FF: Fate Part 4

Part 4

 

Yong Soon POV

 

Beberapa kali aku menggelengkan kepalaku menghilangkan ingatan tentang kejadian ciuman pertamaku tadi, aigoo apa yang aku pikrikan tadi, mencium seorang namja?maldo andwe. Ini pasti mimpi, tidak mungkin aku melakukan hal ini. Aku menatap cermin di kamar mandiku, menyentuh bibirku. Gila, apa aku sudah gila.

 

Tok..Tok..Tok

 

Aku mendengar pintu kamarku diketuk, aku berjalan keluar kamr mandi dan membuka pintu kamarku.

 

”Makan malam dulu…”ucap Minho yang berdiri di depan kamarku.

 

”Nde..”jawabku, aku keluar dari kamarku berjalan lebih dahulu di depan  Minho.

 

”Yong Soon-ah…kau baik-baik saja?”Tanya Minho membuatku berbalik dan menatapnya sedikit terkejut.

 

”Mwo?”tanyaku.

 

Minho berjalan mendekat ke arahku dan berhenti tepat di depanku, mengamati wajahku dengan seksama. Aku menduduk karena merasa risih dengan tatapannya, ada apa dengan dia?

 

”Kau sakit…kenapa mukamu memerah?”tanyanya tiba-tiba dan itu membuatku kembali mengingat kejadian tadi sepulang sekolah. Tidak, jangan sampai dia tahu.

 

Aku berbalik.

 

”Tidak..aku tidak sakit”jawabku dan langsung berjalan meninggalkannya.

 

Ahhh apa yang terjadi padaku?

 

Author POV

 

Marcus berjalan mondar-mandir di kamarnya masih terus memikirkan kejadian tadi, dia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu menciumnya dan yang lebih parah lagi adalah dia menikmatinya.Marcus mendesah pelan dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

 

”Jadi sekarang kau mengakui bawha kau tertarik dengan gadis itu, Marcus?”tanya seorang namja yang sudah muncul di depan pintu kamar Marcus sambil tersenyum penuh arti Aiden Lee.

 

”Kau ingin bilang kau menang taruhan, Aiden”ucap Marcus tajam, Aiden terkekeh pelan.

 

”Bukan aku yang membuatmu tertarik pada gadis itu tapi kau sendiri…aku hanya menebak…”ucap Aiden masih dengan senyuman.

 

Marcus terdiam mendengar perkataan Aiden, apa yang Aiden katakan benar bahwa tidak bisa dipungkiri dia memang tertarik pada gadis itu dari awal dan malah semakin membuatnya tertarik dengan berusaha mendekati gadis itu tapi Marcus tidak pernah berniat mendekati gadis itu semuanya terjadi begitu saja, itu yang membuat Marcus tidak mengerti. Apa aku mulai menyukai gadis itu? Bukan apa aku mulai mencintainya? Pikir Marcus.

 

”Selamat bersenang-senang dengan gadis itu”ucap Aiden dan kemudian sudah menghilang dari kamar Marcus.

 

Marcus duduk di atas tempat tidurnya, kembali berpikir. Apa yang dia lakukan tadi membuktikan bahwa dia memang menyukai gadis itu bukan menyukai tapi juga mencintai gadis itu, yang benar-benar tidak masuk akal adalah bagiaman bisa dia mencintai seorang manusia sedangkan dia adalah seorang setan yang tidak memiliki perasaan, bukankah saudaranya yang lain juga begitu, mereka tertarik pada seorang gadis hanya untuk mempermainkannya berbeda dengan Marcus yang sekarang.

 

”Shiro!”umpat Marcus.

 

**

 

Marcus memasuki sebuah kamar perlahan, kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur, dia berjalan mendekat ke tempat tidur dimana ada seorang yeoja di atasnya. Marcus mengakui bahwa dia memang sudah jatun cinta pada gadis yang sedang tertidur ini. Dia berjongkok di hadapan gadis itu dan memandangi wajah gadis yang sedang tertidur itu dengan seksama.

 

”Kenapa aku jatuh cinta padamu?”lirih Marcus sambil membenarkan letak rambut gadis itu yang menutupi sedikit wajahnya.

 

Tiba-tiba saja Marcus tersenyum melihat wajah gadis yang tidak lain adalah Yong Soon ini. Marcus tetap berjongkok di hadapan gadis itu dan terus menontonnya tertidur, tangan Marcus bergerak menyentuh wajah gadis itu dan membelainya perlahan agar Yong Soon tidak terbangun.

 

”Sekarang aku tidak peduli siapa kau dan siapa aku…bahkan aku sudah melanggar peraturan karenamu…saranghae…”ucap Marcus perlahan di depan Yong Soon.

 

Marcus menarik sebuah kursi ke samping tempat tidur Yong Soon dan duduk disana sambil terus menonton Yong Soon tidur.

 

Diseberang kamar Yong Soon, seorang namja tahu apa yang Marcus lakukan, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tidak menyangka Marcus akan melangkah sejauh ini.

 

”Dia bukan untukmu,Lucifer…”gumam namja itu.

 

**

 

Yong Soon bangun dan membuka matanya perlahan, dia melihat wajah Marcus dihadapannya, dia berusaha memfokuskan pandangannya untuk memastikan apa yang dilihatnya itu.

 

”Marcus”ucapYong Soon.

 

Begitu Marcus merasa kalau Yong Soon sadar akan keberadaan dirinya, Marcus langsung menghilang dari tempat itu bersamaan dengan Yong Soon yang sudah bangun sepenuhnya dari tidurnya.

 

Yong Soon memegang kepalanya, dia merasa benar-benar sudah gila, bahkan dia semalam bermipi Marcus datang dan mengatakan bahwa dia mencintai Yong Soon.

 

”Nan jeongmal micheoso”ucap Yong Soon, dia bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi.

 

**

 

Marcus berjalan menuju lokernya namun langkahnya terhenti begitu melihat seorang namja menemplekan setangkai mwar putih di depan pintu loker Yong Soon.

 

”Penyihir itu…apa dia menyukai Yong Soon-ku”gumam Marcus sambil memperhatikan kegiatan namja itu, tangannya mengepal kuat.

 

Begitu namja itu pergi, Marcus mendekat ke loker Yong Soon dan mengamati bunga itu.

 

”Apa ini bunga kesukaan Yong Soon-ku?”ucap Marcus sambil menyentuh bunga itu, di hendak mecopotnya dari loker Yong Soon, begitu dia melihat Yong Soon baru datang maka dia urungkan niatnya mengambil bunga itu karena takut ketahuan Yong Soon.

 

Marcus sengaja berdiri bersandar pada lokernya menunggu Yong Soon sampai.

 

Dari jauh Yong Soon melihat Marcus bersandar pada lokernya, ingin sekali dia menunggu Marcus pergi dulu baru ke lokernya namun dia merasa tidak boleh menjadi pengecut, anggap saja kemarin adalah suatu ketidak sengajaan, ingat Yong Soon pada dirinya sendiri.

 

Dia menghela nafasnya perlahan kemudian berjalan cepat menuju lokernya tanpa menoleh atau bahkan melirik pada Marcus yang bersandar disamping lokernya itu.Yong Soon dengan cepat mengambil bunga di depan lokernya dan memsukan bunga itu ke lokernya, Marcus memperhatikan kegiatan gadis itu dan sedikit tidak suka melihat Yong Soon sepertinya menerima begitu saja bunga pemberian namja tadi.

 

Yong Soon menutup lokernya.

 

”Hi”sapa Marcus begitu Yong Soon menutup lokernya membuatnya menoleh.

 

Muka Yong Soon memerah begitu menatap Marcus, Marcus berusaha menahan senyumnya melihat wjah gadis itu yang malu karena bertatapan dengannya dan menurutnya Yong Soon sangat manis saat seperti itu.

 

Yong Soon langsung berlalu dari hadapan Marcus tanpa membalas sapaan Marcus, Marcus tersenyumbegitu Yong Soon pergi.

 

”Mungkin karena itu aku menyukainya”gumam Marcus sambil menatap Yong Soon yang berjalan menjauh.

 

 

Yong Soon POV

 

Sudah cukup kegilaan ini, wae? Kenapa dia sangat santai seakan kemarin tidak terjadi apa-apa? Padahal rasanya aku tidak ingin masuk sekolah hari ini karena tidak mau bertemu dengannya.

 

Sepanjang pelajaran aku berusaha memfokuskan pandanganku ke depan tapi lagi-lagi kegilaan itu muncul, aku menoleh ke belakang ke tempat duduknya dan seperti biasa dia tidak pernah memperhatikan pelajaran di depan.

 

Berhenti menatapnya Choi Yong Soon. Seruku pada diriku sendiri. Namun lagi-lagi otakku dan tubuhku tidak sinkron, aku kembali menoleh ke belakang dan tepat saat itu dia juga menatapku, kali ini di tersenyum, jijja aku sudah gila!

 

Aku tidak boleh terus mengingatnya, kemarin hanya kecelakaan, kemarin aku benar-benar bodoh.

 

”Yong Soon-ah…kau baik-baik saja?”tanyaYeon Ji disampingku.

 

Aku menoleh padanya dan entah kenapa mukaku memanas,setiap kali orang menanyakan hal itu, dengan beginikan dia bisa tahu, hah otthohke><

 

”Kenapa kau terus memperhatikan Marcus?”tanyanya lagi.

 

”Naega?”tujukku pada diriku sendiri.

 

”Ah aniya”jawabku singkat dan kembali melihat ke papan tulis. Hufft berhenti menatap namja itu Choi Yong Soon.

 

**

 

Makan siang kali ini aku memutuskan untuk duduk sendiri dan jauh dari ketujuh namja itu. Yeon Ji ingin duduk denganku namun aku menolaknya, aku tidak tahu dia benar-benar bisa membaca pikiranku atau tidak yang jelas untuk sekarang aku tidak mau dia tahu apa yang aku pikirkan.

 

Aku mengingit rotiku perlahan dan mengamati keadaan sekitarku, meja ketujuh namja itu biasanya duduk sepertinya ada yang kurang, satu..dua..tiga..Cuma ada enam, kemana Marcus? Ya kenapa aku harus peduli, aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha mengenyahkan pikiranku yang terus memikirkan Marcus itu.

 

”Hi”sapa seseorang yang sudah duduk dihadapanku, aku menatapnya kaget, Marcus?! Dia duduk di hadapanku sambil tersenyum, anniya, aku sedang bermimpi, pasti bermimpi, kenapa namja itu duduk disini dan kenapa tidak degan teman-temannya itu?!

 

Aku merasakan seluruh tatapan dikantin ini mengarah padaku, juga meja tempat ke enam namja itu berkumpul.

 

Aku tidak berani menatap namja di depanku ini dan makan sambil menunduk namun aku merasakan dia terus menatapku dan tidak menyentuh nampan makan siangnya sama sekali, apa maunya namja ini?!

 

”Bukankan tidak sopan menatap seseorang selama itu”ucapku dengan mendongakan wajahku berusaha menatapnya, aku tidak boleh menjadi pengecut. Pasti dia ingin mengujiku, dia pikir aku menyukainya setelah kejadian kemarin.

 

”Jinjja”ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya padaku, membuatku menahan nafasku, sial kenapa dia senang sekali membuatku seperti ini. Apa maunya sebenarnya? Dia masih mendekatkan tubuhnya padaku dan memiringkan kepalanya menatapku dengan seksama. Ok sudah cukup aku tidak suka ditatap seperti itu.

 

Aku berdiri dari dudukku dan meninggalkannya. Aku mendnegar beberapa bisik-bisik murid disini.Marcus Cho, kau benar-benar mengujiku!

 

 

Author POV

 

Marcus kembali tersenyum begitu melihat Yong Soon keluar kantin, keenam saudaranya menatapnya dari jauh.

 

”Peringatkan dia jangan sampai terlalu jauh”ucap Casey sambil berdiri dari duduknya.

 

”Ya…dia hanya bersenang-senang sama seperti kita…”ucap Spencer.

 

Casey mendelik pada Spencer.

 

”Bukan..yang dia lakukan bukan untuk bersenang-senang…”kata Casey tajam dan dia langsung berjalan meninggalkan meja tempat mereka biasanya berkumpul itu.

 

Spencer menatap satu persatu saudaranya itu.

 

”Kalau memang dia bukan bersenang-senang melakukan itu…biarkan saja…”ucap Vincent dan kemudian berdiri dari duduknya dan keluar dari kantin.

 

Spencer menatap Aiden yang tersenyum penuh arti menatap ke arah Marcus yang masih duduk di tempat Yong Soon tadi.

 

”Menurutku apa yang Vincent katakan benar…biarkan saja…”ucap Henry sambil memakan makan siangnya itu.

 

Spencer bingung dengan tanggapan semua saudaranya dan kemudian menatap ke arah Marcus sambil menggelengkan kepalanya.

 

**

 

Seulong melihat Yong Soon berjalan keluar kelas, dia langsung mengejar langkah gadis itu dengan cepat dan menahan tangannya membuat Yong Soon berbalik.

 

”Yong Soon-ah…aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”ucapnya.

 

Yong Soon menautkan alisnya bingung, namun Seulong hanya tersenyum dan langsung menarik tangan Yong Soon, tanpa mereka sadari Marcus melihat semua yang terjadi, dia menatap tajam Seulong dan mengepalkan tangannya.

 

”Penyihir itu mau melawanku”ucap Marcus menatap Seulong yang berjalan sambil menarik Yong Soon.

 

Seulong mengajak Yong Soon berjalan ke belakang sekolah mereka ke sebuah bukit.

 

”Kenapa kau mengajakku kemari?”tanya Yong Soon begitu sampai disana, Seulong berjalan ke arah semak-semak tidak jauh dari YongSoon berdiri dan menagambil setangkai bunga mawar putih, lalu berjalan kembali ke arah Yong Soon dan memberikan bunga itu padanya.

 

”Igo..bunga mawar putih yang selalu mengingatkanmu pada ibumu..benar kan?”tanya Seulong.

 

Yong Soon kaget kenapa Seulong bisa mengetahui hal itu.

 

”Neo…kenapa kau tahu hal itu?”tanya Yong Soon namun Seulong hanya tersenyum.

 

 

**

 

Yong Soon berjalan menunduk menuju rumahnya, dia menolak diantarkan oleh Seulong, dia benar-benar terkjeut kenapa Seulong bisa tahu mengenai ceritanya itu padahal dia tidak pernah bicara pada siapapun disini, apa Minho yang menceritakannya? Jadi maksudnya setiap pagi memberikanku bunga itu karena dia tahu? Kenapa dia bisa tahu. Pikiran Yong Soon penuh pertanyaan dan yang paling membuatnya heran adalah perkataan Seulong yang mengatakan bahwa dia tahu karena Yong Soon adalah takdirnya.

 

”Ahhh..ada dimana aku ini? Kenapa semuanya aneh?!”ucap Yong Soon sambil memukul kepalanya perlahan.

 

Tiba-tiba Yong Soon merasa seseorang mengikutinya, dia menoleh kebelakang namun tidak ada siapa-siapa, namun perasaan Yong Soon mengatakan ada seseorang yang mengikutinya.

 

”Ehhmmm”seseoranng berdehem disamping Yong Soon, membuat Yong Soon berhenti berjalan dan kaget melihat siapa yang ada disampingnya. Marcus. Bagaimana dia bisa ada disampingku? Pikir Yong Soon.

 

Yong Soon berjalan kembali namum Marcus ikut berjalan disampingnya.

 

”Apa yang kau lakukan dengan pria itu di bukit tadi?”tanya Marcus membuat Yong Soon berhenti berjalan, bahkan dia tahu kemana aku pergi? Pikir Yong Soon lagi.

 

”Bukan urusanmu”jawab Yong Soon cepat.

 

Yong Soon hendak berjalan lagi namun tangan Marcus menahannya, Yong Soon pikir Marcus akan menariknya namun Marcus malah menautkan jari mereka dan mengajak Yong Soon berjalan bersamanya.

 

Yong Soon melirik namja disampingnya yang berjalan menatap lurus ke depan, dia tidak mengerti dengan semua yang sudah terjadi, semuanya aneh buat Yong Soon.

 

Yong Soon POV

 

Aku menelungkupkan wajahku ke atas meja dan menghela nafas berkali-kali, kenapa semuanya terasa aneh disini, di Seoul tidak seperti ini. Arghhh aku bingung, aku melirik sekilas yeoja dihadapanku yang sedang membaca buku aneh, yeoja yang bisa membaca pikiranku, mataku beralih pada dua orang namja yang duduk tidak jauh dariku, namja yang menganggap dirinya adalah takdirku dan yang terakhir tujuh namja dengan kesempurnaan berlebihan menurutku, bagaiman bisa seorang manusia dianugerahi kesempurnaan seperti dan bahkan aku jatuh hati pada salah satu namja sempurna itu. Lagi-lagi aku menghela nafasku.

 

”Kau baik-baik saja?”tanya Yeon Ji menghentikan aktifitas membacanya dan menatapku.

 

Aku duduk dengan benar dan mengangguk perlahan.

 

”Kau yakin?”tanyanya, sekalian saja baca pikiranku, aku malas bercerita. Aku tidak menjawabnya berharap dia akan membaca pikiranku saja. Namun sepertinya tidak, dia kembali melanjutkan bacaannya, sejak kapan dia harus meinta ijin untuk membaca pikiranku.

 

Aku penasaran dengan apa yang Yeon Ji baca yang menurutku membuatnya sangat-sangat serius dan tidak bisa diganggu bahkan dengan kesempatan membaca pikiranku sekalipun dia lewatkan.

 

”Yeon Ji-ya…apa yang kau baca?”tanyaku padanya.

 

Dia menutup bukunya dan menatapku, dia menaikkan bukunya, menunjukan covernya sehingga aku bisa membacanya. ”Demon”, bacaan apa itu?

 

”Apa isinya?”tanyaku lagi.

 

Dia menghela nafas perlahan, lalu menatap meja tempat ketujuh namja itu biasa duduk, lalu kembali ke arahku. Aku bingung dengan ekspresinya.

 

”Ini buku tentang tujuh jenis setan yang masing-masing melambangkan tujuh sifat buruk manusia…Asmodeus lust, Leviathan envy, Beelzebub gluttony, Amon wrath, Belpegor sloth, Mammon greed dan Lucifer pride…mereka terkadang muncul dalam bentuk manusia dengan sifat-sifat dominan sama seperti pencitraan mereka…”ucap Yeon Ji dengan pandangan ke arah tujuh namja itu, aku mengikuti arah pandangan mereka.

 

”Tampak sempurna di mata manusia lain namun hatinya penuh kebencian dengan manusia dan hanya mempermainkan mereka…”

 

Entah kenapa aku membayangkan ke tujuh namja itu sama seperti cerita Yeon Ji, apa yang aku pikirkan tapi hanya perasaanku saja atau mereka memang mirip seperti itu, aku menggeleng-gelengkan kepalaku sementara Yeon Ji terus bercerita.

 

”Menghindari mereka lebih baik..kau tidak tahu seberapa jahat mereka…mereka mengincar satu orang dan merek akan melakukan apapun untuk mendapatkan orang itu..mereka akan membuatmu sangat tertarik dengan segala hal yang dimiliknya sehingga kau terlena dan jatuh pada mereka…”

 

Tiba-tiba Marcus menoleh ke arahku, dia menatapku dengan matanya yang hitam legam itu.

 

”Lucifer…”lirihku.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Fate Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s