FF: Our Secret Part 20(B)

 

Cast       : 1.  All of Super Junior member as theirselves

2. Viozz Shawolelf Magnae GaemGyu as Choi Yong Soon

3. Yhayank kyujong-changmin’yeppa CassieTripleshawolelf as Choi Yeon Ji

4. PriskaKyu BabyEunhyuk EverlastingFriends as Shin Rae Bin

5. Diah Widiyaningsih as Choi Je Ri

6. Dea Maulida as Min Hee Yeon

7. Riani Ps as Shin Hyo Soo

8. Lisa Dhaniar Regina as Eun Ji Soo 

 

Genre   : Friendship, Romance, n genre kagak jelas lainnya….

 

Couple :

Kyuhyun belongs to Choi Yong Soon

Yesung belongs to Choi Yeon Ji

Eunhyuk belongs to Shin Rae Bin

Hangeng belongs to Min Hee Yeon

Donghae belongs to Shin Hyo Soo

Ryewook belongs to Choi Je Ri

 

Yong Soon POV

 

Aku merasakan sebuah tangan besar menarikku begitu aku memasuki rumah, aku tersentak kaget  sontak aku menoleh kea rah tangan yang menarikku itu. sesosok namja tinggi dengan ekspresi wajahnya yang dingin sedang menatapku tajam. Aku sangat mengenal namja yang ada di hadapanku saat ini, tapi sekarang entah mengapa ekspresinya itu sedikit membuatku takut.

 

“Kemana saja kau CHO YONG SOON??” tanyanya dengan menekankan namaku.

 

“Bukankah sudah kubilang tadi, aku habis mencari Yeon Ji. kenapa kau disini??” tanyaku di akhir kalimatku.

 

“Sudah kubilang, aku akan membunuhmu jika kau tidak menuritu kata-kataku” katanya lagi.

 

“Bagaimana mungkin kau marah karena aku mencari Yeon Ji? dia sahabatku, yeojachingu dari salah satu hyungmu, salah satu bagian dari orang yang kau kenal. Bagaimana mungkin kau tidak peduli akan hal itu??” kataku panjang lebar, karena aku kesal bisa-bisanya dia begitu egois.

 

“Aku tidak suka kau pergi dengan namja lain, Ara?!!!!!!” Sahutnya ditengah sela-sela giginya yang terkatup rapat seolah menahan geram.

 

“Mungkin aku tidak akan mencari Yeon Ji dengan namja lain kalau kau lebih sedikit perhatian dan mengajakku bersama-sama mencarinya” jawabku. aku bisa melihat raut wajahnya yang sepertinya begitu kesal dengan kata-kataku. Dia melepaskan genggaman tangannya di tanganku.

 

Aku mengehela nafas. “Sebaiknya kau pulang saja, aku lelah” sahutku lagi.

 

“Aku tidak akan pulang sebelum masalah ini terselesaikan” jawabnya dengan yakin.

 

“Masalahnya apa lagi?? kurasa semuanya sudah beres”

 

“Kau menganggapku tidak perhatian?? Begitukah aku menurutmu?/” tanyanya. Nadanya lebih rendah dan lembut dari sebelumnya, aku bisa mendengar ada rasa penyesalan dalam nada bicaranya.

 

Aku diam. Tidak tahu harus menjawab apa, aku takut dengan kata-kataku aku bisa membuatnya patah karena aku mendengar sebuah ekspresi rapuh dari nada bicaranya.  “Sudahlah, tidak usah bicarakan ini lagi. sebaiknya kau pulang” kataku melemah, Dia terdiam tidak mengatakan sepatah kata. Aku pun terdiam, hingga dia kembali bersuara.

 

“Kalau begitu ajarkan aku agar menjadi seseorang seperti yang kau harapkan. Ajarkan aku untuk menjadi seorang namjachingu yang lebih baik lagi. Jujur saja, untuk berkata seperti ini pun berat bagiku, tapi aku rela melakukannya agar kau pun juga mengerti perasaanku. Aku takut setiap kali kau bersama namja tak peduli siapa pun itu. Semakin lama kau berada disisiku semakin kau membuatku gila” aku mendengarnya mengatakan hal itu, meskipun dengan berbisik tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas karena memang hanya ada aku dan dirinya di ruang tamu ini. dia berdiri membelakangiku, tidak berani menatapku langsung. Aku tersenyum lebih tepatnya terharu, aku tahu dia rela merendahkan dirinya untuk mengatakan itu padaku.

 

Aku melangkah mendekatinya dan memeluknya dari belakang. “Kau tidak perlu berubah menjadi orang lain. Aku menerimamu apa adanya Kyunnie babo. Aku tau kau sangat mencintaiku sampai kau  rela mengatakan hal itu aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu semua, mukjizat sekali bukan??.” jawabku.

 

Dia membalikkan badannya. “Yaaaa CHO YONG SOON!!!!!!!  Susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu dari bibirku tapi tanggapanmu seperti itu. tidak bisakah kau membalasnya dengan sedikit kata-kata romantis pula??” protesnya. Aku tertawa puas melihat ekspresi wajahnya yang protes.

 

“Kau tidak pantas menjadi romantis Kyunnie. Kau malah terlihat bodoh, hahahahahahahahah” tertawaku semakin menjadi.

 

“YAAAAA CHO YONG SOON!!!!!!!!” dia menjitak kepalaku,

 

“Yaaaa Appo….!!!” Kataku sambil mengelus-elus kepalaku, kemudian kembali tertawa karena menurutku ini sangat lucu.. >_

 

“SSSIIIIRRREEEOOOO… Aku pulang…!!!!” katanya lagi dengan jutek. Kemudian dia berjalan meninggalkanku. Kulihat langkahnya sedikit berbeda, sepertinya dia sedikit kaku, apa mungkin dia sangat malu..??? sampai-sampai jalannya menjadi kaku seperti itu.. hahahahahaha terus saja aku tertawa memperhatikannya hingga aku tidak bisa melihatnya lagi di balik pintu.

 

Author POV

 

Seorang gadis berambut sebahu berjalan dengan anggunnya melintasi sebuah koridor yang di pinggir-pinggirnya tertata hiasan yang begitu indah. Dia melangkah anggun memasuki sebuah ruangan dengan membawa beberapa map yang di pegangnya.

 

“Annyong, Jwesonghamnida” sapa yeoja itu kepada sang pemilik ruangan.

 

Seorang laki-laki paruh baya menengok kearah pintu dan tersenyum begitu tau siapa yang mengetuk pintunya. “Masuk saja Hyo Soo-ya” kata laki-laki itu mengizinkan yeoja yang tak lain adalah Hyo Soo masuk.

 

“Ada beberapa dokumen yang harus appa tanda tangani” kata Hyo Soo setelah dia berada tepat di hadapan sang appa.

 

“Baiklah” jawab laki-laki itu yang tak lain adalah Mr.Shin appa Hyo Soo. Mr.Shin tampak serius membaca setiap dokumen yang di bawa oleh putrinya itu dan mulai menandatangi beberapa dokumen itu. setelah selesai menandatangani dokumen itu dia memberikannya kembali pada Hyo Soo.

 

Hyo Soo tampak berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk sebelum meninggalkan ruangan sang appa.

 

“Hyo Soo-ya, bisakah kita bicara sebentar” kata Mr.Shin yang langsung mengurungkan niat Hyo Soo untuk keluar dari ruangannya, Hyo Soo tampak sedikit mengerutkan alisnya tanda bahwa dia sekidit bingung dan penasaran tentang apa yang ingin dibicarakan appanya.

 

Hyo Soo kembali duduk dan memperhatikan appanya yang menarik nafas panjang sebelum akhirnya mulai berbicara. “Bagaimana hubunganmu dengan Donghae..???” Tanya appanya.

 

Pertanyaan Mr.Shin langsung saja semakin membuat Hyo Soo heran, tidak pernah appanya membicarakan kehidupan pribadi mereka di tempat kerja. Hyo Soo menatap persis ke dalam mata appanya untuk mencari tahu sesuatu tentang apa yang sebenarnya ingin dikatakan appanya. “Hubunganku dengan Donghae oppa baik-baik saja, hanya saja belakangan ini kami memang jarang bertemu karena Donghae oppa sibuk dengan segala urusan pekerjaannya dan aku pun sibuk dengan pekerjaanku di perusahaan ini” Jelas Hyo Soo menjawab pertanyaan appanya. Yeoja itu memang sudah kurang lebih dua bulan terakhir bekerja di perusahaan keluarga milik appanya, sehingga dia jarang ada waktu untuk bertemu dengan Donghae, oppadeul Super Junior bahkan saudara-saudaranya sesame yeojachingu member Super Junior.

 

Mr.Shin menghela nafas panjang. “Baguslah kalau begitu, appa senang mendengar hubungan kalian baik-baik saja. Sebenarnya appa ingin membicarakan tentang masa depanmu Hyo Soo-ya………………..” Mr.Shin mulai menjelaskan semua yang ingin dia katakana pada anak satu-satunya itu. dia tau Hyo Soo mungkin akan sedikit keberatan mendengarnya tapi dia berpikir kalau ini demi kebaikan Hyo Soo juga. Dengan penuh perhatian Hyo Soo mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir appanya, meskipun dia terkejut dan hati nuraninya berkata berat, tapi dia sama sekali tak punya niat untuk menyakiti perasaan appanya dengan menolak permintaan appa mentah-mentah. Sekuat tenaga Hyo Soo mencoba agar dia tidak mengeluarkan sedikitpun airmata dan tetap mencoba tenang.

 

 

 

Yeon Ji POV

 

Sesuatu yang terang membuatku terganggu. Aku membuka mataku, matahari sudah menerobos masuk di sela-sela tirai jendelaku. Kulihat serang yeoja paruh baya yang telah menjadi pengasuhku selama ini sedang membuka jendela kamarku.

 

Dengan masih mengerjap-ngerjapkan mata. “Ajuhmaa” panggilku yeoja paruh baya itu, aku bangkit dari tidurku dan duduk bersandar pada ranjang.

 

“Kau sudah bangun Yeon Ji-ya” katanya, lebih tepatnya pernyataan bukan pertanyaan.

 

Aku mengangguk meskipun rasanya aku masih susah untuk menggerakkan anggota tubuhku.

 

“Kata Dokter kau harus banyak istirahat untuk beberapa hari kedepan. Semalam kau ditemukan GiKwang di dalam telpon umum dan kehujanan” jelas Ajuhma padaku.

 

Aku menerawang mencoba untuk mengingat-ingat kejadian semalam. Benar, semalam aku tersesat hingga aku bersembungi di kotak telpon umum untuk berlindung. Ternyata GiKwang yang menemukanku, bagaimana bisa??  Aku berpikir.

 

“Yong Soon-ssi memberitahu Gikwang kalau kau hilang, lalu mereka pergi mencarimu” sahut ajuhma seolah tahu dengan pertanyaan yang sedang mampir di otakku. Lagi-lagi aku mengangguk mengerti.

 

Ajuhma menghampiriku dan duduk di pinggir tempat tidurku. “Ada apa Yeon Ji-ya?? Kau ada masalah..???” Tanya Ajuhma dengan lembut padaku. Aku memeluknya dan mengangguk, dia mengelus rambutku dan membuatku semakin nyaman berada di dalam pelukannya.

 

“Ajuhma tidak akan bertanya apa masalahmu, tapi yang pasti kau harus kuat menghadapi masalahmu itu, dan cobalah untuk menjadi lebih dewasa. Ara..??”

 

Lagi-lagi aku kembali mengangguk, aku mendongakkan kepalaku agar bisa melihat wajah yeoja yang selalu membuatku tenang ini. dia menyentil  hidungku dengan lembut, dan beranjak berdiri. “Ajuhma akan mengambilkan sarapan untukmu” katanya. Aku tersenyum.

 

Aku menyentuh makananku yang diambilkan ajuhma dengan malas-malasan. Rasanya malas sekali memasukkan makanan ke mulutku, aku pun menyingkirkan nampan yang berisi mangkuk makanan ke meja samping tempat tidurku.

 

“Yaaaa, kenapa tidak dimakan??” sahut seseorang, membuatku sedikit tersentak.

 

Kulihat sesosok namja yang sangat kukenal berjalan menghampiriku. Begitu berdiri di sampingku dia mengambil nampan berisi mangkuk-mangkuk makanan dan di taruhnya di pangkuannya. “Kau harus makan Yeon Ji-ya” katany sambil menyodorkan sendok yang telah berisi makanan di depanku.

 

Aku menggeleng pertanda aku tidak mau. “Yaaa… kau harus makan!!!!” paksanya, dan terpaksa aku pun membuka mulut hingga dia menyuapi makanan.

 

“Kenapa kau bisa disini..??? kata ajuhma semalam kau yang membawaku pulang?? Gomawo Gikwang-ah” kataku pada namja yang sedang berada di hadapanku itu.

 

“Tidak masalah bagiku. Masalah besar adalah jika kau tidak mau makan. Aku akan menjadi Gikwang yang cerewet hingga kau mau makan. Ara..??” katanya lagi sambil menunjukkan ekspresi yang sok marah.

 

Aku terkekeh melihatnya. “Ne ara. Aku bisa makan sendiri” aku pun merebut nampan yang ada di pangkuannya.

 

“Johtaaa…” komentarnya sambil tersenyum, aku pun balik tersenyum padanya.

 

Aku menghabiskan semua makanan yang dibawakan ajuhma untukku, rasanya kenyang sekali. Kenapa juga Gikwang harus datang di waktu yang kurang tepat. Dia akan terus berceloteh sampai aku menghabiskan semua makananku.

 

“Sudah kuhabiskan semua, sekarang kau puas..???” kataku sambil manyun

 

“Itu juga demi kebaikanmu Yeon Ji-ya”

 

“Nee… nee.. ara. Geuramyeon, aku bosan disini, kau bisa membawaku jalan-jalan..???” rengekku padaGikwang.

 

Gikwang menempelkan tangannya di keningku untuk beberapa saat. “Kau masih sakit, jadi sebaiknya kau istirahat di tempat tidur saja”

 

“Aku bisa tambah sakit karena bosan disini. ayolah, bawa aku jalan-jalan” aku masih merengek, sambil mengguncang-guncangkan lengan Gikwang.

 

“Kau mau kemana..???”

 

“Namsan tower, otte??”

 

“Sireo, tidak bisa. Bisa celaka kita. Aku bawa kau ke taman belakang rumahmu saja”

 

Aku mengerucutkan bibirku, “Baiklah kalau begitu” detik berikutnya Gikwang langsung menggendongku, membebankan semua berat badanku di kedua lengannya.

 

Aku memberontak kecil. “jangan gendong aku seperti ini” protesku.

 

“Memangnya kau sanggup berjalan sendiri??” tanyanya, aku terdiam. Melihatku yang terdiam dia kembali ingin menggendongku.

 

“maksudku, aku ingin di gendong di punggungmu saja” sahatku pada Gikwang pada akhirnya. Tanpa ragu, Gikwang pun menurunkan sedikit tinggi badannya agar aku bisa naik di punggungnya. Dia mulai berjalan membawaku untuk keluar kamar. Aku mengalungkan tanganku di lehernya.

 

“Kau enteng sekali. Apa kau tidak pernah makan??” komentarnya, lagi-lagi aku hanya manyun mendengar tanggapannya. Ketika kami di depan pintu kamarku, Gikwang hendak membuka pintunya tetapi pintu kamarku ada yang membuka terlebih dahulu. Sontak aku terkejut beitu melihat orang yang ada dihadapan kami sekarang. Kurasakan punggung Gikwang menegang, aku bisa menebak kalau dia juga pasti sangat terkejut melihat orang yang berada di depan kami.

 

Namja yang berdiri di depan kami itu melihatku dan Gikwang secara bergantian. “Yeon Ji-ya” bisiknya, yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Kalian ingin kemana..??” Tanyanya kemudian seperti mencoba berusaha untuk tetap menjaga intonasi bicaranya.

 

“Yeon Ji ingin jalan-jalan. Aku ingin mengantarnya ke taman belakang rumahnya” jawab Gikwang.

 

“Bisakah, aku saja yang mengantarnya sekalian ada yang ingin aku bicarakan padanya” sahut namja yang tak lain adalah Yeppa itu lagi.

 

Gikwang tampak ragu. Aku mencoba untuk melepaskan diri dari gendongan Gikwang meskipun berdiriku agak terhuyung-huyung. Gikwang tetap memegangi pundakku seolah takut kalau-kalau aku akan jatuh. “Kau bisa berjalan sendiri..???” Tanya Gikwang cemas padaku. Aku tidak membalas pertanyaan Gikwang, tetapi lenih memilih untuk berkonsentrasi mengumpulkan semua kekuatanku. Yang aku rasa, tubuhku tak cukup kuat untuk bangkit sendiri meskipun aku sudah sekuat tenaga mengumpulkan semua sisa-sisa kekuatanku.

 

Tanpa aba-aba Yeppa langsung saja menarikku dan menggendong diriku membebankan semua berat badanku di lengannya. Berbeda dengan Gikwang, kali ini aku merasa tidak berani untuk protes. Aku pun memberikan semua beban tubuhku di lengannya, ku kalungkan tanganku ke lehernya, tapi aku tidak sanggup menatap wajahnya.

 

 

 

Author POV

 

“Wookie-ya aku lapar, bisakah aku minta tolong padamu untuk membuatkanku makanan..???” Pinta Heechul dengan sopan pada Wookie.

 

“Sekalian aku juga ya Wookie” sahut Shindong sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Wookie.

 

Wookie menghela nafas dan beranjak dari tempat duduknya. “Baiklah akan kumasakkan makanan” jawab Wookie, Heechul dan Shindong yang mendengar jawaban dari Wookie langsung melonjak-lonjak kesenangan.

 

Wookie tampak mulai menyiapkan bahan dan alat yang akan dibutuhkannya, “Yaaa hyung,, bahan di kulkas habis, siapa yang menghabiskannya.??” Teriak Wookie dari arah dapur.

 

Heechul yang mendengar teriakan Wookie dari dapur langsung saja menengok le arah Shindong sambil memasang wajah sangarnya. “Yaaa Shindong…!!!” kata Heechul seolah sudah dapat menebak kalau Shindonglah pelaku yang menghabiskan semua bahan makanan di kulkas. Sedangkan shindong hanya tersenyum kecut sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Tanggung jawab kau, ayo cepat belanja! Aku sudah kelaparan” perintah Heechul pada Shindong.

 

“Yaaa hyung, aku juga sedang lapar, jadi aku tidak punya cukup tenaga untuk berbelanja” tolak Shindong dengan berbagai alasan.

 

“Aku tidak mau tahu, pokoknya bahan makanan harus ada dan kau yang harus membelinya” sungut Heechul lagi.

 

Wookie geleng-geleng kepala melihat tingkah dua hyungdeulnya yang sedang ribut itu. “Yaa jangan bertengkar, baiklah biar aku saja yang belanja” Wookie mencoba untuk menengahi.

 

Heechul yang mendengar kata-kata Wookie langsung saja menjitak kepala Shindong, “Kau ini” kata Heechul geram.

 

Wookie pun langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa alat penyamaran yang di butuhkannya. Tentu saja agar dia aman dari kejaran-kejaran penggemarnya. Dengan memakai topi, kacamata, lengkap dengan maskernya Wookie keluar dorm untuk membeli beberapa kebutuhan bahan makanan.

 

 

 

Je Ri POV

 

“Baiklah mata kuliah hari ini cukup sampai disini dulu. Sampai bertemu lagi di materi selanjutnya” Mr.Park mengakhiri jam mata kuliahnya.

 

Dengan tidak terlalu bersemangat aku memasukkan kembali buku dan alat tulisku ke dalam tas. Entah mengapa hari ini aku malas sekali. Enaknya kemana ya..?? aku binggung, aku merasa hidupku belakangan ini sungguh tidak ada gairah.

 

“Je Ri-ya.. kau mau kemana setelah inu..??” Tanya seorang teman sekelasku di samping tempat dudukku yang bernama Kim Hae Na

 

“Entahlah, mungkin aku akan berbelanja dulu untuk kebutuhan rumah, kau sendiri..???” jawabku dengan diakhiri pertanyaan basa-basi.

 

“Aku dan teman-teman yang lain ingin karokean, stress sekali rasanya dengan segala rutinitas. Kau mau ikut..???” Ajaknya

 

“Mungkin lain kali saja” tolakku sambil tersenyum agar dia tidak terlalu kecewa.

 

“Baiklah, mungkin lain kali. Kalau begitu aku duluan, hati-hati ya” pamit Hae Na kemudian pergi meninggalkanku.

 

Aku mulai melangkahkan kakiku keluar kelas setelah Hae Na meninggalkanku terlebih dahulu. Di tengah jalan aku mengecek kembali barang-barang belanjaan yang akan aku beli terlebih dahulu. Kuperhatikan dengan seksama daftar belanjaan yang kupegang. “Baiklah, saatnya menuju tempat kebutuhan makanan sehari-hari. Je Ri-Ya Fighting..!!!!” kataku sambil menyemangati diri sendiri.

 

Aku mulai memilih-milih apa yang akan kubeli. Dimulai dari buah-buahan, sayur-sayuran sampai kebutuhan rumah. Sepertinya aku juga akan memasakkan Rae Bin eonnie masakan special. Lagipula aku belum menjenguk Yeon Ji, sekalian aku juga ingin memasak untuknya juga.

 

Ditengah kesibukanku memilih barang-barang, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Sejenak aku menghentikan kegiatanku dahulu begitu kulihat pada layar ponselku ternyata yang menelpon adalah Jun Hyung.

 

“Yoboseyo” sapaku pada Jun Hyung di seberang sana.

 

“Bertemu sekarang..??? kau ada di Seoul..?? ada kabar apa..??” tanyaku secara berturut-turut. “Ok, kita bertemu di taman kota. Tunggu aku disana lima belas menit lagi” lanjutku, tanpa pikir panjang pun aku langsung melangkahkan kakiku menuju taman kota.

 

Wookie POV

 

“Sebaiknya mamasak apa ya untuk hyungdeul. Hhhmmm mungkin lebih baik aku buatkan kimbab saja” gumamku pada diri sendiri di sepanjang jalan sambil memilih-milih barang belanjaanku. Namun tiba-tiba saja aku melihat sesosok yeoja yang sangat aku kenal. Aku yakin 100% itu pasti Je Ri. Kulihat dia menoleh ke arahku namun setelah aku tersenyum dia segera menolehkan kepalanya kea rah lain. Mungkin dia tidak melihatku atau tidak menyadari kalau aku Wookie namjachingunya. Aku pun menghentikan kegiatan memilih-milihku dan lebih berniat untuk menghampirinya saja. Beberapa langkah lagi aku dapat menyentuhnya, tiba-tiba saja diganggu oleh ponselnya yang berbunyi. Dia menyingkir untuk mengangkat telpon yang entah dari siapa.

 

Aku masih pura-pura tidak mengenalnya dan dengan berpura-pura memilih barang-barang yang ada di hadapanku. Aku mendengar beberapa kelimat percakapannya dengan seseorang yang ada di seberang sana.

 

“Bertemu sekarang..??? kau ada di Seoul..?? ada kabar apa..??” katanya. Nada suaranya tampak serius sekali. Setelah itu dia langsung melangkah dengan terburu-buru.

 

Tanpa pikir panjang aku mengikuti arah langkahnya. Aku penasaran siapa yang akan ditemuinya sepertinya penting sekali. Bukan berarti aku sengaja memata-matainya. Aku percaya padanya, hanya saja aku sedikit penasaran.

 

Author POV

 

Seorang yeoja manis yang tak lain adalah Choi Je Ri dengan terburu-buru menghampiri seorang namja yang sedang duduk di bangku taman kota. “Jun Jyung-ah..” sapa Je Ri begitu dia telah berada di hadapan namja itu.

 

Namja yang bernama Jun Hyung itu hanya menatap Je Ri dengan sendau, sehingga mampu membuat Je Ri bingung dengan apa yang terjadi padanya. “Waeyo Jun Hyung-ah” Tanya Je Ri mulai cemas dengan ekspresi yang di tunjukkan Jun Hyung pada dirinya. Je Ri duduk persis disamping Jun Hyung.

 

“Apakah ini yang harus terjadi padaku? Sungguh aku sangat sedih Je Ri-ya” jawab Jun hyung dengan ekspresi wajah yang menyimpan kesedihan mendalam.

 

“Ada apa? Apa yang terjadi..??” Je Ri pun sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

 

“Kenapa yeodongsaengku harus pergi secepat itu. yang membuatku sakit, aku tidak bisa melihatnya di detik-detik terakhir kepergiannya. Oppa macam apa aku ini..??” Jun Hyung tampak memukul-mukul kepalanya.

 

Dengan sergap Je Ri langsung mencegah tindakan Jun Hyung yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri. “Jwesonghamnida. Aku bisa merasakan kesedihanmu. Jun Hyung-ah kau harus kuat. Buktikan pada Ji Hyun yeodongsaengmu kalau kau akan baik-baik saja. Ji Hyun pasti sedih disana kalau kau seperti ini terus. Fighting Jun Hyung-ah..!!! ada aku disini bersamamu” Je Ri memberikan semangat pada Jun Hyung sahabat kecilnya itu.

 

“ada satu yang membuatku sangat menyesal padanya Je Ri-ya, aku belum mengerjakan sesuatu seperti apa yang dimintanya dariku. Ji Hyun memintaku berjanji padanya untuk membawa gadis yang kucintai dihadapannya. Aku kesini bermaksud untuk menemui yeoja yang aku cintai itu dan membawanya ke Busan. Tapi Ji Hyun telah pergi sebelum aku berhasil membawa yeoja yang kucintai itu ke hadapannya” jelas Jun Hyung.

 

Je Ri terdiam. “Kau pasti tau siapa yeoja yang kucintai itu” lanjut Jun Hyung. Je Ri memang tahu siapa yeoja yang dicintai Jun Hyung, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali bingung, tiba-tiba saja Jun Hyung telah menggenggam tangan Je Ri dan menatap ke dalam matanya. “Je Ri-ya, yeoja yang sangat aku cintai itu adalah kau”

 

Je Ri menunduk menghindari tatapan mata Jun Hyung. Dia memang sangat menyayangi Jun Hyung tapi hanya sebagau sahabat dan juga oppa, hatinya menyangkal kalau dia mencintai Jun Hyung karena dia tahu namja satu-satunya yang dia cintai adalah hanya Wookie seorang meskipun keadaannya hubungan mereka memang sedang renggang. Tapi untuk menolak Jun Hyung rasanya itu juga sama saja membunuh dirinya sekali. Je Ri akan sakit setiap Jun Hyung sakit, apalagi jika sekarang dialah yang akan membuat sahabatnya itu sakit. Cukup dengan Jun Hyung kehilangan yeodongsaengnya Ji Hyun, Je Ri tidak ingin menambah luka itu lagi di hati Jun Hyung. Tapi jujur saja dia bingung. Kalau bisa dia tidak ingin memilih.

 

“Jun Hyung aku……” Je Ri tampak berpikir untuk melanjutkan kata-katanya.

 

“Tidak perlu kau teruskan aku sudah tau jawabanmu” potong Jun Hyung sambil melepaskan genggaman tangannya dari Je Ri.  “Lupakan saja, aku tahu dengan siapa hatimu berlabuh. Bagiku telah mengatakan semuanya pun itu sudah cukup membuatku lega. Gomawo sudah memberikanku kesempatan untuk jujur Je Ri-ya, kuharap tidak ada yang berubah di antara kita meskipun aku telah mengkhianati persahabatan kita dengan merusaknya dengan perasaanku” Jelas Jun Hyung.

 

“Aku tidak akan berubah. Aku tetap sahabatmu Jun Hyung-ah” sahut Je Ri sambil menyentuh punggung telapak tangan Jun Hyung seolah memberikan sebuah semangat yang tak terhingga untuk namja tampan itu.

 

 

 

Rae Bin POV

 

Aku mengtak-atik channel TV dengan sembarang. Sebenarnya aku sedang tidak mood menonton TV tapi apa boleh buat, aku bosan sekali. Seharusnya Je Ri telah pulang daritadi tapi sampai sekarang dia belum juga pulang. Kemana dia sebenarnya..???

 

Tettt…tet…tet…

 

Bunyi bel apartemenku berbunyi, aku kira itu mungkin Je Ri. Aku beranjak dari sofa tempat dimana aku duduk. Kulihat dari layar ternyata yang datang bukan Je Ri tetapi Taecyeon. Ada apa dia datang ke apartemenku..??? aku ragu ingin membukakannya pintu atau tidak. Tapi aku peasaran juga dengan kedatangan Tecyeon, tidak biasa-biasanya dia datang kesini. Aku pun membuka pintu apartemenku.

 

“Annyong Rae-ya” sapa Taec sambil tersenyum ramah. Aku pun juga tersenyum.

 

“Ada apa kesini Taec-ah, tumben sekali..???” sahutku padanya.

 

“Memangnyatidak boleh aku datang kesini..??” dia bertanya, pertanyaan itu membuatku sulit untuk menjawabnya.

 

“Tentu saja boleh” jawabku pada akhirnya, meskipun agak sedikit kaku.

 

“Hahahahaha… tidak usah tegang begitu juga Rae-ya, aku hany bercanda. Aku datang kesini hanya untuk mengembalikan barangmu yang tinggal di mobilku. Igo…” kata Taec padaku, jujur saja aku sedikit lebih lega mendengarnya.

 

Aku pun menerima barangku yang ketinggalan dari tangan Taec. “Gomawo Taec-ya” kataku pada Taecyeon sambil tersenyum padanya.

 

Dia tampak menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal sambil nyengir, “Ne cheonmane Rae-ya” jawabnya.

 

“RAAAEEE-ya…!!!!”  aku mendengar sebuah suara lain dari sumber yang berbeda memanggil namaku. Seperti insting, aku pun langsung menoleh ke sumber suara.

 

Aku melihat sesosok namja kurus yang memakai topi, masker dan lengkap dengan kacamanya. Tanpa ragu aku berani jamin kalau itu pasti Hyukkie. Dia melepaskan kacamata yang sedang dipakainya dengan kasar lalu menatao ke arahku dengan tajam.

 

Dari tatapannya aku dapat menangkap kalau dia marah besar. Apakah dia marah karena ada Taec yang datang ke apartemenku. “Hyukkie” gumamku pada diri sendiri.

 

“sepertinya aku mengenal orang itu” kata Taec yang tampak berpikir.

 

“Cukup bagiku mengetahuinya” kata Hyukkie lagi. aku yakin dia pasti salah paham padaku. Kulihat Hyukkie langsung pergi mengambil langkah seribu meninggalkan aku dan juga Taecyeon di tempat kami.

 

Aku ingin memanggil namanya, tapi kuurungkan niatku karena takut kalau akan membongkar identitasnya. Aku pun bermaksud untuk mengejar Hyukkie yang salah paham denganku sebelum dia pergi jauh.

 

Namun sebuah tangan kekar yang besar menghalangiku.”Oddiega..??? Nugu..???” Tanya Taec penasaran.

 

“Biarkan aku pergi” aku menepis tangan besar Taec dari lenganku dan lebih memilih untuk mengejar Hyukkie dan menjelaskan semuanya padanya.

 

Advertisements

4 thoughts on “FF: Our Secret Part 20(B)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s