FF: LOVE’S WAY – I’M ONLY IN LOVE

 

18. I’M ONLY IN LOVE

 

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hyo Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

 

Hye Jin POV

Seminggu sudah berlalu dan keadaan masih seperti biasanya. Maksudku Siwon Oppa tetap bersikap seperti itu padaku. Aku sudah mulai terbiasa diperlakukan seperti itu olehnya. Aku pun berusaha untuk melupakan masalah itu sejenak. Sebentar lagi akan masuk musim dingin. Kuakui udara sekarang sangat…sangat dingin apalagi bagiku yang selalu pulang malam karena harus kerja part time. Aku menggosok-gosokan kedua tanganku setelah memakai sepatuku dan bersiap pergi ke sekolah. Hari terakhir sekolah di minggu ini. Aku sangat semangat sekali. Setidaknya besok sepertinya adalah hari pertama turun salju dan untunglah besok adalah hari sabtu sehingga tidak perlu ke sekolah menantang salju yang mencair di bajumu. Ah aku tidak terlalu suka salju, basah sangat tidak mengenakan. Entahlah aku terkadang bingung denganku sendiri, matahari tidak suka, salju juga tidak suka, lalu musim apa yang aku suka. Hemm mungkin musim semi kali ya karena suasananya tidak terlalu dingin juga tidak terlalu panas.

”Hyo Jin…cepat!”teriakku dari depan pintu.

Lama sekali dia, biasanya pagi-pagi seperti ini dia paling semangat sekali untuk sekolah, tentu saja karena tiap pagi dia bisa bertemu dengan Jang seosangnim. Aku memasukan tanganku ke dalam saku jaketku. Aishh lama sekali dia tidak tahu apa kalau hari ini dingin sekali.gerutuku dalam hati.

Tak lama kemduian dia sudah sampai di depanku dengan wajah sangat menyeramkan, kenapa dia? Apa dia mimpi buruk semalam? Dia berjalan mendahuluiku. Kenapa dengannya? Kenapa dia sinis sekali. Tanyaku dalam hati. Aku pun berjalan mengejarnya dan berjalan disampingnya.

”Hyo Jin-ah….kau kenapa?”tanyaku padanya.

Dia hanya diam dan malah semakin mempercepat jalannya, aku pun berusaha mengejarnya dan menyamakan langkah kakiku.

”Ya!kau kenapa sih?”seruku sudah kehilangan kesabaran berbicara baik-baik dengannya.

Dia tiba-tiba berhenti dan menatapku.

”Ya!harusnya aku yang tanya ada apa denganmu? Sampai-sampai kau tidak pernah mau cerita padaku!”serunya.

”Cerita apa?”tanyaku tak mengerti apa yang dia tanyakan.

”Sudahlah..kau sudah tidak menganggapku sepupumu lagi, hah!”serunya kembali berjalan.

Kenapa dengannya? Aku sungguh tidak mengerti. Aku pun berjalan mengikutinya.

”Hyo Jin! Kenapa sih?aku gak ngerti nih!”seruku kembali menghentikan jalannya, dia berbalik dan menatap tajam kearahku.

”Kau masih gak ngerti juga! Kenapa kau gak pernah cerita kalau kau itu kerja part time di toko jajangmyeon itu!”serunya yang membuatku tersentak kaget, darimana Hyo Jin tahu.batinku.

”Aku sudah bilang sama kau untuk selalu cerita padaku apapun itu…sulitkan buatmu seperti itu!”serunya lagi.

Aku hanya bisa menunduk, pasti dia sangat marah padaku.

”Mianhe…jeongmal mianhe…aku tidak bermaksud untuk tidak menceritakannya padamu…aku hanya takut kau tidak menyetujuinya…”seruku.

Dan bisa kurasakan bulir air mata mulai turun dari mataku. Aku pun mengusapnya segera. Lalu kurasakan Hyo Jin perlahan memelukku.

”Aku sayang padamu Hye Jin…aku ingin aku bisa membagi semua perasaanmu denganku…seperti kemarin…aku tahu kau sedih sekali…aku senang kemarin kau bisa menangis di depanku menceritakan semuanya…aku jadi merasa dekat denganmu jika kau seperti itu dan itulah yang aku inginkan…kau masih ingat janji kita saat pertama kali kau sampai disini kan? nah aku hanya berusaja untuk menepati janji itu…arasso?”serunya panjang lebar.

Aku hanya bisa mengangguk di dalam pelukannya. Yah aku mengerti, Hyo Jin sudah begitu baik padaku selama ini. Aku jadi ingat waktu dia memelukku dengan hangat saat pertama kali aku sampai disini dan juga saat kemarin aku menceritakan soal Siwon Oppa, dia mendekapku sangat hangat seakan ingin menghilangkan rasa sakit itu. Gumawo Hyo Jin. Aku sangat menyayangimu. Batinku. Kemudian Hyo Jin mendongakkan kepalaku dan mengusap air mata yang masih terus turun.

”Sudah jangan menangis lagi…kita kan mau kesekolah…”serunya.

Aku pun tersenyum padanya dan mengusapa air mataku yang masih tersisa dan kami pun berjalan menuju sekolah.

 

 

Hubunganku dengan Key juga tidak kunjung membaik. Kenapa sih aku harus merasakan hal ini. Sudah dua orang yang bersikap menjauhiku. Key masih bersikap seperti dulu, sepertinya dia memang memegang ucapannya untuk tidak akan berbicara denganku lagi tapi untuk masalah ini aku sudah mulai terbiasa karena aku tidak tahu harus bersikap bagaimana padanya mungkin hal ini lebih baik untuk kita berdua, meski terkadang aku juga rindu pada sikapnya yang dulu yang sering meledekku tapi sekarang tentu tidak ada lagi ledekan-ledekan itu yang ada hanya tatapan sinisnya setiap kali melihatku. Selama aku dan Key masih bertengkar aku semakin dekat dengan Taemin, seharusnya aku menjauhinya jika aku tidak ingin aku semakin menyukainya ternyata aku tidak bisa terlebih lagi sikap dia yang sangat baik sekali padaku. Semakin hari aku semakin menyukainya, sebenarnya itu perasaan yang salah, dia tidak pernah menyukaiku dia hanya menganggapku teman tapi kenapa aku tidak sadar juga dan berhenti untuk menyukainya tapi aku malah semakin menyukainya. Aigoo.

”Hye Jin-ah…”seru sebuah suara memanggilku. Aku yang sedang berjalan menuju perpustakaan setelah makan siang di kantin menoleh kebelakang mencari tahu siapa yang memanggilku tapi begitu aku lihat ke belakang tidak ada siapa-siapa disana. Aku pun berjalan lagi. Baru beberapa langkah suara itu kembali muncul.

”Hye Jin-ah…”aku pun menoleh lagi dan mendapati sebuah tangan melambai ke arahku dan menyruhku mendekatinya yang berdiri di samping loker. Aku pun berjalan mendekatinya dan sangat kaget melihat siapa yang bersembunyi disitu.

”Minho-ah….ada apa?kenapa kau bersembunyi disini?”tanyaku bertubi-tubi.

”Aishh..jangan banyak tanya…ini…”serunya sambil memberikan sebuah kotak berwarna pink padaku.

Aku memandangnya dengan tatapan bingung.

”Berikan ini untuk Rae Na…”serunya.

Aku hanya bisa melotot bingung dengan apa yang terjadi. Minho memberikan Rae Na hadiah, wah sepertinya berita bagus untuknya.

”Tapi aku dapat apa?”seruku pura-pura meminta imbalan darinya.

”Aishh…nanti aku suruh Taemin mengajakmu jalan-jalan minggu ini…”serunya santai.

Dasar Minho, sebaiknya tadi aku tidak usah berbicara seperti itu saja padanya. Aku pun hanya berjalan pergi meninggalakannya yang kulihat hanya terkekeh pelan melihat sikapku itu. Aku pun berjalan menuju perpustakaan. Baru sampai setengah jalan aku bertemu Yesung.

”Hye Jin-ah…”seru Yesung dengan senyumnya dan berjalan menghampiriku.

”Yesung-ah…wae?”tanyaku padanya.

”Aku kan hanya menyapamu saja….memangnya tidak boleh?”tanyanya.

”Anni…tapi biasanya kau hanya mencariku jika ada yang kau inginkan cepat katakan..moodku sedang tidak bagus saat ini….”seruku padanya.

Gara-gara tadi bertemu Minho membuatku jadi bad mood hari ini. Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah kotak berwarna biru sapphire padaku. Aku terperangah melihatnya dan menatapnya bingung. Apa lagi ini.

”Berikan pada Rae Na..”serunya.

Ada apa ini? Memangnya Rae Na ulang tahun hari ini sampai-sampai dua namja ini memberikannya kado. Sepertinya ulang tahun Rae Na masih dua bulan lagi. Ah jangan-jangan mereka berdua menyukai Rae Na lagi. Aigoo Rae Na! Aku hanya bisa mengambilnya dan memasukannya ke kantung seragam sekolahku yang lain. Jangan sampai Yesung tahu kalau Minho juga memberikan Rae Na kado.

”Arasso…akan aku berikan…aku duluan ya…”Seruku sambil melambai padanya dan berjalan pergi.

”Ne…gumawoyo Hye Jin-ah…”serunya lagi sambil tersenyum.

Aku berjalan menuju perpustakaan dengan banyak sekali pertanyaan di pikiranku bahkan Sungmin yang sedang menyapaku saja hanya kutanggapi dengan senyuman. Aku langsung berjalan ke pojokkan dan mengambil sebuah buku yang belum  selesai aku baca. Aku terus berpikir bagaimana kalau Minho dan Yesung memperebutkan Rae Na.ckckck.

 

 

”Pilihlah yang bijak…”seruku padanya begitu aku memberikan dua buah kado itu pada Rae Na dan aku menceritakan semua pendapatku padanya.

Sepertinya dia terlihat sangat bingung. Yah maklumlah. Yesung dan Minho sama-sama namja yang baik jadi tidak ada salahnya.

”Sudah ya…aku pulang duluan…harus pergi kerja dulu…”seruku padanya dan berlalu keluar kelas.

Aku segera mengetik sms pada Hyo Jin dan bilang padanya bahwa hari ini aku juga pergi bekerja. Yah dia menyuruhku untuk selalu memberitahunya kalau aku pergi kerja agar dia tidak khawatit aku pergi kemana. Belum sampai di gerbang aku berpapasan dengan Donghae Oppa yang belum pulang.

”Hye Jin-ah…”serunya dan tersenyum padaku.

”Oppa…belum pulang?”tanyaku padanya.

”Biasalah sudah mau ujian jadi banyak sekali pelajaran tambahan…”serunya.

”Hwaiting Oppa!aku tahu kau pasti bisa lulus dengan nilai terbaik!”seruku padanya memberi semangat.

”Gumawo dongsaeng…”serunya lagi sambil mengacak-acak rambutku.

”Sudah sana pulang…pangeranmu sudah menunggu tuh di depan…”serunta lagi sambil tersenyum jahil.

”Pangeranku?”tanyaku tidak mengerti.

”Sudah cepat sana kasihan kelamaan nunggu…”serunya lagi sambil menepuk lembut kepalaku. Aku hanya terdiam bingung dengan perkatannya tapi akhirnya aku pun berjalan menuju gerbang dan Taemin sudah ada disana menungguku.

Jangan-jangan maksud Donghae Oppa adalah Taemin. Dasar Oppaku!lihat saja nanti Donghae Oppa, akan ku balas. Gerutuku dalam hati. Seperti biasa Taemin tersenyum padaku dengan senyumannya yang lembut itu. Dia pun segera memberikan helmnya padaku. Seperti sebuah rutinitas pulang bersamanya sekarang.

 

Lelah sekali hari ini. Pelanggannya banyak sekali tapi aku harus tetap semangat.

”Sudah saatnya pulang Hye Jin-ah…”seru ahjumma padaku.

”Ah…ne…”seruku. aku melihat ke arah jam dinding dan sudah menunjukan pukul 8 malam.

Saatnya aku pulang aku bergegas menuju dapur dan mengambil tasku.

”Ini…”seru ahjumma sambil memberikan seplastik jajangmyeon.

”Ah…andwe ahjumma tidak usah…sudah terlalu sering ahjumma…”seruku menolak secara halus. Habisnya ahjumma sering sekali memeberiku jajangmyeonnya. Aku jadi tidak enak.

”Sudah ambil saja…cepat pulang…pacarmu sudah menunggu di depan…”serunya sambil mendorongku keluar dari dapur.

”Kendeu ahjumma…ini terlalu berlebihan…”seruku kembali mengembalikan yang dia berikan ke tangannya.

”Hye Jin-ah…ini untukmu…jangan menolak lagi…atau kau mau tidak bekerja disini lagi…sudah cepat pulang…kasihan pacarmu kedinginan…”serunya lagi mengembalikan bungkusan itu ke tanganku.

”Gamsahamnida ahjumma…tapi yang di depan itu bukan pacarku…”seruku membela diri.

Kenapa sih semua orang harus menganggapku berpacaran dengannya. Ini semakin membuatku susah untuk tidak menyukainya.

”Aishh..bilang saja itu pacarmu…sudahlah kulihat dia namja yang baik buktinya dia menunggumu daritadi…”serunya lagi.

Apa! Taemin menungguku? Biasanya dia hanya menjemputku. Aduh kasihan sekali dia, diluarkan sangat dingin.

”Ne…gamsahamnida ahjumma…”seruku sambil membungkuk dan mohon pamit.

”Ne…cepatlah kasihan dia….”seru ahjumma lagi.

Aku pun keluar dan mendapati Taemin sedang duduk di bangku di depan toko. Maka aku pun menghampirinya. Kenapa dia diam saja? Aku pun sadar ternyata dia tertidur. Ya ampun sejak kapan dia menungguku. Aduh aku jadi merasa bersalah padanya. Aku hanya menatapnya yang sedang tertidur sambil bersidekap. Entah kenapa aku malah asyik melihatnya tertidur seperti ini. Aigoo, wajahnya sangat polos ketika tidur sama seperti fotonya saat kecil. Aku terus saja menatapnya yang sedang tertidur tanpa sadar tanganku malah terulur dan berusaha menggapai wajahnya. Aku menyentuh pipinya dan mengusapnya pelan. Aigoo, aku benar-benar sudah jatuh cinta pada namja ini. Aku sangat mencintainya tapi apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba Taemin terbangun. Aku pun segera menarik tanganku kembali dan menyembuyikan rasa gugupku. Semoga dia tidak sadar apa yang aku lakukan padanya. Aku hanya bisa menunduk karena malu dan takut dia sadar apa yang aku lakukan itu.

”Kau sudah pulang?mian aku malah tertidur disini…”serunya sambil tersenyum.

Syukurlah sepertinya dia tidak sadar kalau aku tadi menyentuh wajahnya. Aku pun hanya tersenyum menanggapinya.

”Ayo pulang…”serunya lagi.

Aku pun berjalan mengikutinya menuju motornya. Selama perjalanan pulang kami sama sekali tidak berbicara. Aku masih takut dia sadar akan apa yang aku lakukan jadi aku lebih banyak diam.

”Gumawo…”seruku padanya sambil menunduk.

”Annyeong…”serunya dan berlalu pergi.

Aigoo, untung saja dia tidak sadar. Kenapa aku malah melakukan itu padanya? Aishh jangan-jangan aku sudah gila karenanya. Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah.

 

 

”Memangnya setiap kau pulang kerja ahjumma itu selalu membawakanmu jajangmyeon…”seru Hyo Jin dengan berbisik padaku saat sarapan agar ibu tidak tahu akan hal ini.

Aku hanya mengangguk tanda bahwa dia memang selalu melakukan itu. Sebenarnya aku sedikit tidak enak jika di beri terus tapi ahjumma selalu memaksaku untuk menerimanya. Jadi mau tidak mau aku harus menerimanya. Aku pun kembali menyendok makananku.

”Enak sekali kalau begitu…”serunya sambil terkekeh.

Dasar Hyo Jin, aku kan bekerja mana ada yang enak, capek iya. Hari ini aku ingin menghabiskan waktuku di rumah saja. Tidak mau kemana-mana, lagipula hari ini adalah hari pertama salju turun. Aishh, malasnya membayangkan butiran-butiran putih itu turun dari langit. Basah, satu kata dan itu sangat tidak enak. Namun sepertinya Hyo Jin senang sekali dengan kenyataan bahwa hari ini adalah hari pertama salju turun karena kulihat dia tidak henti-hentinya menatap langit yang memang sudah mendung sejak pagi hanya tinggal menunggu kapan kepingan berbentuk kapas putih itu turun. Aku berjalan menuju ruang nonton tv dan mengganti-ganti chanel tv sungguh tidak ada acara yang menarik. Aku melihat ke arah Hyo Jin yang masih duduk di lantai dengan membuka pintu lebar-lebar sambil memandangi langit, menunggu salju turun, seperti tidak ada kerjaan lain saja. Hari ini ibu juga harus bekerja karena biasanya saat hari pertama salju turun toko di tempat ibu bekerja akan sangat ramai. Kenapa sih hari pertama salju turun itu selalu spesial padahal menurutku itu adalah awal penderitaanku selama 3 bulan ke depan harus menghadapi tumpukan putih di setiap jalan yang terkadang masuk ke dalam sepatumu dan mencair membuatmu menjadi basah. Lebih baik hujan langsung terasa basahnya kalau salju, basah lembab, tidak mengenakan.

”Hyo Jin-ah…kenapa sih daritadi kau hanya memandang langit seperti itu terus…apa sih enaknya menunggu salju turun…”seruku padanya.

Dia langsung menoleh padaku dan membelalakan matanya.

”Kau tidak suka salju?”serunya.

Aku hanya terdiam. Memangnya kenapa kalau tidak suka dengan salju. Lagian apa bagusnya salju.seruku dalam hati.

Kemudian Hyo Jin berjalan menghampriku dan duduk disampingku dan langsung mematikan tv. Kenapa dia?

”Biar kuceritakan kenapa hari pertama salju turun itu sangat dinantikan…”serunya.

”Memangnya kenapa dengan hari pertama salju turun?”tanyaku padanya.

Wajanya berubah serius dan menatapku lekat-lekat.

”Menurut budaya korea jika ada seorang pria yang mengajakmu pergi di hari pertama salju turun secara tidak langsung pria itu memintamu sebagai pacarnya…jadi hari pertama salju turun itu selalu dinantikan…siapa tahu ada yang mengajakmu keluar…sungguh romantis sekali kan? menyatakan cinta di hari pertama salju turun…”serunya lagi dengan mata berbinar-binar.

Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan aneh, begitukah budaya disini. aneh sekali. Aha jangan-jangan dia ingin agar Jin Ki Oppa mengajaknya keluar hari ini. Aigoo dasar Hyo Jin.

”Ya!kau tidak bisa berpikir romantis apa!”serunya padaku karena aku hanya menanggapinya dengan biasa saja. Yah karena menurutku itu biasa saja. Memang seperti itu di bilang romantis ya. Menurutku itu biasa saja. Apanya yang romantis.

”Sudahlah…aku mau ke kamar dulu…”seruku padanya dan berjalan menuju kamarku.

Aku duduk di meja belajarku dan membaca buku yang aku pinjam dari sekolah kemarin. Baru setengah jam aku membaca aku mendegar HP ku berbunyi. Aigoo, dimana HP ku. Aduh aku lupa dimana aku menaruh HP ku itu. Aku segera beranjak mencari dimana aku meletakan HP ku. Aku mendengar HP ku berbunyi tapi dimana HP ku. Aduh, dimana aku menaruhnya? Aku sudah membuka smeua tas ku tapi aku tetap tidak menemukannya. Tiba-tiba Hyo Jin berdiri di ambang pintu.

”Nih…hp mu dari tadi terus berbunyi…kenapa kau menaruhnya di dapur…ini dari Taemin…”serunya sambil tersenyum jahil dan melemparkan Hp ku untung aku bisa menangkapnya.

”Yeoboseyo…”seruku.

”Ne…”jawabku.

”Sekarang?”tanyaku.

”Keundae…”seruku namun telepon sudah dimatikan.

Kenapa Taemin memintaku bertemu sekarang. Aishh, aku melihat keluar jendela belum ada warna putih yang turun. Baguslah setidaknya masih lama warna putih itu turun. Kalau sudah turun aku tidak akan mau pergi, meski itu Taemin sekali pun yang memintaku. Aku pun berjalan menuju lemari dan mengganti bajuku lalu menyambar jaket yang kusampirkan di meja belajarku, lalu mengambil syal serta toipi kuplukku. Aku yakin diluar sangat dingin sekali. Ada apa ya kenapa Taemin memintaku menemuinya di cuaca sedingin ini?tanyaku dalam hati.

”Kau mau kemana?”tanya Hyo Jin begitu melihatku sudah rapih memakai perlengkapan penangkan dingin.

”Aku mau pergi dulu…”seruku padanya dan berjalan menuju pintu dan mengenakan sepetu bootku. Haha sepertinya aku memang akan berperang melawan warna putih itu. Semoga jangan sampai salju turun sebelum aku pulang ke rumah.

”Ya!sebentar lagu salju turun..bukannya kau tidak suka salju…memangnya kau mau bertemu siapa?tanya Hyo Jin lagi padaku di depan pintu.

”Aku mau bertemu Taemin…sudah ya aku pergi…”seruku padanya.

Aku pun berjalan keluar siap melawan hawa dingin dan benda putih itu.

 

Hyo Jin POV

Bisa sekali dia menipuku, bilang saja tidak suka dengan salju tapi hanya karena Taemin menyuruhnya bertemu dia mau saja keluar rumah. Sepertinya dia sangat suka sekali dengan Taemin, tapi tunggu Taemin mengajaknya bertemu di hari pertama salju turun, apa jangan-jangan…ah masa Taemin percaya hal begituan…tapi kalau Jin Ki pasti percaya. Jangan-jangan dia memberitahu Taemin lagi.

 

Hye Jin POV

Inikah Namsan Tower, aku baru pertama kali kesini. Sebenarnya aku sering melihatnya sih setiap lewat jalan ini tapi aku tidak pernah benar-benar menginjakkan kakiku disini. sangat indah ternyata. Banyak lampunya. Aku melihat kesekeliling mencari orang yang menyuruhku bertemu disini. aku harap-harap cemas sambil menatap langi takut benda putih itu segera turun. Tiba-tiba seseorang menutup mataku.

”Taemin-ah…”seruku.

Dia pun melepaskan tangannya dan tersenyum padaku.

”Ternyata kau datang juga…”serunya.

”Tentu saja…tapi kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?”tanyaku padanya.

”Aku sedang dirumah sendirian Jin Ki hyung dan ahjumma sedang pergi…tidak ada yang aku kerjakan…jalan-jalan sendiri sangat membosankan jadi aku mengajakmu…syukurlah kau mau…”terangnya.

Jadi dia mengajakku jalan-jalan berdua, kupikir ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Aigoo, jalan-jalan berdua dengan Taemin, senangnya! Sebenarnya dulu juga pernah tapikan saat itu hanya karena mengikuti Jin Ki Oppa dan Hyo Jin yang sedang kencan. Jadi inilah jalan-jalan pertama kami.

”Kau pernah kesini sebelumnya?”tanyanya.

”Andwe…”seruku.

”Baiklah…akan kutunjukan bagaimana Namsan Tower itu…kajja”serunya padaku sambil menarik tanganku berjalan.

Taemin membawaku ke puncak Namsan Tower. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Darisini aku bisa melihat seluruh kota Seoul ternyata kota Seoul kalau dilihat dari atas sangat bagus sekali. Aku senang berada di kota ini.

”Indahkan?”serunya sambil memeberikanku segelas minuman hangat.

”Gumawo…”seruku sambil menerima minuman itu dan mulai meminumnya.

”Kau tahu tempat inilah yang selalu aku datangi setiap kali aku pulang ke Korea dulu…aku bisa melihat tempat kelahrinku dari atas sini dan itu bisa mengobati rasa rinduku pada kota ini…”ceritanya.

Benar Taemin kan selalu hidup berpindah-pindah dan baru selama SMA inilah dia menetap disini. aku penasaran dimana saja dia pernah tinggal.

”Taemin-ah..kota mana saja yang pernah kau tinggali?”tanyaku padanya.

”Banyak..kau tahu terkadang aku hanya tinggal 3 bulan saja di suatu tempat…”serunya sambil tersenyum.

”Kota mana yang paling kau suka?”tanyaku.

”Aku suka Berlin karena kotanya yang bersih….aku juga suka Manchester karena disana ada klub sepakbola favoritku…”serunya lagi.

”Yang mana yang paling kau sukai?”tanyaku lagi.

Dia terdiam dan berpikir sebentar. Mungkin dia bingung karena begitu banyak kota yang pernah dia tinggali.

”Seoul…”serunya mantap sambil menatapku lekat-lekat.

Saat itu jantungku berdegup sangat kencang, aku pun segera mengalihkan pandanganku dari matanya dan menatap kembali keluar. Hufft.

”Oh ya…hari ini salju pertama turun…ayo kita lihat ke atas…”serunya.

Aigoo, tidak aku tidak mau melihat benda putih itu tapi tangan Taemin langsung menarikku menuju bagian atas Namsan Tower yang terbuka. Aku merasakan angin dingin menerpa kulitku dan membuat bulu kudukku merinding. Aigoo dingin sekali. Aku memasukan tanganku ke saku jaketku. Aku lupa memakai sarung tangan. Sesekali aku menatap langit mengecek apakah salju sudah turun atau belum. Jangan sampai turun, doaku dalam hati. Kami bersandar di dekat pagar dan menikmati pemandangan di bawah. Namun Taemin sedari tadi terus memperhatikanku.

”Kenapa?jangan bilang kau tidak suka salju?”tanya Taemin tiba-tiba. Tepat mengenai sasaran. Bagaimana dia bisa tahu aku tidak suka salju.

”Darimana kau tahu?”tanyaku langsung.

Dia terkekeh pelan. Ok aku tahu aku adalah Open Book tentu saja gampang menebaknya karena wajahku yang gelisah tapi kan bagaimana bisa sejelas itu bahwa aku tidak suka salju apa sekarang semua rahasiaku sudah tertulis di wajahku.

”Kakakku juga tidak suka salju dan setiap aku mengajaknya bermain di salju dia pasti akan menunjukan ekspresi seperti dirimu…”serunya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menunduk malu.

”Sudahlah tidak apa-apa…tapi kenapa kau tidak suka salju?”tanyanya.

”Itu…”seruku bagaimana menjelaskannya ya.

”Basah?”tebaknya dan tebakannya kali ini kembali tepat. Apa jangan-jangan kakaknya begitu mirip denganku.

”Kakakku juga bilang begitu waktu kutanya kenapa tidak suka salju…”serunya lagi sambil terus tersenyum.

Angin kembali menerpa kulitku. Aigoo dingin sekali, aku menyentuh pipiku dengan tanganku, sama-sama dingin. Ini gara-gara aku lupa memakai sarung tangan. Tiba-tiba Taemin memakaikanku sarung tangannya. Aku terkejut melihatnya memakikan sarung tangannya ke tanganka. Saat tangannya menyentuh tanganku. Jantungku langsung berdegup sangat kencang bisa kurasakan mukaku kini memanas. Jangan sampai dia melihat mukaku memerah. Aku pun mendundukan wajahku sementara dia memakaikan kedua tanganku dengan sarung tangannya.

”Nah, hangat kan…”serunya padaku sambil tersenyum.

Aku pun mendongakkan wajahku dan membalas senyumnya.

”Gumawo…”kataku.

Kami terdiam beberapa saat dan terus menikmati pemandangan di bawah. Kemudian aku mersakan butiran putih mulai turun perlahan. Salju, tidak!seruku dalam hati.

Tiba-tiba sebuah tangan memelukku dari belakang. Jantungku langsung berdegup sangat kencang begitu aku tahu Taemin memelukku dari belakang.

”Aku akan melindungimu dari salju…”serunya sambil terus memperat pelukannya dan menaruh dagunya di bahuku.

Aigoo, pasti sekarang mukaku sudah seperti kepiting rebus. Ya ampun jantungku terus berdeba-debar. Jangan-jangan dia bisa mendengarnya lagi. Aku hanya bisa menduduk kembali tidak tahu apa yang aku pikirkan. Aku menyukainya. Aku senang di peluk olehnya seperti ini tapi aku juga takut jika seperti ini terus lama-lama aku akan semakin menyukainya dan itu hanya akan membuatku semakin kecewa jika ternyata dia tida memiliki perasaan yang sama denganku. Apa yang harus aku lakukan?

”Saranghae…”serunya tiba-tiba.

Aku menegang dalam pelukannya. Apa yang dia katakan barusan? Apa aku tidak salah dengar? Apa aku sedang bermimpi atau aku sedang dikerjai sekarang? Aigoo, apa maksudnya?

”Naneun saranghae…”serunya lagi.

Aku hanya bisa terdiam, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aigoo, aku harus bagaimana?entah kenapa lidahku begitu kelu saat ini. Aku seperti tidak bisa berkata apa-apa. Aku bingung dengan perasaanku sendiri kenapa aku jadi bingung disaat seperti ini. Bukankah harusnya aku senang karena ternyata dia memiliki perasaan yang sama dengank. Taemin melepaskan peluakannya dan membalikkan badanku dan langsung menatapku lekat-lekat.

”Hye Jin-ah…Naneun saranghae…jawab aku…”serunya lagi masih menatapku lekat-lekat.

Aigoo, apa yang harus aku katakan. Taemin aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu.

”Nado saranghaeyo…”seruku padanya dan langsung menundukan mukaku, sungguh aku tidak sanggup melihatnya. Aku merasakan benda putih itu turun perlahan mengenai tubuhku. Taemin langsung mendekapku ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalaku. Aku pun membalas pelukannya dan menenggalamkan wajahku di dadanya. Dia memepererat pelukannya. Rasanya hangat sekali. Entah bagaimana perasaanku saat ini yang jelas aku senang karena dia memiliki perasaan yang sama denganku. Taemin, kini dia milikku. Saranghae Taemin. Seruku dalam hati.

 

 

Taemin mengantarku sampai rumah, bisa kurasakan sepertinya kami sangat kikuk sekali. Meski kami sudah menyatakan perasaan kami masing-masing entah kenapa rasanya masih saja kaku. Ah mungkin karena Taemin adalah pacar pertamaku dan bagi Taemin aku juga adalah pacar pertamanya.

Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya karena telah mengantarku sampai rumah dan dia pun membalas senyumku lalu berlalu pergi. Ya ampun kenapa suasanya jadi begini. Seruku dalam hati dan berjalan masuk ke dalam rumah.

”Hayo..kalian habis ngapain?”seru Hyo Jin yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu.

”Aaa!!”teriakku kaget melihatnya sudah ada di depan pintu.

”Andwe…”jawabku dan langsung berlalu menuju kamar.

”Ya!kalian sudah pacaran ya?”tanyanya lagi sambil berdiri di ambang pintu. Kenapa dia malah mengikutiku.

Pertanyaannya kenapa tepat mengenai sasaran begitu, apa dia mengikutiku?

”Ya!darimana kau tahu?”tanyaku padanya.

”Ah…ternyata benar kan? kalian sudah pacaran…”serunya lagi sambil tersenyum.

”Ya!siapa bilang…”seruku sambil mengalihkan pandanganku agar dia tidak melihat mukaku yang sudah merah.

”Mengaku saja…kau tahu hari ini kan hari pertama salju turun…kan aku sudah cerita…ternyata budaya itu masih ada…”serunya lagi sambil berjalan mendekatiku.

”Sudah…jangan meledekku lagi…”seruku smabil berjalan keluar kamar.

Kudengan Hyo Jin tertawa di kamar.

”Aigoo, Taemin romantis sekali menyatakan cinta di hari pertama salju turun…aduh aku juga ingin seperti itu…”seru Hyo Jin sengaja berbiacra dengan suara yang keras agar aku mendengar.

”Ya!berisik tau..aku sedang nonton tv!”seruku menghampirinya di kamar.

”Aishh…yang sudah punya seorang namjachingu bernama Lee Taemin..”serunya lagi sambil tertawa.

”Hyo Jin!!!!”teriakku.

Tiba-tiba dia malah melemparku dengan bantal.

”Berisik tau!sebegitu senangnyakah!”serunya lagi.

Aku pun membalas melemparnya dengan bantal yang tadi dia lemparkan padaku dan akhirnya kami main lempar-lemparan bantal. Tak bisa kupungkiri aku merasa senang hari ini. Karena dia, namjachinguku Taemin. J

Advertisements

One thought on “FF: LOVE’S WAY – I’M ONLY IN LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s