FF: LOVE’S WAY – LET’S NOT

 

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hyo Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

 

25.    LET’S NOT

 

 

Sudah dua bulan sejak kejadian itu, Siwon Oppa sudah kembali ke Jepang dan dia sangat rajin menghubungiku. Dia memintaku untuk tinggal di apartemennya saja tapi aku menolak aku tidak mau pindah dari rumah ini. Aku masih ingin tinggal disini karena aku bisa merasakan bahwa ibu masih ada disini. Hyo Jin dan nenek juga menyuruhku untuk tinggal kembali bersama mereka, namun entahlah aku tidak mau, aku masih ingin disini seperti kataku tadi. Aku tidak ingin bersedih lagi namun jujur kenangan bersama ibu masih terus terngiang di otakku dan mungkin itu satu-satunya cara agar aku tetap merasa kalau ibu masih ada adalah dengan tetap tinggal disini bersama semua kenangan-kenangan yang pernah ada, agar saat aku rindu aku hanya tinggal berkeliling rumah dan mengingat-ingat semua yang pernah aku lakukan bersama ibu. Aku terbangun dari tidurku dan beranjak keluar kamar.

”Pagi…”seru sebuah suara yang mengagetkanku.

”Oppa..”seruku begitu melihat jelas siapa yang berbicara.

Apa yang ada di pikiran Oppaku datang sepagi ini? Kulihat dia sedang sibuk memasak.

”Oppa ini masih pagi sekali tau…”seruku sambil berjalan duduk di kursi di dapur. Ya Donghae Oppa semenjak kejadian itu sering sekali ke rumah. Setiap pagi dan sore hari sepulangnya dari kuliah, dia pasti kesini untuk sarapan dan makan malam bersama. Tapi untuk hari ini sepertinya terlalu pagi.

”Aku harus berangkat lebih awal hari ini…”serunya sambil terus merapihkan meja dan menaruh makanan yang sudah siap ke atas meja.

”Sudah sana mandi habis itu sarapan…kau di jemput Taemin kan? Jadi aku pergi duluan ya…”seru Donghae Oppa.

Aku hanya mengangguk dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Tak lama kemudian aku sudah siap memakan seragam dan berjalan ke meja makan. Aku melihat Donghae Oppa sedang makan sambil membaca buku. Apa dia ada tes hari ini? Sibuk sekali dia. Aku duduk dan mulai makan.

”Oh ya hari ini mungkin aku tidak bisa memberikan pelajaran tambahan untukmu…”seru Donghae Oppa masih sambil makan dan membaca buku.

Asyik, jujur aku sudah bosan sekali. Karena sebentar lagi aku akan ujian akhir dan sepertinya Oppaku melihat nilai matematikaku tidak menunjukan nilai yang memuasakan. Dia berinisiatif untuk memberikanku les yang sudah dimulai beberapa minggu yang lalu. Ya sekarang aku sedang fokus untuk ujian akhirku, aku pun sudah tidak bekerja paruh waktu lagi dan Siwon Oppa lah yang sekarang membiayaiku. Sebenarnya aku kasihan padanya, disana dia harus bekerja sambil kuliah tapi dia bersikeras karena sekarang akulah tanggung jawabnya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

”Ya…kau ini malah senang tidak belajar…”seru Donghae Oppa.

”Habisnya aku bosan juga Oppa…”seruku.

Memang sih diajar olehnya itu menyenangkan tapi tetap saja kalau setiap hari dijejalkan rumus-rumus itu terus otakku pusing. Di tambah lagi Taemin punya ide yang sama brilliantnya dengan Donghae Oppa, mulai kemarin dia berjanji akan mengajariku Pengetahuan Umum. Aigoo, memangnya aku sebodoh itu apa. Jadi kalau di pikir-pikir untuk ujian akhir nanti aku hanya mahir di dua subjek, yaitu Bahasa Inggris dan Sastra Korea dan kesemuanya adalah bahasa sedangkan untuk eksakta tidak ada yang aku bisa. Aisshh, sepertinya kalau kuliah nanti aku lebih memilih ambil bahasa saja. Berbicara tentang kuliah saja aku masih bingung aku mau kemana, mungkin diantara teman-temanku akulah yang paling tidak pasti. Aku sendiri juga bingung.

 

 

Donghae Oppa sudah pergi dan sekarang aku masih dirumah menunggu Taemin yang mau menjemputku. Entah kenapa aku senang saat-saat aku sendirian di rumah ini. Selalu mengingatkanku dengan ibu. Terutama saat-saat terkahirku bersama ibu. Jujur aku merindukannya sekarang, sangat merindukannya. Aku memejamkan mataku dan kembali mengulang saat-saat aku bersama ibu dirumah ini. Aku tersenyum sendiri dalam ingatanku. Setelah beberapa lama, aku membuka mataku dan berjalan menyusuri setiap inchi rumahku mengingat kejadian apa saja yang pernah terekam disitu. Aku menyentuh beberapa figura foto yang berisi fotoku dan ibu. Tanpa terasa air mataku malah mengalir turun. Aku memang sudah berjanji untuk tidak menangis lagi dan menjadi gadis yang tegar tapi tetap saja itu sulit, aku terduduk dan bersandar di salah satu lemari dan menelungkupkan wajahku di antara kedua kakiku. Air mataku terus turun. Ibu aku rindu padamu. Aku berusaha menangis tanpa mengeluarkan suara. Tiba-tiba aku merasa pintu rumahku diketuk. Itu pasti Taemin. Aku segera bangkit dan mengahpus air mataku dengan segera sebelum aku mengambil tasku dan beranjak membuka pintu.

”Annyeong…”sapaku padanya sambil berusaha tersenyum agar dia tidak melihat bahwa aku habis menangis.

”Kau habis menangis lagi…”serunya sambil menyentuh pipiku dengan tangannya dan mengusapnya.

Aku hanya bisa menunduk  tidak berani menatapnya karena aku yakin aku tidak akan bisa  berbohong padanya. Dia menyentuh daguku dan mendongakannya sehingga mataku langusng menatapnya. Dia menatapku seakan mencari jawaban. Lama dia menatapku. Sampai akhirnya di melepaskan tangannya dari daguku.

”Kau tahu setiap melihatmu menangis aku menjadi bingung apa yang harus aku lakukan untuk membuat senyuman itu ada lagi di wajahmu…”serunya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

”Kajja…”serunya sambil berjalan mendahuluiku.

Aku mnegikutinya dari belakang. Mianhe Taemin, kau pasti selalu melihatku menangis terus. Aku akan berusaha untuk tidak menangis lagi.

 

 

Key POV

Hari ini dia datang sama paginya seperti biasa dan seperti biasa pula tidak ada senyum yang biasa dia tunjukan pada semua orang. Dia hanya berjalan menuju mejanya tanpa sekalipun tersenyum pada orang yang lewat janganlan senyum menoleh saja tidak. Sejak kematian ibunya dia menjadi seperti itu. Dia terlihat aneh, meski dia berusaha ceria tapi tetap saja terlihat kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Meski dia sedang bersenda gurau dengan temannya tetap saja dia terlihat seperti bukan sedang ada disini. Pandangannya seperti menerawang. Sungguh aku menjadi sedih melihatnya seperti ini, aku ingin sekali berusaha menghiburnya tapi bagaimana, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Aku ingin sekali melihat keceriaan dia yang dulu tapi bagaimana. Aku sudah berjanji untuk melupakannya dan akan lebih baik jika aku menjaga jarak dengannya. Tanpa sadar aku malah menatapnya lama sekali dan sekarang dia sedang menatapku ke arahku juga.

”Ya! Apa kau lihat-lihat…”seruku sambil pura-pura terlihat tidak suka.

Dia hanya tersenyum, baru kali ini kulihat dia tersenyum seperti itu, senyum yang biasa dia tunjukan padaku. Diam-diam aku merasa senang dia bisa tersenyum seperti itu meski kesedihan masih tergambar jelas di matanya namun paling tidak senyum yang sekarang dia tunjukan adalah senyuman yang tulus, bukan senyuman pura-pura seperti sejak kematian ibunya.

”Ya!kenapa kau malah senyum-senyum seperti itu…”seruku sambil menatap tajam ke arahnya.

Kali ini dia malah terkekeh pelan. Dasar cewek aneh.

”Dasar cewek aneh…”gumamku sambil mengalihkan pandanganku. Sebenarnya aku tersenyum melihatnya bisa seperti dulu lagi.

Sekarang dia malah tertawa.

”Dasar Key babo!”serunya.

Aku pun langsung menoleh ke arahnya dan membelalakan mataku. Dasar cewek ini, tidak pernah bicara padaku sekalinya bicara malah memanggilku babo.

”Aku sudah lama tidak memanggilmu babo…”lanjutnya.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menghampiri mejanya dan duduk tepat di depannya. Langsung aku pukul kepalanya dengan buku yang sedang dia baca.

PLETAKK

”Sakit tau!”serunya sambil mengusap-usap kepalanya yang tadi kupukul.

”Enak saja kau memangilku babo..”seruku lagi sambil memanyunkan bibirku.

”Habisnya kenapa kau menatapku terus tadi..hah…”serunya.

Matilah aku, harus aku jawab apa. Tak mungkin aku bilang kalau aku sedih melihatnya seperti ini, aku sudah berjanji padanya untuk mengubur perasaanku dalam-dalam karena dia tak mungkin bisa menerima hatiku.

”Terserah aku…mau liat kemana kek…bukan urusanmu…”seruku sambil mengalihkan pandanganku agar dia tidak tahu kalau aku sedang berbohong padanya.

Dia tertawa.

”Aku benci padamu Key!”serunya tiba-tiba.

”Mwo? Memangnya apa salahku?”tanyaku.

Kenapa anak ini? Memangnya aku pernah berbuat salah padanya.

”Kenapa akhir-akhir ini kau menjauhiku? Kau juga tidak menghiburku waktu ibuku meninggal…kau malah cuek sekali…kau tidak tahu apa kalau aku sedih sekali…”ceritanya.

Aku hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin cerita padanya bahwa aku sedang berusaha melupakannya.

 

Hye Jin POV

Aku menatap matanya mencari jawaban disitu. Apa dia masih menyukaiku? Itu pertanyaan yang muncul begitu melihatnya menjadi sosok yang aneh beberapa minggu ini. Apa aku terlalu egois untuk memintanya tidak menyukaiku lagi? Aku melakukan ini untuk kebaikannya, aku tidak mau dia terus sakit melihatku bersama Taemin. Karena aku tidak bisa menerima perasaannya. Aku sayang padanya tapi hanya sebatas seorang sahabat. Aku suka Key dia sangat lucu dan bisa membuatku tersenyum tapi hanya sebatas itu rasa sukaku padanya tidak lebih dan aku juga tidak mau memberi harapan lebih pada Key maka aku memintanya melupakanku dan tetap menjadi seorang sahabat disampingku.

”Aku hanya sedang sibuk…untuk apa kau tanya-tanya itu…”serunya secuek biasanya.

Namun aku tahu dia berbohong padaku. Dasar Key.

”Babo memangnya aku bisa dibohongi…pasti bukan itu…kau tidak sedang sibuk…”seruku.

”Ya!bukan urusanmu tau…”serunya lalu kembali menjitak kepalaku.

”Key!”seruku dan membalasnya dengan memukul kepalanya berkali-kali dengan bukuku.

Dia meringis kesakitan dan akhirnya kami malah tertawa. Sudah lama sekali rasanya tidak tertawa seperti ini. Aku senang Key bisa tertawa seperti itu lagi, tawa yang selalu membuatku ingin tertawa juga. Key terima kasih kau telah membuatku tertawa. Kau memang sahabat terbaikku.

 

 

 

Taemin POV

Sepertinya aku tahu kenapa Key begitu penting untuk Hye Jin, Key selalu bisa membuatnya tersenyum. Aku bisa melihat Hye Jin tertawa dengan tulusnya tidak seperti beberapa waktu yang lalu. Apakah Hye Jin menyukai Key?. Aku ingin sekali bertanya hal itu pada Hye Jin tapi entahlah aku tidak pernah bisa mengutarakannya. Jujur aku tidak tahu harus marah atau senang melihatnya bersama Key. Di satu sisi aku cemburu padanya tapi disisi yang lain aku senang melihat Hye Jin bisa tersenyum seperti dulu lagi. Aku hanya menatap mereka dari balik pintu kelasnya. Sebenarnya tadi niatku datang kesini untuk bertemu dengan Hye Jin tapi begitu aku ingin masuk melihatnya sedang bercandan dengan Key, aku mengurungkan niatku. Aku segera beranjak dari tempat ku berdiri dan berjalan kembali menuju kelasku.

Di sepanjang jalan aku masih mengingat kejadian tadi. Ya aku cemburu pada Key yang bisa membuat Hye Jin tersenyum seperti itu. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Akku segera menoleh.

”Kau jalan sambil melamaun seperti itu..”seru Minho hyung yang sudah berjalan di sampingku.

Aku hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.

”Ada masalah dengan Hye Jin?”tanyanya.

”Andwe…”jawabku cepat.

”Apa masalah hyungmu?”tanyanya lagi.

Ya masalah itu memang sedang aku pikirkan sekarang. Kakakku memintaku melanjutkan pendidikanku di Australia. Dia ingin agar aku menjadi seoarang dokter sama seperti dia, padahal aku sama sekali tidak tertarik menjadi seorang dokter, aku ingin seperti ayah. Ayah sedang menjalani pengobatan penyakitnya di Jerman, jadilah kakakku yang mengurusku. Hah menyebalkan sekali kenapa dia sok bertindak layaknya orang tuaku. Aku tidak benci padanya tapi juga tidak suka padanya. Jadi hubunganku sangat kaku dengannya. Dia selalu mengaturku dalam segala hal dan itu sangat menyebalkan. Sama seperti kali ini dia memaksaku untuk melanjutkan pendidikanku di Australia sama seperti dia. Kalau sudah begitu tidak akan ada yang bisa menghalanginya dan biasanya ibu dan ayahku akan mneyetujuinya dan aku tidak mungkin membantah permintaan mereka. Terkadang aku berharap aku terlahir sebagai anak tunggal.

”Kau akan mengikuti keinginannya?”tanya Minho hyung lagi.

Aku tidak menjawab pertanyaannya yang pertama karena aku yakin dia tahu masalahnya.

”Ne…dia sudah bilang begitu…tidak akan ada yang bisa mengubahnya…ini bukan demi dia tapi demi orang tuaku…kalau bukan orang tuaku ikut menyuruhku aku juga tidak akan mau hyung…”seruku.

Lama kami terdiam, Ya hanya Minho hyung saja yang tahu tentang hubunganku yang tidak harmonis dengan kakakku bahkan Hye Jin pun tidak tahu akan hal ini, waktu itu dia hampir menanyakannya saat ulang tahun itu dan untungnya aku bisa menghindari pertanyaan itu. Bukan karena aku tidak mau jujur padanya tapi aku tidak mau membicarakan orang itu.

”Bagaimana hubungnmu dengan Hye Jin?”tanya Minho hyung tiba-tiba.

Aku terkejut mendengarnya bertanya seperti itu. Ya itu juga menjadi masalah, aku belum cerita pada Hye Jin mengenai hal ini, aku tidak sanggup harus menceritakannya, aku tidak mau pisah dengannya. Aku sangat mencintainya tapi mau bagaimana lagi?dia hanya tahu aku akan tetap melanjutkan pendidikanku di Korea. Mungkin aku harus mencari waktu yang tepat untuk bercerita padanya. Aku tidak mau membutanya tambah sedih dengan hal ini.

”Molla…”jawabku setelah terdiam beberapa saat.

”Kau akan pulang kesini lagi kan?jadi tidak apa-apa…”seru Minho hyung.

”Aku juga tidak tahu aku akan kembali kesini lagi atau tidak….sepertinya kali ini orang tuaku ingin aku tinggal bersama dia…”seruku lagi.

Nah itu alasan kenapa aku belum juga cerita pada Hye Jin. Aku tidak mau meninggalkannya tapi aku juga tidak mungkin menolak permintaan orang tuaku.

”Kau mencintainya kan? tetaplah pertahankan itu…”serunya lagi sambil menepuk bahuku.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aisshh, aku bingung. Apa yang harus aku lakukan?

 

 

 

 

Hye Jin POV

”Taemin-ah…sudah ya…aku capek…”seruku padanya yang masih saja menjejalkan otakku dengan soal-soal ini.

Dia hanya terkekeh pelan dan malah menambahkan selembar kertas lagi yang berisi soal-soal. Sungguh dia sangat tega pada pacarnya sendiri. Memangnya otakku sama jeniusnya seperti dia.

Aku hanya menghela nafas perlahan dan menelungkupkan wajahku ke atas meja. Aku melihat ke arah jam dinding rumahku. Sebentar lagi Donghae Oppa akan pulang dan itu berarti penderitaanku yang kedua akan dimulai. Aku menghela nafas lagi dan mengerucutkan bibirku. Aku berusaha konsetrasi mengerjakan soal yang Taemin berikan tapi bukannya mengisinya dengan jawaban aku malah menggambar tidak jelas. Aku bosan. Aku beralih menatap Taemin yang masih sibuk dengan soal-soal yang dia kerjakan. Dia tampak sangat manis saat sedang serius seperti ini. Dia serius sekali

”Apa aku sangat tampan sampai-sampai kau melihatku seperti itu?”tanyanya tiba-tiba tanpa mengalihkan padangannya dari soal yang sedang dia kerjakan.

”Aisshh…dasar narsis…kau sama seperti Donghae Oppa selalu bilang dirinya tampan..”seruku.

Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.

”Tapi aku memang tampan kan?”tanyanya sambil menatapku.

Aku buru-buru mengalihkan tatapanku agar dia tidak tahu bahwa mukaku sudah memerah sekarang karena malu mendengar pertanyaannya.

Dia menggeser duduknya dan kini dia sudah ada disampingku. Jantungku langsung berdegup sangat kencang.

”Aku memang tampan kan?”tanyanya tepat di depan wajahku.

Aku hanya terpaku melihat wajahnya yang hanya beberapa senti saja dari wajahku. Aku merasakan jantungku semakin berdegup sangat kencang. Sampai…

TUKK

”Kerjakan soalnya…”serunya lagi sambil memukulkan pensil ke kepalaku.

Dia pun menjauhkan wajahnya dan kembali ke posisinya semula.

”Dasar jahat!”seruku sambil menayunkan bibirku dan kembali mengerjakan soal yang dia berikan.

”Jahat kenapa? Jangan-jangan kau berharap aku menciummu ya?”tanyanya tiba-tiba.

Dan itu langsung membuat mukaku merah.

”Dasar yadong!”seruku padanya sambil melepmparkan pensil ke arahnya namun  dengan sigap dia menangkap pensil itu sebelum sampai ke kepalanya.

”Tapi memang kau berharap begitu kan?”tanyanya lagi sambil tersenyum.

”Taemin!!”seruku.

Dan kulihat dia hanya tertawa dan kembali asyik dengan soalnya.

 

Taemin POV

Apakah memang Key benar-benar bisa mengubahnya seperti ini hanya dalam sehari? Aku jadi ingat kejadian tadi dan melihat Hye Jin yang kembali sudah bisa cemberut seperti biasanya. Ya dia sudah kembali seperti semula, sudah lama tidak melihat dia cemberut seperti itu. Aku tersenyum sambil mengerjakan soal. Hemm, aku jadi penasaran ingin bertanya padanya apakah dia mencintaiku atau tidak? Sejauh ini aku jarang sekali mendengarnya bilang ’saranghae’ padaku.

”Hye Jin-ah…”seruku.

”Hemm…”serunya tanpa menoleh dan tetap menatap soal-soalnya.

”Hye Jin-ah…”seruku lagi.

Kali ini dia berhenti menulis dan menatapku.

”Waeyo?”tanyanya.

Namun baru aku ingin bertanya padanya seseorang datang dan ternyata itu Donghae hyung.

 

Hye Jin POV

”Annyeong…”seru sebuah suara masuk ke dalam rumah. Itu pasti Donghae Oppa.

”Annyeong…”sapaku dan Taemin bersamanaan.

”Oh…ada Taemin juga…”seru Donghae Oppa sambil tersenyum penuh arti ke arahku.

Dasar, apa yang dia pikirkan! Kami Cuma belajar saja kok.

”Bagaimana kabarmu Taemin?”tanya Donghae Oppa yang tiba-tiba sudah duduk di samping Taemin.

Hemm, alamat akan dicuekin deh, kalau Donghae Oppa sudah bertemu Taemin pasti deh mereka akan sibuk mengobrol dan pasti aku akan dicuekin.

”Baik…bagiamana dengan hyung?”tanya Taemin.

”Baik sekali…ternyata ada juga yang mau mengajari dongsaengku ini…dia memang sangat parah…”seru Donghae Oppa.

”Ya!Oppa aku tidak sebodoh itu tau..bahsa inggrisku jauh di atasmu…”seruku.

”Ne…itu kan karena kau pernah tinggal di luar negeri coba kalau kau sejak lahir disini kau akan sama sepertiku…ya kan Taemin…”seru Donghae Oppa meminta persetujuaan Taemin.

Dan kulihat Taemin hanya terkekeh pelan. Dasar mereka berdua sama saja, sama-sama narsis, sama-sama suka meledekku. Aku memanyunkan bibirku dan kembali asyik mengerjakan soal kembali. Terus saja meledekku, lihat saja nanti akan ku balas. Gerutuku dalam hati

 

Hari ini entah ada angin apa, mereka berdua yang menyiapkan makan malam, sementara aku disuruh menunggu saja sampai makanan siap. Tumben mereka sangat baik padaku. Aku menunggu sampai makanan siap sambil menonton Tv. Tak lama kemudian makanan sudah dihidangkan di atas meja.

”Hye Jin-ah…ayo makan!”teriak Donghae Oppa memanggilku.

Aku pun berjalan menuju meja makan dan melihat banyak sekali makanan yang terhidang. Wow apa akan ada pesta.

”Ini untukmu yang sudah berusaha keras hari ini belajar…”seru Taemin sambil tersneyum.

Aku memabalasnya dengan senyuman dan langsung mencoba makanan itu.

”Gumawoyo…”seruku pada mereka berdua.

Kami makan malam sambil bercerita. Seperti biasa Donghae Oppa dan Taemin bersekongkol untuk meledekku. Padahal aku pikir mereka sudah sangat baik mau membuatkan makan malam tapi ternyata tetap saja ada niat lain. Dasar dua cowok ini.

”Taemin-ah…kau mau melanjutkan kemana?ah pasti kau mau ke Seoul University kan? kau pasti bisa diterima disana?”seru Donghae Oppa.

Oh ya aku belum pernah bertanya padanya kemana dia akan melanjutkan pendidikannya tapi aku yakin di tempat mana saja Taemin pasti diterima. Aku menatapnya menunggu jawaban darinya namun dia hanya tersenyum simpul.

”Molla…aku belum tahu mau memilih yang mana…”jawabnya.

Tentu saja pasti dia sudah banyak diterima di berbagai universitas tinggal dipilih saja mana yang dia mau. Teman-temanku sudah mulai sibuk mengikuti ujian universitas dan sepertinya aku akan memilih Kyunghee saja. Aku sudah mendaftarkan diriku beberapa waktu yang lalu disana.

 

 

Sejak itu kami mulai sibuk masing-msing. Yah meski Taemin masih terus belajar bersama denganku tapi kami kini lebih serius. Terkadang kami hanya bertemu saat dia belajar bersamaku di rumah sedangkan disekolah kami sulit sekali bertemu berhubung sudah ada pelajaran tambahan dan kelasku dengan Taemin juga berbeda jadi kami jarang sekali bertemu. Berangkat sekolah pun sekerang kami jarang bersama begitu juga dengan pulangnya meski dia masih menyempatkan datang untuk mengajariku. Tak terasa musim dingin kembali datang. Setiap hari selalu hujan. Seperti yang sudah-sudah, hujan, sesuatu yang kurang kusukai untung belum turun salju. Meski entah kenapa aku mulai sedikit menyuaki salju tapi tidak sepenuhnya suka namun jika mengingat salju aku jadi ingat saat Taemin menyatakan cintanya padaku. Di salju pertama di musim dingin. Tak terasa sebentar lagi hubungan kami sudah 1 tahun. Begitu banyak hal yang telah aku lewati bersamanya. mengingat ini tahun terkahir kami dan entahlah apakah aku masih bisa bersamanya setelah ini atau kami harus mengakhiri hubungan kami, aku tidak ingin berpisah dengannya. Kami jarang membahas masalah ini ya karena kami memang lebih fokus pada ujian akhir dan tes masuk universitas jadi kami tidak pernah membahas itu, sampai sekarang pun aku tidak tahu Taemin akan melanjutkan kemana setiap aku tanya pasti dia masih bingung memilih yang mana. Entah kenapa aku merasa dia akan pergi jauh sekali dan tidak akan kembali. Aku baru saja selesai kelas tambahan dan ternyata di luar hujan turun sangat deras. Aku memutuskan untuk menunggu hujan reda di dalam kelas yang tinggal beberapa orang saja. Aku terduduk malas di kursiku. Memandang teman-teman dikelas yang masih sibuk dengan urusan masing-masing.

”Ya!melamun terus!”seru Rae Na menepuk bahuku dari belakang.

Dia tersenyum dan mengambil kursi di sampingku dan duduk menghadapku dengan wajah penuh senyuman, kenapa dia?

”Waeyo? Kenapa senyum terus?”tanyaku yang melihtanya begitu bahagia hari ini.

”Andwe…”jawabnya.

Aishh. Dasar anak yang aneh, senyum-senyum sendiri tanpa alasan.

”Jadi kau tidak mau cerita nih?ya sudah aku mau ngobrol dengan Key saja..”seruku dan berdiri dari kursiku namun tangan Rae Na menahanku.

”Jangan ngambek dong…sini aku ceitakan…”serunya dengan wajah memelas.

Aku pun duduk kembali dan mendengarnya bercerita. Oh ternyata dia akhirnya memilih Minho. Aigoo, anak ini. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendnegar dia bercerita bagaimana Minho menyatakan perasaanya pada Rae Na. Lucu sekali, di atas kincir di taman bermain pada sore hari. Sungguh sangat romantis. Dia juga bercerita bahwa dia akan satu universitas dengan Minho karena ternyata Minho juga mengambil universitas yang sama dengan Rae Na, senangnya bisa bersama terus. Sedangkan aku entahalah akan bersama dengannya lagi atau tidak, tapi sepertinya tidak dan itu berarti kami harus menjalani hubungan jarak jauh. Tidak bisa melihatnya setiap hari. Hufft. Tak lama kemudian hujan sudah reda, Rae Na dan aku berjalan bersama menunju gerbang sekolah, aku melihat Rae Na sudah dijemput oleh supirnya sementara aku menunggu Taemin, karena dia bilang hari ini dia akan pulang bersama denganku. Rasanya sudah lama sekali kami tidak pulang bersama.

Sesekali aku melihat ke arah koridor menunggunya datang tapi tidak ada juga, sudah 10 menit aku menunggu disini dia juga tidak datang. Cuaca kembali mendung. Maka aku putuskan untuk mengrimnya sms. Belum sampai aku selesai mengetik sms, ada sms masuk. Saat kubuka itu dari Taemin.

Jeongmal mianhe…hari ini aku tidak bisa pulang bersama denganmu…masih ada jam pelajaran tambahan sampai jam 6 nanti..mianhe ^^

Kemudian aku membalas smsnya.

Ne..arasso..aku bisa pulang sendiri kok…hati-hati ya ^^

Aku pun kembali memasukan Hpku ke dalam saku dan bersiap untuk pulang namun sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Ternyata itu Key.

”Mau pulang?ayo aku antar..”serunya.

”Ah..andwe…aku bisa pulang sendiri kok…”jawabku.

”Sudah mau hujan…ayo masuk…”serunya lagi.

Tumben sekali anak ini baik padaku, aku berpikir beberapa saat. Hari memang sudah mau hujan dan juga aku tidak membawa payung. Kalau hujan turun sebelum aku sampai di halte bis bagaimana? Sebaiknya aku terima saja tawarannya. Jarang-jarang dia baik seperti ini. Aku pun segera masuk ke mobilnya.

”Lama sekali berpikirnya…pantas kau lamban dalam segala hal…”serunya dengan senyum mengejek begitu aku masuk ke dalam mobilnya.

”Dasar pinky boy!”seruku sambil memanyunkan bibirku. Aku lihat dia hanya terkekeh pelan.

 

Taemin POV

Aku terus menengok ke arah jendela kelasku yang ada di lantai 2 menunggu hujan reda untuk pulang. Hari ini aku sudah janjian dengan Hye Jin untuk pulang bersama. Sudah lama sekali kami tidak pulang bersama karena kesibukan kami masing-masing. Sampai sekarang aku belum juga bilang padanya aku akan meneruskan kemana. Jujur aku tidak sanggup bilang padanya bahwa aku akan pergi ke Australia dan kemungkinan tidak akan kembali lagi kesini. Aku tidak mau berpisah dengannya tapi apa yang harus aku lakukan. Kalau pun aku pulang apa dia mau menungguku?tidak mungkin setahun atau dua tahun aku disana paling tidak 5 tahun. Aku tidak mau dia menunggu sesuatu yang tidak pasti tapi aku tidak sanggup berpisah dengannya. Aisshh, apa yang harus aku lakukan. Aku mengacak-acak rambutku.

”Taemin-ah…gwenchanayo?”tanya Minho hyung yang sudah ada disampingku.

”Ne..gwenchana…”jawabku sambil tersenyum.

”Oh ya..hari jam pelajaran tambahan di tambah jadi kita pulang jam 6…”serunya lagi.

”Mwo?”seruku.

Aishh, padahal hari ini kesempatanku untuk pulang bersamanya. aku melihat hujan sudah reda, pasti dia sudah menungguku. Aku segera mengirimnya sms. Tak lama kemudian sms balasn datang. Aku merasa sedikit bersalah padanya. Aku sudah janji tapi aku malah membatalkan janji itu. Aku melihat ke bawah dari jendela dan melihat Hye Jin. Apa yang Hye Jin lakukan? Tanyaku dalam hati. Aku juga melihat Key disana dengan mobilnya. Tak lama kemudian Hye Jin masuk ke dalam mobil Key. Aku menghela nafas, apakah Key sangat berarti untuk Hye Jin? Dia selalu bisa tersneyum lepas jika bersamanya. aku iri pada Key yang bisa membuat Hye Jin selalu tertawa seperti itu. Aku jadi mengingat Hye Jin sangat perhatian sekali pada Key waktu dia pingsan, apa Hye Jin menyukai Key juga?

 

 

Hye Jin POV

Di jalan kami hanya diam satu sama lain, suasana yang jarang kami temukan, biasanya kami selalu bertengkar. Aku hanya menatap ke samping keluar jendela sedangkan dia masih fokus menyetir.

”Kau mau melanjutkan kemana?”tanya tiba-tiba.

Aku segera menoleh ke arahnya.

”Ah…Kyunghee…kalau kau?”tanyaku.

”Aisshh kenapa aku harus selalu melihatmu terus sih setelah lulus…bosan sekali…”serunya.

”Apa maksudmu?”tanyaku tidak mengerti.

”Aku juga akan melanjutkan ke Kyunghee tau…”serunya.

Ya ampun, harus bertemu lagi dengan cowok kasar ini. Sungguh mneyebalkan.

”Aku yang sial harus bertemu denganmu lagi di unversitas…”seruku sambil menghela nafas.

”Enak saja…aku yang sial harus bertemu lagi dengan cewek kasar sepertimu…”serunya.

”Cowok babo!”seruku.

”Cewek babo!”serunya.

Kemudian kami terdiam kembali. Aku menggerutu sambil menatap keluar jendela. Kenapa aku harus terima ajakannya sih kalau tahu akan seperti ini. Key kau sungguh sangat menyebalkan.

”Taemin akan kemana?”tanya Key tiba-tiba

Dan kali ini berhasil membuatku hanya bisa terdiam.

”Molla…”jawabku sambil tetap menatap keluar jendela.

”Bagaimana kelanjutan hubunganmu?”tanyanya serius.

”Molla…”jawabku lagi.

Jujur aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bingung.

”Apa kau sangat mencintainya?”tanyanya lagi.

Aku terdiam beberapa saat lalu menghela nafas.

”Ne…aku sangat mencintainya…aku tidak mau berpisah dengannya…kalau aku tidak mencintainya…aku tidak mungkin mempertahankan hubungan ini…”jawabku sambil menoleh ke arahnya.

”Jadi meski kalian nanti berpisah jauh…kau akan tetap mempertahankan hubungan ini?”tanyanya lagi.

”Ne..”jawabku singkat.

Setelah itu kami hanya terdiam, sibuk dnegan pikiran kami masing-masing. Akhirnya aku sampai di rumahku. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan segera berlalu masuk ke rumah.

 

 

Hari minggu yang membosankan. Salju turun diluar meski perlahan. Padahal hari ini adalah hari sangat istimewa buatku. Hari ini hari jadi hubunganku dengan Taemin tapi salju merusak segalanya. Aku keluar kamar dan mendapati Donghae Oppa masih asyik di depan TV bermain game, sejak kapan Oppaku itu jadi keranjingan game. Aku ke dapur dan membuat dua gelas coklat panas dan berjalan kembali ke ruang TV dan menyodorkan segelas coklat panas pada Donghae Oppa.

”Gumawoyo…”serunya dengan mata masih tertuju pada gamenya.

Aku duduk disampingnya dan menopang daguku dengan tangan.

”Tidak ada kegiatan hari ini?”tanyanya tetap menatap layar TV.

”Andwe..”jawabku singkat.

”Tidak belajar?”tanyanya lagi.

”Aisshh Oppa…it’s enough…aku sudah jenuh jangan tambah lagi…”jawabku.

Dia hanya terkekeh pelan dan tetap menatap layar TV. Aku terus saja mengecek handphoneku kalau-kalau ada sms dari Taemin tapi nihil tidak ada. Apa dia lupa hari ini? Hufft mneyebalkan sekali, apa sebegitu sibuknya dia sampai melupakan hari ini. Aku saja ingat. Gerutuku dalam hati. Aku berniat mengirim sms padanya terlebih dahulu namun kuurungkan niatku, masa aku duluan yang sms. Aku pun kembali ke kamarku dan duduk di depan meja belajarku sambil melihat ke arah luar, salju sudah tidak turun lagi namun langit masih tetap mendung. Aishh, meyebalkan sekali hari ini. Apa dia lupa? Sejak kemarin aku memang tidak bertemu dengannya, kelasnya selalu pulang jam 6 sore dan tidak mungkin aku memaksanya ke rumahku pasti dia sangat lelah, sudah 3 hari ini juga dia tidak memberikan kabar padaku, ya aku maklum mungkin dia sangat sibuk dan sangat lelah dengan semua pelajaran tambahan ini tapi paling tidak untuk hari ini saja. Aku memandangin fotoku bersama dengan Taemin di kencan pertama kami. Aku menatapnya sambil tersenyum sendiri lalu mataku beralih pada sebuah boneka beruang yang selalu ada di tempat tidurku itu juga Taemin yang memberikan. Tidak terasa sudah 1 tahun. Bagaimana dengan selanjutnya, apa aku masih bisa merasakan hari jadi yang ke-2?

Tiba-tiba pintu rumahku di ketuk. Siapa lagi yang datang sepagi ini? Aku tetap diam di kamarku berharap Donghae Oppa lah yang akan membukakan pintu karena dia lebih dekat dengan pintu. Namun ternyata dia malah asyik main game dan pintu terus diketuk. Akhirnya dengan malas aku keluar kamar dan berjalan untuk membukakan pintu.

”Happy anniversary, jagiya!”seru sebuah suara yang kukenal di depan pintu.

Aku terkejut melihatnya sudah ada di depan pintu dan dia langsung memakaikan topi padaku dan mengalungkan syal di leherku.

”Ayo kita pergi..”serunya sambil tersenyum.

Aku masih terpaku di depan pintu dan masih terkejut dengan semua ini.

”Jagi…gwenchanayo?”tanya Taemin.

”Ah…ne..ne…aku ke dalam dulu…masuklah ada Donghae Oppa di dalam…”jawabku.

”Andwe…aku tunggu disini…cepat ya…hari ini kita akan bersenang-senang…”serunya.

Aku pun segera bergegas menuju kamarku dan mengambil mantel dari dalam lemari dan mengambil tas kecilku, lalu berjalan keluar.

”Oppa…aku pergi dengan Taemin ya…”seruku pada Donghae Oppa yang masih sibuk di depan layar TV.

”Oh sudah dijemput ya…jangan pulang terlalu malam…”seru Donghae Oppa.

”Arasso…annyeong…”seruku dan berjalan keluar pintu.

”Kajja…”seru Taemin yang langsung menggandneg tanganku masuk ke dalam mobilnya.

Dia selalu tersenyum selama perjalanan. Ah aku pikir dia lupa, ternyata dia ingat. Aku senang sekali hari ini bisa pergi bersamanya. sudah lama kami tidka pergi kencan.

”Aku pikir kau lupa…”seruku.

Dia terkekeh pelan.

”Mana mungkin aku lupa jagi…”serunya sambil menepuk kepalaku pelan dengan sebelah tangannya.

”Mau kemana kita?”tanyaku antusias.

”Mau mencoba bermain skate?”tanyanya.

Aku pun mengangguk dengan semangat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bermain skate sejak di Amerika. Tak lama kemudian kami sampai di arena skate. Untunglah aku masih bisa.

Kami berhenti bermain dan bergerak ke sisi dan berpegangan pada pagar pembatas.

”Kau senang?”tanyanya sambil menatapku.

”Ne…gumawo jagi..”jawabku.

”Baru kali ini kau memanggilku jagi…”seru Taemin sambil terkekeh pelan.

”Oh jadi kau mau kupanggil Taeminnie…”seruku sambil tersenyum mengejek.

Dia hanya mengerucutkan bibirnya dan mengacak-acak rambutku.

”Taemininnie…jadi berantakan nih…”seruku.

Dia sudah bergerak lagi dan meninggalkanku, aku pun segera mengejarnya dan jadilah kami main kejar-kejaran di arena skate ini.

Setelah dari arena skate Taemin mengajakku makan. Dan terakhir kami pergi ke Namsan Tower, tempat yang akan selalu kami ingat.

”Tunggi disini…”serunya menyuruhku menunggu di atas Namsan Tower.

Kenapa di menyuruhku menunggu disini ya? Aku pun duduk di salah satu bangku disana dan menghadap ke arah pemandangan kota. Sungguh indah sekali, meski sudah beberapa kali kesini tapi tetap saja aku kagum dengan pemandangan disini meski cuaca masih mendung.

Aku menunggu hampir 15 menit disini. kemana dia? Kenapa lama sekali? Gerutuku dalam hati.

”Jangan menoleh dan tutup matamu!”seru Taemin.

Apa maksdunya? Aku hendak menoleh kebelakang namun lagi-lagi dia mencegahnya.

”Jangan menoleh dan cepat tutup matamu. Arasso!”serunya.

Aku pun akhirnya mengikuti suruhannya dan menutup mataku. Apa yang akan dia lakukan? Aku menunggu beberapa detik. Lama sekali.

”Taemin-ah…ada apa sih?”tanyaku masih dengan menutup mataku.

”Tunggu sebentar…nah sekarang buka…”serunya.

Aku terkejut melihat di depanku sudah ada sebuah kue coklat.

”Happy anniversary jagiya….saranghae…”serunya dari belakangku.

Aku berbalik dan tersenyum padanya.

”Happy anniversary jagiya…nado saranghae…”seruku.

Kemudian kami pun akhirnya memakan kue itu bersama. Hari ini sungguh sangat menyenangkan. Kami tertawa bersama menikmati pemandangan sore hari di atas Namsan Tower, apakah kami bisa seperti ini lagi untuk seterusnya. Aku tidak mau berpisah denganmu Taemin-ah…saranghae.

 

 

Taemin memelukku dari belakang dan menaruh dagunya di bahuku sama seperti waktu itu. Aku memejamkan mataku merasakan hembusan angin dingin yang menerpa wajahku. Untunglah hari ini salju tidak turun.

”Dingin?”tanyanya.

Aku mengangguk dan dia semakin memelukku dengan erat.

”Aku senang sekali hari ini…aku harap kita bisa bersama seperti ini selamanya…”serunya.

Aku berbalik dan menatapnya.

”Kenapa kau bilang begitu? Memangnya kau tidak mau bersamaku selamanya…”seruku sambil memanyunkan bibirku.

”Ne…bukan begitu…aku ingin selalu bersamamu…jangan pernah tinggalkan aku…”serunya sambil menatapku dengan tatapan yang sangat serius baru kali ini aku melihatnya seserius itu.

”Ne…aku akan selalu bersama…aku tidak akan pernah meninggalakanmu…kau juga harus begitu..”seruku sambil tersenyum.

Dia tersenyum dan mengacak rambutku lembut. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia menunduk dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Dia menekan bibirku lembut dan membiarkannya terus menempel di bibirku. Aku pun memejamkan mataku. Lama dia menempelkan bibirnya di bibirku sampai kemudian dia mulai melumat bibirku. Aku yang kaget dengan responnya malah membalas ciumannya. Dia semakin mendekapku ke dalam pelukannya. Aku pun mengalungkan lenganku di lehernya dan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Namun aku merasa aneh dengan ciumannya kali ini, terasa menyakitkan, entahlah kenapa. Dia memang belum pernah meciumku seperti ini tapi bukan karena itu, aku merasakan sesuatu, seperti dia ingin mengatakan sesuatu lewat ciumannya ini. Kemudian dia melepas ciumannya dan menatapku yang masih terengah-engah karena ciuamnnya tadi.

”Mianhe….”serunya dengan wajah merasa bersalah karena menciumku seperti tadi.

Aku hanya menunduk karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.

”Aku tahu kau marah…jeongmal mianhe…aku tidak bermaksud seperti itu…”serunya lagi.

Kenapa dia harus merasa bersalah seperti itu. Akhirnya aku mendongakan kepalaku dan menatapnya.

”Ne..gwenchana…”jawabku sambil berusaha tersenyum.

Dia kembali medekapku ke dalam pelukannya. Dan aku merasakan dia menangis. Ada apa dengan dia?tanyaku dalam hati.

”Jangan tinggalkan aku…tetaplah bersamaku…”serunya sambil tetap memelukku.

”Ne…aku akan selalu bersamamu…saranghae taemin-ah…jeongmal saranghaeyo…”ucapku dalam pelukannya.

”Nado saranghaeyo…saranghaeyo yeongwonhi…”serunya lagi.

Tapi aku masih merasakan air matanya turun. Aku bingung. Kenapa dia seperti itu? Tapi aku tetap memeluknya. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku saat ini yang ingin sekali kutanyakan padanya. Kenapa dia jadi aneh seperti ini? Kenapa dia menangis?

Advertisements

One thought on “FF: LOVE’S WAY – LET’S NOT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s