FF: Love Is Really Hurt Part 8

Cast:

Super Junior

SHINee

DBSK

Genre: Horror, Romance, Friendship

 

 

Madeira…

Author POV

”Apa kau benar-benar yakin soal anak itu?”tanya Heechul pada seseorang yang duduk membelakanginya menghadap keluar jendela.

Heechul terlihat gusar menunggu jawaban dari orang itu. Kemudian orang itu berdiri dan berbalik menghadapanya dengan senyuman  misterius.

”Tentu saja…Jin Ki tidak mungkin salah…menurutmu anak itu juga menarik kan?”tanya orang itu yang ternyata adalah Jonghyun.

”Anak itu sangat menarik tapi aku tidak pernah menyangka bahwa dialah anak yang ada di dalam mimpi itu…”seru Heechul tampak seperti sedang berpikir.

”Aku juga tidak menyangka awalnya tapi aku memang merasakan hal yang berbeda saat bertemu dengannya….sungguh sangat menarik…tetap awasi dia…arasso?”seru Jonghyun memerintah.

”Tidak perlu kau suruh aku sudah tahu..hah sudah lama tidak bermain-main seperti ini…aku pergi dulu…”seru Heechul kemudian menghilang.

Jonghyun kembali duduk di kursinya dan tersenyum penuh arti. Dia sudah tidak sabar menunggu saat itu.

Tanpa dia dan Heechul sadari. Taemin mendengarkan percakapan mereka dari luar ruangan dan dia pun segera pergi ke tempat Jin Ki untuk memberitahu semu yang dia dengar tadi.

”Ahjussi!”seru Taemin berjalan menghampiri Jin Ki yang sedang menulis di atas meja kerjanya.

”Waeyo Taemin-ah?”tanya Jin Ki.

”Jonghyun ahjussi meminta Heechul ahjussi untuk mengawasi Kyu hyung…”seru Taemin sambil berbisik pada Jin Ki.

Mereka harus hati-hati jika membicarakan masalah ini karena mereka tahu banyak kaki tangan Jonghyun yang bisa saja mendengar percakapan ini.

”Ne…aku sudah melihat itu…tenanglah…”seru Jin Ki menenangkan Taemin.

”Ahjussi…sebaiknya ahjussi ceritakan saja pada Kyu hyung…apalagi sekarang ini kulihat dia semakin dekat dengan gadis itu…”seru Taemin kembali dengan berbisik.

Jin Ki hanya menggelengkan kepalanya.

”Andwe…semua ini takdir Taemin…kita tidak bisa memisahkan mereka…bukan gadis itu yang salah…”seru Jin Ki.

”Kendeu…”seru Taemin namun dipotong oleh Jin Ki.

”Awasi saja mereka…ara?”seru Jin Ki.

Taemin hanya bisa mengangguk.

 

Yong Soon POV

Aku baru selesai ganti baju dengan baju seragamku lagi setelah selesai bekerja dan mengambil tas yang aku taruh di atas meja. Begitu Changmin sudah ada di dalam toko es krim menungguku. Untuk apa dia kesini? Bukannya aku sudah bilang tidak usah menjemputku. Aku melihatnya sedang berbincang dengan Hyo Hoon Onnie.

”Itu Yong Soon…”seru Hyo Hoon Onnie begitu melihatku keluar dari dapur.

Changmin melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum.

”Ya!kan sudah aku bilang tidak usah menjemputku…memangnya kau sudah boleh pulang oleh Junsu Oppa…”seruku begitu sampai di tempat mereka.

”Yong Soon-ah jangan marah-marah gitu dong sama Changmin…dia kan sudah berbaik hati menjemputmu…”seru Hyo Hoon Onnie membela Changmin.

Aku melirik ke arah Changmin yang sedang tersenyum penuh kemenangan karena ada yang membelanya. Dasar Changmin lihat saja di jalan nanti!

”Ya sudah ayo pulang…”seruku pada Changmin.

Aku pun berpamitan pada Hyo Hoon Onnie dan berjalan keluar toko tersebut dan segera naik ke belakang sepedanya.

”Tidak ada acara mampir hari ini…”seruku mengingatkannya untuk tidak mampir ke rumahku. Habisnya setiap dia mengantarku pasti dia selalu mampir dulu dan kalau sudah di rumahku dia bisa lupa pulang.

”Siapa bilang aku akan mengantarmu pulang…”serunya sambil tersneyum penuh arti.

”Mwo??”tanyaku tidak mengerti apa yang dia maksud.

”Nanti juga kau tahu!”serunya sambil melajukan sepedanya.

”Ya!Changmin-ah! Kau mau membawaku kemana!”seruku sambil memukul punggungnnya.

”Kau mau kita jatuh!berhenti memukulku…sudah ikuti saja…”serunya sambil terkekeh pelan.

Huh kemana dia mau membawaku. Aku terus saja menggerutu di belakang. Habisnya setiap kutanya dia tidak mau menjawab kemana dia akan membawaku.

 

”Sudah sampai…turun…”serunya begitu sepedanya berhenti tepat di tempat yang sudah tidak asing lagi.

Kenapa mesti main rahasia-rahasian kalau dia hanya ingin membawaku ke rumahnya. Dasar Changmin! Aku tidak mau turun dan memasang wajah cemberut di hadapannya. Habisnya aku kesal apa susahnya untuk bilang mau ke rumahnya kenapa harus menyeretku segala kesini dan setiap ditanya mau kemana tidak menjawab.

”Yong Soon-ah…sudah datang ya…palli!”seru sebuah suara kelau dari dalam rumah dan langsung menghampiriku yang masih duduk di boncengan sepeda. Ternyata yang keluar itu adalah Junsu Oppa.

Dia langsung menarik tanganku untuk segera masuk dan aku masih memandang tajam ke arah Changmin sedangkan dia hanya terkekeh melihat aku memandangnya seperti itu.

Saat kami masuk ke dalam rumah, isi rumah tampak berbeda kenapa jadi banyak dekorasi seperti ini ya? Apa hari ini ada yang ulang tahun. Aku berusaha mengingat-ingat…ah sepertinya tidak ada yang ulang tahun hari ini. Begitu sampai di ruang makan sudah banyak makanan yang terhidang di atas meja, sepertinya memang ada yang ulang tahun tapi siapa?

”Yong Soon-ah bantu kami mendekorasi kue ya?”seru Junsu Oppa masih menarik tanganku masuk ke dapur.

Di atas meja di dapur ada kue yang baru matang.

”Oppa memangnya siapa yang ulang tahun?”tanyaku dengan wajah bingung.

”Kau tidak tahu? Changmin tidak memberitahumu…aigoo, Jaejoong hyung hari ini ulang tahun….”seru Junsu Oppa lagi.

”Omona…jaejoong Oppa ulang tahun hari ini..CHANGMIN TIDAK BILANG APA-APA SOAL ITU…”seruku menekankan kata-kata itu agar terdengar sampai keluar dan yang paling utama agar orang itu sadar. Seenaknya saja tidak memberitahuku kalau hari ini Jaejoong Oppa ulang tahun kan setidaknya aku bisa menyiapkan sesuatu untuknya, sekarang aku malah datang tanpa membawa apapun.

”Kajja…kita hias kuenya…”seru Junsu Oppa penuh semangat sambil mengambil segala keperluaan.

Seperti biasanya kalau dalam hal masak dan makanan Junsu Oppa lah yang paling bersemangat meski kadang-kadang dia malah mengganggu.

”Oppa aku tidak bawa kado buat Jaejoong Oppa….”seruku saat mengambil krim.

”Ah gwenchana…anggap saja kue ini hadiah darimu untuknya…”seru Junsu Oppa sambil tersenyum dan tangannya mulai ikut menghias. Aisshh andwe Oppa jangan malah dirusak!ucapku dalam hati.

”Junsu-ah…keluar jangan ganggu Yong Soon…”seru Yoochun Oppa sambil menarik baju Junsu Oppa an menyeretnya keluar.

Aku melemparkan pandangan berterima kasih terhindar dari kemungkinan kue ini akan hancur karena Junsu Oppa ikutan menghias. Ya aku akan menghias kue ini secantik mungkin dan bisa menjadi hadiah dariku untuk Jaejoong Oppa.

 

 

Semua sudah siap tinggal menunggu Jaejoong Oppa pulang. Kami sudah mematikan lampu dan bersiap di posisi kami masing-masing. Aku sudah memegang kue yang tadi sudah dihias. Yunho Oppa dan Changmin sudah bersiap di dekat pintu. Sedangkan Yoocun Oppa dan Junsu Oppa berdiri di dekat stop kontak lampu untuk bersiap menghidupkan lampu begitu kami mengucapkan selamat ulang tahun. Begitu mendengar pintu dibuka kami sudah bersiap-siap untuk mengagetkan Jaejoong Oppa.

”Hyung…Changmin…Junsu…Yoochun…”seru Jaejoong Oppa memanggil semua saudara-saudaranya.

Aku mendengar langkah kakinya yang semakin mendekat. Aku mulai menghitung. Han Dul Set.

”SAENGIL CHUKKA HAMNIDA!!!”teriak kami bersamaan dengan lampu yang menyala.

Aku bisa melihat Jaejoong Oppa terkejut namun tetap dengan wajah coolnya.

”Ige mwoya??aigoo…”seru Jaejoong Oppa dengan pandangan tidak mengerti.

Yunho hyung langsung maju dan memeluk sekilas adiknya itu sambil tersenyum lalu diikuti oleh Changmin.

”Saengil chukkae hyung…”seu Changmin lalu melepaskan pelukannya.

Aku, Yoochun Oppa dan Junsu Oppa berjalan menghampiri Jaejoong Oppa. Aku membawa kue yang sudah aku hias tadi dan menyodorkannya pada Jaejoong Oppa untuk ditiup lilinnya.

”Ayo Jae hyung tiup lilinnya!”seru Junsu Oppa semangat sekali.

Sepertinya dia selalu semangat dalam segala hal, itu yang membuat aku suka dengan Junsu Oppa, pribadinya yang selalu penuh semangat.

”Make a wish dulu ya…”seru Yoochun Oppa.

Aku melihat Jaejoong Oppa memejamkan matanya mulai membuat permohonan. Dan Junsu Oppa segera mengambil alih kue itu dan di pegang olehnya. Begitu Jaejoong Oppa membuka mata dan meniup lilinnya lalu.

PLUKK

Kue yang penuh krim itu tepat mengenai wajah Jaejoong hyung. Dan semua orang tertawa melihatnya.

”Ya!Junsu-ya!”seru Jaejoong Oppa sambil berusaha membersihkan krim di wajahnya.

Kemudian Jaejoong Oppa maju ke arah Junsu Oppa dan menempelkan bekas krim itu ke wajah Junsu Oppa. Jadilah kami mulai berlari menghindari krim-krim itu karena sekarang perang krim sudah dimulai. Aku berusaha menghindar dari Junsu Oppa yang sedari tadi sepertinya mengincarku.

”Ya kena!”seru sebuah suara dan aku mersakan pipiku kini ditempeli krim.

”Ya!Changmin-ah!”seruku melihat Changmin tertawa penuh kemenangan, aku berusaha mengejarnya untuk membalas tapi aku malah kena lagi dan kini oleh Jaejoong Oppa. Jaejoong Oppa tertawa penuh kemenangan begitu melihat wajahku sudah penuh dengan krim.

Aku baru kali ini melihat Jaejoong Oppa tertawa begitu lepas bersama saudara-saudaranya dan juga padaku. Apakah ini pertandan bahwa Jaejoong Oppa akan berubah menjadi lebih ramah. Ah itu tidak penting yang penting sekarang, entah kenapa melihat kelima saudara ini tertawa bersama membuatku merasa ikut bahagia juga. Huwaa aku senang mereka bisa menjadi Oppa-Oppaku.

 

Setelah acara perang krim dilanjutkan dengan makan malam. Kini wajah kami sudah bersih semua. Begitu makan malam selesai. Jaejoong Oppa, Junsu Oppa dan Yoochun Oppa berbincang di depan TV sementara aku di dapur mencuci piring.

”Yong Soon-ah kenapa kau mencuci piringnya?”tanya Yunho Oppa sambil masuk ke dalam dapur.

”Ah gwenchana…”jawabku sambil tersenyum.

Yunho Oppa kemudian menghampiriku dan membantuku meletakkan piring-piring itu.

”Gumawo sudah mau datang…”seru Yunho Oppa disela-sela pekerjaan kami.

”Ne…tapi aku tidak bawa kado buat Jaejoong Oppa habisnya Changmin tidak bilang mau ke sini dan ada ulang tahun Jaejoong Oppa..menyebalkan sekali…”seruku sambil memanyunkan bibirku.

Sekarang orang itu sudah menghilang kemana dia? Saat makan malam masih ada tapi sekarang sudah tidak terlihat lagi.

Yunho Oppa terkekeh pelan.

”Tidak perlu kado yang penting kehadiranmu sebagai salah satu anggota keluarga kami…”seru Yunho Oppa membuatku berhenti dari mencuci piring dan menoleh ke arahnya.

Aku senang sekali saat Yunho Oppa bilang aku juga termasuk salah satu keluarganya.

”Gumawo Oppa sudah menganggapku sebagai anggota keluarga kalian…”seruku sambil tersenyum.

”Nah…makanya kalau sudah jadi bagian keluarga kami jangan sungkan lagi meminta bantuan pada Oppa-Oppamu ini…ara??”serunya lagi.

Aku pun mengangguk dengan mantap sambil tersenyum.. Yunho Oppa kemudian mengacak-acak rambutku lembut.

”Ehemm!!”seru sebuah suara dari belakang aku pun menoleh dan mendapati Changmin sedang berdiri di bersandar di dinding dapur.

”Sepertinya sudah malam…Yong Soon-ah biar aku saja yang melanjutkan kau pulanglah…antarkan dia ya Changmin…”seru Yunho Oppa.

”Ne….ini juga mau nyuruh dia pulang….cepat aku tunggu di depan…”serunya dengan wajah sangat dingin.

Dasar aneh!kenapa lagi dengannya. Aku pun segera mencuci tanganku dan berjalan keluar dapur.

”Oppadeul aku duluan ya!”seruku berpamitan pada Oppadeul yang sedang duduk menonton TV.

”Gumawoyo Yong Soon-ah….”seru Jaejoong Oppa.

Aku pun membalasnya dengan senyuman.

”Cepat sedikit bisa gak sih!”teriak seseorang dari luar.

Aku pun segera beranjak keluar rumah. Hufft maunya apa sih dia? Menyebalkan sekali. Marah-marah gak jelas, harusnya kan aku yang marah bukannya dia.

Sampai diluar dia sudah siap diatas sepedanya. Sebaiknya aku pulang sendiri saja.

”Palliwa…”serunya sambil melirik ke arahku.

”Aku pulang sendiri saja…”seruku sambil berjalan melewatinya.

”Ya!kau ini!”serunya sambil mengejarku dengan naik sepeda.

Aku terus saja berjalan tanpa menghiraukannya dan tiba-tiba dia memberhentikan sepedanya tepat di depanku.

”Cepat naik…”serunya lagi.

Dan aku hanya mematung tanpa melirik ke arahnya sedikitpun.

”Harusnya aku yang marah padamu…”serunya lagi.

Aku menoleh ke arahnya dengan pandangan tidak percaya. Apa maksudnya? Kenapa harus dia yang marah, memangnya apa salahku. Aku mengembungkan pipiku tanda bahwa aku benar-benar kesal padanya.

”Ne..mianheyo….aku yang salah..ayolah naik…sudah malam jangan pulang sendiri…jebal…”serunya padaku dengan wajah memohon.

Hufft, aku luluh juga melihatnya sudah memohon seperti itu, akhirnya aku pun naik di belakang.

 

Akhirnya aku sampai di depan rumahku. Untung Changmin sudah bilang pada ibuku bahwa aku tadi ke rumahnya dulu dan seperti biasa ibu seperrtinya tidak pernah khawatir kalau anaknya pergi ke rumah Changmin.

”Mianheyo aku marah-marah gak jelas padamu…”seru Changmin begitu aku turun dari sepedanya.

”Ne gwenchana…”seruku sambil tersenyum.

”Yong Soon-ah…”serunya dan tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya pada wajahku. OMO apa yang akan dia lakukan!

Kemudian dia menyentuh pipiku dengan tangannya dan mengusap pipiku perlahan. Jantungku berdegup sangat kencang saat itu. Aigoo, kenapa dia? Aku jadi ingat cerita Ji Hoon. Anni tidak mungkin Yong Soon-ah…Changmin tidak mungkin menyukaimu. Seruku dalam hati.

”Masih ada krim di wajahmu…”serunya sambil mengusap pipiku lalu tersenyum dan menjauhkan wajahnya.

Hufft syukurlah kukira dia mau melakukan sesuatu padaku.

”Sudah sana masuk…Jal ja…”serunya sambil mengacak-acak rambutku.

Aku pun tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumahku sebelum menutup pintu aku melambaikan tangan padanya lalu dia pun meluncur dengan sepedanya. Begitu aku masuk ke dalam dan menutup pintu. Aku bersandar di pintu dan menghembuskan nafasku dengan keras. Omo jantungku masih berdgeup juga sampai saat ini. Ini gara-gara cerita Ji Hoon, bisa-bisanya dia bilang Changmin menyukaiku. Gara-gara itu membuatku jadi memperhatikan Changmin terus seharian ini dan membuatku berpikiran negatif terus terhadapnya. Seharusnya aku tidak memikirkan cerita Ji Hoon siapa tahu dia hanya membohongiku. Ya tidak mungkin Changmin menyukaiku kalau dia menyukaiku pasti sudah sejak dulu dia bilang padaku dan sikapnya pasti tidak aneh seperti ini, seenaknya sendiri. Yong Soon-ah Changmin masih sahabatmu lupakan cerita itu, anggap tidak pernah mendengarnya dan tetap biasa terhadap Changmin seakan aku tidak pernah tahu akan hal itu. Ucapku dalam hati. Kemudian aku langsung masuk ke dalam rumah.

 

 

Pagi harinya entah kenapa aku berharap Changmin tidak akan datang menjemputku, sepertinya otakku masih terkontaminasi cerita Ji Hoon kembali. Aku tetap di dalam kamarmu, aku berencana untuk berangkat lebih siang agar tidak berangkat dengan Changmin. Ibuku sudah berangkat kerja sedangkan Ji Won sebentar lagi akan pergi ke sekolah hanya tinggal menunggu temannya menjemputnya saja. Pokoknya aku akan berpura-pura sudah berangkat saja. Aisshh kenapaaku harus seperti ini sih? Entahlah kenapa aku masih terus kepikiran cerita Ji Hoon ya? Kenapa aku jadi takut kalau Changmin menyukaiku. Aku menghela nafas, jika cerita itu benar bagaimana? Aku tidak bisa membayangkannya. Ya aku menyukai Changmin tapi hanya sebagai sahabat dan tidak pernah berpikiran akan menjadi hubungan yang lebih dari sahabat. Andwee jangan sampai itu terjadi. Tapi jujur beberapa hari ini aku merasakan perasaan yang aneh terhadapa Changmin, maksudku bukan  berarti aku menyukainya sebagai namja namun seperti ada suatu perasaan yang muncul setiap aku di dekatnya bukan hanya dengan dia tapi juga namja dingin itu, malah kalau dengannya lebih parah. Aisshh, apa yang terjadi padaku? Ada apa dengan dua namja itu. Ahhh aku pusing!

”Onnie…aku pergi dulu ya…”seru Ji Woon sambil menyembulkan kepalanya dari pintu kamarku.

”Ah ne…josimhe…”seruku padanya.

Kemudian Ji Woon sudah menghilang. Aku mengambil tasku dan beranjak keluar kamar menuju ke ruang tamu.

”ONNIE!!CHANGMIN OPPA SUDAH DATANG!!!”teriak Ji Won dari luar.

Omo aku lupa tidak memberitahu Ji Won jangan bilang kalau aku masih ada di rumah. Aku pun terpaksa berjalan menuju pintu. Begitu aku membuka pintu aku kaget Changmin juga hendak membuka pintu.

”Ahh Changmin-ah….”seruku kaget melihatnya yang sudah ada tepat di depanku.

”Annyeong….ayo berangkat….”serunya sambil tersenyum.

Aku pun membalas senyumnya dengan terpaksa dan berjalan menuju sepedanya.

 

Di sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam. Sepertinya aku benar-benar terpengaruh cerita itu. Lupakan Yong Soon! Seruku pada diriku sendiri.

”Tumben kau diam saja…”seru Changmin membuyarkan lamunanku.

”Ah…ne…tidak ada yang seru untuk dibicarakan…”jawabku singkat.

Dia hanya terkekeh pelan mendengar jawabanku. Tak lama kemudian kami sampai di sekolah dan seperti biasa setelah memarkirkan sepedanya dia akan beranjak menuju lapangan basket.

”Aku duluan ya…oh ya bekalnya kau taruh di lokermu dulu saja nanti aku ambil…annyeong…”serunya sambil melambaikan tangannya kemudian menghilang di belokan menuju lapangan basket.

Sepertinya sudah kebiasaannya menyuruhku membawakan bekal untuknya. Kalau bukan sahabatku dari kecil tidak mau aku repot-repot menyiapkan bekal untuknya. Sepanjang perjalanan entah kenapa cerita Ji Hoon semakin terngiang-ngiang jelas di pikiranku. Aigoo Choi Yong Soon, lupakan itu!aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ok lupakan sekarang. Changmin sekarang sama seperti Changmin yang aku kenal sejak TK. Aku pun segera berjalan masuk ke gedung sekolah namun tiba-tiba.

BRUKK

Aku kembali menabrak seseorang.

”Ah mianhamnida…”seruku sambil membungkuk. Hufft aku ceroboh sekali sampai menabrak orang.

”Ya!kau ini kalau jalan hati-hati dong!”seru sebuah suara yang sudah aku kenal.

Begitu aku mendongakkan kepalaku aku terlonjak kaget begitu melihat siapa yang aku tabrak. Aigoo kenapa aku harus selalu bertabrakan dengan namja ini terus.

”Annyeong noona…”seru sebuah suara dari balik tubuh namja ini tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya.

Aku menatap Kyuhyun yang seperti biasanya memasang tampang dinginnya berbeda sekali dengan sepupunya Henry yang selalu tersenyum. Hufft sepertinya sejak dia masuk ke sekolah ini aku tidak pernah melihatnya tersenyum. Namja yang pelit senyum. Lalu Kyuhyun berlalu begitu saja tanpa berbicara apapun. Dasar jutek sekali dia!gerutuku dalam hati.

”Mianhe..hyungku memang seperti itu…”seru Henry yang masih berdiri di hadapanku.

”Ah gwenchana…”jawabku sambil tersenyum.

”Tapi kau tahu noona kalau di rumah dia sering sekali membicarakan…”seru Henry lagi namun Kyuhyun langsung memanggilnya.

”Ya!Henry…ngapain kamu disitu..”seru Kyuhyun berbalik dan menatap tajam ke arah Henry.

”Ah ne hyung…annyeong noona…”seru Henry sambil tersenyum padaku lalu berlalu mengejar Kyuhyun yang menatap tajam ke arahnya.

Sekilas aku bisa merasakan Kyuhyun melirik ke arahku lalu menyunggingkan senyum. Ya apa dia tadi tersenyum? Ah pasti aku salah lihat, mana bisa manusia seperti itu tersenyum. Suatu keajaiban jika itu terjadi. Aigoo aku baru ingat hari ini aku dan dia mulai latihan bersama di jam istirahat. Ya Tuhan benar-benar siksaan!seruku dalam hati.

 

Kyu POV

Ya si mochi ini hampir saja membocorkan rahasiaku. Senang sekali sih dia menceritakan semua yang seharusnya tidak diceritakan pada orang lain, waktu itu dengan hyung-hyungku sekarang hampir saja langsung ke orangnya. Sebenarnya aku sendiri masih belum yakin dengan perasaanku terhadap gadis itu tapi entah kenapa selalu saja setiap kejadian memabwaku untuk selalu ada di dekatnya, entahlah itu takdir atau bukan tapi yang jelas setiap di dekatnya aku selalu merasakan perasaan yang lain, perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya yang kata Donghae hyung sih namanya cinta, ah harusnya aku tidak cerita padanya soal itu. Dia terlalu bertanya macam-macam padahal aku hanya bertanya saja. Lebih baik aku cerita pada Sungmin hyung saja yang sepertinya tidak akan bertanya macam-macam tidak seperti Donghae hyung yang sampai bertanya siapa orangnya. Padahal aku sendiri masih belum yakin dengan perasaanku ini.

”Hyung aku duluan ya…”seru Henry begitu sampai di depan kelasnya.

Aku mengangguk dan berjalan menuju kelasku yang tidak terlalu jauh dari kelas Henry. Begitu aku masuk ke kelas.  Di dalam kelas masih terlihat sepi, tumben sekali padahal aku pikir aku sudah berangkat lebih siang dari biasa. Baguslah aku bisa menikmati pagiku dengan tenang. Tak lama kemudian gadis itu masuk dan seperti biasa dia akan menyapa temannya di depan yang kalau tidak salah namanya Chae Kyung dan bisanya dia akan duduk dulu di depan mengobrol dengan gadis itu, baru dia akan duduk di mejanya. Aku yang sedang mendengarkan lagu lewat i-phoneku tanpa sadar malah terus memperhatikannya. Dia kini sedang tertawa bersama Chae Kyung. Gadis yang benar-benar unik. Kenapa dia bisa menangis seperti itu ya kemarin? Tatapan matanya saat menangis benar-benar sedih sekali dia seperti menyimpan kesedihan yang mendalam tapi sekarang entah kenapa dia bisa tertawa dengan lepas tapi ya aku masih melihat kesedihan itu di matanya. Apa ya yang membuatnya sampai sedih seperti itu?

Yong Soon merasa jika sejak tadi aku memperhatikannya, dia menatap ke arahku lalu kemudian mengalihkan padangannya dan menggeser duduknya lebih dekat dengan Chae Kyung seperti berusaha menghindari tatapanku. Kemudian aku melihat Changmin masuk dan langsung menutup mata Yong Soon. Hufft entah kenapa aku kesal setiap melihat dia sangat dekat dengan Yong Soon, sebenarnya apa hubungannya dengan Yong Soon? Sampai mereka sepertinya begitu dekat sekali. Aku malas meliha mereka yang tertawa bersama dan lebih memilih fokus dengan PSPku.

 

Yong Soon POV

Aku berjalan menuju ruang musik dengan langkah gontai, hah malas sekali kenapa hanya latihan berdua. Sudah mana sejak pagi namja itu selalu melihat ke arahku terus membuatku risih saja. Aku berjalan lebih dulu menuju lokerku untuk mengambil bekal yang akan aku berikan pada Changmin. Dia cepat sekali menghilang begitu sudah bel istirahat. Aku tahu pasti dia akan lebih memilih ke lapangan basket dibanding makan di kantin, oleh sebab itu dia selalu memintaku membawakan bekal untuknya supaya dia tidka perlu repot-repot ke kantin dan bisa tetap makan siang. Aku membuka lokerku dan mengambil bekalnya. Setelah itu aku hendak berjalan menuju lapangan basket. Tapi begitu sampai di koridor yang menuju lapangan basket aku melihat Changmin bersama seorang yeoja. Aku berhenti dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan di balik dinding.

”Ini untuk sunbae…”seru yeoja itu yang sepertinya adik kelasku dilihat dari cara memanggil Changmin.

Dia menyerahkan kotak makan berwarna merah kepada Changmin. Oh ternyata salah satu fansnya lagi. Ah sudahlah sebaiknya bekal ini kuberikan pada orang lain saja, Changmin sudah mendapatkan bekal dari orang lain. Aku pun segera berbalik dan berjalan menuju ruang musik. Kenapa perasaanku jadi sedih seperti ini ya? Kenapa memangnya kalau Changmin dapat bekal dari orang lain? Aishh kenapa dengan perasaanku ini. Rasanya malas sekali untuk latihan hari ini. Begitu aku sampai di depan ruanng musik, aku mendengar seseorang memainkan piano. Pasti dia sudah ada di dalam. Hufft malasnya, apalagi suasana hatiku sedang seperti ini gara-gara Changmin. Ya bukan…bukan karena Changmin. Aishh, aku tidak boleh seperti ini. Aku pun menghembuskan nafasku perlahan kemudia membuka pintu ruang musik dan benar saja Kyuhyun sedang memainkan piano yang ada di ruangan ini. Entah kenapa setiap melihatnya bermain piano aku hanya bisa terpaku  memandanginya, dia sungguh sangat berbeda ketika seperti ini.

”Ya!kenapa kau malah menatapku terus…sebegitu tampannyakah aku…”serunya yang membuatku mendengus kesal.

Dasar manusia narsis!menyesal aku tadi memandanginya seperti itu.

”Dasar narsis!”seruku.

”Kau telambat 5 menit!”serunya lagi.

Huh apa ia menghitungnya sampai sedetail itu. Memangnya kenapa kalau terlambat, toh hanya lima menit. Menyebalkan sekali dia.

”Ya sudah ayo mulai latihan!”seruku sambil berjalan ke arahnya.

 

Aku senang kami lebih banyak diam, ya sebenarnya dia yang lebih banyak diam tapi baguslah aku tidak tahu harus bicara apa padanya. Kami berlatih beberapa lagu yang akan kami bawakan nanti. Sampai giliranku membawakan lagu itu.

”Ya!kau salah!”serunya.

Sungguh dia namja yang sangat menyebalkan, aku juga tau salah, aku sedang berusaha melakukan yang benar kenapa dari tadi dia menggerutu terus. Aku mencoba memainkan lagu itu lagu. Menurutku lagu ini memang sedikit sulit.

Tiba-tiba di duduk disampingku dan mulai memainkan lagu itu. Aku tertegun melihatnya memainkan lagu itu bukan karena lagunya yang indah, aku tertegun melihat wajahnya yang berubah menjadi sangat serius, melihatnya sedekat ini bermain piano, entah kenapa membuat jantungku menjadi berdegup sangat kencang. Kenapa aku baru sadar kalau dia benar-benar tampan ya? Apalagi saat seperti ini, wajah juteknya benar-benar hilang yang ada hanya wajah lembutnya saja. Omo apa yang aku pikirkan.

”Ara…ara aku tahu…”seruku sambil berusaha menyingkarkan tangannya dari atas tuts piano.

Namun saat tangan kami bersentuhan perasaan itu muncul lagi. Kami saling bertatapan. Dia menatapku dengan mata lembut itu lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku pikirkan saat ini. Kemudian dia langsung berdiri dan beranjak ke tempat duduk di pojok ruangan dan menatap keluar jendela. Aku yang masih tertegun gara-gara tadi hanya bisa menunduk. Lama kami terdiam. Ottohke kenapa jadi seperti ini. Ucapku dalam hati.

 

Kyu POV

Kini kami duduk samping-sampingan di lantai bersender pada dinding. Kami baru saja selesai latihan yang lebih banyak diisi dengan diam, gara-gara kejadian tadi saat tangan kami kembali bersentuhan suasananya berubah menjadi canggung kembali. Aku meliriknya dan dia hanya menunudukan kepalanya. Kenapa kami malah tetap disini? Lebih tepatnya kenapa dia masih tetap disini?

Aku berdehem berusaha membuka pembicaraan. Namun gadis disampingku tetap menundukan kepalanya. Aku melihat jam tanganku istirahat masih 30 menit lagi. Perutku lapar sekali, pasti sekarang kantin sudah tidak terlalu ramai lagi tapi bagaimana dengan gadis ini apa dia sudah makan? Apa aku ajak saja ke kantin ya? Pikirku.

”Kenapa selalu saja setiap bertemu denganmu kau pasti belum makan…”serunya sambil mendongakan kepalanya dan memberikan sebuah kotak makan berwarna biru ke arahku.

Memangnya dia bisa mendengar suara perutku.

Aku tetap diam tidak mengambil bekal makanan itu meski perutku benar-benar sangat lapar.

”Sebenarnya ini untuk Changmin tapi sepertinya dia sudah membawa bekal sendiri….untukmu saja…”serunya dengan menunjukan wajah sedikit sedih.

”Ya!kau memberikanku bekal yang sebenarnya untuk Changmin?!”seruku padanya.

”Ya sudah kalau tidak mau…”serunya sambil menarik kembali bekalnya.

Aku pun segera mengambil bekal tersebut, berhubung aku sangat lapar dan tidak mungkin untukku makan di kantin sebaiknya kuterima saja meski sebenarnya bekal itu untuk Changmin. Huh kenapa dia harus repot-repot membuatkan bekal untuk Changmin, aku jadi semakin penasaran dengan hubungan mereka. Aku pun mulai melahap isi bekal itu.

 

Yong Soon POV

Dia sepertinya sangat kelaparan sampai bekal itu habis hanya dalam waktu beberapa menit saja. Kemudian tiba-tiba dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku.

”Kemarin kenapa kau menangis?”tanyanya sambil menatap kedalam mataku.

Aku yang merasa risih ditatap seperti itu mengalihkan pandanganku.

”Apa itu ada hubungannya dengan ayahmu?”tanyanya lagi.

Aku tersentak mendengarnya berkata seperti itu, apa jangan-jangan dia mendengar semua ucapanku saat aku menangis, berarti dia sudah lama melihatku menangis di depan piano ini. Omo!

”Aku hanya bertanya saja…”serunya lagi dan dia mengalihka padangannya menatap lurus ke depan.

Sepertinya dia tahu semuanya. Ottohke? Kenapa aku bisa babo sekali menangis sambil berbicara seperti itu. Hufft. Aku menghela nafas perlahan.

 

Kyu POV

Dia mulai bercerita tentang ayah, aku bisa melihat sepertinya dia sangat menyayangi ayahnya itu, setiap kali dia bercerita pasti matanya berkaca-kaca. Aku baru tahu ternyata kemarin dia merindukan ayahnya karena ayahnya sudah meninggal. Kasihan sekali dia.

”Aku sayang ayahku…aku sangat sedih saat dia meninggalkanku dan juga ibuku…kau tahu rasanya saat itu seperti semua rencana yang sudah aku susun untuk masa depanku seperti hilang semua…”serunya dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku terdiam mendengarnya bercerita. Ya ampun aku tidak menyangka dia menyimpan kesedihan yang begitu mendalam. Dibalik senyuman dan tawanya setiap hari sebenarnya dia sakit. Gadis bodoh yang berpura-pura tegar. Kini air matanya mulai turun. Aigoo, kenapa dia menangis. sungguh setiap melihat dia menangis entah kenapa aku seperti merasakan rasa sedih yang dia rasakan. Dia berusaha mengusap air matanya dengan tangannya namun air mata itu terus turun bahkan semakin banyak. Sepertinya dia sangat merindukan ayahnya.

Tanpa sadar aku malah mendekatkan diriku padanya dan menjulurkan tanganku lalu merengkuhnya ke dalam pelukanku.

 

 

 

 

Yong Soon POV

Tiba-tiba dia mendekapku dan mengusap kepalaku perlahan. Omo apa yang dia lakukan. Ya Tuhan, jantungku berdegup sangat kencang sekarang, semoga dia tidak mendengarnya.

”Menangislah kalau itu membuatmu lebih baik…”serunya sambil terus memelukku.

Aku pun membenamkan wajahku di dadanya dan mulai menangis. Dia terus saja membelai lembut rambutku. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman seperti ini, nyaman sekali rasanya, seakan aku bisa menemukan tempat untukku membagi semua rasa sedihku. Aigoo, apa yang aku pikirkan. Tidak, aku tidak menyukainya hanya saja, ya aku merasa nyaman seperti ini bersamanya tapi aku tidak boleh menyukainya hanya karena hal ini.

 

Changmin POV

Aisshh, kemana Yong Soon? Aku kan mau mengambil bekalku sekalian memakannya bersamanya. Sebenarnya aku tidak enak pada seorang yeoja yang ternyata adalah hoabeku itu karena menolak bekal yang dia berikan habisnya aku sudah dibawakan bekal, kalau tidak pasti aku terima, kan sayang kalau aku terima tapi tidak akan kumakan lebih baik aku tidak menerimanya. Sekarang anak itu menghilang. Aku kembali ke kelas mencarinya namun tidak ada juga.

”Chae kyung-ah…kau lihat Yong Soon?”tanyaku pada Chae Kyung yang sedang membaca buku.

”Oh….dia kan latihan piano hari ini….mungkin  dia ada di ruang musik….”jawab Chae Kyung.

”Oh…gumawo…”seruku dan aku pun bergegas menuju ruang musik.

Saat aku membuka pintu ruang musik, aku benar-benar kaget melihat apa yang aku lihat. Hatiku benar-benar sakit melihatnya. Yong Soon dan Kyuhyun. Sejak kapan mereka dekat seperti itu? Jujur saat itu aku benar-benar kesal melihat mereka.

”Yong Soon-ah…”seruku memanggilnya.

Dia menoleh ke arahku dengan wajah sangat kaget melihatku. Aku melihat kotak bekal itu ada disampingnya. Jadi Yong Soon memberikan bekal itu kepada makhluk penghisap darah itu!! Aku benar-benar muak melihat Yong Soon bersama makhluk itu, aku segera pergi dari tempat itu dengan sebelumnya memandang tajam ke arah makhluk itu.

 

Yong Soon POV

”Changmin-ah…”seruku berusaha memanggilnya.

Kenapa dia langsung pergi seperti itu? Kenapa dengannya. Aku pun segera berdiri dan hendak pergi mengejarnya namun Kyuhyun menahan tanganku.

”Apa kau juga mencintainya?”tanyanya dengan langsung menatap ke dalam mataku mencari jawaban.

”Mwo??”tanyaku tidak mengerti.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Love Is Really Hurt Part 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s