuanku ini dihadapan orang-orang tertentu yang berpotensi menjauhiku karena takut.

 

“Hahahaha..ya itu sangat keren…aku permisi dulu…”ucapku kemudian langsung pergi dari tempat itu, hah namja yang sangat aneh.

 

Drrttt..DRrrtttt..DRrrrrrttt

 

Aku merasakan handphoneku bergetar di saku jaketku, aku merogohnya dan membelalakan mataku begitu melihat nama yang tertera disana, eomma, matilah aku! Aku mengangkatnya dengan takut-takut.

 

“Ya!kemana kau Choi Yong Soon!cepat pulang!jangan bermain dengan arwah terus!!!”seru ibuku membuatku harus menjauhkan handphoneku dari telingaku menghindari kerusakan permanen pada kupingku akibat teriakan ibuku yang snagat luar biasa itu.

 

“Ara..ara..aku sudah dijalan pulang..”ucapku kemudian langsung memutuskan sambungan telepon sebelum eomma kembali berteriak di telingaku.

 

Aku memandang jalaan di depan kedai ini yang mulai ramai oleh pejalan kaki dan aku baru sadar kalau ternyata langit sudah gelap.

 

“Harus segera pulang”ucapku kemudian mulai berjalan menyusuri jalanan pertokoan ini menuju halte terdekat.

 

Aku terus berjalan, jinjja mana haltenya? Aku sudah melewati pertokoan dan sekarang sudah masuk jalan raya yang agak sepi, aku merasa suasananya tidak enak sekali, pasti disini banyak sekali. Aku mengedarkan pandanganku sengaja mencari-cari yang aku maksud tadi, eopseo, kemana mereka? Tapi tetap saja perasaanku tidak enak, hawa disini terlalu menyeramkan untuk ukuran manusia, bagiku tidak.

 

“Aisshh mana haltenya? Apa aku salah jalan?”ucapku namun terus berjalan.

 

Saat aku melintasi sebuah pohon di pinggir jalan itu, perasaanku mulai tidak enak, disini rupanya, tiba-tiba aku melihat seseorang sedang berjongkok, karena agak gelap aku tidak terlalu jelas melihat, tapi aku yakin itu orang, maksudku mungkin arwah. Aku mendekati orang atau apalah itu yang sedang berjongkok, namun aku kaget begitu aku melihat dia menapak tida melayang, berarti manusia, tapi kenapa dia ada di tempat seperti ini.

 

“Permisi…”ucapku, orang itu menoleh, ternyata seorang namja. Dia menatapku takjub, kenapa dia?

 

“Kau bisa melihatku?”tanyanya langsung padaku, aku bingung, tentu saja aku melihatnya dia manusiakan? Atau bukan? Aku kembali memperhatikannya dari atas sampai bawah, tidak memakai baju putih, tidak melayang, dia jelas bukan arwah, lalu kenapa dia bertanya seperti itu.

 

“Tentu saja aku melihatmu…”jawabku.

 

“Jinjja?”tanyanya lagi dengan wajah lebih bersemangat.

 

Namja aneh, kenapa bertanya itu terus?

 

“Agassi..apa yang kau lakukan disini? Apa kau tersesat?”tanya sebuah suara dari belakangku, aku menoleh ke belakang dan melihat mobil polisi berhenti, seorang polisi melongokkan wajahnya.

 

“Anniya..mungkin namja ini”tunjukku pada namja yang berjongkok disampingku ini.

 

Polisi itu menautkan alisnya bingung melihat arah yang aku tunjuk.

 

“Namja? Nugu? Tidak ada siapa-siapa…agassi sebaiknya kau cepat pulang..halte ada disebelah sana..kau salah jalan”ucap polisi itu lagi, hah benar aku salah jalan.

 

“oh..gamsahmanida ahjussii..aku akan jalan kesana sekarang…”ucapku. polisi itu mengangguk kemudian kembali melajukan mobilnya.

 

Aku menoleh pada namja yang masih berjongkok disampingku itu, dia menundukan wajahnya. Kenapa ahjussi itu tidak melihatnya? Apa dia arwah? Tapi bukankah dia tidak seperti arwah? Aisshh lalu siapa dia? Aku berjongkok dihadapannya, dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan menurutku, aku menjulurkan tanganku dengan ragu-ragu untuk menyentuh tubuhnya, aku ingin memastikan siapa dia?

 

Aku terkejut begitu menyentuh tubuh namja itu, dia tidak seperti angin tapi tetap seperti manusia, jadi..namun begitu aku ingin menyentuhnya lagi, kali ini yang aku sentuh hanya angin. Omo, apa ini? Aku terdiam mengamati namja ini, dia tidak seperti arwah tapi tidak ada yang bisa melihatnya kecuali aku, dia terkadang bisa disentuh terkadang tidak…apa dia??

 

“Ternyata benar..”ucapnya kembali menunduk, benar? Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan.

 

 

**

 

Namja itu menceritakan semuanya padaku, oh jadi dia kecelakaan dua hari yang lalu dan begitu dia sadar dia sudah menjadi seperti ini, aku juga tidak tahu kenapa dia berbeda dari arwah lainnya ya?

 

“Lalu kenapa kau masih ada disini?”tanyaku.

 

“Mollaso…”jawabnya.

 

“Apa yang kau cari?”tanyaku langsung,  biasanya seorang arwah tidak bisa pergi karena masih ada sesuatu yang belum dia selesaikan mungkin namja inj juga mengalami hal yang sama, sepengetahuanku selama ini sih seperti itu.

 

“Tadi pagi aku sudah ada disini dan mencari sebuah cincin…”jawabnya sambil menoleh padaku dan menatapku, tiba-tiba saja jantungku berdegup sangat kencang melihat tatapan matanya, tatapan matanya seakan mampu mneghipnotisku, anni..anni apa yang aku pikirkan, mungkin karena baru kali ini ada orang yang menatapku tepat di mataku.

 

“Kau ingat cincin itu untuk apa?”tanyaku, berusaha mencari informasi lebih dalam darinya namun dia menggeleng, sepertinya dia lupa.

 

“Aku tidak ingat..aku butuh cincin itu karena ada seseorang yang menungguku..tapi aku tidak tahu siapa..aku lupa…”ucapnya dengan wajah sedih.

 

Susah juga kalau seperti ini, biasanya arwah-arwah itu ingat mau apa mereka masih belum pergi tapi namja ini malah lupa, lalu bagaimana? Aku ingin membantunya tapi bagaimana aku bisa mencari cincin itu dan lagipula untuk apa cincin itu?

 

“Apa cincin itu sudah ketemu?”tanyaku lagi, dia kembali menggeleng.

 

Bagaimana menemukan cincin sekecil itu disini? Ah kasihan sekali arwah ini.

 

Drrt..drrttt..drttt…

 

Aku merasakan handphoneku kembali bergetar dan sudah jelas itu siapa, ibuku.

 

“Mianhe..aku harus pulang..aku akan membantumu..aku akan kesini lagi besok..”ucapku kemudian hendak pergi karena aku harus segera sampai rumah sekarang juga namun sebuah tangan menahanku dan aku merasakan genggaman tangannya hangat, aku berbalik dan namja itu yang menahan tanganku, dia tida dingin seperti arwah yang lain dan kenapa jantungku kembali berdetak lebih kencang.

 

“Aku tidak tahu harus kemana”ucapnya.

 

Apa maksudnya berkata seperti itu?

 

“Ya..kau bisa menghilang..atau pergi kemanapun kau mau sekarang”ucapku.

 

Dia menggeleng, apa dia tidak bisa, bukankah arwah bisa kemana saja, lalu dia itu apa? Aisshh membingungkan sekali.

 

“Aku tidak bisa apa-apa…”ucapnya lagi.

 

**

 

Disnilah aku membawanya pulang bersamaku, apa yang aku pikirkan? Memlihara arwah terlantar-,-. Aku menghela nafas berkali-kali, kenapa aku bisa mengajak namja ini pulang bersamaku, ok pertama mungkin karena kasihan tapi sekarang…aku menoleh padanya yang menatap lurus ke depan di dalam bisa, setelah kuperhatikan dan dilihat di bawah cahaya dia terlihat sedikit tampan, omo apa yang aku katakan tadi? Dia arwah, sayang sekali dia harus meninggal di usia muda seperti ini, itulah kematian -,-

 

“kenapa kau memperhatikanku terus?”tanyanya tiba-tiba sudah menoleh padaku,mukaku langsung memerah karena malu ketahuan memperhatikannya.

 

“Apa aku sangat tampan sampai-sampai kau terpesona”ucapnya, aku langsung menatapnya tidak percaya, cih sepertinya ini arwah yang narsis, ck

 

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

 

“Kau tidak risih ditatapn heran seluruh orang di bis ini? Sejak tadi mereka melihatmu heran”ucap arwah ini lagi, banyak bicara sekali dia, sepertinya dia akan sangat menjengkelkan, sebaiknya aku segera menyelesaikan urusannya.

 

“kalau kau diam mungkin mereka tidak akan menganggapku aneh”ucapku dan aku mendengarnya terkekeh pelan, hisshhh arwah menyebalkan.

 

Author POV

 

Seorang namja berkacamata berjalan melewati sebuah jalan yang cukup gelap dan tiba-tiba saja kakinya terasa menendang sesuatu, namja itu berhenti untuk melihat apa yang dia tendang, dia melihat sebuah kotak, dia memungutnya dan membukanya.

 

“Cincin…”lirihnya.

 

Advertisements

4 thoughts on “FF: A Ghost Love Story Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s