FF: LOVE’S WAY – BECAUSE I’M WEARY

 

17.  BECAUSE I’M WEARY

 

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hyo Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

 

Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi sekarang pikiranku melayang entah kemana, aku hanya mendengar Lee seosaangnim menjelaskan pelajran tapi jujur apa yang diajarkan sama sekali tidak masuk ke dalam otakku. Aku hanya menunduk melihat bukuku yang kosong tanpa ada catatan sekalipun karena memang aku tidak mendengarkan apa yang Lee seosangnim ajarkan. Aku memegang pensilku dan mulai mencoret-coret tidak jelas di buku. Sungguh aku tidak ingin hal ini adalah kenyataan. Aku begitu sakit menerima kenyataan ini.

Pelajan sepertinya berlalu sangat cepat dan aku merasakan Lee seosangnim sudah keluar kelas, aku pun menelungkupkan wajahku ke atas meja dan memejamkan mataku. Aigoo, aku ingin keluar dari situasi ini.

”Gwenchanayo?”tanya Rae Na yang tiba-tiba sudah berada disampingku.

Aku kaget dan mendongakkan wajahku.

”Ne…gwencahana…sebentar lagi Park seosangnim datang…”seruku padanya dan kembali menelungkupkan wajahku ke atas meja.

”Hye Jin-ah…kau kenapa sih dari pagi aneh sekali…hari ini Park seosangnim tidak masuk..”seru Rae Na.

Park seosangnim tidak masuk hari ini, baguslah karena kemungkinan besar aku tidak akan bisa brekonsentrasi pada pelajarannya. Rae Na masih terus disampingku dan menanyakanku terus kenapa denganku. Mian Rae Na aku belum bisa cerita sekarang, aku pun sangat berat menerima kenyataan ini. Aku beranjak dari mejaku dan berjalan keluar, aku ingin sendiri saat ini.

”Aku baik-baik saja Rae Na…aku Cuma ngantuk saja…sudah ya…aku mau tidur di perpustakaan….”seruku sambil tersenyum, senyum yang dipaksakan karena sekarang hatiku sedang menangis.

Aku berjalan dengan gontai menuju perpustakaan di lantai atas tanpa diduga aku bertemu dengan Siwon Oppa dijalan dan dia hanya menatapku sekilas lalu berjalan pergi. Benar dia sangat membenciku. Aku yang melihat ekspresinya seperti itu semakin menguatkan kata-katanya yang kemarin bahwa dia sangat membenciku. Tak terasa air mataku kembali turun. Aku pun segera mengahpusnya dan bergegas menuju perpustakaan agar tidak ada yang melihat aku menangis.

Sesampainya di perpustakaan masih sepi, tentu saja ini kan jam pelajaran. Aku berjalan menuju salah satu rak dan mengambil buku secara asal karena sebenarnya niatku kesini adalah untuk menyendiri bukan membaca. Aku mengambil tempat duduk dipojokan dan mulai membuka buku tapi aku tidak membaca aku hanya membuka buku itu tanpa membaliknya sedikit pun aku sengaja membaca buku itu dengan membacanya menutupi wajahku karena sekarang aku sedang menangis, yah di balik buku yang kubaca air mataku terus turun. Sakit sekali menangis tertahan seperti ini.

 

Taemin POV

”Kau mau kemana Taem?”tanya Minho hyung padaku begitu melihatku berjalan keluar kelas.

Kelasku sedang kosong saat ini sehingga aku memutuskan ingin pergi ke perpustakaan membaca buku, habis di kelas tidak banyak yang bisa kukerjakan.

”Perpustakaan…mau ikut?”tanyaku.

”Andwe…sudah sana…”serunya sambil kembali mendengarkan musik dari Ipodnya.

Selama perjalanan ke perpustakaan aku terus saja memikirkan kejadian tadi pagi saat Hye Jin menangis. Ada apa dengan dia sampai dia menangis seperti itu. Aku melihat kelas Hye Jin sangat ramai begitu aku lewat kelasnya ternyata kelasnya sedang tidak ada guru, aku melongok ke dalam kelasnya dan mencarinya namun ternyata dia tidak ada di mejanya. Kemana dia? Aku pun meneruskan berjalan menuju perpustakaan.

”Taem…tumben pagi-pagi sudah kesini…”seru Sungmin yang sekarang sedang kebagian tugas untuk menjaga perpustakaan.

”Ne…sedang tidak ada guru…”seruku sambil tersenyum.

”Taem…Hye Jin kenapa ya? Dia kesini tapi sama sekali tidak menyapaku hanya masuk saja dan wajahnya kelihatan aneh…”cerita Sungmin.

”Hye Jin kesini?”tanyaku penasaran.

”Ne..itu dia ada di pojokan sedang membaca buku…apa dia sedang ada masalah?”tanya Sungmin lagi.

”Molla…”seruku.

Aku pun segera berjalan menghampiri Hye Jin karena ada murid yang ingin meminjam buku. Aku melihat Hye Jin sedang membaca buku dengan buku menutupi wajahnya. Aku duduk sedikit jauh dari Hye Jin takut menganggunya yang sedang serius membaca. Namun aku perhatikan terus dia sama sekali tidak membalik bukunya. Aku pun penasaran dan berjalan mendekatinya.

”Hye Jin-ah…”sapaku.

Dia mentup bukunya dan kulihat dia megusap matanya. Dia menangis lagi. Kenapa dengannya?

”Taemin-ah…”serunya dengan suara yang sedikit serak seperti habis menangis.

”Gwenchanayo?”tanyaku padanya.

”Ne…gwenchana…”serunya sambil tersenyum tapi aku tahu itu bukan senyumnya yang biasa. Hye Jin kenapa kau tidak mau bercerita denganku.

Lama kami terdiam. Aku sebenarnya ingin sekali bertanya padanya apa yang terjadi padanya tapi aku takut dia akan marah kalau aku terlalu mencampuri urusannya tapi jujur aku tidak tahan melihatnya menangis seperti tadi pagi seperti ada sesuatu masalah yang besar menimpanya.

”Hye Jin-ah…tadi pagi kau menangis…ada apa?”tanyaku perlahan.

Hye Jin hanya terdiam dan menunduk. Aku menghela nafas dan mengenggam tangannya. Dia agak sedikit terkejut dan langsung mendongakkan wajahnya.

”Aku kan sudah bilang kalau kau ada masalah kau bisa cerita padaku…apakah kau sudah tidak menganggapku teman lagi…”seruku padanya.

”A…ku…”serunya.

 

Hye Jin POV

”A..ku..mianhe….”seruku kembali menundukan wajahku.

Teman? Jadi dia hanya menganggapku teman saja. Hah! Babo Hye Jin tentu saja hanya teman!memangnya mau apa. Seruku dalam hati.

Sepertinya hatiku semakin sakit karen hal ini. Aigoo, aku ingin pulang ke Amerika.

Tiba-tiba tangan Taemin memegang daguku dan mendongakan wajahku sehingga matanya langsung menatapku. Jantungku berdeba-debar saat itu.

”Ceritakanlah…aku sedih jika melihatmu menangis seperti tadi…”serunya masih menatap mataku lekat-lekat.

Aku kembali mengalihkan pandanganku dan menatap ujung sepatuku. Apakah aku harus menceritakannya? Apa tanggapannya jika dia tahu aku adalah adik dari Siwon Oppa. Dia selama ini selalu ada disaat aku menangis dan dia sudah begitu baik padaku. Mungkin sebaiknya aku menceritakannya.

 

 

Taemin POV

Hye Jin, aku tidak pernah menyangka ini semua. Benarkah dia adalah adik kandung Siwon Oppa. Hye Jin kehidupanmu sunggu sangat sulit.

Aku mengenggam tangannya dengan erat begitu kulihat air matanya mulai menetes kembali. Aku pun menjulurkan tangaku dan menghapusnya.

”Hye Jin-ah…jangan menangis lagi…”seruku padanya dan dia hanya mengangguk lemah.

”Hye Jin-ah…menurutku apa yang Donghae hyung bilang itu benar…mungkin Siwon hyung butuh waktu untuk menerima ini semua sama sepertimu…”lanjutku dan melihatanya mentapaku dengan mata berkaca-kaca sungguh aku tidak suka melihat matanya yang berkaca-kaca seperti saat ini aku lebih suka meliaht matanya yang bening dan hangat itu dengan senyuman di bibirnya bukan tangisan. Aku pun membelai wajahnya lembut.

”Aku tahu kau gadis yang tegar dan kau akan mampu melewati ini semua…”seruku.

Aku menyenderkannya di lenganku.

”Gumawo Taemin-ah…”serunya.

 

Hye Jin POV

Taemin kau memang sangat baik padaku. Sudah tiga orang yang bilang seperti itu mungkin benar aku harus memberi Siwon Oppa waktu untuk bisa menerimaku dan aku pun juga butuh waktu untuk menerima ini semua. Yah aku akan berjanji sabar menunggu Siwon Oppa akan mengakuiku sebagai adik kandungnya. Entah kenapa setiap kali berbicara dengannya pasti aku akan sedikit lebih tenang seperti saat ini. Setiap senyumnya yang hangat dan kata-katanya yang lembut namun mampu memberikan semangat padaku. Dia menyenderkanku di lengannya dan itu membuatku merasa hangat karena kulihat di luar hujan masih terus turun. Aku beruntung punya seseorang sepertimu meski kau hanya menganggapku teman. Seruku dalam hati.

”Ya!kalian malah pacaran disini? ini perpustakaan tau bukan bioskop!”seru Sungmin yang kini sudah berdiri di depan kami dengan berkacak pinggang.

”Mian Sungmin-ah….”seru Taemin kaget melihat Sungmin yang datang tiba-tiba.

”Kalau kalian ngapa-ngapain kan aku yang jadinya harus tanggung jawab…”Seru Sungmin lagi.

”MWO!!”teriak kami bersamaan.

”Tuh kan berisik lagi di perpustakaan!”serunya.

Aigoo, memangnya aku dan Taemin sedang apa. Dasar dia saja yang berpikiran macam-macam.

”Minnie-ah…aku tidak ngapa-ngapain kok…”seruku padanya sambil berdiri.

”Minnie!! Kau panggil aku apa! Sungmin namaku sungmin bukan minnie…”serunya lagi dengan wajah sangat kesal.

”Tenanglah minnie…maksudku Sungmin…Hye Jin Cuma bercanda kok memanggilmu seperti itu…”seru Taemin mencoba menengakan Sungmin.

Loh memangnya kenapa aku memanggilnya Minnie bukankah itu nama panggilannya. Bukannya Kyu bilang begitu padaku. Aku dan Sungmin tidak sekelas, Kyu dan Yesunglah yang sekelas dengannya, dia juga salah satu anak basket, aku mengenalnya juga gara-gara basket, aku jadi sering bertemu dengannya. Dia adalah pribadi yang sangat unik menurutku bagaimana tidak kalau dia suka sekali warna Pink sama seperti Key tapi kalau Key masih malu untuk mengakuinya lain hal dengan Sungmin dia sering sekali menunjukan ke orang-orang kalau dia punya barang-barang berwarna pink dia memang agak sedikit seperti wanita tapi kalau sudah main basket dia berubah menjadi seorang pria yang sangat mengangumkan makanya jangan heran kalau dia juga incaran cewek-cewek disini, dia punya julukan sendiri namanya Pretty Boy.

”Kata Kyu itu nama panggilanmu…aku kan hanya berusaha untuk akrab denganmu…”seruku polos.

Kulihat Taemin malah tertawa terbahak-bahak dan Sungmin hanya memanyunkan bibirnya.

”Wae?”tanyaku pada mereka berdua.

”Aishh…dasar Kyu kurang ajar….awas kalau aku bertemu dengannya…”seru Sungmin.

”Hye Jin-ah…kau sepertinya di tipu Kyu…Kyu memang sering memanggilnya Minnie atau Umien atau Sungminnie..dan Sungmin sangat tidak suka itu..kau tahu kan kalau Kyu itu sangat jahil dan kau kan juga tahu Sungmin sangat suka warna pink jadi itu panggilan sayang Kyu untuknya…”terang Taemin.

”Ya!panggilan sayang apanya!”seru Sungmin sambil menjitak kepala Taemin dan Taemin hanya bisa meringis kesakitan lalau membalas dengan memukul lengan Sungmin.

”Oh…mianhe Sungmin…aku tidak tahu…”seruku sambil memasang senyum terbaikku.

”Ne..baiklah…tapi jangan panggil aku seperti itu lagi…oh ya tadi kau kenapa?”tanyanya penasaran.

”Kau tidak perlu tahu…”seruku padanya.

”Ya!kau marah karena tadi aku marah-marah padamu…”seru Sungmin lagi.

”Andwe…”jawabku singkat.

”Ah….arasso…kau pasti tadi sedang marahan ya dengan Taemin…pantas saja…lain kali kalau mau baikan jangan disini ya…berisik tahu…”serunya dengan wajah tanpa dosa.

”Minnie!!!!”seru kami bersamaan.

”Ya!jangan panggil aku seperti itu!”serunya lagi.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang berdecak dan menghampiri kami ternyat itu Wookie.

”Sungminnie…kau disuruh menjaga perpustakaan malah membuat ribut disini…payah sekali…”seru Wookie sambil membuka kacamatanya. Terkadang saat memakai kacamata dia tampak sepert Harry Potter salah satu film favoritku.

”Mwo?enak saja kau mereka yang membuat berisik tahu…”Seru Sungmin sambil menunjuk kearah kami dan kami hanya melotot mendengarnya berkata seperti itu memangnya kami yang membuat keributan bukankah dia duluan yang datang dengan marah-marah.

”Kecilkan suaramu ini perpustakaan tau!”seru Wookie.

”Tapi…”seru Sungmin.

Wookie menaruh telunjuknya di bibirnya agar Sungmin berheti bicara. Sungmin pun ahirnya terdiam dan kami hanya bisa tertawa di tahan karena kami tidak boleh mengeluarkan suara.

Aiggo, hari ini aku bisa tertawa lagi. Senangnya jika menghabiskan waktu bersama teman-temanku yang lucu-lucu ini seakan masalahku terangkat semua. Aku melihat Taemin sedari tadi memperhatikanku terus. Kemudian dia berbisik padaku.

”Aku senang kau sudah bisa tersenyum lagi…”serunya.

Seketika itu juga aku merasakan mukaku memerah. Aigoo.

 

Meski masih sedih aku berusaha menyembunyikannya dari teman-temanku dan mulai bersikap biasa terhadap masalah ini. Yah aku harus mulai menerima masalah ini dengan lapang dada, aku tahu semua ini pasti akan segera berakhir. Aku menghela nafas dan berjalan menuju kelasku yang masih ramai karena tidak ada guru setelah tertawa puas di perpustakaan sebenarnya tidak tertawa lepas hanya tertawa tertahan karena tentu saja kami tidak boleh bersuara di perpustakaan terutama jika yang sedang menjaga adalah sungmin makan aku harus diam. Wookie berjalan disampingku menuju kelas.

”Hye Jin-ah…kenapa daritadi kau menghela nafas terus?”tanyanya.

”Andwe…”seruku sambil tersenyum dan kulihat dia hanya menatapku bingung.

”Hey sudahlah…aku tidak apa-apa…”seruku sambil menepuk bahuku dan dia malah meringis dan mengusap tangannya. Memangnya sesakit apa pukulanku, kupikir aku memukulnya dengan perlahan.

”Aishh…tanganmu…tangan pria apa…sakit sekali tau…”serunya sambil menatapku tajam.

Aku pun hanya bisa tersenyum dengan pandangan memohon maaf.

”Mianhe…wookie…aku tidak sengaja…lagipula tidak sakit tau…aku memukulnya pelan…”seruku membela diriku sendiri.

”Ya!pelan darimana…mestinya kau ikut klub taekwondo bukan drama..kasar sekali…”serunya lagi.

”Enak saja kau…aku tidak kasar tau…”seruku sambil menjitak kepalanya dan dia kembali meringis.

”Aishh..tanganmu itu memang tangan pria…sakit sekali…”serunya.

Aku pun hanya bisa memanyunkan bibirku, kesal karena dia bilang aku kasar. Baru sampai di depan taman aku berpapasan dengan Siwon Oppa. Siwon Oppa masih tetap seperti tadi berjalan dengan menundukan wajahnya tanpa melihat ke arahku sedikitpun. Hatiku kembali sakit melihatnya memperlakukanku seperti itu tapi aku harus sabar, kata-kata Donghae Oppa kembali terngiang di otakku. Aku harus memberinya waktu. Yah itu yang harus aku lakukan. Hwaiting Hye Jin. Seruku menyemangati diriku.

”Hye Jin-ah…kau malah pacaran dengan Wookie…”seru Rae Na padaku begitu melihatku masuk bersama Wookie. Kulihat Key menatapku sekilas.

”Kau cemburu ya Rae Na?”seru Wookie sambil berjalan menuju mejanya.

Aku hanya terkekeh perlahan dan menuju mejaku.

”Aku hanya ketemu dia tadi di perpustakaan…”seruku pada Rae Na dan dia hanya membentuk mulutnya menjadi huruf O tanda mengerti.

Tak lama kemudian Jang sessongnim masuk. Aku sudah bisa berkonsentrasi pada pelajaran hari ini meski terkadang masih teringat tapi mau tidak mau aku harus berkonsentrasi pada pelajaran ini kalau tidak mau dikeluarkan dari kelas. Aku mencatat dengan tekun setiap yang Jang sessongnim tulis. Aku berusaha menjadi murid yang baik setiap jam pelajarannya.

 

Aku menaruh nampanku di atas meja dan segera duduk untuk menyantap makan siangku. Hari ini aku duduk hanya dengan Rae Na karena Hyo Jin makan siang bersama Jin Ki Oppa terkadang aku bingung dengan hubungan mereka, sebenarnya mereka pacaran atau tidak sih. Habis setiap kutanya Hyo Jin pastinya jawabnya tidak tapi mereka sangat dekat sekali. Hufft membingungkan. Kulihat Rae Na sudah asyik dengan makanannya begitulah dia kalau sudah  makan dia akan lupa segalanya dan hanya terfokus pada makanan yang ada dihadapannya, tidak ada yang bisa menganggunya jika sudah begini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekililing mencari sosok wajah yang sudah tidak asing bagiku dan aku melihatnya, itu dia Taemin sedang duduk bersama Minho dan Sungmin, mereka sedang asyik mengobrol. Entahlah kenapa aku suka sekali memperhatikan sekelilingku, aku sering melakukan ini melihat semua orang yang ada di kantin dan melihat dengan siapa mereka duduk sehingga aku bisa hapal dengan siapa mereka biasa duduk jika makan siang dan di meja yang mana, karena biasanya mereka akan makan di meja yang sama. Aku menatap ke arah yang lain dan mendapati Key dan Jonghyun sedang makan di tempat yang sama seperti pertama kali aku melihatnay di kantin ini dan seperti biasa juga mejanya di penuhi oleh yeoja-yeoja, aku menengok kesebelah kanan dan mendapati Yesung dan Kyu yang sedang makan seperti biasa sambil makan saja Kyu tidak lepas dari PSPnya, aku beralih ke arah yang lain ada Changmin sunbae dan Leeteuk sunbae bersama beberapa sunbae yang aku tidak kenal sedang makan di sudut kantin terakhir aku melihat ke arah Kibum sunbae, Heechul sunbae serta Eunhyuk sunbae sedang makan di tempat biasa tapi tunggu tidak ada Siwon Oppa disana, tumben sekali dia tidak makan siang. Apa gara-gara aku? Masa sih sampai segitunya dia tidak mau melihatku. Tiba-tiba Kibum sunbae menoleh dan mendapatiku sedang menatap mejanya dan dia pun tersenyum dengan manisnya. Killer smile mulai dia keluarkan, aku pun hanya membalas senyumnya sekilas tapi Eunhyuk subae juga jadi ikutan melihat ke arahku maka terpaksa aku pun tersenyum pada mereka semua dan langsung beralih ke arah yang lain.

”Ya! Kau tidak makan…dari tadi bengong saja…”seru Rae Na menyenggol tanganku.

”Ah…anni…aku mau makan kok…”seruku.

Aku pun segera menyendok makananku. Selama makan aku masih memikirkan kenapa Siwon Oppa tidak ada di tempatnya, apa dia tidak makan siang hari ini. Namun belum selesai aku makan dua orang masuk ke dalam kantin dan ternyata itu Siwon Oppa kemudian di belakangnya berjalan Donghae Oppa, tumben sekali Donghae Oppa ke kantin biasanya dia selalu membawa bekal. Donghae Oppa langsung menuju mejaku begitu melihatku menatapnya. Dia berjalan sambil tersenyum.

”Donghae sunbae…”seru Rae Na kaget melihat Donghae Oppa menghampiriku. Sepertinya aku belum cerita kalau selama ini aku dekat dengan Donghae Oppa makanya semua PR matematikaku terselesaikan dengan baik. Mianhe Rae Na aku belum sempat cerita itu.

”Annyeong…”serunya dan langsung mengambil tempat duduk disampingku bisa kulihat Rae Na sangat bingung dan seperti meminta penjelasan padaku tapi aku hanya tersenyum dan memberi kode bahwa aku akan menceritakannya nanti. Aku terus mengamati Siwon Oppa yang berjalan menuju meja Kibum sunbae. Seperti tadi tanpa melihat ke arahku. Taemin langsung melihat ke arahku begitu dia melihat Siwon Oppa masuk ke kantin. Aku pun tersenyum meyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja dan dia pun membalas senyumku dan kemudian dia beralih kembali berbicara dengan Minho.

”Oppa tidak bawa bekal?”tanyaku pada Donghae Oppa.

”Annyong…aku lupa tadi pagi…sebaiknya aku ambil makan dulu…”Serunya sambil berdiri dan beranjak mengambil makanan.

Rae Na langsung menatapku galak.

”Kau memanggilnya Oppa?apa hubunganmu dengannya?”tanyanya langsung.

”Ne…aku memanggilnya Oppa tapi ini hanya hubungan dongsaeng dan Oppa saja kok…tidak lebih nanti aku ceritakan selengkapnya…”seruku padanya.

”Tidak mau aku mau kau menceritakannya sekarang…”serunya lagi.

Untunglah Donghae Oppa langsung datang kembali dan Rae Na pun hanya bisa diam. Aku tersenyum jahil padanya dan kulihat dia hanya merengut kesal.

 

 

”Jadi begitu ceritanya…pantas saja PR mu selalu benar…ternyata ada dewa penolongmu…”seru Rae Na begitu aku selesai bercerita tentang Donghae Oppa.

”Enak saja…aku juga belajar padanya tidak hanya meminta jawaban…”seruku.

”Hah…aku harus rela telat pulang sekolah demi mendengarmu bercerita tentang Hae Oppamu itu…”serunya lagi.

Aku hanya tersenyum, lagian siapa suruh ingin mengetahui ceritanya. Aku memasukan bukuku ke dalam tas dan berjalan bersama Rae Na keluar sekolah.

”Kau tidak diantar Taemin?”tanya Rae Na begitu kami berjalan keluar kelas.

”Ya!memangnya aku pacarnya apa? Yang kemaren kebetulan saja aku bertemu dengannya di gerbang…”seruku.

”Sebentar lagi juga dia akan mejadi pacarmu…”seru Rae Na kemudian terkekeh perlahan.

Dasar Rae Na, sama seperti Hyo Jin, senang sekali menggodaku.

”Aku rasa Taemin menyukaimu…”kata Rae Na lagi.

Aku hanya menghela nafas dan pura-pura tidak mendengar sementara kami sudah sampai di depan gerbang sekolah.

”Apa kau menyukainya juga?”tanya Rae Na tiba-tiba berhenti di depanku dan langsung menatapku. Aku sedikit terlonjak kaget dan mundur sedikit.

”Andwe…aku tidak suka dengannya dan dia juga tidak suka padaku…arasso?”seruku.

”Kalau kau tidak menyukainya kenapa wajahmu merah begitu?”tanyanya lagi.

Aigoo, apa mukaku merah. Tidak mungkin. Aku segera berjalan mendahuluinya.

”Ya!mengaku saja lah…kau menyukainya kan?”seru Rae Na sambil mengejarku.

 

 

Sampai juga di depan tempat kerjaku. Sudah sebulan aku bekerja disini. Yah lumayanlah. Aku senang bekerja disini karena bibinya Rae Na sangat baik sekali padaku. Sehingga aku tidak terlalu merasa sebagai pekerja disini.

”Hye Jin-ah antarkan ini ke meja nomor 11…”seru bibinya Rae Na sambil memberikan nampan yang berisi semangkuk jajangmyeon.

”Ne…ahjumma…”seruku dan berjalan menuju meja nomor 11.

Rumah makan ini selalu ramai apalagi kalau sudah mulai sore seperti ini. Aku berjalan menuju meja nomor 11 dan menaruh mangkuk di atas meja.

”Hye Jin-ah…”seru sebuah suara yang aku kenal dan sekarang dia sedang tersenyum padaku.

Aigoo, aku tidak melihat siapa orang ini karena dia memakan topi dan sweater yang sangat tebal serta memakai syal, aku tak menyangka ternyata itu Donghae Oppa.

”Op..pa…”seruku terbata-bata.

Dia hanya tersenyum melihatku. Apa yang harus aku jelaskan padanya.

 

Aku keluar dari toko itu dan melihat Donghae Oppa masih menunggu di depan jalan smabil bersidekap. Aku pun berjalan menghampirinya.

”Mian…Oppa aku tidak pernah cerita…”seruku begitu aku sampai di hadapannya.

Dia menepuk kepalaku dan tersenyum.

”Aku sudah tahu sejak kau bilang tidak bisa mengantarku ke toko buku…aku mengikutimu waktu itu dan ternyata kau bekerja disini…”serunya.

Aku jadi semakin merasa bersalah padanya karena ketahuan berbohong waktu itu. Kemudian dia menarikku duduk di salah satu bangku di depan toko dan membelikanku minuman hangat.

”Gumawo Oppa…”seruku sambil menerima minuman itu.

”Hye Jin-ah…hidupmu sangat berat sekali…aku baru tahu itu tapi kenapa kau tidak pernah mau membagi ceritamu…kenapa kau senang sekali menyimpan cerita sedihmu dan brepura-pura bahagia di depan orang lain…”seru Donghae Oppa sambil menatap langit.

Aku menghela nafas.

”Aku sudah terbiasa seperti ini…waktu di Amerika dan disini…aku tidak pernah menganggap hidupku berat….karena aku sudah terbiasa seperti ini…bagaimanapun juga aku harus membantu ibuku…aku sendiri tidak yakin akan masa depanku nanti..makanya daripada aku merasa hidupku berat lebih baik aku menjalaninya sebisaku…”seruku dengan mata menerawang ke langit hitam yang mendung.

”Aku sungguh kagum padamu…dengan segala masalah yang menimpamu kau masih bisa tersenyum…jujur aku tidak pernah menyangka kalau sebenarnya inilah kehidupanmu…aku selalu merasa kalau kehidupanmu baik-baik saja tanpa masalah….”serunya lagi kini Donghae Oppa menatapku.

Aku tersenyum dan kulihat Donghae Oppa juga tersenyum dan mnegacak-acak rambutku.

”Pokoknya mulai sekarang kalau kau punya masalah apapun atau kau ingin bercerita apapun…ceritalah padaku….aku akan selalu ada untuk membentumu…arasso? jangan membohongiku seperti kemarin…memangnya aku akan memarahimu kalau kau kerja part time…”serunya sambil terkekeh.

”Ne Oppa”seruku sambil menundukan wajahku karena malu pernah membohonginya.

”Oh ya mengenai masalah Siwon…aku sudah bicara dengannya….aku sudah bilang padanya kalau kau sudah tahu akan hal itu tapi…dia belum siap…mian…”katanya.

”Ne…arasso…aku akan menunggunya sampai siap…Hwaiting Hye Jin…”seruku sambil tersenyum, aku tidak mau terus-terusan sedih karena hal ini.

Donghae Opp hanya tersenyum.

”Ayo aku antar pulang…Taemin tidak menjemputmu kan hari ini?”tanyanya.

”Aishh…Oppa memangnya aku pacarnya harus selalu di jemput olehnya…”seruku sambil memanyunkan bibirku. Kenapa sih orang-orang ini senang sekali meledekku.

”Kajja..”seru Donghae Oppa padaku.

 

 

Donghae POV

Aku menatap dongsaengku masuk ke rumahnya, dia pun melambaikan tangannya dan tersenyum aku pun membalasnya dan tersenyum kemudian masuk ke dalam mobilku. Dalam perjalanan pulang aku sungguh tidak habis kenapa Siwon begitu tega terhadap dongsaengnya seperti itu. Apa susahnya menerimanya sebagai adiknya? Bukankah dia juga menyayanginya. Sebaiknya aku berbicara lagi padanya. Aku tidak tega melihat Hye Jin harus berpura-pura tersenyum setiap kali membahas ini padahal hatinya menangis aku tahu itu. Siwon sudah tahu lama akan hal ini, apa waktu sebegitu lamanya belum cukup baginya. Sebaiknya aku bicara lagi dengannya. Aku sampai di depan apartemenku dan segera menuju apartemen Siwon.

”Wonnie…”seruku seperti biasa dengan berteriak tanpa memencet bel terlebih dahulu karena itulah kebiasaanku.

Tak lama kemudian pintunya terbuka dan kulihat Siwon sudah mengenakan piyamanya. Apa dia mau tidur? Baru jam 8 malam, aneh sekali dia.

”Ya!Donghae-ah…bisa tidak jangan teriak-teriak seperti itu…untuk apa ada bel di depan kalau kau masih berteriak seperti itu….”serunya.

Aku hanya tersenyum dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

”Sudah masuk…”serunya padaku.

Aku pun masuk ke dalam rumah, sebaiknya aku jangan langsung memanyakan masalah Hye Jin seperti tadi di sekolah, hampir saja kami bertengkar.

”Kau sudah mau tidur apa?”tanyaku padanya yang sedang mengambil minum untukku.

”Tidak…aku hanya tidak akan keluar saja hari ini…ini…”serunya sambil memberikan segelas jus jeruk padaku dan duduk disampingku dan kami akhirnya menonton tv bersama. Suasana menjadi hening tidak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengutarakannya.

”Wonnie-ah…”seruku padanya dengan wajah yang sangat serius.

”Ne…”seru Siwon menatapku dengan wajah yang serius juga.

”Apa kau yakin akan terus seperti ini?”tanyaku.

Dia menghela nafas.

”Ne…aku sudah bilang padamu berapa kali…aku belum siap…”seruku padanya.

”Sampai kapan kau siap?apa kau benar-benar membencinya? Kau tidak menyayanginya?”tanyaku bertubi-tubi aku hanya ingin meminta kepastian dari dia bagaimana perasaannya terhadap Hye Jin.

Dia menatapku dengan tajam.

 

Siwon POV

Kenapa dia harus selalu bertanya hal itu terus. Aku muak mendengarnya? Tidakkah dia merasakan apa yang aku rasakan. Apa dia tidak bisa merasakan bagaimana rasanya jika dia ada di posisiku sekarang.

”Sampai kapan kau siap?apa kau benar-benar membencinya? Kau tidak menyayanginya?”tanyanya bertubi-tubi.

Aku menatap tajam ke arahnya dan berdiri dari dudukku. Sudah cukup dia bertanya seperti itu terus seakan dia begitu mengetahui keadaan keluargaku.

”YA!kau tidak usah ikut campur dalam urusan keluargaku!”teriakku padanya.

Dia menatapku bingung karena tiba-tiba marah padanya.

”Aku tidak mencampuri urusan keluargamu, aku hanya ingin membantumu…kau sahabtku…”serunya

”Sudah cukup Donghae-ah! Dulu kau juga ikut campur sekarang kau melakukan itu lagi!”seruku masih berteriak padanya. Aku sungguh kesal padanya dulu juga dia seperti ini padaku sekarang dia melakukannya lagi.

”MWO!!!”serunya kaget mendengar perkatannanku.

”Jadi kau menganggapku selalu ikut campur dengan urusanmu!aku tidak habis pikir denganmu Siwon….sebaiknya kau jangan pernah menerima Hye Jin sebagai adikmu….karena kau tidak pantas menjadi Oppanya…”serunya padaku.

Dan itu benar-benar membuatku eksal, menurutnya aku tidak pantas menjadi kaka Hye Jin. Apa dia pikir karena selama ini dia yang selalu baik pada Hye Jin dan dia adalah orang yang pertama kali di anggap kakak olehnya sehingga di merasa pantas menjadi kakaknya.

”MWORAGO!!!”seruku padanya semakin maju kehadapannya dan sekarang kami saling bertatapan.

”Kenapa? Kau merasa seperti itu!”serunya lagi semakin menatapku tajam

”Kau tidak pernah tahu bagimana rasanya dicampakkan…ditinggalkan tanpa tahu siapa orang tuamu…kau tidak tahu Donghae…karena kau punya orang tua yang lengkap tidak sepertiku…jadi jangan pernah kau sok tahu mengenai hal itu…aku membenci mereka!”seruku padanya.

Tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di pipiku. Ya Donghae memukulku. Aku bisa ,mersakan bibirku perih, aku tidak percaya dia memukulku. Selama ini kami tidak pernah bertengkar tapi kenapa sekarang dia malah memukulku karena membela seseorang yang bahkan dia pun tidak kenal. Aku mengusap bibirku dan ternyata bibirku berdarah. Dia masih menatapku dengan padangan marah.

”Aku beri tahu ya…anak macam apa kau yang tidak pernah tahu bagaimana keadaan orang tuamu….kau bisa berkata seperti itu sekarang tapi apa kau tahu apa yang terjadi pada ibu dan adikmu…ibumu sudah bercerai dengan ayahmu dan dia pindah kesini karena sudah tidak mampu lagi hidup disana karena ayahmu tidak memberikan mereka uang sepeserpun…dan kau tahu ibumu disini bekerja sebagai pelayan dan adikmu harus berkerja part time setiap sepulang sekolah di toko jajangmyeon hanya untuk menabung demi masa depannya….sedangkan kau…kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dari orang tua angkatmu…pernah kau berpikir itu sebelumnya….”seru Donghae yang membuatku benar-benar terkejut mendengar perkatannya.

”Siwon-ah…kau harusnya melihat lebih dalam…semoga kau segera sadar…aku tidak mau melihat Hye Jin menangis lagi karenamu…mianhe…aku memukulmu…”serunya lagi dan berjalan pergi meninggalkanku sendiri yang masih berdiri menatap kepergiannya.

Aku langsung terduduk di lantai terpaku tidak tahu apa yang ada dipikiranku sekarang. Ya Tuhan apa aku sudah salah selama ini. Kata-kata Donghae terus terngiang di kepalaku. Jadi siapa yang lebih menderita? Tak terasa air mataku turun.

 

Donghae POV

Mianhe Siwon…mianhe..aku tidak berniat melakukan itu padamu, mungkin kau selalu berpikir aku terlalu ikut campur urusanmu tapi untuk kali ini aku tidak bisa mendiamkan ini karena aku juga menganggap Hye Jin sebagai adikku, aku menyayanginya seperti adikku sendiri, adik yang seharusnya bisa aku miliki juga,seandainya adikku masih hidup pasti sekarang dia juga sudah sebesar Hye Jin. Makanya aku senang sekali Hye Jin memanggilku Oppa, itu mengingatkanku akan adikku yang sudah meninggal saat dia berumur 5 tahun. Aku berjalan menuju apartmeneku dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan menatap langit-langit. Aku merasa bersalah pada Siwon sahabatku yang sangat aku sayangi itu tapi kalau tidak seperti itu pasti dia tidak akan sadar. Aku pun memejamkan mataku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s