FF: Love Is Really Hurt Part 4

Cast:

Super Junior

SHINee

DBSK

Genre: Horror, Romance, Friendship

 

4.      MEET YOU

 

”Kyu kenapa wajahmu pucat?”tanya Teukie hyung begitu aku masuk ke dalam rumah bersama hyung-hyungku.

”Dia tidak apa-apa kok…Kyu kau kembali ke kamar saja…”seru Sungmin hyung menjawab pertanyaan Teukie hyung.

Aku pun berjalan menuju kamarku berusaha mengingat-ingat ada kejadian apa tadi tapi meski aku sudah berusaha mengingat aku tetap tidak tahu apa yang terjadi tadi. Aku duduk di tepi tempat tidurku berpikir, kenama mereka semua tampak khawatir. Apa yang sudah aku lakukan?

”Siapa yang kau bunuh lagi?!”seru Siwon hyung langsung masuk ke dalam kamarku.

”Siwon!”seru Donghae hyung yang juga masuk setelah Siwon dan menarik tangannya.

Aku hanya memandang mereka bingung. Apa maksud Siwon hyung?.

”Tidak terjadi apa-apa Siwon…sudahlah!”seru Donghae kembali menarik tangan Siwon hyung.

Tapi Siwon hyung tetap menatap tajam ke arahku, apa yang terjadi padanya.

”Ada apa ini?”tanya Teukie hyung sambil masuk ke dalam kamarku.

”Hyung kau tahu apa yang dia lakukan tadi!”seru Siwon hyung dengan setengah berteriak.

Aku semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Apa yang sedang mereka bicarakan? Tidak ada satu pun yang aku mengerti.

”Siwon!dia tidak melakukan apapun!”seru Donghae hyung dan langsung menarik Siwon hyung dengan kasar keluar dari kamar.

Teukie hyung hanya memandang kearahku dan ke arah kedua hyungku bergantian, bingung, aku pun hanya menegakan bahuku tidak mengerti juga dengan apa yang terjadi.

”Ya sudah…tidurlah…kau pasti lelah…”seru Teukie hyung.

Aku pun hanya menggangguk lalu teuki hyung keluar dari kamarku dan menutup pintu. Kemudian aku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidurku mencoba kembali mengingat apa yang terjadi. Sebelum aku pingsan apa yang aku lakukan? Aku kembali mengingat kejadian tadi di taman. Aku merasa aku sedang berjalan keliling taman lalu melihat penjual sate ayam, aku berjalan ke arah penjual itu, aku membeli beberapa tusuk sate ayam lalu aku berjalan ke kembali ke tempat aku menunggu tapi belum sampai disana tiba-tiba semuanya gelap. Apa yang menyebabkan aku pingsan ya? Aku berusaha mengingat dengan keras tapi aku tetap tidak ingat. Aisshh sudahlah. Aku sama sekali tidak ingat, percuma saja aku mengingat-ingat, aku pun memejamkan mataku dan tertidur.

 

 

Hari ini di meja makan hanya ada beberapa hyungku. Kemana yang lain? Siwon hyung tidak ada. Aku pensaran kenapa dia seperti itu sejak semalam. Aku duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Zhoumi hyung yang sedang sarapan. Aku menatap kesekililingku, mereka semua makan dalam diam. Suasananya jadi aneh begini. Kenapa mereka semua?

”Pagi!”seru Donghae hyung dengan ceria sambil berjalan menghampiri meja makan dan duduk disampingku.

”Kau sudeh lebih baik Kyu?”tanyanya sambil tersneyum.

Aku mengangguk dan memakan rotiku. Tak lama kemudian Henry bergegas turun dari tangga dan berlari menuju meja makan dan langsung menyambar roti di atas piring yang sudah disediakan lalu meneguk susu dalam sekali teguk. Buru-buru sekali anak ini.

”Hyung aku pergi dulu ya..aku sudah telat nih….”serunya dan langsung berlari menuju pintu.

”Kemana Siwon hyung?”tanyaku penasaran kenapa dia belum ada di meja makan pagi ini.

”Oh…dia sudah pergi sejak semalam…katanya ada pemotretan di Italia…”seru Zhoumi hyung menjawab pertanyaanku.

Oh jadi dia sedang pergi bekerja pantas dia tidak kelihatan tapi aku masih memikirkan tatapan tajamnya semalam dan juga perkataannya yang aneh itu. ’siapa yang kau bunuh lagi?’ apa maksud perkataannya itu.

”Ah ya Kyu…aku sudah bisa memperbaiki kameramu…jadi aku tidak punya hutang lagi denganmu…”seru Donghae hyung sambil tersenyum bangga.

Aku hanya tersenyum mengejek kearahnya. Baguslah kamera itu bisa diperbaiki.

”Mana?”seruku.

”Ada di kamarku…nanti ambil saja…”serunya.

Tak lama kemudian Teukie hyung datang dan langsung duduk di samping Zhoumi. Dia tersenyum kepada semua orang disini. aisshh aku bingung dengan keluarga ini, kemarin mereka berbicara hal yang sangat aneh dengan wajah aneh sedangkan pagi ini mereka sudah kembali seperti biasa seakan kemarin tidak terjadi apa-apa.

 

Yong Soon POV

”Umma…aku pergi dulu ya…”seruku sambil berjalan keluar rumah.

Baru sampai di depan pagar rumahku, sebuah sepeda berhenti tepat di depanku.

”Kajja…naiklah…”serunya.

Aku tersenyum dan langsung naik ke atas sepedanya.

Changmin datang menjemputku, memang sih sudah seperti kebiasaan kami berangkat bersama dengan sepedanya, aku pikir setelah dia pindah tidak mungkin lagi untuk kami berangkat sekolah bersama.

”Pegangan ya…”serunya.

Aku pun memegang erat pinganganya dan sepeda pun melaju. Melewati setiap jalanan kota Seoul. Senangnya berangkat sekolah naik sepeda seperti ini, apalagi kami selalu berangkat pagi-pagi jadi udaranya masih sangat segar. Aku menikmati angin yang menerpa wajahku. Menyegarkan. Kurentangkan tanganku ke atas langit.

”Hey…nanti kau jatuh…pegangan…”seru Changmin.

”Kau tahu udara hari ini sangat sejuk sekali…”seruku.

”Dasar norak seperti tidak pernah naik sepeda saja…”serunya sambil terkekeh pelan.

Aku pun menjitak kepalanya dan dia meringis kesakitan sehingga sepedanya oleng sedikit.

”Ya!kau mau membuatku jatuh!”seruku.

”Habisnya kau malah menjitak kepalaku!”serunya lagi.

Aku dan Changmin memang sangat dekat, kemana-mana selalu bersama bahkan kami satu kelas. Changmin termasuk anak yang populer disekolah bagaimana tidak, Changmin ketua tim basket, seluruh gadis di sekolah ini mengidolakan dia, nah terkadang karena aku sangat dekat dengannya banyak gadis-gadis yang sering berusaha mendekatiku untuk bisa mendekati Changmin, yah aku sih mau saja membantu mereka tapi anehnya sampai sekarang belum ada gadis yang mampu menaklukan hati Changmin, meski banyak gadis yang menyukainya dan terang-terang menyatakn cintanya pada Changmin tetap saja Changmin lebih memilih untuk tidak menerima mereka dan memperlakukan sama semua gadis kecuali aku tentunya karena dia sudah kuanggap saudaraku sendiri.

Kami pun sampai di sekolah.

”Aku ke lapangan basket dulu ya..”serunya.

”Ne…Tony Parker…”seruku sambil tersenyum.

Dia pun berjalan menuju lapangan basket sedangkan aku berjalan menuju kelasku. Baru sampai di depan lokerku, seseorang menepuk bahuku. Karena kaget aku pun menoleh.

”Unnie…ini tolong berikan pada Changmin Oppa…”seru seorang gadis yang sepertinya adalah hobaeku sebab dia memanggilku unni.

Dia menyerahkan bungkusan yang sepertinya berisi bekal makan siang. Aku pun menreimanya dan tersenyum padanya. Tuh kan selalu saja setiap pagi pasti ada yang seperti ini. Setelah menyerahkan bungkusan itu gadis itu berlalu. Aku pun memasukan bekal itu ke dalam lokerku dan akan kuberikan nanti saat makan siang pada Changmin. Kenapa sih Changmin itu tidak pernah peka? Kenapa dia tidak mau membuka hatinya sih, banyak gadis yang menyukai dia tapi dia tetap cuek. Dasar orang aneh!seruku dalam hati.

Setelah mengambil beberapa buku di dalam loker aku berjalan menuju kelasku. Sampai lagi-lagi ada seseorang yang memanggilku.

”Yoong Soon-ah!”teriak seseorang, aku pun menoleh dan aku melihat seorang namja berlari ke arahku.

Aku pun berdiri menunggunya berhenti tepat di depanku.

”Waeyo Key?”tanyaku langsung.

”Aisshh…kau ini daritadi aku mencarimu tahu sampai lari-lari dari lapangan basket sampai kesini…aku kira kau bersama dengan Changmin…”serunya sambil mengatur nafas.

”Waeyo?”tanyaku lagi.

”Aisshh…kau ini ya…pulang sekolah kita harus rapat lagi ya…aku yakin kalau tidak bilang sekarang padamu pasti aku tidak akan bisa menemuimu lagi nanti..kau sudah menghilang nanti siang…”serunya.

”Ne..ne…arassoo…aku datang…”seruku dan langsung berjalan meninggalakannya.

Inilah repotnya menjadi ketua kepresienan murid. Ya Tuhan kenapa aku bisa terpilih saat itu? Ini gara-gara Minho Oppa yang menyalonkanku menjadi kandidat ketua kepresidenan murid. Sekarang dia sudah enak-enakan kuliah sementara aku harus memikul tanggung jawab yang sangat berat ini. Minho Oppa adalah sepupuku dan dulu ia adalah Ketua kepresidenan murid disini, dulu aku memang aktif ikut hal-hal seperti ini berhubung dulu aku sangat kagum sekali dengan Minho Oppa dan ingin sekali bisa seperti dia makanya waktu itu aku ikut organisasi ini tapi setelah menjabat seperti ini rasanya aku ingin mundur saja. Lagian kenapa mereka bisa memilihku. Aku menghela nafas dan masuk ke dalam kelasku dengan tertunduk dan mencari tempat dudukku. Aku menaruh tasku dengan kasar.

”Gwenchananyo?”tanya seoarang yeoja yang duduk disampingku menepuk bahuku.

”Ah..ne gwenchana…”seruku sambil tersenyum.

Dia pun tersenyum padaku, aku kembali menunduk dan dia kembali asyik dengan bacaannya. Dia adalah sahabatku dan juga Changmin tentunya. Namanya Shin Chae Kyung. Dia sangat rajin contohnya seperti ini, disaat yang lain sedang sibuk bercanda atau melakukan hal yang aneh dia malah sibuk membaca buku. Dia juga sangat manis apalagi kalau tidak salah dia masih ada keturunan luar. Dia juga sama seperti Changmin meski sangat populer dan banyak namja yang suka padananya tetap saja dia lebih memilih sendiri. Memang dua temanku ini sangat aneh. Aku baru kenal dia sejak masuk SMA tapi kami sudah sangat dekat. Dia juga salah satu teman terbaikku selain Changmin tentunya. Biasanya kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku, Changmin dan Chae Kyung.

PLETAKK

”Dasar pemalas!”seru Changmin yang masuk ke dalam kelas dan langsung mendaratkan buku ke atas kepalaku.

Aku pun mendongak dan mendapatinya sedang tersenyum penuh kemenangan karena bisa membalas dendam yang tadi. Aku hanya memanyunkan bibirku.

”Kau semkain jelek seperti itu!”serunya lagi dan langsung mencubit pipiku dengan kedua tangannya.

Dasar Changmin!

Aku pun  membalas dengan mencubit kedua pipinya, alhasil kami saling mencubit pipi.

”Menyerah…”seruku.

”Tidak..”jawabnya.

”Kalian ini seperti anak kecil saja…”seru Chae Kyung yang memeprhatikan kami sambil terkekeh pelan.

Akhirnya Changmin melepaskan tangannya.

”Ya!dia memang anak kecil tahu…lihat dia itu pendek sekali…”seru Changmin sambil menepuk kepalaku.

”Ya!kau saja yang ketinggian…dasar tiang listrik!”seruku padanya.

”Sudah ah…kalian ini…”seru Chae Kyung sambil tersenyum melihat tingkah kami yang seperti anak kecil.

 

”Changmin-ah!tunggu!”seruku pada Changmin yang sudah bersiap pergi begitu mendengar bel berbunyi pasti dia ingin buru-buru ke lapangan basket. Memangnya dia tidak mau makan siang apa? Apa basket sudah bisa membuatnya kenyang.

”Ikut aku…”seruku sambil menarik tangannya menuju lokerku,

Sampai di depan lokerku aku segera memberikan bekal yang tadi di berikan seorang gadis yang bodohnya aku lupa menanyakan siapa namanya.

”Wah kau membuat bekal untukku…”serunya dengan senyum mengembang di wajahnya.

”Percaya diri sekali kau!ini dari fansmu lagi…seorang junior tapi aku lupa tidak menanyakan namanya tadi…”seruku.

Dia hanya mengangguk dan membuka bekal itu dan tersenyum.

”Ini makanan kesukaanku..bibimbap…”serunya sambil menunjukan isi bekal itu padaku.

”Kau harus berterima kasih sama gadis itu…”seruku.

”Kita makan bersama yuk…”serunya langsung menarik tanganku sebelum aku menjawab iya atau tidak, kami sudah sampai di taman sekolah dia pun mendudukanku di bawah pohon dan membuka bekalnya dan menyuruhku untuk mengambil makanan di dalamnya.

”Ya!ini kan khusus dibuat untukmu…aku tidak berhak memakannya…”seruku tidak mau.

”Sudahlah makan saja….ini kan milikku dan aku membolehkanmu memakan makananan ini…”serunya sambil mengambil satu potong bibimbap dan memakannya.

Aku tetap diam dan hanya melihatnya makan seperti biasa dia makan seperti orang kelaparan saja. Aku mengalihkan pandanganku menatap langit hari ini yang begitu cerah meski matahari sangat terik hari ini tapi di bawah pohon ini sangat sejuk.

”Buka mulutmu…”serunya tiba-tiba dan membuatku menoleh kearahnya.

Dia langsung memasukan satu potong bibimbap ke mulutku, terpaksa aku harus memakannya.

”Enak kan?kau juga kan lapar…”serunya sambil tersenyum.

”Hei…bagaimana kalau kita lomba…siapa yang paling banyak bisa memasukan bibimbap ke dalam mulutnya?”seruku.

”Hadiahnya apa?”tanyanya.

”Aku traktir es krim dan aku yang akan memboncengmu pulang…tapi kalau kau kalah kebalikannya…mau?”tanyaku.

”Ayo…kau pasti kalah aku kan makan paling banyak…”serunya bangga.

”Kit lihat saja…”seruku dan mulai memasukan bibimbap satu persatu ke dalam mulutku.

 

 

”Mianhe…aku terlambat…”seruku begitu masuk ke dalam ruang musik.

”Ne..gwenchanayo…aku tau kamu sibuk…”seru  Na Ra. Ketua klub musik ini.

Gara-gara ada rapat aku harus telat masuk, sebenarnya aku tidak enak sekali setiap hari selalu telat habisnya terkadang jadwal rapat yang disusun oleh sekretaris selalu saja berbenturan dengan jadwal klub musikku. Hufft, lain kali biar aku saja yang mengatur jadwal itu agar tidak berbenturan.

Ya aku merupakan salah satu anggota klub musik. Meski seperti ini aku bisa main piano, meski tidak terlalu bisa tapi aku memutuskan untuk ikut klub ini. Aku pernah belajar main piano saat aku masih kecil dan ayahku sangat ingin sekali aku menjadi pianis oleh sebab itu ayah memasukanku ke les piano namun ayah ternyata pergi meninggalakanku lebih dulu sehingga aku harus mengubur impianku menjadi seorang pianis dan cukup menyalurkan hobiku disini, di klub musik ini. Terkadang kami juga melakukan pegelaran sederhana dan mengikuti lomba beberapa kali. Hari ini kami latihan untuk persiapan pegelaran seni dua minggu lagi di sekolah ini yang akan mengundang beberapa sekolah lain juga untuk tampil.

”Yoong Soon…untuk pegelaran minggu depan kita kebagian jam berapa?”tanya Ra Na begitu kami selesai latihan dan sedang membereskan peralatan.

”Sekolah kita akan tampil jam dua belasan….mau diubah?”tawarku.

”Ne..tidak apa-apa jam segitu saja…”serunya sambil tersenyum.

”Masalahnya aku juga sedikit bingung mengenai waktu tampil itu…aku jadi pusing…”seruku.

”Hwaiting!ini bukan tugas pertamamu…sudah ya aku duluan…annyeong…”seru Ra Na lalu berjalan keluar ruang musik.

Aku berjalan menuju piano yang ada di tengah-tengah ruangan menyentuhnya. Entah kenapa setiap melihat piano aku selalu teringat ayahku, dulu kami selalu bermain bersama. Aku pun duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sering aku mainkan bersama ayahku. Aku memejamkan mataku dan berusaha merasakan bahwa ayahku juga bermain disini bersamaku.

”Noona…kau belum pulang?”seru sebuah suara menghentikanku bermain.

Aku menoleh dan mendapati seorang namja berjalan menghampiriku sambil tersenyum.

”Belum…aku belum pulang Henry?”tanyaku pada namja hobaeku yang namanya Henry.

Dia juga salah satu anggota klub musik ini, dia bertugas memainkan biola, ya dia sangat pandai sekali memainkan biolanya. Aku sangat kagum dengan anak ini meski dia adalah juniorku namun kemampuannya bahkan mengalahkan senior makanya dia bisa terpilih untuk selalu ikut dalam setiap pegelaran kami. Dia anak yang baik, dia sangat dekat denganku dan sudah aku anggap sebagai adikku sendiri habisnya kalau tidak salah dia tinggal jauh dari orang tuanya yang tinggal di China. Dia duduk disampingku dan tersenyum. Anak ini suka sekali tersenyum tapi aku suka sekali melihatnay tersenyum seperti ini, senyumnya sangat tulus.

”Coba mainkan lagi noona…”pintanya.

”Memangnya kenapa?”tanyaku heran kenapa tiba-tiba dia memintaku mengulangi permainanku.

”Hyungku pernah memainkan lagu ini tapi dia bermain tidak sebaik noona….jadi seperti ini aslinya…”serunya.

Aku hanya tertawa mendengarnya berbicara seperti itu.

”Memangnya hyungmu yang mana lagi yang bisa bermain piano?”tanyaku.

Ya dia punya banyak kakak entahlah ada berapa dia hanya bercerita satu-satu saja. Yang aku tahu dia punya kakak kandung dua dan yang lain adalah sepupunya disini tapi aku tidak tahu ada berapa sepupunya itu.

”Aku punya dua hyung yang bisa memainkan piano…..yang satu sangat mahir sekali nah yang satu lagi itu yang masih kurang tapi dia malah berusaha memainkan lagu tadi jadilah hasilnya aneh…padahal dia seumuran noona loh…”serunya.

Aku hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutnya. Tak lama kemudian Changmin muncul.

”Ayo pulang…”serunya padaku.

Aku pun berdiri dan mengambil tas ku.

”Henry kau belum pulang?”tanyaku melihatnya yang masih duduk di depan piano.

”Nanti aku dijemput…hati-hati noona…”serunya sambil melambai dan tersenyum padaku.

Aku pun membalas senyumannya dan berjalan menghampiri Changmin dan berjalan keluar sekolah.

”Kau pacaran dengan junior?”tanya Changmin sambil tersenyum mengejek.

”Enak saja…dia hanya kuanggap adikku saja…oh ya kau berhutnag satu es krim padaku…”Seruku sambil tersenyum penuh kemenangan.

Ya aku berhasil memenangkan taruhan tadi, ternyata Changmin tidak sehebat itu dalam hal makan.

 

 

Kyu POV

Aishh ini sudah kelima kalinya aku mencoba memainkan lagu itu tapi selalu saja salah. Aku menyerah saja lah tapi aku tidak mau kalah dari Kibum hyung. Aku harus bisa. Kau pasti bisa Kyuhyun!seruku menyemangati diriku sendiri.

”Masih mencoba hyung?”seru sebuah suara menghampiriku.

”Kau menganggu saja Mochi!”seruku pada Henry yang sepertinya baru pulang sekolah karena dia masih membawa tas di bahunya. Dia tersenyum mengejek padaku. Kurang ajar sekali anak ini.

”Masa kau kalah dengan sunbaeku disekolah…dia bisa memainkan lagu ini lebih bagus darimu padahal dia seorang gadis….kau kalah oleh seorang gadis hyung…”serunya.

Aku menatapnya tajam dan dia malah tertawa dan berlalu. Dasar anak itu. Aku kembali fokus menghapal not-notnya sampai seseorang tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Aku terkejut melihatnya.

”Mau dibantu?”tanya Kibum hyung yang sudah ada disampingku tersenyum dengan seyumannya yang menyeramkan itu.

”Ah…tidak usah…”seruku tanpa menoleh ke arahnya.

”Sepertinya takdirmu akan dimulai…sungguh sangat menarik untuk menyaksikannya…kemarin adalah pertunjukan yang sangat menarik andai kau bertemu dengannya tapi sepertinya nanti akan lebih menarik…”seru Kibum hyung tersenyum menyeringai.

Pasti dia mencoba melihat masa depanku lagi. Aku pun segera beranjak dan berjalan meninggalaknannya yang masih duduk di depan piano itu. Senang sekali dia melihat masa depanku. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada masa depanku aku hanya akan menjalaninya saja. Aku menoleh ke belakang dan benar Kibum hyung sudah menghilang dari tempat itu. Entahlah aku sebenarnya suka atau tidak dengan hyungku yang satu itu, terkadang dia bisa tiba-tiba baik tapi terkadang juga seperti tadi menyebalkan karena sering berbicara hal yang aneh-aneh.

 

Yong Soon POV

”Nanti aku jemput…”seru Changmin begitu aku sampai di tempat aku bekerja part time. Di sebuah toko es krim.

Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam. Untunglah hari ini aku datang tepat waktu habisnya kemarin aku telat gara-gara rapat sialan itu, untung saja Hyo Hoon Unnie tidak marah dan mau mengerti. Kalau tidak aku bisa kehilangan pekerjaan ini dan bagaimana nasibku. Aku masuk dan segera berganti baju dengan baju kerjaku dan mulai bekerja.

 

”Mianhamnida…”seruku pada seseorang yang aku tabrak untung es krim itu tidak mengenainya.

”Gwenchana…”jawabnya sambil merapihkan topinya.

Aku mendongak untuk melihat siapa yang aku tabrak tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai topi, syal, kacamata dan jaket padahal menurutku udara cukup panas untuk mengenakan jaket dan dia sangat tinggi. Namun entah kenapa dia hanya berdiri diam seperti menatapku dari balik kacamata hitamnya itu. Sampai beberapa lama sebelum akhirnya dia berjalan melewatiku namun tak lama kemudian dia memanggilku.

”Maaf…aku bisa bertemu Hyo Hoon?”tanyanya.

Aku segera menoleh.

”Ne…sebentar aku panggilkan..duduklah dulu…”seruku smabil mempersilahkan dia untuk duduk disalah stau kursi yang kosong. Aku pun segere pergi ke belakang untuk memanggilkan Unnie. Tak lama kemudian Unnie sudah menemaninya duduk.

Aku merasa sedikit aneh dengan pria ini habisnya sejak tadi dia tidak berhentinya menatap ke arahku dari balik kacamat hitamnya itu. Sambil sesekali dia bertanya pada Unnie dan Unnie langsung menoleh ke arahku sambil bercerita pada pria itu. Apa mungkin mereka membicarakanku? Ah tidak mungkin, aku hanya terlalu curiga. Aku pun kembali serius dengan pekerjaanku.

 

”Yong Soon-ah…”seru Hyo Hoon Unnie padaku ketika aku hendak pulang.

”Ne..”seruku sambil berbalik.

Dia berjalan ke arahku dan memberikanku sebuah bungkusan.

”Ini untuk Ji Woon…pasti dia suka…”serunya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. Hyo Hoon unnie memang sangat baik padaku. Aku sudah menganggapnya seperti kakak perempuanku sendiri. Aku pun segera keluar dari toko itu dan Changmin sudah menunggu dengan sepedanya seperti biasa. Changmin juga pasti pulang dari menjaga restorannya, setiap pulang sekolah dia pasti membantu kakaknya di restoran itu. Makanya setiap pulang dia sekalian menjemputku karena kebetulan toko es krim ini searah dengan rumahnya. Aku pun segera naik ke belakang dan memegang erat pinggangnya.

 

 

Kyu POV

”Hyung…”seruku pada Teukie hyung yang sedang asyik membaca di sofa di ruang santai sementara hyung-hyungku yang lain sibuk melakukan kegiatannya masing-masing.

Aku berjalan menghampirinya yang duduk disebelahnya. Dia berhenti membaca buku yang dibacanya dan meatapku.

”Waeyo?”tanyanya.

”Hyung apa aku boleh pindah sekolah ke sekolah manusia?”tanyaku hati-hati.

Aku bisa melihat perubahan wajah Teuki hyung yang kaget mendengarku berbicara seperti itu, selain itu hyung-hyungku yang lain langsung menatap ke arahku berhenti dari kegiatannya masing-masing.

”MWO!MWORAGO!”seru Teukie hyung.

“Ya hyung aku ingin pindah sekolah aku tidak suka sekolah disitu…tidak ada kemajuan…aku tidak bisa mengembangkan bakat seniku…disekolah Henry ada klub musik…aku ingin sekolah disana…”seruku panjang lebar berusaha menjelaskan alasanku untuk pindah.

Ya aku iri pada Henry, sepertinya asyik sekali bisa berinteraksi dengan manusia, punya banyak teman. Hyung-hyungku segera menghampiri aku dna teuki hyung yang masih diam, mungkin dia bingung harus menjawab apa atau mencari alasan lain agar aku mengurungkan niatku. Namun tidak akan pernah, aku akan tetap memaksa mereka untuk memindahkanku.

”Kau serius Kyu?”tanya Wookie hyung yang sudah duduk disampingku dengan pandangan tidak percaya.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan mantap dan Wookie hyung malah menatap ke arah Donghae hyung dan Sungmin bergantian.

”Kyu kau pasti bercandakan?sekolah manusia itu tidak asyik…aku pernah mencobanya…lebih enak disini…”seru Sungmin hyung.

Teukie hyung masih diam, aku menunggunya berbicara karena jawaban dari dialah yang aku tunggu. Semua orang disini juga sepertinya menunggu Teuki hyung berbicara.

”Kau bilang sendiri pada appa…aku tidak bisa membantu…”serunya sambil berdiri dan berjalan keluar ruangan.

Apa! Bilang sendiri pada ayah, pasti tidak akan boleh, aku berharap dia akan membantuku tapi dia malah seperti itu. Aku benci mereka semua, kenapa mereka memperlakukanku berbeda. Sungmin hyung, Wookie hyung, Donghae hyung bahkan hampir semua anggota keluarga ini pernah sekolah di tempat manusia bahkan Henry saja sejak kecil, sedangkan aku tidak pernah sekalipun. Kemarin saja itu pertama kalinya aku pergi ke dunia manusia. Itu pun harus memaksa, kupikir pemikiran mereka akan berubah setelah aku pergi ke dunia manusia dan aku bisa membuktikan pada mereka bahwa aku bisa. Mereka tetap tidak memberikanku kepercayaan. Aku berdiri dan berjalan keluar sambil membanting pintu. Aku pun berjalan menuju kamarku.

 

Donghae POV

Aku melihat perubahan ekspresi di wajah Kyu begitu Teuki hyung bilang dia tidak bisa membantunya. Seperti biasanya jika ada sesuatu yang diinginkan dan tidak ada yang mau memenuhinya dia akan marah seperti sekarang ini. Kyu kapan kau akan menjadi dewasa? Selalu saja seperti ini, bagaimana hyungmu mau memberikan kepercayaan jika kau masih seperti anak kecil. Aku tahu pasti dia sangat kecewa dan merasa selama ini selalu dibedakan dari yang lain tapi kau memang berbeda Kyu dan maaf  kami belum bisa bilang semua ini padamu karena kami sayang padamu. Ucapku dalam hati yang melihatnay keluar dari ruangan sambil membanting pintu. Aku pun segera mengejar Teukie hyung yang sudah keluar terlebih dahulu.

Aku mencarinya di seluruh rumah tapi tidak menemukannya, aku mencarinya sampai ke halaman belakang dan menemukannya sedang berdiri di depan teras. Aku pun berjalan menghampirinya.

”Hyung…”seruku sambil menepuk bahunya.

Dia hanya menoleh dan kembali menatap ke depan.

”Apa kita harus cerita padanya tentang semua itu?”serunya smabil menoleh ke arahku sekilas dan kembali menatap ke depan.

”Jangan hyung….Kyu tidak akan sanggup menerima kenyataan ini…dia pasti akan sangat terpukul…jangan hyung…kau sayang padanya kan…”seruku.

Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Kyu jika di tahu semua alasan kenapa kami tidak membolehkannya ke dunia manusia.

”Lalu aku harus bagaimana?”tanyanya Teukie hyung, kini aku bisa melihat wajahnya yang sangat bingung harus bagaimana lagi.

”Biarkan dia…”seruku.

Dia langsung terkejut mendengar jawabanku. Aku tahu dia pasti pikir aku sudah gila membiarkannya seperti itu, dia saja tidak tahu apa yang terjadi kemarin sudah sangat khawatir seperti ini apalagi aku yang tahu apa yang terjadi kemarin meski sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Kyu berubah menjadi seperti itu, apa yang dia cari pun aku tidak tahu. Jujur aku sangat khawatir kalau membiarkan dia seperti itu tapi aku tahu saat ini pasti tiba, disaat Kyu pasti sudah bosan dan tidak tahan lagi dengan ini semua dan kami pun tidak bisa menceritakan hal ini padanya karena itu akan lebih berbahaya baginya.

”Donghae-ah…tidak mungkin aku membiarkan dia…kalau terjadi sesuatu bagaimana…”serunya.

Aku tahu pasti dia tidak setuju dan aku sudah mengantisipasi hal ini, aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan sebuah kalung berliontinkan ruby warna merah dan menyerahkan ke tangannya. Dia tanpak bingung dengan apa yang aku lakukan dan meminta penjelasan dengan tatapan matanya itu.

”Kemarin aku pergi ke Madeira untuk menemui appa…seseorang di jalan memberikan ini padaku…seorang anak muda memakai jubah merah…dia bilang ini bisa membantumu untuk mengendalikan diri…aku bilang aku tidak butuh tapi dia memaksaku menerimanya dia bilang mungkin bukan kau yang butuh tapi yang lain…jadi kupikir ini bisa diberikan pada Kyu…”ceritaku.

”Siapa anak muda itu?”tanya Teukie hyung sambil menatap kalung itu dengan seksama.

”Molla…saat aku tanya siapa namanya dia sudah menghilang…”jawabku.

”Apa dia sama seperti kita?”tanyanya lagi.

”Sepertinya sama…tidak mungkin penjaga kastil itu membiarkan makhluk lain masuk ke Madeira…”seruku.

Teuki hyung menatap kalung itu dengan seksama sambil berpikir.

”Kau sudah mencobanya?”tanyanya.

”Ne..kalau kau pakai kalung itu kau tidak akan bisa mencium bau Henry…aku sudah mencobanya kemarin….aku juga heran kenapa anak muda itu memberikannya padaku…dia seperti tahu…”seruku.

Dia terdiam beberapa saat tampak berpikir.

”Baiklah…aku akan bicara pada appa dan memberikan ini pada Kyu…”serunya setelah beberapa saat terdiam.

”Semoga berhasil…”seruku dan berjalan meninggalakannya yang masih berdiri di teras.

Semoga itu bisa membuat Kyu mengendalikan dirinya sementara aku akan terus mencari tahu apa yang menyebabkan Kyu kehilangan kendali kemarin malam. Aku harus tahu penyebabnya. Sepertinya Kibum tahu sesuatu tapi dia tidak pernah mau cerita dan dia hanya cerita pada Yesung hyung tapi Yesung hyung juga merahasiakan hal ini. Mungkin aku bisa mulai untuk mencari informasi dari Yesung hyung. Sepertinya dia tahu banyak mengenai hal ini.

 

Yoong Soon POV

”Gumawo sudah mengantarku….annyeong…”seruku pada Changmin yang sudah mengantarku sampai rumah.

”Siapa yang mau pergi? Aku mau berkunjung ke rumahmu…sudah lama aku tidak bertemu umma dan Ji Won…”serunya smabil tersenyum dan langsung memarrkirkan sepedanya di halaman rumahku dan langsung masuk ke dalam rumah.

Aisshhh, kenapa anak ini senang sekali main di rumahku sih, dulu waktu kami masih tetanggaan dia bahkan pernah menginap di rumahku. Ternyata setelah pindah sama saja, pasti kalau dia sudah main kesini dia tidak akan pulang apalagi Ji Woon akan menyuruhnya menginap disini. Adikku itu genit sekali. Dia juga seenaknya saja masuk ke rumahku seakan rumah ini miliknya. Aku berjalan di belakangnya sambil menggerutu sendiri. Pasti ibu akan sangat senang sekali melihat Changmin datang, seakan aku bukan anaknya, dia lebih sayang pada Changmin.

”Umma…bogoshipoyo…”seru Chagmin langsung masuk dan memeluk ibuku.

”Aisshhh…dia ibuku….bukan ibumu…jangan panggil umma…”seruku padanya smabil menarik bajunya agar melepaskan pelukannya.

”Subang…”seru Ji Woon langsung berlari menghampiri Changmin dan langsung minta di peluk olehnya.

Dasar adikku genit sekali, apa-apaan itu, subang? Memangnya Changmin suaminya. Aku hanya menatap tajam ke arah adik kecilku yang sekarang ada dalam gendongan Changmin, dia malah menjulurkan lidahnya padaku. Aku hanya berjalan melewati mereka dan masuk ke kamarku sambil memanyunkan bibirku. Aku gerah sekali dan ingin mandi. Begitu aku selesai mandi, aku pikir Changmin sudah pulang ternyata dia sedang asyik mengobrol dengan ibuku dan Ji Woon, aku pun keluar dari kamar dan mendapati mereka sedang makan malam.

”Yoong Soon-ah….makan malam dulu…”seru ibuku menyuruhku duduk untuk makan malam.

Aku melihat Changmin makan dengan lahap padahal tadi baru saja kami makan es krim dan bibimbap, benar-benar deh entah terbuat dari apa perutnya itu. Setelah makan malam aku memberikan es krim untuk Ji Woon dari Hyo Hoon unnie.

”Gumawo unnie…”seru Ji Woon tersenyum.

Saat seperti ini saja dia bisa tersenyum seperti itu padaku, biasanya setiap hari dia selalu saja bertengkar denganku. Habis sifatnya itu yang sok dewasa padahal dia masih kecil. Menyebalkan sekali.

”Subang…kita makan sama-sama ya…”serunya sambil mengambil sendok dan manyuapi Changmin.

Cihh, apa-apaan adikku ini.

”Ya!kenapa kau memanggilnya subang…kau ini masih kecil…”seruku padanya.

”Yoong Soon-ah kau cemburu ya?”seru Changmin sambil mencubit pipiku.

Aku segera menepis tangannya dan menatap tajam ke arahnya.

”Siapa yang cemburu? Memangnya kau mau dengan anak kecil seperti dia…”seruku ketus.

”Lebih baik Ji Woon yang selalu tersenyum manis dibanding kau yang selalu cemberut….”serunya smabil terkekeh.

Menyebalkan sekali dia. Aku pun segera berdiri dan beranjak ke kamarku. Malas sekali melihat mereka seperti itu. Aku mendengar mereka tertawa bersama. Pasti seperti itu setiap pulang ke rumah jika Changmin ikut pasti semua orang akan lebih perhatian pada Changmin seakan aku tidak ada. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur dan memejamkan mataku. Lelah sekali hari ini.

 

 

 

”Yoong Soon-ah…Yoong Soon-ah…”seru sebuah suara membangunkanku.

Memangnya ini sudah pagi ya? Perasaan masih malam, aku baru tidur beberapa menit saja. Aku berusaha membuka mataku dan langsung terkejut begitu mendapati wajah Changmin tepat di depan wajahku.

”Ya!apa yang kau lakukan di kamarku?kenapa kau masuk ke kamarku!”seruku padanya.

”Memangnya aku tidak boleh masuk ke kamarmu? Dulu juga aku pernah tidur denganmu disini…”serunya smabil tersenyum penuh arti.

Aku segera melemparkan bantal ke arahnya dan mengenai kepalanya.

”Dasar yadong! Itu dulu waktu kita masih TK!”seruku dan segera bangkit mendorong tubuhnya yang tinggi untuk keluar dari kamarku.

”Ibu kenapa menyuruhnya masuk ke kamarku…”seruku pada ibuku yang sedang menonton bersama Ji Woon.

”Habisnya dari tadi dia mengetuk pintu kamarmu tapi kau tidak keluar juga…ya sudah ibu suruh masuk saja untuk membangunkanmu…dia mau pamit pulang…”jelas ibuku.

Tapi kan tetap saja, aku dan dia sudah dewasa, aku malu masa seorang laki-laki masuk ke dalam kamar seoarang gadis, meski Changmin sudah kuanggap saudara sendiri tapi tetap saja.

”Tuh kan…aku tidak salah…aku sudha diperbolehkan oleh umma…”serunya tersenyum enteng.

”Ya sudah sana kau mau pulang kan…”seruku sambil menariknya keluar rumah.

”Annyeonghaseyo Umma…”serunya membungkuk pada ibuku.

”Ne..lain kali ajak yang lain main kesini…”seru ummaku.

Akhirnya dia pulang juga. Hufft, menganggu waktu tidurku saja. Aku pun segera kembali masuk ke rumah dan kembali melanjutkan tidurku yang terganggu gara-gara dia.

 

 

Aku baru sampai disekolah sampai aku melihat sebuah mobil Audi putih melintas memasuki lapangan parkir sekolahku. Siapa murid disekolah ini yang mempunyai mobil sebgaus itu? Tanyaku dalam hati. Sepertinya siapapun dia ini terlalu mencolok, dia mau sekolah atau memamerkan kekayaannya sih?seruku dalam hati.

”Waeyo?”tanya Changmin sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku begitu melihatku terus menatap ke arah mobil itu.

”Ah andwe…”seruku.

”Sepertinya murid baru…”seru Changmin seakan mejawab pertanyaanku yang belum sempat aku utarakan.

”Sudahlah tidak usah dipikirkan…”seruku.

Dia memakirkan sepedanya dan mengambil tasnya dan seperti biasa berjalan terlebih dahulu ke lapangan basket. Sepertinya aku tahu kenapa Changmin belum punya pacar juga, dia lebih cinta pada lapangan basketnya di banding seorang gadis. Aku pun berjalan meninggalkan lapangan parkir itu. Namun saat aku hendak berjalan meninggalkan lapangan parkir itu kenapa semua orang malah berjalan ke lapangan parkir itu, aku menoleh ke belakang dan melihat seorang namja keluar dari mobil itu.

Cihh dia mau sekolah apa mau syuting disini. Gayanya sok keren sekali, kaca mata hitam dengan tas disampirkan dibahu. Aku tidak terlalu jelas melihat wajah namja baru itu karena banyak sekali murid-murid yang menghampirinya. Pasti dia akan mejadi salah satu manusia populer lagi disini. Ah sudahlah kenapa aku harus memikirkan namja sok keren itu. Aku pun segera berlalu dan berjalan ke kelasku.

”Annyeong…”sapaku pada Chae Kyung yang seperti biasa sedang asyik membaca.

”Annyeong…”jawabnya sambil tersenyum padaku.

Aku memperhatikan sekelilingku dan mendapati kelasku benar-benar sepi, kemana mereka semua?

”Chae Kyung-ah…kemana anak-anak yang lain?”tanyaku penasaran.

”Sepertinya mereka ingin melihat murid baru itu…”seru Chae Kyung berhenti membaca dan menatapku.

Aigoo, memangnya sekeren apa sih, aku pikir dia malah sok keren. Seruku dalam hati.

”Oh ya tadi datang itu…”seruku.

”Kau sudah lihat?memangnya di tampan ya?”tanya Chae Kyung, tumben sekali dia bertanya seperti itu mengenai seorang namja.

”Molla…aku hanya melihatnya dari jauh…”jawabku singkat.

Dia pun kembali asyik dengan bacaannya sementar aku duduk di bangkuku dan mengeluarkan Prku untuk memeriksanya sudah di kerjakan semua atau belum. Tak lama kemudian seseorang memanggilku.

”Yoong Soon-ah…kau di panggil oleh kepala sekolah…”seru Key yang memanggilku dari ambang pintu kelasku.

Ada apa lagi ini? Perasaan aku sudah menyerahkan proposal kegiatan amal bulan depan kemarin, apa masih salah? Perasaan aku sudah mengeceknya ratusan kali. Aku pun berjalan dengan malas menuju ruang kepala sekolah dan masuk ke dalam.

 

Kyu POV

Senangnya mulai hari ini aku akan sekolah di tempat manusia. Untunglah appa membolehkanku meski dengan syarat aku harus mengenakan kalung ini, tak apalah yang penting aku bisa sekolah disini. Aku berjalan menuju ruang kepala sekolah, kenapa orang-orang ini melihat ke arahku terus ya? Sejak di depan lapangan parkir sampai disini mereka terus saja melihatku, memangnya ada yang aneh denganku? Aku rasa aku tampak seperti manusia normal. Aku sampai di depan pintu yang bertuliskan ruang kepala sekolah, aku masuk ke dalam dan ternyata disana juga ada seorang gadis yang sedang berdiri dan menatapku dengan padangan terkejut. Hey memangnya aku aneh apa?kenapa dia menatapku seperti itu.

”Lee Kyuhyun…selamat datang disekolah ini…aku kepala sekolah disini..Hong Gil Dong imnida…”seru kepala sekolah ini dan langsung menjabat tanganku dan tersenyum.

”Ini Choi Yong Soon…ketua kepresidenan murid disini…”serunya memperkenalkan gadis yang ada disampingku.

Dai menatapku sebentar lalu tersenyum tipis dan membungkuk. Aku pun membalasnya dengan seyuman tipis juga. Aneh sekali gadis ini, kenapa dia aneh sekali melihatku? Dan tiba-tiba aku mencium sesuatu, aku merasa pernah mengenal bau ini, namun hanya samar-samar, mungkin aku salah mencium. Aku pun menepiskan pemikiran itu. Ini hari pertamaku disini.

”Baiklah…Yong Soon…tunjukan sekolah ini pada Kyuhyun ya…”seru Kepala sekolah itu dan gadis itu hanya mengangguk lalu membungkuk dan berjalan keluar ruangan.

Aku pun membungkuk dan mengikutinya berjalan keluar. Jutek sekali gadis ini, memangnya aku pernah berbuat salah padanya. Kalau dia seperti itu, aku juga bisa.

 

Yong Soon POV

Aisshh kenapa aku harus menunjukan sekolah ini pada namja sok keren yang saat ini sedang berjalan di belakangku. Aku tidak tahu harus bagaimana? Dia sungguh sangat pediam dan dingin. Dari tadi kami hanya diam satu sama lain. Aku pun juga tidak menjelaskan apa-apa padanya dan sepertinya dia asyik saja dengan keadaan seperti ini, setidaknya kenapa dia tidak bertanya sih. Gerutuku dalam hati. Kalau bukan dia adalah anak dari Lee Young Jae aku tidak akan sesopan ini padanya. Kenapa hanya dia yang dispesialkan setahuku kalaupun ada anak baru tidak pernah seperti ini, tidak ada acara pengenalan sekolah segala. Aku tahu ayahnya adalah pengusaha terkenal di Korea ini tapi tetap saja, disini diakan ingin sekolah bukan untuk memamerkan dirinya adalah anak dari seorang Lee Young Jae. Menyebalkan sekali. Maka aku pun menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya, dia terkejut dan langsung berhenti mendadak menatapku dengan dingin. Aisshh namja ini.

”Kenapa berhenti?”tanyanya jutek.

”Apa yang mau kau tahu?aku tidak mungkin menjelaskan semuanya padamu waktunya tidak cukup aku juga harus kembali ke kelasku…”seruku.

Dia mengalihkan padangannya menatap ke sekeliling.

”Ceritakan semuanya smabil jalan”serunya sambil menatapku tajam.

Aigoo, memangnya sekarang sedang kunjungan seni sehingga aku harus bercerita seperti pemandu wisata. Sabar Yong Soon, ini demi nama baik sekolah mu. Seruku dalam hati. Maka aku pun mulai bercerita padanya menjelaskan setiap inchi sekolahku, semua ruangan aku sebutkan.

Advertisements

2 thoughts on “FF: Love Is Really Hurt Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s