FF: LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU

 

19. LISTEN TO YOU

 

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hyo Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

 

Hari ini aku bangun dengan perasaan kacau karena apa, aku bisa melihat halaman rumah penuh dengan salju. TIDAK!!! Aku benci salju. Hah kenapa masih harus pergi sekolah sih! Aigoo! Rasanya aku ingin bolos saja hari ini. Sebenarnya aku punya hubungan benci dan suka dengan salju terkadang aku benci terkadang aku suka dan saat ini aku sedang benci dengan salju. Yah walaupun aku suka sekali dengan snowboarding tapi kau tahu aku selalu memakai pakaian yang sangat tebal agar aku tidak bisa merasakan salju yang meleleh mengenai tubuhku. Aku benci salju!

Aku berjalan menuju kamar mandi dan mematut di depan cermin. Aku harus bersabar seharian ini melihat benda putih itu bertebaran dimana-mana, mengenai tubuhku masuk ke dalam sepatuku dan membuat semuanya menjadi basah. Arrggh. Aku mengerang kesal.

”Ya!kenapa sih lama sekali di kamar mandi…mana mengerang seperti itu lagi? ”seru Hyo Jin dari luar kamar mandi.

Aku pun membuka pintu kamar mandi dengan wajah cemberut.

”Kau ini aneh sekali…ini hari pertamamu menjadi yeojachingunya Taemin tapi kau malah cemberut gitu…hah…sepertinya Taemin salah pilih gadis…”serunya lagi sambil mencubit pipiku.

”Ya!sakit tau!kenapa harus bawa-bawa Taemin segala…”seruku padanya.

Sepertinya tidak ada habisnya Hyo Jin meledekku. Aku pun berjalan menuju kamar dan mengganti pakaianku dengan seragamku lalu mengeluarkan semua perlengkapan perangku melawan salju. Aku siap menghadapi hari ini!

 

 

”Tidak dijemput Taemin?”tanya Hyo Jin tiba-tiba begitu kami sarapan.

Aku langsung tersedak begitu mendengarnya, aku pun segera mengambil gelasku dan meminum isinya. Ibu menatapku dengan pandangan bingung. Yah anehnya hari ini ibu berangkat lebih siang dari biasanya.

”Ne…ahjumma…Taemin kan sekarang namjachingunya Hye Jin…”seru Hyo Jin langsung bercerita tanpa kusuruh. Dasar dia ini selalu saja seperti itu. Aku juga sudah berniat akan memberitahu ibu tapi bukan sekarang. Dia malah seenaknya saja bilang seperti itu.

”Benarkah itu Hye Jin?”tanya Umma padaku.

Aku pun hanya bisa tersenyum menandakan bahwa ya itu benar. Hyo Jin hanya terkekeh pelan melihatnya. Awas kau Hyo Jin. Aku pun menatapnya tajam dan dia hanya menjulurkan lidahnya.

”Ne…kau sudah dewasa…tentu saja kau punya pacar…ibu pikir Taemin adalah pria yang baik…asal kau jangan jadi lupa belajar…”pesan ibuku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.

”Tenang saja ahjumma…Taemin itu pintar pasti dia akan mengajari Hye Jin…”jelas Hyo Jin lagi.

Aigoo, terus saja ceritakan semua hal tenatangnya pada ibuku.

”Hyo Jin-ah…bagaimana dengan Jin Ki?”tanya ibuku langsung dan itu membuat Hyo Jin tersedak.

”Itu…”serunya. Sudah bisa kutebak dia tidak bisa menjawabnya.

Aku tidak bisa tidak menahan tawaku maka aku pun langsung tertawa terbahak-bahak. Mati kau kali ini Hyo Jin. Aku pun segera meneguk susuku dan mengambil tas lalu mencium ibuku dan berlalu menuju pintu depan.

 

Aku berjalan sangat hati-hati begitu masuk ke depan gerbang sekolah, pertama karena jalanan menjadi licin karena penuh dengan salju dan yang kedua aku berusaha menghindari slaju agar tidak mengenaiku.

Aku sangat hati-hati berjalan kulihat Hyo Jin sudah ada di depan pintu masuk sedangkan aku masih saja berjalan perlahan di lapangan parkir dia sepertinya ingin balas dendam karena meninggalakannya di rumah dengan rentetan pertanyaan dari ibuku mengenai hubungannya dengan Jin Ki. Aku menatapnya yang menjulurkan lidahnya padaku, sepertinya dia senang sekali aku tersiksa dengan keadaan ini. Aku berjalan sangat pelan namun ternyata sepelan apapun pasti akan terpeleset juga. Aigoo, Basah deh jadinya. Untunglah sebuah tangan menahanku sebelum aku benar-benar terjatuh di atas salju yang dingin dan basah itu.

”Hati-hati…”serunya. Aku melihat Taemin tersenyum dan membantuku berdiri.

”Ne…gumawo…”seruku sambil berusaha menyeimbangkan tubuhku kembali.

Aduh suasananya jadi kaku seperti ini. Jujur aku belum terbiasa dengan statusku sekarang yang adalah yeojachingu dari Taemin. Aku bingung harus seperti apa dan kulihat Taemin sepertinya juga bingung. Lama kami terdiam sampai dia tiba-tiba menggandeng tanganku berjalan. Aku pun hanya bisa menurut mengikutinya berjalan dan bisa kurasakan semua mata langsung tertuju padaku. Aishh, sial sekali. Pasti mereka akan sangat membenciku jika melihat ini. Bagaimana tidak seorang Lee Taemin yang merupakan bintang sekolah bisa berpacarang dengan seorang Choi Hye Jin anak pindahan dari Amerika yang biasa saja. Selama ini mereka juga sudah agak tidak suka denganku terutama para anggota Siwon Fans Club dikarenakan kedekatanku dengan Siwon Oppa, namun sejak mereka merasa aku mulai jauh dari Siwon Oppa mereka sepertinya sudah melupakan hal itu. Dan juga dengan cowok-cowok populer lainnya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa dekat dengan orang-orang seperti itu. Aku hanya berjala sambil menundukan wajahku mennghindari setiap tatapan orang padaku. Akhirnya aku sampai di depan kelasku.

”Harusnya tadi aku menjemputmu saja…”seru Taemin padaku.

”Andwe…kau tidak lihat tadi…mereka tidak suka melihatku…”seruku.

”Biarkan saja…biar semua orang tahu kalau kau adalah yeojachinguku…”serunya sambil mengacak-acak rambutku.

Aishh, pasti mukaku sudah merah sekarang. Ini pertama kalinya dia bilang aku pacarnya sejak kemarin. Dia tersenyum manis sekali padaku.

”Aku duluan…aku tunggu saat makan siang…”serunya sambil berlalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung di depan kelasku. Aku sungguh tidak percaya ini kenyataan.

Saat aku hendak masuk ke kelas Rae Na langsung menarik tanganku menuju mejanya.

”Benar kau sudah jadian dengan Taemin?”tanyanya langsung.

”Ne…”jawabku singkat.

Tiba-tiba dia langsung memelukku dan berjingkrak-jingkrak kegirangan . kenapa dengan dia?

”Chukae…”serunya masih terus memelukku.

Aishh, anak ini membuatku tidak bisa bernafas. Aku pun berusaha melepaskan pelukannya. Begitu dia mau melepaskan pelukannya kulihat dia tersenyum senang sekali melihatku. Sebegitu senangnyakah dia mengetahuiku jadian dengan Taemin. Tak lama kemudian Key datang dan langsung melempar tas nya ke meja dengan wajah sangat menyeramkan. Kenapa denga dia? Tiba-tiba masuk dengan wajah penuh amarah seperti itu. Mataku dan matanya saling beradu dan bisa kurasakan dia menatapku dengan tatapan sangat membenciku. Memangnya kenapa dia? Apa salahku? Apa aku berbuat kesalahan lagi? Perasaan kemarin tatapan matanya sudah tidak setajam dulu lagi, kupikir dia sudah mulai melupakan masalah diantara kami dan sepertinya sebentar lagi kami akan baikan lagi tapi entah kenapa sekarang dia kembali lagi bahkan lebih parah lagi. Sudahlah aku tidak habis pikir dengan orang itu. Dia pun segera keluar dari kelas.

 

Key POV

Aku benar-benar benci dengannya. Hah aku malas sekali masuk kelas karena dia ada disana saat ini. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi. Aku benci dia. Kenapa dia harus jadian dengan Taemin. Arggh. Tidak bisakah dia melihatku. Melihat perasaanku padanya. Aku menyendiri di atas atap sekolah menenangkan pikiranku karena aku sangat kaget mendengar berita bahwa Hye Jin sudah jadian dengan Taemin. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku hanya bisa menatap langit yang mendung dan tumpukan salju dimana-mana. Tak terasa air mataku turun. Aku pun berusaha untuk menghapusnya. Kenapa aku harus menangisinya. Babo kau Key! Sudah kubilang lupakan dia segera karena dia tidak pernah menyukaimu kenapa kau masih saja memyimpan perasaan itu. Inilah akibantnya. Seruku kepada diriku sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Sungguh aku sangat sedih mendengar berita itu. Seharusnya dari awal aku sadar Hye Jin tidak pernah menyukaiku tapi kenapa malah sangat mencintainya dan tidak bisa melupakannya seperti ini.

”Key-ah…”seru sebuah suara sambil menepuk bahuku.

Saat aku menoleh aku mendapati Jonghyun sudah duduk disampingku sama-sama memandang langit.

”Disini dingin…kenapa tidak kembali ke kelas?”tanyanya padaku.

Aku hanya terdiam tetap memandang langit.

”Aku tahu kau pasti sedih karena hal itu…tapi Key…sudahlah…masih banyak gadis di dunia ini bukan hanya Hye Jin seorang…kenapa kau jadi lemah seperti ini…”serunya lagi.

Aku hanya bisa menunduk mencerna perkataannya. Ya memang di dunia ini banyak gadis lain bukan hanya Hye Jin tapi hanya Hye Jin gadis yang aku cintai dan tidak ada yang bisa menggantikannya di hatiku. Dia adalah gadis pertama yang benar-benar mampu masuk ke dalam hatiku. Oleh sebab itu tidak mudah untukku melupakannya.

”Aku tahu kau sangat mencintainya…tapi berusahalah untuk melupakannya…cinta itu tidak harus memiliki…”serunya lagi sambil menepuk bahuku lembut.

Jonghyun-ah, kau tidak tahu bagiku cinta itu harus memiliki, kalau akau tidak bisa memilikinya maka sebaiknya aku berhenti mencintainya tapi aku tidak bisa. Aigoo, otakku sudah tidak waras lagi sepertinya. Key sadarlah kembali menjadi dirimu sendiri. Masa kau menangis hanya gara-gara seorang gadia. Ya akku harus melupakannya. Sudahlah semua sudah terjadi dan aku tidak akan pernah memilikinya. Ya aku akan melupakannya dan menjadi Key yang dulu. Tekadku dalam hati.

Aku pun berdiri dan beranjak pergi.

”Gumawo Jonghyun-ah…kau memberiku sedikit pencerahan…”seruku dan berlalu pergi dari tempat itu.

Aku sempat melihat wajah Jonghyun yang sedikit bingung melihat perubahan sikapku yang tiba-tiba seperti itu. Ah sudahlah.

 

Hye Jin POV

Saat ini semua mata tertuju pada mejaku. Yah bagaimana tidak kali ini aku makan siang hanya berdua dengan Taemin. Yang sepertinya biasa saja dengan keadaan ini hanya anak-anak klub basket yang duduk di pojok ruangan sambil sesekali terkekeh ke arah kami dan yang paling sering melakukan itu adalah Changmin sunbae, beberapa kali dia terkekeh melihat ke arahku kemudian diikuti oleh yang lain seperti Sungmin dan Kyu. Awas saja mereka. Siwon Oppa juga tidak luput untuk melihatku tapi seperti biasa dia hanya menatapku sekilas dengan tatapan dingin yang seperti biasa dia lakukan semenjak sebulan lalu. Kadang aku ingin sekali tahu kapan semua ini akan berakhir, kapan Siwon Oppa akan kembali memangilku dongsaeng. Aku rindu dengan senyumannya yang hangat itu, aku rindu dengan kata-katanya yang begitu menyejukkan hatiku, aku rindu tingkahnya yang selalu berusaha mencari perhatianku. Aku rindu padanya, padanya yang dulu.

”Gwencahana?”tanyanya yang melihatku terus menatap Siwon Oppa yang berjalan menuju meja Kibum sunbae.

”Ne…gwenchana…”seruku padanya sambil tersenyum.

”Sabarlah…”serunya lagi.

Aku hanya mengangguk dan kembali memakan makananku. Yah aku harus sabar. Aku tahu Siwon Oppa sayang padaku dan dia hanya butuh waktu. Aku yakin itu.

 

 

Setelah makan siang, aku ingin sekali menemui Donghae Oppa, sepertinya sudah lama aku tidak mengobrol dengannya, dia sangat sibuk sekali mempersiapkan ujian akhir ini.

”Aku duluan ya…aku mau ke ruang teater sebentar…”seruku pada Taemin begitu kami selesai makan.

”Mau bertemu Oppa mu?”tanyanya.

”Ne…tidak apa-apa kan?”tanyaku padanya. Aku takut dia marah kalau aku mau bertemu dengan Oppakuu bukannya biasanya seorang pacar akan cemburu bila melihat pacarnya menemui pria lain.

”Ne…diakan Oppamu dari dulu…”serunya sambil terkekeh pelan dan kemduian tersenyum.

”Gumawo…”seruku sambil tersenyum dan berjalan menuju ruang teater.

Sampai di depan ruang teater aku melongok ke dalam mencari sosok orang yang sangat aku sayangi itu.

”Oppa..”seruku sambil melongokkan kepala ke dalam tapi aku tidak melihat siapa-siapa.

Maka aku putuskan untuk masuk ke dalam, aku kembali memanggilnya namun tidak ada jawaban. Kemana Donghae Oppa? Biasanya setiap jam makan siang dia ada disini. apa dia sudah kembali ke kelas. Saat aku hendak berbalik kembali ke kelasku, sebuah tangan menutup mataku. Aku sudah hapal cara seperti ini pasti Donghae Oppa.

”Oppa!!!lepas!!”seruku.

Donghae Oppa hanya tertawa dan melepsakan tangannya dari mataku.

”Ada apa mencariku?”tanyanya padaku.

”Memangnya aku tidak boleh bertemu Oppaku..”seruku padanya.

”Ya!kau juga dulu bertanya begitu padaku…”serunya sambil mengerucutkan bibirnya. Ternyata di mau membalasku.

”Aishh…Oppa aku kan hanya bercanda waktu itu…”seruku sambil tersenyum sangat manis.

Donghae Oppa hanya mengacak-acak rambutku lembut.

”Oppa aku mau cerita padamu…”seruku.

Yah memang tujuanku kesini adalah memberitahunya bahwa aku sudah jadian dengan Taemin karena aku yakin dia akan sangat marah jika dia tahu aku sudah jadian dengan Taemin tapi tidak memberitahunya. Oleh sebab itu lebih baik aku ceritakan saja sekarang.

”Aku sudah tahu…sebenarnya aku sedikit marah padamu karena kau telat memberitahuku..karena aku tahunya dari orang lain bukan dari dongsaengku…”serunya lagi sambil menjitak kepalku.

”Aishh…Oppa sakit tau…mianhe…”seruku dengan wajah memohon. Dia hanya terdiam dan berbalik memunggungiku. Jangan-jangan dia marah lagi.

”Oppa…jangan marah….mianhe…”seruku sambil mengenggam tangannya.

Kulihat Donghae Oppa hanya terdiam. Apa dia benar-benar marah padaku. Aigoo, jangan sampai dia marah padaku. Oppa sungguh aku tidak bermaksud tidak memberitahumu. Seruku dalam hati. Namun tiba-tiba Oppa sudah memelukku.

”Hye Jin-ah…kapan aku pernah marah padamu…aku senang mendengarnya meski bukan dari dirimu langsung…”serunya sambil memelukku.

Aku pun segera melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibrirku. Aku merasa di tipu lagi olehnya. Kenapa sih dia bisa pintar berakting seperti itu. Aku tahu ini sebabnya dia menjadi andalan di klub drama. Dia berakting sangat bagus. Kenapa dia tidak ambil jurusan film saja nanti di kuliah malah mengambil matematika.

”Marah nih ceritanya…ya sudah…ayo makan…aku buat bibimbap kesuakaan dongsaengku yang cantik ini…”serunya sambil menyentuh pipiku dengan telunjuknya dan langsung menarikku menuju meja tempat dia makan tadi.

Aku melihat ada beberapa potong bibimbap disana. Aku sudah makan siang tapi jujur aku tidak bisa melewatkan bibimbap buatan Donghae Oppa yang sangat enak ini, tapi aku juga gengsi, aku kan sedang marah sekarang. Aku masih mengembungkan pipiku menandakan aku masih marah. Kulihat Donghae Oppa hanya terkekeh perlahan dan mengambil sumpit lalu menyumpit potongan bibimbap itu dan langsung memasukannya ke dalam mulutku.

”Oppa!!!”seruku dengan mulut penuh bibimbap.

Sementara Donghae Oppa hanya tertawa terbahak-bahak melihatku. Aishh, aku punya Oppa yang sangat menyebalkan. Namun tidak bisa kupungkiri aku sayang dia. Aku pun langsung mengambil sumpit di tangannya dan menyumpit potongan bibimbap yang lain dan langsung memasukannya ke mulut Oppa. Setelah itu gantian aku yang tertawa terbahak-bahak melihatnya. Ah, kapan lagi aku bisa seperti ini dengan Donghae Oppa, sebentar lagi dia akan meninggalakan sekolah ini.

 

Hari ini aku harus pergi bekerja lagi. Tetap harus bertahan meski salju ada dimana-mana. Aku memasukan bukuku ke dalam tas secara terburu-buru takut salju turun terlebih dahulu sebelum aku sampai di tempat aku bekerja.

”Buru-buru sekali…”seru Rae Na di sampingku.

”Langit sudah sangat mendung sebentar lagi pasti turun salju…”seruku masih sambil terus memasukan bukuku ke dalam tas.

”Hye Jin-ah…kau merasa aneh tidak dengan Key hari ini?”tanya Rae Na padaku.

Aku menatapnya dengan pandangan bingung. Yah aku juga merasa Key sedikit aneh hari ini, pagi-pagi dia datang dengan marah-marah sekarang dia sudah kembali seperti biasanya. Ada apa dengannya?mungkin dia mimpi buruk tadi malam.

”Habisnya tadi pagi dia datang dengan marah-marah membuatku takut saja tapi sekarang dia sudah kembali ceria lagi…”jelas Rae Na.

Aku hanya menegakkan bahuku tanda aku tidak mengerti. Aku menyampirkan tasku di bahuku dan berjalan keluar bersama Rae Na, namun saat aku hendak keluar aku menabrak seseorang dan itu Yu Ri.

”Mianhe…”seruku padanya.

”Jalan lihat-lihat dong!”serunya dengan wajah sangat kesal.

Huft, aku harus extra sabar menghadapi orang seperti dia. Kenapa sih Key bisa suka dengan cewek keras kepala dan emosian seperti dia ini. Pasangan yang aneh. Aku kembali minta maaf padanya. Namun tiba-tiba Key langsung menarik tangan Yu Ri pergi dari tempat itu. Key menatapku sekilas dengan tatapannya yang biasa lalu pergi. Dua orang aneh, kenapa mereka bisa jadi pasangan seperti itu. Gerutuku dalam hati.

”Sudah kajja…”seru Rae Na mengajakku segera pulang.

Seperti biasa Taemin sudah ada di depan gerbang sekolah menunguku.

”Tuh udah ditunggu…”seru Rae Na sambil tersenyum.

”Ne annyeong…”seruku pada Rae Na dan berjalan menghampiri Taemin yang sudah menungguku.

”Kajja…sebelum salju turun…”serunya sambil memberikan helm padaku dan tersenyum mengejek.

Aishh, kenapa sih dengan benci salju? Kenapa semua orang menganggapku aneh padahal kan biasa saja. Apa mereka tidak merasa kalau salju itu tidak selamanya menyenangkan. Tak lama kemudian kami sudah sampai.

”Nanti aku jemput ya…”katanya begitu aku turun dari motornya dan memberikan helm itu padanya.

Aku menganguk singkat dan berjalan masuk ke dalam.

 

 

 

”Hye Jin-ah…sudah pulang sana…sudah jam 8 malam…kau ini selalu saja lupa waktunya pulang…”seru Ahjumma padaku yang masih sibuk membereskan meja. Karena tadi banyak sekali pelanggan yang datang.

”Ne…ahjumma…”seruku sambil meletakkan celemekku dan bergegas mengambil tas ku di dapur.

”Dia setia sekali menunggumu ya…”seru ahjumma ketika aku hendak berpamitan padanya.

Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Pasti Taemin sudah lama menunggu di depan, dia kan sudah tahu aku pulang jam 8, perasaan tadi aku sudah sms padanya, kenapa dia datang lebih cepat.

Aku keluar dan mendapatinya sedang duduk di tempat biasa, aku berjalan menghampirinya dan ternyata dia ketiduran lagi. Memangnya bisa tidur di tempat seperti ini,aneh sekali dia. Aku hendak membangunkannya namun lagi-lagi aku terpaku pada wajah polosnya ketiak tidur itu. Entah kenapa setiap melihatnya tertidur seperti ini, aku selalu tersenyum tanpa sadar. Aku duduk disampingnya dan terus memandanginya yang sedang tertidur. Tiba-tiba aku sadar dia tidak memakai syalnya. Kenapa harus terburu-buru menjemputku sampai melupakan syalnya, sudah tahu hari ini dingin sekali bahkan tadi sempat turun salju. Dia masih bisa keluar tanpa syal, mana tertidur seperti ini. Seruku dalam hati. Kemudian aku pun melepaskan syalku dan mengenakannya di leher Taemin. Sampai kapan dia mau tidur, aku jadi tidak tega membangunkannya. Aku masih terus menatap wajahnya dan menjulurkan tanganku menyentuh pipinya, dingin sekali. Sudah berapa lama dia tertidur disini. aku pun mengelus pipinya beberapa kali. Tiba-tiba dia membuka matanya dan tersenyum jahil padaku.

”Ya!kau sudah bangun daritadi!”seruku sambil memalingkan mukaku karena malu mengingat apa yang sudah aku lakukan tadi.

”Kau memandangiku terus…jadi aku tidak tega menganggumu…”serunya masih dengan senyuman jahilnya.

”Ya!”seruku.

Aku pun memukul bahunya pelan. Dia hanya terkekeh pelan.

”Sakit tau!”serunya sambil mengelus lengannya.

”Apa!jangan bilang kau mau bilang aku mirip seperti pria seperti oppaku!”seruku padanya.

Dia kini malah tertawa dan mencubit pipiku.

”Sakit Taemin!”seruku sambil mengelus-elus pipiku yang di cubit oleh pipinya.

”Wajahmu lucu saat memandangiku…aku senang…kapan-kapan aku ingin melihatnya lagi…”serunya.

”Tidak akan…”seruku.

”Ayo pulang jagi…”serunya padaku.

Omo dia memanggilku jagi, ini pertama kalinya dia memanggilku jagi. Aku pun tersenyum padanya dan berjalan mengikutinya. Ini yang selalu membuatku semakin menyukainya. Dia sangat perhatian padaku.

 

Key POV

Jujur seminggu ini pikiranku selalu penuh dengan Hye Jin, hah meski aku sudah bertekad untuk tidak pernah mengingatnya lagi dan berusaha melupakannya namun ternyata itu sulit buatku karena sampai sekarang jujur aku tetap tidak bisa melupakannya. Meski aku sudah berusaha untuk menyuaki Yu Ri tapi tetap saja itu tidak bisa. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Yu Ri.

”Kau sudah bangun?”tanya Minho langsung masuk ke dalam kamarku seperti biasanya.

Aku malas sekali bangun setiap hari. Aku malas untuk pergi ke sekolah karena aku akan selalu melihat Hye Jin dan Taemin yang pergi ke sekolah bersama dan itu membuat hatiku sakit sekali. Sakit rasanya setiap hari harus melihat mereka berdua bersama. Tiba-tiba Minho menarik selimutku.

”Bangun!”teriaknya.

”Ya!Minho!aku juga sudah bangun!sudah sana…aku mau mandi!”seruku padanya dan menyruhnya pergi.

Aku melihat dia keluar dari kamarku. Aku pun bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan lesu. Aduh badanku hari ini sungguh tidak enak, kenapa ya? Apa gara-gara kemarin aku pulang disaat hujan salju turun. Aishh, pasti gara-gara itu. Semoga aku tidak flu. Aku menatap cermin dan melihat wajahku pucat sekali. Aigoo, jangan sampai aku sakit. Seruku dalam hati. Aku bergegas mencuci muka dan menggosok gigi, lalu berjalan kembali ke kamarku dan memakau seragam. Aku ambil salah satu jaket dari lemari dan sarung tangan. Aku melihat ke arah jendela, sepertinya semalam turun salju lagi karena tamanku penuh dengan salju.

Aku bergegas turun dan segera sarapan.

”Wajahmu pucat Key?”tanya ummaku dengan wajah sangat khawatir.

”Ah andwe…aku baik-baik saja…”seruku sambil memasukan roti ke dalam mulutku dan segera meminum susu yang sudah disiapkan dalam sekali teguk.

”Ayo Minho!”seruku pada Miho.

Dan kulihat Minho segera beranjak dari duduknya dan berjalan mengambil tas lalu mengecup kening ummaku sekilas dan mengikutiku berjalan.

 

Aku sampai disekolah dimana suasan masih sepi, mungkin anak-anak malas berangkat pagi dicuaca sedingin ini. Aku hanya melihat para sunbaeku yang memang sudah sejak pagi datang karena mereka memang sudah ada pelajaran tambahan karena sebentar lagi mereka akan ujian akhir. Aku berjalan menuju lokerku dan disana sudah ada Hye Jin di depan lokernya. Tumben sekali dia tidak bersama Taemin yang mengantarnya sampai ke kelas. Dia menatap ke arahku sekilas. hufft aku lelah harus terus berpura-pura sinis padanya. Karena jujur hatiku tidak bisa berbohong kalau dia masih ada di hatiku. Mungkin sebaiknya aku berhenti membohongi diriku sendiri. Kalau dia sudah jadian dnegan Taemin memangnya kenapa, aku tidak boleh membencinya. Ini kan keputusannya dan aku harus menghargainya. Kalau dia bahagia aku juga seharusnya bahagia. Mungkin Taemin lebih baik untuknya dibandingkan denganku. Rasanya aku ingin menangis. Sebaiknya mulai hari ini aku bersikap biasa kembali padanya.

 

Hye Jin POV

Sudah seminggu aku dan Taemin berpacaran dan tidak ada yang berubah karena kami memang bersikap sama seperti saat kami masih berteman akrab dan aku senang karena itu. Habis terkadang aku bingung harus bersikap seperti apa terhadapanya dan sepertinya dia juga merasakan hal yang sama denganku. Jadi mungkin dengan seperti teman biasa lebih baik di bandingkan dengan harus seperti pasangan.

Hari ini masih saja ada olahraga padahal cuaca diluar masih mendung dan dingin. Kenapa sekolahku memiliki lapangan olahraga indoor itu membuat kami pelajran olahraga tetap ada selama musim dingin dan itu sangat menyebalkan. Saat aku sampai di lokerku aku berpapasan dengan Key. Tidak banyak yang berubah darinya dia masih seperti dulu, tetap diam dan cuek terhadapku. Meski sudah terbiasa tapi aku masih tetap tidak enak padanya, masalahnya kami jadi tidak berbicara karena masalah sepele. Aku mencoba memberanikan diri menyapanya. Jujur aku tidak mau hubunganku dengannya berkahir seperti ini. Kulihat dia sedang mencari sesuatu di lokernya.

”Key…”seruku pelan nyaris tidak terdengar.

Aku pikir dia tidak mendengarnya namun kemudian dia menutup lokernya dan menatap ke arahku. Omo wajahnya pucat sekali, apa dia sakit. Kenapa dia pucat sekali.

”Gwenchanayo?”tanyaku padanya.

Dia hanya tersenyum lemah dan mengangguk lalau berjalan pergi. Awalnya yang baik setidaknya dia tidak menatapku tajam.

Aku berjalan menuju kelasku tapi belum sampai di depan kelas aku bertemu Yesung.

”Hye Jin-ah…”serunya padaku smabil tersenyum.

”Yesung-ah…”seruku membalas senyumnya.

”Rae Na sudah datang?”tanyanya.

”Andwe…aku baru datang belum ke kelas…”jawabku.

”Ohh…kupikir dia sudah datang…”serunya lagi.

Aishh, anak ini dan Minho, keduanya menyukai Rae Na. Apa Rae Na sudah memutuskan siapa yang akan dia pilih? Aku penasaran siapa yang akan dia pilih. Tiba-tiba aku jadi ingin bertanya pada Yesung soal perasaannya pada Rae Na.

”Yesung-ah…kau suka Rae Na ya?”tanyaku.

Dan tiba-tiba saja mukanya sudah merah.

”Ah…andwe…”jawabnya langsung masih dengan muka yang merah bahkan tambah merah.

Hah aku senang sekali melihatnya malu seperti itu.

”Sudahlah…katakan saja padanya…”seruku padanya.

”Kau mau membantuku?”tanyanya.

”Anni…aku tidak berbakat menjadi mak comblang…sebaiknya kau usaha sendiri…hwaiting Yesung-ah…”seruku padanya dan menepuk bahunya lalu berjalan pergi.

”Ah..Hye Jin-ah…”serunya.

 

 

Aku berniat mengganti pakaianku dengan pakaian olahraga begitu kulihat Key hanya menelungkupkan wajahnya ke meja. Sepertinya benar dia sedang tidak enak badan. Aku menjadi sedikit khawatir padanya sebaiknya dia tidak usah ikut olahraga saja. Aku pun berniat menghampirinya dna menyuruhnya pergi ke UKS. Namun saat aku hendak menghampirinya dia sudah terlebih dahulu berdiri dan keluar kelas.

”Ayo cepat…nanti kita terlambat…”seru Rae Na sambil menarik tanganku dan aku pun hanya bisa menurut saja.

Saat sampai di lapangan, olahraga kali ini kami bermain voli. Menyebalkan, aku tidak bisa bermain voli. Kim seosangnim sudah membagi kelompok, yang cowok di pisahkan dengan yang cewek. Aku mencari wajah Key diantara teman-teman cowokku namun aku tidak menemukannya. Kemana dia? Apa dia berinisiatif sendiri untuk pergi ke UKS. Namun tiba-tiba seseornag masuk dan berjalan dengan perlahan-lahan. Dan ternyata itu Key. Aigoo kenapa dia masih nekat ikut olahraga juga padahal dia tahu kalau kondisinya sedang tidak baik. Dasar cowok keras kepala! Sudah tentu dia langsung dimarahi Kim seosangnim karena terlambaat masuk.

”Kim Kibum…kenapa terlambat!”tanya Kim seosangnim.

”Mianhe seosangnim…”seru Key lemah.

”Cepat lari 3 keliling!”perintah Kim seosangnim dan kulihat Key hanya bisa pasrah dengan hukuman itu.

Tanpa sadar aku terus memperhatikan Key.

”Hye Jin-ah…kenapa kau daritadi memperhatikan Key terus?”tanya Rae Na melihatku terus memperhatikan Key dan tidak fokus pada permainana.

”Ne…andwe…”jawabku lalu mengalihkan pandanganku dan kembali fokus pada permainan kami.

 

Key POV

Sial sekali aku hari ini hampir saja tadi aku pingsan di kamar mandi . kenapa kepalaku pusing sekali ya? Aigoo. Sampai di lapangan di hukum pula berlari 3 kelling. Untung aku masih sanggup. Aku pun melanjutkan dengan bermain voli dan kini sepertinya kepalaku tidak bisa diajak kompromi beberapa kali aku kehilangan keseimbangan karena tiba-tiba saja kepalaku sangat pusing dan keringat dingin sudah mulai turun. Aishh.

”Key awas!!”seru Wookie padaku.

Aku melihat bola menuju kearahku tapi entah kenapa aku tidak bisa beranjak dari tempatku untuk menghindar dan jadilah bola itu menghantam kepalaku. Kepalaku yang sejak awal memang sudah pusing di tambah lagi terkena bola benar-benar rasanya mau pecah. Tiba-tiba pandangnku menadi gelap dan aku bisa merasakan diriku terjatuh dan semuanya gelap, aku hanya mendengar suara teman-temanku yang menghampiriku.

 

 

Hye Jin POV

”Key Awas!!”seru Wookie.

Aku melihat bola voli itu menghantam kepalanya dan tiba-tiiba dia sudah jatuh ke tanah. Ya Tuhan! Aku pun segera berjalan menghampirinya bersama yang lain dan melihat Key sudah tidak sadarkan diri,

”Ada apa ini?”tanya Kim seosangnim menghampiri kami.

”Ini tadi aku melempar bola tapi malah mengenai Key dan sekarang dia pingsan…”terang Wookie pada Kim seosangnim. Bisa kulihat wajahnya sangat merasa bersalah.

Aku menepuk-nepuk pipi Key sambil memanggil namanya.

”Key..key…bangun…”seruku padanya namun dia tetap tidak sadarkan diri. Ya Tuhan badannya panas sekali. Dasar cowok keras kepala! Kenapa dia tidak memperhatikan dirinya sendiri sih. Padahal sudah tahu sedang sakit masih memaksakan untuk ikut olahraga.

”Bawa dia ke UKS…”perintah Kim seosangnim.

Kemudian teman-temanku langsung menggotongnya membabawanya ke UKS, aku pun meminta izin untuk menemaninya dan Kim seosangnim mengijinkanku. Aku pun berjalan mengikuti ke dua temanku yang sedang menggotong Key ke UKS. Sampai ke UKS dia langsung ditidurkan di atas tempat tidur.

”Aku yang akan mengurusnya…”seruku kepada ke dua temanku itu dan mereka pun langsung keluar dari UKS.

Sepertinya pada jam segini tidak ada yang menjaga UKS. Sebaiknya aku mengobati luka di kepalanya dulu. Aku mencari-cari perban dan alkohol, setelah menemukannya aku segera menghmpri Key yang maish tidak sadarkan diri dan mengobati luka di kepalanya. Setelah aku menutupnya dengan plester. Aku berusaha membangunkannya kembali.

”Key..bangun…”seruku menepuk pipinya. Dia masih tetap diam.

”Hye Jin-ah…”serunya lirih membuatku kaget.

Hey apa yang dia pikirkan kenapa dia memanggil namaku. Pikirku dalam hati. Saat aku memegang pipinya sangat panas. Ya ampun kenapa badannya bisa sepanans ini. Aku berjalan mengambil baskom dan mengisinya dengan air dingin lalu mencari handuk setelah kudapatkan aku mengompresnya. Dia masih terus mengigau menyebut namaku. Cowok aneh.

”Hye Jin-ah…”igaunya lagi.

Aku hanya menatapnya yang masih tidak sadarkan diri.

”Kau ini aneh Key…kenapa kau menghindariku selama ini…memangnya aku salah apa padamu…kenapa kau membenciku…apa aku tidak boleh menjadi temanmu lagi..”ucapku.

Hey apa yang aku lakukan kenapa aku malah curhat padanya. Aishh biaralah siapa tahu dia mendengar keluhanku di dalam mimpinya itu.

”Kenapa kau terus menghindariku selama ini..kau pikir enak dicuekin seperti itu olehmu…sudah tau kau ini orangnya sangat menyeramkan jika mendiamkan orang lain…aku seperti bersalah telah membunuh adikmu tahu…habis kau sangat marah sekali padaku…”ceritaku lagi.

Tak terasa bel makan siang sudah berbunyi. Aku mengganti handuk untuk mengompresnya. Badannya sudah mulai tidak panas lagi. Apa sebaiknya aku tinggalkan saja dia ya? Aku harus makan siang pasti Taemin menungguku, tapi dia sendirian. Mungkin aku makan nanti saja setelah dia siuman. Aku pun segera mnegetik sms pada Taemin.

 

Taemin-ah..hari ini aku tidak bisa makan siang bersamamu…aku sedang ada di UKS…Key pingsan…mianhe…

 

Aku pun menatap Key lagi dan kini dia kembali mengigau.

”Hye Jin-ah…jangan tinggalkan aku…”igaunya.

Aishh, apa-apaan sih cowok ini. Aku memeriksa dahinya sudah tidak terlalu panas. Dasar aneh. Aku menunggunya dan menahan rasa lapar di perutku. Key, lihat saja kalu kau sudah bangun, kau yang harus minta maaf padaku karena aku telah melewatkan waktu makan siangku hanya untuk menjagamu. Kau berhutang budi padaku.

 

 

Taemin POV

Saat aku mendapat sms dari Hye Jin, jujru aku cemburu mendengarnya menjaga Key di UKS. Kenapa dia begitu baik pada Key?aishh, Taemin tenanglah dia hanya menolong sesama teman. Berarti Hye Jin tidak makan siang, sebaiknya aku membelikannya roti. Aku pun membelikan roti untuk Hye Jin dan berjalan menuju UKS.

”Hye Jin-ah…”seruku pada Hye Jin yang sedang duduk disamping tempat tidur.

Hye Jin menoleh dan tersneyum.

”Taemin-ah…”serunya.

”Ini…”seruku sambil menyodorkan sebungkus roti padanya.

”Jangan sampai tidak makan…”serunya lagi.

”Gumawo…”serunya smabil tersenyum.

”Memangnya Key kenapa?”tanyaku.

”Tadi dia kena bola jadi pingsan…sampai sekarang belum sadar…”jawabnya.

”Oh..ya sudah..aku kembali ke kelas dulu…jangan lupa dimakan…”pesanku padanya sambil mengacak-acak rambutnay lembut dan berjalan pergi meninggalaknnya.

 

 

Key POV

Kenapa Taemin malah kesini? Untung dia segera pergi. Sebenarnya dari tadi aku sudah sadar hanya saja ini kesempatanku untuk  bisa berdua dengan Hye Jin. Aku mendnegar semua ceritanya tadi dan jujur ternyata selama ini aku sudah begitu kejam padanya. Sebaiknya aku segera bangun.

”Key..kau sudah bangun…syukurlah…”serunya dengan wajah penuh kelegaan.

Aku pun segera duduk dan langsung memeluknya. Hye Jin sangat kaget dan berusaha melepsakan pelukanku.

”Biarkan sebentar saja aku memelukmu seperti ini…aku tidak akan pernah bisa memelukmu seperti ini lagi…mianhe Hye Jin selama ini aku mendiamkanmu…itu semua karena aku mencintaimu…saranghae…”kataku jujur padanya.

Aku sudha tidak sanggup lagi membohongi perasaanku padanya. Sebaiknya aku jujur padanya. Aku tahu dia tidak mungkin menerimaku, aku tahu itu, aku hanya ingin mengaku saja padanya agar aku tidak perlu terus membohongi perasaanku.

”Saranghae…”seruku lagi dan semakin mengeratkan pelukanku. Aku bisa merasakan Hye Jin hanya  terdiam.

 

Taemin POV

Aku masih berdiri di depan pintu UKS begitu aku mendengar Key mengucapkan kata saranghae pada Hye Jin dan saat kulihat ke dalam Key sedang memeluk Hye Jin. Dan Hye Jin hanya diam saja. Hatiku sangat sakit melihat kejadian itu. Aku hanya bisa berjalan pergi, aku tidak bisa melihatnya. Apa Hye Jin juga menyukai Key? Tidak aku harus percaya pada Hye Jin tapi..aishh..aku berjalan terburu-buru meninggalkan ruang UKS menuju lapangan basket. Disinilah aku melepaskan rasa kesalku. Setiap aku kesal aku lebih memilih melampiaskannya dengan bermain basket. Aku melihat Minho hyung sudah ada disana dan melihatku heran.

”Gwenchanayo Taemin? Wajahmu..”tanya Minho hyung.

”Ah andwe,,,ayo main hyung…”ajakku padanya.

Minho hyung hanya bisa menurut saja dan meladeniku bermain. Aishh aku tidak bisa berpikir jernih, aku benci keadaan ini.

 

 

 

 

Hye Jin POV

Aku tidak menyangka Key menyatakan perasaanya padaku. Apa maksudnya seperti ini? Apa dia tidak tahu aku sudah punya Taemin. Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya.

”Mianhe…aku tidak bisa menerimanya…”seruku.

”Ne…arasso…aku tidak memintamu untuk menerimaku…aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu… ”jelasnya.

”Tapi kau tidak bisa seperti ini Key…hatimu akan sakit…”seruku padanya.

Aku tidak mau dia terlalu berharap padaku. Apalagi seperti ini mempertahankan rasa cintanya padaku sementara dia tahu aku tidak mungkin membalasnya.

”Aku sudah berusaha Hye Jin…tapi tetap tidak bisa…biarlah aku tetap mencintaimu…”pintanya lagi.

”Andwe…tidak boleh Key…kau harus melupakan perasaanmu itu…lupakan aku…”seruku padanya.

Key hanya terdiam.

”Key berjanjilah padaku untuk tidak menyiksa dirimu seperti ini terus dan lupakan aku…arasso?”pintaku padanya.

”Keunde…ne..aku akan berusaha…”serunya lemah.

”Aku masih bisa menjadi temanmu Key…”seruku sambil tersenyum.

Dia hanya tersenyum lemah.

”Ini makan…nanti Taemin marah…”seru Key sambil menyodorkan roti yang tadi dibawa Taemin. Aku pun menerimanya sambil tersenyum.

Semoga kau bisa melupakanku Key. Mianhe aku tidak bisa menerima perasaanmu karena aku sangat mencintai Taemin.

 

 

Pulang sekolah aku segera beranjak menuju gerbang sekolah, aku tidak mau Taemin menunggu terlalu lama. Namun ternyata dia sudah menungguku di depan kelasnya. Aku tersenyum menghampirinya namun dia hanya tersenyum tipis. Kenapa dengannya?

”Gwencahanayo?”tanyaku padanya.

”Ne..gwenchana…”jawabnya singkat.

Pasti dia marah padaku, tapi kenapa? Tadi dia masih baik-baik saja saat di UKS kenapa sekarang dia malah seperti ini. Dia berjalan mendahuluiku menuju motornya tanpa berbicara apapun dia langsung menyodorkan helmnya padaku.

Selama perjalanan dia hanya diam dan aku pun hanya diam aku bingung kenapa dia mendiamkanku seperti ini, memangnya aku salah apa. Sampai di toko Taemin tetap diam seribu bahasa dan langsung berlalu tanpa sedkitpun berbicara padaku. Aku akan memaksanya bicara sepulan darisini, aku harus tahu kenapa dia mendiamkanku.

 

Selama bekerja aku terus memikirkan kira-kira apa kesalahanku hari ini. Sepertinya tidak ada.

”Ya!kenapa kau memeluknya kalau begitu!”seru seorang wanita kepada seorang pria yang aku pikir itu pacarnya, sepertinya mereka sedang bertengakar. Aneh sekali bertengkar sambil makan jajangmyeon.

”Aku tidak melakukannya jagiya…”jawab si pria itu lalu menyuap jajangmyeonnya.

”Aku melihatnya tau!”seru wanita itu lagi setelah menyuap jajangmeyonnya. Tanpa sadar aku terus memperhatikan mereka. Habis mereka aneh sekali saling melontarkan makian sambil makan.

Sepertinya mereka menyadariku yang daritadi terus memperhatikan mereka.

”Ya!apa kau lihat-lihat!”seru mereka bersamaan dan melotot padaku.

”Mianhe..”seruku langsung berlalu masuk ke dapur.

Di dapur aku terus berpikir kenapa Taemin marah padaku. Tiba-tiba terlintas perkataan si wanita tadi ’memeluk’. OMO apa jangan-jangan Taemin melihat Key memelukku. Aigoo,pantas saja dia mendiamkanku seperti itu. Aku harus menjelaskannya saat pulang nanti. Aku menjadi tidak sabar menunggu jam 8. cepatlah. Taemin kau harus mendnegarkan penjelasanku.

 

 

”Gamsahamnida ahjumma…”seruku terburu-burur sambil mengambil tas dan jaketku lalu bergegas keluar.

Aku berharap Taemin sudah menungguku di depan seperti biasa namun kali ini aku kecewa dia belum datang. Aku mengecek HP ku siapa tahu dia mengirim sms padaku. Tidak ada ternyata. Aku pun menunggu di bangku. Aku yakin pasti dia datang.

 

Taemin POV

”Taem…kau tidak menjemput Hye Jin?”tanya Jin Ki hyung sambil masuk ke kamarku.

Aku yang sedang tidur-tiduran di tempat tidurku langsung bangun.

”Memangnya sudah jam berapa?”tanyaku.

”Sudah jam 8 lewat 5 tahu…kukira kau sudah pergi…”seru Jin Ki hyung.

Aku melihat jam dan ternayat memang sudah jam 8 lewat 5 pasti dia sudah pualng sekarang. Tapi entah kenapa aku masih kesal padanya.

”Taem..kau sedang bertengkar ya dengan Hye Jin? Daritadi pulang sekolah wajahmu sangat tidak enak dilihat…”seru Jin Ki Hyung sambil duduk di tepi tenpat tidurku.

Aku hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Dibilang bertengkar juga tidak tapi aku memang sedang marah padanya gara-gara tadi dia dipeluk Key tapi kenapa dia tidak sadar,aku seperti marah sendiri. Pikirku.

”Kalian ini…seperti anak kecil saja…kalau sedang marahan tuh dibicarakan baik-baik jangan seperti ini…”seru Jin Ki hyung.

Iya benar aku seperti anak kecil saja, kenapa aku tidak bertanya padanya secara langsung dan meminta penjelasan padanya bukan malah mendiamkannya seperti ini, tentu saja dia tidak akan mengerti. Babo sekali aku.

”Ne..gumawo hyung atas nasehatnya…”seruku sambil beranjak dari tempat tidurku. Aku melihat jam sekilas sudah jam 8 lewat 10 aku harus segera menjemputnya. Jangan sampai dia lama menungguku.

Jin Ki hyung hanya tersenyum melihatku. Aku segera mengambil jaketku dan kunci motorku lalu bergegas turun.

”Oh ya Taem…Yunho hyung menanyakanmu lagi…”seru Jin Ki hyung menghentikan langkahku.

”Ne..nanti aku sms dia…”seruku dan hendak berjalan lagi.

”Kenapa kau selalu memanggilnya dia…jangan hanya sms saja..teleponlah yunho hyung sekali-kali…sepertinya dia sangat mengkhwatirkanmu…”seru Jin Ki hyung lagi.

”Ne…”jawabku singkat dan bergegas menuju garasi.

”Taemin-ah…josimhe…”seru ahjumma begitu melihatku keluar dari pintu rumah.

Semoga dia masih menungguku. Gumamku.

 

 

Hye Jin POV

Jangan-jangan dia marah sampai-sampai tidak mau menjemputku. Benar. Aku mendesah. Aigoo, apa yang telah kau lakukan padanya Hye Jin. Aku hanya tertunduk menunggunya di tempat biasa tapi masa dia setega itu. Mana dia sama sekali tidak memberitahuku, tidak mungkin pasti kalau dia tidak jadi menjemputku dia pasti memberitahuku. Sebaiknya kutunggu lagi 5 menit, lagipula masih ramai disini. aku terus memandangi jalanan yang sangat ramai dengan orang-orang, namun sayang udara semakin dingin. Aku memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaketku untuk memberikan kehangatan pada tanganku. Udara dingin ini membuatku mengantuk, apa ini yang Taemin rasakan setiap kali menungguku pantas dia sering teridur. Aku pun menguap beberapa kali dan tanpa sadar beberapa kali aku sudah tertunduk namun aku berusaha sadar kembali, aku tidka boleh tertidur disini.

”Ayo pulang…”seru sebuah suara yang sudah kukenal.

Ternyata di datang, syukurlah. Dia tidak semarah itu tapi dia tetap sedingin tadi. Aku harus segera minta maaf padanya. Aku berdiri dari dudukku dan kulihat dia sudah berjalan duluan. Aku pun segera berdiri dan memeluknya dari belakang.

”Mianhe…jeongmal mianhe Taemin-ah…aku tidak pernah mengkhianatimu…”seruku sambil terus memeluknya.

Dia terdiam.

”Jangan marah lagi…jebal…”seruku lagi dan kini tak terasa air mataku malah turun dan aku malah terisak sambil memeluknya. Pasti orang-orang sudah melihat kami. Namun Taemin segera berbalik dan merengkuhku ke dalam pelukannya dan mengusapa lembut punggungku.

”Sudah jangan menangis…banyak orang yang melihat…”serunya lagi.

”Biar…asal kau mau memaafkanku…”seruku dalam pelukannya.

Dia pun melepsakan pelukannya dan menarikku ke motornya. Selama perjalanan kami hanya terdiam. Aku menerj-nerka apakah dia masih marah padaku atau tidak. Sampai di depan rumah kami malah terdiam.

”Aku percaya padamu…”serunya.

Aku hanya bisa menunduk tidak berani menatap matanya. Dia mendekat perlaan dan kembali memelukku.

”Mianhe…aku yang seperti anak kecil…marah padamu tanpa alasan…”serunya lagi.

Kemudian dia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat.

”Saranghae…”serunya sambil mencium keningku.

”Nado saranghae…”seruku sambil tersenyum menatapnya.

”Jal ja jagiya…”serunya sambil mengacak-acak rambutku lembut.

Aku pun tersenyum padanya dan melihatnya berlalu pergi. Taemin-ah gumawo, kau memang seorang pria yang baik, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi. Saranghae Taemin-ah. Seruku dalam hati. Aku pun segera berjalan masuk ke dalam rumah.

Advertisements

One thought on “FF: LOVE’S WAY – LISTEN TO YOU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s